BERPETUALANG SELAGI BERBAGI ILMU KE DAERAH PEDALAMAN INDONESIA

Menjadi pengajar di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) bukanlah hal yang mudah. Amar, Umi, Anisa, Joko, dan Rahayu berbekal tekad dan semangat untuk memajukan pendidikan bagi anak-anak Indonesia, rela jauh dari tanah kelahiran mereka untuk menjadi pendidik di beberapa daerah pedalaman Indonesia.

Pada acara Talkshow dan Training Motivation SM3T dan Guru Perintis, Sabtu (18/06), Himpunan Mahasiswa Bidikmisi UNTIDAR (Himadiktar) mengajak mahasiswa terutama penerima bidikmisi untuk mengikuti jejak para seniornya Amar Ma’ruf sebagai pendidik program SM-3T di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara dan Anisatul Fuadiyah sebagai pendidik dalam program Guru Perintis di Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak Papua yang merupakan alumni FKIP UNTIDAR.

“Satu kata bisa mengubah makna, apalagi satu tindakan datang ke 3T berarti perubahan akan bisa dilakukan,” tutur Amar.

Selama 1 tahun menjadi pendidik di Kampung Kulur II, Kecamatan Tabukan Tengah, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Amar dengan rekannya Umi Qodarsasi memaparkan pengalaman mereka di depan mahasiswa semester 2, 4 dan 6 dengan harapan muncul penerus mereka dikemudian hari khususnya mahasiswa UNTIDAR.

Program Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (SM3T) merupakan program Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang mengirimkan guru/pendidik ke berbagai pelosok negeri.

“Ada proses pendaftaran, seleksi, pembekalan serta pelatihan dahulu sebelum diterjunkan ke wilayah yang ditentukan,” tambah Amar.

Program SM-3T tidak hanya fokus pada kegiatan belajar-mengajar, para peserta mengikuti sosialisasi anti narkoba, pelatihan militer dan pelatihan-pelatihan sesuai potensi daerah. “Di Sangihe kami juga memberi pelatihan pembuatan manisan pala, karena banyak yang menamam pohon pala disana,” jelas Amar.

Talkshow dan Training Motivation SM3T dan Guru Perintis, Sabtu (18/06) dihadiri mahasiswa semester 2, 4 dan 6 khususnya penerima Bidikmisi.

Talkshow dan Training Motivation SM3T dan Guru Perintis, Sabtu (18/06) dihadiri mahasiswa semester 2, 4 dan 6 khususnya penerima Bidikmisi.

Guru Perintis dan Indonesia Mengajar

Seperti halnya SM-3T, program Guru Perintis dan Indonesia Mengajar pun menyasar wilayah-wilayah yang belum atau masih tertinggal terutama dalam segi pendidikannya. Guru Perintis adalah program kerjasama Pemerintah Kabupaten Intan Jaya dengan Kelompok Kerja Papua UGM dan Pusat Pengembangan Kapasitas dan Kerjasama (PPKK) FISIPOL UGM.

Anisatul Fuadiyah dan Joko Rianto merupakan angkatan pertama Guru Perintis yang ditempatkan di Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak Papua. Program guru perintis merupakan program 5 tahunan yang dimulai tahun 2013 – 2016.

“Fasilitas pendidikan sangat minimalis. Satu gedung sekolah digunakan untuk SD, SMP, SMA dan SMK. Nanti bergantian waktunya antara jam pagi dan jam siang,” kata Anisa.

Sependapat dengan Anisa, Rahayu Setiyaningrum yang berkesempatan menjadi tenaga pendidik di Kampung Besiq, Kecamatan Damai, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur bahkan harus memakai sampan ketika berangkat menuju sekolah jika musim hujan datang.

“Tidak mudah namun, kami percaya banyak mutiara-mutiara yang terpendam di masing-masing daerah tertinggal ini yang mungkin adalah bibit pemimpin yang unggul dikemudian hari nanti,” tutur Rahayu.

Program gagasan Anis Baswedan ini sudah berjalan mulai dari tahun 2013 lalu, berbeda dengan program SM3T yang harus berasal dari jurusan pendidikan, pengajar muda Indonesia Mengajar diperbolehkan dari semua disiplin ilmu. “Untuk yang berlatar non keguruan, kami diberikan pembekalan seperti pelatihan penyusunan perangkat pembelajaran. Syarat calon peserta yaitu sarjana dengan IPK minimal 3,25, pernah melakukan pelatihan leadership, dan aktif dalam kegiatan sosial.”, ungkap Rahayu

Pendidikan merupakan tolok ukur kemajuan suatu bangsa. Program SM-3T, Guru Perintis maupun Indonesia Mengajar upaya mencerdaskan anak bangsa khususnya di daerah yang belum tersentuh atau minim fasilitas dari Pemerintah. Ribuan pendaftar mengikuti seleksi program-program ini setiap tahunnya membuktikan bahwa generasi muda sudah peduli dan tergerak untuk memajukan bangsa ini lewat pemerataan pendidikan di seluruh penjuru negeri ini. (NV/DN)

REKTOR UNTIDAR TANGGAPI POSITIF KETERBUKAAN ORMAWA

MAGELANG – Sebagai upaya membangun jalinan komunikasi antara ormawa dan jajaran pimpinan Universitas Tidar, Rektor Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd. menggelar acara Sosialisasi Pelaksanaan dan Pelaporan Kegiatan Kemahasiswaan, Selasa (21/06) bertempat di Borobudur International Golf & Country Club Resto, Parama Hall Lantai 2.

Tak hanya mendengarkan penjelasan namun mahasiswa diberi kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya dan mendapatkan tanggapan langsung dari pimpinan atau bagian yang bersangkutan.

“Universitas selalu mendukung kegiatan mahasiswa. Jika ada permasalahan baiknya dikomunikasikan dahulu dengan bagian yang bersangkutan sehingga bisa dicarikan solusinya,” tutur Rektor UNTIDAR.

Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd. saat memberi tanggapan kepada perwakilan BEM KM dan BLM UNTIDAR

Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd. saat memberi tanggapan kepada perwakilan BEM KM dan BLM UNTIDAR

Dalam kesempatan ini, selain perwakilan dari seluruh ormawa juga hadir para pendamping masing-masing. Saat ini terdapat 17 ormawa atau disebut juga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yaitu UKM Penelitian (PHBD), UKM Kreatifitas Mahasiswa, UKM Pers Mahasiswa, UKM Radio, UKM Bahasa Asing, UKM Bengkel Seni dan Tari, UKM Paduan Suara, UKM Olahraga dan Beladiri, UKM Mapala Sulfur, UKM Agama Islam dan MTQ, UKM Kristiani, UKM Koperasi Mahasiswa, UKM Mahasiswa Wirausaha, UKM Resimen Mahasiswa, UKM Pramuka, UKM Korps PMI, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Badan Legislatif Mahasiswa (BLM).

Selain Rektor, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Bambang Kuncoro. M.Si., dan Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan, Drs. Hery Suroso, S.T., M.T juga ikut memberi penjelasan mengenai bebererapa permasalahan kemahasiswaan serta penjelasan alur dana untuk kegiatan organisasi.

“Waktu sudah mepet, tapi mengapa belum ada kejelasan mengenai Masimaru besok? Apakah kepanitiaan akan dijalankan seperti tahun lalu atau berbeda?,” tanya Agus Mukhlis perwakilan BEM KM.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Rektor UNTIDAR memberi kesempatan mahasiswa sebagai panitia pelaksana Masa Orientasi Mahasiswa Baru (Masimaru) 2016/2017 mendatang. Namun, tidak sepenuhnya semua dilaksanakan oleh mahasiswa tetap nantinya ada beberapa dosen atau staf yang dilibatkan untuk mengawasi jalannya acara.

Rama Sudjana, perwakilan BLM memaparkan bagaimana prosedur pembentukan UKM yang baru. Pada pelantikan BEM, BLM dan pendamping Mei lalu tiba-tiba muncul beberapa UKM baru sedangkan yang selama ini mahasiswa ketahui bahwa dalam pembentukan UKM baru perlunya percobaan dahulu selama masa tertentu.

Mahasiswa perwakilan ormawa menikmati menu buka bersama seusai acara.

Mahasiswa perwakilan ormawa menikmati menu buka bersama seusai acara.

Seusai acara ini, seluruh tamu undangan berbuka bersama dengan menu yang sudah disediakan panitia. Mahasiswa dan dosen menikmati menu berbuka sambil bercakap-cakap santai. Acara ini diharapkan membuat mahasiswa, pendamping, dosen maupun jajaran pimpinan UNTIDAR lebih akrab sehingga kedepannya dapat membangun komunikasi yang lebih baik. (DN)

PKMK 2016 : LEGITNYA DODOL BATANG KULIT PEPAYA

Selain buah, daun dan bunga, pemanfaatan bagian tumbuhan pepaya lainnya masih jarang kita temukan terlebih batangnya. Batang pepaya yang identik dengan rasa pahit ini dirubah menjadi jenang dodol anti tumor dan kanker.

“Batang pepaya mengandung banyak getah putih seperti susu yang disebut sebagai white milky latex yang kini dikembangkan sebagai anti kanker,” jelas Destiana Rizki Fauzia.

Menurut Bouchut dalam Journal Society of Biology, getah pepaya sudah dibuktikan secara ilmiah memiliki kandungan papain yang bersifat anti tumor dan kanker.

Menurut Desti, idel awal pemanfaatan batang pohon pepaya ini berasal dari sang nenek. Jaman dahulu, batang pohon pepaya sudah dimanfaatkan sebagai campuran makanan karena diyakini memiliki banyak khasiat. Dari sinilah kemudian Desti (PBSI/FKIP) bersama ketiga temannya yaitu Regina Puspa Hapsari (PBSI/FKIP), Juniyanti (Sipil/FT) dan Kintan Niklas Devitalia Salma (Sipil/FT) mencoba membuat inovasi berupa Jenang Dodol Batang Pohon Pepaya atau lebih dikenal dengan Jendol Bang Popeye.

 “Banyak orang yang awalnya penasaran rasa dodolnya, mereka mengira masih pahit tapi tidak sama sekali rasanya mirip dodol kebanyakan tapi lebih banyak manfaatnya,” tambah Desti.

Seperti halnya dodol lainnya, bahan utama Jendol masih menggunakan tepung beras ketan, gula aren dan santan yang membedakan adalah penambahan ekstrak daun pepaya untuk menambah nilai gizinya. Tidak hanya kenyal dan manis namun juga menyehatkan.

Tak perlu merogoh dompet dalam-dalam untuk mendapatkan satu bungkus Jendol Bang Popeye berisi 12 potong dodol. Desti dan kawan-kawannya hanya mematok harga Rp 10ribu per bungkus. Untuk mendapatkan produk ini bisa mengunjungi laman Facebook Jendol Bang Popeye atau Instagram Jendol_bangpopey atau bisa menghungi langsung kontak 08882710615.

Menurut Desti, pengembangan produk dan pemasaran Jendol Bang Popeye terus dilakukan salah taunya dengan pengajuan PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) di Dinas Kesehatan setempat agar kedepannya produk bisa dijual di toko-toko kebanyakan. Sebagai salah satu industri rumahan, ijin PIRT diperlukan sebagai jaminan bahwa usaha makanan atau minuman rumahan yang dijual memenuhi standar keamanan makanan sekaligus menjadi syarat ijin edar makanan tersebut.

“Jendol Bang Popeye” atau Jenang Dodol Batang Pohon Pepaya salah satu produk PKMK UNTIDAR 2016.

“Jendol Bang Popeye” atau Jenang Dodol Batang Pohon Pepaya salah satu produk PKMK UNTIDAR 2016.

Jendol Bang Popeye ini merupakan salah satu dari 15 proposal Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) UNTIDAR yang lolos dan didanai Kementrian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi yang dinyatakan dalam surat Direktoral Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemristekdikti Nomor 117/B3.1/KM/2016 yang diumumkan 22 Februari 2016 lalu.

CINTAI RAMADHAN DENGAN BERIBADAH SEPENUH HATI

MAGELANG –  Setiap bulan Ramadhan tiba, semua umat muslim melaksanakan kewajiban berpuasa dan dianjurkan melengkapinya dengan amalan sunah lainnya. Janji Allah SWT melipatgandakan pahala atas setiap ibadah di bulan suci ini tentunya tidak ingin dilewatkan para umat muslim begitu saja.

“Mengisi Ramadhan dengan amalan-amalan yang disadari penuh saat mengamalkannya, bukan sebatas formalitas saja tapi murni dari hati,” tutur Ali Imron, S.S., M.Hum., Kamis (16/06/2016).

Ali yang juga Dosen Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP UNTIDAR ini berkesempatan menjadi pembicara pada Kajian Rutin Ramadhan minggu ke-2 yang diadakan oleh UKAI “Ar-Ribath” mengangkat tema Cintaku Bersemi di Bulan yang Suci (Allah SWT dan RasulNYA) bertempat di Masjid Mambaul Ulum.

Ali Imron, S.S., M.Hum., (kiri) saat menyampaikan tauziah dengan tema Cintaku Bersemi di Bulan yang Suci (Allah SWT dan RasulNYA) bertempat di Masjid Mambaul Ulum, Kamis (16/06/2016)

Ali Imron, S.S., M.Hum., (kiri) saat menyampaikan tauziah dengan tema Cintaku Bersemi di Bulan yang Suci (Allah SWT dan RasulNYA) bertempat di Masjid Mambaul Ulum, Kamis (16/06/2016)

“Saat Ramadhan berlalu akan ada penyesalan karena tak mampu beribadah sebanyak-banyaknya dan rasa janggal ketika amalan itu tidak dilakukan di kehidupan sehari-harinya,” tambah Ali.

Amalan Ramadhan seperti puasa, tadarus, bangun malam, dan zakat hendaknya bukan semata karena kewajiban atau rutinitas, bukan pula hanya sebuah “hitung-hitungan” pahala tapi dijalankan dengan ikhlas akan membuat kita begitu “kecanduan” beribadah bahkan setelah Ramadhan berlalu. Amalan ini juga merupakan wujud cinta kepada Allah SWT dan RasulNYA.

“Kajian ini merupakan program rutin tiap hari Kamis tapi khusus Ramadhan bagi peserta kami sediakan takjil untuk buka puasa,” kata Slamet Prakoso, anggota UKAI yang sekaligus Ketua Ramadhan di Kampus.

Tidak hanya diperuntukan untuk anggota UKAI saja namun juga terbuka untuk seluruh sivitas akademika UNTIDAR lainnya. Selama bulan Ramadhan ini Unit Kegiatan Agama Islam “Ar-Ribath” telah mempersiapkan berbagai acara salah satunya kajian rutin, buka bersama, Tarawih Keliling (Tarling), Tadarus, Saur On The Road, dan sholat subuh berjamaah. Tarling perdana akan dilaksanakan Sabtu (18/06/2016) di rumah Ibrahim Nawawi, S.T., M.T.

HARYANTO SEPAKAT MASUKKAN UNSUR KEBUDAYAAN PADA KURIKULUM PENDIDIKAN

MAGELANG – Dewasa ini dapat kita lihat lebih banyak anak muda yang bangga menggunakan baju bernuansa denim/jeans daripada batik atau lurik. Sebagian diantaranya pun menggunakan bahasa asing dan bahasa gaul dalam percakapan sehari-hari.

“Gak keren kalau tidak mengikuti trend baju luar negeri atau tidak menggunakan bahasa alay,” kata Haryanto Kristanto, Senin (13/06/2016).

Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) jenjang Diploma yang sekaligus mewakili UNTIDAR pada seleksi nasional ini mengangkat fenomena budaya lokal yang mulai tergerus arus globalisasi ke dalam sebuah karya ilmiah berjudul Menjaga Budaya Bangsa dengan Pendidikan Budaya Nusantara Sejak Dini. Menurut mahasiswa jurusan Akutansi semester 4 ini jika tidak dijaga maka besar kemungkinan kebudayaan nusantara perlahan akan tergeser budaya barat bahkan menghilang. Maka itu dengan karya ilmiahnya ini, Haryanto mencoba memaparkan pentingnya memasukkan kebudayaan nusantara pada kurikulum pendidikan.

“Kita dapat mulai memberikan pengarahan dan juga pelatihan-pelatihan kesenian seperti membatik atau menari,” jelas Haryanto.

Pembiasaan atau pendekatan beraneka ragam kebudayaan yang dirumuskan dalam suatu kurikulum mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi diharapkan mampu menumbuhkan sikap cinta kebudayaan lokal.

Berpegang teguh pada pedoman hidupnya never think to be the best but i’ll give the best, Haryanto mengaku sudah berusaha semaksimal mungkin dalam setiap tahap persiapan seleksi Mawapres tingkat nasional yang akan diumumkan pertengahan Juni ini.

Anak tunggal kelahiran 20 Mei 1996 ini mengaku pernah mengikuti kursus Bahasa Jawa dengan Bapak Ketua RT di lingkungan rumahnya. “Karena saya tinggal dan hidup disekitar pasar (ngasem), berbicara dengan bahasa Jawa itu terkesan lebih ngajeni,” kata Haryanto. Sebagai keturunan etnis Tionghoa kemampuan Haryanto dalam bercakap bahkan berpidato Bahasa Jawa dapat dikatakan lebih fasih daripada teman-teman sebayanya yang asli orang Jawa.

Haryanto merupakan mahasiswa yang memiliki prestasi baik dalam bidang akademik maupun organisasi kemahasiswaan. Dengan segudang kegiatannya di Himpunan Mahasiswa Akutansi (Himakta), Himpunan Mahasiswa Bidikmisi Untidar (Himadiktar), Unik Kegiatan Mahasiswa Kristen (UKMK) dan English Debat Society (EDS), Haryanto juga aktif dalam kegiatan perkuliahan sehari-harinya terbukti dengan IPK terakhirnya yang tergolong tinggi dan menyandang predikat cumlaude yaitu 3,72.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, seleksi Mawapres Nasional tahun 2016 tiap-tiap perguruan tinggi mengirikan 2 kandidat, satu dari jenjang Diploma dan satunya lagi dari jenjang Sarjana. Wakil Mawapres 2016 dari UNTIDAR adalah Haryanto Kristanto untuk jenjang diploma dan Esterika Denasepti untuk jenjang Sarjana.

PKMK 2016 : MIMIK BALON PERINTIS SUVENIR RAMAH LINGKUNGAN

Sempat dikunjungi Walikota Magelang, Sigit Widyonindito pada Kedu Expo 2016 lalu, Miniatur Mobil Antik dari Limbah Paralon disingkat menjadi Mimik Balon mendapat apresiasi yang positif. Menurut penuturan Sigit saat itu, sebuah produk harus memiliki nilai seni tinggi, berkualitas dan memiliki ciri khas atau keunggulan dibanding produk lain sehingga mudah dilirik konsumen.

Produk hasil Program Kreatifitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKMK) yang lolos seleksi Dikti Februari 2016 lalu ini cukup mencuri banyak perhatian pengunjung.

“Banyak yang mengira miniatur mobil antik ini dibuat dari kayu padahal sebenarnya dari pralon bekas,” kata Taufik.

PKMK dengan judul Mimik Balon (Miniatur Mobil Antik dari Limbah Pralon) Perintis Suvenir Ramah Lingkungan ini beranggotakan 3 orang yaitu Sita Naili Solihah sebagai Ketua (PBI/FKIP), Taufik Hidayat (Agroteknologi/FP) dan Serli Briliantika (PBI/FKIP). Mengaku terinspirasi dari tayangan televisi tentang pengolahan limbah pralon menjadi vas bunga, Taufik dan teman-teman sekelompoknya mencoba mencari ide lain.

Limbah pralon merupakan jenis limbah non organik yang tidak bisa membusuk ditanah. Pengolahan limbah pralon ini diharapkan mampu mengurangi jumlah limbah serta memanfaatkannya menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi.

“Agar dapat dibentuk bermacam-macam maka pralon dibakar kemudian dijadikan lempengan-lempengan yang bisa dipotong sesuai desain,” jelas Taufik.

Taufik “Aveq” Hidayat saat menjada stand Mimik Balon di Kedu Expo 2016 di samping berbagai produk olahan pralon bekas.

Taufik “Aveq” Hidayat saat menjada stand Mimik Balon di Kedu Expo 2016 di samping berbagai produk olahan pralon bekas.

Menurut satu-satunya mahasiswa semester 2 dalam kelompok PKMK Mimik Balon ini, Taufik menyatakan bahwa ide pembuatan miniatur mobil antik datang setelah produk awal yaitu miniatur mobil masa kini selesai. Warna pralon pasca dibakar menghasilkan warna coklat alami sehingga lebih cocok jika dibuat menjadi mobil antik. Belum banyak penghasil produk miniatur mobil khususnya yang terbuat dari pralon, kesempatan ini dimanfaatkan oleh Taufik dan teman-teman se-timnya.

“Awalnya inginnya hanya spesialisasi mobil kodok saja namun kini berkembang ke model mobil jadul lainnya juga,” kata Taufik.

Pemasaran produk Mimik Balon saat ini masih memanfaatkan media sosial, pameran, dan promosi dari mulut ke mulut. Produk olahan pralon bekas ini pun berkembang ke bentuk lainnya seperti tempat aqua, kapal dan setrika jadul. Produk dijual mulai dari harga Rp 30ribu sampai ratusan ribu tergantung pada ukuran dan kerumitan pembuatan.

TUMBUHKAN JIWA WIRAUSAHA, HIMEPA AJARI ANAK PANTI ASUHAN DAARUS SUNDUS MEMBUAT GELANG BAMBU

MAGELANG – Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan (Himepa) UNTIDAR bekerjasama dengan Ikatan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Indonesia (IMEPI) wilayah Jawa Bagian Tengah dan Kementrian Pengabdian, Pengembangan, dan Pemberdayaan (P3M) IMEPI Nasional menyelenggarakan kegiatan bakti sosial di Panti Daarus Sundus, Dusun Bogowati Lor, Borobudur, Kabupaten Magelang, Sabtu (11/06/2016).

“Ada diskusi, pelatihan membuat gelang bambu, hiburan dan buka bersama,” kata Muhammad Nur Khabib, Ketua HIMEPA.

Ibu dari kelompok PKK Bandongan, Salaman (baju biru) mengajarkan bagaimana membuat gelang dari bambu kepada anak panti (baju hijau) dan para peserta baksos lainnya.

Ibu dari kelompok PKK Bandongan, Salaman (baju biru) mengajarkan bagaimana membuat gelang dari bambu kepada anak panti (baju hijau) dan para peserta baksos lainnya.

Pelatihan pembuatan gelang Bambu ini melibatkan kelompok PKK Desa Bandongan, Salaman. Kedepannya, anak panti diharapkan dapat berwirausaha sendiri secara mandiri tidak hanya bergantung pada donatur semata. Gelang Bambu hasil pelatihan ini dapat dipasarkan disekitar lokasi Candi Borobudur. Hasil penjualan gelang dapat digunakan untuk membantu biaya operasional panti sehari-harinya.

“Tak hanya saat bakti sosial ini, kami sudah merencanakan untuk terus memantau perkembangan wirausaha anak panti dan memberi pendampingan untuk kedepannya,” tambah Khabib.

Fuzna Marzuqoh, dosen UM Magelang yang juga berprofesi sebagai motivator menyampaikan pentingnya sikap positif dalam berwirausaha, yakni adanya rasa khusyuk, ikhlas, pasrah dan syukur. Dosen Fakultas Kesehatan ini juga menyampaikan pentingnya manajemen sebagai awal kesuksesan berwirausaha.

Seusai penyampaian Fuzna, acara dilanjutkan dengan sharing bersama kelompok Ibu-ibu PKK Salaman mengenai usaha mereka membuat kerajinan salah satunya gelang bambu. Permasalahan-permasalahan baik manajemen, proses pembuatan hingga pemasaran dibahas satu persatu. Peserta baksos baik dosen maupun mahasiswa diberi kesempatan untuk menyampaikan pemikirannya sebagai solusi dari permasalahan kelompok PKK tersebut.

Background ilmu kita, Ekonomi Pembangunan, kebetulan erat kaitannya dengan wirausaha dan perkembangan ekonomi diharapkan saran teman-teman dapat membantu,” tutur Khabib.

Bakti sosial kali ini dihadiri para dosen Fakultas Ekonomi Untidar, perwakilan IMEPI Jabagteng yang berasal dari UKSM, UNNES, UMY, UII dan Atmajaya Yogyakarta. Sedangkan Trisakti dan IPB sebagai perwakilan IMEPI Nasional. Program tahunan IMEPI yang sebelumnya diadakan di Semarang (UNNES) kali ini untuk pertama kalinya UNTIDAR berkesempatan menjadi tuan rumah. Selain buka bersama, hasil penggalangan dana selama 1 bulan terakhir diberikan dalam wujud bantuan alat tulis, perlengkapan ibadah serta baju pantas pakai untuk anak-anak dan pengelola panti asuhan.

LAWAN KANTUK & HAWA DINGIN, UKAI BAGI-BAGI SAHUR DI SEKITAR KAMPUS

MAGELANG – Unit Kegiatan Agama Islam (UKAI) “Ar-Ribath” Universitas Tidar membagikan sahur gratis bagi mahasiswa yang indekos di sekitar kampus, Sabtu (11/06/2016). Malam sebelumnya selepas shalat Tarawih berjamaah, anggota UKAI dan beberapa perwakilan UKM melaksanakan Mabit (Malam Bina Takwa) yang diisi dengan tadarus bersama.

“Dalam semalam kami membaca 5 juz Al Quran. Ada yang satu persatu membaca atau menyimak saja,” kata Eki Dwijayanti, salah satu pengurus UKAI.

Walaupun harus tidur lebih malam lalu bangun lagi pada dini hari untuk pembagian sahur, Eki mengaku tetap bersemangat menjalani kegiatan ini. Pembagian menu sahur kali pertama oleh UKAI ini menyasar 130 mahasiswa UNTIDAR yang indekos di wilayah Tuguran dan Dumpoh.

“Sebelumnya kami menghubungi mahasiswa dan pemilik kost, sehingga sewaktu pembagian mereka sudah siap dikunjungi,” kata Slamet Prakoso, Ketua Panitia Ramadhan di Kampus.

Berbeda dengan Sahur On The Road biasanya, pembagian menu sahur dibagikan langsung ke kos-kosan bukan membaginya di jalan raya. Belum banyak warung makan yang menyediakan menu sahur khususnya disekitar kampus sehingga kegiatan ini diharapkan dapat membantu mahasiswa yang kesulitan mencari makan sahur.

Solat subuh berjamaah usai membagikan sahur.

Solat subuh berjamaah usai membagikan sahur.

Setelah membagikan sahur, kegiatan dilanjutkan dengan sholat subuh berjamaah di Masjid Mambaul Ulum UNTIDAR. Gerakan Subuh Jamaah (GST) yang juga pertama kalinya ini, Ibrahim Nawawi, S.T., M.T., berkesempatan menjadi imam sekaligus pengisi kuliah subuh.

Kegiatan serupa akan dilaksanakan pada Sabtu (18/06/2016) dini hari mendatang. Rangkaian kegiatan Ramadhan di kampus ini diharapkan dapat menyemarakkan bulan penuh berkah ini dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi orang banyak.

HASAN SYUKRON DAN TIMNYA SIAP OLAH KALENG BEKAS HARGA RIBUAN JADI RATUSAN RIBU RUPIAH

Proposal Program Hibah Bina Desa (PHBD) tim BEM KM Universitas Tidar dengan judul “Pemberdayaan Kaum Marjinal Berbasis Ekonomi Kreatif dengan Sistem Bank Limbah di Kelurahan Rejowinangun Utara, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang Melalui Daur Ulang Limbah Kaleng Bekas Menjadi Aneka Replika Binatang” berhasil lolos seleksi Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Dari puluhan proposal yang dikirimkan, proposal ini adalah satu-satunya yang lolos untuk didanai.

Tim PHBD UNTIDAR 2016 terdiri dari 6 orang anggota yaitu Hasan Syukron (PBSI/FKIP) sebagai ketua tim, Rachma Listia Hidayat (AN/Fisipol), Rohman Muhammad Pradana (PBSI/FKIP), Hanafi Isnanta Prabawa (Sipil/FT), Ani Arina (EP/FE) dan Mayrida Miratista (PBI/FKIP). Keseluruhan tim adalah mahasiswa angkatan 2015 yang pada saat ini masih duduk di semester 2. “Mahasiswa sekarang itu sangat aktif dan kreatif. Walau terhitung masih baru tapi diluar dugaan proposal merekalah yang berhasil didanai Dikti,” kata Rangga Asmara, S.Pd., M.Pd. selaku dosen pendamping.

PHBD adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa melalui Ikatan Organisasi Mahasiswa Sejenis (IOMS), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan/ BEM. Mahasiswa pelaksana PHBD diharapkan mampu menumbuhkan rasa peduli dan berkontribusi kepada masyarakat di desa agar terbangun desa binaan yang aktif, mandiri, berwirausaha dan sejahtera.

Syukron sempat membuat pengumuman di grup Facebook Mahasiswa UNTIDAR angkatan 2015 untuk mencari mahasiswa lain yang mempunyai ketertarikan yang sama dengannya yaitu dalam penulisan ilmiah. Seiring berjalannya waktu maka terkumpulah 5 anggota lain dari berbagai jurusan yang sepakat membuat proposal PHBD bersama.

“Inspirasi dari sebuah tayangan tentang pengolahan limbah kaleng oleh Bapak Kusnudin dari Borobudur Magelang,”kata Syukron.

3

Proposal Tim PHBD UNTIDAR 2016 Didanai Kemristekdikti, 2

Pengolahan kaleng bekas ini berbeda dengan pengolahan kaleng biasanya. Kaleng bekas bekas akan disulap menjadi berbagai replika binatang. Ada beberapa proses yang harus ditempuh mulai dari pemotongan, pemlintiran dan penempelan potongan kaleng tersebut pada blok kayu yang bentuknya telah disesuaikan. “Walaupun terkesan rumit, tapi dari proses ini kaleng bekas yang hanya dihargai seribuan per buahnya akan meningkat nilainya hingga menjadi ratusan ribu per produknya,” jelas Mayrida.

Satu replika binatang kurang lebih membutuhkan 10 kaleng bekas ukuran sedang, dari modal untuk pembelian kaleng sekitar Rp 20ribu maka jika produk sudah jadi bisa dipasarkan mulai dari Rp 200ribu bahkan lebih.

Rejowinangun Utara

Kelurahan Rejowinangun Utara, Magelang Tengah, Kota Magelang yang memiliki 21 dusun yang terdiri dari 21 Rukun Warga (RW) dan 91 Rukun Tetangga (RT). Kegiatan pelatihan direncanakan akan dipusatkan di Dusun Nambangan karena lokasinya strategis yaitu dekat dengan sumber limbah kaleng dan jalan utama Kecamatan Magelang Tengah.

“Nambangan tidak terlalu jauh dari Pasar Rejowinangun dan lokasi para pengepul kaleng bekas sehingga mempermudah dalam proses kegiatannya nanti,” kata Syukron.

Dalam bidang pendidikan, menurut data dari Kelurahan Rejowinangun Utara, penduduk yang bersekolah berjumlah 571 orang (59,85%) sedangkan penduduk yang tidak bersekolah berjumlah 383 orang (40,14%). Dapat disimpulkan rata-rata tingkat pendidikan pendudukanya rendah. Daerah ini dikenal sebagai daerah dengan masyarakat homogen dan mayoritas berada pada ekonomi menengah ke bawah.

Program PHBD ini akan melibatkan 60 orang terdiri dari 10 orang pelaksana dan 50 orang peserta. Target peserta adalah kalangan anak-anak putus sekolah dan pemuda pengangguran usia produktif di wilayah Kelurahan Rejowinangun Utara. Tujuannya agar terciptanya masyarakat yang mandiri, meningkatkan perekonomian serta memberantas kemiskinan.

Didanai 40 Juta Rupiah

“Jika dana sudah cair, bulan Juni ini segera kami jalankan tahap awal program ini yaitu sosialisai,” tutur Syukron.

Menurut pengumuman Dikti pada Selasa (31/05/2016) lalu, tim PHBD UNTIDAR yang semula mengusulkan dana sejumlah Rp 45 juta akhirnya ditetapkan mendapat pendanaan sebesar Rp 40 juta. Dana ini akan dipergunakan selama kurang lebih 7 bulan mulai dari tahap sosialisasi sampai penyusunan laporan akhir.

Dalam pelaksanaanya, kegiatan ini merangkul beberapa mitra diantaranya Kelurahan Rejowinangun Utara, UPTD Pasar Rejowinangun, LPPM-PMP UNTIDAR serta Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kota Magelang.

“Tidak hanya melatih kami juga akan membantu pemasaran produk bahkan jika dibutuhkan kami akan tetap mendampingi para peserta setelah seluruh rangkaian PHBD berkahir,” tambah Syukron.

Program pengabdian masyarakat seperti ini diharapkan mampu melatih dan menumbuhkan jiwa sosial para mahasiswa. Tidak hanya mampu meraih prestasi akademik namun mahasiswa diharapkan mampu terjun langsung ke masyarakat untuk membantu memecahkan permasalahan yang ada.

NGABUBURIT, MAHASISWA UNTIDAR JUALAN TAKJIL

MAGELANG – Mencari kegiatan positif di sela-sela perkulihan, beberapa mahasiswa UNTIDAR mencoba peruntungan mereka dalam berwirausaha yaitu berjualan takjil atau menu buka puasa di Alun-alun Kota Magelang.

“Tujuannya untuk melatih memasarkan produk dan tentunya mendapat keuntungan,” tutur Khofsoh, salah satu penjual takjil dari kelompok IbK UNTIDAR.

Mahasiswa IbK sedang menjual brownies ke salah satu pengunjung di Alun-alun Magelang.

Mahasiswa IbK sedang menjual brownies ke salah satu pengunjung di Alun-alun Magelang.

Selain IBK, ada juga BEM KM, Himagro, dan Grandio Sonora Tidar yang juga ikut meramaikan pasar takjil dadakan yang ada selama Bulan Ramadhan ini. Mahasiswa sudah memulai berjualan takjil dari hari pertama puasa, Senin (06/06/2016) di sepanjang trotoar dari depan Klenteng sampai Bank Jateng.

“Khusus BEM KM, laba menjual es buah ini kami kumpulkan untuk bakti sosial,” tutur Oke Amar Saputra, Humas BEM KM.

Menu Takjil yang dijual oleh kelompok paduan suara Grandio Sonora Tidar.

Menu Takjil yang dijual oleh kelompok paduan suara Grandio Sonora Tidar.

Menu yang ditawarkan pun beragam mulai dari es dawet, es buah, gorengan, jenang mutiara, kolak, puding, donat, brownies, susu jagung, dan masih banyak lainnya. Beberapa diantaranya mengganti menu julan tiap 2 atau 3 hari sekali. Harga yang ditawarkan pun ramah di kantong mahasiswa berkisar Rp 600 – Rp 4000. Selain berjualan di alun-alun, mahasiswa penjual takjil ini juga kebanjiran order dari sesama UKM yang mengadakan buka bersama.

Persiapan dimulai sekitar pukul 3-4 sore. Setelah persiapan selesai, biasanya ada pembagian tugas untuk berkeliling menjual takjil atau menjaga stand masing-masing. Masing-masing kelompok ormawa UNTIDAR ini memiliki style masing-masing. Kelompok paduan suara, Grandio Sonora Tidar (GST) memilih lokasi di lampu merah depan Masjid Agung Magelang. Ketika lampu bewarna merah, beberapa anggota menjajakan daganganya kepada pengendara yang sedang berhenti sedangkan yang lainnya mengawasi jika waktu lampu merah hampir habis. “Itung-itung cari tambahan buat ke Italia,” kata Ginanjar.

GST mendapat undangan untuk mengikuti kompetisi paduan suara ke Italia pada Juni 2017. Setelah tahun kemarin gagak berangkat karena kurang dana. Maka tahun ini mereka berusaha keras untuk mencari dana salah satunya dengan berjualan takjil ini.

Universitas Tidar mendukung mahasiswa yang berkeinginan berwirausaha. Selain mendapatkan keuntungan, lewat berbagai kegiatan wirausaha seperti berjualan takjil ini mahasiswa berlatih bagaimana berhadapan langsung dengan konsumennya.