JADWAL PEMBAYARAN UKT DAN SPI MAHASISWA UNTIDAR TAHUN 2018/2019

Diberitahukan kepada Mahasiswa Universitas Tidar tahun Akademik 2018/2019 :

Besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) untuk mahasiswa Bidikmisi jalur SNMPTN dan SBMPTN yang TIDAK LOLOS seleksi dapat dicek pada laman sipadu.untidar.ac.id

  • Login SIPADU dengan Username : NPM dan Pasword : PIN yang diperoleh di KTM atau Surat Keterangan PIN yang diperoleh saat registrasi.
  • Pembayaran UKT dihimbau sebelum masa Perwalian atau KRS berakhir agar tidak mengganggu proses kegiatan tersebut.
  • Pembayaran menggunakan Nomor SNMPTN atau Nomor SBMPTN, panduan pembayaran dapat diakses pada Panduan Pembayaran
  • Jadwal KRS dapat diakses pada laman Kalender Akademik 2018/2019

Besaran Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) dapat diakses pada laman sipadu.untidar.ac.id

  • Login SIPADU dengan Username : NPM dan Pasword : PIN yang diperoleh di KTM atau Surat Keterangan PIN yang diperoleh saat registrasi.
  • Pembayaran SPI selambat-lambatnya sebelum masa ujian Tengah Semester (UTS) dimulai agar tidak mengganggu proses kegiatan tersebut.
  • Pembayaran menggunakan Nomor Pokok Mahasiswa (NPM) panduan pembayaran dapat diakses pada Panduan Pembayaran
  • Jadwal UTS dapat diakses pada laman Kalender Akademik 2018/2019

Bagi mahasiswa yang BELUM mendapatkan PIN untuk login ke SIPADU dapat menghubungi BAKPK, Gedung Rektorat Lantai 1.

PLT. REKTOR UNTIDAR RESMIKAN 1.830 MAHASISWA BARU TAHUN AKADEMIK 2018/2019

Sivitas Akademika Universitas Tidar melaksanakan Upacara HUT ke-73 Republik Indonesia pada Jumat (17/08) dimana Plt. Rektor, Prof. Drs. John Hendri, M.Si., Phd. menjadi Pembina Upacara.

Plt. Rektor Prof. Drs. John Hendri, M.Si., Phd menunjukkan berita acara serah terima PMB 2018. (Foto : Dok. Humas/Ficky Jihan Ababa)

Setelah upacara, kegiatan dilanjutkan dengan serah terima mahasiswa baru UNTIDAR Tahun Akademik 2018/2019. Acara ini dibuka oleh laporan kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UNTIDAR oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Joko Widodo, M.Pd.

“Jumlah total peminat yang mendaftar ke UNTIDAR pada tahun 2018 ini mencapai 19.112 peminat. Setelah menjalani proses seleksi, hanya 2.270 calon mahasiswa yang dinyatakan lolos seleksi atau sekitar 12% nya saja dari total keseluruhan peminat,” jelasnya.

UNTIDAR membuka 4 jalur PMB yaitu Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) khusus Diploma dan Seleksi Mandiri Masuk Universitas Tidar (SMM UNTIDAR).

Sebanyak 1830 mahasiswa baru mengikuti Upacara HUT ke-73 Kemerdekaan RI di kampus UNTIDAR. (Foto : Dok. Humas/Ficky Jihan Ababa)

“Dari 2770 calon mahasiswa yang lolos tersebut hanya 1830 calon mahasiswa yang akan diresmikan menjadi mahasiswa baru UNTIDAR Tahun Akademik 2018/2019,” tambahnya.

Sebanyak 940 calon mahasiswa dinyatakan menundurkan diri karena tidak memenuhi persyaratan dan ketentuan pada saat registrasi atau mengajukan surat pengunduran diri secara langsung ke pihak kampus.

Plt. Rektor, Prof. Drs. John Hendri, M.Si., Phd.di dampingi Wakil Rektor Bidang Akademik, Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan serta Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni menyematkan jas almamater dan topi UNTIDAR kepada Rizky dan Alya, perwakilan mahasiswa baru Universitas Tidar.

“Peminat yang terus meningkat tak hanya dari pulau Jawa, namun kini UNTIDAR sudah mulai ‘dilirik’ mahasiswa dar Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan pulau-pulau lain di Indonesia,” tambahnya.

Pimpinan UNTIDAR berfoto bersama dengan Alya dan Rizky. (Foto : Dok. Humas/Ficky Jihan Ababa)

Rizky Ardiansyah Rambe adalah mahasiswa Prodi S1 Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) asal Kampung Nelayan, Negeri Lama, Bilah Hilir, Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara. Sedangkan Alya Kamila adalah mahasiswi Prodi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) asal Wosu, Bungku Barat, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

“Saya merasa bersyukur dapat melanjutkan studi di UNTIDAR. Hampir gagal untuk sampai ke Magelang karena kendala biaya namun dengan bantuan dari guru-guru dan para kerabat di kampung halaman, saya membulatkan tekad untuk melanjutkan studi disini,” ujar Rizky.

Pada pelaksanaan Upacara HUT ke-73 Republik Indonesia kali ini para dosen dan tenaga kependidikan UNTIDAR dihimbau untuk memakai pakaian adat. Tradisi yang masih tergolong baru ini menjadi pemandangan berbeda dalam menyemarakkan HUT RI.

Pengibaran bendera raksasa berukuran 9×12 meter oleh Mapala Sulfur UNTIDAR menyambut para mahasiswa baru. (Foto : Dok. Humas/Ficky Jihan Ababa)

Ikut menyemarakkan perayaan HUT RI dan rah terima mahasiswa baru, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Sulfur UNTIDAR pada penghujung acara mengibarkan bendera merah putih raksasa dengan panjang 12 meter dan lebar 9 meter di Gedung Teknik UNTIDAR. (DN/HDN)

BENDERA RAKSASA DIKIBARKAN DALAM UPACARA HUT RI KE-73 DI UNTIDAR

Sebanyak 1830 mahasiswa baru Universitas Tidar (UNTIDAR) mengikuti upacara bendera dalam rangka memperingati HUT RI ke-73 dengan tema “Kerja Kita, Prestasi Bangsa” pada Jumat (17/08) lalu. Mereka merupakan mahasiswa yang lolos dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) khusus jenjang Diploma III, dan Seleksi Mandiri Masuk UNTIDAR (SMM UNTIDAR).

PLT Rektor UNTIDAR, Prof. Drs. John Hendri, M.Si., Ph.D. selaku inspektur upacara membacakan sambutan dari Menteri Riset Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir.

“Hari ini adalah hari yang istimewa bagi bangsa Indonesia. Pada hari ini kita memperingati hari ulang tahun ke-73 kemerdekaan Republik Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika menjadi dasar yang besar dan kuat, maka di hari yang khidmat ini marilah kita memahami kembali secara utuh Pancasila dan kebhinekaan bangsa, melihat kebhinekaan sebagai sebuah anugerah”, ujarnya.

Upacara bendera dilanjutkan dengan laporan Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Joko Widodo, M.Pd. mengenai jumlah mahasiswa yang diterima pada tahun akademik 2018/2019. Setelah itu berlangsung penandatanganan berita acara Serah Terima Mahasiswa Baru UNTIDAR oleh PLT Rektor UNTIDAR, Prof. Drs. John Hendri, M.Si., Ph.D., didampingi Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Joko Widodo, M.Pd.

Menariknya, upacara bendera kali ini berbeda dari tahun sebelumnya, karena seluruh dosen dan tenaga kependidikan UNTIDAR mengenakan pakaian adat dalam rangka memeriahkan upacara bendera dalam rangka HUT RI ke-73. Usai upacara, diadakan Parade Dosen dan Tenaga Kependidikan. Para dosen dan tenaga kependidikan berjalan mengitari lapangan secara berpasangan dengan mengenakan pakaian adat.

HUT RI ke-73 juga dimeriahkan dengan pengibaran bendera merah putih raksasa oleh UKM Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) SULFUR di gedung Fakultas Teknik. Bendera tersebut memiliki panjang 12 meter dan lebar atau tinggi 9 meter. Bendera raksasa dikibarkan oleh Mochammad Finandika Perwito, Febrianto Saputra, dan Aditya Pranata.

“Persiapan dilakukan selama dua hari, dengan didampingi oleh pengibar bendera pada tahun sebelumnya. Harapan untuk Indonesia, semoga semakin jaya, dan untuk UKM MAPALA SULFUR, kami berharap bisa terus mengibarkan bendera raksasa, dan rencananya kami berencana akan menambah ukuran bendera raksasa ini”, ujar Pertiwi Juli, salah satu anggota UKM MAPALA SULFUR. (Agnesia Dhinda Gusti Permatasari-mg/DN/HDN)

SEMARAKAN HUT RI KE-73, DOSEN DAN TENDIK UNTIDAR KENAKAN PAKAIAN ADAT NUSANTARA

Memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73, Dosen dan Tenaga Kependidikan (tendik) Universitas Tidar mengenakan pakaian adat nusantara, Senin (17/08). Ketentuan berpakaian ini baru pertama kali diterapkan di UNTIDAR dan mendapat respon positif.

Plt. Rektor, Prof. Drs. John Hendri, M.Si., Ph.D. mengenakan pakaian adat Beskap Jawa Tengah, Beliau menuturkan baru pertama kali memakai baju adat Jawa Tengah.

“Saya baru pertama kali dan pengalaman menggunakan pakaian adat Jawa Tengah, beskap, sangat menarik karena saya berasal dari lampung, Sumatera,” tuturnya.

Tidak hanya baju adat dari Jawa Tengah dan sekitarnya namun beberapa dosen dan karyawan mengenakan baju dari Papua, Palembang bahkan Minangkabau.

“Suasana upacara bendera menjadi sedikit berbeda dan tentunya sangat senang. Teman-teman dosen karyawan mengapresiasi budaya Indonesia. Khusus untuk mengenakan baju adat Palembang yang saya perlu persiapan kurang lebih 5 jam,” kata Agnira Rekha, S.Pd. M.Pd., dosen Prodi Bahasa Inggris.

Pada kesempatan ini, dua mahasiswa dari Chiang Rai Rajabhat University, Thailand, yaitu Naulemon Suksaeng dan Pimpawan Kantakheaw juga ikut mengenakan baju adat negara mereka. Mereka adalah mahasiswa yang sedang mengikuti SEA Teachers di UNTIDAR.

Bersama para dosen dan tendik UNTIDAR, Bom dan Min, nama panggilan mereka, mengelilingi lapangan upacara bergaya dengan pakaian adat masing-masing dihadapan 1830 mahasiswa baru UNTIDAR Tahun 2018.

Pihak kampus juga mengapresiasi kostum terbaik dengan memberikan hadiah kepada 4 kostum terbaik berupa dispenser, kompor gas, penyaring udara dan televisi.

Selain lomba pakaian adat nusantara, pada peringatan HUT RI ke-73 kali ini juga diselenggerakan beberapa lombayang diikuti oleh perwakilan mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan UNTIDAR. (Widia Asri Hutami-mg/DN/HDN)

MOCHICARI, INOVASI MOCHI RASA CARICA

Carica atau Vasconcellea Cundinamarcencis ini merupakan sejenis buah yang berasal dari dataran tinggi Andes, Amerika Selatan. Mulai ditanam di Indonesia khususnya di wilayah dataran tinggi Dieng, Wonosobo Jawa Tengah pada masa pemerintahan Hindia Belanda saat masa Perang Dunia II.

Buah yang masih satu keluarga dengan buah Pepaya ini tumbuh subur dan dibudidayakan oleh para petani di Wonosobo dan sekitarnya. Mereka mengolahnya menjadi manisan carica dan menjadi oleh-oleh khas Dieng, Wonosobo.

Menisan carica bisa disantap langsung atau dijadikan bahan campuran es buah,. Namun di tangan para mahasiswa Universitas Tidar, manisan carica diolah menjadi makanan kekinian yang disukai banyak orang.

“Kami mengolah manisan carica menjadi bahan isian mochi. Lembutnya kue asal jepang yang berasal dari beras ketan ini terasa lebih nikmat dengan paduan manisnya manisan carica. Kue mochi dengan isian manisan carica ini kami namakan Mochicari,” ujar Rihmayati Aisah.

Terinspirasi dari banyak bermunculannya makanan kekinian dengan aneka rasa, Aisa mencoba memadukan mocha dengan manisan carica.

Inovasi Aisa bersama Shara Thaharah, Laili Hidayani, Farahifa Risdana dan Oktaviani Sri Rahayu ini merupakan hasil Program Kreatifitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) UNTIDAR yang berhasil lolos dan memperoleh pendanaan dari pihak Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

“Inovasi baru rasa mocha ini menarik banyak perhatian para pengunjung dan stok mochi yang kami bawa habis dibeli pengunjung,” tambahnya.

Pada acara seminar kerjasama UNTIDAR dengan Kementerian Pemuda dan Olah Raga dengan tema “Penumbuhan Minat Kewirausahaan di Kalangan Pemuda” pada Jumat (09/08), Mochicari laris manis dibeli para peserta dan pengunjung stand.

Pengunjung dapat  membeli mochicari dengan harga jual Rp 3.000 per cup kecil dan Rp 20.000 per kemasan besar.

“Mochicari merupakan cemilan aman, enak dan sehat. Target kedepannya kami bisa memperoleh ijin produksi serta memperoleh predikat halal sehingga dapat kami pasarkan ke pasar yang lebih luas lagi,” jelas Aisa.

Pemasaran mochicari selain mengikuti pameran adalah memanfaatkan sosial media Instagram dengan akun @mochicari_untidar. Selain varian isi manisan carica, ada pula mochi dengan rasa oreo dengan isi selain susu vanilla.(JasindaValmai-mg/DN/HDN)

PANGERAN TIDAR UNJUK GIGI DI SEMINAR KEWIRAUSAHAAN KEMENPORA-UNTIDAR

Kementerian Pemuda dan Olahraga RI (Kemenpora RI) bekerjasama dengan Universitas Tidar menyelenggarakan Seminar “Penumbuhan Minat Kewirausahaan di Kalangan Pemuda,”pada Kamis (09/08).

Seminar ini dibuka secara resmi oleh Imam Gunawan, Asisten Deputi Kewirausahaan, Kemenpora yang hadir mewakili Imam Nahrawi selaku Menteri Pemuda dan Olahraga yang berhalangan hadir.

“Pemuda harus berani berwirausaha. Pada seminar ini manfaatkanlah kesempatan mendapatkan ilmu dari para pemateri dan kalian dapat melihat produk-produk wirausaha oleh mahasiswa UNTIDAR di stand belakang,” tuturnya.

Pada seminar ini, sekitar 10 stand wirausaha mahasiswa UNTIDAR juga ikut dipamerkan. Salah satu yang menarik banyak perhatian adalah “Pangeran Tidar”

Pengelolaan Jamur Merang Awetan Tidar atau disingkat Pangeran Tidar merupakan judul program Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia (KBMI) mahasiswa UNTIDAR yang lolos seleksi dan mendapat pendanaan dari Kementerian riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Pangeran Tidar ini beranggotakan empat orang yang terdiri atas Erni Lestari (ketua/S1 Agroteknologi), Didi Muna Irawan (anggota/SI Teknik Mesin), Sigit (anggota/S1 Teknik Sipil), Ridwan Maulana (anggota/SI Teknik Elektro), dan Miftahul Ilmi (anggota/S1 Agroteknologi). Sebelum membentuk KBMI ini, mereka telah memiliki usaha “Darush Nusantara” (budidaya jamur merang) yang kemudian dikembangkan menjadi jamur merang awetan.

“Sebenarnya sudah memiliki usaha bernama Darush Nusantara. Setelah panen, kami pasarkan. Namun, untuk tahun ini kami mengembangkan jamur merang awetan. Jamur yang sudah dipanen, kami awetkan supaya bisa bertahan tiga hari atau paling lama selama tiga bulan. Darush Nusantara itu Tidar Mushroom, jamurnya Tidar yang berlokasi di Payaman, Magelang. Untuk KBMI ini, kami mengambil judul tentang Jamur Merang Awetan. Dari jamur itu, akan memodifikasikan alat cup sealer-nya,” ujar Erni.

Proses dari jamur awetan itu sendiri melalui pencucian, perebusan, perendaman menggunakan asam sitrat selama 10 menit, dan pengemasan dengan menggunakan air garam sebanyak 1% dari air. Jamur merang yang telah beres dimasukkan ke cup.

Cup perlu ditutup supaya tidak berkontraksi dengan udara dengan memanfaatkan cup sealer.Untuk alat-alatnya, sudah bisa saya prediksi 90% sempurna yang digunakan untuk menunjang proses pengawetan. Pengawetannya itu nanti dengan proses pengasaman. Untuk mendukung proses tersebut, tentunya perlu ada tempat pengemasan khusus supaya bisa tertutup rapat. Kami memanfaatkan alat cup sealer-nya itu,” tambah Didi selaku pemegang bagian alat.

Cup sealer merupakan mesin yang digunakan untuk menutup permukaan cup minuman. Cup sealer ini biasanya digunakan untuk kemasan jus atau minuman jenis lain yang berbahan plastik. Sama halnya dengan jus, jamur merang awetan ini juga menggunakan kemasan itu. Namun, dalam hal ini memodifikasi dan inovasi dari segi sumber energinya yaitu panel surya.

“Kami memikirkan bahwasannya ke depan sumber energi itu semakin terbatas. Kami memanfaatkan panel surya (cahaya surya) matahari sebagai sumber sekunder. Misalnya, dalam memproduksi sesuatu terjadi mati listrik atau di daerah terpencil yang belum ada listriknya kita bisa memanfaatkan panel surya dengan beberapa komponen, seperti inverter, aki, dan solar charge. Itu sebagai panel suryanya,” ungkap Didi.

Alatcup sealermenggunakan prinsip kerja pemanasan (heating) dan pemotongan (cutting). Alat tersebut tentunya akan menghasilkan panas. Prinsip kerja pemanasan itu nantinyabisa menghasilkan listrik.

“Kami juga memanfaatkan panas cup sealer-nya. Alat tersebut akan menghasilkan panas (proses penekanan). Dari panasnya itu, bisa menghasilkan listrik dengan menggunakan komponen termoelektrik,” tambah Didi.

Jamur yang dipamerkan dalam acara seminar kewirausahaan ada dua jenis, yaitu jamur segar dan jamur awetan. Jamur segar sendiri ditawarkan seharga Rp 7000,00/cup dan jamur awetan seharga Rp 14.000,00/cup.

Tim Pangeran Tidar ikut meramaikan seminar kewirausahaan sebagai inisiatif untuk memperkenalkan produknya, membuktikan bahwa produk mereka berpotensi besar untuk laku dipasaran serta untuk keperluan dokumentasi monev nantinya. (Septina Tri Huwaida-mg/DN/HDN)

ALTABATIS SIAP MAJU KE PIMNAS 2018

Alat Tanam Biji Jagung Semi Otomatis (ALTABATIS) karya mahasiswa Universitas Tidar lolos seleski dan berhak maju ke ajang Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) 31 di Universitas Yogyakarta pada 28 Agustus – 2 September 2018.

Program Kreatifitas Mahasiswa Teknologi (PKMT) Alat Tanam Biji Jagung Semi Otomatis dengan Metode Mechanics Centrifugal Pressure Guna Meningkatkan Produktivits Pertanian di Desa Blengorwetan, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen merupakan buah karya kata Didi Muno Irawan, Agus Musafa, Diky Ilham Ivandianto, Muhamad Aflakhul Adib, dan Ririh Rubus Setyaningrum.

“Ide awal muncul dari para petani yang menanam jagung menggunakan cara tradisional yaitu dengan mencangkul tanah hingga kedalaman sekitar 20cm, menabur biji jagung, dan meratakan kembali tanah dengan abu. Cara ini kurang efektif dan efisien, petani jadi cepat lelah dan pengerjaan lahannya pun memakan waktu yang lama,” kata Didi.

Hal itulah yang memicu Didi dan rekan-rekannya untuk membuat terobosan baru menggunakan teknologi yang lebih praktis, tiga pekerjaan dapat dikerjakan dengan satu alat yaitu menggunakan ALTABATIS.

Pihak kampus mendampingi Tim Altabatis mulai dari persiapan poster, bahan presentasi serta cara mempresentasikan karya mereka di depan juri.

“Dibantu Bapak Tommy Yuniawan, S.Pd., M.Pd. dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) kami dibimbing bagaimana mengemas sebuah presentasi lebih matang, jelas dan menarik. Sebagai reviewer PKM banyak masukan beliau yang membantu kami, semoga kami bisa mendapatkan gelar juara,” tambah Didi.

ALTABATIS adalah alat tanam biji jagung yang memanfaatkan gaya hasil dari putaran roda (Mechanics Centrifugal Pressure)yang memiliki ukuran150 cm x 20 cm x 100 cm, dengan berat 20 kg. Alat ini memiliki tiga fungsi yaitu dapat membuat lubang pada tanah, mengisi lubang dengan biji jagung, dan dapat menutup dengan abu, sehingga para petani tidak perlu bekerja ekstra saat proses menanam jagung.

Cara menggunakannya pun cukup mudah, hanya dengan mendorong alat tersebut, maka alat sudah dapat membuat lubang pada tanah, mengisi lubang dengan biji jagung, dan meratakan tanah dengan abu.

Kinerja ALTABATIS sesuai dengan jargon yang diusung oleh kelompok ini yaitu “Dorong, Tancap, Jadi”. Saat uji coba di salah satu lahan petani Dumpoh, Magelang Utara, Kota Magelang, alat ini dapat bekerja sesuai fungsinya. Hanya saja, masih perlu penyempurnaan dalam hal mekanisme pengeluaran biji jagung dan abu.

“Saya berharap, alat ini dapat mempermudah kinerja para petani jagung khususnya mitra kami yaitu Kelompok Tani Dwi Jaya Margar Sari Desa Blengorwetan, Ambal, Kebumen,” pungkas Didi.

Persiapan tim ALTABATIS menuju PIMNAS meliputi laporan akhir, poster, presentasi, xbanner, dan pengurusan hak paten. Didi juga membagikan tips bagi para mahasiswa agar PKM-nya dapat lolos ke PIMNAS, yaitu harus tekun dan semangat. (Khusnul Soneta-Mg/DN/HDN)

PERUBAHAN JADWAL PELAKSANAAN KONTES PELAYANAN PERBANKAN UNTUK REKENING PENERIMAAN UNTIDAR

Kepada seluruh peserta Kontes Pelayanan Perbankan untuk Rekening Penerimaan Universitas Tidar bersama ini kami sampaikan PERUBAHAN JADWAL PELAKSANAAN, berikut detail perubahannya :

Pengumuman Perubahan Jadwal Kontes