BRIDGE-HE sebagai Upaya Tangguh LPPM Untidar dalam Mendorong Penelitian Inklusif
Magelang — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untidar menyelenggarakan Inclusive Research Readiness Training pada Kamis (9/4) di Ruang Rapat Rektorat Lantai 4.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh LPPM Untidar melalui kerja sama dengan British Council. Sebanyak 35 peserta yang terdiri atas 15 dosen dan 20 mahasiswa aktif Untidar turut menghadiri kegiatan tersebut. Acara dimulai dengan sambutan Herpindo, S.Pd., M.Hum., selaku ketua kegiatan, dilanjutkan dengan pembukaan resmi acara secara simbolis.
“Melalui pelatihan ini, mendorong ketersediaan ruang bagi civitas akademika untuk memahami praktik inklusivitas di perguruan tinggi, terutama terkait persepsi dosen dan mahasiswa terhadap pemenuhan hak disabilitas agar dapat dicapai secara optimal,” ungkap beliau.
Selanjutnya, terdapat arahan dari moderator, Dr. Rochmat Aldy Purnomo, dengan pembagian peserta menjadi dalam empat kelompok yang melibatkan unsur dosen dan mahasiswa. 
Sesi utama workshop penelitian menghadirkan paparan dari narasumber Dr. Arni Surwanti, M.Si. selaku dosen dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Dalam materinya yang bertajuk “Building Disability-inclusive Research Culture in Indonesian Higher Education (BRIDGE-HE)” beliau menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa difabel dalam penelitian perlu dipastikan sebagai bagian dari pelaksanaan tiga pilar tridarma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Perlunya penekanan prinsip no one left behind dalam pendidikan tinggi, sejalan dengan dasar penelitian inklusi yang mengacu pada UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang mencakup pada pola pendekatan penanganan berbasis human rights melalui penekanan 22 hak penyandang disabilitas, termasuk keterlibatan, fasilitas, dan penyesuaian pendekatan sesuai jenis disabilitas,” tegas Dr. Arni.
Terdapat sesi diskusi bersama yang menghadirkan pandangan dari peserta, yaitu Naufal Afif, S.A., M.Sc. selaku Dosen Program Studi Akuntansi dan Shofiyana sebagai mahasiswa Ilmu Administrasi. Kedua perspektif tersebut menyoroti keselaran Untidar yang telah menghadirkan pelatihan bahasa isyarat bagi sivitas akademika dalam upaya memberikan hak bagi penyandang disabilitas.
Dilanjutkan dengan studi kasus, yaitu masing-masing kelompok mengidentifikasi proses penelitian berdasarkan kategori yang disiapkan berupa bidang ilmu difabel fisik, difabel intelektual, difabel psikososial serta difabel sensorik. Pemetaan bedah kasus tersebut, diupayakan memberikan solusi terkait adanya hambatan yang dirasakan penyandang disabilitas saat menyelesaikan penelitian yang dilalui.
Peserta menyoroti pemanfaatan sumber perpustakaan seperti iUntidar, penetapan pola bimbingan yang terstruktur serta pemberian umpan balik konsultif pada mahasiswa penyandang difabel fisik. Hal yang sama juga disampaikan kelompok difabel intelektual melalui adanya pemetaan akar masalah, terkhusus pada kasus mahasiswa dengan kecenderungan anxiety, untrustworthy dan bipolar.
Perlunya strategi dalam memahami kondisi mahasiswa terhadap produktivitas dan kualitas pembelajaran melalui rencana aksi berupa pembatasan topik, pengelolaan ritme belajar serta penetapan dateline. Dilanjutkan dengan dukungan teknologi speech-to-text sebagai fasilitas alih bahasa ilmiah agar sesuai dengan panduan penulisan terperinci pada mahasiswa dengan kondisi difabel sensorik.
Selanjutnya, hasil dari pemetaan masalah dari masing-masing kelompok akan diproses dan diteliti secara bersama, untuk mendapatkan luaran melalui pemaparan pada seminar berikutnya serta pengunggahan sebagai jurnal penelitian.
“Perlunya pembekalan kuat dalam memahami kebutuhan mahasiswa difabel dengan keterlibatan dukungan teknologi, termasuk penggunaan artificial intelligence serta komitmen perguruan tinggi terhadap fleksibilitas penyesuaian ketentuan akademik secara proporsional.” tambah Dr. Arni.
Bersama ini Untidar mewujudkan ekosistem riset yang inklusif, kolaboratif, dan berkelanjutan melalui diskusi, refleksi, dan kolaborasi. Karena pada akhirnya, riset yang bermutu bukan hanya tentang apa yang kita teliti tetapi tentang siapa yang kita libatkan didalamnya.
Penulis: Maura Deaazaria Firdanisahara
Editor: Humas Untidar






