Gamelan ‘Kyai Kumpul’ Untidar Diresmikan

Bertempat di rumah dinas Rektor Universitas Tidar, Selasa malam (6/7), gamelan berbahan perunggu milik Untidar secara resmi diperkenalkan kepada khalayak. Acara ini dihadiri oleh segenap sivitas akademika, Habieb Fatta al-Atas, dan pengrawit yang dihadirkan dari Klaten, Solo, Jogja, dan Magelang.

Acara diawali dengan kegiatan rutin Khataman Al-Qur’an, dilanjutkan hadroh dari UKM Iqsan, dan Tahlil. Setelah itu meluncur beberapa partitur komposisi gamelan yang dibawakan sangat apik oleh seniman campuran beberapa kota tersebut.

Dalam sambutannya, Rektor, Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si., menyebutkan makna penamaan ‘Kyai Kumpul’ pada perangkat gamelan ini adalah sebagai pemersatu dalam keberagaman sivitas.

Beliau berharap tidak ada pertentangan antara elemen keluarga besar di Untidar.

“Di setiap alat ada simbol burung elang Untidar yang melambangkan kecerdasan, dan di penyangga gong ada ukiran naga yang melambangkan keuletan. Kedua simbol ini saling berkombinasi untuk mewujudkan kemakmuran dan kejayaan Untidar di masa depan,” ungkapnya.

Menurutnya, gamelan yang beragam jika dibunyikan menuruti aturan, akan menimbulkan harmonisasi yang indah.

“Pun dalam kehidupan yang bhinneka ini, tujuan bersama akan tercapai jika masing-masing mentaati aturan atau konsesnsus yang ada. Belajar gamelan itu belajar mentaati aturan,” tambahnya.

Wildan, Lurah UKM Bengkel Seni, merasa senang sekali dengan hadirnya seperangkat gamelan slendro dan pelog ini. Ia berharap mahasiswa mau belajar gamelan disamping belajar kesenian modern.

“Bengkel Seni jelas berkepentingan juga dengan kehadiran gamelan ini. Kami akan membantu berpromosi agar gamelan ini termanfaatkan dengan baik,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan pula oleh perwakilan tenaga pendidikan, Sopi’i dan Sigit Amirudin. Kehadiran gamelan ini  akan memberikan keseimbangan atmosfir budaya di lingkungan Untidar.

“Untidar berada di Magelang yang terkenal sebagai pusatnya tanah jawa. Ada Tidar di sini. Mestinya masyarakatnya juga harus terus nguri-uri budaya Jawa itu sendiri. Salah satunya melalui seni karawtitan ini,” sebut Sigit.

Mewakili pengrawit, Suradi memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Rektor dan Untidar. Dia mengucapkan terimakasih karena diundang untuk mencoba pertama kali.

“Kami berharap gamelan ini dapat menambah wawasan kebudayaan bagi segenap sivitas akademika. Semoga Untidar dapat lebih maju dan menciptakan lulusan yang berbudi luhur,“ pungkasnya.

Untuk sementara, perangkat gamelan ini akan ditempatkan di rumah dinas. Namun ke depan diproyeksikan akan dimanfaatkan untuk pergelaran-pergelaran kebudayaan tradisional dan upacara-upacara di lingkungan Untidar.

Penulis dan Editor : Humas Untidar