Bangun Cerita yang Relate, Ilkom Untidar Kupas Pembuatan Film di Commversary ke-9
Magelang – Jurusan Ilmu Komunikasi Untidar mengadakan seminar dan bedah buku dalam rangka dilaksanakannya Commversary 9th dengan tema “Nostalgia dalam Narasi Sinema: Edukasi, Ekspresi, dan Perayaan,” di GKU dr. H.R. Suparsono, Kampus Tuguran, Rabu (6/5/2026).
Hadir dalam kegiatan ini, Wahyu Andriyanto, S.A.P., Kepala Bagian Akademik; Dr. A.P. Dra. Sri Mulyani, M.Si., Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik; Dr. R. Yogie Prawira W, S.I.Kom., M.I.Kom., Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi; Dosen, dan Mahasiswa Ilmu Komunikasi.
Kepala Bagian Akademik Untidar, Wahyu Andriyanto, S.A.P., menyampaikan bahwa Program Studi Ilmu Komunikasi menjadi salah satu prodi dengan tingkat peminat yang tinggi di lingkungan universitas. “karena memang setiap tahunnya, peminat Ilkom itu banyak dan jarang ada kursi yang tidak terisi. Pasti memang,” ungkapnya.
Di kesempatan yang sama, Dekan FISIPOL, Dr. A.P. Dra. Sri Mulyani, M.Si., menekankan pentingnya keseimbangan antara teori dan praktik dalam pembelajaran Ilmu Komunikasi. “Selama ini mahasiswa belajar secara teori di kampus, dan nanti kita coba aplikasinya di dunia nyata, dan mudah-mudahan yang hadir disini sudah mencapai semuanya, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan,” terangnya.
Ketua Jurusan Ilkom, Dr. R. Yogie Prawira W, S.I.Kom., M.I.Kom., menyampaikan bahwa perjalanan Ilmu Komunikasi hingga saat ini memiliki makna penting dalam membangun arah ke depan. “Tema nostalgia ini akan menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan yang kita lakukan memiliki makna penting,” ungkapnya. Ia berharap kegiatan yang diselenggarakan tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga ruang berkembang bagi mahasiswa. “Semoga kegiatan ini tidak hanya menjadi acara perayaan, tetapi juga ruang untuk kita bersama bisa belajar, berekspresi, dan mempererat kebersamaan.”
Materi pertama disampaikan oleh Muhammad Nur Rohman, S.I.Kom., M.I.Kom., seorang Jurnalis, Dosen, dan juga Founder Production House Pappersinema. Ia menyampaikan materi tentang Storytelling dalam Film Dokumenter, yang menyorot pentingnya storrytelling, dan bagaimana membuat penonton terhubung saat menyaksikan sebuah film dokumenter. Ia engambil contoh dari beberapa film dokumenter yang telah dibuatnya, kemudian menjelaskan terkait setting, struktur cerita, hingga kesalahan umum yang sering terjadi dalam pembuatan cerita film dokumenter.
Permateri kedua, Dwi Putri Widhi, S.Sn, M.Sn., Dosen Film dan Televisi ISI Yogyakarta, berbicara tentang film yang difungsikan sebagai media komunikasi antara pembuat film dengan penonton film, media ekspresi, dan media hiburan. Ia menjelaskan dengan apik, bagaimana film bisa dikatakan bagus karena relate dan dapat membangun memori atas pengalaman yang penonton rasakan dan lihat. Film juga dapat menjadi sebuah representasi, sebagai perbuatan mewakili atau perwakilan, sehingga penonton dapat dengan mudah terhubung dengan cerita di sebuah film.
Kalau ditarik benang merahnya, sebenarnya kedua narasumber berbicara tentang hal yang sama dari sudut pandang yang berbeda. Storytelling menjadi cara untuk membangun emosi dan alur, sementara film sebagai media komunikasi memastikan pesan terasa relate dan membekas. Artinya, pembuatan film yang baik adalah yang mampu menyusun cerita sekaligus menghadirkan pengalaman yang dekat dengan penonton, sehingga penonton dapat terhubung secara emosional dan memahami makna yang ingin disampaikan.
Melalui kegiatan ini, Untidar berharap mahasiswa Ilmu Komunikasi dapat semakin mengembangkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis dalam bidang sinema, serta mampu menghasilkan karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki pesan yang kuat dan relevan bagi masyarakat.
Penulis: Aghna Nur Sabrina
Editor: Humas Untidar





