KPPN MAGELANG GOES TO UNTIDAR

Dalam rangka memperingati Hari Perbendaharaan 2018, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Magelang bekerjasama dengan Universitas Tidar mengadakan seminar “Perbendaharaan Menyapa”, Kamis (11/01).

Kegiatan ini bertujuan mengenalkan kegiatan KPPN Magelang serta Kementerian Keuangan khususnya Direktorat Jenderal Perbendaharaan kepada mahasiswa UNTIDAR. “Tugas adalah : Melaksanakan kewenangan perbendaharaan dan bendahara umum; Penyaluran pembiayaan atas beban anggaran; Serta penatausahaan penerimaan dan pengeluaran anggaran melalui dan/dari kas Negara berdasarkan peraturan perundang-undangan,” jelas Sulastri.

Pelaksana pada bagian MSKI KPPN Magelang ini juga memaparkan tentang pengertian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Bantuan Siswa Miskin (BSM), pencegahan korupsi dan Politeknik Keuangan Negara STAN.

Dalam acara ini turut hadir Kepala KPPN Magelang, Imam Subagyo dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, UNTIDAR, Dr. Bambang Kuncoro, M.Si.

Mahasiswa diajak turut aktif dalam setiap topik pemaparan. Bidang keuangan sering dianggap ‘tabu’ untuk dibicarakan namun dalam acara ini mahasiswa diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk bertanya, diskusi serta sharing bersama. (DN)

SIVITAS AKADEMIKA UNTIDAR BERIKAN POLLING DESAIN ARSITEKTUR REKTORAT

Seluruh sivitas akademika Universitas Tidar beramai-ramai mengunjungi dan memberikan polling pada Pameran 10 besar Sayembara Desain Arsitektur Rektorat Sidotopo, Rabu-Kamis (10-11/01) di auditorium UNTIDAR. Pemberian polling dilakukan melalui laman sayembara.untidar.ac.id dimana mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan (tendik) diwajibkan login menggunakan NPM, NIP atau NIK dengan password masing-masing.

Polling ini bertujuan untuk memberikan gambaran desain arsitektur yang sesuai dengan sivitas akademika UNTIDAR. Walaupun tidak berpengaruh terlalu signifikan terhadap penilaian juri tetapi polling ini nantinya dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan.

UNTIDAR berencana membangun gedung rektorat di wilayah Desa Kedungsari, Sidotopo, Magelang Utara, Kota Magelang pada tahun 2020 mendatang. Persiapan mulai dilaksanakan salah satunya dengan menyelenggarakan Sayembara Desain Arsitektur Rektorat (Sidotopo) yang kini memasuki tahap penjurian 10 besar.

“Pendaftaran Sayembara telah dibuka pada awal November dan ditutup pada petengahan Desember 2017 dengan total 26 pendaftar. Setelah melampui tahap seleksi administrasi dan penilaian juri saat ini telah terpilih 10 besar desain terbaik,” kata Ketua Sayembara, Danar Sandi Kusuma, S.Pd saat ditemui pada Pameran 10 besar Sayembara Desain Arsitektur Rektorat Sidotopo UNTIDAR, Kamis (11/1).

Juri Sayembara Desain Arsitektur Rektorat Sidotopo UNTIDAR yaitu Sugiarto, S.T., M.T., IAI, Ketua IAI Jawa Tengah; Ir. Agung Dwiyanto, MSA., Universitas Diponegoro; Dr. Eng. Ir Ahmad Sarwadi, M.Eng, Universitas Gadjah Mada; Ir. RM Bambang Setyohadi K, M.T., IAI dan M. Syarifudin Kurniawan, S.T., M.T., Kepala DPU dan Penataan Ruang Kota Magelang.

Rektorat Sidotopo UNTIDAR akan dibangun pada lahan seluas 43.850 m2. Masing-masing peserta diwajibkan memberikan konsep rancangan lengkap dengan perhitungan struktur, mekanikal, elektrikal, dan atau bidang keahlian lain bila diperlukan. ”Desain arsitektur juga diharapkan mempertimbangkan kelayakan lingkungan serta keselarasan dan keterpaduan konsep rancangan terhadap ketentuan Rencana Tata Kota khususnya wilayah Kota Magelang,” tambah Danar.

Menurut Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan, Drs. Hery Suroso, S.T., M.T., melalui Sayembara ini, banyak pilihan desain yang menarik serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan kampus sendiri. “Sangat menarik. Desain para peserta sangat beragam, perhitungan struktur bangunan, filosofi dan serta kelayakan lingkungan tidak kalah dengan konsultan pembangunan profesional,” tuturnya.

Sepuluh besar Sayembara Desain Arsitektur Rektorat Sidotopo UNTIDAR yaitu Jatmika, Pancering Dharma, Pakuning Ilmu Tanah Jawi, Urban Terrace, Mercusuar Pendidikan, Stupadhatu, Kisah ‘Lembah’ dan ‘Paku” Bumi Tidar, Tinjauan Gunungan, Bhumi Adhiwiyata dan Milestone of Future-city’s Pride.

“Tahap selanjutnya, dari 10 besar akan kami pilih 5 besar desain terbaik yang akan menjalani tahap presentasi minggu depan,” tambah Hery.

Pemenang utama Sayembara Desain Arsitektur Rektorat Sidotopo UNTIDAR akan mendapatkan sertifikat dan uang tunai sejumlah Rp 150 juta yang rencananya akan diumumkan pada akhir Januari 2018 ini. (DN)

PKMK 2017 : LUGABUT, INOVASI LUKISAN TIGA DIMENSI

Limbah pengolahan kayu berupa serutan masih kurang dimanfaatkan secara maksimal. Masyarakat hanya menggunakannya sebagai bahan bakar atau dibuang begitu saja. Ditangan 5 mahasiswa Universitas Tidar, serutan kayu diolah menjadi lukisan 3 dimensi bernilai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Mahasiswa kreatif ini adalah Muhammad Khusni Mubarok, Filla Ardyarti, Puji Lestari, Lilis Sinarsih dan Hermowo Pribadi Dewabroto yang menuangkan ide mereka dalam Program Kreatifitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) dengan judul Pemanfaatan Nilai Estetika Limbah Serutan Kayu sebagai Bahan Baku Pembuatan Lukisan Tiga Dimensi.

“Bapak saya seorang tukang kayu, banyak limbah pengolahan kayu seperti serbuk dan serutan hanya dibiarkan saja disekitar rumah. Dari sinilah timbul ide untuk memanfaatkan limbah ini menjadi sesuatu yang mempunyai nilai jual,” kata Khusni, Ketua PKMK Lukisan Tiga Dimensi Limbah Serutan Kayu atau disingkat LUGABUT.

Serutan kayu memiliki bentuk spiral dan tipis sehingga mudah untuk dipotong atau dibentuk sesuai kebutuhan. Kesan tiga dimensi yang menjadi ciri khas LUGABUT meningkatkan nilai seni dan estetika yang lebih dibandingkan lukisan dua dimensi yang biasa kita temui.

“Produk  kami berbeda, mempunyai ciri khas tersendiri. Tak sekedar lukisan tapi kami membuatnya ‘hidup’ dalam bentuk tiga dimensi serta memunculkan kesan seperti kolase,” tambah Khusni.

Filla Ardyarti salah satu anggota PKMK LUGABUT menjelaskan bahwa ada 2 macam produk lukisan yang dihasilkan. “Ada dua macam lukisan yaitu yang menggunakan semen atau hanya kolase saja. Awalnya serutan kayu disortasi dan dipotong-potong sesuai kebutuhan. Kalo mau membentuk lukisan bunga maka serutan kayu dipotong menyerupai kelopak dan daun,” jelas Filla.

Papan triplek disiapkan sebagai media lukisannya kemudian serutan kayu disusun satu per satu menggunakan lem kayu disesuaikan dengan lukisan yang akan dihasilkan. Setelah tersusun semuanya maka langkah selanjutnya dalah pengecatan. Setelah cat kering maka proses selanjutnya adalah pelapisan dengan pernis dan plitur lalu dibingkai.

“Sedikit berbeda dengan model kolase, model lukisan dengan semen perlu digambar dulu polanya di papan tripleknya sesuai yang diinginkan. Pola tersebut yang nanti diberi semen lalu dikeringkan. Setelah kering lalu serutan kayu ditempelkan,” tambah Filla.

LUGABUT dipasarkan mulai dari harga Rp 100.000 disesuaikan dengan ukuran serta kerumitan pembuatan. Semakin rumit proses pembuatannya makan harganya juga akan semakin mahal. Pemasaran LUGABUT memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan Instagram. Seluruh anggota PKMK juga menginformasikannya melalui grup-grup Whatsap atau melalui jaringan pribadi masing-masing.

Perawatan LUGABUT juga tergolong mudah. Hanya diperlukan kuas untuk menghilangkan debu-debu yang menempel dalam permukaannya. Produk ini dilapisi plitur dan pernis. Lapisan ini melindungi serutan kayu sehingga tidak mudah berjamur.

LUGABUT mempunyai nilai jual yang tinggi. Bahan dasar utama pembuatannya dapat ditemukan dengan mudah bahkan dapat didapatkan secara gratis. Produk inovatif ini memiliki daya jual tinggi dan berpotensi menambah penghasilan masing-masing anggota PKMK LUGABUT.

Dosen Pembimbing, Dr. Farikhah, M.Pd. mengungkapkan bahwa karya PKM tersebut mempunyai unsur seni yang membutuhkan ketelatenan yang tinggi untuk membuat produk tersebut. “Karya PKM tersebut sangat kreatif dan butuh ketelatenan, selain itu juga butuh jiwa seni atau imajinasi seni yang tinggi untuk membuat karya tersebut. Tidak sekadar memanfaatkan limbah tapi juga punya nilai seni tinggi,” ungkap Dosen Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNTIDAR tersebut. (Silva Nurul Farida-mg/DN)

REKTOR KUNJUNGI MAHASISWI BIDIKMISI UNTIDAR

Rektor Universitas Tidar, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd. mengunjungi rumah Dewi Rustiana, mahasiswi penerima Bidikmisi di Srobyong, Mlonggo, Kabupaten Jepara pada Rabu (27/12).

Dalam kegiatan ini turut ikut serta Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Joko Widodo, M.Pd.; Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan, Drs. Hery Suroso, S.T., M.T; Dekan Fakultas Ekonomi, Dr. Hadi Sasana, S.E., M.Si.; Dekan Fakultas Pertanian, Ir. Gembong Haryono, M.P.; Dekan Fakultas Teknik, Ir. Kun Suharno, M.T.; Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Prof. Dr. Sukarno, M.Si. dan Kepala Bagian Akademik dan Kemahasiswaan, David Budhi Hartono, S.E.

Kunjungan ini merupakan monitoring dan evaluasi untuk memastikan bantuan Bidikmisi telah tersalurkan secara tepat kepada mahasiswa-mahasiswi berprestasi yang kurang mampu secara ekonomi.

“Kami harap Dewi bisa mempertahankan bahkan meningkatkan prestasinya selama kuliah di UNTIDAR. Nilai IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) penerima Bidikmisi minimal diatas 3.0 maka itu harus giat belajar untuk UAS (Ujian Akhir Semester) mendatang,” kata Rektor.

Beliau menuturkan bahwa penerima Bidikmisi adalah mahasiswa pilihan. Penetapannya pun melalui proses yang panjang mulai dari seleksi tingkat nasional dan tingkat universitas. “Ribuan mahasiswa mendaftar untuk mendapatkan Bidikmisi, diseleksi lalu disurvei baru akhirnya ditetapkan sebagai penerima. Bukan karena Rektornya berasal dari Jepara trus pilih kasih,” tambah Rektor.

Dewi merupakan mahasiswi semester 1 Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP). Putri Bapak Rusdi dan Ibu Sumarti ini merupakan mahasiswi yang lolos Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN) tahun 2017.

Penghasilan Bapaknya yang tidak menentu sebagai tukang kayu membuat Dewi harus berusaha “Besar kemungkinannya saya tidak akan melanjutkan ke perguruan tinggi jika tidak mendapatkan Bidikmisi. Alhamdulillah cukup bahkan sampai saat ini saya belum meminta tambahan uang saku kepada orang tua,” ujar Dewi.

Mendapat kunjungan dari Rektor dan jajaran pimpinan universitas membuat Dewi semakin bersemangat dalam berkuliah. “Terima kasih atas nasehat dan motivasi dari Pak Rektor dan pimpinan semuanya. Targetnya dengan Bidikmisi ini saya bisa sukses, membahagiakan orang tua dan menyekolahkan adik juga sehingga tidak membebani orang tua,”pungkas Dewi. (DN)

UNTIDAR BERPARTISIPASI DALAM PKBNMI 2017

Kapal Republik Indonesia (KRI) Banjarmasin resmi berlayar dari Dermaga Ujung, Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Surabaya menuju Komando Utama Pembinaan dan Operasional (Kolinlamil) Kawasan Barat DKI Jakarta dalam rangka Pelayaran Kebangsaan Bela Negara Mahasiswa Indonesia (PKBNMI) 2017.

Pelayaran ini melibatkan 732 peserta dari 24 perguruan tinggi di Indonesia yang terdiri dari 627 mahasiswa dan 105 pendamping. Dalam kesempatan ini, Rektor Universitas Tidar, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd.; Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Bambang Kuncoro, M.Si. bersama 4 pendamping lainnya turut serta dalam pelayaran yang dilaksanakan pada Rabu-Sabtu (20-23/12).

“UNTIDAR mengirimkan 27 mahasiswa yang telah diseleksi dan diberi pembekalan sehingga benar-benar siap mengikuti program pelayaran kebangsaan ini. Harapannya mahasiswa dan mahasiswi UNTIDAR ini dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik dan mampu menjadi pribadi dengan karakter yang lebih baik,” kata Rektor usai upacara pembukaan PKBNMI di Dermaga Ujung Koarmatim, Rabu (20/12).

Kegiatan PKBNMI 2017 ini merupakan tindak lanjut dari Deklarasi 36 Pimpinan Perguruan Tinggi Baru (PTNB) sebagai kampus bela negara pada tanggal 20 Oktober 2016 di kampus Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Surabaya. “Maka itu panitia inti acara ini melibatkan pimpinan-pimpinan PTNB. Tujuannya jelas, membangun karakter bela negara pada mahasiswa-mahasiswi di Indonesia,” tambahnya.

 

Sependapat dengan Rektor, Letkol (Pur) Yasnanto, S.I.P., M.Pd., dosen mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan UNTIDAR yang juga menjadi pendamping menyatakan bahwa PKBNMI merupakan wujud kerjasama perguruan tinggi dan lintas kementrian untuk tujuan bersama meningkatkan kesadaran bela negara bagi kalangan mahasiswa. “Selain fokus pada bela negara kegiatan ini juga membentuk karakter cinta maritime, membangun persatuan dan kesatuan mahasiswa secara professional dan meningkatkan wawasan global kemaritiman,” tuturnya.

Menurut Pembida UKM Resimen Mahasiswa (Menwa) peserta PKBNMI dari UNTIDAR telah menjalani pembekalan lebih kurang 2 minggu. “Setiap sore sampai malam kami memberikan pembekalan latihan baris berbaris (PBB), upacara, parktik memakai Kaporlap (Perlengkapan Perorangan Lapangan) serta pengorganisasian satuan setingkat peleton dan regu,” jelasnya.

Selama berlayar peserta PKBNMI akan menerima materi seperti wawasan kebangsaan, tataran dasar bela negara, Peraturan Urusan Dinas Dalam (PUDD), Sistem Pertahanan Semesta (Sishanta), etiket, sopan santun dan jiwa korsa dan lain-lain. (DN)

GUS WAHID PAPARKAN TANTANGAN DAN PELUANG DI ERA TEKNOLOGI DISRUPTIF

Smartphone merupakan salah satu inovasi teknologi yang membawa banyak perubahan dalam kehidupan kita. Beragam aplikasi memudahkan pengguna smartphone untuk memenuhi kebutuhannya. “Sekarang tinggal ketik di aplikasi, tidak perlu keluar rumah bahkan antri panjang, makanan pesanan kita kan diantar sampai rumah, bukankan ini contoh perubahan yang luar biasa di era ini?” kata KH. Abdul Wahid Maktub.

Staf Khusus Menteri (SKM) Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi ini menekankan kecanggihan internet dan segala macam teknologi baru membuat yang Global menjadi Lokal dan sebaliknya yang Lokal menjadi Global. Fenomena ini disebut Era Teknologi Disruptif dimana teknologi lama mulai digantikan oleh teknologi baru agar lebih efektif dan efisien.

“Siapa yang tidak dapat mengikuti perkembangan ini akan tertinggal. Ini era new rule, new method, new solution dan new responsive. Kita harus siap dengan realitas baru ini, dunia sudah berintegrasi melalui teknologi digital dan online saat ini,” jelasnya.

Gus Wahid panggilan akrabnya, sebelum menjadi staf khusus Menristekdikti pernah menjabat beberapa jabatan penting lain diantaranya menjadi staf Menteri Ketenagakerjaan Indonesia pada 2010-2014 dan Duta Besar Indonesia di Qatar pada 2003-2007. Pada kesempatan Kuliah Umum “Revolusi Perguruan Tinggi di Era Teknologi Disruptif“ pada Senin (18/12) ini Gus Wahid juga menyampaikan Prioritas Sasaran Strategis Dikti.

Peningkatan Mutu Pendidikan Tinggi merupakan prioritas pertama dari Rencana Strategis Dikti 2015 – 2019. Prioritas tersebut antara lain mutu, relevansi, akses, daya saing dan tata kelola. Prioritas ini mengalami perubahan dari sebelumnya yaitu akses, mutu, relevansi, daya saing dan tata kelola untuk prioritas tahun 2010-2014. (DN)

TAK SEKEDAR MENABUNG, PASTIKAN BANK PESERTA PENJAMINAN LPS

Mayoritas masyarakat memanfaatkan jasa perbankan untuk menyimpan uang mereka. Beberapa keuntungan seperti nasabah bisa mengambil uang kapan saja, kemudahan berbagai transaksi dan aman dari resiko keamanan/kejahatan serta tawaran beberapa keuntungan lian seperti bunga bank dan berbagai kesempatan memenangkan undian berhadiah membuat masyarakat tidak segan mempercayakan tabungannya di bank.

“Jangan asal meyimpan uang di bank, pastikan bank tempat anda menabung adalah peserta penjaminan LPS!,” kata Sekretaris Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS), Samsu Nugroho pada Jumat (15/12) di Auditorium Universitas Tidar.

Menurutnya, perlindungan nasabah sangat penting untuk diperhatikan untuk mengantisipasi jika banknya bangkrut atau krisis. “Sesuai UU No 24 Tahun 2004, LPS mempunyai fungsi menjamin simpanan nasabah penyimpan dan turut aktf memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya,” jelasnya.

Program Penjaminan Simpanan adalah suatu program yang memberikan perlindungan kepada nasabah penyimpan suatu bank apabila izin usaha bank tersebut dicabut, dengan cara membayar simpanan nasabah sampai dengan jumlah tertentu dengan catatan harus memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Kriteria Layak Bayar).

Pada kuliah umum bertajuk Peran Lembaga Simpanan dalam Menjaga Stabilitas Sistem Perbankan Indonesia yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi berkerjasama dengan LPS ini diikuti 260 peserta dari mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangun, Manajemen dan Akuntansi.

Sejak LPS beroperasi Tahun 2005 sampai dengan 31 Agustus 2017, LPS telah melakukan penanganan simpanan terhadap 81 bank yang dicabut izin usahanya dan telah dilakukan poses rekonvernya. Total Simpanan: Rp1.524 M Total Rekening: 170.275 sedangkan total Layak Dibayar Rp1.209,43 M (77,67%) dalam 156.142 Rek  (91,73%) dan Tidak Layak Dibayar Rp314,93 M (20,65%) dalam reking 14.072 (8,26%).

“Agar simpanan uang anda tetap aman segera dipastikan kembali apakah bank tempat anda menabung sudah benar-benar AMAN agar tidak terjadi kerugian di masa yang akan datang. Ingat menabung itu menyisihkan bukan menyisakan,” pungkas Samsu. (DN)

21 MAHASISWA FKIP UNTIDAR MAGANG KERJA DI GAMBANG RESORT CITY MALAYSIA

Luaran kegiatan perkuliahan tentunya tidak hanya sebatas pemahaman materi oleh mahasiswa namun juga kemampuan untuk mempraktekkannya di kehidupan sehari-hari. “Magang kerja merupakan salah satu media pembelajaran real bagi mahasiswa. Inilah kesempatan mahasiswa mempraktekkan teori yang sudah mereka dapat di kelas untuk diterapkan di kehidupan nyata,” kata Ali Imron, S.S., M.Hum.

Sebanyak 21 mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tidar mengikuti program magang luar negeri selama kurang lebih 1 bulan yaitu pada 8 November – 13 Desember 2017. Kegiatan ini bekerjasama dengan Bukit Gambang Resort City, Pahang Darul Makmur, Malaysia sebuah kawasan pariwisata, hotel serta universitas seluas 3000 hektare.

“Mereka adalah mahasiswa semester 5 yang mengambil mata kuliah English for Spesific Purpose khususnya lagi English for Tourism (EFT). Tidak hanya lancar berbahasa Inggris mereka juga dituntut untuk berinteraksi dengan para tamu atau wisatawan yang berkunjung di resort tersebut. Tantangan lainnya, wisatawan tidak hanya dari bangsa Melayu/Malaysia namun juga negara lain,” jelas Ali.

Pelaksana harian program magang kerja EFT ini menuturkan bahwa sebelum diputuskan berangkat, mahasiswa telah melalui proses seleksi mulai dari kesehatan, kepercayaan diri, kesiapan dan kemampuan berbahasa Inggris. “Dalam 1 minggu mereka akan bekerja selama 5 hari (Rabu-Minggu) dengan jam kerja 8 jam/hari. Hari Senin merupakan hari libur dan Selasanya mereka akan mendapatkan materi tourism dan event management dari pengelola resort,” tambahnya.

Selain proses seleksi yang ketat, peserta juga harus menyiapkan dana minimal Rp 3,5 juta untuk kebutuhan tempat tinggal dan makan 3x sehari. Kendala biaya ini yang menjadi alasan utama sebagian mahasiswa mengurungkan niatnya untuk mengikuti program magang di Malaysia ini.

Total mahasiswa yang mengambil mata kuliah English for Specific Purpose adalah 120 mahasiswa dimana 60 orang mengambil spesifikasi EFT dan sebagian lainnya mengambil English for Children (EFC). Hanya 21 mahasiswa EFT yang akhirnya berangkat ke Malaysia, sisanya melaksanakan program magangnya di Desa Wisata Candirejo, Borobudur.

“Magang di luar negeri adalah sebuah pengalaman baru dimana melatih kami menjadi lebih mandiri, menghargai pekerjaan dan toleransi antar budaya, ras dan agama. Pertama kali bertemu dengan guest atau tamu dimana kami harus menjelaskan informasi dalam bahasa Inggris this is the real practice,” tutur Wahyuningsih, salah satu peserta EFT di Malaysia.

Pada akhir magang setiap peserta akan mendapatkan uang saku sebesar 600 ringgit atau setara hampir 1 juta rupiah. Jika mereka mengambil jam lembur diluar magang mereka akan dibayar lagi 60 ringit atau 18 ribu per jamnya. Selain itu, semua peserta EFT akan mendapatkan sertifikat magang dari Imperia Academy Tourism Sendirian Beuhad,sebuah akademi/universitas di wilayah Bukit Gambang Resort.

“Semoga magang tahun depan tidak hanya di Malaysia namun juga di negara tetangga lainnya sehingga wawasan lebih luas,” tambah Wahyu.

“Pertama kali dilaksanakan di UNTIDAR, program magang luar negeri ini khususnya bagi mahasiswa FKIP semoga membawa pengalaman yang positif dan kedepannya dapat kita kembangkan lagi,” tutur Prof. Dr. Sukarno, M.Si., Dekan FKIP.

Sesuai dengan Visi dan Misinya, FKIP UNTIDAR menargetkan menjalin kerjasama dengan negara-negara tetangga Indonesia atau di wilayah Asia Tenggara dalam 10 tahun pertama ini. Sebelumnya, FKIP juga pernah mengirimkan mahasiswanya untuk melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di Sekolah Kebangsaan Bandar Sungai Buaya, Sekolah Menengah Kebangsaan Bandar Sungai Buaya dan sekolah lain di Hulu Selangor, Malaysia. (Novitasari-Mg/DN/HDN)

SETELAH TANAM 1000 POHON, REKTOR UNTIDAR GOWES KLEDUNG-MAGELANG

Rektor Universitas Tidar, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd bersama mahasiswa mengadakan kegiatan penanaman pohon dan kemah bersama di Desa Gunungsari, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung pada Sabtu-Minggu (09-10/12). Pada hari kedua, Rektor mengajak gowes mahasiswa dan staf dari Kledung ke Magelang.

Kegiatan ini merupakan ajang silaturahmi dengan warga sekitar, mengenalkan lokasi kampus Temanggung kepada mahasiswa serta menjaga kelestarian alam sekitarnya. Total pohon yang ditanam sebanyak 1000 pohon terdiri dari Jati, Mahoni dan Trembesi.

“Keenam kalinya, kegiatan penanaman pohon ini dilaksanakan. Sebelumnya dilaksanakan di lahan UNTIDAR yaitu Wonosobo, Grabag, Bandongan, Tempuran dan Sidotopo. Tujuannya selain untuk pelestarian alam juga bersilaturahmi dengan warga sekitar,” kata Rektor.

Rombongan UNTIDAR juga menyelenggarakan sarasehan di rumah Nuryanto Ketua RT 03, RW 03, Desa Gunungsari, Kecamatan Kledung, Temanggung. Dalam kegiatan ini, Rektor menyampaikan rencana kedepan UNTIDAR yang akan membangun lahan seluas 39,632 M² ini untuk Fakultas Perikanan dan Fakultas Hukum.

Warga menyambut rencana ini dengan antusias. “Kami menyambut baik rencana pembangunan kampus UNTIDAR di wilayah ini. Harapannya perekonomian warga sekitar juga bisa meningkat nantinya. Kami juga berharap warga sekitar masih bisa memanfaatkan sumber mata air serta perbaikan akses jalan ke wilayah ini,” tuturnya.

Rektor bersama puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Sulfur, Pramuka dan Resimen Mahasiswa (Menwa) juga menghabiskan 1 malam berkemah di lahan kampus Kledung ini. “Acara ini bermanfaat sekali untuk mengakrabkan dosen, karyawan serta mahasiswa serta kita bersama menjaga lingkungan. Lokasi penanaman sudah ideal karena tidak banyak pohon besar yang tumbuh di lokasi tersebut,” ujar Pertiwi Juli Astuti anggota UKM Mapala Sulfur.

Menurutnya, acara penanaman pohon dan kemah bersama ini tidak monoton karena diisi dengan sharing maupun hiburan dari peserta maupun panitia. Harapannya besok jika ada kegiatan sejenis ini tentunya peserta UKM yang dilibatkan lebih banyak lagi. “Setelah penanaman ini hendaknya pihak kampus juga melakukan peninjauan secara berkala karena penting untuk mengetahui tumbuh atau tidaknya bibit yang sudah ditanam dan kebermanfaatannya bagi warga sekitar,” tambah Tiwi.

Pada hari kedua, Rektor beserta beberapa mahasiswa dan staf UNTIDAR gowes atau bersepeda pulang ke kampus UNTIDAR di Magelang. Perjalanan gowes menempuh jarak 42,5 km dengan waktu tempuh kurang lebih 2,5 jam dengan 2 kali istirahat. “Kontur jalanan menurun tapi tetap perlu stamina prima untuk dapat menyelesaikan rute sampai final yaitu di kampus Tuguran. Kami salut dengan Pak Rektor yang tetap semangat sampai tujuan akhir padahal ada peserta gowes yang akhirnya menyerah di tengah jalan,” jelas Yogi Prayogo, staf yang juga anggota UNTIDAR Gowes Division (UGD) komunitas gowes di kampus UNTIDAR. (DN/HDN)

GUNAWAN PERMADI : JURNALIS WAJIB PAHAM AGENDA SETTING DAN FRAMING

Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, Gunawan Permadi menekankan pentingnya pemahaman tentang agenda setting dan framing bagi semua jurnalis. “Momen atau event menarik tidaklah cukup untuk membuat sebuah berita yang baik tapi juga bagaimana angle atau sudut pandang penulis memberitakannya,” jelasnya.

Agenda setting merupakan proses pemberitaan sehingga media tidak hanya menyalurkan info tentang suatu isu atau peristiwa namun juga membuatnya mempunyai nilai lebih. Sedangkan framing adalah kepanjangan dari teori agenda setting dimana dilakukan pemilihan fakta-fakta, menonjolkan nilai-nilai tertentu dan melemahkan yang lain dan dikemas dalam suatu berita. Framing digunakan untuk melahirkan citra atau kesan tertentu oleh media atau membentu wacana yang ingin ditangkap oleh khalayak luas.

Pada acara Pelatihan Jurnalistik bersama Suara Merdeka, Kamis (07/12) sejumlah 120 peserta mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) mendapatkan materi mengenai jurnalistik di media massa. Tidak hanya materi dari Pemred, peserta pelatihan jurnalistik juga mendapat penjelasan mengenai proses peliputan, pemilihan headline, pencetakan serta distribusi media massa olah Senior Manager Business Development Suara Merdeka, Adi Susanto dan Imam Nuryanto, koordinator Suara Merdeka wilayah Kedu.

Setelah mendapat materi, setiap mahasiswa mempraktekkan langsung materi yang telah didapatkannya dengan menulis berita acara hari itu. “Pada dasarnya kalian sudah memiliki basic utama seorang jurnalis yaitu bahasa. Tapi, perlu dibiasakan lagi bagaimana mem-framing moment sehingga berita jadi lebih menarik,” tambah Gunawan.

Pada akhir acara, terpilihlah 3 berita terbaik yaitu Nirma Melati, Rizka Lumayanti dan Mustika Rosiana yang akhirnya diundang oleh Suara Merdeka untuk mengiktu acara peresmian Suara Merdeka Corner pada Kamis (14/12) di UNISBANK Semarang. (Diah Octavia Puji Astuti-mg/DN/HDN)