PKM 2018 : LA-PANCANG DE’MODAR CRASH, MESIN PENANAM KACANG MODEREN

Menurut data dari Pemerintah Kabupaten Bantul ahun 2016, Provinsi DIY, sebanyak 27,54% penduduknya masih mengandalkan sumber daya alam sebagai mata pencaharian seperti pengrajin batu bata, beternak ayam dan bertani.

Pada saat musim hujan para petani memanfaatkan lahan mereka untuk menanam padi, sedangkan pada musim kemarau yang relatif pendek para petani memanfaatkannya untuk menanam palawija, salah satunya adalah kacang tanah (Kusmargana, 2017).

Tetapi proses penanaman kacang tanah masih menggunakan cara yang sederhana sehingga membutuhkan waktu penanaman cukup lama. Setelah sawah dibajak, para petani kemudian menanam biji kacang tanah secara manual satu persatu. Seorang petani menyatakan menanam kacang tanah di sawah seluas ± 900 m2 membutuhkan waktu 7 jam perhari yang dilakukan selama 3 hari.

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, penanaman kacang dengan cara tradisional kurang efektif dan efisien. Ketertinggalan alat pertanian yang masih tradisional, mengakibatkan petani tidak bisa memaksimalkan waktu tanam, sehingga hasil panen tidak bisa maksimal. Banyak alat pertanian yang berbasis mesin otomatis dengan mengandalkan tenaga mesin. Namun hal tersebut dinilai kurang ramah lingkungan karena masih menggunakan bahan bakar fosil.

 Dari permasalahan tersebut melatarbelakangi ide dari PKM penerapan Teknologi yang diketuai oleh Erics Kharisma Danang Pradana (Teknik Mesin S1) dan keempat temannya yaitu Achmad Aziz Trihardanto (Teknik Mesin S1), Muchammad Nur Chamid (Teknik Mesin S1), Della Ika Wibowo (Teknik Mesin S1) dan Rizal Mantovani Fauzi (Teknik Mesin S1).

 LA-PANCANG DE’MODAR CRASH (PENERAPAN ALAT PENANAM KACANG DENGAN METODE OTOMASI DAYA PUTAR CRANKSHAFT) yang cara kerjanya semi otomatis dengan merubah energi putar menjadi energi translasi. LA-PANCANG ini memiliki 3 sistem kerja yang terdiri atas sistem penggalian lubang tanam, sistem penaruhan bibit, dan sistem penutupan lubang tanam.

Banyaknya keuntungan pada La Pancang ini dapat membantu para petani kacang tanah. “Alat penanam kacang ini sebagai alat pendukung pertanian, yang dapat memaksimalkan waktu tanam pada musim kemarau dengan waktu penanaman relatif singkat serta dapat memangkas biaya operasional. Jadi tidak menambah beban petani dalam membeli bahan bakar.” Jelas Erics Kharisma.

Dari keunggulan tersebut alat ini dapat memberikan beberapa keuntungan pada petani, dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu: Segi waktu, cara tradisional penanaman kacang tanah untuk penanaman sawah dengan luas ±900 m² dibutuhkan waktu 7 jam perhari dilakukan selama 3 hari. Alat ini per 1 m² hanya dibutuhkan waktu ±10 detik, apabila dibandingkan dengan luas sawah yang sama yaitu 900 m². Maka, penanaman kacang tanah dengan menggunakan alat ini 4 kali lebih cepat dibandingkan menggunakan cara tradisional perluasan sawah yang sama. Dan jika dilihat dari segi kesehatan alat ini di desain sedemikian rupa dengan dimensi yang sudah menyesuaikan tinggi rata-rata orang Indonesia. Memberikan efek nyaman saat dipakai. Tidak terlalu bungkuk ataupun terlalu tinggi, sehingga keluhan kesehatan seperti sakit pinggang dan nyeri pada tengkuk dapat dikurangi.

PKM 2018 : “SI EMBAH” UBAH LIMBAH MAKANAN JADI PAKAN TERNAK

Konsumsi makanan cepat saji (fast food) sudah menjadi tren di kalangan masyarakat Indonesia. Selain penyajiannya cepat, rasanya cukup lezat dan porsinya pun cukup mengenyangkan. Berbanding lurus dengan kepopulerannya, perkembangan jumlah dan makanan cepat saji pun semakin hari semakin bertambah.

Jumlah rumah makan cepat saji yang semakin bertambah di satu sisi juga menimbulkan sisi negatif. “Rumah makan fast food menghasilkan sampah organik yang cukup banyak dan beragam mulai dari tulang ayam, nasi, sayuran, roti, buah, dll,” jelas Yogie Akhmad Syamsuddin, mahasiswa Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Tidar.

Berdasarkan survey yang telah dilakukan Yogie dan kedua temannya yaitu Sukarno (Ekonomi Pembangunan) dan Muhammad Nahar (Teknik Mesin) ditemukan fakta bahwa mayoritas limbah rumah makanan tersebut belum diolah atau hanya dibuang saja. “Tren makanan cepat saji serba ayam menghasilkan limbah tulang ayam yang cukup besar. Mayoritas belum mengolah atau memanfaatkan limbah tersebut,” jelas Yogie.

Tulang ayam merupakan limbah yang memiliki kandungan anorganik cukup tinggi. Komposisi kimiawi penyusun tulang berdasarkan persentase berat, terdiri dari 69% komponen anorganik, 22% matrik organik dan 9% air. Kandungan 69% anorganik berpotensi untuk dimanfaatkan menjadi sumber kalsium dan fosfor yang baik untuk pertumbuhan ternak.

Maka itu Yogie, Sukarno dan Nurdin menciptakan sebuah alat pengolah limbah lewat Program Kreatifitas Mahasiswa Teknologi (PKMT) SI EMBAH, Sistem Pereduksi Limbah Sisa Makanan Restoran Cepat Saji. Tujuan dari program ini adalah mengurangi limbah organik sisa makanan rumah makan cepat saji fast food dan mengurangi konsentrasi gas metana di lingkungan serta akan mempermudah dan mempercepat proses pengolahan limbah organik sisa makanan restoran cepat saji.

SI EMBAH berfungsi mengurangi kuantitas limbah organik di lingkungan. Semakin banyak limbah organik di lingkungan akan menambah jumlah gas metana pada lingkungan dan tentunya sangat berbahaya karena gas metana merupakan bahan yang mudah terbakar. Maka itu, SI EMBAH diciptakan untuk mengurangi limbah sisa makanan rumah makan cepat saji dengan cara mengolah menjadi pakan hewan peliharaan maupun ternak.

“Saat ini mitra masih menggunakan cobek untuk menghancurkan limbah sisa makanan restoran cepat saji berupa tulang dan hasil yang diperoleh kurang maksimal karena masih ada tulang yang berukuran besar, sedangkan untuk pakan hewan peliharaan sendiri dibutuhkan kehalusan dari pakan olahan tersebut,” terang Yogie.

Si Embah menggunakan motor penggerak berupa motor ac 1/2 hp 1400 rpm yang dihubungkan langsung oleh 2 pulley yang diteruskan oleh v belt ke mesin penghancur utama dan blender , lalu ada bevel gear di bagian bawah blender yang merubah arah putaran sebesar 90° untuk memutar mata pisau blender tersebut. Pada bagian bawah mesin penghancur utama terdapat saringan sebesar 4 mm.

Jadi jika limbah yang belum hancur akan terus tergiling sampai ukurannya lebih kecil dari ukuran saringan. Limbah yang telah masuk ke mesin penghancur utama dan melewati proses penggilingan akan langsung tersalurkan ke blender. Hal tersebut akan memperoleh keefektifan operasional, hemat waktu dan hasil kehalusan dari limbah yang optimal.

SI EMBAH dapat mereduksi limbah makanan bahkan tulang ayam yang cukup keras. Hasil penggilingan sisa makanan ini kemudian bisa dimanfaatkan untuk makanan ternak. “Tak hanya mereduksi limbah namun hasil pengilingan bisa dijual kembali menjadi pakan ternak. Kandungan kalsium yang cukup tinggi pda tulang ayam dapat membantu tumbuh kembang ternak,” pungkasnya. (Tim PKMT SI EMBAH/DN)

PKM 2018 : ALTABATIS, ALAT TANAM BIJI JAGUNG SEMI OTOMATIS

Program Kreatifitas Mahasiswa Teknologi (PKMT) ALTABATIS, Alat Tanam Biji Jagung Semi Otomatis dengan Metode Mechanics Centrifugal Pressure karya mahasiswa Universitas Tidar mampu membantu petani menghemat tenaga kerja saat masa tanam jagung.

“Jika manual 1 hektar lahan perlu waktu 10 hari dengan 4 pekerja. Sedangkan dengan Altabatis 1 hektar lahar diselesesaikan dalam 5 hari dengan 1 pekerja. Alat ini mampu membantu petani menghemat waktu dan tenaga pada masa tanam jagung,” kata Didi Muno, Ketua PKMT ALTABATIS.

Bersama Agus Musafa, Diky Ilham Ivandianto, Muhamad Aflakhul Adib, dan Ririh Rubus Setyaningrum, Didi menciptakan sebuah alat tepat guna dalam bidang pertanian yang bertujuan mempermudah para petani dalam proses penanaman bibit.

“Keunggulan produk ini adalah praktis, ekonomis, ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan bakar, mudah dalam perawatan dan tentunya terjangkau oleh petani jagung,” ujar Didi pada seminar Program Kreatifitas Mahasiswa serta Kompetisi Monitoring dan Evaluasi (Monev) tingkat universitas di ruang Multimedia UNTIDAR, Minggu (08/07) dihadapan Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan dan Alumni serta beberapa dosen pendamping PKM.

“ALTABATIS merupakan terobosan terbaru dari mahasiswa kami yang bisa memberikan solusi terbaik kepada petani jagung yang masih menggunakan metode konvensional, adanya ALTABATIS bisa jadi alternatif terbaik. Hal ini bisa jadi salah satu cara memperkenalkan kampus dan sarana mahasiswa mengabdi pada masyarakat,” kata Xander Salahudin selaku ketua tim Program Kreatifitas Mahasiswa UNTIDAR.

Diky Ilham Ivandianto selaku anggota tim menyampaikan bahwa ALTABATIS dapat melakukan tiga fungsi sekaligus yaitu membuat lubang, memasukan jagung dalam lubang, dan menutup lubang dengan menggunakan abu sekam ataupun tanah. Hal tersebut memanfaatkan penyapu yang ada di bagian belakang ALTABATIS.

“Mekanisme kerja alat ini cukup sederhana, cukup dengan didorong. Alat ini juga memanfaatkan gaya sentrifugal saat roda berputar dan gaya berat untuk menghasilkan daya tekan ke tanah. Ketika alat ini didorong, maka tonjolan atau mulut tanam akan menancap dan menekan tanah sehingga menghasilkan lubang. Bersamaan proses tersebut knock yang ada di samping bodi akan mengungkit tuas gate sehingga gate atau pintu penampung biji akan terbuka, dan diikuti terbukanya pintu gate abu, maka biji akan turun terlebih dahulu diikuti oleh abu yang menutup biji pada lubang,” terang Diky.

“Pembandingan ALTABATIS dengan alat tanam yang sudah ada yaitu jika alat lain yang ada hanya dapat dioperasikan pada tanah yang sudah diolah dengan baik, dan tidak bisa digunakan untuk tanah TOT, tanah liat, tanah berlumpur, dan tanah berair. Sedangkan menggunakan ALTABATIS, alat yang akan dikembangkan dengan 8 mulut tanam ini dapat diaplikasikan ditanah TOT, tanah liat, tanah berlumpur, dan tanah berair apalagi tanah yang sudah diolah,” tambah Didi.

ALTABATIS yang dibuat ramah lingkungan ini dapat digunakan dimana saja, karena desain yang dibuat oleh mahasiswa Untidar ini disesuaikan dengan segala macam tekstur tanah. Selain itu, alat yang dibuat semi otomatis ini dapat digunakan dalam musim kemarau maupun musim hujan jika memungkinkan. Ukurannya yan tidak teralu besar yaitu Tinggi 100 cm,  panjang 132 cm,  lebar 48 cm membuat ALTABATIS mudah dibawa kemana-mana.

“Kami berharap alat ini dapat dipasarkan dengan harga yang ekonomis dan mahasiswa kami memiliki hak paten agar mereka memiliki hak perlindungan produk yang mereka buat. Nantinya kami dan tim dosen akan berusaha untuk membantu mahasiswa mengembangkan alat yang dibuatnya yaitu berupa ALTABATIS karena pada dasarnya alat ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” kata Xander.

ALTABATIS telah disosialisasikan pada 1 juli 2018 pada kalangan petani di Blenggorwetan, kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen. Sosialisasi alat ini mendapatkan sambutan positif dan besar kemungkinan alat ini bisa diterima dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang ada disana.

“Kami dalam setahun memiliki dua musim tanam, saat musim hujan kami menanam padi sedangkan saat musim kemarau menanam jagung, dengan adanya alat ini kami sangat terbantu dan berharap alat ini terus dikembangkan untuk kemajuan pertanian di daerah kami,” ucap Suradi selaku Ketua Gabungan Kelompok Tani Dwijaya Manggar Sari Desa Blengorwetan.

Besar harapan bahwa ALTABATIS dapat membantu memberikan solusi terbaik kepada para petani jagung yang ada di Indonesia. Didi Muno dan teman satu timnya mengimplementasikan salah satu Tri Darma Perguruan Tinggi adalah Pengabdian kepada Masyarakat dengan membuat inovasi alat tanam jagung ini. (Ririh Rubus/DN)

PKM 2018 : CHOPRAL SOLUSI BAHAYA POLUSI UDARA

Tiga mahasiswa Fakultas Teknik, Universitas Tidar membuat sebuah prototype alat penyaring/filter udara dengan metode memperpanjang lintasan.

“Saat perjalanan pulang dari Kebumen ke Magelang saya melewati daerah Tempuran, kabupaten Magelang. Pada lokasi ini banyak terdapat pabrik yang menghasilkan polusi udara. Saya yang hanya terjebat macet beberapa saat saja merasa kurang nyaman palagi bagi warga sekitar yang setiap hari menghirup udara kotor yang tercampur polusi,” kata Luthfi Sahal, mahasiswa Prodi Teknik Sipil asal Kebumen.

Berdasarkan pengalaman ini, Lutfi bersama kedua temannya yaitu Tegar Adi Prabowo (Teknik Mesin) dan Ahmad Choirul (Teknik Mesin) mencoba membuat sebuah inovasi penyaring udara untuk mengurasi polusi udara terutama di wilayah industri/pabrik.

“Kami menyebutnya Chopral yaitu prototype penyaring asap hitam sisa pembakaran dari cerobong pabrik,” kata Lutfi.

Inovasi ini dituangkan dalam Program Kreatifitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) CHOPRAL : Innovation Industrial Smoke Filter Berbasis Filtrasi dan Injeksi Sebagai Solusi Menetralisir Asap Hitam Sisa Pembakaran Dari Cerobong Pabrik Dengan Metode Memperpanjang Lintasan.

PKM Chopral merupakan salah satu PKM dari 21 PKM mahasiswa UNTIDAR yang lolos didanai oleh Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi tahun 2018 ini.

Cara kerja dari prototype  ini terbilang cukup sederhana. “Cara kerja prototype ini yakni dengan menyaring asap hitam sisa pembakaran pabrik dengan membuat lintasan berkelok yang bertujuan memperpanjang lintasan asap,” terang Tegar.

Asap yang keluar dari cerobong pabrik akan diarahkan dengan bloer sehingga menuju ke pipa dan melewati 3 filter udara. Terdapat 3 kelok/perpanjangan pipa dimana sebelum memasuki pipa pertama asam akan melalui filter air (injeksi zat cair) dan akan dilakukan kembali setelah melewati pipa atau filter ke 3. “Asap melalui 3 filter pada 3 perpanjangan pipa. Injeksi zat cair dilakukan 2 kali, yang pertama sebelum asap memasuki filter 1 dan setelah melalui filter 3 untuk memastikan udara yang tersaring sudah bersih atau aman bagi pernafasan,” tambahnya.

Kedepannya besar harapan Lutfi dan teman satu timnya untuk mengembangkan prototype ini dan diaplikasikan secara nyata pada pabrik-pabrik sehingga dapat menangani masalah polusi udara di sekitar wilayah Tempuran khusunya dan lokasi industry lain pada umumnya. “Kami mempunyai harapan besar, prototype ini nantinya dapat di realisasikan menjadi alat sungguhan yang bisa di aplikasikan ke prabik-pabrik industri di Magelang khususnya dan di Indonesia umumnya serta mendapatkan paten,” Pungkas Lutfi. (Tim PKM Chopral/DN)

PKM 2018 : PEMANFAATAN FERMENTASI TETES TEBU UNTUK OBAT NYAMUK

Imam Badrus Soleh (Agroteknologi), Ayu Septia Andriani (Agroteknologi) dan Siti Mulyani (Pendidikan IPA) merupakan mahasiswa Universitas Tidar yang melakukan sebuah penelitian tentang manfaat molase sebagai obat nyamuk alami.

Molase adalah limbah dari pengolahan gula tebu yang berwujud cairan kental bewarna cokelat. Molase atau biasa juga disebut tetes tebu dapat ditemukan di took-toko pertanian. Molase saat ini kebanyakan hanya dimanfaatkan sebagai campuran pupuk cair.

“Fermentasi molase dan ragi roti terbukti dapat digunakan sebagai penarik (antraktan) nyamuk. Hasil fermentasi ini kemudian dimasukkan ke sebuah alat perangkap sederhana dari botol plastic dan ditempatkan di pojok-pojok ruangan,” jelas Imam Badrus Soleh.

Ketua Tim Program Kreatifitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE) Uji Efektivitas Fermentasi Molase sebagai Antraktan Nyamuk dengan Metode Eksplorasi menjelaskan bahwa produk ini tidak hanya mengusir nyamuk seperti produk yang sudah ada di pasaran tetapi memerangkap dan akhirnya nyamuk mati di dalam perangkap tersebut.

“Produk obat nyamuk dipasaran hanya mengusir nyamuk dan akhirnya pindah ke tempat lain berbeda dengan fermentasi molase ini, memerangkap dan akhirnya nyamuk mati didalamnya,” tambah Imam.

Uji coba fermentasi molase dilaksanakan selama 14 hari pada pertengahan Mei 2018 di salah satu rumah mahasiswa UNTIDAR, Tri Sulistyo. Dalam 1 ruangan ditempat 3-4 botol berisi cairan fermentasi molase. Setelah selesai masa uji coba maka ditemukan hasil 1 botol fermentasi molase berhasil memerangkap rat-rata 17-20 nyamuk.

“Fermentasi molase ini jelas lebih aman dari produk pasaran yang banyak menggunakan bahan kimia hanya saja kami masih perlu melakukan penelitian lanjutan untuk menyempurnakan formulasi dan perangkapnya,” tuturnya.

Bau gas CO2 hasil fermentasi masih tercium tajam serta perangkap nyamuk yang masih menggunakan botol bekas dirasa masih kurang menarik dan rawan tumpah. “Uji coba keamanan gas CO2 hasil fermentasi molase ini juga perlu penelitian lanjutan, misal apakah kedepannya aman digunakan untuk ruangan yang terdapat bayi atau anak-anak ,”pungkas Imam. (Tim PKM-PE/DN)

PKM 2018 : TRICHODERMA, PESTISIDA AMAN DAN RAMAH LINGKUNGAN

Jamur Trichoderma sp merupakan jamur yang berfungsi untuk melawan jamur penyebab penyakit tanaman. Jamur ini merupakan biopestisida yang digunakan untuk menghambat penyakit tanaman namun tidak menggangu keadaan lingkungan seperti pestisida kimia yang digunakan secara umum.

“Jamur tersebut dapat juga disebut sebagai agen pengendali hayati layaknya pestisida yang berasal dari organisme hidup namun tidak menimbulkan dampak negatif”, ujar Tri Sulistiyo Ketua PKM Pengabdian Masyarakat ini.

 

Menurut mahasiswa jurusan Agroteknologi itu jamur ini dapat mengurangi intensitas serangan penyakit tanaman yaitu fusarium dan antraknosa yang banyak dijumpai pada penanaman petani, salah satunya tanaman cabai. Pestisida kimia yang digunakan kebanyakan petani saat ini dapat menimbulkan dampak negatif dari segi lingkungan, kesehatan, bahkan keseimbangan ekosistem.

Dusun Ngepoh Lor, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis banyak mengalami permasalahan penyakit tanaman tersebut di ladangnya dan masih menggunakan pestisida kimia dalam menghambat penyakit tanaman tersebut.

“Tanaman cabai mereka sering mengalami penyakit layu fusarium dan antraknosa dimana penyakit ini ditakuti oleh sebagian besar petani karena tanaman akan mudah mati”, katanya.

Prinsip kerja dari jamur Trichoderma sp ini yaitu melalui kompetisi atau mikroparasitis terhadap jamur lain, yang pada kasus ini jamur yang menyebabkan penyakit layu fusarium dan antraknosa juga jamur lain yang menyebabkan penyakit pada tanaman.

“Kompetisi itu seperti perebuatan makanan dan tempat hidup antar jamur, jamur Trichoderma sp merupakan jamur yang ganas dan selalu unggul terhadap jamur lain, sedangkan mikroparatis yaitu dengan cara hifa yaitu seperti akar pada tanaman dari jamur trichoderma yang melilit jamur lain, sehingga jamur yang dililit akan mati”, jelasnya.

PKM-M Untidar  ini sebelumnya mengadakan pelatihan untuk menjelaskan pengetahuan dampak dari penggunaan pestisisda kimia terus menerus saat ini masih dilakukan juga diberikan pelatihan pengembangan jamur Trichoderma sp sebagai inovasi usaha sampingan dan pemberdayaan pertanian yang bertempat di rumah Bapak Slamet Nugroho , Kepala Dusun Ngepoh Lor.

Bersama dengan warga yang sebagian besar berprofesi sebagai petani dan didampingi oleh Kepala Desa Banyusidi, mahasiswa UNTIDAR melakukan praktek langsung di ladang salah satu warga menyebarkan benih jamur tersebut. 1 bungkus Jamur hasil pengembangan digunakan untuk 1-3 tanki sprayer (semprotan). Jamur tersbut dilarutkan dalam air dan digunakan sebagai semprotan pengganti pestisida kimia.

“Saya sangat setuju diadakannya kegiatan program pelatihan ini, dengan pelatihan ini setidaknya kita bisa selangkah lebih maju untuk kembali ke pertanian organik”kata Bapak Yuwono Selaku Kepala Desa Banyusidi. (Tim PKMM/HDN)

PKM 2018 : ELMOS, INOVASI ALAT CEK KESEHATAN LANSIA

Meningkatnya populasi menua (ageing population) di Indonesia saat ini kurang diimbangi dengan peningkatan inovasi layanan kesehatan khususnya terhadap lansia. Pemantauan kesehatan yang kurang atau bahkan terlambat dapat membahayakan kesehatan para lansia apalagi jika lokasi fasilitas kesehatan yang jauh dari rumah.

Elderly Health Monitor System atau ELMOS diharapkan kedepannya dapat dikembangkan menjadi alat monitor kesehatan lansia di Indonesia. Ukurannya yang kecil dan cara aplikasi sederhana mempermudah para lansia memonitor kesehatannya dimanapun berada,” kata Choirul Anam.

Cara kerja alat ini yaitu meletakkan ELMOS pada dibagian lengan atas, lalu anggota keluarga dapat langsung memonitor kesehatan lansia tersebut menggunakan smartphone yang telah terhubung dengan alat yang telah terkoneksi melalui bluetooth dan bisa membaca kondisi kesehatan melalui aplikasi ELMOS yang telah terinstal.

Ketua tim Program Kreatifitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) ELMOS (Elderly Health Monitor System) ini menyatakan bahwa inovasi layanan monitor kesehatan lansia ini terintegrasi smartphone android

“ELMOS menjadi terobosan untuk memberikan layanan  kesehatan lansia yang dimudahkan dengan mengintegrasikannya dengan smartphone android. Kami sudah menguji coba ELMOS di Laboratorium Elektronik Untidar,” ujarnya.

ELMOS di wujudkan dalam bentuk gawai yang berisi mikrokontroler arduino. Sensor detak jantung, sensor suhu DS18b20, dan sensor accelerometer MPU 6050, serta modul Bluetooth yang dikemas menjadi alat yang inovatif dan mudah digunakan oleh lansia.

Dalam alat ini, Lansia akan di deteksi jumlah detak jantung per menit (Beat per Minute BPM), Jumlah suhu tubuh dengan satuan derajat selsius (*C), dan deteksi Lansia apabila Lansia mengalami jatuh maka ELMOS akan mengirim pemberitahuan ke smartphone apabila pengguna jatuh.

“Selama praktik uji coba beberapa kali dan dibandingkan dengan keadaaan aktual, hasil uji coba mengindikasikan hasil pembacaan alat mengalami perbedaan yang sedikit, itu berarti alat ini memiliki margin error yang kecil,” katanya.

Anam berharap, ELMOS dapat menjadi solusi peningkatan layanan kesehatan lansia untuk menghadapi peningkatan populasi menua. Alat ini bermanfaat sebagai layanan monitor kesehatan lansia yang inovatif, efektif,dan mudah digunakan serta berkelanjutan.

“Ke depan akan terus kami kembangkan alat ini. Bukan tidak mungkin beberapa tahun lagi masyarakat lansia akan membutuhkan layanan kesehatan lansia yang inovatif dan mudah digunakan. Harapannya ELMOS bisa menjadi jawaban akan inovasi layanan monitor kesehatan lansia untuk menghadapi peningkatan populasi menua di Indonesia,” jelasnya. (Tim PKM-KC ELMOS/DN)

PENGUMUMAN REGISTRASI (VERIFIKASI DATA) CALON MAHASISWA JALUR SBMPTN 2018

Kepada seluruh calon mahasiswa Universitas Tidar jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN) tahun 2018 untuk mengikuti Registrasi (Verifikasi Data) pada SENIN-SELASA, 23-24 JULI 2018 di Auditorium UNTIDAR mulai pukul 08.00 Wib sampai 16.00 Wib.

Calon mahasiswa wajib membawa FORM REGISTRASI yang didownload pada saat selesai proses REGISTRASI ONLINE.

Alur Registrasi dapat dilihat pada laman http://um.untidar.ac.id/registrasi-mahasiswa-baru/

Syarat dan ketentuan Registrasi (Verifikasi Data) dapat didownload pada :

SBMPTN 2018



PENGUMUMAN REGISTRASI (VERIFIKASI DATA) CALON MAHASISWA JALUR PMDK 2018

Kepada seluruh calon mahasiswa Universitas Tidar jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) tahun 2018 untuk mengikuti Registrasi (Verifikasi Data) pada SELASA, 24 JULI 2018 di Auditorium UNTIDAR mulai pukul 08.00 Wib sampai 16.00 Wib.

Calon mahasiswa wajib membawa FORM REGISTRASI yang didownload pada saat selesai proses REGISTRASI ONLINE.

Alur Registrasi dapat dilihat pada laman http://um.untidar.ac.id/registrasi-mahasiswa-baru/

Syarat dan ketentuan Registrasi (Verifikasi Data) dapat didownload pada :

PMDK 2018



PKM 2018 : “HI FARM EDUCATION” PERMAINAN EDUKASI PERTANIAN BAGI ANAK

Pengenalan potensi pertanian di Magelang tentunya harus dimulai dari usia dini. Usia PAUD dan TK adalah masa-masa emas dimana kecerdasan anak sudah mencapai 50% dimasa inilah perlunya stimulasi-stimulasi positif mulai diberikan salah satunya pengenalan tentang lingkungan sekitarnya.

Pengenalan potensi pertanian pada anak usia PAUD (0-4 tahun) berpeluang besar meningkatkan minat, kepedulian dan pengembangannya di masa yang akan datang. “Saat ini potensi pertanian di Magelang belum diimbangi dengan minat generasi muda untuk mengelolanya,” ujar Ayu Septian Andrian, mahasiswi Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Tidar.

Keprihatinan ini membuat Ayu beserta ketiga temannya yaitu Muhammad Dian Fery Firmanda (Teknik Sipil), Ahmad Choirul (Teknik Mesin) dan Diky Ilham Irvandiyanto (Teknik Mesin) membuat sebuah permainan edukasi pertanian untuk anak usia PAUD yang bertujuan mengenalkan dunia pertanian.

“kami menyebutnya Hi-Farm Education, yaitu permainan mirip ular tangga yang dimodifikasi untuk mengenalkan seputar dunia pertanian kepada anak-anak,” katanya.

Hi-Farm Education diwujudkan dalam bentuk papan permainan yang berisi miniatur budidaya tanaman yang edukatif, menyenangkan dan mudah dipraktikkan oleh anak-anak.

Dalam permainan ini, anak-anak didampingin untuk mengenal tahap budidaya tanaman. Anak-anak juga diajak mempraktikkan budidaya secara langsung mulai dari penanaman, perawatan hingga permanen sebagai aplikasi pengetahuan dari permainan.

“Setelah menyelesaikan permaian anak-anak juga diajak mempraktekkan ilmu yang mereka dapatkan dengan menamam tanaman disekitar sekolah,” tambah Ayu.

Menurut ketua tim Program Kreatifitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M) Hi Farm Education “Sistem edukasi pertanian anak usia dini dengan metode permainan inovatif di Magelang”, permainan ini telah diterapkan pada beberapa sekolah salah satunya PAUD Mutiara Hati dan RA Islamiyah, Kaliangkrik, Kabupaten Magelang.

Ibu Khoiriyah, guru PAUD Mutiara Hati, Kaliangkrik, Kabupaten Magelang mengungkapkan bahwa permainan edukasi ini sangat menarik dan bermanfaat bagi anak-anak didiknya.

“Hi-Farm Education dapat meningkatkan minat, pengetahuan dan ketrampilan anak-anak di bidang pertanian. Harapannya kegiatan ini dapat berlanjut dikemudian hari,” katanya.

Permainan bermanfaat sebagai penggerak kepedulian terhadap pertanian agar tercipta generai petani yang dinamis dan berkelanjutan.

“Kedepan akan terus kami kembangkan permainan edukasi ini. Bukan tidak mungkin akan diperbanyak dan disebar luaskan ke sekolah-sekolah atau para orang tua. Harapannya minat anak-anak pada dunia pertanian sejak dini sudah dipupuk sehingga ke depan lebih mencintai dunia pertanian,” pungkasnya. (Fery Firmanda/DN)