Untidar Putus Mata Rantai Sampah Residu: Insinerator Sulap Limbah Jadi Material Konstruksi Berkelanjutan di Gunungpring

MUNTILAN – Universitas Tidar (Untidar) melaksanakan kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun 2025 yang bertajuk “Insinerasi Sampah Plastik untuk Pembuatan Material Arsitektural di Bank Sampah Gunungpring”. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada (26/11) di Pendopo Dusun Karaharjan, Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.

Kegiatan transformatif ini bertujuan untuk mengatasi tantangan pengelolaan sampah residu limbah yang menumpuk dan sulit didaur ulang di tingkat desa, sekaligus membuka potensi ekonomi baru melalui inovasi. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 25 peserta yang mewakili sinergi akademisi dan komunitas, meliputi pengurus dan anggota bank sampah darlingsih, Kepala Desa Gunungpring, perwakilan perangkat desa, serta mahasiswa Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dari Untidar. Program PKM ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek Tahun 2025. Adapun serangkaian kegiatan PKM ini sudah dimulai sejak bulan September dengan tahapan berupa kegiatan sosialisasi dan koordinasi persiapan kegiatan, pabrikasi alat, uji fungsi alat, serah terima alat, diskusi penggunaan alat, pendampingan, serta evaluasi.


Tim pengusul PKM yang terdiri dari para Dosen Fakultas Teknik Untidar, yaitu Ibu Nani Mulyaningsih, Bapak Arrizka Yanuar Adipradana, dan Bapak Sigit Mujiarto, secara komprehensif memberikan transfer pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat. Ibu Nani Mulyaningsih, selaku ketua tim PKM menjelaskan bahwa alat insinerator yang menjadi fokus utama program ini memiliki dampak berlipat ganda.

“Alat insinerator yang kami hadirkan memiliki dampak berlipat ganda. Tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah residu yang selama ini menumpuk dan tak terurai, tetapi juga menciptakan produk fungsional seperti paving block atau bata ringan yang bisa dipakai untuk pembangunan desa sendiri atau bahkan dijual. Kegiatan ini merupakan langkah nyata guna menuju Dusun Karaharjan yang mandiri secara ekonomi dan lestari secara lingkungan.” ungkapnya dengan penekanan pada kapabilitas alat tersebut dalam mengolah sisa limbah.

Rangkaian kegiatan pun dirancang intensif mencakup pengisian pre-test dan post-test untuk mengukur pemahaman masyarakat, pemaparan materi mendalam, hingga praktik langsung penerapan alat insinerator. Pelatihan ini dilaksanakan guna memastikan komunitas mitra mampu mengoperasikan dan merawat alat tersebut secara mandiri.

Kepala Desa Gunungpring, mewakili seluruh warga, menyampaikan apresiasi atas sinergi ini. “Atas nama desa, kami mengucapkan apresiasi setinggi-tingginya kepada Untidar. Kehadiran teknologi insinerator ini adalah kado luar biasa bagi Bank Sampah Darlingsih. Kami kini memiliki modal teknologi untuk mengubah masalah menjadi peluang. Semoga sinergi ini terus berlanjut demi mewujudkan Gunungpring yang bersih dan sejahtera,” ujarnya.

Kehadiran inovasi ini menegaskan peran strategis perguruan tinggi dalam merespons tantangan nyata di masyarakat. Melalui transfer teknologi insinerasi, Untidar tidak hanya menyelesaikan persoalan sisa limbah yang sulit diolah, tetapi juga menanamkan benih kewirausahaan dan pembangunan infrastruktur berkelanjutan, sehingga menjadikan Bank Sampah Darlingsih sebagai pilot project pengelolaan sampah residu yang inspiratif bagi desa-desa lain di Kabupaten Magelang.

Penulis: Fitria Noviastuti (FT Untidar)

Editor: Humas Untidar