PERKUAT UNSUR “WHY” MAKA BERIBADAH AKAN LEBIH MAKSIMAL

MAGELANG – Takmir Masjid Mambaul Ulum UNTIDAR bekerjasama dengan Ikatan Sarjana Wanita Indonesia (ISWI) Kota Magelang menggelar pengajian kemuslimahan, Jumat (10/06/2016) dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramdhan.

Ustadzah Emy Mursyidawati menguraikan pentingnya tauhid sebagai landasan ibadah di depan puluhan dosen, karyawan dan perwakilan ISWI yang hadir di Masjid Mambaul Ulum. Pengajian kali ini mengangkat tema tauhid.

“Kadang kita terlalu fokus pada HOW & WHAT tapi kurang dalam WHY-nya sehingga masih saja meremehkan ibadah sampai solat wajibnya bolong-bolong,” tutur Emy.

Dalam kehidupan sehari-hari terutama pada Bulan Ramadhan, mengapa beberapa diantara kita yang meninggalkan solat karena terlalu sibuk asik mengobrol pada acara buka bersama atau “silau” dengan diskon di pusat perbelanjaan. Hal ini dikarenakan “WHY” atau alasan mengapa kita harus beribadah masih belum kuat.

Dalam QS. Muhammad ayat 19, Allah SWT mengisahkan pada kita bahwa sesungguhnya tidak ada “illah” selain Allah. Dasar inilah yang harusnya mulai kita tanamkan dalam pikiran dan hati. Hakikat manusia diciptakan hanyalah untuk beribadah kepada penciptanya yaitu Allah SWT.

“Kalau akar ibadah kita kuat maka Insya Allah batang, daun dan buahnya akan tumbuh subur. Kalau kita sudah mengerti betul, menanamkannya dengan baik dalam diri kita masing-masing maka ibadah akan terasa ringan,” tambah Emy.

Para muslimah dari dosen, karyawan dan perwakilan ISWI menyimak penjelasan “WHY” kita harus beribadah dari Ustadzah Emy.

Para muslimah dari dosen, karyawan dan perwakilan ISWI menyimak penjelasan “WHY” kita harus beribadah dari Ustadzah Emy.

BUDIONO AJAK MAHASISWA NYENGKUYUNG ACARA PADUSAN WARGA

Sudah menjadi ritual atau kebiasaan umat muslim di Indonesia melakukan padusan (mandi besar) saat menjelang bulan Ramadhan. Padusan yang merupakan peninggalan masa islamisasi walisongo ini bertujuan membersihkan dan mempersiapkan diri dalam menjalankan puasa.

Sehari menjelang Ramadhan, Minggu (05/06/2016) bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup, UNTIDAR bekerjasama dengan warga Potrosaran Magelang menyelenggarakan acara padusan.

“Bukan sekedar padusan biasa, kami mencoba nyengkuyung acara yang diselenggarakan masyarakat sekitar kampus,” kata Drs. Budiono, M.Pd.

Tirta Hayuning Bawono diangkat sebagai tajuk acara ini. Tirta atau air merupakan sumber penghidupan manusia. Tidak hanya digunakan untuk makan atau minum namun air juga digunakan untuk membersihkan diri. Sayangnya, manusia kadang lupa arti penting air tersebut bahkan terkadang sia-sia dalam memanfaatkannya.

Bersama ES Wibowo salah satu seniman Kota Magelang yang merupakan Ketua Padepokan Gunung Tidar, Budiono dan beberapa mahasiswa menyusuri Kali Bening membawa bambu dan kendi. Bambu yang dilobangi dibeberapa sisi akan mengalirkan air ke segala penjuru bermakna bahwa air sebagai sumber penghidupan manusia. Kendi digunakan sebagai media padusan sedangkan Kali Bening sebagai contoh “sumber” air yang perlu dilindungi dari perlakuan yang semena-mena orang-orang sekitar sebagai tempat pembuangan sampah.

“Bertepatan dengan hari lingkungan Hidup, warga seharusnya menjaga kebersihan sungai sehingga seperti namanya Kali Bening, sungai ini bersih dari sampah dan bewarna bening. Kedepannya warga bisa padusan bersama di sungai ini,” kata ES Wibowo.

Harmonisasi Sosial

UNTIDAR sebagai kampus seribu jendela diharapkan dapat menjadi sumber segala ilmu. Tidak hanya akademik namun mampu berkontribusi dalam berbagai kegiatan terutama yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar kampus.

“Tidak hanya numpang manggon tapi kampus harusnya memposisikan diri sebagai tangga teparo yang siap berkontribusi kepada sekitarnya,” tutur Budiono.

Menurutnya, acara seperti ini merupakan upaya ‘memartabatkan’ kampus. Tidak hanya selalu menjadi penonton namun menyentuh langsung kegiatan masyarakat. “Banyak pakar ilmu di UNTIDAR yang bisa diterjunkan langsung untuk mengatasi berbagai masalah masyarakat,” tambah Dosen PBSI FKIP UNTIDAR ini yang juga pernah penjabat sebagai Dewan Kesenian Magelang.

Peserta acara padusan berkumpul di kampus UNTIDAR mengenakan baju kebaya dan lurik lengkap dengan blangkon.

Peserta acara padusan berkumpul di kampus UNTIDAR mengenakan baju kebaya dan lurik lengkap dengan blangkon.

Dalam acara padusan ini, puluhan mahasiswa PBSI dan Administrasi Negara UNTIDAR menggunakan pakaian tradisional Jawa yaitu kebaya untuk perempuan dan kain lurik atau beskap lengkap dengan blangkon untuk laki-laki bersama dengan warga Potrosaran berjalan bersama dari Kampus menuju lokasi Kali bening di Dumpoh.

“Tidak diwajibkan. Cukup banyak teman-teman mahasiswa yang ikut bepartisipasi bahkan sudah mempersiapkan diri dengan kebaya padahal tetap harus berjalan kaki,” kata Sri Kiswo Mukti, salah satu mahasiswa PBSI semester 4.

Baginya kegiatan semacam ini perlu ditingkatkan kembali. Bahkan jika perlu tidak hanya mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Bapak Budiono namun juga mahasiswa lainnya. Pelibatan mahasiswa dipandang mampu menumbuhkan rasa cinta pada seni dan meningkatkan jiwa sosial masing-masing individu. Banyak mahasiswa dewasa ini kurang peduli dengan tradisi asli nenek moyang mereka salah satunya seperti padusan ini dan tentunya menyadarkan mereka untuk lebih bijak memanfaatkan air di kemudian hari.

FKIP UNTIDAR TAMPUNG SARAN KRITIK MAHASISWA UNTUK SISTEM PEMBELAJARAN YANG LEBIH BAIK

MAGELANG – Terlaksananya proses perkuliahan yang baik memerlukan kerjasama dosen dan mahasiswa. Demi meningkatkan kualitas proses belajar mengajar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tidar mengadakan acara “2 Jam Bersama Prodi”pada Kamis (09/06/2016) di auditorium.

Acara ini merupakan acara tahunan yang sudah dilakukan semenjak 12 tahun yang lalu. Selain sebagai ajang evaluasi proses belajar mengajar dosen oleh mahasiswa, dalam acara ini mahasiswa diberikan kesempatan seluas-luasnya menyampaikan kritik maupun saran selama masa perkuliahan setahun kebelakang. “Semua permasalahan dalam kuliah disampaikan langsung kepada dosen dan segera dicarikan solusinya,” kata Drs. Hari Wahyono, M.Pd., Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKIP.

Mengangkat tema “Bersuara untuk Maju Bersama Prodi” acara yang dihadiri seluruh mahasiswa dan dosen FKIP ini dibagi dalam 2 sesi. Sesi pagi untuk Prodi Pendidikan Bahasa Inggris dan Sesi siang untuk Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

“Alangkah baiknya jika ada semester pendek. Selain untuk memperbaiki nilai mata kuliah juga memberikan kesempatan mahasiswa untuk lulus lebih awal,” tutur Aulia, mahasiswi PBSI semester 4. Beberapa mahasiswa lain menyampaikan keluhan mengenai sarana prasarana kuliah, format penulisan ilmiah yang baku, kontrak kuliah serta permasalahan klasik mahasiswa semester akhir yaitu skripisi.

“Pembimbing tidak akan mempersulit atau mempermudah mahasiswa semua berjalan sesuai dengan apa adanya,” tambah Hari saat menanggapi pertanyaan mahasiswa mengenai skripsi yang terkesan dipersulit.

Rangga Asmara, S.Pd., M.Pd. selaku Plt. Ketua Prodi PBSI menyampaikan bahwa pada tahun ajaran nanti akan mulai diberlakukan Kurikulum 2016 sebagai penyempurnaan kurikulum yang lalu. Mulai tahun ajaran 2016/2017 nanti akan diberlakukan Praktek Kerja Lapangan atau magang. Tujuannya agar mahasiswa FKIP tidak hanya berorientasi menjadi seorang guru saja namun bisa merambah profesi lain seperti jurnalis, editor maupun profesi lainnya.

Salah satu mahasiswa menyampaikan saran dan kritiknya terkait masalah perkuliahan.

Salah satu mahasiswa menyampaikan saran dan kritiknya terkait masalah perkuliahan.

Dalam acara ini mahasiswa berkesempatan mengisi kuisioner evaluasi pelaksanaan belajar mengajar. Kuisioner evaluasi ini berdasarkan 4 kompetensi yaitu pedagogik, profesional, kepribadian dan sosial. Pedagofik merupakan kemampuan dosen dalam mengelola sistem pembelajaran. Profesional merupakan kemampuan dosen menyampaikan materi dan mengikuti perkembangan ilmu terkini. Kompetensi kepribadian membahas perilaku dosen sebagi suri tauladan dan sosial bagaimana dosen dapat menjalin komunikasi dan bekerjasama dengan mahasiswa dan dosen lainnya.  “Data ini akan dirapatkan, didiskusikan dan dicarikan penyelesaian oleh masing-masing prodi,” tutur Ali Imron, S.S., M.Hum., dosen Pendidikan Bahasa Inggris.

AKUI SEMPAT PESIMIS, ANGEL DAN OKTAVIA BAWA PULANG TROPI JUARA III PCTA JATENG

MAGELANG – Salah satu tim debat perwakilan UNTIDAR, Oktavia Suryaningsih dan Angela Febriani Nanda Prasetyo berhasil meraih gelar juara 3 pada lomba debat Parade Cinta Tanah Air (PCTA) Perguruan Tinggi Se-Jateng. Acara yang diselenggarakan oleh Desk Pengendali Pusat Kantor Pertahanan, Kantor Pertahanan Provinsi Jawa Tengah ini berlangsung pada Rabu-Kamis (1-2/06/2016) bertempat di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.

“Masuk 8 besar pada babak semi final itu pun sudah sangat bersyukur. Sempat salah menjawab pertanyaan juri kami sudah pesimis bisa masuk final namun diluar dugaan bahkan kami membawa pulang tropi juara,” kata Angela.

Menurut penuturan kedua mahasiswi semester 2 prodi Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik ini persiapan lomba debat kali ini bisa dibilang “minimalis”. Diakui keduanya, peran Retno Dewi Pramodia Ahasani, SIP., M.P.A. selaku pembimbing sangat cekatan memberikan materi-materi yang berhubungan dengan tema lomba serta memberikan bimbingan intensif terutama saat menjelang hari perlombaan. “Kami baru mendapat surat pemberitahuan akhir bulan Mei sedangkan pelaksanaan lomba pada awal Juni. Waktu yang singkat itu kami manfaatkan semaksimal mungkin,” tutur Retno.

Mengangkat tema “Dengan cinta tanah air akan tercipta generasi muda Indonesia yang mampu menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)” lomba debat PCTA tahun 2016 ini diikuti 32 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Jateng. Lomba debat ini dibagi ke dalam 3 babak yaitu penyisihan, semi final dan final. Dari seluruh tim hanya 8 tim saja yang bisa masuk babak semi final dan akhirnya ditentukan 4 tim yang berhak masuk final. Keempat tim yang berhasil masuk final adalah UNTIDAR, UIN Walisongo dan 2 tim dari UNIMUS.

“Tema debat masih seputar maritim, perbatasan serta bagaimana generasi muda menanggapi isu-isu sosial yang terjadi akhir-akhir ini,” jelas Oktavia.

Perlombaan debat PCTA dibagi menjadi 2 kategori yaitu antar SMA dan perguruan tinggi. Kategori ini membedakan pola penilaian juri. Kategori siswa SMA lebih ditekankan pada poin pengetahuan umum mereka sedangkan untuk tingkat perguruan tinggi lebih ke bagaimana penalaran mahasiswa dalam menanggapi persoalan-persoalan yang sudah disediakan juri.

“Keuntungan menjadi mahasiswa Fisip, AN khususnya. Kami berdua sudah terbiasa bagaimana mengutarakan pendapat kepada orang lain baik dalam kegiatan perkuliahan atau organisasi sehingga sudah tidak canggung di depan juri,” tambah Oktavia.

Sebagai Juara 3 lomba debat/diskusi PCTA TA. 2016 tingkat perguruan tinggi se-Jateng, Angel dan Oktavia mendapatkan sebuah tropi dan uang pembinaan senilai Rp 1 juta. “Kami harap kedepannya ada tim debat masing-masing fakultas sebagai persiapan jika ada lomba debat semacam ini lagi,” tutur keduanya. Pada kesempatan ini, UNTIDAR mengirimkan 2 tim debat yaitu tim Angela dan Oktavia dengan pembimbing Retno Pramodia serta tim Rama Sudjana Sedjati dan Krisnaldo Triguswinri dengan pembimbing Shadu Satwika Wijaya S.Sos., M.Si.

DAFTAR ULANG SNMPTN UNTIDAR 2016, TIDAK ADA PEMBERIAN SANKSI ATAU BLACK LIST 

MAGELANG – Sebanyak 342 calon mahasiswa jalur SNMPTN 2016 melakukan registrasi pada Selasa (31/05/2016) lalu di auditorium Untidar. Dari total keseluruhan mahasiswa yang lolos selaksi SNMPTN yaitu 420 peserta, maka sebanyak 78 mahasiswa tidak mendaftar ulang. “Tidak ada black list atau sanksi kepada sekolah akibat mundur atau tidak melakukan registrasi SNMPTN,”kata Drs. Giri Atmoko, M.Si selaku Kepala Biro Akademik, Perencanaan dan Kerjasama (BAKPK).

Menurutnya, penerimaan mahasiswa baru lewat jalur SNMPTN yang baru pertama kalinya dilaksanakan di UNTIDAR berjalan aman dan lancar. Pemberian sanksi hanya berlaku jika ditemukan kecurangan seperti manipulasi data atau nilai rapor. Tapi sampai wawancara ini berlangsung belum ada pemberian sanksi ke calon mahasiswa maupun sekolah manapun. “Dua calon mahasiswa mengirimkan surat pengunduran diri karena diterima kerja atau sudah diterima di universitas lain. Saya yakin mereka punya alasan tersendiri hingga akhirnya mundur, kami menghargai keputusan itu,” jelas Giri.

DAFTAR ULANG SNMPTN UNTIDAR 2016, TIDAK ADA PEMBERIAN SANKSI ATAU BLACK LIST, 2

Drs. Giri Atmoko, M.Si selaku Kepala Biro BAKPK (kanan) memberikan pengarahan kepada seluruh calon mahasiswa SNMPTN bersama Prof. Ir. Ali Munawar, M.Sc., Ph.D., (kiri) dan Dr. Bambang Kuncoro, M.Si. (tengah).

Dari 342 calon mahasiswa jalur SNMPTN ini terdiri dari 214 penerima Bidikmisi dan 128 non Bidikmisi. “Mahasiswa penerima bidikmisi masih harus kami seleksi kembali, karena kuota Bidikmisi UNTIDAR hanya 90 orang untuk jalur SNMPTN dan SBMPTN,” kata Nuwun Priyono, S.E., M. Akt., Akt.

Selaku Ketua Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UNTIDAR, Nuwun menyatakan bahwa animo calon mahasiswa pada SNMPTN pertama yang mendaftar ke UNTIDAR ini cukup tinggi yaitu 2313 peserta. Jumlah ini dibagi dalam kategori PTN 1 yaitu peserta yang memilih UNTIDAR pada pilihan pertamanya sebanyanyak 641 peserta dan PTN 2 sebanyak 1672 peserta. Sedangkan untuk hasil seleksi, 243 peserta lolos dari seleksi PTN 1 dan 177 peserta dari PTN 2, total 420 peserta.

Persebaran jumlah calon mahasiswa SNMPTN yang telah mendaftar ulang paling banyak di Fakultas Teknik yaitu 116 peserta, Fakultas Ekonomi 48 peserta, Fisipol 50 peserta, FKIP 89 peserta dan Fakultas Pertanian 39 peserta.

Sekitar 16,2% dari total keseluruhan calon mahasiswa yang lolos seleksi tidak melakukan daftar ulang dan dinyatakan gugur. “Kuota mahasiswa yang gugur akan ditambahkan pada SBMPTN, jika masih belum terpenuhi juga maka akan dialihkan ke SM UNTIDAR,” tambah Nuwun.

ORMAWA SE-UNTIDAR SAMAKAN PERSEPSI PENGURUSAN PROPOSAL & SPJ KEGIATAN

MAGELANG – Menanggapi banyaknya keluhan mengenai pengurusan proposal dan Surat Pertanggungjawab (SPJ) kegiatan organisasi mahasiswa maka BEM KM Universitas Tidar mengadakan seminar admistrasi bertajuk “Meningkatkan Pemahaman dalam Menata Sistem Administrasi Ormawa UNTIDAR” pada Kamis (02/06/2016). Seminar yang diadakan di ruang multimedia ini mengundang seluruh perwakilan ormawa terutama sekretaris dan bendahara organisasi.

“Sering kali proposal dan SPJ direvisi berkali-kali. Maka itu kami ingin mempertemukan pihak birokrasi dengan mahasiswa secara langsung untuk membahas prosedur yang benar,” kata Alinda Putri Purnamasari, Ketua Panitia Seminar.

Bakti Surono, S.Pd., M.T dan Shofa Marwa, A.Md. menjelaskan bagaimana format SPJ keuangan kegiatan kemahasiswaan dan UKM. “Mahasiswa menyerahkan SPJ ke bagian keuangan maksimal 3 hari setelah kegiatan selesai,” ujar Shofa, Bendahara Pengeluaran UNTIDAR.

Salah satu perwakilan dari UKM Grandio Sonora Tidar mengajukan beberapa pertanyaan pada pemateri.

Salah satu perwakilan dari UKM Grandio Sonora Tidar mengajukan beberapa pertanyaan pada pemateri.

Penyerahan SPJ disertai dengan proposal kegiatan dilampiri SPP (Surat Permintaan Pembayaran), nota pembelian, daftar honor atau transport, daftar hadir, notulen, dan foto kegiatan. Kedua pemateri dari bagian keuangan tersebut juga menjelaskan cara pengisian SPJ tahap demi tahap sekaligus menjawab pertanyaan ormawa mengapa SPJ sering direvisi. “Kalau masih bingun atau butuh penjelasan tambahan, langsung saja ke bagian keuangan,” tambah Bakti.

Materi mengenai alur pengusulan proposal dijelaskan oleh Andi Setiawan, A.Md. staff pembantu Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). “Proposal diajukan kepada Rektor selanjutnya ke wakil rektor, lalu ke staff PPK yang kemudian diserahkan ke PPK baru setelah itu ke bagian keuangan,” jelas Andi.

Menurut Xander Salahudin, S.T., M.Eng., dan Moch. Malik Al Firdaus, S.Pd., M.Pd. kelancaran sebuah kegiatan ditentukan dari proposal, alur pengusulan, dan SPJ. “Setiap ormawa harus jelas kepengurusan dan AD ARTnya sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengajuan kegiatan,” kata Malik. Sebagai staff ahli Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Xander dan Malik sedang mempersiapkan SOP bidang kemahasiswaan yang nantinya digunakan sebagai acuan pembuatan SOP masing-masing ormawa. “Suatu saat kami akan meminta langsung data konkret masing-masing ormawa, jadi dihimbau sudah mulai disusun dari sekarang,” tambahnya.

Menindaklanjuti materi pembuatan proposal yang belum terpenuhi, besar kemungkinannya BEM KM akan segera menyelenggarakan seminar/workshop lanjutan.

UKAI RAMAIKAN KAMPUS DENGAN RANGKAIAN KEGIATAN GEBYAR RAMADHAN

MAGELANG – Unit Kegiatan Agama Islam (UKAI) “Ar-Ribath” Universitas Tidar menyelenggarakan serangkaian acara dalam rangka menyemarakkan bulan Ramadhan 1437 H / 2016. Mengusung tajuk Gebyar Ramadhan Kampus dengan mengangkat tema “Amal Jama’i dalam Akhlak Qurani di Bulan Suci”.

“Rangkaian acara sudah dimulai seminggu sebelum Ramadhan dengan adanya acara tarhib ramadhan berupa lomba-lomba internal mahasiswa kampus dan festival musik religi,” kata Slamet Prakoso selaku Ketua Panitia.

Secara keseluruhan Gebyar Ramadhan Kampus terbagi dalam beberapa acara yaitu tarhib ramadhan, ibadah bersama, dan kajian Ramadhan. “Dari acara tersebut nanti dibagi lagi dalam beberapa sub acara seperti Tarling, saur on the road dan GSJ,” tambah Slamet.

Ramadhan kali ini, UKAI mengagendakan Gerakan Subuh Jamaah (GSJ) di masjid Mambaul Ulum UNTIDAR. Kegiatan ini direncanakan akan dilaksanakan pada minggu ke-2 Ramadhan. “GSJ baru pertama kalinya dilaksanakan Ramadhan ini. Acara ini nanti dilaksanakan sepaket dengan Tarling, saur bersama lalu solat subuh berjamaah,” kata Ahmad Zamroni.

Menurut Zamroni, koordinator tarhib Ramadhan, shalat subuh merupakan ibadah yang sering dilalaikan kamu muslim terlebih untuk melaksanakannya secara berjamaah di masjid. Padahal dalam Al Quran dan hadist sudah dijelaskan banyak keutamaan solat subuh berjamaah.

Salah satu keutamaan solat subuh berjamaah adalah terbukanya peluang mendapatkan pahala haji atau umrah. Dari Anasibn Malik Radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu alaihi wassalam yang bersabda “Barang siapa yang shalat Subuh berjamaah kemudia dia duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lantas shalat dua rakaat, maka baginya pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sempurna,” (HR. Tirmidzi).

Suasana buka puasa bersama salah satu kegiatan Gebyar Ramadhan Kampus UKAI UNTIDAR, Senin (06/06/2016) di Masjid Mambaul Ulum.

Suasana buka puasa bersama salah satu kegiatan Gebyar Ramadhan Kampus UKAI UNTIDAR, Senin (06/06/2016) di Masjid Mambaul Ulum.

Selama bulan Ramadhan, UKAI menyelenggarakan acara buka bersama. Acara ini pertama kali diselenggarakan, Senin (06/07/2016) di masjib Mambaul Ulum Untidar. Pada buka puasa bersama perdana ini, Ali Imron, S.S., M.Hum., dosen Prodi Bahasa Inggris, FKIP berkesempatan mengisi kultum sekaligus menjadi imam solat magrib berjamaah. “Buka puasa perdana mengundang seluruh perwaklian ormawa di kampus, alhamdulillah banyak yang datang baik ikhwan dan akhwat,” tutur Slamet. Selain buka puasa bersama, kegiatan tadarus dan solat tarawih berjamaah juga dilaksanakan tiap hari di masjid kampus. Imam sholat tarawih perdana adalah Ibrahim Nawawi, S.T., M.T.

“PERSIMPANGAN” BOYONG KULIAH KE ATAS PANGGUNG

MAGELANG – “Oh itu mudah saja. Tiap orang tahu. Orang hapal. Pokoknya kita harus selalu melalui jalan kebenaran, jalan ke kanan. Jalan itulah yang akan menyampaikan kita ke surga,” ucap salah satu aktor dalam pementasan teater bertajuk “Persimpangan”, Senin (30/05/2016) lalu di auditorium UNTIDAR.

Pementasan teater oleh mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan semester 4 ini untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah drama pentas.

“Menciptakan adalah tataran tertinggi dalam pembelajaran. Maka itu dalam mata kuliah pentas drama ini mahasiswa tidak hanya dituntut untuk mengetahui, memahami, mengaplikasikan, evaluasi dan sintesis tapi juga mampu menciptakan sebuah pementasan drama,” jelas Imam Baihaqi, S.Pd., M.A. pengampu mata kuliah drama pentas.

Sebelumnya, seluruh mahasiswa kelas C dan D atau disebut dengan Recede (Rewo-rewo kelas C dan D) telah mengikuti tahap casting pada saat Ujian Tengah Semester (UTS) beberapa bulan lalu. Tahap casting menentukan 15 orang pemain utama sisanya menjadi tim pendukung. Secara keseluruhan, total 65 mahasiswa dibagi dalam 2 kelompok yaitu artistik dan produksi. Tim artistik terdiri dari pemain (aktor/aktris), sutradara, dan asisten sutradara, tim artistik, lighting, dan setting. Sedangkan tim produksi terdiri dari pimpinan produksi, sekretaris, bendahara, sie acara, konsumsi, dan perlengkapan. Pembagian ini menentukan proporsi dan jobdesk masing-masing individu.

“Penilaian nantinya berdasarkan presensi kehadiran pada saat latihan dan sejauh mana kontribusi mahasiswa dalam keseluruhan proses pementasan ini,” tambah Imam.

Berdasarkan pengalamannya menjadi bagian dari Teater Akar Universitas Negri Yogyakarta (UNY) dulu, penampilan Recede dengan segala keterbatasan dan persiapan yang belum maksimal sudah cukup memuaskan. “Pementasan teater ‘Persimpangan’ berhasil mendatangkan 350 penonton bahkan sebagian besar berasal dari luar UNTIDAR,” jelas Imam.

Mahasiswa semester 4 PBSI FKIP UNTIDAR kelas C & D berakting dalam pementasan teater “Persimpangan”.

Mahasiswa semester 4 PBSI FKIP UNTIDAR kelas C & D berakting dalam pementasan teater “Persimpangan”.

Naskah “Persimpangan” karya P. Haryanto yang dipentaskan Recede Teater menceritakan mengenai orang-orang yang ingin mencari kebahagiaan di surga yang identik dengan arah kanan. Namun, pada akhirnya orang-orang terjadi konflik mengenai hakikat arah kanan itu sendiri karena sisi kanan masing-masing orang berbeda.

“Secara keseluruhan saya puas. Dengan segala keterbatasan yang ada teman-teman sudah berusaha semaksimal mungkin dalam mewujudkan pementasan drama ini,” kata Nurul Huda, sutradara pementasan “Persimpangan” yang juga merupakan Ketua UKM Bengkel Seni UNTIDAR.

SAMBUT RAMADHAN, UKAI “AR-RIBATH” GELAR FESTIVAL MUSIK RELIGI

MAGELANG – Menyambut Bulan Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi, Unit Kegiatan Agama Islam (UKAI) “Ar-Ribath” Universitas Tidar menggelar Festival Musik Religi. Sebanyak 11 grup vokal dan musik memperebutkan gelar juara pada Rabu (01/06/2016) di auditorium UNTIDAR.

“Tidak ada ketentuan harus grup vokal saja atau grup musik. Kami membebaskan penampilan peserta yang penting tetap dalam tema religi,” kata Siswo Eriyanto, koordinator Festival Musik Religi.

Peserta berasal dari SMA/SMK dan MA dari Kota maupun Kabupaten Magelang bahkan ada satu grup yang datang dari luar kota yaitu SMA N 1 Kebumen. Pihak internal kampus pun ikut menyemarakan acara ini diantaranya Grandio Sonora Tidar, Bengkel Seni, Kopi Susu (FKIP) dan grup HMTM.

“Selain tampil diatas panggung, grup nasyid G-Vo juga didaulat sebagai Juri,” tambah Siswo.

Secara keseluruhan, penampilan peserta dibagi menjadi 3 grup yaitu accapella, band dan solo/grup vokal. Setelah pembagian ini maka pada tiap-tiap genre dicari yang paling tinggi nilainya berdasarkan kriteria vokal, harmonisasi, performance, dan musikalisasi.

“Acara semacam ini perlu ditingkatkan kembali. Bagaimana merubah yang melalaikan menjadi mengingatkan. Tetap kekinian tapi religiusitasnya jangan ditinggalkan,” tutur Deva, salah satu juri yang juga anggota G-Vo.

Berdasarkan penilaian juri, SMA N 3 Magelang ditetapkan menjadi juara 1 mendapatkan sertifikat, tropi serta uang pembinaan senilai Rp 1 juta. Juara kedua diraih Kopi Susu (FKIP UNTIDAR) dan Juara 3 MA Ma’arif Borobudur, masing-masing mendapatkan sertifikat tropi dan uang pembinaan senilai Rp 750ribu dan Rp500ribu. Secara spontan, tim juri menambahkan 3 juara harapan yaitu Harapan 1 dimenangkan oleh SMA N 1 Kebumen, Harapan 2 SMK N 1 Magelang dan Harapan 3 SMK Syubbanul Wathon Tegalrejo. Masing-masing juara harapan mendapatkan tropi khusus persembahan dari G-Vo.

“Grup SMA N 3 Magelang pantas mendapatkan gelar juara karena kami lihat penampilan mereka maksimal mulai dari vokal, penampilan sampai pada kostum semua dipersiapkan dengan sangat baik,” jelas Nanang.

Juara 1 Festival Musik Religi UKAI “Ar-Ribath”, grup SMA N 3 Magelang berfoto bersama G-Vo seusai penyerahan hadiah.

Juara 1 Festival Musik Religi UKAI “Ar-Ribath”, grup SMA N 3 Magelang berfoto bersama G-Vo seusai penyerahan hadiah.

G-Vo atau Granada Voice adalah grup nasyid yang tediri dari Niko (vokal), Tyo (saxophone), Deva (bass), Sigit (ritmis), Nanang (vokal 2) dan Dimas sebagai additional (beatbox). Grup nasyid yang mampu menyanyikan lagu dalam berbagai genre seperti acapella, pop dan dangdut ini mengapresiasi acara yang diadakan UKAI ini bahkan mereka mengajak semua peserta khususnya grup nasyid untuk bergabung di acara nasyid on the street pada Ramadhan mendatang.

Mengangkat tema “Ramadhan Inspirasimu”, UKAI UNTIDAR ingin menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan penuh suka cita serta tetap menjalin silaturahmi dengan semua peserta yang hadir. Selama bulan Ramadhan mendatang, UKAI sudah mempersiapkan berbagai acara seperti Ibadah bersama, kajian dan UKAI Care (bakti sosial).