Pergelaran Ketoprak “Purnomo Labuh” Meriahkan Dies Natalis ke-47 Untidar dengan Kolaborasi Sivitas Akademika dan Seniman Temanggung
Dalam rangka memeriahkan Dies Natalis ke-47. Universitas Tidar (Untidar) menggelar Pergelaran Ketoprak “Purnama Labuh” di GKU dr. H. R. Suparsono, pada Jumat malam (08/05). Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB mendapat antusiasme tinggi dari para penonton yang dihadiri lebih dari 1000 orang, terdiri dari sivitas akademika dan masyarakat umum. Hadir pula Wali Kota Magelang, H. Damar Prasetyono yang turut memberikan sambutan.
Pergelaran Ketoprak ini menjadi salah satu rangkaian puncak Dies Natalis ke-47 Untidar dengan menghadirkan kolaborasi antara sivitas akademika bersama seniman dari Temanggung. Naskah ketoprak ditulis oleh Pawitri dan disutradarai oleh Agus Purwoko dari Putri Sekar Langit Temanggung. Menariknya, pagelaran ini diproduseri langsung oleh Rektor Untidar, Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si.
Dalam sambutannya, Prof. Sugiyarto menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. “Kami dari keluarga besar Untidar mohon doa restu supaya Untidar semakin besar manfaatnya untuk Indonesia dan semakin baik sesuai dengan Visi Untidar,” tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, ia juga menegaskan komitmen Untidar dalam mewujudkan visi universitas sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mampu melestarikan nilai-nilai budaya di tengah perkembangan zaman.
“Universitas Tidar berkomitmen untuk terus mewujudkan visi sebagai universitas yang unggul, inovatif, berbasis kewirausahaan dan kebudayaan,” ujarnya.
Menurutnya, penyelenggaraan pergelaran ketoprak menjadi salah satu bentuk nyata dukungan Untidar terhadap pelestarian seni dan budaya tradisional sekaligus media pembentukan karakter bagi generasi muda.
“Melalui kegiatan budaya seperti ini, kami berharap mahasiswa tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap warisan budaya bangsa,” tambahnya.
Sementara itu, Wali Kota Magelang, H. Damar Prasetyono menyampaikan bahwa pergelaran ketoprak merupakan bagian dari upaya nguri-uri kabudayan Jawa atau melestarikan budaya Jawa di tengah perkembangan zaman.
“Jangan sampai kita lupa dengan budaya bangsa sendiri, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan makna mendalam dari tema “Purnama Labuh” yang menggambarkan keselarasan antara hati, perkataan, dan perbuatan. Menurutnya, nilai tersebut penting diterapkan, terutama oleh seorang pemimpin. Dalam kesempatan itu, ia turut menjelaskan filosofi asta brata atau delapan watak kepemimpinan yang diambil dari unsur alam, seperti bumi, angin, samudra, api, langit, matahari, rembulan, dan bintang sebagai pedoman dalam memimpin masyarakat.
Koordinator Pergelaran Ketoprak Purnama Labuh, Dr Candradewi Wahyu Anggraeni, S.Pd., M.Pd. menjelaskan bahwa pemilihan ketoprak sebagai pertunjukan Dies Natalis tahun ini merupakan hasil diskusi panitia dan menjadi nuansa baru setelah sebelumnya Untidar beberapa kali menyelenggarakan pagelaran wayang kulit.
“Ketoprak ini istimewa karena menjadi kolaborasi antara sivitas akademika Untidar dengan pemain profesional. Selain sebagai hiburan, kami juga ingin ikut melestarikan seni tradisional sekaligus menyampaikan pesan pendidikan karakter kepada generasi muda,” jelasnya.
Pergelaran Ketoprak ini melibatkan total 27 pemain yang terdiri dari dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, serta seniman profesional. Beberapa tokoh utama diperankan langsung oleh dosen Untidar, di antaranya tokoh antagonis Rambut Geni yang diperankan oleh Afik, dosen Teknik Elektro, tokoh Sukesi yang diperankan Agnira Rekha dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, serta tokoh protagonis Pangeran Elang Kumara yang diperankan Imam Baihaqi dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Tidak hanya menampilkan pertunjukan ketoprak, acara juga dimeriahkan dengan penampilan mahasiswa Untidar yang tergabung dalam Permadani Untidar Bregada 1 serta penampilan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Untidar melalui grup Woro Larasati yang membawakan sejumlah tembang Jawa. Suasana semakin semarak dengan iringan gamelan secara langsung serta pembagian doorprize bagi para penonton yang hadir.
Dr Candrawati berharap pergelaran ini mampu menjadi ruang pengenalan budaya tradisional bagi generasi muda di tengah perkembangan zaman modern.
“Harapannya generasi muda, khususnya Gen Z, semakin mengenal seni ketoprak dan memahami bahwa di dalamnya terdapat nilai-nilai budaya, pendidikan karakter, dan filosofi kehidupan yang tetap relevan hingga saat ini,” pungkasnya.
Melalui pergelaran ini, Untidar berharap generasi muda semakin mengenal dan mencintai seni pertunjukan tradisional, sekaligus menanamkan nilai-nilai budaya dan karakter melalui media hiburan yang edukatif.
Penulis: Suryanti
Editor: Humas Untidar

























