Untidar Diundang Paparkan Pengembangan Getuk Higienis Dalam Konferensi Internasional Bidang Teknologi Pangan di Belgia
Upaya-upaya untuk mempelajari, mengembangkan, dan mengenalkan potensi lokal terus dilakukan oleh dosen dan peneliti Universitas Tidar. Pada pertengahan bulan April 2026 ini, Untidar diundang untuk mempresentasikan hasil penelitiannya di forum 14th biennial FOODSIM’2026 di Universitas Katolik Leuven (KU Leuven) Belgia.
Konferensi internasional yang dihadiri oleh puluhan ilmuwan dunia di bidang teknologi pangan in bertempat di kampus KU Leuven kampus Ghent pada tanggal 15-17 April 2026.
Untidar yang tergabung dalam konsorsium FIND4S mengirimkan 2 dosen sebagai penyaji dalam konferensi ini setelah makalah keduanya lolos review yang dilakukan oleh penyelenggara. FIND4S adalah proyek penguatan kapasitas perguruan tinggi untuk keberlanjutan sistem pangan berbasis data yang dilakukan oleh konsorsium 7 perguruan tinggi di Jawa Tengah dan 4 Perguruan Tinggi di Eropa. Ketujuh perguruan tinggi di Jawa Tengah tersebut adalah Universitas Diponegoro, Universitas Tidar, Universitas Semarang, Universitas Muhammadiyah Semarang, Universitas 17 Agustus 1945 Semarang, Universitas PGRI Semarang, dan Universitas Nasional Karang Turi. Sedangkan 4 perguruan tinggi dari Eropa adalah KU Leuven(Belgia), University College Dublin (Irlandia), Universidade Católica Portuguesa (Portugal), dan Hochschule Anhalt (Jerman). Proyek ini didanai oleh Erasmus+. Delegasi Untidar menjadi penyaji bersama dengan 6 anggota konsorsium perguruan tinggi dari Jawa Tengah lainnya.
Penyaji dari Untidar yang pertama adalah Prof. Dr. Ir. Suyitno, M.Sc., IPM, dosen S1 Teknik Mesin yang juga merupakan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama. Suyitno mempresentasikan makalahnya yang berjudul “Pengembangan Proses Higienis Singkong Lumat Tradisional dari Magelang (Getuk Magelang)”. Makalah yang disajikan membahas tentang pengembangan mesin pembuat getuk higienis satu siklus (one-cycle hygienic getuk production machine). Magelang yang kaya akan tanaman pangan memiliki getuk sebagai makanan khasnya. Akan tetapi selama ini getuk yang ada masih diproses dengan cara tradisional. Singkong dikupas, dikukus, dilumatkan, dan dibentuk secara manual dan diproses secara terpisah-pisah. Ini memperbesar peluang tercemarnya makanan yang dihasilkan.
Seiring dengan berkembangnya kawasan Magelang, proses modernisasi diperlukan untuk meningkatkan kualitas produksi getuk. Apalagi dengan adanya Candi Borobudur yang menarik minat wisatawan, termasuk wisatawan manca negara, getuk diharapkan dapat menjadi oleh-oleh unggulan yang sehat dan awet. Hal ini yang mendasari pengembangan mesin produksi getuk satu siklus.
“Dengan mesin produksi getuk satu siklus, getuk dapat dihasilkan tanpa harus berpindah tangan atau tempat. Sistem kerja mesin ini adalah dengan memasukkan singkong yang sudah dikukus ke dalam mesin. Mesin akan memprosesnya menjadi gilingan kasar, kemudian diteruskan menjadi adonan lembut, diwarnai dan diberi perasa, kemudian dipotong-potong hingga siap untuk dikemas. Semua dilakukan tanpa ada pengulangan siklus dan kontak manual. Dengan demikian, getuk yang dihasilkan akan lebih higienis”, papar Suyitno.
Penyajian makalah ini mendapatkan sambutan yang baik dari peserta konferensi lainnya. Bahkan, delegasi Untidar berkesempatan membagi-bagi getuk yang dibawa dari Magelang kepada peserta konferensi dari berbagai negara.
Suyitno kembali menjelaskan bahwa makalah ini ditulis berdasarkan hasil riset kolaborasi antara S1 Teknik Mesin dengan S1 Teknologi Pangan Untidar. Selain Suyitno, tim riset terdiri dari Cahyo Wibi Yogiswara dan Ikhwan Taufik dari Teknik Mesin, serta M. Iqbal Fanani Gunawan, Alifa R. Faradiani, Nabila F. Iskandar, dan Arum S. Dewi dari prodi Teknologi Pangan.
Selain presentasi tentang pengembangan produksi getuk higienis oleh Suyitno, satu lagi dosen Untidar juga berkesempatan menyajikan makalah di 14th biennial FOODSIM’2026 ini. M. Iqbal Fanani Gunawan menyajikan masalah tentang pemanfaatan kulit kopi untuk kombucha.
Penulis : Laila Alfizanna




