KOPDAR “Temani” Orang Tua Peserta UTBK di Untidar

UPA Taman Agrotek Universitas Tidar menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan kampus yang ramah, inovatif, dan berorientasi pada kewirausahaan melalui inisiatif berbagi kopi gratis bagi orang tua dan keluarga peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), Rabu (22/04).

Pembagian Kopi Untidar (KOPDAR) diselenggarakan di depan Gedung Laboratorium Terpadu, Kampus Sidotopo.

“Bagi kopi gratis ini rencana diselenggarakan dari Rabu, 22 April 2026 hingga 29 April 2026 atau sampai hari terakhir UTBK berlangsung. Kehadiran stand ini menjadi bentuk kepedulian kepada para orang tua yang setia menunggu putra-putrinya menjalani salah satu momen penting dalam perjalanan pendidikan mereka,” ujar Kepala UPA Taman Agrotek, Dr. Ir. Yudhi Arnandha, S.T., M.T.

Kopi yang disajikan adalah kopi robusta dan arabika yang diolah dan disajikan langsung di lokasi.

“Menunggu putra-putri yang sedang ujian sambal mengobrol dengan pendamping lain ditambah menyeruput kopi panas. Semoga perhatian kecil dari Untidar ini bisa menjadi simbol kecil perhatian dan kepedulian dari Untidar,” tambahnya.

Ayu Nur Annisa Ramadhan, S.T.P., selaku Laboran pertanian Untidar, menjelaskan bahwa kegiatan ini memiliki berbagai tujuan strategis. Selain untuk memberikan kenyamanan dan menjadi teman bagi para orang tua yang menunggu, kegiatan ini juga menjadi langkah nyata dalam memperkenalkan dan memperkuat branding KOPDAR kepada masyarakat luas.

“Kami ingin KOPDAR tidak hanya dinikmati di lingkungan kampus, tetapi juga dikenal oleh masyarakat sebagai produk unggulan yang memiliki kualitas baik. Oleh karena itu, selain disajikan secara gratis, kami juga menyediakan produk bubuk kopi yang dapat dibeli dan diseduh sendiri di rumah,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa langkah ini selaras dengan semangat Untidar sebagai kampus kewirausahaan yang mendorong pengembangan produk bernilai ekonomi dari hasil inovasi internal.

Lebih dari sekadar berbagi kopi, stand ini juga berfungsi sebagai etalase produk unggulan Untidar. Berbagai olahan seperti es krim Untidar, getuk goreng, serta produk lainnya turut dipajang dan dapat dibeli oleh pengunjung. Kehadiran produk-produk ini tidak hanya menambah daya tarik, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan promosi kepada masyarakat mengenai potensi kewirausahaan yang dikembangkan di lingkungan kampus.

Kegiatan ini turut menciptakan ruang sosial yang hangat di tengah suasana menunggu. Para orang tua tidak hanya menikmati kopi, tetapi juga saling berbincang, bertukar cerita, hingga membangun relasi baru.

Suprianto, salah satu orang tua peserta UTBK, mengungkapkan rasa senangnya karena kegiatan ini sangat membantu mengisi waktu tunggu.

“Senang sekali ada KOPDAR ini. Selain bisa minum kopi gratis, juga jadi ada teman ngobrol, jadi tidak terasa lama,” ujarnya. Hal senada disampaikan oleh Sutrisno yang menilai bahwa inisiatif ini membuat suasana kampus menjadi lebih hidup dan bersahabat.

Dari sisi pelaksanaan, kegiatan ini berlangsung setiap hari selama periode UTBK dengan pelayanan yang terbuka untuk seluruh keluarga peserta. Pengunjung dapat langsung mendatangi stand di depan Laboratorium Terpadu untuk menikmati kopi tanpa dipungut biaya. Tim dari UPA Taman Agrotek juga memastikan pelayanan berjalan dengan baik, mulai dari penyajian kopi, ketersediaan produk, hingga menjaga kebersihan dan kenyamanan area.

Melalui inisiatif berbagi KOPDAR ini, UPA Taman Agrotek tidak hanya menghadirkan kepedulian sosial, tetapi juga mengintegrasikan nilai kewirausahaan dalam praktik nyata. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkenalkan produk kopi lokal kampus, membuka peluang pasar, serta memperkuat identitas Universitas Tidar sebagai kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif, inovatif, dan produktif dalam mengembangkan potensi kewirausahaan. Secangkir kopi sederhana pun menjadi jembatan antara kepedulian, inovasi, dan semangat kewirausahaan yang terus tumbuh di lingkungan kampus.

Penulis : Ade Afriansyah

Editor : Humas Untidar

Wamendiktisaintek Tekankan Etika sebagai Fondasi Pengembangan AI di Indonesia

Jakarta-Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menegaskan bahwa pengembangan kecerdasan buatan (AI) harus dilandasi nilai etika. Hal ini disampaikan dalam pada acara yang bertajuk “AI Governance for the Greater Good: Balancing Innovation and Ethics” yang diselenggarakan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, Rabu (22/4).

Dalam paparannya, Wamen Stella menegaskan bahwa dalam konteks etika AI, kemampuan berpikir abstrak manusia merupakan keunggulan utama yang tidak boleh hilang di era AI. Kecerdasan buatan sangat bergantung pada data dalam jumlah besar, sementara kemampuan manusia memiliki keunggulan untuk memahami konsep secara mendalam dari pengalaman terbatas. 

“Kemampuan kita untuk membuat abstraksi dan memahami konsep dari sedikit data adalah sesuatu yang tidak boleh hilang. Ini harus dijaga dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari, karena ini adalah keunggulan kita dibandingkan AI,” tegas Wamen Stella.

Hal ini menjadikan sistem pendidikan menjadi aspek penting untuk mengembangankan kemampuan berpikir kritis dan konseptual, bukan sekadar keterampilan teknis. Wamen Stella menjelaskan bahwa AI tidak lahir dari kebutuhan langsung, tetapi melalui pemikiran kritis “Bisakah Mesin Berpikir?” dari seorang matematikawan. 

Melalui  contoh teknologi seperti GPS yang lahir bukan dari kebutuhan praktis, melainkan riset fundamental, Wamen Stella mendorong minat generasi muda terhadap sains sebagai investasi jangka panjang.

“Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus belajar berpikir dan berkontribusi pada pengetahuan baru demi kemanusiaan. Ini adalah tugas utama pendidikan tinggi,” jelas Wamendiktisaintek.

Saat ini, penggunaan AI masih menimbulkan pro-kontra di masyarakat. Wamen Stella menyebut dampak baik dan buruk AI seperti dua sisi mata uang, AI berpotensi menimbulkan ancaman keamanan siber serta menghasilkan informasi yang tidak akurat, tetapi di sisi lain dapat menjadi alat verifikasi informasi serta menjadi alat untuk pemerataan akses, khususnya di bidang pendidikan sehingga perlu kebijakan yang proaktif untuk memastikan manfaat AI dapat dirasakan lebih cepat serta risikonya dapat diminimalisir.

Menutup paparannya, Wamen Stella menyoroti pengembangan AI yang diarahkan untuk menjawab kebutuhan Indonesia untuk mengejar ketertinggalan yang mana AI diposisikan sebagai alat untuk menyelesaikan masalah kompleks berbasis data.

Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

Hari Pertama UTBK-SNBT 2026 di Untidar Berjalan Lancar, Tidak Ada Kendala Teknis

Hari pertama penyelenggaraan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Tidar berjalan dengan lancar, Selasa (21/04). Sejumlah 1.032 peserta menyelesaikan ujian sesuai dengan jadwal tanpa adanya kendala teknis.

“Pada hari pertama ini, 1.032 peserta hadir dan mengikuti ujian dari 1.060 peserta yang sudah terdaftar ujian. Jadi ada sekitar 28 peserta yang tidak hadir,” jelas Dr. Megita Dwi Pamungkas, S.Pd., M.Pd., Koordinator Pelaksana UTBK Untidar 2026.

Penyelenggaran ujian di Pusat UTBK Untidar dilaksanakan mulai 21 – 29 April 2029. Ujian terdiri dari 17 sesi dimana dalam 1 hari dilaksanakan 2 sesi ujian yaitu sesi pagi dan siang. Kuota peserta masing-masing sesi yaitu 530 peserta jadi dalam 1 hari ada 1.060 peserta yang terdata akan mengikuti UTBK.

“Pusat UTBK Untidar menyediakan kuota 10.600 peserta UTBK namun hanya terisi 8.718 peserta sehingga penyelenggaran tidak full sampai tanggal 30 April 2026 sesuai jadwal di Panitia SNPMB, di Untidar hanya sampai tanggal 29 April 2026,” tambahnya.

Kepala UPA TIK, Ir. Andriyatna Agung Kurniawan, S.T., M.Eng., IPM. sebelumnya Tim IT sudah menyelenggarakan uji coba sistem serta merubah cara booting sistem di perangkat yang akan digunakan.

“Setiap perangkat atau komputer akan melakukan booting sistem dari USB dan FD (Flashdisk/USB Flash Drive) untuk menghindari aplikasi yang ditanam pada PC atau computer yang digunakan untuk UTBK,” jelasnya.

Pada tahun sebelumnya ditemukan aplikasi yang sudah ditanam pada memori lokal perangkat computer yang digunakan untuk UTBK. Aplikasi ini semacam aplikasi perekam sehingga aktivitas peserta UTBK saat melaksanakan ujian. Untuk menghindari ini maka disiasati dengan booting sistem bukan mengambil dari memori komputer namun dari USB.

“Masing-masing komputer memiliki 1 USB jadi ada kurang lebih 530 USB yang digunakan untuk melakukan booting sistem pada setiap computer yang digunakan peserta UTBK di Untidar,” tambahnya.

Rasyad Ali dan Rajif dari SMA Taruna Nusantara membagi pengalamannya melaksanakan ujian hari pertama di Pusat UTBK Untidar.

“Deg-deg-an tapi lega karena beban sudah hilang dan tinggal menunggu hasil,” tutur Rajif.

Tips dari Rasyad, bagi peserta hari berikutnya untuk dapat memperhitungkan waktu dalam mengerjakan soal. Untuk persiapan bisa memperdalam soal-soal tahun lalu dan sering mengerjakan soal-soal try out karena membantu dalam mengerjakan soal pada UTBK.

Penulis dan Editor : Humas Untidar

Mendiktisaintek Tinjau Pelaksanaan UTBK-SNBT, Pastikan Ujian Lancar dan Berintegritas

Jakarta–Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto meninjau langsung pelaksanaan hari pertama Ujian Tulis Berbasis Komputer-Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Selasa (21/4).

Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan seluruh proses UTBK berintegritas, berjalan lancar, tertib, dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi langkah antisipatif dalam meminimalisasi potensi kecurangan, yang pada tahun-tahun sebelumnya masih ditemukan di sejumlah titik pelaksanaan.

Dalam keterangannya, Mendiktisaintek menyampaikan bahwa pelaksanaan hari pertama UTBK di UNJ secara umum berjalan dengan baik. Mendiktisaintek juga mengapresiasi kesiapan panitia pusat maupun daerah dalam memastikan kelancaran ujian di berbagai wilayah di Indonesia.

“Pada pagi hari ini kami melakukan peninjauan terhadap pelaksanaan UTBK hari pertama. Tadi kami melihat persiapan semuanya berjalan lancar, dan kami berharap seluruh pelaksanaan di berbagai kota di Indonesia ini semuanya bisa berjalan dengan baik,” ujar Menteri Brian.

Mendiktisaintek menjelaskan jumlah peserta UTBK tahun ini mencapai sekitar 870 ribu orang yang tersebar di berbagai pusat UTBK di Indonesia. Antusiasme peserta juga terlihat tinggi, seiring dengan upaya panjang yang telah mereka lakukan dalam mempersiapkan diri menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi tersebut.

Ditegaskan pula pentingnya menjaga integritas dalam pelaksanaan ujian. Mendiktisaintek mengingatkan bahwa berbagai upaya kecurangan pada akhirnya akan dapat terdeteksi melalui sistem pengawasan yang telah diperkuat.

“Kami menyampaikan kepada seluruh peserta, percayalah pada kemampuan diri sendiri. Adik-adik sudah belajar cukup lama, menyiapkan diri cukup lama, dengan keyakinan penuh pada akhirnya bisa mencapai apa yang dicita-citakan,” tegas Menteri Brian.

Sebagai langkah penguatan pengawasan, panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) menempatkan peserta dengan pilihan program studi kedokteran dan kedokteran gigi pada hari pertama pelaksanaan UTBK. Kebijakan ini diambil berdasarkan evaluasi tahun sebelumnya, di mana mayoritas kasus kecurangan ditemukan pada kelompok peserta tersebut. Dengan pemusatan jadwal, pengawasan dan koordinasi diharapkan dapat dilakukan secara lebih optimal.

Melalui pelaksanaan UTBK yang transparan dan berintegritas, Kemdiktisaintek berharap proses seleksi nasional ini dapat menghasilkan calon mahasiswa unggul yang mengedepankan nilai jujur dan sportivitas. Ke depan, Kemdiktisaintek bersama panitia SNPMB akan terus melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala selama masa pelaksanaan UTBK berlangsung, guna memastikan seluruh tahapan berjalan dengan baik dan memberikan hasil seleksi yang kredibel serta berkualitas.

Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

Kemdiktisaintek Perkuat Kemitraan Global Strategis untuk Akselerasi Talenta Unggul, dan Industri Teknologi Tinggi

Jakarta-Kemdiktisaintek terus memperkuat kerja sama internasional di bidang pendidikan tinggi, riset, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai bagian dari strategi akselerasi transformasi ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini ditunjukkan dalam audiensi antara Mendiktisaintek, Brian Yuliarto dan Charge d’Affaires ad interim The United State Ambassador, Peter M. Haymond, di gedung Kemdiktisaintek, Kamis (16/4).

Melalui kolaborasi global yang terarah, Indonesia menegaskan komitmennya untuk meningkatkan daya saing nasional sekaligus menjawab kebutuhan industri masa depan. Fokus utama kerja sama diarahkan pada peningkatan kualitas SDM melalui program pendidikan dan riset berstandar internasional. 

Inisiatif ini mencakup pengembangan program gelar bersama (dual degree) serta riset kolaboratif lintas negara yang diharapkan mampu menghasilkan inovasi berdampak tinggi dan relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional. 

Dalam mendukung akses pendidikan berkualitas, pemerintah juga mengoptimalkan berbagai skema pembiayaan pendidikan, termasuk melalui LPDP. Skema ini memberikan peluang lebih luas bagi talenta terbaik Indonesia untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi kelas dunia sekaligus memperkuat jejaring akademik global.

“Kami menargetkan pengembangan sekitar 10 produk semikonduktor serta kebutuhan hingga 15.000 insinyur. Untuk itu, kerja sama dengan perguruan tinggi menjadi kunci,” ujar Menteri Brian.

Di sektor kesehatan, pemerintah juga mendorong pengembangan universitas kedokteran baru guna meningkatkan kapasitas pendidikan tenaga medis nasional. 

Inisiatif ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan tenaga kesehatan yang terus meningkat sekaligus memperluas akses pendidikan kedokteran di berbagai wilayah Indonesia.

Selain penguatan pendidikan tinggi, kerja sama juga mencakup dukungan terhadap fasilitas pendidikan, termasuk pemanfaatan teknologi pembelajaran untuk sekolah. Upaya ini bertujuan untuk mempercepat pemerataan kualitas pendidikan serta mendukung ekosistem pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain strategis dalam ekosistem industri global yang berkelanjutan dan berbasis inovasi.

Penguatan Kemitraan Internasional Strategis Mendorong Riset dan Pendidikan Nasional yang Adaptif dan Berdaya Saing

Jakarta – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan komitmennya dalam memperluas kemitraan internasional strategis sebagai bagian dari upaya mendorong transformasi sistem pembelajaran serta penguatan ekosistem riset nasional. Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, dalam acara 5th Education Investment Forum (EIF) 2026 dengan tema “Funding the Future of Learning”, yang diselenggarakan di Jakarta, Selasa (14/4).

Pada forum tersebut, Dirjen Fauzan hadir sebagai panelis pada sesi “Opening the Door: International Pathways into Indonesia’s Education Sector”. Sesi ini membahas peluang dan pendekatan kerja sama antara Indonesia dan institusi pendidikan internasional, termasuk model kemitraan strategis yang relevan serta kerangka kebijakan yang mendukung implementasinya.

Dalam paparannya, Dirjen Fauzan menyampaikan bahwa Indonesia membuka ruang untuk terjalinnya kerja sama institusi pendidikan global sebagai bagian dari penguatan kapasitas nasional, khususnya dalam pengembangan talenta, riset, dan inovasi.

“Kerja sama internasional tidak cukup dimaknai sebagai perluasan akses pendidikan, tetapi harus diarahkan untuk mendorong kemitraan strategis yang berdampak terhadap kebutuhan pembangunan nasional jangka panjang dengan mendorong sektor ekonomi, sosial dan lingkungan yang relevan,” ujarnya. 

Selain itu, Dirjen Fauzan menyoroti pentingnya terjalinnya model kemitraan dengan pemahaman terhadap kesenjangan sebagai faktor kunci dalam mendukung keberhasilan kolaborasi. Hal ini diperlukan agar setiap kerja sama dapat berjalan secara efektif, berkelanjutan, serta memberikan manfaat yang optimal bagi semua pihak.

Kemdiktisaintek juga terus membuka ruang bagi berbagai skema kerja sama yang adaptif, termasuk kolaborasi riset dan pengembangan program bersama yang diselaraskan dengan kebijakan prioritas nasional, sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi antara institusi dalam negeri dan mitra internasional.

Forum ini turut menghadirkan perwakilan pemerintah dan institusi global yang berbagi pengalaman dalam mengembangkan kemitraan di Indonesia, termasuk penyesuaian model kerja sama dan penguatan kolaborasi dengan mitra lokal.

Sebagai penutup, Dirjen Fauzan menegaskan bahwa kemitraan yang dirancang secara terarah dan berkelanjutan akan menjadi faktor penting dalam memperkuat kontribusi riset dan pendidikan terhadap pembangunan nasional.

Universitas Tidar Gelar Wisuda Periode April Tahun 2026, Unyil dan Zidan Jadi Wisudawan Terbaik

Universitas Tidar menyelenggarakan prosesi wisuda bagi lulusan program Sarjana, Sarjana Terapan dan Ahli Madya pada periode April Tahun 2026, Sabtu (11/04) di Gedung dr. H.R. Suparsono, Kampus Tuguran.

Untidar menapaki langkahnya sebagai perguruan tinggi negeri dengan filosofi kuat: “Untidar Unggul Berbudaya, Alumni Kompak Berdampak. Artinya keunggulan akademik dan non-akademik adalah fokus utama kita. Namun, keunggulan tersebut harus dilandasi oleh nilai-nilai budaya luhur, terutama yang tumbuh di kancah peradaban Magelang dan Nusantara.

“Lulusan Untidar haruslah pribadi yang tidak hanya cerdas secara ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki integritas, etika, dan kemampuan menjaga serta mengembangkan budaya bangsa. Jadilah lulusan yang unggul dalam kompetensi, tetapi tetap berbudaya dalam berperilaku,” tutur Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si, pada sambutannya.

Selain itu Rektor juga berharap hari “wisuda” merupakan titik penting perjalanan akademik.

“Sebuah momentum yang bukan hanya menandai akhir dari proses belajar di bangku kuliah, tetapi juga awal dari pengabdian nyata di tengah masyarakat,” tambahnya.

Wisuda Untidar ke-73 ini meluluskan 528 wisudawan yang terdiri dari 511 program Sarjana, 7 Sarjana Terapan dan 10 Ahli Madya. Dari seluruh wisudawan sebanyak 24 wisudawan lulus dengan gelar Cumlaude atau dengan pujian.

Seperti pewisudaan sebelumnya, Untidar memberikan penghargaan kepada 10 mahasiswa yaitu 5 wisudawan terbaik akademik dan 5 wisudawan terbaik non akademik.

Septiawan Puji Trianto, wisudawan dari Prodi Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik menjadi Wisudawan Terbaik Akademik. “Unyil” panggilan akrabnya meraih IPK 3,91 dengan masa studi 3 Tahun 5 Bulan 9 Hari.

“Kuliah itu utamanya ya akademik. Walau kuliah sambil kerja dan organisasi semua bisa dilaksanakan bersamaan dengan cara membuat skala prioritas,” ujar Unyil.

Wisudawan asal Danasari, Karangjambu, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah ini prestasi menjadi wisudawan terbaik ini merupakan kesempatan untuk “menaikkan derajat” orang tua.

“Aku dari keluarga yang kurang mampu, kalau bukan sekarang kapan lagi mau menaikkan derajat atau membanggakan mereka, mau kapan lagi. Ada orang tua dan keluarga lain yang bergotong royong mendukung saya sampai bisa kuliah bahkan lulus saat ini,” jelasnya.

Putra bapak Abdul Manaf dan Ibu Rumini ini ingin membuktikan putra dari seorang “bakul pindang” juga bisa sukses.

Pada saat menyampaikan sambutan sebagai wakil wisudawan, Unyil membuat permintaan khusus kepada Rektor.

“Ke Magelang naik sepeda, Jangan lupa membeli pita. Untuk bapak Rektor yang mulia. Boleh kah saya meminta beasiswa S2?,” pungkasnya saat menyampaikan sambutan disambut riuh suara dan tepuk tangan dari rekan wisudawan serta orang tua wisudawan.

Zidan Rizka Alhafidz, wisudawan dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan mendapat penghargaan menjadi wisudawan terbaik non akademik. Zidan memiliki sejumlah prestasi di lingkup artikel ilmiah, jurnal ilmiah dan olimpiade mahasiswa.

Zidan lulus dengan IPK 3,83 dengan masa studi 3 Tahun 5 Bulan 11 Hari. Yang menarik Zidan lulus tanpa skripsi atau menggunakan jalur artikel ilmiah sebagai pengganti skripsi.

“Judul artikel ilmiahnya Development of Teaching Materials for Popular Scientific Articles Using Contextual Approach for Grade VIII Students lolos publikasi di jurnal Sinta 3,” jelas wisudawan asal Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ini.

Putra bapak Istar Khoirudin dan Ibu Sunarni Kusmiatun ini mengaku sudah mulai merancang karya ilmiahnya mulai semester 6.

“Saat ada info dari jurusan bisa mengganti skripsi dengan artikel ilmiah, mulailah saya menyusun strategi. Bahkan saya memanfaatkan lokasi PPL (Praktek Pengalaman lapangan) sekaligus untuk mencari data pendukung jadi selesai PPL bisa langsung mengolah data,” lanjutnya.

Senada dengan Unyil, bahwa prestasi wisudawan terbaik ini merupakan persembahan untuk kedua orang tuanya. Tidak bisa dipungkiri selama mengkuliahkannya di Untidar pastinya banyak perjuangan yang mungkin tidak ditunjukan.

“Yang jelas bisa membanggakan orang tua, ini tujuan utama dari awal perkuliahan. Dan ternyata sekarang bisa jadi wisudawan terbaik,” pungkasnya.

Baik Septiawan “Unyil” dan Zidane juga mempunyai impian atau tujuan yang sama setelah lulus yaitu menjadi dosen/pengajar.

 

Penulis dan Editor : Humas Untidar

Kemdiktisaintek dan Komisi X DPR RI Lakukan Kunjungan Spesifik ke Makassar, Bahas Implementasi SPMB

Makassar – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) menerima berbagai masukan mengenai implementasi kebijakan pemerintah mengenai Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dan penerapan standar satuan biaya operasional pendidikan tinggi (SBOPT) dari masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya pemangku kepentingan bidang pendidikan tinggi. 

Selain itu, Kemdiktisaintek dan Komisi X DPR RI juga melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap kebijakan pemerintah di bidang pendidikan tinggi tersebut dalam Kunjungan Kerja Spesifik Bidang Pendidikan Tinggi ke Universitas Negeri Makassar (UNM) pada Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2025–2026, di Gedung Phinisi UNM, Sulawesi Selatan, Jumat (10/4).

Dalam kunjungan tersebut, Staf Ahli Menteri Bidang Penguatan Ekosistem Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Kemdiktisaintek, Muhammad Hasan Chabibie, menyampaikan bahwa pemerintah melalui Kemdiktisaintek menerima berbagai masukan atas kebijakan SPMB tersebut dari para pemangku kepentingan pendidikan tinggi di Sulawesi Selatan meliputi batasan waktu dan kapasitas, fabrikasi nilai, dan sistem yang terintegrasi yang mampu memberikan berbagai rekomendasi bagi pemangku kepentingan. Kemdiktisaintek juga berkomitmen untuk tetap mengoptimalkan anggaran Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-Kuliah) dan berbagai skema beasiswa lainnya. 

Sementara itu, pimpinan Kunjungan Kerja Spesifik Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani menekankan penetapan uang kuliah tunggal (UKT) untuk perguruan tinggi negeri (PTN) harus melalui musyawarah dengan mahasiswa dan orang tua, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 2 Tahun 2024 tentang Standar Satuan Biaya Operasional Pendidikan Tinggi pada Perguruan Tinggi Negeri. Maka dari itu, Komisi X DPR RI pada tanggal 17 Februari 2026 sepakat membentuk Panitia Kerja (Panja) SPMB & Standar Biaya Pendidikan Tinggi.

Komisi X DPR RI mengapresiasi seluruh aspirasi, penjelasan, catatan, dan masukan dari para pemangku kepentingan di bidang pendidikan tinggi khususnya Sulawesi Selatan sebagai bahan yang komprehensif dan strategis dalam rangka memperkaya subtansi proses revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. 

“Komisi X DPR RI mendorong Kemdiktisaintek, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IX, PTN, PTS, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan di Sulawesi Selatan untuk memperkuat sinergi dan koordinasi dalam penyelenggaraan SPMB yang transparan dan berkeadilan dan penetapan SBOPT yang rasional, terjangkau, dan akuntabel sehingga kebijakan tersebut lebih berpihak kepada masyarakat,” ujar Lalu.

Dalam kesempatan yang sama, Plt. Rektor Universitas Negeri Makassar, Farida Patitingi menyampaikan beberapa rekomendasi strategis terkait kebijakan pendidikan tinggi tersebut yakni melakukan reviu UKT berbasis data secara periodik, penguatan integrasi seleksi, negosiasi dukungan pemerintah, dan perluas akses afirmasi. Menurutnya, peninjauan UKT dapat dilakukan berbasis data ekonomi mahasiswa bukan sekadar jalur masuk, kemudian pada SPMB dapat mengimplementasikan verifikasi biometrik, proctoring digital dan pengawasan berlapis untuk mencegah perjokian.Ia juga menuturkan pentingnya konsistensi menjalankan KIP-Kuliah dengan target 40 persen dan memperkuat jalur afirmasi daerah tertinggal.

Pada kegiatan tersebut, turut hadir Kepala LLDikti Wilayah XI (Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara) dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan serta para pimpinan perguruan tinggi di wilayah Sulawesi Selatan, antara lain Universitas Hasanuddin, Universitas Muhammadiyah Makassar, Universitas Islam Makassar, dan Universitas Muslim Indonesia.

Menapaki Jejak Sejarah, Untidar Anjangsana dan Gelar Ziarah

Menapaki Jejak Sejarah, Untidar Anjangsana dan Gelar Ziarah

Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-47, segenap pimpinan, dosen, serta tenaga kependidikan Universitas Tidar (Untidar) menyelenggarakan kegiatan ziarah dan anjangsana sebagai bentuk penghormatan kepada para tokoh yang berjasa dalam perjalanan institusi. Kegiatan ini dilaksanakan Rabu (9/4).

Menapaki Jejak Sejarah, Untidar Anjangsana dan Gelar Ziarah

Agenda diawali dengan anjangsana ke kediaman Rektor Untidar periode 2007-2018, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd. Kunjungan ini menjadi momentum silaturahmi sekaligus sarana menggali nilai-nilai perjuangan dan kepemimpinan yang telah diwariskan oleh para pimpinan terdahulu dalam membangun dan mengembangkan Untidar.

Rektor Untidar, Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si., melalui sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki makna penting dalam menjaga kesinambungan sejarah dan nilai-nilai yang telah dibangun oleh para pendahulu. “Saya berharap kita semua diberikan kesempatan untuk terus menyambung sejarah dan menjaga kecintaan terhadap Untidar. Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya mengenang, tetapi juga meneladani nilai-nilai perjuangan yang telah diwariskan, sehingga dapat kita lanjutkan untuk kemajuan Untidar ke depan,” tuturnya.

Rombongan melanjutkan ziarah ke makam Brigjen TNI (Purn.) dr. Soepandji yang berlokasi di TPU Bonoloyo, Surakarta. Almarhum merupakan rektor kedua Universitas Tidar yang memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan kampus.

Muhammad Daniel Fahmi Rizal, M.Hum., selaku ketua dalam kegiatan ini menjelaskan bahwa kegiatan ini telah menjadi program berkelanjutan yang digagas sejak lama dan terus dilaksanakan hingga kini karena memiliki nilai positif yang penting bagi institusi. “Kegiatan ini merupakan bagian dari tradisi tahunan Dies Natalis Untidar yang bertujuan untuk menanamkan nilai historis dan memperkuat ikatan emosional sivitas akademika terhadap perjalanan institusi. Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh peserta dapat meneladani semangat perjuangan para pendahulu dalam memajukan Untidar,” ujar Daniel.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan yang dikenal dengan istilah Guru Kerta ini memiliki makna sebagai upaya mempelajari dan meneladani perjuangan para pendidik dan pendiri terdahulu. “Kita berkunjung ke para sesepuh yang dahulu memperjuangkan kampus ini, serta kepada yang telah berpulang untuk mempelajari perjuangan mereka. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi sarana pembelajaran bagi sivitas akademika untuk memahami dinamika Untidar dari masa ke masa,” harapnya.

Lebih lanjut, kegiatan ziarah dan anjangsana ini juga menjadi sarana untuk memperkuat rasa kebersamaan dalam keluarga besar Untidar, sekaligus memperkaya dokumentasi sejarah institusi yang masih terus dikembangkan. Dengan semangat Dies Natalis ke-47, Untidar berkomitmen untuk terus melanjutkan perjuangan para pendahulu serta meningkatkan kualitas sebagai perguruan tinggi negeri yang unggul dan berdaya saing.

 

Penulis: Suryanti

Editor: Humas Untidar

BRIDGE-HE sebagai Upaya Tangguh LPPM Untidar dalam Mendorong Penelitian Inklusif

Magelang — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untidar menyelenggarakan Inclusive Research Readiness Training pada Kamis (9/4) di Ruang Rapat Rektorat Lantai 4. 

Kegiatan ini diselenggarakan oleh LPPM Untidar melalui kerja sama dengan British Council. Sebanyak 35 peserta yang terdiri atas 15 dosen dan 20 mahasiswa aktif Untidar turut menghadiri kegiatan tersebut. Acara dimulai dengan sambutan Herpindo, S.Pd., M.Hum., selaku ketua kegiatan, dilanjutkan dengan pembukaan resmi acara secara simbolis.

“Melalui pelatihan ini, mendorong ketersediaan ruang bagi civitas akademika untuk memahami praktik inklusivitas di perguruan tinggi, terutama terkait persepsi dosen dan mahasiswa terhadap pemenuhan hak disabilitas agar dapat dicapai secara optimal,” ungkap beliau.

Selanjutnya, terdapat arahan dari moderator, Dr. Rochmat Aldy Purnomo, dengan pembagian peserta menjadi dalam empat kelompok yang melibatkan unsur dosen dan mahasiswa. 

Sesi utama workshop penelitian menghadirkan paparan dari narasumber Dr. Arni Surwanti, M.Si. selaku dosen dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Dalam materinya yang bertajuk Building Disability-inclusive Research Culture in Indonesian Higher Education (BRIDGE-HE)” beliau menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa difabel dalam penelitian perlu dipastikan sebagai bagian dari pelaksanaan tiga pilar tridarma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. 

“Perlunya penekanan prinsip no one left behind dalam pendidikan tinggi, sejalan dengan dasar penelitian inklusi yang mengacu pada UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang mencakup pada pola pendekatan penanganan berbasis human rights melalui penekanan 22 hak penyandang disabilitas, termasuk keterlibatan, fasilitas, dan penyesuaian pendekatan sesuai jenis disabilitas,” tegas Dr. Arni.

Terdapat sesi diskusi bersama yang menghadirkan pandangan dari peserta, yaitu Naufal Afif, S.A., M.Sc. selaku Dosen Program Studi Akuntansi dan Shofiyana sebagai mahasiswa Ilmu Administrasi. Kedua perspektif tersebut menyoroti keselaran Untidar yang telah menghadirkan pelatihan bahasa isyarat bagi sivitas akademika dalam upaya memberikan hak bagi penyandang disabilitas. 

Dilanjutkan dengan studi kasus, yaitu masing-masing kelompok mengidentifikasi proses penelitian berdasarkan kategori yang disiapkan berupa bidang ilmu difabel fisik, difabel intelektual, difabel psikososial serta difabel sensorik. Pemetaan bedah kasus tersebut, diupayakan memberikan solusi terkait adanya hambatan yang dirasakan penyandang disabilitas saat menyelesaikan penelitian yang dilalui. 

Peserta menyoroti pemanfaatan sumber perpustakaan seperti iUntidar, penetapan pola bimbingan yang terstruktur serta pemberian umpan balik konsultif pada mahasiswa penyandang difabel fisik. Hal yang sama juga disampaikan kelompok difabel intelektual melalui adanya pemetaan akar masalah, terkhusus pada kasus mahasiswa dengan kecenderungan anxiety, untrustworthy dan bipolar. 

Perlunya strategi dalam memahami kondisi mahasiswa terhadap produktivitas dan kualitas pembelajaran melalui rencana aksi berupa pembatasan topik, pengelolaan ritme belajar serta penetapan dateline. Dilanjutkan dengan dukungan teknologi speech-to-text sebagai fasilitas alih bahasa ilmiah agar sesuai dengan panduan penulisan terperinci pada mahasiswa dengan kondisi difabel sensorik.

Selanjutnya, hasil dari pemetaan masalah dari masing-masing kelompok akan diproses dan diteliti secara bersama, untuk mendapatkan luaran melalui pemaparan pada seminar berikutnya serta pengunggahan sebagai jurnal penelitian.

“Perlunya pembekalan kuat dalam memahami kebutuhan mahasiswa difabel dengan keterlibatan dukungan teknologi, termasuk penggunaan artificial intelligence serta komitmen perguruan tinggi terhadap fleksibilitas penyesuaian ketentuan akademik secara proporsional.” tambah Dr. Arni.

Bersama ini Untidar mewujudkan ekosistem riset yang inklusif, kolaboratif, dan berkelanjutan melalui diskusi, refleksi, dan kolaborasi. Karena pada akhirnya, riset yang bermutu bukan hanya tentang apa yang kita teliti tetapi tentang siapa yang kita libatkan didalamnya.

 

Penulis: Maura Deaazaria Firdanisahara
Editor: Humas Untidar