KSTI 2025: Perkuat Kerja Sama Riset Strategis dengan Perguruan Tinggi dan Industri

Bandung-Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memfasilitasi penandatanganan serangkaian Perjanjian Kerja Sama (PKS) bersama perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dalam salah satu agenda utama Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 di Sasana Budaya Ganesa, Jumat (8/8).

Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek menandatangani beberapa PKS dalam rangka memperkuat ekosistem riset nasional. Kolaborasi yang dilakukan adalah riset dan pengembangan teknologi di berbagai bidang, yaitu bidang kesehatan bersama PT Oneject, bidang oseanografi bersama Pusat Hidro Oseanografi TNI AL, dan bidang pertanian bersama PT Elevasi Agri Indonesia.

Semangat kolaborasi juga ditunjukkan melalui penandatanganan PKS antara perguruan tinggi dengan mitra industrinya masing-masing, yang mencakup pilar tridarma perguruan tinggi. ITB dan PT Pertamina (Persero) serta ITS dan Iperindo memperkuat kemitraan dalam dalam hal pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. 

Sedangkan UI meresmikan dua kolaborasi yaitu penguatan dan komersialisasi purwarupa alat pengukur dan pengecor paduan aluminium dengan PT Inovasi Material Metalurgi dan pengembangan Vaksin Ne-Mun bersama PT Medika Satwa Laboratoris.  

Acara ini menjadi bukti nyata implementasi kolaborasi pentahelix, di mana pemerintah, akademisi, dan industri bersatu padu untuk menghasilkan inovasi yang aplikatif dan berdampak luas bagi pembangunan bangsa Indonesia.

Kolaborasi ini juga diharapkan dapat menciptakan ekosistem inovasi yang produktif dan terintegrasi, yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata, memperkuat daya saing industri nasional, serta menarik investasi berkelanjutan di sektor-sektor berbasis teknologi dan pengetahuan.

Mendiktisaintek Luncurkan Gerakan Nasional Pencegahan Kekerasan di Kampus

Depok — Semangat baru mengalir dari Balairung Universitas Indonesia (UI), ketika ribuan mahasiswa baru menyambut dimulainya Kampanye Nasional Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT), pada Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di lingkungan UI, Depok, (5/8).

Gerakan nasional ini diluncurkan langsung oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan PKKMB 2025.

UI menjadi kampus pertama dari 11 perguruan tinggi di seluruh Indonesia yang akan disambangi dalam kampanye estafet ini. Dalam suasana hangat, Mendiktisaintek bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, Rektor UI, para guru besar, dan Satgas Pencegahan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS), berdialog langsung dengan para mahasiswa baru.

Menteri Brian menegaskan lingkungan kampus harus bersih dari semua bentuk kekerasan, diskriminasi, dan perundungan fisik dan psikis.

“Jangan ada lagi kasus kekerasan di lingkungan kampus. Alangkah sedihnya sebagai orang tua menerima laporan anaknya mengalami kekerasan, mengalami perundungan. Stop semua itu, dan ini the last call untuk kita semua,” tegas Mendiktisaintek. 

Menteri Brian juga meminta Satgas PPKS berperan aktif memroses laporan pengaduan tindak kekerasan, dan menjadi garda terdepan bagi dosen, tenaga pendidik, dan mahasiswa yang akan menangani jika terjadi tindak kekerasan di lingkungan kampus. 

Permendikbud Nomor 55 Tahun 2024 yang memayungi PPKPT juga melarang cat calling, cyber bullying, body shaming, dan post a picture (PaP) yang sering dengan dinamika sosial media kiwari. Informasi lengkap tentang PPKPT dapat diunduh di laman sahabat.kemdiktisaintek.go.id, sedangkan tata cara pelaporan dan formulir pelaporan dapat dilihat di lama aduanitjen.kemdiktisaintek.go.id  

Sementara itu pada acara dialog yang sama, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi menggaris-bawahi pentingnya melawan kekerasan (seksual) di lingkungan kampus secara bersama-sama. Perlawanan secara kolektif disinyalir efektif dan efisien, dalam memupus tindakan kekerasan di lingkungan kampus.

Kemdiktisaintek Pacu Andil Kampus untuk Wujudkan Ketahanan dan Keberlanjutan Lingkungan

Jakarta-Perubahan iklim, urbanisasi tanpa kendali, serta eksploitasi sumber daya alam secara masif terus menekan kualitas lingkungan hidup Indonesia. Di tengah tantangan tersebut, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat inovasi, edukasi, dan pembentukan karakter bangsa dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan nilai moral.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan mendorong perguruan tinggi untuk ikut serta berperan aktif dalam mengatasi persoalan lingkungan di daerah masing-masing. Hal itu disampaikannya dalam Forum Rektor Perguruan Tinggi 2025: Kolaborasi Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pada Senin (28/07). Forum yang diikuti oleh 41 pimpinan perguruan tinggi dari seluruh wilayah Indonesia tersebut bertujuan memperkuat kolaborasi kampus dalam mendukung kebijakan lingkungan nasional.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), emisi gas rumah kaca Indonesia pada tahun 2022 mencapai 1,8 miliar ton CO?e CO?e (karbon dioksida ekuivalen), meningkat dari tahun 2020. Produksi sampah nasional pada tahun 2023 tercatat sebesar 56,63 juta ton, namun hanya 39 persen yang berhasil terkelola. Sementara itu, lebih dari 150 kabupaten/kota masih mencatatkan nilai Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) di bawah angka 65. Ketimpangan ini menandakan lemahnya daya dukung dan daya tampung lingkungan di berbagai daerah.

“Melalui Program Diktisaintek Berdampak yang digagas Pak Menteri Brian Yuliarto, kami berupaya mendorong kampus untuk ikut serta mengonsep dirinya menjadi bagian entitas sosial di mana tingkat kepedulian terhadap lingkungannya tinggi,” tegas Wamen Fauzan.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan hanya mungkin tercapai melalui kontribusi sains yang kuat. Peran kampus sangat krusial dalam validasi dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), pengembangan teknologi pengelolaan sampah, penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), hingga edukasi lintas disiplin tentang keberlanjutan.

Data KLH/BPLH menunjukkan bahwa 12 persen permohonan izin lingkungan pada 2023 ditolak karena tidak memenuhi syarat daya dukung. Di sinilah perguruan tinggi dapat berkontribusi secara konkret melalui pemodelan spesial, pelatihan tenaga teknis daerah, hingga penyusunan dokumen pembangunan berbasis lingkungan.

Upaya ini sejalan dengan arah Presiden Prabowo Subianto melalui visi besar Asta Cita, Program hasil Terbaik Cepat (PHTC), dan Program Prioritas yang menempatkan pembangunan berkelanjutan dan ketahanan lingkungan sebagai pilar penting transformasi bangsa. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto juga telah menekankan pentingnya memperluas kolaborasi ilmiah lintas sektor melalui Diktisaintek Berdampak untuk mempercepat hasil riset yang dapat langsung diterapkan masyarakat dan industri, termasuk dalam isu lingkungan.

Oleh karena itu, Wamen Fauzan mengajak seluruh perguruan tinggi untuk terus membuka diri sebagai entitas sosial yang menjunjung tinggi nilai luhur bangsa dan memperkuat peran sebagai pelindung moralitas publik. Kolaborasi lintas kementerian dan lembaga akan terus diperluas, termasuk dalam rangkaian Hari Teknologi Nasional (Hakteknas) mendatang sebagai bentuk nyata dari komitmen kampus berdampak yang mendorong pembangunan berkelanjutan.

“Mari kita kawal lingkungan hidup dengan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan hanya dari yang kasat mata, tetapi juga dari nilai-nilai moral yang membentuk bangsa,” tutup Wamen Fauzan.

Mendiktisaintek Ajak Mahasiswa Berkarakter Sukses dan Budaya Membaca

Kerinci–Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menggugah semangat kepemimpinan, pembelajaran, dan inovasi kepada 290 mahasiswa penerima beasiswa dari Tanoto Foundation yang sedang mengikuti Tanoto Scholars Gathering 2025, di Kerinci. Semangat ini dituangkan Menteri Brian dalam sesi inspirational talks secara Daring didampingi oleh perwakilan Tanoto Foundation dan 10 mahasiswa penerima beasiswa, pada Kamis, (24/07).

“Masa kuliah adalah golden time, manfaatkanlah sebaik mungkin. Disitulah adik-adik akan membangun jejaring, karakter, dan visi hidup. Ketajaman seseorang bergantung pada sebanyak apa kemampuan yang dimiliki, dan kemampuan itu bertumpu pada ketajaman analisis,” ujar Menteri Brian.

Mendiktisaintek juga meminta para mahasiswa untuk menumbuhkan budaya membaca sebagai fondasi kepemimpinan yang kuat. Menteri Brian juga mengungkap 12 Karakter Sukses  yang menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan masa depan.

“Keinginan kuat, keyakinan, sugesti diri, pengetahuan khusus, imajinasi, perencanaan terorganisir, keputusan tegas, kerja keras, tekun, gigih, kekuatan kelompok, pikiran bawah sadar, otak sebagai pemancar dan penerima, dan miliki the sixth sense dalam hal membangun intuisi baik dalam mengantisipasi kesempatan dan tantangan di bidang pendidikan, sains, dan teknologi,” ujar Menteri Brian.

Mendiktisaintek juga menghimbau mahasiswa untuk memiliki talenta yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Menteri Brian meyakini bahwa masa depan Indonesia bertumpu pada sumber daya manusia yang unggul, kolaboratif, dan berintegritas.

“Kita butuh orang-orang pintar, yang menghasilkan terobosan dan berdampak mengubah kualitas hidup masyarakat. Bukan sekadar kompeten, tapi juga relevan dan kontributif,” kata Menteri Brian.

Program beasiswa Tanoto Foundation telah lama menjadi mitra strategis Kemdiktisaintek dalam menyiapkan generasi muda yang unggul. Tidak hanya memberikan dukungan pendidikan, program ini juga membina kepemimpinan, mendorong soft skills, dan memperkuat nilai integritas.

“Kehadiran Pak Menteri memberikan wawasan, penyemangat dan sumber inspirasi bagi adik-adik mahasiswa untuk menjadi sosok yang memiliki ekosistem baik untuk berkembang, karena masa depan tidak ditulis untuk kita, tapi ditulis oleh kita” ujar Member of Board Advisors of Tanoto Foundation, Bernard Riedo.

Kolaborasi antara Kemdiktisaintek dan Tanoto Foundation juga meliputi penguatan literasi sains, dan pengembangan ekosistem kampus yang inovatif dan inklusif. Kemdiktisaintek terus mendorong terbentuknya ekosistem pendidikan tinggi yang berdampak melalui sinergi dengan berbagai mitra pembangunan, termasuk Tanoto Foundation, sebagai bagian dari upaya kolektif membangun Indonesia yang berdaya saing global. Melalui kegiatan ini dibentuk sinergi antara pemerintah dan mitra pembangunan untuk membentuk generasi pembelajar sepanjang hayat yang siap menyongsong Indonesia Emas 2045.

Penguatan Peran Dosen dan BEM dalam Program Pengabdian Masyarakat di Tanah Papua

Jayapura, Papua — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, kembali menyelenggarakan Bimbingan Teknis Peningkatan Kualitas Penulisan Proposal Pengabdian kepada Masyarakat Skema Kewilayahan dan Kewirausahaan, serta Sosialisasi Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat (18/07) di Auditorium H. Daud Syamsudin Ponto, Universitas Yapis Papua, Jayapura.

Kegiatan ini merupakan wujud komitmen Kemdiktisaintek dalam memperkuat peran strategis perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat berbasis riset dan teknologi, sekaligus menjangkau wilayah-wilayah 3T, termasuk Papua, sebagai bagian integral dari pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan.

Komitmen ini ditegaskan lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, dalam sambutannya. Ia menekankan bahwa solusi atas berbagai persoalan sosial semestinya bersumber dari kebutuhan riil masyarakat. Menurutnya, kehadiran sains dan teknologi harus dimaknai sebagai jawaban konkret atas tantangan di lapangan, serta sebagai penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan.

“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi acuan dalam merancang program-program strategis ke depan. Yang terpenting adalah memastikan bahwa ekosistem kampus, seperti dosen, mahasiswa, dan pemangku kepentingan lokal, berperan aktif sebagai aktor utama dalam merumuskan dan menyelesaikan persoalan masyarakat. Melalui penguatan kapasitas, keterampilan, dan kepemimpinan, kita berharap generasi muda mampu menempatkan masyarakat yang paling membutuhkan sebagai prioritas utama dalam pembangunan,” ungkapnya

Dirjen Fauzan juga menegaskan pentingnya membangun Indonesia berbasis sains dan teknologi sebagai fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang merata dan berkelanjutan.

Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, I Ketut Adnyana, menyampaikan bahwa keberhasilan program pengabdian ditentukan oleh kemampuan perguruan tinggi dalam merancang pendekatan yang sesuai dengan karakteristik lokal.

“Dalam pelaksanaan program ini, tantangan khas seperti hambatan geografis dan keterbatasan infrastruktur merupakan realitas yang tak terhindarkan. Karena itu, pendekatan yang digunakan harus kontekstual dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Keterlibatan aktif mahasiswa, khususnya melalui Program Mahasiswa Berdampak, menjadi kunci untuk mendorong perubahan sosial yang inklusif dan berkelanjutan di Tanah Papua,” jelasnya.

Direktur Ketut juga menekankan bahwa pemilihan Kota Jayapura sebagai lokasi kegiatan mencerminkan komitmen afirmatif pemerintah untuk membuka akses yang lebih luas bagi perguruan tinggi di kawasan timur Indonesia. Ia mendorong peningkatan kapasitas dosen dan mahasiswa dalam merancang solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus memperkuat sinergi antara kampus dan komunitas lokal sebagai bagian dari transformasi sosial.

Di tingkat wilayah, Kepala LLDIKTI Wilayah XIV, Suriel Semuel Mofu, turut mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan ini sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas sivitas akademika dalam menghadapi skema kompetitif pengabdian kepada masyarakat. Suriel menekankan bahwa kegiatan ini merupakan wadah penting untuk menumbuhkan pemahaman menyeluruh mengenai penyusunan proposal yang baik, terutama dalam skema kewilayahan dan kewirausahaan.

“Ini menjadi satu kesempatan bagi kita semua untuk belajar dan mendapatkan pencerahan tentang strategi menyusun proposal yang tepat dan memenangkan kompetisi nasional. Mahasiswa juga harus diingatkan bahwa keberadaannya di tengah masyarakat harus membawa dampak dan perubaha. Kita membawa persoalan dari masyarakat ke kampus untuk dikaji, dan hasilnya kita kembalikan ke masyarakat dalam bentuk solusi nyata,” ujarnya.

Dari sisi perguruan tinggi tuan rumah, Rektor Universitas Yapis Papua, Didik Suryamiharja S. Mabui, menekankan pentingnya keterkaitan antara ilmu dan pengabdian. Menurutnya, pengabdian masyarakat merupakan perwujudan langsung dari penerapan ilmu pengetahuan yang tidak hanya bermanfaat secara akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Ilmu tanpa amal kehilangan makna, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan. Hari ini, kita menyatukan keduanya melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Terima kasih kepada Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan atas dukungannya. Mari kita bangkit bersama untuk menjawab kebutuhan nyata dan menghadirkan solusi atas berbagai tantangan di lingkungan kampus kita masing-masing,” tuturnya.

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 150 peserta, terdiri dari dosen dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Papua. Sebanyak 39 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) turut hadir dan aktif berpartisipasi dalam sesi sosialisasi Program Mahasiswa Berdampak.

Partisipasi aktif ini menunjukkan bahwa hadirnya kegiatan di Tanah Papua bukan sekadar simbol keterlibatan, melainkan bukti nyata bahwa akses terhadap ilmu dan pengabdian harus merata hingga ke wilayah terluar Indonesia. Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur, semangat mengabdi tidak boleh padam. Justru dari tempat-tempat seperti inilah kita diingatkan bahwa pengabdian yang menyentuh akar rumput merupakan fondasi penting dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan, menuju Indonesia yang maju melalui sains, teknologi, dan kepedulian sosial.

Kemdiktisaintek Perkuat Peran Kampus melalui Bimtek Pengabdian Masyarakat Berbasis Inovasi di Makassar

Makassar — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Bimbingan Teknis Peningkatan Kualitas Penulisan Proposal Pengabdian kepada Masyarakat untuk Skema Kewilayahan dan Kewirausahaan.

Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (10/07) di Balai Sidang Muktamar Universitas Muhammadiyah Makassar, sebagai bagian dari upaya memperkuat peran strategis perguruan tinggi dalam mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis riset dan inovasi teknologi.

Dalam sambutannya, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menegaskan bahwa arah riset ke depan harus berorientasi pada pemecahan masalah nyata di masyarakat. “Kami ingin merancang riset yang tidak hanya berfokus pada topik atau produk, tetapi benar-benar menjawab persoalan-persoalan riil. Tantangan yang dihadapi masyarakat harus menjadi pijakan utama dalam pengembangan riset, teknologi, dan sains. Karena itu, kementerian tengah membangun kebijakan dan program yang komprehensif, termasuk penguatan sumber daya teknologi, agar intervensi yang dilakukan lebih tepat sasaran,” jelasnya.

Senada dengan itu, Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, I Ketut Adnyana, menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains dan teknologi dalam menyelesaikan berbagai tantangan nasional. “Banyak persoalan riil di masyarakat yang dapat diselesaikan secara tuntas apabila ditangani melalui pendekatan sains, teknologi, riset, dan inovasi. Dalam hal ini, mahasiswa memegang peran strategis sebagai sumber daya manusia yang terus diperbarui karena mereka memperoleh ilmu dari dosen dan memiliki akses terhadap hasil riset terkini. Mereka adalah garda terdepan dalam mendorong solusi inovatif yang berdampak langsung bagi masyarakat. Ini sejalan dengan arahan Presiden bahwa kemajuan bangsa harus ditopang oleh kekuatan sains dan teknologi,” ujarnya

Dukungan dari pemangku kepentingan regional turut memperkuat pesan tersebut. Ketua LLDIKTI Wilayah IX, Andi Lukman, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini dan menilai bahwa bimbingan teknis semacam ini memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia di perguruan tinggi. “Kami sangat menyambut baik kegiatan Bimtek ini. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah hibah riset meningkat secara signifikan. Ini merupakan bukti bahwa ekosistem riset dan pengabdian di perguruan tinggi terus tumbuh dan berkembang,” ungkapnya.

Ia juga berharap agar kegiatan serupa terus dilanjutkan dan mendapatkan respons positif dari sivitas akademika. “Kami mendorong para dosen dan mahasiswa untuk mengikuti kegiatan ini secara serius, karena materi yang disampaikan para narasumber sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas riset dan pengabdian kepada masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Makassar, Andi Sukri Syamsuri, menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada kampusnya sebagai tuan rumah kegiatan. Ia menilai bahwa penguatan kapasitas dosen dan mahasiswa dalam pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian penting dalam transformasi pendidikan tinggi. “Kami mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini, terlebih karena melibatkan dosen serta organisasi mahasiswa seperti BEM. Di era transformasi perguruan tinggi, peran pengabdian kepada masyarakat tidak bisa lagi dikesampingkan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat penyebaran ilmu pengetahuan, tetapi juga harus hadir di tengah masyarakat untuk menyelesaikan persoalan nyata. “Kami berharap perguruan tinggi mampu memberikan kontribusi yang berdampak, menghadirkan solusi konkret, serta menunjukkan hasil pengabdian yang terukur, khususnya bagi masyarakat di sekitar kampus,” tutupnya.

Melengkapi kegiatan ini, Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat turut memperkenalkan dua skema strategis dalam program pengabdian kepada masyarakat tahun 2025, yakni Skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah (PBW) dan Skema Pemberdayaan Berbasis Kewirausahaan (PBK).

Skema PBW dirancang untuk membantu menyelesaikan persoalan-persoalan nyata yang dihadapi oleh pemerintah daerah dan desa binaan perguruan tinggi. Skema ini terbagi dalam dua jenis kegiatan: Pemberdayaan Wilayah (PW) dan Pemberdayaan Desa Binaan (PDB). Program ini bersifat tahun tunggal dengan rencana kerja jangka tiga tahun yang dievaluasi secara berkala. Fokus utama kegiatan meliputi peningkatan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, produktivitas ekonomi masyarakat, serta penguatan infrastruktur lokal berbasis kearifan setempat.

Skema PBK, di sisi lain, ditujukan untuk mengembangkan kewirausahaan berbasis teknologi dan inovasi yang dihasilkan oleh dosen maupun mahasiswa. Fokus kegiatan diarahkan pada Pemberdayaan Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UPUD) sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan ekonomi lokal berbasis hasil riset. Program ini mendorong penguatan unit layanan kewirausahaan di perguruan tinggi serta mendukung pengembangan mitra usaha yang menghasilkan produk unggulan daerah, sehingga dosen, mahasiswa, dan alumni dapat berperan sebagai pendamping, inovator, maupun pelaku usaha yang mandiri dan berdaya saing.

Melalui skema-skema tersebut, Kemdiktisaintek menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak boleh hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi harus benar-benar membawa perubahan nyata, dapat diukur dampaknya, dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Kegiatan Bimbingan Teknis ini juga memperkuat komitmen Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam mengokohkan peran strategis perguruan tinggi sebagai agen perubahan sosial melalui riset dan pengabdian. Diharapkan, para dosen dan mahasiswa tidak hanya aktif melakukan inovasi di ruang akademik, tetapi juga terlibat langsung dalam membantu masyarakat melalui kegiatan pengabdian yang berdasar pada hasil riset dan kebutuhan nyata.

Indonesia-Malaysia di Jalur Cepat Penguatan Jejaring Akademik

Jakarta–Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong penguatan kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia di bidang pendidikan tinggi melalui joint research, program pertukaran mahasiswa dan dosen, serta melanjutkan Memorandum of Understanding (MoU) bidang pendidikan tinggi. Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemdiktisaintek Khairul Munadi ketika menerima audiensi Ketua Setiausaha (Sekretaris Jenderal) Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia, Datuk Anesee bin Ibrahim di kantor Kemdiktisaintek, Jumat (11/7).

Dalam kesempatan ini, Datuk Anesee menyampaikan komitmen untuk melanjutkan pembahasan antara Indonesia dengan Malaysia dalam acara ASEAN Malaysia 2025 di Langkawi, yakni kolaborasi joint research antara akademisi di kedua negara.

“Kerja sama yang diharapkan adalah di bidang Artificial Intelligence (AI), energi nuklir, dan astronomi, didasarkan keinginan membangun infrastruktur dan kapasitas kedua negara di bidang-bidang ini,” jelas Datuk Anesee.

Dirjen Khairul menyambut baik ajuan susulan mengenai kolaborasi ini dan menyatakan akan meneruskan agenda tersebut kepada Direktorat Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) untuk perencanaan lebih lanjut. Dirjen Khairul juga mendorong skema visiting professors dan visiting lecturers untuk memperkaya pertukaran pengetahuan dan budaya kedua negara.

“Program visiting professors dan lecturers penting untuk mendukung internasionalisasi perguruan tinggi serta meningkatkan pemahaman budaya serumpun. Hal ini juga perlu dilakukan melalui penguatan program untuk mahasiswa,” ujar Dirjen Khairul.

Sejalan dengan keinginan memperkuat jejaring akademik, Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia mendorong peningkatan mobilitas mahasiswa Indonesia ke Malaysia. Diusulkan penambahan daftar kampus Malaysia dalam program-program beasiswa Indonesia. Hal ini disambut baik oleh Kemdiktisaintek, di mana Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti Mukhamad Najib menyatakan langkah yang telah diambil untuk meningkatkan jumlah kampus luar negeri yang masuk daftar program dan lembaga beasiswa Indonesia.

“Kami sudah mengusulkan kepada Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk memperluas pilihan kampus supaya tidak terbatas pada ranking tertentu saja, tetapi juga berdasarkan program studi unggulan di berbagai kampus,” ujar Direktur Najib.

Sementara itu guna meningkatkan kolaborasi akademik Indonesia-Malaysia, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Ditjen Dikti, Berry Juliandi, memberikan opsi pembentukan konsorsium perguruan tinggi antara Indonesia dan Malaysia. Bentuk kerja sama ini dapat mendorong interaksi dan hubungan yang lebih cair antarkampus dan akademisi.

“Kami sudah membentuk konsorsium perguruan tinggi dengan negara-negara seperti Australia, Jepang, Inggris, Jerman, dan sebagainya. Ini bentuk yang tepat untuk memperluas jaringan pendidikan tinggi bersama Malaysia,” kata Direktur Berry.

Sebagai tindak lanjut, kedua negara sepakat untuk segera menyusun daftar perguruan tinggi dari masing-masing negara yang dapat bekerja sama serta percepatan finalisasi dan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antarpemerintah di bidang pendidikan tinggi. Langkah ini niscaya sangkil dan mangkus meletakkan jejaring akademik Indonesia – Malaysia pada jalur cepat. 

Tukin Dosen ASN Cair, Kemdiktisaintek Tegaskan Komitmen Peningkatan Kesejahteraan yang Diimbangi Produktivitas

Jakarta–Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mulai mencairkan dana Tunjangan Kinerja (Tukin) untuk dosen ASN untuk PTN Satker, PTN BLU belum remunerasi, dan dosen ASN di lingkungan LLDikti mulai Selasa (8/7).

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto mengungkapkan hal ini merupakan bagian dari reformasi birokrasi dalam rangka meningkatkan motivasi dan profesionalisme dosen dan pegawai di lingkungan Kemdiktisaintek.

“Tunjangan kinerja ini adalah bentuk nyata penghargaan negara terhadap peran sentral dosen sebagai pendidik profesional dan ilmuwan,” ujar Menteri Brian.

Dalam pelaksanaannya, tata kelola administratif ditegaskan berjalan sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 19 Tahun 2025 tentang Tunjangan Kinerja yang telah diundangkan Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto pada 27 Maret 2025. Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemdiktisaintek, Togar Mangihut Simatupang.

“Kemdiktisaintek memastikan seluruh proses penyaluran Tukin dilakukan secara transparan, akuntabel, dan sesuai Perpres, Permen, dan Kepsesjen mengenai Tukin,” tegas Sesjen Togar.

Beberapa poin dalam Perpres Tunjangan Kinerja di Lingkungan Kemdiktisaintek adalah pembayaran tukin sejak 1 Januari 2025 dan kebutuhan pengaturan yang lebih khusus dalam bentuk Permen. Semua dasar regulasi pencairan tunjangan kinerja sudah lengkap dengan terbitnya Kepsesjen.

Dosen Aparatur Sipil Negara (ASN) di bawah Kemdiktisaintek yang akan mendapatkan pencairan Tukin berjumlah 31.066 orang, meliputi dosen Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum (PTN-BLU) Nonremunerasi, dosen PTN Satuan Kerja (Satker), dan dosen di Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti).

Pencairan Tukin periode Januari-Juni 2025 ditambah Tukin ke-13 dilaksanakan pada mulai 8 Juli 2025. Dosen yang belum menyelesaikan proses klaim Tukin sampai dengan perpanjangan waktu 7 Juli 2025 akan diproses pada periode berikutnya, yakni awal Agustus 2025.

Untuk selanjutnya, pembayaran Tukin Dosen akan dibayarkan setiap bulan. Tukin ke-14 akan dibayarkan bersamaan dengan Tukin bulan Desember.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Khairul Munadi memaparkan mengenai tujuan kebijakan pemberian Tukin, yakni untuk: (1) meningkatkan motivasi dan produktivitas kerja dosen, (2) meningkatkan profesionalisme dan budaya kerja berorientasi capaian, (3) meningkatkan kesejahteraan dosen, serta (4) mendukung reformasi birokrasi dan pencapaian kinerja institusi.

“Mekanisme baru pemberian Tukin dosen akan mulai berlaku, dan untuk bisa diimplementasikan dengan tepat sasaran di masing-masing perguruan tinggi dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti),” jelas Dirjen Khairul pada sosialisasi Petunjuk Teknis (Juknis) Tata Cara Penghitungan dan Pembayaran Tukin.

Untuk mempercepat implementasi pencairan Tukin, Kemdiktisaintek bekerja sama dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Kementerian Keuangan (Kemenkeu), serta terus melaksanakan dialog dengan pemangku kepentingan untuk menyempurnakan sistem kinerja dosen ke depan. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Sumber Daya Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), Sri Suning Kusumawardani.

“Diharapkan kebijakan ini dapat mendorong tercapainya reformasi birokrasi dan peningkatan mutu  dosen dan pendidikan tinggi Indonesia,” kata Direktur Suning.

Dengan adanya pencairan Tukin ini, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan kebijakan yang berpihak pada sivitas akademika pendidikan tinggi nasional. Kemdiktisaintek berharap kebijakan ini dapat memacu semangat para dosen untuk produktif dan berkontribusi lebih besar dalam pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, demi kemajuan Indonesia.

Wamendiktisaintek Tinjau Lokasi Pembangunan Sekolah Garuda Baru di Sulawesi Tenggara: Komitmen Nyata Pemerintah Bangun SDM Unggul dari Pelosok Negeri

Sulawesi Tenggara – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie melakukan kunjungan langsung ke tiga lokasi strategis di Sulawesi Tenggara, yakni Desa Labo Jaya, Desa Wawolemo, dan Desa di Kabupaten Wakatobi. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka meninjau kelayakan lahan untuk pembangunan Sekolah Garuda Baru, sebuah program pendidikan unggulan yang digagas Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat sumber daya manusia Indonesia di bidang sains dan teknologi, Sabtu (5/7).

Sekolah Garuda Baru dirancang sebagai sekolah menengah berasrama dengan kurikulum berfokus pada STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Sekolah ini berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) rencana akan dibangun di 20 lokasi terpilih di seluruh Indonesia hingga tahun 2029.

Dalam kunjungan ke Desa Labo Jaya di Kecamatan Konda, Konawe Selatan, Wamen Stella menilai lokasi tersebut memiliki keunggulan dari sisi aksesibilitas, topografi, ketersediaan air, serta dukungan masyarakat. Lokasi yang dekat dengan jalan utama dan bandara, serta terhubung dengan jalur strategis antardaerah, menjadikan kawasan ini sangat potensial. Ditambah lagi, wilayah ini merupakan sentra pertanian dan agrowisata, dengan keberadaan kebun benih, ternak, serta riset kakao yang bisa diintegrasikan dengan pendidikan berbasis praktik.

Saya hadir di sini mewakili Bapak Presiden Prabowo Subianto untuk melihat langsung potensi lokasi pembangunan Sekolah Garuda. Ini adalah realisasi dari visi beliau untuk menciptakan kesempatan pendidikan berkualitas tinggi bagi putra-putri terbaik bangsa, tidak hanya di kota besar, tetapi juga di daerah yang selama ini kurang terjangkau,” ujar Wamen Stella.

“Jika sekolah ini dibangun, kehidupan asrama, kegiatan guru, serta operasional sehari-hari akan menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah ini. Dan yang paling penting, masyarakatnya terbuka dan sangat mendukung,” tambahnya.

Sementara itu, di Desa Wawolemo, Wamen Stella menyoroti kekayaan riset lokal di bidang pertanian dan hortikultura, serta kesiapan lahan seluas 20 hektare, di mana hanya 2 hektare yang akan digunakan untuk pembangunan fisik sekolah. Sisanya akan tetap difungsikan sebagai lahan riset dan kolaborasi pendidikan. Ia juga mengapresiasi kesiapan Dinas Pendidikan dan potensi pelibatan guru-guru daerah dalam sistem pengajaran Sekolah Garuda.

“Sekolah ini bukan sekadar bangunan fisik. Ini adalah wadah strategis untuk mencetak pemimpin masa depan Indonesia. Kami juga memastikan bahwa keterlibatan guru lokal akan menjadi perhatian khusus karena mereka memahami karakter masyarakat setempat,” jelasnya.

Di Wakatobi, Wamen Stella diterima secara hangat oleh Bupati Wakatobi, para akademisi, mahasiswa, serta tokoh adat. Ia menyampaikan rasa haru atas dukungan masyarakat terhadap visi Presiden membangun SDM unggul dari daerah terpencil. Wamen Stella juga menekankan pentingnya riset berkelanjutan yang relevan dengan potensi lokal, seperti kelautan, rumput laut, dan pariwisata berkelanjutan.

“Salah satu prinsip kami adalah ‘riset lokal untuk ekonomi lokal’. Kami melihat potensi luar biasa di Wakatobi yang bisa menjadi pusat inovasi yang berdampak luas,” ujar Wamen Stella di hadapan civitas akademika.

Dalam setiap lokasi yang dikunjungi, Wamen Stella menegaskan pentingnya legalitas lahan, kesiapan infrastruktur dasar, serta keberlanjutan kerja sama antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat. Ketiga lokasi yang ditinjau dinilai memiliki karakteristik unik, dan Kementerian akan melakukan kajian menyeluruh untuk menentukan lokasi yang paling sesuai bagi pembangunan Sekolah Garuda di Sulawesi Tenggara.

“Kami hadir untuk memastikan bahwa anak-anak terbaik dari seluruh penjuru negeri mendapatkan kesempatan yang setara. Karena talenta tersebar merata, tapi kesempatan belum. Maka negara harus hadir menciptakan peluang itu,” tutup Wamen Stella.

Pembangunan Sekolah Garuda merupakan satu dari delapan program prioritas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), sebagai wujud nyata strategi Presiden dalam menyiapkan generasi unggul yang mampu berinovasi dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Mendiktisaintek : Musamus Sebagai Lambang Kolaborasi dan Gotong-royong

Universitas Musamus menggelar kuliah umum dan forum jaring aspirasi bertajuk “Diktisaintek Berdampak untuk Papua Selatan” bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto di Universitas Musamus Merauke, Kamis (3/7).

Acara ini juga menjadi simbol awal dari langkah strategis Kemdiktisaintek dalam memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pertumbuhan dan pemecah masalah berbasis riset di wilayah timur Indonesia.

Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyampaikan secara langsung pidato inspiratif di hadapan civitas akademika, tokoh masyarakat, dan jajaran pemerintah daerah.

Dalam sambutannya, Mendiktisaintek menyatakan bahwa Merauke bukan hanya ujung geografis Indonesia, melainkan juga simbol kekuatan budaya dan semangat kebangsaan. Kabupaten Merauke adalah Kabupaten terluas di Provinsi Papua Selatan, yang juga menjadi ibu kotanya. Ia menekankan bahwa Universitas Musamus memegang peranan strategis sebagai pusat kemajuan pendidikan tinggi di Papua Selatan.

“Saya melihat semangat luar biasa dari mahasiswa, bahkan yang berasal dari daerah dengan keterbatasan akses. Ini membuktikan bahwa semangat bisa mengalahkan segala keterbatasan,” ujar Menteri Brian.

Ia juga mengangkat filosofi lokal “Musamus” yang berarti sarang semut, sebagai lambang kolaborasi dan gotong royong. Menurutnya, semut mengajarkan nilai kebersamaan dalam membangun sesuatu yang besar. “Ketika kolaborasi berjalan, ketika saling menutupi kelemahan, maka akan lahir kekuatan besar,” ucapnya.

Lebih jauh, Menteri Brian menekankan bahwa perguruan tinggi tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga harus menjadi pusat solusi melalui riset dan kajian. Ia mengajak kepala daerah untuk menjadikan kampus sebagai mitra strategis dalam menyelesaikan berbagai tantangan pembangunan.

“Kampus adalah tempat orang-orang yang memiliki kedalaman pengetahuan. Jika ada persoalan di daerah untuk mendapatkan solusi, datanglah ke kampus,” tambahnya.

Kuliah umum ini sekaligus menjadi forum penggalangan aspirasi dari mahasiswa dan dosen Universitas Musamus. Sejumlah usulan disampaikan, mulai dari penguatan pusat riset berbasis potensi lokal hingga dukungan pembukaan akses pendidikan yang lebih luas untuk anak-anak Papua.

Kemdiktisaintek menegaskan komitmen dalam mendukung usulan-usulan tersebut sebagai bagian dari peta jalan pembangunan pendidikan tinggi yang inklusif dan berdampak langsung bagi masyarakat.

Pada kesempatan tersebut juga diberikan Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-Kuliah) secara simbolis bagi penerima KIP-Kuliah tahun 2025 jalur SNBP di Universitas Musamus. Pada tahun 2025 penerima KIP-Kuliah di Universitas Musamus pada jalur SNBP dan SNBT berjumlah 223 orang. Sementara untuk kuota KIP-Kuliah sendiri untuk se-wilayah Papua baik PTN maupun PTS tahun 2025 disediakan kuota total sebesar 4.544 orang.

Dalam kunjungannya, Menteri Brian didampingi oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Khairul Munadi, Penasehat Khusus Menteri Marsetio, Staf Khusus Menteri Tjitjik Sri Tjahjandarie, dan Kepala Pusat Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi Henri Tambunan. Turut hadir pula Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo, Rektor Universitas Musamus Beatus Tambaip, Bupati Merauke Yoseph Gebze, Bupati Asmat Thomas Eppe Safanpo, serta beberapa pimpinan daerah lainnya.