Ilmu Komunikasi Untidar Gelar Seminar Nasional dan Soft Launching Buku Soroti Fragmentasi dan Demokrasi Digital
Magelang – Ilmu Komunikasi Universitas Tidar menggelar Seminar Nasional bertajuk “Social Media, Fragmentation, and Democracy: Rethinking Digital Interactions”, di Gedung Laboratorium Rekayasa, Kampus Sidotopo, Jumat (05/12). Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan literasi digital akademik bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi sekaligus ajang soft launching book chapter dengan tema serupa.
Seminar yang awalnya dibuka untuk 40 peserta ini justru mendapatkan antusiasme besar dari mahasiswa dan dosen, sehingga lebih dari 90 peserta hadir memenuhi ruangan. Turut hadir Plt. Dekan FISIPOL, Dr. A.P. Dra. Sri Mulyani, M.Si., para pimpinan jurusan, serta dosen Ilmu Komunikasi dan Ilmu Administrasi Negara.
Anita Amaliyah, M.I.Kom., selaku Ketua Pelaksana, dalam laporannya menegaskan pentingnya memahami fenomena fragmentasi dan polarisasi di media sosial dari perspektif akademik, terutama bagi mahasiswa yang tengah dibentuk menjadi generasi kritis dan resiliensi di era digital.
Seminar Nasional ini menghadirkan tiga narasumber terkemuka, yaitu Dr. Fajar Junaedi, S.Sos. dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Dr. Phil. Nuriyatul Lailiyah, S.Sos., M.I.Kom. dari Universitas Diponegoro. Selain itu, dihadirkan juga narasumber internal, Anita Amaliyah, M.I.Kom, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Tidar. Ketiganya membahas dinamika interaksi digital kontemporer, tantangan demokrasi di ruang siber, serta bagaimana media sosial membentuk perilaku, opini publik, hingga segmentasi sosial yang semakin kompleks.
Dalam pemaparannya, Anita menekankan bahwa mahasiswa Ilmu Komunikasi perlu memahami isu media sosial secara komprehensif, tidak hanya dari sisi praktik konten, tetapi juga dari perspektif teori dan riset. “Tidak semua mahasiswa ingin menjadi content creator. Ada yang ingin melanjutkan S2, S3, atau terlibat dalam dunia akademik. Maka seminar ini menjadi ruang untuk tercerahkan, baik secara praktik maupun teoritis,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan urgensi tema ini. “Media sosial saat ini dipenuhi informasi benar maupun disinformasi. Fragmentasi, polarisasi, hingga penyebaran hoaks dapat terjadi karena kita kehilangan kritisisme. Mahasiswa sebagai akademia wajib memiliki daya kritis agar tidak mudah terprovokasi, tidak terpolarisasi, dan mampu bertahan secara mental di tengah derasnya arus digital.”
Sementara itu, Dr. R. Yogie Prawira W., S.I.Kom., Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada panitia dan seluruh peserta. Ia menegaskan pentingnya kegiatan akademik seperti ini sebagai ruang belajar bersama, terutama dalam merespons tantangan demokrasi digital yang terus berkembang.
Lebih lanjut, para narasumber juga memberikan pemahaman tentang bagaimana media sosial membentuk ruang interaksi baru, bagaimana algoritma memengaruhi perilaku politik publik, serta bagaimana generasi muda dapat memperkuat daya kritisnya agar tidak terjebak pada ekstremitas informasi.
Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi dari berbagai angkatan, dosen lintas jurusan, dan tamu akademik lainnya. Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi diskusi, terutama saat membahas strategi menghadapi polarisasi digital dan peran akademisi dalam menjaga kualitas demokrasi melalui literasi informasi.
Melalui seminar ini mahasiswa diharapkan menjadi lebih kritis, tidak mudah terfragmentasi, memiliki resiliensi digital, dan memahami dampak interaksi daring terhadap realitas sosial. “Apa yang terjadi di ranah digital dapat berdampak langsung pada kehidupan nyata. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki nalar kritis dan tidak mudah terprovokasi,” tambah Anita.
Dengan terselenggaranya Seminar Nasional dan Soft Launching Book Chapter ini, FISIPOL Untidar menegaskan komitmennya dalam memperkuat tradisi akademik sekaligus membekali mahasiswa dengan pemahaman mendalam tentang isu media dan demokrasi di era hiperconnectivity.
Penulis: Suryanti
Editor: Danu Wiratmoko




