Pergelaran Ketoprak “Purnomo Labuh” Meriahkan Dies Natalis ke-47 Untidar dengan Kolaborasi Sivitas Akademika dan Seniman Temanggung

Pergelaran Ketoprak “Purnomo Labuh” Meriahkan Dies Natalis ke-47 Untidar dengan Kolaborasi Sivitas Akademika dan Seniman TemanggungDalam rangka memeriahkan Dies Natalis ke-47. Universitas Tidar (Untidar) menggelar Pergelaran Ketoprak “Purnama Labuh” di GKU dr. H. R. Suparsono, pada Jumat malam (08/05). Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB mendapat antusiasme tinggi dari para penonton yang dihadiri lebih dari 1000 orang, terdiri dari sivitas akademika dan masyarakat umum. Hadir pula Wali Kota Magelang, H. Damar Prasetyono yang turut memberikan sambutan. 

Pergelaran Ketoprak ini menjadi salah satu rangkaian puncak Dies Natalis ke-47 Untidar dengan menghadirkan kolaborasi antara sivitas akademika bersama seniman dari Temanggung. Naskah ketoprak ditulis oleh Pawitri dan disutradarai oleh Agus Purwoko dari Putri Sekar Langit Temanggung. Menariknya, pagelaran ini diproduseri langsung oleh Rektor Untidar, Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si.

Dalam sambutannya, Prof. Sugiyarto menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. “Kami dari keluarga besar Untidar mohon doa restu supaya Untidar semakin besar manfaatnya untuk Indonesia dan semakin baik sesuai dengan Visi Untidar,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, ia juga menegaskan komitmen Untidar dalam mewujudkan visi universitas sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mampu melestarikan nilai-nilai budaya di tengah perkembangan zaman.

“Universitas Tidar berkomitmen untuk terus mewujudkan visi sebagai universitas yang unggul, inovatif, berbasis kewirausahaan dan kebudayaan,” ujarnya.

Menurutnya, penyelenggaraan pergelaran ketoprak menjadi salah satu bentuk nyata dukungan Untidar terhadap pelestarian seni dan budaya tradisional sekaligus media pembentukan karakter bagi generasi muda.

“Melalui kegiatan budaya seperti ini, kami berharap mahasiswa tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap warisan budaya bangsa,” tambahnya.

Sementara itu, Wali Kota Magelang, H. Damar Prasetyono menyampaikan bahwa pergelaran ketoprak merupakan bagian dari upaya nguri-uri kabudayan Jawa atau melestarikan budaya Jawa di tengah perkembangan zaman.

“Jangan sampai kita lupa dengan budaya bangsa sendiri, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan makna mendalam dari tema “Purnama Labuh” yang menggambarkan keselarasan antara hati, perkataan, dan perbuatan. Menurutnya, nilai tersebut penting diterapkan, terutama oleh seorang pemimpin. Dalam kesempatan itu, ia turut menjelaskan filosofi asta brata atau delapan watak kepemimpinan yang diambil dari unsur alam, seperti bumi, angin, samudra, api, langit, matahari, rembulan, dan bintang sebagai pedoman dalam memimpin masyarakat.

Koordinator Pergelaran Ketoprak Purnama Labuh, Dr Candradewi Wahyu Anggraeni, S.Pd., M.Pd.  menjelaskan bahwa pemilihan ketoprak sebagai pertunjukan Dies Natalis tahun ini merupakan hasil diskusi panitia dan menjadi nuansa baru setelah sebelumnya Untidar beberapa kali menyelenggarakan pagelaran wayang kulit.

“Ketoprak ini istimewa karena menjadi kolaborasi antara sivitas akademika Untidar dengan pemain profesional. Selain sebagai hiburan, kami juga ingin ikut melestarikan seni tradisional sekaligus menyampaikan pesan pendidikan karakter kepada generasi muda,” jelasnya.

Pergelaran Ketoprak ini melibatkan total 27 pemain yang terdiri dari dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, serta seniman profesional. Beberapa tokoh utama diperankan langsung oleh dosen Untidar, di antaranya tokoh antagonis Rambut Geni yang diperankan oleh Afik, dosen Teknik Elektro, tokoh Sukesi yang diperankan Agnira Rekha dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, serta tokoh protagonis Pangeran Elang Kumara yang diperankan Imam Baihaqi dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Tidak hanya menampilkan pertunjukan ketoprak, acara juga dimeriahkan dengan penampilan mahasiswa Untidar yang tergabung dalam Permadani Untidar Bregada 1 serta penampilan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Untidar melalui grup Woro Larasati yang membawakan sejumlah tembang Jawa. Suasana semakin semarak dengan iringan gamelan secara langsung serta pembagian doorprize bagi para penonton yang hadir.

Dr Candrawati berharap pergelaran ini mampu menjadi ruang pengenalan budaya tradisional bagi generasi muda di tengah perkembangan zaman modern.

“Harapannya generasi muda, khususnya Gen Z, semakin mengenal seni ketoprak dan memahami bahwa di dalamnya terdapat nilai-nilai budaya, pendidikan karakter, dan filosofi kehidupan yang tetap relevan hingga saat ini,” pungkasnya.

Melalui pergelaran ini, Untidar berharap generasi muda semakin mengenal dan mencintai seni pertunjukan tradisional, sekaligus menanamkan nilai-nilai budaya dan karakter melalui media hiburan yang edukatif.  

Penulis: Suryanti

Editor: Humas Untidar

Bangun Cerita yang Relate, Ilkom Untidar Kupas Pembuatan Film di Commversary ke-9 

Magelang – Jurusan Ilmu Komunikasi Untidar mengadakan seminar dan bedah buku dalam rangka dilaksanakannya Commversary 9th dengan tema “Nostalgia dalam Narasi Sinema: Edukasi, Ekspresi, dan Perayaan,” di GKU dr. H.R. Suparsono, Kampus Tuguran, Rabu (6/5/2026).

Hadir dalam kegiatan ini, Wahyu Andriyanto, S.A.P., Kepala Bagian Akademik; Dr. A.P. Dra. Sri Mulyani, M.Si., Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik; Dr. R. Yogie Prawira W, S.I.Kom., M.I.Kom., Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi; Dosen, dan Mahasiswa Ilmu Komunikasi.

Kepala Bagian Akademik Untidar, Wahyu Andriyanto, S.A.P., menyampaikan bahwa Program Studi Ilmu Komunikasi menjadi salah satu prodi dengan tingkat peminat yang tinggi di lingkungan universitas. “karena memang setiap tahunnya, peminat Ilkom itu banyak dan jarang ada kursi yang tidak terisi. Pasti memang,” ungkapnya. 

Di kesempatan yang sama, Dekan FISIPOL, Dr. A.P. Dra. Sri Mulyani, M.Si., menekankan pentingnya keseimbangan antara teori dan praktik dalam pembelajaran Ilmu Komunikasi. “Selama ini mahasiswa belajar secara teori di kampus, dan nanti kita coba aplikasinya di dunia nyata, dan mudah-mudahan yang hadir disini sudah mencapai semuanya, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan,” terangnya.  

Ketua Jurusan Ilkom, Dr. R. Yogie Prawira W, S.I.Kom., M.I.Kom., menyampaikan bahwa perjalanan Ilmu Komunikasi hingga saat ini memiliki makna penting dalam membangun arah ke depan. “Tema nostalgia ini akan menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan yang kita lakukan memiliki makna penting,” ungkapnya. Ia berharap kegiatan yang diselenggarakan tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga ruang berkembang bagi mahasiswa. “Semoga kegiatan ini tidak hanya menjadi acara perayaan, tetapi juga ruang untuk kita bersama bisa belajar, berekspresi, dan mempererat kebersamaan.” 

Materi pertama disampaikan oleh Muhammad Nur Rohman, S.I.Kom., M.I.Kom., seorang Jurnalis, Dosen, dan juga Founder Production House Pappersinema. Ia menyampaikan materi tentang Storytelling dalam Film Dokumenter, yang menyorot pentingnya storrytelling, dan bagaimana membuat penonton terhubung saat menyaksikan sebuah film dokumenter. Ia engambil contoh dari beberapa film dokumenter yang telah dibuatnya, kemudian menjelaskan terkait setting, struktur cerita, hingga kesalahan umum yang sering terjadi dalam pembuatan cerita film dokumenter. 

Permateri kedua, Dwi Putri Widhi, S.Sn, M.Sn., Dosen Film dan Televisi ISI Yogyakarta, berbicara tentang film yang difungsikan sebagai media komunikasi antara pembuat film dengan penonton film, media ekspresi, dan media hiburan. Ia menjelaskan dengan apik, bagaimana film bisa dikatakan bagus karena relate dan dapat membangun memori atas pengalaman yang penonton rasakan dan lihat. Film juga dapat menjadi sebuah representasi, sebagai perbuatan mewakili atau perwakilan, sehingga penonton dapat dengan mudah terhubung dengan cerita di sebuah film. 

Kalau ditarik benang merahnya, sebenarnya kedua narasumber berbicara tentang hal yang sama dari sudut pandang yang berbeda. Storytelling menjadi cara untuk membangun emosi dan alur, sementara film sebagai media komunikasi memastikan pesan terasa relate dan membekas. Artinya, pembuatan film yang baik adalah yang mampu menyusun cerita sekaligus menghadirkan pengalaman yang dekat dengan penonton, sehingga penonton dapat terhubung secara emosional dan memahami makna yang ingin disampaikan.

Melalui kegiatan ini, Untidar berharap mahasiswa Ilmu Komunikasi dapat semakin mengembangkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis dalam bidang sinema, serta mampu menghasilkan karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki pesan yang kuat dan relevan bagi masyarakat. 

 

Penulis: Aghna Nur Sabrina

Editor: Humas Untidar

Panitia Pusat UTBK Untidar Ungkap Kecurangan Peserta Ujian

Panitia Pusat Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Universitas Tidar menggelar konferensi pers terkait temuan kecurangan dalam pelaksanaan UTBK tahun 2026, Rabu (29/4) di Ruang Rapat Lantai 4, Gedung Rektorat Sidotopo.

Peristiwa, Selasa, 28 April 2026 pada sesi ke-16 (siang) di Pusat UTBK Untidar. Kecurigaan bermula dari kecurigaan pengawas ruangan dalam mengamati perilaku salah satu peserta yang dinilai tidak wajar.

Prof. Dr. Ir. Suyitno, M.Sc., IPM., menjelaskan kronologi awal temuan tersebut dalam konferensi pers.

“Pengawas ruangan bersama Operator TIK melihat ada gerak-gerik yang mencurigakan dari salah satu peserta. Sesekali memegang telinga dan mengamati atau melihat ke arah pengawas,” ungkapnya.

Karena dinilai mencurigakan, peserta tersebut kemudian menjadi “perhatian khusus” selanjutnya dilaporkan ke Penanggung Jawab Lokasi (PJL). Laporan dari pengawas kemudian ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lebih mendalam.

“Dilaporkan dan kemudian saat itu dilakukan pengamatan yang mendalam terhadap peserta ini. Ketika dicek lebih teliti ditemukan alat bantu dengar yang dipasangkan di telinga,” lanjutnya.

Temuan tersebut tidak berhenti disitu. Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, panitia menemukan benda lain berupa handphone dan sebuah kotak yang dilengkapi sejenis kartu elektronik/chip yang dicover seperti kartu hotel.

“Nah kemudian dilakukan lebih detail lagi, ternyata di tubuhnya ditemukan HP dan juga tadi semacam ini, kotak ini yang hitam. Kita juga enggak tahu fungsinya bagaimana, memakainya seperti apa,” jelas Prof. Suyitno.

Seluruh barang bukti kemudian diamankan oleh panitia, sementara peserta tetap diminta melanjutkan ujian hingga selesai, meskipun waktunya mengalami penyesuaian dan keterlambatan akibat proses pemeriksaan.

“Peserta kita minta melanjutkan tes UTBK sampai selesai, meski sempat terjeda saat petugas melakukan pendalaman pemeriksaan,” ujarnya.

Setelah ujian selesai, panitia yang terdiri dari PJL, koordinator Monitoring dan Evaluasi (monev), serta koordinator TIK melakukan pendalaman kasus dan menyusun berita acara resmi.

“Semua catatan kecurangan sudah ditulis di berita acara itu dan yang bersangkutan juga mengakui itu barangnya. Artinya kan sudah dipastikan dia melanggar aturan yang ditetapkan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Prof. Suyitno menjelaskan bahwa seluruh prosedur standar sebenarnya telah dijalankan, termasuk proses sterilisasi menggunakan metal detector sebelum peserta memasuki ruang ujian maupun mengamati gerak-gerik peserta.

“Para pengawas dari awal telah kami berikan arahan tidak hanya memeriksa berdasar metal detector, tapi juga perlu mengamati gerak-gerik peserta secara detail lagi selama pelaksanaan ujian,” jelasnya.

Dari hasil pemeriksaan sementara, belum dapat dipastikan apakah peserta bertindak sendiri atau merupakan bagian dari jaringan tertentu. Terkait tindak lanjut, Pusat UTBK Untidar telah melaporkan kasus ini kepada panitia pusat UTBK dan saat ini masih menunggu arahan lebih lanjut.

“Kami bagian dari panitia pusat UTBK, sehingga langkah selanjutnya menunggu arahan dari pusat,” tambahnya.

Kasus ini menjadi bukti bahwa kesiapsiagaan panitia UTBK Untidar tidak hanya terletak pada kesiapan teknis, tetapi juga pada ketelitian dalam mengenali potensi kecurangan di lapangan.

Melalui kejadian ini, Untidar menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan sistem pengawasan serta menjaga integritas pelaksanaan UTBK agar berjalan secara jujur, adil, dan transparan.

Penulis : Aghna

Editor : Humas Untidar

Rayakan Dies Natalis ke-47, Untidar Usung Tema “Vidya Loka Adhikarya” Ilmu Berdampak bagi Peradaban

Merayakan perjalanan panjangnya sebagai institusi pendidikan, Universitas Tidar (Untidar) menggelar rangkaian perayaan Dies Natalis ke-47. Dengan mengangkat tema “Vidya Loka Adhikarya” yang berarti Ilmu Berdampak bagi Peradaban. Perayaan tahun ini menekankan pada penguatan jati diri, pelestarian budaya, serta kontribusi nyata bagi masyarakat luas.

Ketua Panitia Dies Natalis, Muhammad Daniel Fahmi Rizal, M.Hum., menjelaskan bahwa FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) dipercaya menjadi tuan rumah pada periode ini. Pemilihan tema tersebut diselaraskan dengan visi Untidar untuk unggul dalam kebudayaan dan kewirausahaan.

“Kami ingin Dies Natalis kali ini benar-benar ‘nguri-uri’ budaya. Itulah sebabnya banyak agenda yang kental dengan nuansa kesenian dan spiritualitas, sebagai upaya memperkuat akar jati diri Untidar,” ujar Daniel dalam konferensi pers di hadapan awak media, Selasa (28/04).

Rangkaian kegiatan sebenarnya telah dimulai sejak 11 Maret lalu dengan Khotmil Qur’an sebanyak 47 kali, sesuai usia Untidar serta pengajian bersama Gus Yusuf. Sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu, panitia juga melakukan ziarah ke makam Rektor terdahulu yaitu Prof. Soepanji di Solo serta juga berkunjung ke kediaman Rektor saat penegerian Untidar, Prof. Dr. Cahyo Yusuf.

Rektor Untidar, Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si., menekankan pentingnya mengingat sejarah transisi dari UTM menjadi PTN yang kini menginjak usia 12 tahun.

“Kami sedang menguatkan akar kesejahteraan dan Untidar Value. Salah satu langkah simbolisnya adalah penamaan gedung-gedung kampus menggunakan nama tokoh-tokoh yang berjasa bagi perjuangan Untidar, dimulai dari Gedung HR Suparsono,” tuturnya.

Agenda Utama: Sidang Senat dan Pentas Ketoprak Eksklusif

Puncak seremoni akademik akan dilaksanakan melalui Sidang Senat Terbuka pada 5 Mei di Kampus Tuguran. Acara ini akan diisi orasi ilmiah oleh tokoh nasional Prof. Komaruddin, serta direncanakan dihadiri oleh Ketua Otorita IKN, Basuki Hadimuljono (dalam konfirmasi).

Selain agenda formal, Untidar menyajikan pertunjukan seni yang unik:

  • Pentas Ketoprak (8 Mei): Kolaborasi antara dosen FKIP dan seniman Temanggung yang diproduseri langsung oleh Rektor Untidar. Naskah ditulis oleh Ibu Pawitri dan disutradarai oleh Agus Purwoko dari Putri Sekar Langit Temanggung.
  • Penanaman Pohon: Sebagai simbol “penanaman ilmu”, lima Guru Besar Untidar akan melakukan penanaman pohon di Kampus Sidotopo.

Tahun ini, Untidar memperkenalkan Festival Literasi (7-10 Juni) yang menjadi sejarah baru dalam rangkaian Dies Natalis. Agenda ini meliputi peluncuran buku karya akademisi serta pameran seni dan sastra.

“Pameran seni oleh para akademisi ini adalah puncak keilmiahan. Seorang pakar dianggap matang secara filsafat jika sudah mampu menghasilkan nilai estetika,” tambah Prof. Gi.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Untidar berkomitmen membuat perayaan kali ini lebih inklusif bagi masyarakat Magelang dan sekitarnya melalui:

  • Expo Kompetisi & Kewirausahaan Nasional (10-11 Juni): Menghadirkan sekitar 150 stand yang terbuka untuk umum.
  • Untidar Run 9.1K: Ajang olahraga sekaligus branding kampus kepada publik.
  • Seminar Kebangsaan & Sharing Alumni (3 Juni): Memberikan gambaran dunia kerja bagi mahasiswa aktif.
  • Tidar International Conference sebagai strategi agar kampus semakin dikenal di kancah global sebagai agenda terakhir rangkaian Dies Natalis.

Ujian Sempat Terjeda, Pusat UTBK Untidar Pastikan Peserta Tetap Bisa Melanjutkan Soal Tanpa Kehilangan Data

Panitia Pusat UTBK Universitas Tidar (Untidar) memastikan pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tetap berjalan kondusif meskipun sempat terkendala gangguan teknis, Minggu (26/04).

“Sempat terjadi mati listrik di semua lokasi ujian sekitar 15.10 Wib berlangsung sekitar 2-3 menit lalu menyala kembali. Tim IT dan Server di setiap lokasi langsung bergegas menyalakan perangkat kembali dan menghubungkan koneksi sistem dengan Pusat UTBK. Ujian terjeda sekitar 10 menit,” jelas Koordinator IT, Pusat UTBK Untidar, Ir. Andriyatna Agung Kurniawan, S.T., Meng.

Saat mati listrik otomatis koneksi internet juga mati. Saat itu waktu ujian di dalam sistem pun terhenti. Jadi ketika sistem kembali normal peserta dapat melanjutkan ujian tanpa kehilangan data atau jawaban soal yang sebelumnya sudah dikerjakan. Dan melanjutkan ujian sesuai sisa waktu ujian pada sistem.

“Khusus lokasi SMA Negeri 4, ujian terjeda sekitar 1 jam 30 menit. Setelah listrik menyala ditemukan kendala server sehingga Tim IT kesulitan melakukan koneksi kembali dengan sistem Pusat UTBK. Segera kami berkoordinasi dengan Tim IT Pusat dan kendala dapat diselesaikan,” tambahnya.

Penanggung Jawab Lokasi, Nina Agustyaningrum, S.Pd.Si., M.Pd. memberikan penjelasan ada 54 peserta dari jumlah seharusnya 55 peserta yang mengikuti ujian pada Sesi 12 atau Sesi siang atau saat kendala tekniks ini terjadi.

“Pastinya ada rasa panik dari para peserta ujian, tapi kami coba tenangkan dan segera berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mencarikan solusi. Serta kami sampaikan bahwa data mereka terjamin, tidak akan berkurang atau berubah,” jelasnya.

Rafa salah satu peserta menyatakan bahwa memang benar sempat mati listrik dan ujian terpaksa harus berhenti.

“Ada segi positifnya mati listrik saat ujian, kami bisa rehat sejenak untuk refreshing dan solat Ashar. Setelah itu lanjut lagi ujian menyelesaikan soal sesuai sisa waktu yang tersisa, jawaban ssebelumnya juga masih aman,” jelas siswa dari SMA N 5 Magelang ini.

Sesi ujian berakhir sekitar 17.45 Wib mundur dari jadwal seharusnya 16.15 Wib dikarenakan kendala teknis mati listrik dan koneksi server.

Panitia Pusat UTBK Untidar terus melakukan evaluasi harian terhadap perangkat keras, jaringan internet, hingga fasilitas pendukung lainnya guna memastikan gelombang ujian berikutnya berjalan tanpa hambatan.

Panitia mengapresiasi kerja sama seluruh peserta yang tetap tenang dan kooperatif selama proses penanganan kendala berlangsung.

Penulis dan Editor : Humas Untidar

Peserta Pascakecelakaan Tetap Ikuti UTBK dengan Nyaman di Untidar

Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Tidar pada Sabtu, 25 April 2026, berlangsung tertib dan lancar. Pada sesi 9 lokasi di Gedung Fakultas Teknik 3 lantai 4, panitia memberikan pendampingan kepada salah satu peserta yang harus mengikuti ujian menggunakan kursi roda akibat kecelakaan yang dialaminya beberapa hari sebelum jadwal UTBK.

Penanggung Jawab Lokasi (PJL) Kampus Tuguran, Prof. Sutrisno Hadi Purnomo, mengungkapkan bahwa secara umum pelaksanaan UTBK berjalan baik meskipun terdapat tiga peserta yang tidak hadir. Sementara itu, satu peserta tetap dapat mengikuti ujian dengan dukungan fasilitas khusus dari panitia.

“Pada sesi ini ada peserta yang tidak bisa mengikuti ujian secara normal karena kecelakaan. Kami memfasilitasi peserta tersebut untuk tetap mengikuti UTBK menggunakan kursi roda, termasuk menyediakan komputer khusus agar tetap nyaman selama ujian,” jelasnya.

Menurutnya, kesiapan panitia dalam menghadirkan layanan yang ramah untuk peserta yang harus menggunakan kursi roda telah dipersiapkan sejak sebelum pelaksanaan ujian. Informasi terkait kebutuhan peserta telah dikoordinasikan kepada seluruh pihak, mulai dari penanggung jawab lokasi hingga pengawas ruang.

“Panitia sudah siap sejak awal. Kami sudah mengantisipasi kebutuhan peserta, termasuk yang dalam kondisi khusus. Ruangan dan akses telah disiapkan agar mereka tetap dapat mengikuti ujian dengan lancar,” tambahnya.

Karena lokasi ujian berada di lantai 4, panitia memberikan pendampingan kepada peserta tersebut. Peserta dipandu sejak dari titik kedatangan, diarahkan menggunakan lift, hingga dibantu masuk ke dalam ruang ujian.

“Peserta kami dampingi dari bawah menggunakan lift hingga ke lantai 4. Bahkan panitia membantu mendorong kursi roda sampai ke tempat ujian, sehingga peserta bisa fokus mengerjakan UTBK,” ujarnya.

Dari sisi fasilitas, Prof. Sutrisno menilai penyelenggaraan UTBK di Untidar sudah cukup memadai. Selain ruangan yang nyaman, ketersediaan perangkat komputer juga lebih dari cukup sebagai langkah antisipasi kendala teknis.

“Setiap ruangan memiliki cadangan komputer. Jadi jika ada kendala pada perangkat, peserta bisa langsung dialihkan tanpa mengganggu jalannya ujian,” ungkapnya.

Sementara itu, peserta UTBK Muhammad Adkharisqurba mengaku mendapatkan pengalaman yang positif selama mengikuti ujian di Untidar. Meski mengikuti ujian dengan menggunakan kursi roda, ia tetap merasa aman dan nyaman berkat pelayanan yang diberikan panitia.

“Pelayanan UTBK di Untidar sangat memenuhi kebutuhan saya. Dari awal sampai selesai, saya dibantu oleh panitia dan staf,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa akses menuju ruang ujian sangat mudah dijangkau berkat fasilitas yang disediakan, termasuk penggunaan lift dan pendampingan dari petugas.

“Saya difasilitasi dari bawah sampai ke lantai 4 menggunakan lift. Semua dibantu, jadi tidak ada kesulitan,” tambahnya.

Meski dalam kondisi belum sepenuhnya pulih, ia tetap dapat mengikuti ujian dengan lancar. Bahkan, ia menggambarkan pengalaman UTBK tersebut sebagai sesuatu yang menantang sekaligus menyenangkan.

“Seru, soalnya memacu adrenalin,” tuturnya.

Pelaksanaan UTBK di Untidar ini menjadi wujud komitmen kampus dalam menghadirkan layanan pendidikan yang inklusif dan ramah bagi seluruh peserta. Dukungan fasilitas dan kesiapan panitia diharapkan mampu memastikan setiap peserta mendapatkan kesempatan yang sama dalam mengikuti seleksi nasional tersebut.

Penulis: Suryanti

Untidar Diundang Paparkan Pengembangan Getuk Higienis Dalam Konferensi Internasional Bidang Teknologi Pangan di Belgia

Upaya-upaya untuk mempelajari, mengembangkan, dan mengenalkan potensi lokal terus dilakukan oleh dosen dan peneliti Universitas Tidar. Pada pertengahan bulan April 2026 ini, Untidar diundang untuk mempresentasikan hasil penelitiannya di forum 14th biennial FOODSIM’2026 di Universitas Katolik Leuven (KU Leuven) Belgia.

Konferensi internasional yang dihadiri oleh puluhan ilmuwan dunia di bidang teknologi pangan in bertempat di kampus KU Leuven kampus Ghent pada tanggal 15-17 April 2026.

Untidar yang tergabung dalam konsorsium FIND4S mengirimkan 2 dosen sebagai penyaji dalam konferensi ini setelah makalah keduanya lolos review yang dilakukan oleh penyelenggara. FIND4S adalah proyek penguatan kapasitas perguruan tinggi untuk keberlanjutan sistem pangan berbasis data yang dilakukan oleh konsorsium 7 perguruan tinggi di Jawa Tengah dan 4 Perguruan Tinggi di Eropa.   Ketujuh perguruan tinggi di Jawa Tengah tersebut adalah Universitas Diponegoro, Universitas Tidar, Universitas Semarang, Universitas Muhammadiyah Semarang, Universitas 17 Agustus 1945 Semarang, Universitas PGRI Semarang, dan Universitas Nasional Karang Turi. Sedangkan 4 perguruan tinggi dari Eropa adalah KU Leuven(Belgia), University College Dublin (Irlandia), Universidade Católica Portuguesa (Portugal), dan Hochschule Anhalt (Jerman). Proyek ini didanai oleh Erasmus+. Delegasi Untidar menjadi penyaji bersama dengan 6 anggota konsorsium perguruan tinggi dari Jawa Tengah lainnya.

Penyaji dari Untidar yang pertama adalah Prof. Dr. Ir. Suyitno, M.Sc., IPM, dosen S1 Teknik Mesin yang juga merupakan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama. Suyitno mempresentasikan makalahnya yang berjudul “Pengembangan Proses Higienis Singkong Lumat Tradisional dari Magelang (Getuk Magelang)”. Makalah yang disajikan membahas tentang pengembangan mesin pembuat getuk higienis satu siklus (one-cycle hygienic getuk production machine). Magelang yang kaya akan tanaman pangan memiliki getuk sebagai makanan khasnya. Akan tetapi selama ini getuk yang ada masih diproses dengan cara tradisional. Singkong dikupas, dikukus, dilumatkan, dan dibentuk secara manual dan diproses secara terpisah-pisah. Ini memperbesar peluang tercemarnya makanan yang dihasilkan.

Seiring dengan berkembangnya kawasan Magelang, proses modernisasi diperlukan untuk meningkatkan kualitas produksi getuk. Apalagi dengan adanya Candi Borobudur yang menarik minat wisatawan, termasuk wisatawan manca negara, getuk diharapkan dapat menjadi oleh-oleh unggulan yang sehat dan awet. Hal ini yang mendasari pengembangan mesin produksi getuk satu siklus.

“Dengan mesin produksi getuk satu siklus, getuk dapat dihasilkan tanpa harus berpindah tangan atau tempat. Sistem kerja mesin ini adalah dengan memasukkan singkong yang sudah dikukus ke dalam mesin. Mesin akan memprosesnya menjadi gilingan kasar, kemudian diteruskan menjadi adonan lembut, diwarnai dan diberi perasa, kemudian dipotong-potong hingga siap untuk dikemas. Semua dilakukan tanpa ada pengulangan siklus dan kontak manual. Dengan demikian, getuk yang dihasilkan akan lebih higienis”, papar Suyitno.

Penyajian makalah ini mendapatkan sambutan yang baik dari peserta konferensi lainnya. Bahkan, delegasi Untidar berkesempatan membagi-bagi getuk yang dibawa dari Magelang kepada peserta konferensi dari berbagai negara.

Suyitno kembali menjelaskan bahwa makalah ini ditulis berdasarkan hasil riset kolaborasi antara S1 Teknik Mesin dengan S1 Teknologi Pangan Untidar. Selain Suyitno, tim riset terdiri dari Cahyo Wibi Yogiswara dan Ikhwan Taufik dari Teknik Mesin, serta M. Iqbal Fanani Gunawan, Alifa R. Faradiani, Nabila F. Iskandar, dan Arum S. Dewi dari prodi Teknologi Pangan.

Selain presentasi tentang pengembangan produksi getuk higienis oleh Suyitno, satu lagi dosen Untidar juga berkesempatan menyajikan makalah di 14th biennial FOODSIM’2026 ini. M. Iqbal Fanani Gunawan menyajikan masalah tentang pemanfaatan kulit kopi untuk kombucha.

Penulis : Laila Alfizanna

Delegasi Untidar Presentasikan Pemanfaatan Kulit Kopi Untuk Minuman Kaya Antioksidan di Konferensi Internasional Teknologi Pangan di Eropa

Dalam gelaran konferensi bidang teknologi pangan 14th biennial FOODSIM’2026 di Belgia tanggal 15-17 April 2026, 2 dosen Universitas Tidar diundang untuk mempresentasikan makalah di bidang tersebut. Untidar dan 6 perguruan tinggi di Jawa Tengah lainnya yang tergabung dalam konsorsium  Enhancing Higher Education Capacity for Sustainable Data-Driven Food System in Indonesia (FIND4S) menjadi partisipan aktif konferensi dengan pembiayaan dari Erasmus+.

FIND4S adalah proyek penguatan kapasitas perguruan tinggi untuk keberlanjutan sistem pangan berbasis data yang dilakukan oleh konsorsium 7 perguruan tinggi di Jawa Tengah dan 4 Perguruan Tinggi di Eropa.   Ketujuh perguruan tinggi di Jawa Tengah tersebut adalah Universitas Diponegoro, Universitas Tidar, Universitas Semarang, Universitas Muhammadiyah Semarang, Universitas 17 Agustus 1945 Semarang, Universitas PGRI Semarang, dan Universitas Nasional Karang Turi. Sedangkan 4 perguruan tinggi dari Eropa adalah KU Leuven(Belgia), University College Dublin (Irlandia), Universidade Católica Portuguesa (Portugal), dan Hochschule Anhalt (Jerman).

Dosen Teknologi Pangan Untidar M. Iqbal Fanani Gunawan, M.Si menyajikan makalah yang ditulis berdasarkan hasil penelitiannya tentang pemanfaatan kulit kopi (cascara) untuk pembuatan minuman kombucha. Kombucha dikenal sebagai minuman kesehatan yang mengandung banyak anti oksidan. Penelitian yang dilakukan oleh Iqbal dan tim yang beranggotakan dosen-dosen Fakultas Pertanian Untidar menunjukkan temuan bahwa dengan teknik pengolahan yang berbeda, kandungan flavonoid dan fenolik yang yang terbentuk dalam proses fermentasi menghasilkan kadar berbeda-beda. Fenolik dan flavonoid adalah senyawa yang lazim ditemukan dalam tumbuhan yang bersifat anti oksidan. Penelitian ini membuktikan bahwa proses kombinasi pengeringan, penyeduhan, dan fermentasi kulit kopi menghasilkan kadar flavonoid dan fenolik yang lebih tinggi dibandingkan dengan proses pembuatan kombucha dari kulit kopi yang tidak difermentasi.

“Kopi telah menjadi komoditas unggulan di wilayah Magelang dan sekitarnya. Demand kopi juga tinggi, seiring dengan menjamurnya coffee shop belakangan ini. Kulit kopi yang sebenarnya merupakan limbah ternyata masih bisa dimanfaatkan untuk hal yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi tinggi,” tutur Iqbal. Selanjutnya Iqbal, yang mendapatkan predikat sebagai best presentation FIND4S di forum tersebut juga menegaskan bahwa partisipasi dalam konferensi internasional ini juga merupakan salah satu upaya untuk mengenalkan kopi Indonesia.

Ditemui dalam kesempatan terpisah, Rektor Untidar Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si menunjukkan apresiasinya atas kinerja dosen-dosen muda yang terlibat dalam proyek FIND4S tersebut. “Sebagai prodi yang relatif masih baru, Teknologi Pangan mampu menunjukkan kiprahnya dengan keikutsertaan dalam proyek kerja sama internasional. Ini sejalan dengan rencana strategis Universitas Tidar yang berusaha menciptakan perguruan tinggi yang tidak hanya relevan secara lokal, tetapi juga kompetitif di tingkat nasional dan internasional.” jelas Rektor.

Di samping mengikuti konferensi FOODSIM’2026, delegasi Indonesia yang tergabung dalam konsorsium FIND4S juga berkesempatan melakukan audiensi dengan KBRI Belgia. Atase Pertanian KBRI Belgia Winarti Halim berpesan “Dunia kampus harus menyamakan persepsi dan visi terkait sistem pangan di Indonesia. Oleh sebab itu, harus ada ruang kontemplasi untuk melihat sejauh mana muatan sistem pangan pada kurikulum tiap-tiap kampus. Kampus dengan segenap kurikulum dan sivitas akademika harus in line dengan program-program pemerintah terkait sistem pangan nasional.”

Dalam kesempatan ini juga dilakukan monitoring dan evaluasi proyek FIND4S yang sudah berlangsung selama 1,5 tahun oleh seluruh peserta konsorsium.

Penulis : Laila Alfizanna

Dorong Budaya Hidup Sehat, Untidar Run 2026 Ajak 500 Pelari Taklukkan Rute 9K

Tren gaya hidup sehat kini bukan sekadar hobi, melainkan kebutuhan masyarakat urban. Menjawab semangat tersebut, Universitas Tidar (Untidar) siap menggelar event lari bertajuk “Untidar Run 2026” pada hari Minggu, 07 Juni 2026 mendatang.

“Untidar kembali menyelenggarakan Untidar Run di Tahun 2026 ini. Event 2 tahunan ini diselenggarakan dengan peningkatan jarak lari yaitu yang semula 5K menjadi 9 K dan penyelenggara yang lebih professional,” jelas Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Parmin, S.Pd., M.Pd. pada konferensi pers, Selasa (21/04) di Ruang Rapat lantai 4, Rektorat Sidotopo.

Pada tahun sebelumnya kegiatan ini terkonsentrasi di Kampus Tuguran dan pada tahun 2026 ini start dan finish berlokasi di Kampus Sidotopo.

“Kalau biasanya event-event besar ada di pusat atau selatan Kota Magelang. Untidar Run diharapkan bisa meramaikan sisi utara Kota Magelang,” tambahnya.

Untidar Run ini menargetkan partisipasi aktif dari 500 pelari yang terdiri dari mahasiswa, komunitas lari, hingga masyarakat umum. Kehadiran Untidar Run diharapkan menjadi wadah kolaborasi lintas sektor sekaligus mempererat hubungan sosial melalui olahraga yang inklusif.

Peserta akan melintasi rute 9K yang dirancang secara profesional, menyisir area ikonik di Kota Magelang dan Kabupaten Magelang. Mulai dari Jl. Ahmad Yani, Jl. Urip Sumoharjo, hingga kawasan asri di sekitar Jl. Barito 2,” jelas Dr. Taufik Arochman, S.Pd., M.Pd., Koordinator Pelaksana Untidar Run.

Demi kenyamanan pelari, panitia telah menyiapkan berbagai fasilitas menarik, di antaranya: Official Jersey dan BIB Number sebagai identitas peserta, Finisher Medal eksklusif bagi setiap pelari yang berhasil mencapai garis finish, Water Station dan Refreshment di titik strategis untuk menjaga stamina, Podium Juara (1, 2, dan 3) khusus untuk kategori 9K akan mendapatkan hadiah menarik dan tersedia berbagai Doorprize.

“Ada doorprize kambing dari peternakan kambing Untidar. Jumlah pastinya akan kita umumkan segera. Jadi selain sehat pulang bisa bawa oleh-oleh kambing untuk keluarga, pas dengan moment idul adha,” tambah Taufik.

Keseruan acara tidak berhenti di garis finish. Sambil menunggu pembagian hadiah, para peserta akan dihibur dengan penampilan Live Band dan sesi Zumba bersama untuk melepas lelah.

Pendaftaran Untidar Run masih dibuka sampai 31 Mei 2026 melalui laman https://lawana.id/event/untidar-run dengan biaya pendaftaran sebesar Rp 150.000

Penulis dan Editor : Humas Untidar

Menjawab Tantangan Pendidik Profesional, Wamendiktisaintek Fauzan Perkuat Inovasi dan Peran LPTK

Jakarta—Transformasi pendidikan tinggi, khususnya pada Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), menjadi semakin diperlukan di tengah perubahan kebutuhan dunia kerja dan dinamika global yang terus berkembang. Lebih dari sebagai pencetak guru dan tenaga kependidikan profesiona, LPTK berperan penting sebagai institusi strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul yang adaptif, relevan, dan memiliki daya saing tinggi.

Berdasarkan data tahun 2026 oleh Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), hingga saat ini bidang pendidikan masih menjadi bidang ilmu favorit dibandingkan rumpun ilmu lain, dengan total 2,25 juta mahasiswa ilmu pendidikan. Banyak dosen yang mengajar di bidang pendidikan berjumlah 55.442 orang, kedua tertinggi setelah bidang teknik (Pusat Data dan Informasi Kemdiktisaintek, 2026). 

Sementara itu, jumlah guru di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) pada tahun 2026 berjumlah 3.306.345 orang, dengan jumlah guru yang akan pensiun sebanyak 61.937 orang. Lulusan bidang pendidikan di bawah Kemdiktisaintek pada tahun 2025 berjumlah 186.895 orang. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat surplus SDM dalam konteks guru di Indonesia. 

Berkaca pada hal tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan menegaskan perlunya inovasi bagi penyelenggara LPTK untuk terus mengembangkan kualitas talenta unggul bagi bangsa Indonesia. Hal ini disebutkan saat Wamen Fauzan berbicara di depan peserta Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Forum Penyelenggaraan Pendidikan Tenaga Kependidikan Swasta Indonesia (FPPTKSI), Rabu (22/4).

“Ketika zaman berkembang pesat dan konteks dinamika global berubah, kita juga harus ikut berubah. Manajemen pendidikan tinggi harus terus melakukan pembaruan. Untuk perguruan tinggi bisa berdaya saing dan bertahan hidup, kita harus memahami apa yang dibutuhkan masyarakat,” tegas Wamen Fauzan.

Lebih lanjut, Wamen Fauzan menyoroti pentingnya desain pendidikan tinggi yang mampu menjawab ekspektasi mahasiswa dan orang tua, termasuk kepastian masa studi, peluang kerja, serta relevansi kompetensi. Hal ini sejalan dengan studi yang pernah diselenggarakan oleh Dewan Pendidikan Tinggi (DPT) terkait apa yang dibutuhkan generasi Z (gen Z, red) dalam perguruan tinggi, antara lain keahlian spesifik yang dapat diaplikasikan secara fleksibel, kepastian kerja setelah lulus, dan berjejaring dalam industri terkait. Melihat data tersebut, Wamen Fauzan menekankan kembali bahwa perguruan tinggi tidak bisa lagi hanya bergantung pada pendekatan konvensional. 

“Apakah kita sudah merancang kurikulum yang bisa memberikan kepastian pada mahasiswa dan orang tuanya? Kita harus bisa memastikan ada desain-desain baru dalam tata kelola perguruan tinggi bidang kependidikan ini untuk menghadapi ketidaksesuaian antara demand dan supply dalam profesi keguruan,” jelas Wamen Fauzan.

Jaga Mutu Tenaga Kependidikan

Ketua Umum Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Swasta Indonesia (ALPTKSI), Sofyan Anif menyampaikan bahwa LPTK memiliki peran strategis dalam menjaga mutu pendidikan nasional, sehingga penguatan kualitas dan arah kebijakan menjadi krusial.

“LPTK tidak hanya memproduksi guru, tetapi juga menjadi penjaga mutu guru di Indonesia. LPTK menjadi modal besar untuk bangsa. Untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, kita membutuhkan guru kuat secara pengetahuan, tetapi lebih penting lagi dapat mengajarkan karakter baik untuk generasi yang akan datang,” jelas Sofyan.

Sofyan juga menambahkan bahwa forum ini menjadi ruang konsolidasi penting bagi LPTK swasta untuk merumuskan rekomendasi kebijakan, termasuk dalam penguatan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan kontribusi terhadap revisi kebijakan pendidikan nasional.

Penguatan LPTK ini sejalan dengan arahan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto yang dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya transformasi pendidikan tinggi agar lebih berdampak dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dalam kebijakan “Diktisaintek Berdampak”, pendidikan tinggi diarahkan untuk tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi nyata bagi persoalan bangsa.

Selain itu, Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto juga menegaskan bahwa kualitas SDM menjadi kunci utama kemajuan bangsa, di mana pendidikan berperan sebagai fondasi utama dalam membangun kemandirian nasional. Hal ini termaktub dalam visi Asta Cita yang dicanangkan untuk mendorong kemajuan bangsa.

Melalui penguatan inovasi, relevansi kurikulum, serta peningkatan kualitas LPTK, Kemdiktisaintek berkomitmen mendorong perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja yang terus berubah. Rakornas FPPTKSI ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi konkret untuk memperkuat sistem pendidikan tenaga kependidikan yang lebih adaptif, inklusif, dan berdampak bagi kemajuan bangsa.

Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi