KIP-Kuliah Tingkatkan Akses Pendidikan

Jayapura – Komitmen mengawal pemerataan akses pendidikan yang menjangkau setiap pelosok Indonesia terus diupayakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui program bantuan sosial Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-Kuliah) khususnya di wilayah Papua.

Melalui program ini ratusan mahasiswa asal Papua bisa memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi mereka tanpa terbebani biaya pendidikan. Mahasiswa pun menyoroti bahwa program ini adalah harapan untuk menggapai cita-cita dan berdampak bagi transformasi sumber daya unggul di Papua, di tengah berbagai tantangan yang sedang mereka hadapi.

“Melalui KIP-Kuliah ini saya ingin menjadi guru di kampung saya, karena akses ke sana yang masih terbatas dan sulit dijangkau, sehingga guru didatangkan dari Kota,” ujar Teis Tibul, penerima manfaat  KIP-Kuliah dari Universitas Cenderawasih, pada (30/6).

Teis juga menambahkan bahwa saat terpilih menjadi salah satu penerima KIP-Kuliah, keluarga diberi kabar melalui akses radio satelit dari kota ke desa yang hanya bisa dipancarkan sekali seminggu, dengan durasi terbatas.

Cerita lain juga datang dari anak asli Papua dari wilayah pegunungan, Niko Tibul, seorang anak yatim piatu yang bahkan sempat ragu tidak bisa melanjutkan studinya ke jenjang perguruan tinggi, namun akhirnya setelah menerima manfaat KIP-Kuliah berhasil menamatkan studinya.

Program KIP-Kuliah juga dititipkan harapan dan cita-cita oleh seorang perempuan asli Papua, Trestania Kambu yang ingin menjadi seorang wirausahawan dengan tujuan berdampak pada perekonomian daerah, dan bisa menjadi sosok yang mampu bertranformasi dari seorang anak penjual roti rumahan hingga membangun SDM unggul dari pelosok hingga pesisir Papua.

Perjalanan panjang dan mimpi mahasiswa dari Universitas Cenderawasih ini setelah mendapat manfaat program KIP-Kuliah sejalan dengan arah kebijakan Diktisaintek Berdampak, bahwa mahasiswa dan lulusan tidak hanya memperoleh gelar akademik, tapi harus berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Kemdiktisaintek berkomitmen menjaga program ini untuk tepat sasaran dan menjangkau penerima manfaat lebih luas lagi. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyatakan bahwa KIP-Kuliah adalah komitmen bangsa agar tidak ada anak bangsa yang gagal kuliah hanya karena kondisi ekonomi. Untuk itu kolaborasi dengan Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta (PTN/PTS) terus dilakukan agar penerima tepat sasaran.

Menyaksikan dampak langsung program ini, Rektor Universitas Cenderawasih mengatakan, “Kami mengucapkan terima kasih kepada Kemdiktisaintek, karena kami terus mendapatkan kuota KIP-Kuliah bagi para mahasiswa yang ada di universitas Cenderawasih, dimana kuota terus bertambah seiring meningkatnya akreditasi prodi, sehingga sangat membantu para mahasiswa,” ujar Oscar Oswald O. Wambrauw.

Kemdiktisaintek Luncurkan Program Inisiatif Strategis Riset dan Hilirisasi Nasional 2025

Jakarta- Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) secara resmi meluncurkan Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak dan Program Hilirisasi Riset Prioritas 2025, Senin (30/6).

Acara ini diselenggarakan dalam rangka mempercepat hilirisasi hasil riset dan inovasi serta memperkuat kerja sama dan kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan dunia industri serta mitra lainnya melalui Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan bersama Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Risbang), Kemdiktisaintek.

Dalam sambutannya, Staf Khusus Menteri (SKM) Bidang Jejaring Industri dan Kerja Sama Luar Negeri, Oki Earlivan Sampurno menyampaikan bahwa riset perguruan tinggi harus memperkuat gravitasi hilirisasi.

“Kampus sebagai katalisator yang mampu menjawab permasalahan daerah dan juga tingkat nasional, sehingga tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga harus bisa memahami apa yang ada di daerah. Asta Cita yang menjadi program presiden akan menjadi acuan kita,” tegas SKM Oki.

Direktur Jenderal (Dirjen) Risbang, Fauzan Adziman menjelaskan bahwa riset yang dibangun adalah riset yang berdampak dan menjangkau masyarakat luas.

“Ada dua pilar yang menjadi program kunci di Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan. Secara garis besar riset yang membangun publikasi berkualitas dan satu pilar baru yaitu hilirisasi, yakni produk yang dapat dikembangkan dan menjangkau masyarakat. Kita ingin industri terlibat dalam proses riset dengan perguruan tinggi, dan dalam konsorsium kita akan memberikan bobot tinggi kepada industri yang terlibat,” papar Dirjen Fauzan.

Peluncuran Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak dipaparkan oleh Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, I Ketut Adnyana. Direktur Ketut menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan institusi.

“Harapannya terbangun kolaborasi lintas disiplin dan institusi, di mana setiap tim berkontribusi secara spesifik untuk menghasilkan satu luaran utama yang terintegrasi. Keterlibatan mitra sebagai offtaker sejak penyusunan roadmap hingga terciptanya produk yang siap diimplementasikan menjadi kunci keberhasilan program ini.”, ujarnya.

Dalam pemaparan Program Hilirisasi Riset Prioritas 2025, Direktur Hilirisasi dan Kemitraan, Yos Sunitiyoso, menyampaikan tujuan program ini adalah menjadi motor penggerak konektivitas antara dunia riset dan dunia usaha, mempercepat transfer teknologi, dan mendukung ekosistem hilirisasi berbasis teknologi yang terintegrasi.

“Program Hilirisasi Riset Prioritas mengusung dua pendekatan utama. Pertama, melakukan kurasi terhadap produk hasil riset perguruan tinggi, menilai kelayakan industrinya, dan mendorongnya ke tahap komersialisasi. Kedua, industri menyampaikan kebutuhan atau permasalahan yang dihadapi untuk kemudian dijawab melalui riset oleh perguruan tinggi.”, jelasnya.

Peluncuran kedua program ini merupakan komitmen Kemdiktisaintek dalam membangun ekosistem riset yang inklusif, terintegrasi, dan berdampak nyata bagi pembangunan nasional. Dengan memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat, diharapkan hasil riset tidak hanya berhenti di publikasi, tetapi juga hadir sebagai solusi nyata bagi tantangan bangsa.

Kegiatan ini dihadiri pula oleh kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) seluruh wilayah di Indonesia, pimpinan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) perguruan tinggi, pimpinan perusahaan industri dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta dosen maupun peneliti perguruan tinggi di lingkungan Kemdiktisaintek.

Hari Pendidikan Nasional: Kemdiktisaintek Dengarkan Aspirasi Gabungan Aliansi BEM se-Indonesia

Jakarta-Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melakukan dialog terbuka dengan mahasiswa dalam  upaya mendengar semua suara pemangku kebijakan Kemdiktisaintek, Jumat (2/5). 

Ini merupakan  langkah dalam menghadirkan ekosistem pendidikan tinggi, sains, dan teknologi yang berdampak, sesuai dengan arah baru Kemdiktisaintek, yaitu Diktisaintek Berdampak.

Dialog terjadi secara dua arah antara mahasiswa yang tergabung dalam Gabungan Aliansi BEM se-Indonesia dengan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Brian Yuliarto. Dialog ini mengupayakan solusi bagi tantangan yang terjadi di dunia pendidikan tinggi.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menyambut baik inisiatif mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi. Ini adalah ruang terbuka bagi mahasiswa untuk berpendapat, dan mewakili kepentingan banyak pihak demi tujuan bersama yaitu peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui transformasi kualitas pendidikan tinggi, sains, dan teknologi.

“Saya selalu senang bertemu teman-teman aktivis mahasiswa, karena saya yakin, masa depan bangsa juga ada di tangan para aktivis,” ungkap Menteri Brian.

Mendiktisaintek juga memberikan pesan dan harapan untuk mahasiswa yang nantinya akan menjadi pilar untuk Indonesia emas 2045.

“Kita harus jadi pribadi yang sabar dalam menggapai cita-cita dan tujuan, kuncinya sabar, kalau kita sabar, kapasitas kita terbangun, kalau tidak sabar, tidak akan jadi apa-apa. Bangun kapasitas Anda, maka Anda akan mendapatkan segalanya,” ujar Menteri Brian.

Mahasiswa juga diimbau untuk meningkatkan kompetensi, dalam hal ini Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi telah menciptakan ruang belajar yang eksploratif melalui program-program Diktisaintek Berdampak. Seperti program beasiswa, kuliah kerja nyata, praktek industri, dan program strategis lainnya.

Agenda ini dihadiri oleh perwakilan mahasiswa dari BEM PTMA-BEM PTNU-BEM KSI-BEM Nusantara-DEMA PTKIN, mereka turut menyambut baik arah Diktisaintek Berdampak.

“Kampus berdampak ini semoga bisa merata, semoga harapannya PTKIN dan PTKIS bisa juga merasakan program-program yang diberikan oleh Kemdiktisaintek,” ungkap perwakilan aliansi PTKIN dan PTKIS.

Turut hadir pada sesi dialog ini Wakil Menteri Fauzan dan Stella Christie, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Khairul Munadi, Plt Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Berry Juliandi.

Mendiktisaintek: Kemajuan Negara Dimulai dari Dosen

Jakarta–Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyatakan bahwa dosen memiliki tugas mulia dalam memajukan negara. Hal ini disampaikannya ketika memberi kuliah umum dalam Musyawarah Nasional (Munas) Aliansi Dosen Aparatur Sipil Negara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Seluruh Indonesia (ADAKSI) di Graha Diktisaintek, Jakarta, Jumat (2/5).

Munas pertama ADAKSI ini merupakan wadah konsolidasi bagi dosen ASN di bawah naungan Kemdiktisaintek se-Indonesia. Kesempatan ini menjadi ruang terbuka bagi para dosen untuk mendiskusikan tantangan yang hadir dalam dunia pendidikan tinggi.

Menteri Brian memaparkan pentingnya peran dosen dalam menghasilkan sumber daya manusia unggul untuk mendorong Indonesia menjadi negara maju. Menurutnya, dosen memiliki peran strategis untuk membina calon pemimpin bangsa, sebagai pihak yang dapat menginspirasi dan mendidik mahasiswa untuk terus bergerak maju.

“Kampus harus menjadi tempat lahirnya riset-riset baru dan semangat baru. Terdapat 10 juta mahasiswa. Mereka yang kelak menentukan maju-mundurnya Indonesia. Pesan Saya, binalah adik-adik mahasiswa,” kata Menteri Brian.

Selain itu, untuk keluar dari middle income trap, Menteri Brian menekankan mengenai pola pikir riset dan budaya ilmiah yang selalu hadir di negara maju. Dosen perlu memasyarakatkan budaya ilmiah di dalam maupun luar kampus, termasuk berkolaborasi dengan pemerintah dan industri. 

“Ini yang kami usahakan di Kemdiktisaintek: Pendidikan tinggi, sains, dan teknologi yang berdampak. Kami ingin mendorong paradigma University 4.0 dengan konsep kolaborasi quadruple helix, supaya akademisi dapat berkolaborasi dengan berbagai sektor seperti pemerintah, UMKM, industri, hingga masyarakat,” jelas Menteri Brian.

Sebagai penutup, Menteri Brian mengapresiasi semua masukan yang telah diberikan ADAKSI selama ini. Kemdiktisaintek berkomitmen untuk mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan dalam bidang pendidikan tinggi, termasuk bagi dosen dan tenaga pendidik. Salah satunya adalah isu Tunjangan Kinerja (Tukin) yang tengah diformulasikan prosesnya bersama berbagai pihak. Menteri Brian menekankan bahwa Kemdiktisaintek akan meringankan proses tersebut bagi para dosen.

“Tugas kami adalah untuk melayani, dan dosen merupakan stakeholder utama kami dalam bidang pendidikan tinggi,” tegas Menteri Brian.

Sejalan dengan kuliah umum Menteri Brian, Ketua Dewan Penasihat ADAKSI, Fasli Jalal, mendorong dosen untuk memahami kembali hak dan kewajiban mereka sebagai pembelajar sepanjang hayat, serta kepada mahasiswa, kampus, bidang keilmuan, dan bangsa Indonesia.

“Mari jadikan Munas ini sebagai refleksi mengenai apa yang telah kita jalani dan perjuangkan,” ujar Fasli.

Peringati Hari Pendidikan Nasional: Kemdiktisaintek Luncurkan “Diktisaintek Berdampak” sebagai Arah Baru Kebijakan Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Indonesia

Jakarta-Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) secara resmi meluncurkan “Diktisaintek Berdampak”.

Program ini memiliki tujuan menetapkan arah baru kebijakan kementerian yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, sains, dan teknologi di Indonesia. Acara ini dilaksanakan di Graha Diktisaintek, Jumat (2/5).

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menegaskan bahwa “Diktisaintek Berdampak” merupakan langkah strategis dan transformatif yang dirancang untuk menjawab tantangan pembangunan nasional dan mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.

Pendidikan tinggi tidak hanya berperan sebagai penyedia ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai penggerak utama perubahan sosial dan ekonomi bangsa.

“Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, memegang peran kunci dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Kita perlu membangun sistem pendidikan tinggi yang berkeadilan, relevan, dan berdampak. Transformasi ini harus mampu membuka akses seluas mungkin dengan kualitas yang setara di seluruh Indonesia. Diktisaintek Berdampak adalah gerakan nasional untuk mewujudkan hal itu,” ujar Menteri Brian.

Peluncuran “Diktisaintek Berdampak” menjadi simbol transformasi yang ingin memastikan bahwa seluruh aktivitas pendidikan tinggi, sains, dan teknologi tidak hanya menghasilkan output akademik, tetapi juga outcome yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Menteri Brian juga menyampaikan bahwa “Diktisaintek Berdampak” adalah sebuah gerakan bersama yang berakar pada semangat kolaborasi.

“Tentu, program ini adalah gerakan bersama, inspirasi, refleksi kita ketika berkolaborasi dengan perguruan tinggi dan mitra-mitra kami. Ini merupakan gerakan bersama yang menjadikan perguruan tinggi sebagai pusat transformasi, mahasiswa sebagai penggerak utama perubahan, dan riset sebagai arah pembangunan,” ujar Menteri Brian.

Menteri Brian juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mendorong kemajuan daerah secara menyeluruh.

“Harapannya, perguruan tinggi di Indonesia bisa bergandengan tangan dengan pemerintah daerah, industri, masyarakat, dan UMKM, berkolaborasi mendorong terjadinya kemajuan-kemajuan sehingga kampus bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang ada di daerah,” jelas Menteri Brian.

Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemdiktisaintek, Togar Mangihut Simatupang, dalam laporannya turut menyampaikan bahwa “Diktisaintek Berdampak” tidak sekadar slogan, melainkan semangat transformasi ekosistem pendidikan tinggi agar lebih ilmiah, sosial, dan nasional dalam dampaknya.

“Melalui semangat Diktisaintek Berdampak, mari kita lanjutkan perjuangan untuk membentuk masa depan pendidikan yang menjangkau lebih banyak, melayani lebih dalam, dan berdampak lebih luas bagi generasi penerus bangsa,” kata Sesjen Togar.

Slogan ini diterjemahkan dalam berbagai kebijakan, program, dan gerakan konkret, antara lain Kampus Berdampak, SMA Unggul Garuda, Beasiswa ADik, skema Riset Diktisaintek Berdampak melalui Pendanaan LPDP, Program Kosabangsa untuk masyarakat 3T, serta penguatan kerja sama riset luar negeri yang relevan dengan tantangan pembangunan nasional Hardiknas 2025 menjadi titik tolak komitmen bersama untuk menjadikan pendidikan tinggi sebagai lokomotif perubahan menuju Indonesia maju, berilmu, dan bermartabat.

Program ini diluncurkan Menteri Brian dalam acara yang berlangsung khidmat dan dihadiri hingga 300 peserta dari kalangan pimpinan perguruan tinggi, Perwakilan Komisi X DPR RI, Perwakilan Komite III DPD RI, LLDikti, mitra kerja, Gabungan Aliansi BEM se-Indonesia antara lain BEM PTMA-BEM PTNU-BEM KSI-BEM Nusantara-DEMA PTKIN, serta rekan media.

Kemdiktisaintek dan KemenPPPA Bersinergi Wujudkan Kampus Tanpa Kekerasan

Jakarta—Dalam rangka menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang aman, ramah perempuan, dan bebas kekerasan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melakukan audiensi bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) dalam rangka menjalin kerja sama strategis untuk mengkampanyekan pencegahan kekerasan seksual dan perundungan (bullying) di lingkungan kampus. Sinergi ini akan mulai digulirkan secara masif pada masa Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun 2025, Rabu (30/4).

Dalam audiensi tersebut, Menteri Brian menegaskan bahwa masa PKKMB merupakan momentum krusial untuk membentuk kesadaran mahasiswa baru terhadap isu kekerasan seksual dan perundungan.

“Kami meyakini ini waktu yang tepat untuk memberikan muatan penting tentang pelecehan dan perundungan. Mahasiswa baru sedang sangat antusias, dan ini kesempatan emas untuk membentuk kesadaran sejak awal,” ujar Menteri Brian.

Menteri Brian juga menyampaikan rencana Kemdiktisaintek untuk mengeluarkan surat edaran kepada seluruh perguruan tinggi agar memuat klausul tentang pencegahan kekerasan dan penyimpangan perilaku dalam kontrak mahasiswa baru.

“Kami ingin nilai-nilai antikekerasan menjadi bagian dari identitas mahasiswa sejak hari pertama masuk kampus. Ini bukan hanya kampanye, tapi gerakan nasional yang berkelanjutan,” tambah Menteri Brian.

Senada, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi (Arifah Fauzi) menekankan pentingnya keterlibatan aktif kampus dan seluruh pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif dan aman bagi semua.

“Panitia ospek tidak boleh melakukan kekerasan dalam bentuk apapun. Kita perlu deklarasi bersama kampus seluruh Indonesia sebagai bentuk komitmen nyata. Bahkan, kita bisa berikan penghargaan kepada kampus yang menerapkan standar ramah perempuan dan anak,” tegas Menteri Arifah.

MenPPPA juga menambahkan bahwa pendekatan komunikasi terhadap Gen Z memerlukan strategi yang adaptif dan kekinian.

“Kami akan melibatkan influencer yang memahami karakter anak muda agar pesan kampanye ini bisa diterima dengan kuat dan tidak terasa menggurui. Saat ospek nanti, saya dan Pak Menteri akan turun langsung ke kampus untuk menyapa dan menyampaikan pesan ini secara langsung,” jelas Menteri Arifah.

Audiensi ini menghasilkan komitmen bersama antara lain untuk: 

  1. Menyusun surat edaran bersama terkait integrasi materi pencegahan kekerasan ke dalam kegiatan PKKMB; 
  2. Merancang materi kampanye yang relevan bagi Gen Z, termasuk pelibatan figur publik atau influencer; 
  3. Membuat simbolisasi kerja sama antara Kemdiktisaintek dan KemenPPPA sebagai bentuk konkret gerakan nasional; serta
  4. Mempersiapkan mekanisme apresiasi (award) bagi kampus-kampus yang berhasil menerapkan prinsip kampus ramah perempuan dan anak.

Audiensi kedua kementerian berlangsung di Kantor KemenPPPA, Jakarta. Pertemuan ini menjadi momen strategis dalam membangun kesepahaman antar kementerian dalam mendorong kampus-kampus di Indonesia menjadi ruang belajar yang aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

Kolaborasi dua kementerian ini diharapkan sebagai langkah strategis dan preventif dalam menciptakan ruang akademik yang sehat, aman, dan inklusif.

Aktualisasi Kampus Berdampak  sebagai Keberlanjutan Kampus Merdeka

Jakarta–Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menggelar acara “Ngopi Bareng” awak media sebagai awalan perkenalan gerakan #KampusBerdampak, Selasa (29/4).

Gerakan ini merupakan bagian dari inisiatif besar program dan gerakan  #DiktisaintekBerdampak. Acara ini merupakan rangkaian menuju Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 sekaligus sebagai mempertegas keberlanjutan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) yang menjadikan kampus lebih berdaya dan berdampak langsung kepada masyarakat, dunia industri dan usaha, serta mendukung ekosistem riset dan inovasi untuk pembangunan nasional.

Hal ini sejalan dengan visi Kemdiktisaintek, “Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang Berdampak, Inklusif, dan Adaptif untuk Membangun Fondasi Transformasi Sosial dan Ekonomi Berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.” Dalam kesempatan ini, Dirjen Dikti, Khairul Munadi, menyampaikan bahwa gerakan Kampus Berdampak merupakan bentuk aktualisasi nilai-nilai luhur Ki Hadjar Dewantara, yaitu “Dengan ilmu kita menuju kemuliaan, dengan amal kita menuju kebajikan.”

Kutipan ini menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan harus dihidupkan dan berdampak dalam tindakan nyata, tidak sekadar disimpan dalam buku atau peringkat akademik. Perguruan tinggi harus hadir di tengah masyarakat sebagai suluh peradaban, menerangi jalan, menyatukan harapan, dan menjadi ruang bagi tumbuhnya perubahan.

“Kampus berdampak itu adalah kampus yang tidak hanya menghasilkan lulusan, publikasi, ranking global, tapi juga kampus yang mentransformasi kehidupan masyarakat. Sehingga nantinya peran perguruan tinggi itu diharapkan menjadi pusat solusi yang nyata untuk masyarakat, selain itu juga perguruan tinggi diharapkan menjadi motor inovasi sosial dan ekonomi berkelanjutan. Kemudian paling tidak kalah penting juga menjadi mediator kolaborasi antar pihak,” ujar Dirjen Khairul.

Sebagai wujud impelementasinya, Ditjen Dikti menyiapkan berbagai program unggulan Kampus Berdampak yang akan diluncurkan secara resmi pada puncak peringatan Hardiknas, 2 Mei 2025. #KampusBerdampak adalah gerakan bersama untuk menautkan ilmu dengan aksi, riset dengan kebutuhan nyata, dan pembelajaran dengan pemberdayaan. Kampus-kampus di seluruh Indonesia akan digerakan untuk menjadi simpul transformasi sosial: membangun desa yang tertinggal, memberdayakan UMKM, merawat lingkungan yang rapuh, serta menyiapkan generasi muda yang tidak hanya pintar, tetapi juga tangguh, peduli, dan berdaya saing.

Selain itu, Ditjen Dikti juga akan menjalankan program strategis untuk pendidikan kedokteran dan kesehatan transformatif yang akan melibatkan lintas direktorat pada Ditjen Dikti. Ditjen Dikti akan memfasilitasi pembaruan Komite Bersama Kemdiktisaintek dan Kemkes sebagai wadah kolaborasi dan sinergi sektor pendidikan dan pelayanan, yang akan menyusun berbagai kebijakan turunan dari UU No/17/2023 tentang Kesehatan, road map pendidikan kesehatan transformatif dan pendidikan kesehatan yang bebas kekerasan. Sistem Kesehatan Akademik juga akan menjadi strategi prioritas untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan sesuai kebutuhan distribusi di wilayah (termasuk daerah 3T), sekaligus sebagai model kolaborasi berdampak yang telah diimplementasikan oleh perguruan tinggi, rumah sakit pendidikan, industri, masyarakat dan pemerintah daerah.

Kampus Berdampak sebagai Upaya Pembentukan Karakter Mahasiswa: Intelektualistas yang Membumi

Dalam kesempatan ini, Plt Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Berry Juliandi menyampaikan berbagai program unggulan sebagai keberlanjutan program MBKM, terutama penguatan kontribusi mahasiswa yang berdampak langsung pada masyarakat, dunia usaha dan industri, serta riset dan inovasi.

“Mahasiswa ini adalah insan-insan unggul di dalam bidang akademik, tentu saja pada saat yang penuh dengan dinamika saat ini, tidak cukup mereka hanya unggul dalam bidang akademik. Tapi mereka juga harus memiliki ketangguhan dalam menghadapi perubahan zaman. Juga harus memiliki mahasiswa yang memiliki intelektualitas yang membumi Dan inilah komitmen kita, ingin menjadikan kampus sebagai pusat pembentukan karakter, kreativitas, dan juga kontribusi nyata dari mahasiswa, khususnya kepada masyarakat, dunia usaha, dan juga dunia pengembangan ilmu pengetahuan. Sehingga, kami merancang agar para mahasiswa ini dalam program kampus dan dampak dapat memberikan kontribusi nyata, sehingga kita  memiliki mahasiswa yang dibekali intelektualitas yang membumi,” jelas Plt Direktur Berry.

Plt Direktur Belmawa menyampaikan berbagai program unggulan sebagai keberlanjutan Program MBKM, terutama penguatan kontribusi mahasiswa yang berdampak langsung pada masyarakat, dunia usaha dan industri, serta riset dan inovasi. Belmawa memiliki Program Penguatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa) yang mendorong mahasiswa terjun langsung membangun desa, memberdayakan UMKM, mengelola lingkungan, meningkatkan literasi digital, serta memperkuat peran perempuan dan anak.

Penguatan kolaborasi dengan dunia usaha dan industri diantaranya melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW), yang menumbuhkan semangat kewirausahaan berbasis inovasi dan teknologi. Program ini telah melahirkan ribuan usaha rintisan baru yang menjadi motor penggerak ekonomi kreatif nasional. Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) juga dapat menstimulasi inovasi berbasis riset aplikatif, dengan karya-karya unggulan mahasiswa dipamerkan setiap tahun di ajang bergengsi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas).

Selain itu, Program Magang Berdampak, kelanjutan dari Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) juga akan membuka ruang bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman langsung di dunia kerja, memperkuat keterampilan profesional, dan membangun jejaring industri. Belmawa juga akan menjadi focal point untuk berbagai program yang mendukung kampus bebas kekerasan (implementasi Permendikbudristek No.55/2024) dan penguatan pendidikan inklusif. 

Kolaborasi Sumber Daya dan Pemetaan Kebutuhan Perguruan Tinggi

Direktur Sumber Daya, Sri Suning Kusumawardani menuturkan bahwa Direktorat Sumber Daya (Ditdaya) akan memperkuat gerakan Kampus Berdampak dengan mengembangkan empat program unggulan. Beasiswa PMDSU menjadi jalan percepatan studi S2-S3 dalam empat tahun bagi sarjana unggul, kini memasuki Batch IX tahun 2025 dengan skema baru berupa Joint Degree bersama perguruan tinggi dan lembaga riset internasional. Beasiswa Tendik “Tut Wuri Handayani” memberikan kesempatan studi lanjut bagi tenaga pendidik dan kependidikan, khususnya untuk meningkatkan profesionalisme di daerah.

Sementara itu, Beasiswa Kolaborasi Internasional memperluas peluang studi doktoral ke berbagai negara melalui program-program seperti Indonesia–Austria Scholarship Program (IASP), beasiswa Dikti–Coventry University, dan Stipendium Hungaricum. Selain itu, Program Prapasca untuk daerah 3T menghadirkan beasiswa serta pembekalan akademik khusus bagi mahasiswa dari wilayah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal, guna mempercepat pembangunan daerah asal.

Transformasi Tata Kelola Perguruan Tinggi

Direktur Kelembagaan, Mukhamad Najib, menyampaikan bahwa Direktorat Kelembagaan (Ditbaga) akan memperkuat gerakan Kampus Berdampak dengan mendorong transformasi tata kelola perguruan tinggi yang lebih otonom dan akuntabel, antara lain melalui program hibah revitalisasi PTS untuk penguatan sarana, prasarana, dan akreditasi; dan  program penguatan otonomi politeknik.

Kepemimpinan akademik kampus akan diperkuat melalui academic leadership training, sementara internasionalisasi kampus didorong melalui program Kampus Berdampak Internasional, insentif going global, dan beasiswa KNB. Inovasi perguruan tinggi juga akan ditingkatkan melalui Kompetisi Kampus Berdampak.

“Kita juga mendorong agar kampus itu memiliki dampak tidak hanya bersifat lokal, tapi juga  memiliki potensi untuk go global. Kita ingin memberikan Indonesia ini sebagai salah satu kekuatan dunia juga bisa memberikan kontribusi pada pembangunan internasional. Karena itu kampus-kampus yang sudah ready to go global, kita support mereka untuk bisa berkontribusi lebih pada pembangunan internasional,” Ujar Direktur Najib.

Kawal Implementasi Kampus Berdampak: Festival Kampus Berdampak

Dalam kesempatan ini Dirjen Dikti juga menyampaikan bahwa Sekretariat Ditjen Dikti sedang mengoordinasikan penyelenggaraan “Festival Kampus Berdampak” yang akan melibatkan beberapa perguruan tinggi dari Sabang sampai Merauke, termasuk perguruan tinggi yang menjadi koordinator wilayah Sistem Kesehatan Akademik.

Festival ini diharapkan dapat menjadi sarana public outreach dan pengarusutamaan dampak positif kolaborasi perguruan tinggi dengan mitra industri, pemerintah daerah dan stakeholders lainnya. Festival ini juga mendorong mahasiswa sebagai generasi solutif untuk bisa memaknai esensi gerakan #KampusBerdampak melalui kompetisi video pendek yang akan diumumkan pada puncak Hardiknas 2025.

Sebagai garda terdepan dalam pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia, Ditjen Dikti terus berkomitmen untuk melanjutkan dan memperluas cakupan program-program yang lebih berdampak. Program-program unggulan lainnya akan diumumkan secara berkala seiring dengan perkembangan kebutuhan dan inovasi di dunia pendidikan tinggi.

Selain itu, Ditjen Dikti juga akan senantiasa memperkuat layanan pendidikan tinggi yang selama ini sudah dijalankan melalui sistem informasi digital yang lebih handal. Seluruh sivitas akademika dan rekan media diharapkan dapat senantiasa mendukung dan memantau pelaksanaan program dan  informasi terkini yang akan dipublikasikan melalui kanal resmi media sosial Ditjen Dikti, sekaligus untuk menyebarluaskan narasi positif mengenai #KampusBerdampak.

Mengakhiri Ngopi Bareng ini, Dirjen Dikti menutup dengan pesan, “Mari kita teguhkan tekad dan perkuat langkah. Kampus yang hebat adalah kampus yang berdampak.”

Kemdiktisaintek dan KPK Tanda tangani Komitmen Bersama Penyelenggaraan Pendidikan Antikorupsi

Jakarta–Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) berkomitmen dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menyelenggarakan Pendidikan Antikorupsi sebagai langkah pencegahan korupsi dan membangun generasi yang berintegritas. Hal ini dinyatakan dalam pertemuan antara kedua pihak di kantor Kemdiktisaintek, Senin (28/4).

“Kesadaran berperilaku jujur, menjauhi kecurangan, dan integritas masih sangat perlu untuk dikembangkan. Sifat-sifat ini harusnya mendasari pertumbuhan kapasitas lainnya bagi anak dan remaja, terutama dalam pendidikan,” tegas Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto.

Kemdiktisaintek menyerukan pentingnya pendidikan antikorupsi untuk menciptakan generasi yang berprinsip kuat. Menteri Brian menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif KPK untuk merencanakan Pendidikan Antikorupsi di semua jenjang pendidikan, termasuk perguruan tinggi dalam bentuk Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK).

“Memang perlu waktu yang panjang untuk menumbuhkan integritas hingga menjadi bagian dari budaya. Tentu, kami membutuhkan kerja sama ini dengan KPK, agar mendapat arahan dari Bapak Ibu yang menguasai bidang ini,” ujar Menteri Brian.

Wakil Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo, menyatakan antusiasme KPK dalam berkolaborasi dengan Kemdiktisaintek. 

“Kami berharap bahwa Kemdiktisaintek dapat terus menyediakan dukungan dalam penyelenggaraan Pendidikan Antikorupsi,” ujar Ibnu.

Selain itu, Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Wawan Wardiana, menekankan bahwa penyelenggaraan Pendidikan Antikorupsi tidak hanya berhenti pada mahasiswa, tetapi perlu disosialisasikan bagi dosen, tenaga kependidikan, hingga jajaran pimpinan kampus.

“Kami sudah bertemu beberapa pimpinan kampus untuk membahas hal ini. Selain itu, kami juga bisa memfasilitasi pelatihan secara akademik dan praktis bagi para dosen yang ingin mengisi Pendidikan Antikorupsi,” jelas Wawan.

Kemdiktisaintek dan KPK juga membahas potensi kerja sama lain, seperti kampanye antikorupsi di lingkungan Kemdiktisaintek hingga kemungkinan hibah penelitian mengenai antikorupsi.

Pertemuan ini diakhiri dengan penandatanganan Komitmen Bersama Penyelenggaraan Pendidikan Antikorupsi antara Kemdiktisaintek dan KPK. Kesepakatan ini menyatakan kesiapan kedua pihak dalam menyelenggarakan dan mendukung Pendidikan Antikorupsi secara sistematis dan berkelanjutan. Hal ini merupakan sebuah aksi strategis untuk mewujudkan bangsa yang jujur, tegas, dan berintegritas.

Kemdiktisaintek Luncurkan Program Akselerasi Pengakuan Tugas Belajar untuk PNS

Jakarta–Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi mengeluarkan Keputusan Menteri tentang Pedoman Akselerasi Penetapan Pengakuan Tugas Belajar bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada 17 April 2025.

Kebijakan ini bertujuan mempercepat proses administratif pengakuan tugas belajar bagi PNS yang telah menyelesaikan pendidikan lanjutan namun belum mendapatkan persetujuan formal sebelumnya.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan bahwa inisiatif ini hadir sebagai bentuk perhatian terhadap pengembangan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan Kemdiktisaintek yang telah menempuh studi secara mandiri (23/4).

“Kami ingin memberikan kejelasan status dan pengakuan resmi bagi para PNS yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi tanpa melewati prosedur tugas belajar sebelumnya,” ujar Menteri Brian.

Bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang ingin mengikuti program akselerasi pengakuan tugas belajar, berikut beberapa pokok kebijakan yang melandasi program ini :

* Program ini berlaku bagi PNS yang telah menyelesaikan pendidikan sampai dengan tanggal 31 Desember 2024.

* Pendidikan yang diakui harus ditempuh pada program studi terakreditasi atau yang memiliki izin resmi dari kementerian bagi lulusan dalam dan luar negeri.

* Permohonan pengakuan dapat diajukan mulai tanggal 23 April hingga 6 September 2025 secara daring melalui laman http://tubel.kemdiktisaintek.go.id/

* Verifikasi dan validasi dokumen akan dilakukan hingga 31 Desember 2025 oleh Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia.

* Surat keputusan pengakuan tugas belajar akan diterbitkan secara bertahap setelah proses verifikasi selesai.

Selain itu, pegawai dapat mengajukan usul secara individu. Beberapa syarat administratif yang perlu dilengkapi, antara lain: ijazah pendidikan terakhir, surat rekomendasi dari pimpinan unit utama atau LLDikti/Perguruan Tinggi Negeri, salinan dokumen kepegawaian, surat hasil penerimaan dari Lembaga Pendidikan tempat studi (letter of acceptance), serta surat pernyataan tanggung jawab bermeterai. Hal ini diatur dalam Lampiran II Kepmen Nomor 100/M/KEP/2025 tentang Pedoman Akselerasi Penetapan Pengakuan Tugas Belajar bagi Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Apabila ditemui pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh PNS yang mengikuti program ini, maka proses akan diberhentikan sementara hingga ada hasil tindak lanjut pemberian hukuman disiplin. Sehingga, untuk menghindari tantangan yang muncul dalam program ini dan menjamin efektivitas pelaksanaannya, Kemdiktisaintek akan melakukan monitoring setiap bulan dan evaluasi terhadap program akselerasi pengakuan tugas belajar ini secara menyeluruh.

Dengan adanya kebijakan ini, Kemdiktisaintek berharap dapat mendorong motivasi belajar yang lebih tinggi di kalangan aparatur sipil negara serta memperkuat sinergi pengembangan SDM dengan kebutuhan institusional kementerian.

Untuk informasi lebih lanjut, PNS dapat menghubungi ULT Kemdiktisaintek.

Kemdiktisaintek Dukung Pariwisata melalui Pendidikan

Jakarta-Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendukung Kementerian Pariwisata untuk mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata dan menanamkan kesadaran atas pariwisata untuk masyarakat. Hal ini disampaikan dalam Rapat Kerja Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) saat membahas Revisi Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, Senin (21/4).

Empat topik utama yang dibahas untuk RUU Kepariwisataan adalah ekosistem, pendidikan, lembaga, dan diplomasi budaya. Pendidikan dinilai penting sebagai cara meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kepariwisataan, berhubung hal ini belum diatur dalam undang-undang yang ada.

Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemdiktisaintek, Togar Mangihut Simatupang menyatakan bahwa Kemdiktisaintek mengusulkan lima ayat dalam Bab XII: Sumber Daya Manusia Pariwisata.

“Pada kesempatan ini, kami telah mendapatkan pesan-pesan inti tentang pengembangan sumber daya manusia. Kami menuangkan muatan untuk pasal 52 di halaman 180–183,” jelas Sekjen Togar.

Selain itu, Kemdiktisaintek juga mengusulkan untuk pelengkapan penjelasan tentang kegiatan sosialisasi dan bimbingan teknis secara substansial oleh Kementerian Pariwisata.

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana menyatakan bahwa pemerintah mengakomodasi substansi mengenai pendidikan sebagai sektor yang berperan besar dalam meningkatkan SDM pariwisata.

“Pendidikan merupakan salah satu cara pengembangan sumber daya manusia untuk penanaman kesadaran masyarakat mengenai sadar wisata, kesadaran berwisata, dan kesadaran keberlanjutan destinasi pariwisata,” ujar Menteri Widiyanti.

Turut menghadiri rapat kerja antara lain Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay, Staf Ahli bidang Budaya Kerja Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Abdul Hakim, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Tatang Muttaqin, Kepala Biro Hukum Kemdikdasmen, Muhammad Rafi, Direktur Jenderal Peraturan Perundang-undangan Kementerian Hukum, Dhahana Putra, Direktur Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan II Kementerian Hukum, Muhammad Waliyadin, dan Deputi Bidang Perencanaan Makro dan Pembangunan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Eka Chandra Buana.