PKMT 2017 : PIDADUPING HASILKAN 100 KEPING EMPING PER MENIT

PKM-T (Program Kreatifitas Mahasiswa Teknologi)  berjudul “Mesin Pemipih Adonan pada Proses Produksi Emping Singkong (Pidaduping)” yang di ketuai oleh Ari Aprianto merupakan salah satu yang mengikuti Monev (Monitorong dan Evaluasi) beberapa bulan lalu di Semarang.

Awalnya Ari bersama tim berkunjung di sebuah industri rumahan milik Bapak Slamet di Desa Blongkeng, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang. Keseluruhan proses produksi masih manual, alat yang digunakan pun masih sederhana. Sementara permintaan pasar melebihi jumlah produksinya.

“Proses yang manual itu sangat menguras tenaga, jadi kami berfikir untuk membuat terobosan baru agar produksinya lebih cepat dan permintaan konsumen dapat terpenuhi”, jelasnya.

 Ari Apriyanto beserta Abdullah Labib, Adi Farhan Khamid, Aji Setiyawan, dan Rinaldi Ridho Arrahman mulai menciptakan mesin dengan tenaga listrik 188 watt tersebut. Cara kerjanya Pidaduping cukup sederhana, sebuah motor listrik berputar menggerakkan pulley kecil yang kemudian dihubungkan oleh v-belt untuk menggerakkan pulley besar. Kemudian pulley besar menggerakkan poros. Pada poros tersebut terdapat tiga tuas vertical yang akan menggerakan kayu pemipih bergerak ke atas dan ke bawah sesuai putaran poros. Alat tersebut menghasilkan 100 keping emping per menit.

“Pembuatan Pidaduping itu mengabiskan dana kurang lebih 4 juta rupiah ini mampu memproduksi 100 keping emping singkong per menit”, tambahnya.

Mesin Pemipih Adonan pada Proses Produksi Emping Singkong (Pidaduping) ini dibuat melalui beberapa proses selama 4 bulan. Pertama, tim melakukan identifikasi masalah, perancangan dan pembuatan mesin. Kemudian dilakukan proses pengujian untuk melihat kinerjanya sesuai dengan konsep yang direncanakan atau tidak. Selanjutnya dilakukan analisa dan perbaikan agar mesin dikatakan layak pakai. (Puji Lestari-mg/HDN)

ELANG, PROTOTYPE MOBIL HEMAT ENERGI PERTAMA KARYA UNTIDAR

Electrical Lightweight Automobile Non Gasoline atau kita sebut ELANG merupakan karya pertama prototype mobil hemat energi mahasiswa D3 Teknik Mesin Universitas Tidar. ELANG memiliki panjang 260 cm dan tinggi 70 cm dengan mengandalkan tenaga listrik dari 4 accu yang dirangkai secara seri dengan total daya 48 volt.

“Sedikit berbeda dengan generasi sebelumnya, ELANG UNTIDAR sudah kami upgrade dibeberapa bagian disesuaikan dengan kualifikasi Kompetisi Mobil hemat Energi (KMHE),” ujar Heru Sai Udin, Ketua Tim Elang saat test drive ELANG UNTIDAR di jalan GOR Dr. Soebroto, Jumat (03/11).

ELANG UNTIDAR terbuat dari bahan besi galvanis dengan dimensi 3×6 dan tebal 1,4 mm. Kaca depan dan samping terbuat dari fiberglass dimana bahan ini bertujuan melindungi keselamatan pengemudi jika nantinya terjadi kecelakaan.

Berdasarkan hasil uji di jalan di area perkotaan dan GOR Dr. Soebroto Magelang, ELANG dengan voltase 48 volt (4 accu) yang menggerakan motor listrik berdaya 350 watt mampu melaju dengan kecepatan 35-50 km/jam.

Proses pembuatan dimulai Februari tahun 2017 dan terus dikembangkan sampai akhirnya lolos untuk mengikuti KMHE tahun 2017 yang diselenggarakan oleh Kementrian Roset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) di Surabaya pada tanggal 7-11 November 2017 mendatang. Pada kesempatan ini Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) sebagai tuan rumah menyelenggarakan event ini di Sirkuit Kenjeran Park Surabaya dan Gedung Robotika, kampus ITS Sukolilo.

“Sebelumnya kami telah melalui beberapa tahap seleksi. Yang pertama adalah tahap seleksi proposal, tahap kedua tahap progress report dimana kami harus menyesuaikan mobil ELANG sesuai dengan kriteria KMHE seperti daya, kecepatan, safety riding, dll dan harus memenuhi standar 90% dari keseluruhan standar. Lolos tahap ini kemudian kami memasuki tahap ketiga yaitu tahap race di ITS besok,” jelas Pendamping Tim Elang, Sigit Joko Purnomo, S.T., M.T. yang juga merupakan dosen D3 Teknik Mesin UNTIDAR.

Dalam kompetisi ini, ELANG UNTIDAR akan bertanding bersama 80 tim lain yang berasal dari 43 perguruan tinggi se-Indonesia. Khusus untuk kategori Prototype – electrical vehicle, ELANG UNTIDAR akan bertanding dengan 17 tim.

“Selama beberapa hari, ELANG akan diuji ketahanannya di sirkuit dimana kecepatan dan daya yang terpakai adalah poin utama penilaian. ELANG akan menjalani uji jalan pada sirkuit sepanjang 1,1 km yang akan ditempuh dalam 5 kali race selama kurang lebih 30 menit,” tambah Sigit.

Tim ELANG UNTIDAR terdiri dari 7 mahasiswa D3 Teknik Mesin yaitu Heru Sai Udin, Arfashad Izaz Adi Saputra, Tommy Hidayat, Adi Saputro, Afiat Robiyahya, Muhammad Islakhudin dan Fandi Again Dwi Permana. Dibantu 6 teknisi yaitu Lukman Nurul Hakim, Setya Pambudi, Nurofik, bangkit Hendra, Dwi Ary dan Setyo Rizki Adyanto.

Rektor UNTIDAR, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd mengapresiasi inovasi dan ide kreatif mahasiswa sampai akhirnya maju dalam sebuah kompetisi tingkat nasional. “Inovasi dan ide kreatif seperti inilah yang kami tunggu. Diharapkan banyak ide-ide lain yang bermunculan lalu kemudian dikumpulkan dan mulai dipresentasikan di depan mahasiswa lainnya. ELANG salah satunya hasilnya, diharapkan dapat menular dan semakin banyak hasil ide kreatif mahasiswa yang maju di kancah nasional. Semoga sukses dan mendapatkan kejuaraan,” tuturnya.

Rektor UNTIDAR; Wakil Rektor Bidang Keuangan, Drs. Hery Suroso, S.T., M.T. dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Bambang Kuncoro, M.Si. bersama melepas Tim Elang UNTIDAR yang akan berangkat menuju Surabaya mengikuti ajang KMHE pada Minggu (05/11). (Indah Cahya Rahmadani-mg/DN/HDN)

BAHAS SISTEM PELAPORAN KEUANGAN, KOMNAS HAM AJAK DISKUSI UNTIDAR

Tim Evaluasi dan Pelaporan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia mengunjungi Universitas Tidar untuk mempelajari dan berdiskusi tentang sistem pelaporan keuangan, Kamis (02/11).

“Kami ingin berdiskusi tentang sistem keuangan di kampus ini (UNTIDAR) khususnya bagaimana tim keuangan memonitoring, melaporkan dan mengevaluasi kegiatan dan anggaran,” kata Kasubag. Evaluasi dan Pelaporan, Delsy Nike.

Bersama 4 rekannya, Yeni Ernawati (Penyusun Monitoring dan Evaluasi), Ardhan Irfan, Andreas dan Firdiansyah membahas sistem pelaporan dan evaluasi lingkungan di lingkungan kerja masing-masing.

Diskusi diawali dengan pemaparan sistem pelaporan keuangan di lingkungan Komnas Ham lalu kemudian dilanjutkan pemaparan dari UNTIDAR. “Pelaporan keuangan kita menggunakan sistem dari Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang disebut SIMonev. Selain itu kami juga membangun sistem keuangan tersendiri yaitu SIPAKU,” jelas Kabag Keuangan, Drs. Didik Sinung Hariyadi, M.M.

SIMonev adalah aplikasi yang digunakan untuk mempermudah unit organisasi di lingkungan Kemenristekdikti dalam menetapkan dan melaporkan berbagai capaian target kinerja, anggaran, serta rencana pengadaan yang telah disusun. Sedangkan SIPAKU (Sistem Informasi dan Penganggaran Keuangan) adalah sistem lokal yang dikembangkan UPT TIK UNTIDAR untuk mempermudah bagian keuangan dalam pelaporan keuangan, monitoring dan evaluasi kegiatan dan anggaran sebelum diinput ke SIMonev.

“Di lingkungan Kemristekdikti, setiap kegiatan dalam setahun sudah direncanakan terlebih dahulu. Kami merencanakannya dan menuangkannya dalam Perjanjian Kinerja (PK) yang diserahkan ke Kementrian. PK ini merupakan turunan dari Rencana Strategis 4 tahunan,” tambah Didik.

Sesuai dengan instruksi Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) Kementerian Keuangan Republik Indonesia, semua lembaga pemerintahan wajib melaporkan keuangannya melalui sistem SMART. Khusus di lingkungan Kemenristekdikti menggunakan SIMonev untuk pelaporan output, kinerja, pengadaan barang jasa sehingga lebih komplit. “Desainnya lebih simple dan lebih lengkap sehingga memudahkan monitoring. Sedangkan kami di Komnas Ham masih harus mengisi beberapa laporan secara manual,” ujar Delsy.

Harapannya dengan diskusi ini baik Komnas Ham maupun UNTIDAR mampu mengembangkan sistem pelaporan keuangan masing-masing. Tentunya masing-maisng sistem memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang bisa dijadikan evaluasi untuk memajukan sistem masing-masing kedepannya. (DN)

UNTIDAR BERI DUKUNGAN PENUH MAGELANG JADI LOKASI PENGEMBANGAN SCIENCE TECHNO PARK

Universitas Tidar menjadi tuan rumah dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Studi Kelayakan Pengembangan Science Techno Park (STP), Kamis (02/11). Kegiatan ini bertujuan melihat kesiapan lokasi pengembangan STP di Magelang.

Tim Satker Kelembagaan Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Kelembagaan IPTEK dan DIKTI, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) yang diwakili oleh Edi Jatmika dan David L memaparkan konsep dasar STP dihadapan jajaran pimpinan UNTIDAR serta perwakilan dari beberapa dinas terkait di wilayah Kota Magelang.

“Ada 3 unsur terpenting dalam pengembangan STP yaitu Academic, Bussines dan Government disingkat ABG. Unsur akademik adalah perguruan tinggi, bisnis adalah praktisi dan pemerintah daerah,” jelas David.

STP merupakan suatu wahana sinergi kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi guna mewujudkan ekonomi berbasis inovasi dalam kerangka sistem inovasi daerah. STP tercantum dalam Visi Misi Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo yaitu dalam isi Nawa Cita ke-6 yang berbunyi “Membangun sejumlah Science dan Techno Park di daerah-daerah, politeknik dan SMK-SMK dengan prasana dan sarana dengan teknologi terkini”

Rektor UNTIDAR, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd menyatakan siap membantu dan berkontribusi penuh jika akhirnya disetujui Kota Magelang sebagai lokasi STP. “Sivitas akademika UNTIDAR siap membantu dalam bidang riset, sumber daya manusia serta fasilitas yang dibutuhkan untuk pengembangan STP,” tutur Rektor.

Dalam kesempatan FGD ini, Tim Ristekdikti menggali informasi dan potensi dari wilayah Kota Magelang khususnya untuk dijadikan bahan pertimbangan pengembangan STP di wilayah ini. FGD ini melibatkan perwakilan dari Badan Pusat Statitstik (BPS), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda), Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) di wilayah Kota Magelang.

“Potensi industri di Magelang salah satunya adalah industri tahu. Tapi, dalam pengolahannya sampai saat ini kami masih mengalami kesulitan pengelolaan limbah yang dihasilkannya. Jika STP nanti dibangun kami berharap permasalahan industry kecil yang seperti ini bisa dibantu solusinya,” kata FX. Edi Winarno perwakilan Disperindag Magelang.

Potensi industri merupakan bagian dari potensi ekonomi yang merupakan salah satu dari 4 indikator kelayakan STP. Indikator tersebut adalah potensi daerah, potensi sosial, ekonomi dan budaya, potensi kelembagaan dan potensi pengembangan teknologi dan inovasi.

“Kami berharap bisa kembali kesini (UNTIDAR) untuk melanjutkan proses pengembangan STP ke proses selanjutnya. Semoga hasil FGD ini bisa dipertimbangkan untuk segera ditindaklanjuti,” pungkas David. (DN/HDN)

PKMP 2017 : POLUSI KAWASAN INDUSTRI TEMPURAN ANCAM KELESTARIAN LINGKUNGAN SEKITARNYA

Kecamatan Tempuran merupakan kawasan industri terpadat di Kabupaten Magelang. Terdapat 25 pabrik yang beroperasi diwilayah tersebut. Masyarakat yang tinggal disekitarnya pun terkena dampak positif dan negatif dengan adanya pabrik-pabrik tersebut.

“Sebelum adanya kawasan industri ini, banyak masyarakat hanya mengenyam bangku sekolah dasar (SD) dikarenakan penghasilan yang rendah tapi semenjak mereka menjadi karyawan pabrik maka pendapatan naik dan dapat melanjutkan pendidikan keluarga mereka ketingkat yang lebih tinggi,” kata Aidah Nurhidayah.

Menurutnya, tak hanya dampak positif dalam bidang ekonomi namun pabrik tersebut juga membawa dampak negatif terutama limbah dan polusi. “Masyarakat yang tinggal dalam radius 2 km dari pabrik mengeluhkan polusi dan limbah yang mempengaruhi lingkungan sekitar,” tambahnya.

Aidah merupakan ketua tim Program Kreatifitas Mahasiswa Penelitian (PKMP) Universitas Tidar tahun 2017 yang berjudul “Pengaruh Keberadaan Pabrik Terhadap Perkembangan Konservasi Lingkungan Masyarakat Kecamatan Tempuran Kabupaten Magelang (25 Pabrik dalam Radius 2 Km)”

Aidah dan ketiga anggota yaitu Siti Ulfatul Muawanah, Rifqi Ubaidilah dan Nadia Handika Putri melakukan penelitian di Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang pada bulan Mei tahun 2017 lalu. Tepatnya berada dalam radius 2 km yaitu dari Jalan Magelang-Purworejo km 9.5 sampai jalan Magelang-Purworejo km 11,5 serta beberapa desa di sekitarnya.

Mereka menyebarkan 100 buah kuisioner berisi 20 pertanyaan seputar dampak keberadaan pabrik terhadap lingkungan sekitar. Selain itu, mereka juga menggunakan data-data dari kantor pemerintahan dan puskesmas setempat.

“Hasilnya tingkat polusi yang cukup tinggi berpengaruh pada kondisi kesehatan khususnya pernapasan. Polusi udara juga berpengaruh pada penurunan hasil panen,” jelas Aidah.

Mengatasi permasalahan polusi membutuhkan proses dan waktu. Hasil penelitian ini pun kemudian disampaikan beberapa pihak seperti Puskesmas, Badan Perencanaan Pembangunan (Bapeda), Kantor Kepala Desa serta beberapa lembaga terkait disekitarnya.

“Kami berharap hasil penelitian ini dapat dijadikan rujukan untuk pengelolaan dampak negatif polusi pabrik-pabrik tersebut. Pemerintah Kabupaten Magelang terutama Kecamatan Tempuran perlu mengadakan tinjauan kembali mengenai kelayakan wilayah industri tersebut,” tambah Rifqi Ubaidillah, anggota PKMP.

PKMP “Pengaruh Keberadaan Pabrik Terhadap Perkembangan Konservasi Lingkungan Masyarakat Kecamatan Tempuran Kabupaten Magelang (25 Pabrik dalam Radius 2 Km)” merupakan salah satu dari 12 PKM UNTIDAR yang lolos didanai Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) tahun 2017. (Bondan Prakoso-mg/DN)

UPACARA PERINGATAN HARI SUMPAH PEMUDA KE 89 UNIVERSITAS TIDAR

Sivitas akademika Universitas Tidar melaksanakan upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 89 Senin (30/10) di halaman parkir, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Upacara yang dimulai pukul 07.30 Wib ini diikuti oleh jajaran pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan serta mahasiswa.

Rektor Universitas Tidar, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd. menjadi Pembina upacara. Beliau membacakan sambutan dari Menteri  Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi.

“Bagaimana Mohammad Yamin dari Sawah Lunto bertemu dengan Johanes Leimena dari Ambon? Pernahkah kita membayangkan bagaimana seorang Katjasungkana dari Madura dapat bertemu dengan Lefrand Senduk dari Sulawesi? Bukan hanya bertemu, tapi mereka juga berdiskusi, bertukar pikiran, mematangkan gagasan hingga akhirnya bersepakat mengikatkan diri dalam komitmen keindonesiaan,” kata rektor.

 

Persoalan jarak bukanlah satu-satunya penghalang dikala itu, perbedaan agama, ras dan suku ternyata bukanlah sebuah masalah bagi mereka. Perjuangan mereka pun terbayar lunas dengan akhirnya terwujudnya ikrar sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-89 kali ini mengangkat tema “Pemuda Indonesia, Berani Bersatu” bertujuan untuk membangkitkan lagi semangat persatuan di kalangan pemuda. Segala kemudahan dalam transportasi maupun teknologi merupakan keuntungan sekaligus tantangan bagi pemuda di jaman ini yang sangat mudah dipengaruhi, memvonis seseorang hingga terpecah belah.

“Kemudahan teknologi dan sarana transportasi yang kita miliki hari ini, seharusnya lebih mudah buat kita untuk berkumpul, bersilaturahim, dan berinteraksi sosial. Sebetulnya, tidak ada ruang untuk salah paham apalagi membenci, karena semua hal dapat kita konfirmasi dan kita klarifikasi hanya dalam hitungan detik,” ungkapnya.

Walaupun upacara dilaksanakan hanya sebagian besar sivitas akademika dikarenakan bertepatan dengan pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) namun upacara dapat berjalan dengan lancar dengan bantuan petugas upacara dari Resimen Mahasiswa (Menwa) “Macan Tidar” dan Racana / Pramuka UNTIDAR serta Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Grandio Sonora Tidar. (Muhammad Zainul Arifin-Mg/DN)

PENGARAHAN KJMU OLEH REKTOR UNTIDAR

Rektor Universitas Tidar, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd. memberikan sosialisasi mengenai Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) kepada 28 mahasiswa tahun akademik 2017/2018 yang berasal dari DKI Jakarta, Sabtu (28/10).

“Saya berharap mahasiswa bisa memanfaatkan kesempatan untuk memperoleh bantuan pendidikan ini. Segera mendaftar dan melengkapi persyaratan-persyaratannya,” kata Rektor.

Mahasiswa pemegang KJMU nantinya berhak atas bantuan biaya pendidikan sejumlah Rp 9 juta tiap semesternya. Penyaluran bantuan biaya pendidikan ini diberikan sejak peserta lulus seleksi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan ditetapkan sebagai penerima KJM. Program sarjana (S1) dan Diploma IV paling banyak 8 semester dan dapat diperpanjang paling banyak 2 semester dan program diploma III paling banyak 6 semester dan dapat diperpanjang 2 semester.

”Salah satu syarat utama adalah KJP namun, bagi mahasiswa yang tidak memiliki KJP tetap memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan KJMU,” ujarnya.

Persyaratan KJMU antara lain memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP)  dengan alamat di wilayah Provinsi DKI Jakarta, telah dinyatakan lulus sebagai peserta didik tingkat menegah pada Satuan Pendidikan negeri/swasta di wilayah Provinsi DKI Jakarta paling lama satu tahun, berasal dari keluarga tidak mampu, mendaftar di PTN dan dinyatakan lulus seleksi dan tidak menerima beasiswa/bantuan pendidikan yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara atau sumber lain yang sah.

“Beberapa persyaratan sudah kami ajukan tetapi masih terkendala belum terkoneksinya sistem pangkalan data kementerian dengan sistem provinsi. Sehingga prodi saya (Ilmu Komunikasi) belum terdaftar di sistem provinsi DKI,” kata Reka Suhartanti, mahasiswi FISIP yang sedang dalam proses pengajuan KJMU.

Kepala Bagian Akademik dan Kemhasiswaan, BAKPK UNTIDAR, David Budhi Hartono, S.E. menyatakan siap membantu dalam proses kelengkapan data mahasiswa yang mengajukan KJMU. “Masalah prodi baru yang belum terdaftar di provinsi DKI, bisa kami bantu dengan lampiran surat ijin operasional prodi tersebut dari Kemenristekdikti,” pungkasnya. (DN/HDN)

UNTIDAR LAUNCHING SISTEM JURNAL ONLINE

Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Joko Widodo, M.Pd. meresmikan Open Jurnal Sistem (OJS) Universitas Tidar, Kamis (26/10). OJS ini dapat diakses melalui laman jurnal.untidar.ac.id merupakan wadah publikasi jurnal para dosen dan mahasiswa UNTIDAR.

Dalam sambutannya beliau menjelaskan manfaat yang akan diperoleh dengan adanya OJS ini. Menurutnya UNTIDAR harus segera melangkah maju dengan jurnal yang dionlinekan. “Kita harus sudah melangkah ketapakan yg lebih maju yaitu memberdayakan publikasi jurnal di lingkungan dosen dan mahasiswa. Bidang akademik khususnya memiliki tujuan mengembangkan jurnal tidak hanya online tetapi berbasis keilmuan atau berbasis prodi,” jelasnya.

Selama ini jurnal yang dibuat oleh dosen hanya sebatas bunga rampai sehingga perlu untuk dilihat kembali agar sesuai dengan dasarnya di prodi masing-masing. “Jurnal terdahulu yang masih multidisiplin sesuai dengan kebijakan akademik akan ditinjau kembali untuk diarahkan ke jurnal berbasis keilmuan,” ujarnya.

Manfaat lain jurnal online ini berkaitan erat dengan kenaikan jabatan dan juga untuk menambah penilaian bagi prestasi universitas.  “Jurnal yang laku adalah jurnal yg dikelola online dan berbasis keilmuan, bermanfaat untuk kenaikan jabatan sesorang. Bagi rekan-rekan yang akan naik jabatan harus memiliki publikasi yang ada di jurnal online karena itu kita menyediakan wadahnya,” katanya.

Tidak hanya itu, mahasiswa yang tergabung dalam BEM turut serta diundang untuk dapat memahami maksud adanya jurnal online yang dapat membantu mahasiwa dalam menyelesaikan tugas akhir maupun skripsi.

Harapannya, tiap fakultas dapat mengonlinekan jurnal agar dapat mengembangkan jurnal yang dapat bermanfaat bagi mahasiawa. Bila perlu nantinya tugas akhir atau skripsi mahasiswa juga diunggah di jurnal fakultas dengan bantuan BEM.

Kedepannya tugas akhir maupun skripsi dapat menggunakan referensi dari jurnal dosen UNTIDAR terlebih dahulu ditambah dengan jurnal internasional lainnya. (HDN/DN)

UNTIDAR RINTIS KERJASAMA DENGAN UNIVERSITI MALAYSIA SABAH

Universitas Tidar (UNTIDAR) merintis kerjasama dengan Universiti Malaysia Sabah (UMS), Selasa (24/10). Hal ini ditandai dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UNTIDAR, Prof. Dr. Joko Widodo, M.Pd. dan Dean of Faculty of Humanities, Arts and Heritage UMS, Prof. Dr. Ismail Ibrahim.

Dalam kesempatan ini turut serta Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Bambang Kuncoro, M.Si. serta Dekan dari masing-masing fakultas di UNTIDAR. LoI ini menekankan kerjasama akademik dan hubungan yang erat diantara UNTIDAR dan UMS. Kerjasama ini memperhatikan prinsip kesetaraan, resiprositas serta kebijakan masing-masing untuk menghasilkan manfaat bagi kedua belah pihak.

Program yang akan diselenggarakan antara lain pertukaran dosen dan mahasiswa, kolaborasi dalam penelitian, seminar, workshop dan konferensi serta kegiatan lain yang disepakati oleh kedua belah pihak. Implementasi dari rintisan kerjasama ini disimpulkan untuk menjadi alat ukur dalam membuat Memorandum of Agreement (MoA).