Peringati 16HAKTP 2025, Satgas PPK Untidar Gelar Seminar Kampus Aman Tanpa Kekerasan

Magelang – Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Universitas Tidar (Satgas PPK Untidar) selenggarakan seminar pencegahan kekerasan di lingkungan kampus yang bertajuk ”Kampus Aman Tanpa Kekerasan”, Senin (01/12), bertempat di Gedung Laboratorium Rekayasa, Kampus Untidar Sidotopo. Kegiatan yang sekaligus memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) tahun 2025 ini, menghadirkan dua narasumber yakni aktivis perempuan sekaligus penulis, Kalis Mardiasih dan psikolog dari Soerojo Hospital, Any Reputrawati, S.Psi., Psikolog.

Dalam pemaparannya yang berjudul ”Pencegahan Kekerasan di Lingkungan Kampus”, Kalis Mardiasih menyoroti terjadinya peningkatan kasus kekerasan pada remaja dan mahasiswa tiap tahunnya. Terdapat 310 kasus di perguruan tinggi pada tahun 2021–2024, 1.791 laporan KBGO pada tahun 2024 hingga tingginya angka kekerasan dalam pacaran. Serta yang terbaru adalah 290 kasus femisida dalam satu tahun terakhir. Berikutnya adalah kasus bullying di kampus yang banyak terjadi secara psikis maupun verbal yang dipengaruhi kultur senioritas dan lingkungan kompetitif.

“Pola kekerasan berbasis gender yang berulang menegaskan pentingnya penggunaan metode intervensi BANTU (Berani tegur, Amankan korban, Mengajak orang lain, Tanya kebutuhan, Usahakan dokumentasi) untuk memperkuat respons aman dan menciptakan lingkungan kampus yang bebas kekerasan,” tandasnya.

Sementara itu, Any Reputrawati, S.Psi., Psikolog memaparkan tentang “Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis Akibat Kekerasan.”  Ia menegaskan bahwa dampak kekerasan secara psikologis sangat luas dan berbeda-beda setiap individu sehingga pertolongan pertama pada luka psikologis perlu untuk dipelajari oleh semua pihak yang terlibat dalam penanganan kekerasan di lingkungan kampus.

“Intervensi awal dalam pertolongan pertama seperti P3LP dengan prinsip Look, Listen, dan Link penting untuk memberi keamanan, dukungan emosional, serta menghubungkan korban dengan bantuan profesional. P3LP bukan terapi dan dilakukan oleh penolong terlatih untuk memperkuat korban agar lebih berdaya dan mampu pulih,” terangnya.

Ketua Satgas PPK Untidar, Muhammad Yusuf Rangkuti, S.H., M.H., menyatakan, ”Kegiatan ini merupakan salah satu program edukasi yang diselenggarakan untuk meningkatkan kesadaran seluruh civitas akademika, baik mahasiswa, tenaga kependidikan, dan dosen terkait pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.”

Lebih lanjut, Ia menerangkan bahwa ranah penanganan Satgas saat ini bukan hanya kekerasan seksual saja, tetapi mencakup kekerasan fisik, psikis, perundungan, intoleransi, diskriminasi, hingga kebijakan yang mengandung kekerasan. Disamping itu, Ia berharap dengan adanya seminar ini peserta lebih memahami langkah pencegahan, prosedur pelaporan yang benar,
hingga psychological first aid (pfa) ketika melihat atau mengalami insiden kekerasan.

 

Penulis: Dwi Nur Athifah dan Cinta Annata Nurhan

Editor: Eny Ratnasari