LAPORAN KHUSUS DARI BELGIA : FIND4S Hari ke-5, Food Safety sebagai Aspek Krusial Sistem Pangan
Dalam rangkaian kegiatan konsorsium FIND4S (Enhancing Higher Education Capacity for Sustainable Data Driven Food Systems in INDonesia), tim FIND4S Untidar, yaitu Pradipta Bayuaji Pramono, S.Pt., M.Sc. Muhammad Iqbal Fanani Gunawan, S.T.P., M.Si, melakukan study visit ke KU Leuven (Kampus Gent), Belgia, (13- 22/04/2025). Kegiatan yang didanai oleh Erasmus+ ini merupakan rangkaian kegiatan FIND4S yang sudah memasuki bulan tujuh sejak resmi dimulai pada November 2024. Uni Eropa, dan melibatkan konsorsium 11 perguruan tinggi, terdiri dari tujuh universitas di Indonesia serta empat mitra dari Eropa. Universitas tersebut adalah Katholieke Universiteit (KU) Leuven, University College Dublin (UCD), University of Applied Sciences Anhalt, Católica Portuguesa (UCP), Universitas DIponegoro (UNDIP), Universitas Tidar (UNTIDAR). Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Universitas Nasional Karang Turi (UNKARTUR) Semarang, Universitas Semarang (USM), Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), dan Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan kapasitas pendidikan tinggi di bidang sistem pangan berkelanjutan berbasis data, serta memperkuat jejaring kolaborasi antara akademisi, peneliti, dan industri.Kegiatan ini sendiri diikuti oleh 13 dosen dari berbagai perguruan tinggi anggota konsorsium di Indonesia. Berikut laporan keduanya di hari kelima.
Hari kelima diawali dengan menyaksikan salah satu seminar hasil penelitian Warren Mores (salah satu mahasiswa Ph.D dari Biotec+) dengan topik “Metabolic Network Reduction in View of Optimisation and Control of Bioprocess”, sesi berikutnya pemaparan dari salah satu anggota konsorsium FIND4S, Prof. Enda Cummins dari University College Dublin (UCD) yang membahas dua hal, yaitu “Food Safety Management – Fundamental and Components” dan “Introduction of UCD Biosystem and Food Engineering Program”.

Keamanan pangan (food safety) merupakan aspek krusial dalam sistem pangan global. Di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi dan tantangan perubahan iklim, sistem manajemen keamanan pangan (Food Safety Management System/FSMS) menjadi semakin penting tidak hanya untuk menjaga kesehatan masyarakat, tetapi juga untuk mendukung tercapainya pangan berkelanjutan.
Iqbal mengungkapkan, Food Safety Management bukan hanya soal menjaga makanan dari kontaminasi, tetapi juga bagian integral dari sistem pangan berkelanjutan. Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip keamanan pangan ke dalam setiap tahap rantai pasok, kita tidak hanya melindungi kesehatan konsumen, tetapi juga menjaga bumi, mendukung petani lokal, dan menciptakan sistem pangan yang adil serta tahan terhadap krisis di masa depan. “Sebagai sivitas akademika, kita memiliki peran penting dalam mengedukasi, meneliti, dan menerapkan solusi yang dapat menghubungkan keamanan pangan dengan keberlanjutan secara nyata” ujarnya.
Ketika membahas keamanan pangan, dua istilah yang tidak bisa dilepaskan adalah Risk Assessment (penilaian risiko) dan Risk Management (pengelolaan risiko). Keduanya merupakan bagian dari pendekatan ilmiah dan sistematis untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengendalikan bahaya yang mengancam keamanan pangan. Lebih dari sekadar perlindungan terhadap kesehatan konsumen, pendekatan ini juga berkontribusi besar terhadap sistem pangan berkelanjutan. Bayu menambahkan bahwa risk Assessment dan risk management adalah fondasi utama dalam sistem keamanan pangan modern. “Keduanya bukan hanya alat teknis untuk mencegah bahaya, tetapi juga instrumen strategis untuk menciptakan sistem pangan yang adil, sehat, dan berkelanjutan. Kampus sebagai pusat ilmu pengetahuan memiliki peran penting dalam mengembangkan, menerapkan, dan menyebarluaskan pendekatan ini, baik melalui pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat,” imbuhnya.
Penulis:
Pradipta Bayuaji
Muhammad Iqbal Fanani
Editor:
Danu Wiratmoko



