Rektor : Masjid 17 Jadi Simbol Ketauhidan dan Nasionalisme di Kampus Untidar
Rektor Universitas Tidar Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si., menyampaikan harapan besar terhadap pembangunan Masjid 17 sebagai pusat spiritual yang mencerminkan nilai keislaman dan nasionalisme di lingkungan kampus. Hal ini disampaikan dalam acara Peletakan Batu Pertama Masjid 17 yang digelar Kamis (07/08) di Kampus Sidotopo.
“Untuk semuanya, seluruh sivitas akademika, mangkeh saged lanjutaken kanthi istiqomah, membangun ketauhidan, akhlaqul karimah kita, agar bisa mewarnai ciri khas Untidar. Serta kita harus bisa terus merawat yang telah dimulai,” ujar Prof. Sugiyarto dalam sambutannya.
Menurutnya, pembangunan masjid ini tidak hanya menjadi proyek fisik, melainkan juga ruang simbolik untuk memperkuat karakter religius dan kebersamaan warga kampus. Nama Masjid 17 dipilih dengan makna filosofis yang dalam : angka 17 merepresentasikan hari kemerdekaan Indonesia, sekaligus jumlah rakaat salat wajib lima waktu.
“Maknanya, kita ingin membangun ruang spiritual yang juga mencerminkan jiwa nasionalis-religius, terutama bagi sivitas akademika Untidar,” lanjutnya.

Acara peletakan batu pertama diawali dengan kegiatan sema’an Al-Qur’an, tahlil, dan doa khotmil qur’an pada pagi hari. Dilanjutkan sore harinya dengan pembukaan resmi, sambutan Rektor, prosesi azan dari empat penjuru, iqamah, dan peletakan batu pertama. Prosesi azan dari empat arah menjadi simbol keterbukaan spiritual dari segala penjuru kampus.
Dalam kegiatan ini juga dilakukan pemotongan tumpeng oleh dan doa bersama.
Hadir dalam kegiatan ini sejumlah tokoh agama seperti Kiai Yahya, Kiai Nur Kholis, K.H. Arif Mafatichul Huda, Habib Fatah Zahir Al Attas, Gus Galih dan K.H. Mahfud Tamam, serta jajaran Pimpinan Untidar, Takmir Masjid serta perwakilan mahasiswa dari UKM Iqsan.
Masjid 17 dirancang memiliki tiga lantai, masing-masing dengan fungsi berbeda. Lantai satu menjadi ruang publik dan sosial, lantai dua difungsikan untuk ibadah, dan lantai tiga akan digunakan untuk ruang kuliah keagamaan dan mata kuliah Pancasila. Kawasan masjid juga akan dilengkapi fasilitas penunjang seperti area parkir, panggung terbuka, dan kafe sebagai ruang interaksi inklusif.

Ketua Tim Pembangunan Masjid 17, Prof. Dr. Ir. Gito Sugiyanto, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan bahwa pembangunan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama dimulai 1 Agustus 2025 dan ditargetkan selesai pada minggu ketiga Desember 2025. Tahap ini mencakup struktur utama, sebagian arsitektur, dan lahan parkir. Sementara tahap kedua akan berlangsung pada 2026 untuk proses penyelesaian akhir bangunan.
“Total anggaran sebesar Rp12,99 miliar, dengan pelaksana proyek PT Utama Sumber Mas dari Semarang dan PT Jiona Sejati dari Bandung,” jelas Prof. Gito.
Dengan pembangunan Masjid 17 ini, Untidar berharap hadirnya ruang ibadah yang tidak hanya menjadi pusat spiritual, tetapi juga ruang edukatif dan sosial yang inklusif bagi seluruh elemen kampus dan masyarakat sekitar.
Penulis : Aghna
Editor : Humas Untidar


