21 WISUDAWAN RAIH PENGHARGAAN KEWIRAUSAHAAN DARI REKTOR UNTIDAR

MAGELANG – Wisuda sarjana dan ahli madya Universitas Tidar periode April 2016 meluluskan 133 mahasiswanya, Sabtu (16/04/2016). Berbeda dengan wisuda sebelumnya, selain wisudawan dengan IPK terbaik dari masing-masing fakultas atau wisudawan dengan pujian (cumlaude) dari seluruh fakultas, kali ini wisudawan yang juga sebagai pelaku usaha (wirausahawan) mendapat penghargaan khusus dari Prof. Cahyo Yusuf M.Pd., Rektor UNTIDAR.

“Saya bangga dengan semangat mereka dalam berwirausaha, terutama mahasiswa yang merintis usahanya dari nol terlebih dari program-program kewirausahaan seperti PMW atau PKM,” tuturnya.

UNTIDAR berkomitmen membekali lulusannya dengan ketrampilan berwirausaha sehingga setelah lulus nanti mereka mampu menciptakan peluang usaha sendiri. Kampus memberi kesempatan seluas-luasnya untuk mahasiswa yang ingin merintis usaha dengan berbagai program mahasiswa terkait kewirausahaan.

Beberapa wisudawan yang memperoleh penghargaan kewirausahaan diantaranya adalah Edi Priyanto (FISIPOL), Farid Alwan (FT), Erwin Setya (FISIPOL), Rizky Nuurasyiddyah (FKIP), Syafira Andika (FKIP), Vivanti Puspitasari (FKIP), Bagus Kurniawan (FISIPOL), dan Hony Kharisma Sejati (Pertanian). Jenis usaha yang mereka kembangkan pun beragam mulai dari bidang kuliner, jasa sampai pembibitan tanaman.

Wisuda periode pertama di tahun 2016 ini meluluskan 17 wisudawan cumlaude dengan IPK tertinggi 3.80 yang diraih oleh Ambarwati mahasiswi Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP) program studi Bahasa Inggris dan Eko Sulistyanto mahasiswa Fakultas Teknik (FT) program studi Teknik Mesin.

Badai Rosy Putra, salah satu wisudawan cumlaude yaitu dengan IPK 3,71 yang sekaligus mendapat predikat terbaik di Fakultas Ekonomi juga merupakan salah satu wirausahawan muda yang sukses. Saat ditemui usai acara wisuda, wisudawan asal Kelurahan Magersari Kecamatan Magelang Selatan ini mengaku ayahnya adalah inspirasi awalnya dalam membuat usaha sendiri. “Sama-sama di jasa konstruksi namun CV saya lebih kepada jasa pertamanan,” tutur Badai.

CV. Puspita Loka mulai dijalankan Badai pada bulan Juni 2015. Bermodal awal dari sang ayah kini usaha jasa konstruksi dan pengadaan barang khusus pertamanan ini bahkan sudah pernah bekerjasama dengan Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Tata Kota (DKPT) dan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Magelang. Selamat dan sukses para wisudawan wisudawati UNTIDAR periode April 2016, wisuda bukanlah akhir namun awal dari sukses besar Anda suatu saat nanti.

 

REKTOR UNTIDAR AJAK MAHASISWA JADI WIRAUSAHAWAN MUDA

MAGELANG – Sesuai dengan Visi Universitas Tidar yaitu universitas berkeunggulan dalam Tridarma Perguruan Tinggi yang berbasis wirausaha dalam kancah nasional dan global, pasca wisuda mahasiswa diharapkan bukan saja menjadi job seeker namun sebagai job creator. “Lulusan UNTIDAR harusnya mampu menciptakan kerja, menjadi pelaku usaha bukan pencari kerja apalagi menjadi pengangguran intelektual,” jelas Rektor, Prof. Dr. Cahyo Yusuf M.Pd.

Calon wisudawan/wisudawati periode April 2016 diwajibkan mengikuti Orientasi Kewirausahaan, Kamis (14/04/2016) di auditorium UNTIDAR. Mereka mendapat pembekalan materi kewirausahaan dari Rektor dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Bambang Kuncoro M.Si. serta berbagi pengalaman dengan beberapa wirausahawan yang juga sesama calon wisudawan.

“Saya senang ternyata banyak mahasiswa yang sudah mencoba berwirausaha. Mereka patut didukung dan saya siap membuka “jalan” untuk mereka,” tutur Bambang.

Sebelumnya, beliau pernah melakukan beberapa penelitian antara lain mengenai pengadaan snack untuk acara kampus. Frekuensi acara dan jumlah peserta yang cukup banyak harusnya bisa ditangkap sebagai sebuah peluang wirausaha. “Sayangnya sampai saat ini, mahasiswa belum tergerak mengambil peluang emas ini,” tambahnya.

Menurut ahli sosiolog David McClelland, idelanya sebuah negara setidaknya membutuhkan 2% wirausahawan dari total penduduk. Untuk ukuran penduduk Indonesia, berarti perlu 50 juta wirausahawan. Menurut data survei tahun 2015 jumlah wirausaha kita hanya 1,65% dari 250 juta penduduk masih kalah jauh dengan negara-negara ASEAN lainnya. UNTIDAR sebagai pusat iptek dan kewirausahaan memfasilitasi dan mendampingi mahasiswa dalam mengkaji dan mengembangkan kewirausahaan. Mempersiapkan, mengelola dan membekali mahasiswa untuk menjadi pelaku usaha baru serta ikut menyelesaikan pengangguran dan kemiskinan. Terlebih dengan adanya UPT Kewirausahaan yang dipimpin oleh Drs. Sri Bondan M.Si. mahasiswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berkonsultasi seputar kewirausahaan.

Rizky Nuurasyiddah calon wisudawati dari FKIP yang sudah merintis usaha facial wajah tanpa rasa sakit sejak 3 tahun lalu membagikan pengalamannya.

Rizky Nuurasyiddah calon wisudawati dari FKIP yang sudah merintis usaha facial wajah tanpa rasa sakit sejak 3 tahun lalu membagikan pengalamannya.

 

Beberapa calon wisudawan juga berkesempatan berbagi pengalaman wirausahanya diantara lain Edi Priyanto (FISIPOL) pengusaha pengisian ulang tabung Alat Pemadam Kebakaran (APAR), Farid Alwan (FT) pengusaha angkringan, Erwin Setya (FISIPOL) pengusaha krupuk rambak dan Rizky Nuurasyidah (FKIP) pengusaha jasa facial wajah tanpa rasa sakit. “Setiap tempat usaha harusnya memiliki alat pemadam. Peluang ini saya manfaatkan sebagi usaha dan terbukti terus berkembang sampai sekarang hingga beberapa cabang,” tutur Edi yang juga memiliki usaha lain seperti bakso kerikil, penyewaan Gedung Olah Raga (GOR) dan jual beli mobil. Pengalaman dari mereka ini diharapkan mampu menginspirasi calon wisudawan serta membuka peluang kerjasama bagi yang sudah mulai merintis usaha.

 

SEBAGIAN BESAR SISWA SMA & SMK SYUBBANUL WATHON IKUTI JALUR SNMPTN UNTIDAR

MAGELANG – Tim PMB Universitas Tidar mengadakan sosialisasi penerimaan mahasiswa baru di SMA dan SMK Syubbanul Wathon, Rabu (13/04/2016) yang berlokasi di Dusun Tepo, Desa Dlimas, Kecamatan Tegalrejo. SMA dan SMK ini merupakan lembaga pendidikan di lingkungan Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Salaf Tegalrejo yang merupakan wujud kepedulian akan pentingnya pengembangan keilmuan yang mengedepankan akhlaqul karimah.

“Para siswa sangat antusias menyimak dan bertanya mengenai kampus bahkan sebagian dari mereka sudah mengikuti jalur SNMPTN untuk masuk ke UNTIDAR,” tutur Yogi Prayogo selaku Humas PMB.

Peserta sosialisasi adalah siswa kelas XII yang baru saja menyelesaikan Ujian Nasional (UN) minggu lalu. Materi yang disampaikan pun disesuaikan, santai namun berbobot. Dimulai dengan pertanyaan mengenai alasan meneruskan pendidikan tinggi, siswa diajak untuk mulai merencanakan masa depannya setelah lulus dari sekolah menegah atas ini terutama melanjutkan studi ke tingkat perguruan tinggi. Pembawaan Yogi sebagai penyampai materi yang easy going membuat suasana sosialisasi jauh dari kesan serius seperti saat pembelajaran di kelas namun pesan tetap tersampaikan.

“Beberapa siswa mengajukan pertanyaan seputar cara masuk, beasiswa dan akreditasi program studi di UNTIDAR,” tambah Yogi.

SMA dan SMK Syubbanul Waton juga menerapkan pendidikan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi saat ini seperti e-learning. Siswa dapat mengunduh materi maupun contoh soal-soal dari Guru mereka di laman sekolah mereka. Mengusung  one stop education, API Tegalrejo berupaya mengubah image pesantren dari lembaga pendidikan alternatif menjadi pilihan utama para kaum intelektual menguasai teknologi, berwawasan global dan tetap memegang teguh nilai-nilai islam. Besar harapannya siswa SMA dan SMK Syubhanul Waton lolos seleksi masuk SNMPTN ke UNTIDAR tahun ini.

KUNJUNGAN SMA 2 SRAGEN : MENGENAL LEBIH DEKAT UNTIDAR

MAGELANG – Kedatangan rombongan siswa SMA N 2 Sragen disambut Prof. Ir. Ali Munawar, M.Sc., Ph.D., Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Tidar, Senin (11/04/2016) di auditorium UNTIDAR. Kunjungan ini merupakan program yang dirancang khusus untuk mengisi waktu libur siswa kelas XI.

“Kami ingin siswa-siswa kami mengenal UNTIDAR sebagai salah satu perguruan tinggi negeri yang patut diperhitungkan ketika nanti mereka lulus,” tutur Cuk Suharyadi.

Menurut Pak Cuk selaku Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Kesiswaan SMA N 2 Sragen, stigma siswa-siswanya mengenai perguruan tinggi negeri hanya melulu mengarah pada beberapa perguruan tinggi ternama. Diperlukan “pencerahan” kembali mengenai tujuan utama meneruskan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan fokus pada hasil akhirnya.

“Banyak yang mengatakan bahwa “nama” perguruan tinggi itu penting nantinya ketika melamar pekerjaan. Namun, sebenarnya semua kembali ke pribadi masing-masingnya. Banyak juga lulusan perguruan tinggi ternama yang masih menganggur,” tambahnya.

Yogi Prayogo selaku Humas PMB UNTIDAR memaparkan materi seputar cara pendaftaran, program studi serta keunggulan universitas. Jarak Sragen-Magelang yang juga tidak terlalu jauh menjadi nilai tambah tersendiri. Selain itu iklimnya yang sejuk dan juga cost of living yang tidak terlalu tinggi patut dijadikan bahan pertimbangan. “Baru ini datang ke Magelang, khususnya ke UNTIDAR. Informasi yang diberikan menarik, sayangnya belum ada jurusan Biologi,” kata Ika Widiastuti, salah satu siswi SMA N 2 Sragen.

Para siswa dan guru pendamping juga diberikan kesempatan untuk berkeliling kampus. Setelah kunjungan ke UNTIDAR rombongan ini berencana menikmati waktunya di Magelang dengan ber-rafting. Terima kasih atas kunjungannya SMA N 2 Sragen, kami tunggu di UNTIDAR tahun depan, bukan sebagai peserta kunjungan tapi sebagai mahasiswa baru.

MAHASISWA UNTIDAR DITUNTUT PAHAM ETIKA BERMASYARAKAT

MAGELANG – Keberadaan Universitas Tidar di wilayah Kelurahan Potrobangsan khususnya di wilayah Dumpoh membawa dampak positif maupun negatif. Peningkatan jumlah mahasiswa pasca ditetapkannya UNTIDAR sebagai perguruan tinggi negeri sebanding dengan peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.

“Positifnya, banyak warga yang mulai mendirikan warung atau rumah kost. Negatifnya, keamanan dan ketertiban lebih sulit dikontrol,” tutur Agus Supriyanto, salah satu pemilik kost di wilayah Dumpoh.

Menurut Agus, beberapa mahasiswa belum melengkapi data administratif seperti salinan KTP atau Kartu Mahasiswa (Karmas) yang diserahkan kepada pemilik kost atau ketua RT/RW setempat. Selain dipergunakan sebagai arsip, data ini sebagai alat kontrol keamanan semisal ada kejadian yang tidak terduga seperti kehilangan barang atau lainnya. “Pemilik kost terkadang tidak bisa membedakan mana yang anak kost mana yang bukan. Sehingga kadang kecolongan jika ada orang asing dan terjadi tindak kriminal seperti pencurian,” tambah Agus.

Sependapat dengan Agus, Kepala Kelurahan Potrobangsan, Drs. Arifudin menyatakan bahwa sudah ada pasal yang mengatur mengenai perihal ketertiban umum di masyarakat. Masukan dari para pemilik kost dan ketua RW setempat akan digunakan sebagai bahan pertimbangan perumusan kebijakan terkait dengan ketertiban bermasyarakat khususnya mahasiswa yang indekos/bermukim di wilayah Potrobangsan.

Pada sarasehan bina lingkungan yang diselenggarakan UNTIDAR, Sabtu Malam (09/04/2016) selain bertujuan mempertemukan pihak kampus dengan masyarakat sekitar juga berharap kedepannya dapat dibentuk sebuah paguyuban atau forum komunikasi antara kampus dan para pemilik kost. “Diharapkan terjalin silaturahmi dan komunikasi yang baik sehingga terjalin hubungan saling menguntungkan antara kampus dan masyarakat,” tambah Lurah Potrobangsan.

poto2b

Acara yang dihadiri Lurah Potrobangsan, Ketua RW se-Potrobangsan dan pemilik kost disekitar kampus juga memberikan beberapa masukan kepada UNTIDAR diantaranya penambahan materi Penerimaan Mahasiswa Baru (Masimaru) mengenai “etika” bermasyarakat yang baik terutama mahasiswa dari luar kota yang indekos serta kegiatan bakti sosial yang difokuskan untuk masyarakat sekitar. Mahasiswa juga diharapkan mampu berbaur dengan kegiatan lingkungannya serta memahami peraturan yang sudah ada.

“Beberapa masukan seperti penambahan materi masimaru, bakti sosial dan poin lainnya akan kami jadikan bahan pertimbangan kampus dan semoga segera dapat ditindaklanjuti,” kata Dr. Bambang Kuncoro, M.Si., selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni. Pada kesempatan ini Rektor, Prof. Cahyo Yusuf, M.Pd. turut menjawab beberapa pertanyaan para tamu undangan serta menyampaikan perkembangan kampus saat ini dan rencana pengembangan UNTIDAR kedepannya.

NITA SOFIYANA BORONG JUARA LOMBA MENYANYI UNTIDAR

MAGELANG – Dalam rangkaian acara Dies Natalis ke-2 Universitas Tidar, lomba menyanyi tunggal adalah salah satu lomba yang menarik banyak perhatian. Dosen, karyawan serta mahasiswa antusias menyalurkan bakat tarik suaranya, Selasa (05/04/2016) di auditorium UNTIDAR.

Kesempatan ini dimanfaatkan Nita Sofiyana, seorang mahasiswi program studi Pendidikan Bahasa Inggris untuk menunjukkan bakat menyanyi yang dimilikinya. Tidak tanggung-tanggung, mahasiswi yang akan wisuda pada April mendatang ini mengikuti 3 kategori sekaligus yaitu pop, dangdut dan keroncong. “Senang bisa menang dan tidak menyangka bisa menang disemua kategori yang saya ikuti,” tutur Nita.

Selain suara merdu yang dimilikinya, Nita juga mampu menyuguhkan penampilan panggung yang maksimal. Keseriusannya dalam mengikuti lomba menyanyi UNTIDAR ini membuahkan hasil yang maksimal pula dengan memperoleh predikat juara pertama pada kategori pop, dangdut dan keroncong. “Suaranya bagus, performance-nya juga bahkan jika dibandingkan dengan peserta lain persiapannya seperti baju dan make up bisa dibilang sudah seperti penyanyi profesional,”  tutur Drs. H. Wahyono, salah satu juri lomba.

Lomba menyanyi tunggal UNTIDAR terdiri 4 kategori; 3 kategori yaitu pop, dangdut dan keroncong dapat diikuti oleh mahasiswa sedangkan kategori tembang kenangan hanya untuk karyawan dan dosen. Sebelum berlangsungnya perlombaan, panitia menggelar technical meeting, Kamis (24/03/2016) lalu. Pertemuan ini membahas ketentuan lomba, daftar judul lagu yang boleh dinyanyikan peserta sekaligus penyesuaian nada.

“Diluar perkiraan, baik peserta maupun penonton antusias dengan acara ini. Sampai ada yang membawa poster untuk mendukung temannya. Pokoknya rame dan meriah,” kata Winda Candra Hantari, M.A., koordinator lomba menyanyi tunggal. Dalam kesempatan ini, Rektor UNTIDAR       Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd. juga ikut menyumbangkan lagu sekaligus menjadi pembuka kategori tembang kenangan yang diperuntukkan kepada dosen dan karyawan.Terkendala waktu pelaksanaan yang panjang dari pagi sampai sore, beberapa peserta yang masuk babak final sudah terlanjur pulang sehingga harus didiskualisifikasi. “Mungkin untuk pelakasanaan tahun depan, lomba menyanyi harusnya dilaksanakan lebih dari sehari. Namun sejauh ini, pelaksanaan lancar,” tambah Winda.

Berikut daftar pemenang lomba menyanyi tunggal Dies Natalis ke-2 UNTIDAR; Kategori Pop, Juara 1 Nita Sofiyana, Juara 2 Arif Budianto, dan Juara 3 Fadila. Kategori Dangdut, Juara 1 Nita Sofiyana dan Juara 2 Angger Vito. Kategori Keroncong, Juara 1 Nita Sofiyana dan Juara 2 Anjany Wahyu P. Kategori Tembang Kenangan (Dosen dan Karyawan), Juara 1 Drs. Hendarto, M.Si., Juara 2 Drs. Muhammad Asaat Poerba, M.Si dan Juara 3 Tri Endah Retno K., S.Sos., M.I.Kom. Para juara akan mendapatkan tropi dan uang pembinaan yang akan diserahkan pada acara penutupan Dies Natalis pada 30 April mendatang.

poto-2 poto-4

STRATEGI JITU KOWERI DI LOMBA CATUR UNTIDAR

MAGELANG – Berbeda dengan lomba olahraga hari jumat sebelumnya, kali ini riuh suara penonton di auditorium tidak terlalu ramai. Sesekali penonton bersorak lalu seketika hening kembali, serius mengamati sebuah papan kotak bewarna hitam putih. “Perolehan skor babak pertama pertandingan final, 1 : 0 untuk bapak Koweri,” kata Imam Baihaqi, koordinator lomba catur.

Peserta yang berhasil sampai ke babak final adalah Koweri dan Sugoro. Menurut informasi dari para penonton, keduanya memang sudah sering bermain catur dalam kesehariannya. Wasit untuk babak final adalah Rasyid Wicaksono yang bertugas mengendalikan waktu dan mengawasi permainan kedua belah pihak. Kemenangan Koweri pada babak pertama tidak menyurutkan semangat mbah Sugoro, panggilan akrabnya, untuk meneruskan pertandingan. Babak kedua hanya berlangsung sekitar 10 menit, kali ini skor dimenangkan oleh mbah Sugoro. “Wis aku kalah,” kata mbah Sugoro mengakhiri babak ketiga. Strateginya meleset jauh dari perkiraan, pion hitamnya satu persatu dilahap pion putih milik Koweri. Skor babak final berakhir dengan 2 : 1.

Pertandingan catur antar mahasiswa, dosen dan karyawan Universitas Tidar, Jumat (08/04/2016) berlangsung dengan sistem gugur. Tercatat 32 peserta yang mendaftar. Pertandingan dimulai pukul 08.30 – 12.00 WIB jika dibandingkan pertandingan olahraga yang sebelumnya sudah diadakan panitia Dies Natalis, pertandingan catur merupakan pertandingan dengan waktu pelaksanaan tercepat.

Panitia menyedikan 6 meja pertandingan untuk babak penyisihan. Rata-rata pertandingan penyisihan hanya berlangsung sekitar 10-15 menit. Sedangkan untuk pertandingan final waktu yang diperlukan lebih lama sekitar 20-30 menit dikarenakan terdiri dari 3 babak pertandingan. Lomba Catur Dies Natalis ke-2 UNTIDAR berikut daftar pemenangnya adalah Juara pertama, Koweri;       Juara kedua, Sugoro dan juara ketiga, Muhammad Saiful Bahri.

Walaupun kadang dianggap sepele, catur terbukti dapat meningkatkan kecerdasan seseorang  bahkan sangat dianjurkan untuk melawan penyakit alzheimer. Para pemain catur yang bermain strategi dengan pikirannya terlatih untuk selalu meningkatkan fungsi memori otaknya dan mampu memecahkan masalah yang kompleks.

FAKULTAS EKONOMI “JAMU” WALI MAHASISWA EKONOMI PEMBANGUNAN & AKUNTANSI

MAGELANG –  Ratusan wali mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan dan Akuntansi menghadiri acara dialog interaksi yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi, Sabtu (09/04/2016). Pertemuan tatap muka langsung antara dosen dan wali mahasiswa ini mengangkat tema “Membangun Sinergitas Hubungan Orang Tua Mahasiswa dengan Fakultas Dalam Rangka Keterbukaan Informasi Publik”.

“Komitmen kami adalah memartabatkan mahasiswa melalui mutu dan kepuasan layanan pendidikan terukur,” jelas Prof. Dr. Joko Widodo, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Ekonomi. Beliau juga memaparkan seputar prestasi, fasilitas pendidikan, program mahasiswa serta beberapa capaian Universitas Tidar.

Berbeda dengan “perjamuan” biasanya, kali ini wali mahasiswa disajikan berbagai informasi seputar kegiatan perkuliahan maupun kegiatan lain diluar perkuliahan seperti Program Pengembangan Profesi Akuntansi (PPPA), PHBD maupun PKM .

“Orang tua perlu memahami kegiatan anaknya dikampus agar dapat memantau perkembangan perkuliahan maupun kegiatan lainnya,” tutur Siti Arifah, S.E.Akt, M.Si. saat memberi pengarahan pada wali mahasiswa D3 Akuntansi di ruang Laboratorium Bahasa. Arifah yang juga menjabat sebagai Ketua Jurusan Akuntansi memberi informasi seputar akademik meliputi penjelasan mengenai Satuan Kredit Semester (SKS), Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dan masa studi yang akan ditempuh. Selain itu dipaparkan juga mengenai Kartu Rencana Studi (KRS), Ujian Tengah Semester (UTS) serta Ujian Akhir Semester (UAS). Penjelasan ini menjawab pertanyaan para wali selama ini khususnya yang terkait dengan pembayaran. “Kami jadi tahu, mengapa harus bayar tepat waktu apa konsekuensinya,” tutur salah satu wali.

Poin tambahan yang disampaikan pada acara dialog interaksi ini adalah adanya program PPPA. “Lulus itu mudah, namun lulus yang berkualitas itu yang sulit,” kata Jokowi. PPPA adalah program pembekalan mahasiswa agar lebih siap menghadapi dunia kerja pasca lulus nanti. Program ini dilaksanakan pada semester 5-6 . PPPA diharapkan dapat mejadi nilai tambah bagi lulusan D3 Akuntansi UNTIDAR ketika melamar pekerjaan kedepannya.

Pengarahan untuk wali murid Program Studi Ekonomi Pembangunan dilaksanakan di Auditorium UNTIDAR. Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan, Drs. Whinarko Juliprijanto, M.Si. memaparkan hal yang kurang lebih sama dengan yang disampaikan Siti Arifah. Setelah pengarahan selesai, wali mahasiswa diberi kesempatan untuk berkeliling di gedung Fakutas Ekonomi.

Poto-2

“Saya mengapresiasi kegiatan dari Fakultas Ekonomi ini, apalagi bisa melihat ruang kuliah anak saya secara langsung serta mendapat penjelasan tentang kegiatannya,” tutur Rina, salah satu wali mahasiswa. Dialog interaksi ini diharapkan dapat menjembatani hubungan silaturahmi antara dosen dan wali mahasiswa. Fakultas Ekonomi membuka kesempatan bagi orang tua yang mau memberikan kritik dan sarannya melalui SMS Center di nomor 085878559139 yang nantinya akan dipergunakan sebagai bahan evaluasi dan peningkatan mutu pendidikan.

MENGUKUR KOMPETENSI BERBAHASA INDONESIA LEWAT UKBI

MAGELANG – Sering kali dalam proses melamar pekerjaan terdapat syarat nilai TOEFL atau Test Of English as a Foreign Language sebagai tolok ukur kemampuan berbahasa Inggris. Namun, tahukah Anda ada TOEFL versi Indonesia bernama UKBI?

Menangkap pentingnya mengukur kemampuan berbahasa Indonesia baik untuk mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Indonesia, dosen serta guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa Universitas Tidar bekerjasama dengan Balai Bahasa Jawa Tengah menyelenggarakan sosialisasi dan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), Kamis (07/04/2016). “UKBI merupakan salah satu bentuk memartabatkan Bahasa Indonesia. Bagaimana bisa mereka terkadang lebih membanggakan diri menggunakan bahasa asing daripada bahasanya sendiri,” kata Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim, M.S.

Gufran yang merupakan Kepala Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jakarta menuturkan bahwa bangsa Indonesia dibangun berdasarkan prinsip kebahasaan. “Pada sumpah pemuda, seluruh bangsa Indonesia dipersatukan kedalam satu bahasa, Bahasa Indonesia,” jelasnya. Dari 720 bahasa di seluruh Indonesia dipilih satu bahasa persatuan dari wilayah Riau, bahasa melayu. Bahasa Indonesia mampu menjadi alat komunikasi antara berbagai suku. “Bisa dibayangkan jika tidak ada Bahasa Indonesia, bagaimana bisa saya yang berasal dari Tidore bisa berkomunikasi dengan orang Jakarta?,” tambahnya.

DSC_1604

Ratusan mahasiswa dan dosen UNTIDAR khususnya dari Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia serta guru mata pelajaran Bahasa Indonesia tingkat SMA/MA/SMK di Kota/Kabupaten Magelang dan Kabupaten Temanggung mengikuti tes UKBI di Auditorium. “Peserta tinggal datang untuk ujian saja, seluruh peralatan sudah disediakan pihak Balai Bahasa Jawa Tengah,” tutur Kahar Dwi Prihantoro.

UKBI merupakan tes kemahiran (profiency test), bukan tes pencapaian (achievement test). Tes kemahiran berbahasa mengacu pada kriteria penggunaan bahasa (situasi penggunaan bahasa sesungguhnya) yang dihadapi peserta uji. Penggunaan tersebut meliputi kecakapan hidup umum, yaitu ranah kesintasan dan ranah kemasyarakatan serta ranah kecakapan khusus, yaitu ranah keprofesian dan ranah keilmiahan.

Seperti halnya TOEFL, UKBI juga terdiri dari beberapa sesi dan materi yang berbeda. Materi UKBI meliputi; seksi mendengarkan, merespon kaidah, membaca, menulis dan berbicara. “Hari ini tes hanya dilaksanakan dalam 3 seksi yaitu mendengarkan, merespon kaidah dan membaca. Ketiga seksi ini sudah mencukupi standar. Pelaksanaan UKBI dengan 5 seksi hanya dilaksanakan oleh Balai Bahasa Pusat dari Jakarta dan biasanya untuk keperluan tertentu seperti penutur asing yang mau bekerja di Indonesia atau penerjemah,” jelas Kahar yang juga Koordinator UKBI Balai Bahasa Jawa Tengah.

Hasil UKBI berupa peringkat dan predikat yang ditentukan dari skor tertentu. Pemeringkatan hasil UKBI direpresentasikan kedalam tujuh peringkat; istimewa (725-800), sangat unggul (641-724), unggul (578-640), madya (482-577), semenjana (405-481), marginal (326-404) dan terbatas (251-325). “Sampai saat ini, dari UKBI Balai Bahasa Jawa Tengah baru 2 penutur asing yang bisa mendapatkan predikat istimewa. Mayoritas peserta sampai saat ini mendapatkan hasil madya atau unggul,” tutur Kahar. Test UKBI diselenggarakan oleh Balai Bahasa pada tiap provinsi dari Sabang sampai Merauke. Sistem bahkan soal yang diujikan juga diseragamkan. Jika terjadi kebocoran pada salah satu provinsi maka semua soal akan diperbaharui.

Berdasarkan Surat Keputusan Mendiknas Nomor 152/U/2003 tanggal 28 Oktober 2003, Menteri Pendidikan Nasional saat itu telah mengukuhkan UKBI sebagai sarana untuk menentukan kemahiran berbahasa Indonesia di kalangan masyarakat. Sayangnya informasi ini sepertinya belum meluas ke khalayak luas bahkan sebagian besar peserta tes UKBI di UNTIDAR baru mengetahui adanya tes kemahiran berbahasa Indonesia beberapa hari sebelum acara diselenggarakan. “Harusnya UKBI diwajibkan sebagai syarat kelulusan. Bagaimana kita bisa memartabatkan Bahasa Indonesia jika standar nilai bahasa hanya mengacu pada Bahasa Inggris saja,” tutur Tri Agus Gunawan, S.H., M.H. salah satu dosen MKDU UNTIDAR yang mengikuti tes UKBI.

Tim Hebat Dibalik Suksesnya Peresmian Monumen Penegrian UNTIDAR

Tim peresmian monumen penegrian UNTIDAR ; Dwi Aryanto, Yurri Adi Suka, Andre Tarmadi Jayanata, Bhakti Setyo Wibowo, Septian Tri Cahyo, Enggartista Farikhur Rokhman dan Lukman Nurul Hakim mahasiswa Program Studi Teknik Mesin D3 asuhan Sigit Joko Purnomo, S.T., M.T.

Tim peresmian monumen penegrian UNTIDAR ; Dwi Aryanto, Yurri Adi Suka, Andre Tarmadi Jayanata, Bhakti Setyo Wibowo, Septian Tri Cahyo, Enggartista Farikhur Rokhman dan Lukman Nurul Hakim mahasiswa Program Studi Teknik Mesin D3 asuhan Sigit Joko Purnomo, S.T., M.T.

MAGELANG – Riuh tepuk tangan pecah saat jajaran senat, tamu undangan bahkan dosen dan mahasiswa menyaksikan peresmian monumen penegrian UNTIDAR, Jumat (01/04/2016) lalu. Patung elang yang berpijak pada batu bewarna hijau yang diibaratkan sebagai bukit Tidar itu tampak berdiri kokoh di samping gedung Rektorat saat perlahan penutup kainnya terbuka.

Pada batu terukir nama-nama “pahlawan” penegrian Universitas Tidar seperti Mayor Jendral (Purn.) H. Mardiyanto, Mayor Jendral (Purn.) Bahrul Ulum dan Ir. H. Sigit Widyonindito, M.T. yang turut hadir pada saat itu. Disisi lainnya terdapat pula plakat peresmian UNTIDAR sebagai perguruan tinggi pemerintah oleh Presiden pada saat itu, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono.

Di sela-sela momen itu terlihat beberapa mahasiswa menggunakan jas almamater UNTIDAR yang sibuk mengawasi jalannya acara. “Kecemasan kalau mungkin kain nyangkut atau tali putus memenuhi pikiran kami sepanjang acara yang mungkin hanya berlangsung beberapa menit itu,” ujar Dwi Aryanto. Tak hanya Dwi, keenam teman setimnya yaitu Yurri Adi Suka, Andre Tarmadi Jayanata, Bhakti Setyo Wibowo, Septian Tri Cahyo, Enggartista Farikhur Rokhman dan Lukman Nurul Hakim merasakan hal yang serupa. “Ibaratnya, suksesnya perjuangan 3 hari kami ditentukan hanya 3 menit saat itu,” sela Lukman.

Merekalah tim asuhan Sigit Joko Purnomo, S.T., M.T. selaku koordinator peresmian monumen. “Saya mencari mahasiswa teknik mesin dengan basic mapala dan tinggi postur badannya,” jelasnya. Kriteria tersebut dimaksudkan untuk mempermudah proses eksekusi nantinya. Mahasiswa pecinta alam atau lebih sering disebut mapala mempunyai pemahaman tali temali, pengetahuan ini dibutuhan untuk mempermudah pemasangan sling atau tali yang nantinya menarik kain penutup. “Kalau mahasiswa yang tinggi dibutuhkan untuk naik-naik ke patungnya itu, biar mudah,” tambah Pak SJP, panggilan akrab mahasiswanya.

Persiapan dilaksanakan dua hari sebelumnya, Rabu (30/03/2016), perekrutan anggota tim dan rapat perdana yang sekaligus uji coba konsep di lapangan Fakultas Teknik. Konsep besar diberikan oleh Pak SJP kemudian dieksekusi para mahasiswa. Hari berikutnya, persiapan di gedung rektorat dimulai dengan pemasangan alat dan sling. Namun, terkendala hujan persiapan baru bisa dilanjutkan pada malam harinya. “Persiapan selesai sekitar jam 1 malam. Selain itu kami juga menyiapkan rencana cadangan jika error sewaktu pelaksanaan,” kata Dwi. Jika kain penutup menyangkut atau tali putus maka ada beberapa alternatif lain. Pertama, ada dua personil yang disiapkan menarik kain secara manual dari atap gedung rektorat dan kedua, disiapkan juga kayu untuk mengatasi jika kain menyangkut.

“Masalah datang 4 jam sebelum jam pelaksanaan, kain penutup monumen ternyata masih kurang panjang,” tutur Lukman. Tim dan Pak SJP langsung melakukan rapat darurat di Bengkel Teknik. Segera Enggar dan Septian bertugas mencari kain tambahan sekaligus menyambungnya dengan kain yang sebelumnya sudah dipersiapkan. Kesigapan tim berhasil mengatasi masalah tersebut.

Peralatan yang digunakan pada peresmian monumen penegrian UNTIDAR sebagian besar menggunakan peralatan yang sudah ada di Bengkel Teknik. Kerja keras dan kerjasama tim yang solid mampu membuat peresmian berlangsung dengan lancar. “Rasanya lega saat semua berjalan lancar. Kalau ada tugas selanjutnya kami siap,” tutup Lukman.

Peresmian monumen penegrian UNTIDAR, Jumat (01/04/2016).

Peresmian monumen penegrian UNTIDAR, Jumat (01/04/2016).