PKMP 2017 : LIMBAH BATANG POHON PISANG DAN PARE JADI SPRAY ANTI INFLAMASI
Spray GAPIPA (Getah Pisang – Ekstrak Buah Pare sebagai Anti Inflamasi Herbal) merupakan produk hasil penelitian mahasiswa Universitas Tidar yang digunakan untuk menangani bengkak, luka kecil dan luka akibat gigitan serangga.
Ide produk herbal karya Ismiterra Cahya Pradani, Suwasdi, Sulistyani dan Ahmad Fahrudin ini terinspirasi dari melimpahnya limbah batang pohon pisang dan pare pasca panen raya di wilayah Magelang sekitarnya. “Biasanya batang pohon pisang akan ditinggalkan begitu saja pasca panen serta pare juga terbuang sia-sia ketika pasokan melimpah dan harga jual menurun. Limbah keduanya kan menumpuk dan berpotensi mencemari lingkungan sekitar jika tidak dimanfaatkan,” jelas Ismi panggilan akrab Ketua Tim Program Kreatifitas Mahasiswa Penelitian (PKMP) Spray Gapipa.
Kandungan tanin, alkaloid dan saponin pada pohon pisang berperan sebagai antiseptik dan anti bakteri serta flavonoid berperan sebagai stimulus regenerasi sel kulit sehingga mempercepat proses pembekuan darah dan proses penyembuhan luka. Sementara kandungan pare diantaranya, antrakuinon, kuinon dan lektin berguna sebagai zat anti bakteria dan anti peradangan.
“Spray gapipa dapat mengobati luka luar seperti luka bakar serta luka sayatan benda tajam dalam ringkup luka ringan. Secara fungsi sama dengan obat luka yang sudah ada namun, spray ini bersifat herbal karena bahannya asli dari getah tanaman pisang dan pare yang diekstraksi,” tambahnya.
Produk ini memilikin keunggulan dibandingkan obat luka ringan yang sudah beredar di pasaran. Obat biasanya berupa krim/pasta dan serbuk yang pengaplikasian terkadang lebih sulit, terasa lengket dan meninggalkan bekas luka. Hal ini tentu membuat pemakainya kurang nyaman. Tetapi hal itu tidak akan terjadi jika pengobatan menggunakan produk herbal Spray GAPIPA. Produk tersebut tidak akan meninggalkan bekas luka yang membandel. Keistimewaan lain dari Spray GAPIPA yaitu mudah pengaplikasiannya, lebih praktis serta kemasannya menarik minat masyarakat.

Proses penelitian Spray Gapipa kurang lebih memakan waktu 3 bukan. “Kami menggunakan 18 ekor tikus putih menjadi objek penelitiannya. Tikus putih dipilih karena genetikanya hampir sama dengan manusia. Selain itu, juga mempermudah dalam pengambilan data dan pengamatan,” tutur Suwasdi, anggota tim PKMP Spar Gapipa.
Hasil penelitian tersebut membuahkan hasil luka pada beberapa tikus yang disemprot dengan Spray Gapipa hasilnya luka pada tikus itu sembuh bahkan hilang dan tidak meninggalkan bekas. “Saat ini kita sedang berusaha mengajukan ijin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) agar produk ini bisa segera dipasarkan serta diperjual belikan dan bisa menjadi produk asli karya mahasiswa UNTIDAR,” tambah Suwasdi.
Sementara ini, produk spray GAPIPA belum bisa diperjual belikan mengingat ini adalah produk herbal dan harus memiliki ijin BPOM untuk mendapatkan lisensi bahwa produk tersebut aman di pergunakan. (Anggun Fitria Anindhi-mg/DN/HDN)
PKMK 2017 : MASUK HOTEL “JAMU” SI “OMPONG”, DOMBA LANGSUNG GEMUK
Fisiela Fikta Arunia (Faperta), Oke Amar Saputa (Faperta), Dewi Setya Lestari (FKIP), Nurul Delphi Anjani (Faperta), dan Selvina Nurafni (FKIP) membuat sebuah inovasi usaha penggemukan domba dengan konsep homestay.
Inovasi penggemukan domba ini mereka tuangkan dalam Program Kreatifitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) HOTEL “JAMU” SI “OMPONG” (Homestay Karantina Sumber Laba Jasa Penggemukan Domba Potong). PKMK ini merupakan salah satu dari 12 PKM Universitas Tidar yang lolos dan didanai Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.
Domba anakan berusia 7-9 bulan akan dikarantina selama 100 hari (3 bulan). Berat domba anakan rata-rata 12-20 kg per ekornya. Selama karantina, domba diberi pakan fermentasi per hari 10-20 % dari berat tubuhnya. Pakan juga ditambah dengan konsentrat sebesar 1-2% dari bobot domba. Setiap hari perkembangan domba akan diamati dengan seksama dan dilakukan penimbangan 1 minggu sekali.

“Pakan yang kami gunakan terbuat dari jerami, rumput segar, batang pisang, limbah sayur, EM4, Molase garam, dan ampas tahu yang kami fermentasi,” jelas Fisiela, Ketua Tim PKMK HOTEL “JAMU” SI “OMPONG”.
Pakan fermentasi memiliki kelebihan disbanding pakan biasa yaitu rumput segar. “Pakan fermentasi membantu memperbaiki sistem pencernaan hewan, meingkatkan beran badan, menambah nafsu makan, meningkatkan daya tahan tubuh serta menjaga kekebalan tubuh dari penyakit dan kotoran yang dikeluarkan tidak terlalu bau jika dibandingkan dengan rumput segar,” ujarnya.
Domba dikarantina di kandang sebesar 7 x 8 m yang didirikan diatas kolam nila dengan sistem kandang susun berukuran per kandangnya 1,5mx2m. Setiap kandang berkapasitas 4-5 ekor domba. Jumlah keseluruhan kandang yang ada berjumlah 7 kandang. Dibuat juga terminal pakan fermentasi yang terletak sejajar dengan kandang domba disebelah kolam ikan nila. Terminal pakan ini berukuran 3 x 4 m dengan 3 sub ruang. Perawatan dan kebersihan kandang dilakukan setiap minggu sekali dan kotoran domba digunakan sebagai pakan ikan nila.

Jasa homestay penggemukan domba ini terletak di Dusun Beran, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo. Sebagai salah satu sentra produksi sayur dan padi di Jawa Tengah, Kabupaten Wonosobo mendukung untuk tetap tersedianya makanan bagi domba-domba yang dikarantina.
Fisiela mengungkapkan saat ini jasa homestay penggemukan domba sedang mengkarantina domba berjumlah 7 ekor. “Sekarang kami sedang mengkarantina 7 ekor domba, ada yang masuk baru 3 minggu, ada yang sudah bunting, ada juga yang sudah 2 bulan,” ungkapnya.
Keunggulan dari jasa homestay domba potong ini adalah pemilik domba tidak perlu bersusah payah untuk berternak domba, hanya membayar Rp. 6.500,- perharinya untuk satu ekor domba dan 3 bulan setelahnya domba sudah dapat dipanen atau dipotong.
“Harga anakan domba sekitar Rp 1.250.000 setelah 3 bulan dikarantina harga jula domba bisa menjadi Rp 2.200.000. Setelah dipotong biaya karantina, pemilik domba minimal mendapatkan keuntungan Rp 300.000 per dombanya,” ungkap Fisiela.
Jasa homestay ini juga menyerap limbah organik pertanian, sehingga membuka peluang tambahan pendapatan bagi yang ingin menjual limbah organik pertanian. Limbah organik ini digunakan untuk bahan dari pakan fermentasi untuk domba. Dari usaha ini juga membuka wawasan orang-orang untuk mengolah limbah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis dan juga terciptanya lingkungan yang terhindar dari penyakit.
Fisiela juga menuturkan jika pemilik domba ingin menjadikan dombanya sebagai indukan, jasa penggemukan domba ini bisa menerimanya. “Kalau ada domba yang sudah mau panen tapi mau dijadikan indukan juga bisa kami karantina lagi,” pungkas Fisiela. (Haniatul Isnaeni-mg/DN/HDN)
SEMINAR DAN SOSIALISASI KURIKULUM UNTUK MENUNJANG PENINGKATAN DAN MOTIVASI MAHASISWA PETERNAKAN
Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Tidar mengadakan Kegiatan Seminar dan Sosialisasi Kurikulum untuk Menunjang Peningkatan dan Motivasi Mahasiswa Peternakan (28/11) lalu. Dalam kegiatan ini turut mengundang Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan kota Magelang, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang serta Klinik Hewan dan Lab Keswan Kota Magelang sebagai salah satu langkah untuk mengenalkan Program Studi Peternakan ke dinas-dinas terkait peternakan.

Acara tersebut diisi oleh beberapa pemateri dan dimoderatori oleh dosen di Prodi Peternakan Fakultas Pertanian Untidar, Ayu Rahayu, S.Pt., M.Sc. Sebagai wujud keseriusan Program Studi Peternakan dalam memberikan motivasi ke mahasiswa baru, dalam kegiatan ini turut mengundang pembicara baik dari akademisi maupun pengusaha serta motivator. Pemateri pertama disampaikan oleh Bapak Edwin Indarto, S.Pt., M.P. , dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada yang juga seorang motivator. Dalam materinya disampaikan motivasi kepada seluruh peserta seminar untuk mampu mengenali potensi dalam diri sendiri sehingga mampu menentukan tujuan yang akan diraih.
Dilanjutkan oleh Bapak Ir. Bambang Rijanto Japutra, M.P. dosen Universitas Nahdatul Ulama Purwokerto yang menyampaikan bahwa sarjana peternakan merupakan potensi dalam pengembangan peternakan di Indonesia. Sarjana peternakan sebagai penyalur ilmu dan teknologi peternakan, serta pengembangan sektor-sektor peternakan untuk pemenuh kebutuhan hewani dalam negeri. Seorang sarjana peternakan memiliki peluang yang cukup tinggi sebagai pengusaha, sebagai SDM yang dapat dimanfaatkan oleh perusahan peternakan ataupun sebagai pegawai negeri sipil. Tantangan sarjana peternakan adalah di bidang kompetensi, mental dan pasar global. Peternakan merupakan kegiatan dari hulu sampai hilir, budidaya dan penunjang. “lakukanlah apa yang kamu bisa lakukan untuk Ibu Pertiwi, berikan apa yang kamu bisa berikan untuk Ibu Pertiwi. Lakukanlah dan berikanlah sesuai dengan pekerjaanmu”, katanya.

Akhir acara Widitya Tri Nugraha, S.Pt., M.Sc selaku Plt. Koordinator Program Studi Peternakan memberikan cindera mata kepada para pembicara. Widitya menyampaikan kurikulum yang dilaksanakan oleh Program Studi Peternakan dikembangkan berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang mengacu kepada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dengan memasukkan muatan lokal. Sehingga diharapkan dengan sosialisasi ini dapat memberikan informasi ke khalayak umum bahwa sudah adanya Program Studi Peternakan di Universitas Tidar. “Semoga ke depan Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Tidar ini akan semakin berkembang sebagai prodi baru, dan diharapkan dengan penerapan Kurikulum ini akan menghasilkan lulusan-lulusan yang berkualitas sehingga akan memberikan kontribusi terhadap kemajuandalam bidang peternakan di Indonesia”, jelasnya. (Lastriana Waldi-FP/HDN)
HADAPI MEA, 300 TUKANG BANGUNAN KOTA & KABUPATEN MAGELANG IKUTI UJIAN SERTIFIKASI KOMPETENSI DI UNTIDAR
Plt. Ketua Jurusan Teknik Sipil, Muhammad Amin, S.T., M.T. menyatakan bahwa kemampuan dan ketrampilan dari seorang tukang hendaknya dilengkapi dengan sertifikasi dari suatu lembaga tertentu. “Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) setiap tukang harus memiliki sertifikasi kompetensi agar tidak kalah dengan tenaga asing yang sudah mulai ditemui dalam proyek dalam negeri,” jelasnya.
Sertifikasi kompetensi merupakan syarat utama dalam persaingan di industri konstruksi saat ini. “Kegiatan ini penting dilaksanakan secara berkala sehingga tenaga tukang di Indonesia memiliki sertifikasi sesuai keahliannya masing-masing,” tambahnya.
Sebanyak 300 tukang bangunan dari wilayah Kota dan Kabupaten Magelang mengikuti Uji Kompetensi Sertifikasi Tenaga Kerja Konstruksi (Tukang Bangunan Umum), Minggu-Senin (26-27/11) di Gedung Fakultas Teknik, UNTIDAR.

Para penguji mengawasi setiap peserta yang sedang melakukan praktek.
Kegiatan ini merupakan kerjasama Jurusan Teknik Sipil, Universitas Tidar dengan Balai Jasa Konstruksi Wilayah IV Kementrian PUPR, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Magelang, Asosiasi Tenaga Ahli Pemborong Indonesia (ATAPI) Wilayah Jawa Tengah dan PT. Holcim Indonesia.
“Tukang bersertifikasi mempunyai nilai yang lebih ‘tinggi’ dibandingkan dengan tukang tanpa sertifikasi. Seperti yang kita tahu, proyek-proyek besar membutuhkan tenaga tukang bersertifikat karena itulah syarat utama untuk mengikuti tender,” kata Tohari, salah satu penguji dari Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK).
Menurutnya, tukan bersertifikasi berpeluang besar memiliki penghasilan yang lebih besar dibandingkan dengan tukang biasa. Sertifikasi kompetensi yang dimilikinya memungkinkan mereka mengikuti proyek-proyek besar dengan penghasilan menjanjikan. “Tukang bersertifikasi bisa kerja diluar negeri. Kemampuan atau skill mumpuni tanpa sertifikat diluar negeri tidak akan ‘laku’,” tambahnya.

Peserta melakukann praktek membuat pondasi saluran air di depan Gedung FISIP UNTIDAR
Kegiatan uji sertifikasi dan kompetensi kali ini khusus untuk tukang bangunan. Para peserta dibekali materi tentang Alat Pelindung Diri (APD) dan teknik-teknik pertukangan pada hari pertama. Lalu selanjutnya pada hari kedua dilaksanakan praktek dan wawancara.
“Praktek kali ini membuat pondasi saluran air. Hasil praktek adalah barang jadi yaitu nantinya bisa dimanfaatkan untuk kedepannya bukan hanya dibuat lalu dibongkar untuk kepentingan praktek,” ujar Tohari.
Para peserta bersama-sama membuat pondasi saluran air di depan Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Setelah praktek ini, setiap peserta melanjutkan sesi wawancara dengan penguji. Kemudian hasil penilaian penguji dijadikan acuan pemberian sertifikat kompetensi. “Bagi yang tidak lolos atau memenuhi standar hanya akan mendapat sertifikat pelatihan dan dapat mengikuti uji ulang di kemudian hari,” pungkas Muhammad Amin. (Tri Fatchurohmah-mg/DN)
HMTS UNTIDAR GELAR BAKSOS DAN PENANAMAN POHON DI GUNUNG TIDAR
Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (HMTS) Universitas Tidar mengadakan kegiatan bakti sosial di Gunung Tidar, Sabtu (25/11). Kegiatan baksos ini meliputi bersih-bersih lingkungan dan penanaman pohon yang melibatkan ratusan mahasiswa Teknik Sipil semester 1.
Mengangkat tema “Hijau Bumiku Indah Tidarku” kegiatan yang menggandeng UPT Gunung Tidar Kota Magelang ini diselenggarakan untuk memperingati Hari Penanaman Pohon Nasional yang jatuh pada 28 November sekaligus mengamalkan salah satu tri dharma perguruan tinggi yaitu pengabdian masyarakat.

Kepala UPT Gunung Tidar, Widodo saat memberikan pengarahan pada acara baksos.
“Bakti sosial terutama penanaman pohon yang melibatkan mahasiswa dalam jumlah banyak seperti ini baru pertama kali diadakan disini. Harapannya kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa cinta dan kepedulian pada alam sekitar,” kata Kepala UPT Gunung Tidar, Widodo.
Kegiatan ini dibuka dengan bersih-bersih di sepanjang jalan dari bawah hingga ke puncak Gunung Tidar. Kemudian dilakukan penanaman simbolis oleh Kepala UPT Gunung Tidar didampingi Ketua Jurusan Teknik Sipil, Muhammad Amin, S.T., M.T.

Persiapan peserta baksos sebelum melakukan bersh-bersih di Gunung Tidar.
Adapun jenis dari tanaman yang ditanam adalah 12 pohon Tabebuya (Chrystricha) dan 10 pohon pisang (Paradidiaca). Pohon Tabebuya akhir-akhir ini telah menjadi ‘ikon’ Kota Magelang, penanaman jenis ini bertujuan mempercantik dan diharapkan dapat menarik pengunjung lebih banyak lagi.
“Pohon pisang nantinya jika berbuah dapat menjadi sumber makanan untuk kera-kera di Gunung Tidar. Populasinya yang semakin hari bertambah maka sumber makanan yang dibutuhkan juga bertambah,” tambah Widodo.

Penanaman pohon Tabebuya oleh Plt Ketua Jurusan Teknik Sipil, Mohammad Amin dan Kepala UPT Gunung Tidar, Widodo.
Kegiatan bakti sosial di Gunung Tidar oelh HMTS ini adalah salah satu implikasi dimana mahasiswa menjadi agen perubahan yang tidak hanya bermanfaat bagi kampus tetapi juga masyarakat dan alam sekitarnya.

Penanaman pohon pisang oleh peserta baksos.
“Saya cukup senang dengan kegiatan ini. Semoga usaha kecil ini mempunyai imbas yang besar untuk lingkungan, ekosistem, alam dan lainnya di kemudian hari. Besar harapan kami acara-acara seperti ini semakin bertambah banyak dan semakin banyak pohon yang ditanam sehingga keserasian antara manusia dan alam tetap terjaga di Gunung Tidar ini,” ujar Febri Kurniawan, salah satu peserta baksos. (Febri Kurniawan_HMTS/DN)
BCPA 2017, INOVASI BAGI KEMAJUAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tidar kembali menyelenggarakan acara Borobudur Conference of Public Administration (BCPA), Jumat-Sabtu (24/25) bertempat di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Desa Wanurejo, Borobudur, Kabupaten Magelang.
Sedikit berbeda dengan pelaksanaan BCPA sebelumnya, tahun ini panitia hanya menentukan tema umum yaitu “Fostering Innovation Public Administration”. “Diluar tema umum, panitia juga mnerima tema lain seperti partai politik, parlemen, patologi administrasi, pengelolaan air bersih, pertanian, administrasi pertanahan dan lain-lainnnya,” ujar Dekan FISIP, Dr. Samudra Wibawa, M.Sc. dalam sambutannya.
Menurutnya, jangkauan bidang adminstrasi publik sangat luas maka konferensi ini diharapkan menjadi wadah untuk memaparkan makalah dan ajang sharing bagi peserta untuk menghasilkan inovasi-inovasi baru bagi kemajuan ilmu administrasi negara.
Sependapat dengan Dekan FISIP, Rengga Vernanda, M.Si., M.A., Ketua Panitia BCPA menjelaskan bahwa tema umum kali ini dipilih untuk mendorong para peserta untuk lebih berinovasi dalam sektor administrasi negara. Inovasi dalam hal ini contohnya kemitraan dari sektor pemerintahan, masyarakat dan swasta untuk menimbulkan inovasi.

“Tema inovasi ini mendorong banyak sektor dalam administrasi negara untuk berkembang seperti balkondes ini juga merupakan contoh inovasi kemitraan antara desa, pemerintah maupun pihak swasta,” jelas Rengga.
Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa bertujuan meningkatkan pengetahuan dalam cara membuat makalah yang berkualitas dan cara presentasi dihadapan khalayak. Dari berbagai m akalah yang terkumpul dengan berbagai permasalahannya maka akhirnya muncul sebuah solusi untuk menanganinya. “Menumbuhkan maupun mengembangkan inovasi untuk mencapai tujuan administrasi negara guna mensejahterakan masyarakat,” tambahnya.
Selain itu, makalah yang terkumpul menjadi bahan jurnal bagi jurusan administrasi negara dan menjadi jurnal yang terakreditasi. Salah satu syarat agar jurnal dapat terakreditasi dengan adanya pemakalah dari luar.
Berikut daftar asal peserta BCPA 2017 yaitu FISIP Universitas Airlangga, Universitas Islam Jember, Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Universitas Swadaya Gunung Jati, Universitas Udayana, Universitas BSI Bandung, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang, Universitas Gajah Mada, Universitas Diponegoro, UNISRI, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Sultan Fatah (Unisfat), UNPAD, UNSA (Universitas Surakarta), Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang – Banten, UMS (Malaysia Sabah), Universitas Widya Mataram Yogyakarta, STIAMI dan UNTIDAR. (DN/HDN)
MILAD KE-5, HMM UNTIDAR KEMBALI GELAR MEUFORIA
Memperingati milad ke-5, Himpunan Mahasiswa Mesin S1 (HMM) Fakultas Teknik Universitas Tidar menyelenggarakan Meuforia (Mechannical Enginering Uforia) yang diselenggarakan 16 Oktober – 1 Desember 2017. Euforia Super (solidarity, unit, progresif, education, respect) menjadi tema yang dipilih oleh HMM pada milad tahun ini.
“Acara ini berlangsung dari tanggal 16 Oktober sampai 1 Desember dimulai acara Malam Tasyukuran, Futsal Kompetisi Meuforia Super se-Jateng DIY dengan 32 tim di Nikita Futsal Magelang, Servis Super oleh Honda Tunas Jaya Motor, Donor Darah oleh Unit Transfusi Darah Kota Magelang, Police Goes to Campus oleh Satlantas Polres Kota Magelang, Seminar Capasitas Building dengan pemateri dari Bapenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), dan ditutup dengan Malam Inagurasi pada 1 Desember nanti,“ ujar Lancar Edi selaku Ketua HMM UNTIDAR, Kamis (23/11) saat ditemui pada kegiatan Service Super yang merupakan salah satu kegiatan Meuforia 2017.
Service Super 2017 bekerjasama dengan Honda Ahass Tunas Jaya Magelang berlangsung selama dua hari, Kamis-Jumat (23-24/11) di depan Gedung Perpustakaan UNTIDAR. Servis motor murah ini tidak hanya berlaku untuk sivitas akademika UNTIDAR namun juga dibuka untuk masyarakat umum. Biaya servis motor yang pada umumnya berkisar Rp 55.000 akan diberi potongan sebesar Rp 15.000. “Tarifnya cukup Rp 40.000 saja sudah dapat full service dan gratis minuman teh botol,” tambahnya.
Selain acara servis motor murah, ada pula kegiatan donor darah yang bekerja sama dengan PMI Magelang. HMM turut mengundang Satlantas Polres Kota Magelang dalam acara Police Goes To Campus. Acara ini bertujuan untuk memberikan penyuluhan terhadap sivitas akademika UNTIDAR tentang safety riding.
Tak ketinggalan, kompetensi futsal juga turut diadakan untuk memeriahkan acara milad ke-5 ini. Tak tanggung-tanggung, Futsal Kompetisi Meuforia diikuti oleh 32 tim dari wilayah Jateng-DIY. Tak sekedar ajang futsal, kegiatan ini menambah kekompakan antar mahasiswa jurusan teknik mesin di berbagai universitas.
Lancar berharap pada tahun berikutnya akan ada ide-ide yang lebih menarik dan kerjasama yang lebih luas dengan perusahaan yang bergerak di bidang yang sesuai dengan program studi. “Kami berharap bisa bekerjasama dengan perusahaan-perusahaaan yang berkompeten yang sesuai dengan prodi kami. Karena tahun depan kami ingin mengadakan servis mobil dan motor kontes,” pungkasnya. (Regina Puspa Hapsari-mg/HDN)
FISIP GANDENG UNIVERSITAS MALAYSIA SABAH ADAKAN KULIAH UMUM PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS KOMUNITAS
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tidar mengadakan kuliah umum dengan narasumber Dr. Teuku Afrizal dari Unit Penyelidikan Etnografi dan Pembangunan, Fakultas Kemanusiaan, Seni dan Warisan, Universitas Malaysia Sabah pada Kamis (23/11).
Mengusung tema “Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas : Perspektif Sosiologi”, Dr. Teuku Rizal menyatalan bahwa lingkungan dan manusia merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. “Jangan hanya melihat lingkungan dari fisiknya yang tidak bergerak namun juga dari kebermanfaatannya bagi manusia. Misalnya bukan hutan yang jaga kita tapi kita juga harus menjaganya,” katanya.

Permasalahan sampah yang semakin membahayakan lingkungan menuntut adanya pengelolaan sampah yang lebih baik. “Permasalahan sampah muncul karena masyarakat masih mengelola sampah secara individu. Maka itu, pengelolaan sampah berbasis komunitas bisa dijadikan solusi untuk masalah ini,” tambahnya.
Pengelolaan sampah berbasis komunitas adalah pengelolaan sampah melibatkan patisipasi komunitas/masyaralat secara aktif dalam sistem pengelolaan sampah mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga tahap evaluasi.
Kuliah umum ini merupakan kegiatan lanjutan kerjasama UNTIDAR dan UMS pasca penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara FISIP UNTIDAR dan Fakultas Kemanusiaan, Seni dan Warisan UMS pada 24 Oktober 2017 lalu.
“Selain FISIP, selanjutnya setiap fakultas juga menyusul menjalin kerjasama dengan UMS. Kedepannya akan diadakan student mobility antar UNTIDAR dan UMS, kegiatan ini akan dimediatori oleh universitas namun dilaksanakan oleh fakultas masing-masing,” jelas Kasubag. Perencanaan, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat, R. Suryoto Edy Raharjo, S.T.

Menurutnya, kerjasama dengan UMS akan dilanjutkan pada tahap Letter of Agreement (LoA) pada 5-8 Desember 2017. Rektor UNTIDAR, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd direncanakan akan menandatangani LoA tersebut secara langsung di Malaysia.
“Pelan tapi pasti kerjasama dengan pihak luar negeri mulai dirintis UNTIDAR. Mahasiswa diharapkan antusias dan menanggapi kesempatan ini dengan serius. Tugas universitas hanya membuka cakrawala mahasiswa,” pungkasnya. (Milatul Hidayah-mg/DN/HDN)
PIMPINAN, DOSEN DAN TENAGA KEPENDIDIKAN UNTIDAR JALANI BELA NEGARA
Sebanyak 262 peserta yang terdiri dari pimpinan, dosen dan tenaga kependidikan Universitas Tidar mengikuti pelatihan Bela Negara di Akademi Militer (AKMIL) Magelang, Sabtu-Minggu (18-19/11). Pelatihan ini merupakan upaya menumbuhkan sikap dan perilaku yang teratur dalam menunaikan hak dan kewajiban bela negara atas landasan cinta tanah air.

Upacara pembukaan Bela Negara dosen, pimpinan dan tenaga kependidikan UNTIDAR
Kegiatan diawali dengan pembukaan yang dipimpin langsung oleh Kolonel Inf. Trenggono, S.I.P. selaku Wakil Direktur Pembinaan Lembaga AKMIL. “Selamat datang kepada dosen, pimpinan dan tenaga kependidikan UNTIDAR di lembah tidar. Salah satu poin yang akan diberikan dalam pelatihan Bela Negara ini adalah disiplin terutama disiplin waktu,” tuturnya.
Seluruh peserta dituntut untuk menjaga kedisiplinan dan ketertiban selama pelatihan. “Jam kegiatan akan diatur sesuai porsi masing-masing. Termasuk kegiatan istirahat, mandi dan makan. Luarannya diharapkan kedisiplinan disini nantinya dapat diterapkan di instansi bapak ibu sekalian,” tambahnya.

Materi kepemimpinan oleh Letkol Arh. Heri Wijanarko
Materi pada hari pertama meliputi pelatihan baris berbaris (PBB), wawasan kebangsaan, kepimpinan, proxy war serta pemberian motivasi. Materi kepemimpinan disampaikan oleh Letkol Arh. Heri Wijanarko menitik beratkan bahwa pemimpin layaknya yang jujur, bertanggung jawab dan dapat dipercaya. “Pemimpin itu bukan didapatkan hanya dari pelatihan namun juga harus punya modal lainnya yaitu akademik, jasmani dan kepribadian,” ujarnya.
Pada hari kedua, sebagian besar kegiatan dilakukan diluar ruangan yaitu naik ke Gunung Tidar dan outbond. Selain menguji ketahanan fisik, para peserta juga diuji bagaimana dapat bekerjasama dalam tim.

Pembacaan Ikrar Bela Negara dipimpin Rektor UNTIDAR, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd.
Rektor UNTIDAR, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd. memimpin seluruh peserta Bela Negara mengucapkan Ikrar Bela Negara di puncak Gunung Tidar. “Kami pelatihan Bela Negara Universitas Tidar berjanji : siap menjaga dan mempertahankan Pancasila sebagai satu-satunya ideologi Bangsa dan Negara Indonesia; siap menjaga dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia; siap menjunjung tinggi asas Bhineka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia; siap menjaga dan melaksanakan UUD ’45; siap mendukung dan melaksanakan segala upaya pemberdayaan masyarakat menuju masyarakat adil dan makmur,” kata Rektor saat memimpin ikrar.

Kegiatan outbond Bela Negara
Kepala Urusan Pemeriksa Psikologi AKMIL, Reza Pahlevi menyatakan salut bahwa dosen, tenaga kependidikan/staf bahkan pimpinan UNTIDAR bersemangat bahkan mengikuti setiap kegiatan Bela Negara. “Saya salut, para pimpinan bahkan Rektor UNTIDAR mengikuti rangkaian kegiatan dengan baik. Bahkan pada sesi outbond pun, bapak Rektor tidak mau ketinggalan,” ucapnya saat membuka kegiatan outbond di Lapangan Taruna AKMIL.
Kegiatan outbond dirancang untuk melatih kerjasama tim, strategi, kekuatan serta ketangkasan. “Menang atau kalah dalam permainan outbond bukanlah ‘goal’ utama tetapi bagaimana kekompakan, komunikasi serta kerjasama ini yang harusnya diimplementasikan juga dalam bekerja sehari-hari di UNTIDAR,” kata Reza Pahlevi.

Kegiatan Pelatihan Bela Negara pimpinan, dosen dan tenaga kependidikan UNTIDAR didukung oleh perusahaan farmasi pertama dan BUMN terbesar di Indonesia, Kimia Farma. (DN/HDN)
