Amanat dan Komitmen Bersama untuk Perkuat Layanan Pendidikan Tinggi

Jakarta–Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Togar Mangihut Simatupang menegaskan pentingnya amanat dan komitmen bersama sebagai panduan kerja seluruh jajaran. Hal ini disampaikannya dalam Penyampaian Amanat dan Komitmen Bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) serta Kegiatan Hasil Karya dan Karsa, Senin (8/9). Sesjen Togar menyampaikan delapan poin amanat dan komitmen bersama yang telah ditegaskan oleh Mendiktisaintek, Brian Yuliarto, yaitu:

  1. Menjunjung etika di atas hukum.

Setiap kebijakan dan tindakan tidak hanya taat aturan, tetapi juga memenuhi standar etika dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat Diktisaintek.

  1. Menggunakan kewenangan secara amanah.

Jabatan bukan kekuasaan absolut. Setiap keputusan bebas dari konflik kepentingan dan berpihak pada kepentingan rakyat serta ekosistem Diktisaintek.

  1. Mewujudkan pelayanan paripurna.

Pelayanan prima menjadi budaya kerja bersama, dengan standar waktu yang jelas, transparan, dan konsisten dalam perbaikan berkelanjutan.

  1. Menegakkan transparansi dan akuntabilitas.

Tata kelola diperkuat melalui audit legal dan sosial, memastikan regulasi berpihak pada pelayanan serta hasilnya dirasakan nyata oleh masyarakat.

  1. Mengelola bantuan dan grant secara bersih.

Setiap bantuan sosial pendidikan dan hibah dikelola dengan proses bisnis yang patuh regulasi, adaptif terhadap pembaruan, dan bebas penyimpangan.

  1. Menggunakan anggaran secara tepat dan bermanfaat.

Anggaran dipakai secara akuntabel, transparan, dan berorientasi hasil. Semua kegiatan harus berdampak nyata bagi masyarakat akademik, bukan rutinitas seremonial.

  1. Mempercepat penyerapan anggaran.

Penyerapan anggaran diarahkan untuk meningkatkan pelayanan dan mendukung program prioritas seperti BMN, KIP-K, grant penelitian, hingga Sekolah Garuda.

  1. Menindaklanjuti hasil pemeriksaan dengan tuntas.

Setiap rekomendasi BPK diselesaikan cepat, tepat, dan terukur untuk memastikan tata kelola yang lebih baik setiap tahunnya. Bangun Semangat Pengabdian Sesjen Togar menekankan bahwa komitmen tersebut harus menjadi pedoman bersama dalam berkinerja. Prinsip kerja berlandaskan transparansi, akuntabilitas, dan amanah merupakan prioritas, sebagai bentuk pertanggungjawaban institusi dan dalam menjalankan tugas sebagai pengabdi masyarakat. “Kinerja yang kita lakukan harus berdampak nyata, bukan hanya angka di laporan. Semangat pengabdian ini harus memiliki memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” ungkap Sesjen Togar. Di luar delapan poin tersebut, Sesjen Togar juga mendorong praktik baik yang perlu dijalankan oleh seluruh pegawai, antara lain akuntabilitas dan tanggung jawab sebagai payung dari berkomunikasi, kompetensi, komitmen dan kontribusi, instruksi dan inisiatif, intervensi, serta menghindari benturan kepentingan. Penasihat Khusus Mendiktisaintek, Marsetio turut hadir dan mengingatkan bahwa peran pendidikan tinggi kini menjadi sorotan publik. Hal ini semakin menjadi pendorong bagi para pegawai Kemdiktisaintek untuk terus berkontribusi bagi bangsa dan negara. “Kita harus siap bekerja dengan baik dan terus meningkatkan kompetensi agar perguruan tinggi dapat memberikan kontribusi optimal bagi bangsa,” ujar Marsetio. Sebagai penutup, Sesjen menyerahkan buku “Inovasi Visioner” serta “Diktisaintek Berdampak” kepada perwakilan unit kerja sebagai hasil karya dan karsa para pegawai Kemdiktisaintek. Kedua buku tersebut menjadi simbol kerja keras jajaran Kemdiktisaintek dalam berinovasi dan memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia. Hadir dalam kegiatan ini Kepala Biro Umum, Hubungan Masyarakat, dan Pengadaan Barang dan Jasa, dan seluruh Pejabat Administrator dan Pengawas di lingkungan Kemdiktisaintek.

Perguruan Tinggi sebagai Problem Solver

Bandung-Indonesia tengah bersiap menyongsong satu abad kemerdekaan pada tahun 2045. Di tengah momentum ini, pendidikan tinggi dituntut untuk tidak berhenti sebagai ruang reproduksi pengetahuan, melainkan sebagai motor transformasi bangsa. 

Indonesia memiliki lebih dari 4.300 perguruan tinggi. Namun, masih terdapat tantangan ketimpangan kualitas dan relevansinya. Tahun 2024, Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Tinggi (PT) baru mencapai 32,00%, sementara APK PT Singapura sudah di atas 90%. Di samping itu, terdapat 1,01 juta sarjana menganggur. Padahal, Sumber Daya Alam Indonesia menjadi salah satu yang besar di dunia. Inilah yang disebut oleh Presiden Prabowo sebagai Paradoks Indonesia. 

Untuk menghadapi hal ini, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan merumuskan sejumlah strategi untuk memperkuat peran kampus dalam membawa perubahan baik bagi bangsa. Hal ini disampaikan dalam orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-68 Universitas Padjadjaran di Bandung, Kamis (11/9).

Keempat strategi tersebut antara lain:

1. Penguatan tata kelola, kepemimpinan, dan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul. 2. Transformasi akademik dan digitalisasi kurikulum. 3. Pembangunan ekosistem inovasi, riset, dan keberlanjutan. 4. Kolaborasi pentahelix antara akademisi, pemerintah, industri, masyarakat, dan media.

Upaya ini sejalan dengan kebijakan nasional untuk memperluas akses pendidikan tinggi, memperbaiki kualitas dosen, serta mendorong riset yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

“Perguruan tinggi tidak boleh berhenti sebagai ruang reproduksi pengetahuan. Sebagai Kampus Berdampak, universitas harus hadir sebagai problem solver, penjawab keresahan masyarakat, dan penggerak transformasi bangsa. Produk riset jangan hanya berhenti di prototipe, tetapi harus dihilirisasi kepada masyarakat,” tegas Wamen Fauzan. 

Senada, Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto melalui visi Asta Cita menekankan pembangunan manusia unggul dan penguasaan ilmu pengetahuan sebagai pilar kemandirian bangsa. Pendidikan tinggi menjadi instrumen utama dalam mencetak SDM produktif, inovatif, dan berdaya saing global.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto kerap menegaskan arah kebijakan Kemdiktisaintek, yakni Diktisaintek Berdampak, bertujuan menghadirkan pendidikan tinggi yang inklusif, adaptif terhadap disrupsi, serta mampu memberi solusi nyata bagi masyarakat.

Di akhir, Wamen Fauzan mempertegas kolaborasi antarlembaga untuk mewujudkan perguruan tinggi sebagai lokomotif bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

“Mari wujudkan tata kelola yang mendorong deelitisasi dan mengutamakan kebermanfaatan. Perguruan tinggi, industri, media, dan masyarakat bahu-membahu memperluas akses,  menumbuhkan mutu, memperkuat relevansi, dan memberi dampak,,” pungkas Wamen Fauzan.

Kemdiktisaintek Gelontorkan Rp123,9 Miliar untuk Program Riset Konsorsium, Mahasiswa Berdampak, dan Pengabdian kepada Masyarakat

Jakarta—Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) melaksanakan penandatanganan kontrak pelaksanaan Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (RIKUB), Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah dan Kewirausahaan, serta Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Batch III bersama sejumlah perwakilan perguruan tinggi, Rabu (10/9).

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memaksimalkan kualitas riset di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Ditjen Risbang telah merumuskan kebijakan agar pendanaan yang relatif terbatas tetap mampu menghasilkan penelitian yang berdampak luas.

“Ditjen Risbang telah melakukan formulasi agar riset berkualitas tetap dapat dimaksimalkan meski dengan dukungan dana yang terbatas. Saya berharap capaian yang ada dapat terus dirawat, karena saya yakin banyak penelitian unggul yang bisa kita dorong menuju hilirisasi,” tegas Menteri Brian.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai garda terdepan dalam menghadirkan solusi atas persoalan nasional, salah satunya melalui riset pengelolaan sampah.

“Jika hasil riset ini diterapkan di seluruh kampus, perguruan tinggi tidak hanya mampu mengelola sampahnya sendiri, tetapi juga berkontribusi terhadap pengelolaan lingkungan sekitar, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat,” ujar Menteri Brian.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang), Fauzan Adziman, dalam laporannya memaparkan rincian alokasi pendanaan. Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (RIKUB) memperoleh alokasi sebesar Rp45,4 miliar untuk mendanai 82 proposal. Sementara itu, Program Mahasiswa Berdampak mendapatkan dukungan pendanaan sebesar Rp30,1 miliar untuk 263 proposal.

Pada bidang pengabdian kepada masyarakat, Skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah dan Kewirausahaan dialokasikan dana sebesar Rp13,7 miliar untuk 101 judul proposal dari 67 perguruan tinggi. Selain itu,  Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Batch III memperoleh pendanaan sebesar Rp34,7 miliar yang mendukung 948 judul proposal dari 434 perguruan tinggi.

“Melalui program-program ini, kami berharap riset dan inovasi dapat berkembang secara nyata dan langsung menjawab kebutuhan masyarakat,” jelas Dirjen Fauzan.

Program RIKUB merupakan skema riset kolaboratif yang mendorong sinergi antara perguruan tinggi dengan dunia usaha dan industri (DUDI), Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/BUMD), lembaga pemerintah, hingga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Program ini dirancang untuk menjembatani “valley of death”, yaitu fase kritis ketika banyak inovasi potensial gagal mencapai tahap hilirisasi produk.

Sementara itu, Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat oleh BEM dirancang untuk memperkuat peran mahasiswa sebagai pelaku utama pembangunan sosial melalui wadah organisasi mahasiswa. Melalui kepemimpinan dan gerakan BEM, generasi muda diberi ruang strategis untuk merancang program ilmiah, memanfaatkan hasil riset sebagai dasar intervensi, serta berkontribusi langsung dalam memecahkan persoalan riil di masyarakat. Program ini tidak hanya mendorong aksi sosial, tetapi juga menumbuhkan budaya reflektif, berpikir kritis, dan kolaboratif dengan pendekatan partisipatif bersama masyarakat.

Program Pengabdian kepada Masyarakat dirancang Kemdiktisaintek untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat. Melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Batch III, program ini memberi kesempatan tambahan bagi perguruan tinggi untuk berpartisipasi lebih luas dan inklusif. Dosen dan mahasiswa didorong terlibat aktif dalam merancang serta melaksanakan solusi atas persoalan nyata di lapangan, dengan menempatkan masyarakat sebagai mitra utama dalam setiap tahap kegiatan.

Di sisi lain, Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Wilayah dan Kewirausahaan merupakan salah satu inisiatif strategis Kemdiktisaintek yang berfokus pada penguatan kapasitas masyarakat melalui dua pendekatan utama: berbasis potensi wilayah dan pengembangan kewirausahaan. Program ini dirancang untuk mendorong lahirnya solusi nyata atas permasalahan lokal, sekaligus mengoptimalkan keunggulan daerah agar memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Ditjen Risbang, I Ketut Adnyana, menyampaikan ucapan selamat sekaligus apresiasi kepada para penerima bantuan operasional yang hadir dalam acara penandatanganan kontrak. Ia menegaskan bahwa Kemdiktisaintek siap memberikan bimbingan teknis apabila diperlukan guna mendukung kelancaran pelaksanaan program.

“Kami memiliki dua harapan untuk skema-skema ini: pertama, dampak yang nyata bagi penerima bantuan maupun masyarakat sasaran; kedua, terjalinnya kolaborasi yang sehat, bukan kompetisi,” pungkas Direktur Ketut.

Melalui berbagai skema pendanaan tersebut, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem riset dan pengabdian yang berkelanjutan. Sinergi antara perguruan tinggi, mahasiswa, industri, dan masyarakat diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar memberi manfaat nyata bagi pembangunan bangsa.

Ditjen Risbang Selenggarakan Pelatihan Penulisan Paten 2025 untuk Perkuat Inovasi Perguruan Tinggi

Surakarta — Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, menyelenggarakan Pelatihan Penulisan Deskripsi Permohonan Paten (PDPP) Tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung pada 2–4 September 2025 di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan diikuti oleh 50 dosen serta peneliti dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah dan sekitarnya.

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas peneliti dan dosen dalam menyusun dokumen deskripsi permohonan paten sesuai ketentuan yang berlaku. Upaya ini merupakan bagian dari strategi Ditjen Risbang untuk mempercepat hilirisasi hasil riset agar dapat dimanfaatkan secara luas oleh industri dan masyarakat.

Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Ditjen Risbang Yos Sunitiyoso, menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam mendorong pemanfaatan hasil riset.

“Kegiatan ini bisa mempercepat hilirisasi riset, dan kami berharap para peserta dapat segera mengajukan permohonan paten ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta, Harun Joko Prayitno, menyampaikan apresiasinya atas kepercayaan Ditjen Risbang menjadikan UMS sebagai mitra penyelenggara.

“Kegiatan ini tidak hanya berhenti di sini, tetapi kami siap mendampingi dan membimbing para peserta sampai benar-benar mampu mendaftarkan produk kekayaan intelektualnya. UMS berkomitmen mendukung percepatan hilirisasi hasil riset melalui peningkatan kualitas penulisan paten dan pemanfaatannya untuk masyarakat,” ungkapnya.

Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi tentang teknik penulisan dokumen paten, penelusuran kebaruan invensi, dan praktik penyusunan deskripsi permohonan paten. Para narasumber yang dihadirkan merupakan praktisi dan akademisi berpengalaman di bidang kekayaan intelektual.

Salah satu peserta, Tri Hannato Saputra dari Politeknik ATMI Solo, menyampaikan manfaat yang diperoleh dari pelatihan ini.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami, khususnya dosen politeknik, karena kami terbiasa melakukan riset dengan output berupa produk. Melalui pelatihan ini, kami mendapatkan nilai tambah karena kini dapat mendaftarkan paten untuk produk yang telah kami hasilkan,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Ditjen Risbang berharap dapat meningkatkan kualitas penulisan paten di perguruan tinggi, memperkuat hilirisasi hasil riset, dan membangun ekosistem inovasi nasional yang inklusif, kolaboratif, dan berdampak bagi masyarakat.

Mendiktisaintek Dorong Guru Besar Perkuat Inovasi Kampus, Hadirkan Solusi Strategis Nasional

Jakarta-Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menerima audiensi Ketua Dewan Profesor (DP) sejumlah Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN BH) di Indonesia. Audiensi ini dihadiri oleh Marlina (Ketua DP Universitas Andalas),  Arlette Suzy Puspa Pertiwi (Ketua DP Universitas Padjadjaran), Evy Damayanthi (Ketua DP Institut Pertanian Bogor), serta Eko K. Budiardjo (Wakil Ketua DP Universitas Indonesia), Rabu (27/8).

Dalam pertemuan tersebut, Mendiktisaintek menekankan pentingnya menjaga integritas akademik dan mengajak guru besar berperan lebih aktif untuk hadirkan solusi bagi bangsa.

Selain itu, Menteri Brian juga mendorong peningkatan kualitas publikasi ilmiah Indonesia agar sejajar dengan negara lain. Keterlibatan diaspora akademisi Indonesia di luar negeri diharapkan dapat memperkuat peran jurnal nasional melalui kontribusi sebagai editor maupun reviewer.

Menteri Brian menyoroti pentingnya aksi nyata dari perguruan tinggi dalam mendorong solusi strategis nasional, seperti dalam hal pengelolaan sampah di kampus dan kemandirian PTNBH melalui inovasi, paten, serta royalti.

“Kalau teori-teori tentang pengelolaan sampah mungkin sudah banyak, tapi yang kita butuhkan adalah bukti nyata pengelolaan dan solusinya,” tutur Menteri Brian.

Evy menuturkan bahwa perguruan tinggi bukan hanya sebagai pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai benteng nilai-nilai moral dan akademik.

“Itu muruah perguruan tinggi untuk menjaga etika, integritas akademik, dan mencegah plagiarisme,” kata Evy.

Pertemuan ini menjadi langkah awal memperkuat sinergi antara pemerintah dan Dewan Profesor dalam menjaga muruah akademik. Melalui kolaborasi yang erat, diharapkan perguruan tinggi tidak hanya melahirkan karya riset berkualitas dan inovasi nyata, tetapi juga terus menjadi penjaga etika serta integritas akademik bagi pembangunan bangsa.

Kemdiktisaintek Pacu Kampus Indonesia Jadi World Class University

Jakarta-Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dorong penguatan pendidikan tinggi Indonesia, melalui penandatanganan kontrak Program Equity 2025 World Class University (WCU)/ Times Higher Education (THE) Impact Rankings dengan 23 Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN BH), Selasa (26/8).

Program ini diarahkan untuk memperluas akses pendidikan tinggi secara merata, guna meningkatkan kualitas riset dan reputasi akademik, yang bermitra dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Program ini mencakup kemitraan antara PTN BH, PTN Badan Layanan Umum (BLU), PTN Satker (Satuan Kerja), dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). 

“Kami mengapresiasi LPDP yang terus mendukung kita dengan dana abadi yang kali ini dialokasikan untuk peningkatan riset. Dengan pendanaan yang telah dialokasi untuk program ini, silakan bersinergi antara para dosen di kampus masing-masing, dorong penelitian dari riset fundamental hingga terapan, serta lakukan kolaborasi antarkampus,” ujar Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto.

Menteri Brian menekankan bahwa pemeringkatan perguruan tinggi merupakan dampak dari peningkatan kualitas kampus,serta cerminan kualitas riset Indonesia dibandingkan negara lain. Para rektor yang hadir didorong untuk saling berbagi ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi dengan pihak dalam maupun luar negeri untuk mengetahui praktik baik di bidang masing-masing. 

Program Equity 2025 merupakan tindak lanjut dari amanat Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2021,  tentang Dana Abadi di Bidang Pendidikan dalam rangka memperkuat pendidikan tinggi. Peringkat global merupakan indikator dengan tujuan akhir untuk mewujudkan keunggulan dalam pengajaran, kuat dalam riset, inovatif dalam teknologi, relevan dengan kebutuhan masyarakat, dan dapat memberikan kontribusi nyata untuk bangsa dan dunia sesuai paradigma “Diktisaintek Berdampak”. Hal ini dijelaskan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemdiktisaintek, Khairul Munadi dalam laporannya.

“Kita arahkan dana abadi pendidikan untuk percepatan dan pemerataan transformasi pendidikan tinggi. Program ini didesain agar konsisten dan berkelanjutan,” jelas Dirjen Khairul.

Senada dengan Mendiktisaintek, Dirjen Khairul juga mengapresiasi LPDP yang berkontribusi tidak hanya sebagai pengelola dana, tetapi sebagai mitra strategis Kemdiktisaintek yang memastikan pendanaan akan dikelola dengan akuntabel, transparan, dan berdampak.

Direktur Fasilitasi Riset LPDP, Ayom Widipaminto menekankan bahwa pengelolaan dana abadi perguruan tinggi merupakan instrumen penting untuk mendorong transformasi pendidikan tinggi Indonesia. Harapannya, pendanaan dari program ini bisa langsung memperkuat kapasitas riset, pengajaran, dan daya saing global 23 PTN BH penerima program Equity 2025.

“Hari ini menjadi titik awal perguruan tinggi, sebagai lokomotif perkembangan riset dan teknologi, dapat membawa Indonesia menjadi lebih baik,” ungkap Ayom.

Program Equity 2025 merupakan bentuk komitmen Kemdiktisaintek dalam memperkuat kapasitas riset, inovasi, dan daya saing perguruan tinggi nasional. Melalui program ini, pemerintah memastikan hasil penelitian dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa serta mendukung kebijakan publik secara berkelanjutan.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti, Mukhamad Najib, serta rektor dan perwakilan rektor dari 23 PTN BH yang menerima bantuan dari Program Equity 2025.

Menuju University 4.0: Peran Dewan Pendidikan Tinggi untuk Akselerasi Diktisaintek Berdampak

Jakarta – Apa yang akan diwariskan pendidikan tinggi Indonesia menjelang usia 100 tahun kemerdekaan? Pertanyaan inilah yang menjadi pijakan utama dalam Peluncuran dan Rapat Kerja Perdana Dewan Pendidikan Tinggi (DPT) periode 2025–2029 pada Rabu (20/8). Acara yang dihadiri oleh Wamendiktisaintek, Dirjen Dikti, para rektor, tokoh pendidikan, praktisi industri, tokoh masyarakat serta para pejabat di lingkungan kementerian/lembaga, menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali arah pendidikan tinggi, sains dan teknologi untuk Asta Cita.

Melalui Keputusan Menteri Nomor 202/M/KEP/2025 dan Nomor 207/M/KEP/2025, DPT hadir sebagai langkah strategis dalam memperkuat transformasi pendidikan tinggi, sains, dan teknologi menuju University 4.0, di mana kampus tidak hanya berfokus pada pendidikan dan riset, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan bangsa.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, menekankan pentingnya pelibatan publik dalam arah kebijakan pendidikan tinggi.

“DPT menjadi wadah partisipatif yang strategis untuk memastikan keterlibatan aktif, inklusif, dan berkelanjutan dari berbagai elemen masyarakat dalam merumuskan kebijakan pendidikan tinggi nasional,” ujar Wamen Fauzan.

Berkenaan dengan hal tersebut, Mohammad Nuh, sebagai Dewan Pengarah DPT mengingatkan bahwa pendidikan tinggi harus mampu menyesuaikan diri dengan dinamika zaman serta mendorong inovasi yang relevan bagi kebutuhan masyarakat. Transformasi ini tercermin dalam evolusi Universitas 4.0 yang menghadirkan transformasi sosial-ekonomi sekaligus menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan. 

Sementara itu, Dirjen Dikti menegaskan peran DPT sebagai mitra strategis kementerian dalam mendorong terwujudnya Diktisaintek Berdampak.

“Visi kami adalah menghadirkan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi yang inklusif, adaptif, dan berdampak menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu, kami menekankan pemerataan akses, riset yang menjawab kebutuhan masyarakat, serta tata kelola yang berintegritas, Kehadiran DPT akan menjadi penguat dalam memastikan transformasi ini berjalan dengan partisipatif dan berkelanjutan,” jelas Dirjen Khairul.

Sebagai advisory board bagi Kemdiktisaintek, DPT akan mengawal peningkatan mutu, akses, relevansi, dan dampak pendidikan tinggi agar benar-benar dirasakan masyarakat. Anggota DPT dibagi ke dalam tiga komisi, yaitu Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, serta Tata Kelola, yang masing-masing berfokus pada pengembangan kebijakan sesuai bidangnya.

Paradigma Transformasi Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menegaskan bahwa perguruan tinggi harus bergerak melampaui fungsi tradisionalnya. Peningkatan akses, mutu, dan relevansi menjadi fondasi utama, sementara dampak hadir sebagai penegas bahwa seluruh upaya tersebut benar-benar dirasakan masyarakat. 

“Dengan dukungan sains dan teknologi sebagai penghasil solusi, lulusan perguruan tinggi diharapkan menjadi agen perubahan yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, pembangunan sosial-ekologis, sekaligus pencapaian SDGs,” ujar Dirjen Dikti.

“Dewan Pendidikan Tinggi, kita berharap arah pendidikan tinggi Indonesia semakin jelas, berdampak, dan mampu menjawab tantangan zaman,” pungkas Muhadjir Effendy, sebagai Dewan Pengarah DPT.

Peluncuran DPT 2025–2029 ini merupakan langkah strategis menyongsong Indonesia Emas 2045. Dari program pendidikan dokter di daerah 3T, kolaborasi kampus dengan industri, hingga kebijakan yang lebih adaptif bagi PTN dan PTS, semua diarahkan agar pendidikan tinggi Indonesia benar-benar berdampak untuk pembangunan bangsa. 

Wamen Stella Ajak Mahasiswa Baru Bangun Kepakaran dan Riset untuk Indonesia Emas 2045

Malang-Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie hadir dalam Kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Negeri Malang (UM). Dalam kesempatan tersebut, Wamen Stella menekankan pentingnya mahasiswa menyiapkan diri sejak dini melalui penguasaan keterampilan abad 21, keterlibatan dalam riset, serta menemukan kepakaran diri sebagai modal utama membangun Indonesia Emas 2045, Senin (18/8).

Menurut Wamen Stella, perkuliahan bukan sekadar melanjutkan pola belajar di sekolah, melainkan fase penting untuk melahirkan inovasi dan solusi nyata bagi bangsa.

“Empat tahun kuliah adalah masa yang istimewa. Jangan hanya ikut-ikutan, temukan kepakaran kalian. Kepakaran inilah yang akan membuat kalian tidak tergantikan oleh teknologi, termasuk artificial intelligence,” ujar Wamen Stella.

Wamen Stella juga menekankan bahwa pemerintah berkomitmen mendukung ekosistem riset. “Research mindset bukan hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi. Riset itu cuan, riset menghasilkan inovasi yang berdampak,” tegas Wamen Stella.

Dalam sesi interaktif, mahasiswa diajak berpikir kritis mengenai keterampilan yang diperlukan di masa depan. Hasil diskusi menunjukkan kemampuan critical thinking, problem solving, decision making, hingga keterampilan berbasis AI dan big data menjadi kompetensi utama yang harus diasah. Wamen Stella pun menegaskan bahwa cara terbaik melatihnya adalah melalui pengalaman nyata, seperti magang, organisasi, dan keterlibatan dalam penelitian.

Selain itu, Wamen Stella menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya melakukan pemerataan pendidikan tinggi hingga ke daerah. Melalui program riset lokal, berbagai kampus di Papua, Aceh, hingga Malang diarahkan mengembangkan potensi khas daerah seperti minyak atsiri, kacang hijau, hingga pengolahan air hujan menjadi air minum.

“Keadilan akses pendidikan tinggi menjadi prioritas. Kita ingin semua mahasiswa di Indonesia punya kesempatan yang sama untuk berkontribusi lewat riset dan inovasi,” jelas Wamen Stella.

Sementara itu, Rektor UM, Hariyono menyambut baik pesan tersebut dan menekankan bahwa pengalaman kuliah harus menjadi fondasi bagi mahasiswa untuk tumbuh menjadi insan mandiri, kreatif, dan berdaya saing.

PKKMB UM kali ini tidak hanya menjadi momentum perkenalan kehidupan kampus, tetapi juga awal perjalanan mahasiswa dalam mempersiapkan diri sebagai generasi inovator yang akan membawa Indonesia ke panggung dunia pada 2045.

Mahasiswa Aset Bangsa, Agen Perubahan untuk Indonesia Maju

Tangerang–Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menekankan bahwa generasi muda merupakan aset terbesar bangsa untuk memajukan Indonesia. Pesan ini disampaikan ketika dirinya menghadiri Universitas Pelita Harapan (UPH) Festival 2025 di Tangerang, Kamis (14/8).

“Energi dan semangat kalian adalah kekuatan besar bagi Indonesia. Kalian adalah generasi terpilih yang memiliki kesempatan langka untuk menempuh pendidikan tinggi. Gunakan tiga sampai dengan empat tahun ke depan untuk membuktikan diri dan memanfaatkan kesempatan sebesar-besarnya,” tutur Menteri Brian, di kampus UPH.

Indonesia adalah negara besar dengan kekayaan alam yang melimpah, namun masih berjuang untuk menjadi negara maju. Saat ini, pendapatan per kapita Indonesia berada di kisaran 4.900 USD per tahun atau sekitar Rp77 juta per tahun (±Rp6,4 juta per bulan). Untuk mencapai status negara maju, angka tersebut perlu ditingkatkan hingga tiga kali lipat. Peningkatan tersebut hanya dapat dicapai dengan membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, terdidik, dan memiliki daya juang tinggi.

“Kita membangun fondasi industri yang kuat dan berkelanjutan. Banyak negara yang terjebak di middle income trap dan sulit ‘naik kelas’ menjadi negara maju. Jika kita bisa meningkatkan pendapatan hingga tiga kali lipat, perekonomian akan lebih stabil,” jelas Menteri Brian.

Dalam kesempatan ini, Menteri Brian mendorong mahasiswa untuk memiliki ambisi yang besar, visi jangka menengah hingga jangka panjang, dan tekad pantang menyerah.

Mendiktisaintek menyebutkan tokoh-tokoh besar yang mewarnai sejarah, memiliki etos kerja tinggi dan selalu bangkit setiap kali menghadapi kegagalan. Selain itu, Menteri Brian mengingatkan pentingnya memanfaatkan lingkungan kampus sebagai wadah pembelajaran, kolaborasi, dan pembentukan karakter.

Menurutnya, dunia saat ini terbuka lebar bagi generasi muda untuk berinovasi dan menjadi pelopor perubahan, asalkan mereka berani bermimpi besar dan konsisten mengejarnya.
“Mahasiswa itu tidak hanya menyelesaikan studi, tetapi juga menjadi game changer di bidang masing-masing. Dengan semangat dan kompetensi yang tepat, kalian dapat berkontribusi membawa lebih dari 280 juta penduduk Indonesia, menuju kesejahteraan dan mewujudkan cita-cita menjadi negara maju,” tutup Menteri Brian.

Wamen Stella Christie Ajak Mahasiswa Manfaatkan Peluang Beasiswa

Sumedang-Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menjadi narasumber Talkshow ‘Rosi on Location’, yang merupakan rangkaian acara Kampus Kompas TV di Stadion Jati Padjadjaran, Senin (11/8).

Acara tersebut merupakan program Kompas TV bekerja sama dengan perguruan tinggi di tanah air yang ditujukan untuk meningkatkan sinergi antara industri media dengan dunia akademik.

Selain Wamen Stella, talkshow yang dipandu langsung oleh Rosianna Silalahi ini juga turut meghadirkan narasumber lain, yaitu Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad), Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, Wakil Menteri Koperasi Republik Indonesia sekaligus Ketua IKA Unpad, Ferry Julianto, serta Founder Malaka, Ferry Irwandi.

Wamen Stella menanggapi pertanyaan terkait penambahan kuota Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah Mandiri. Wamendiktisaintek menyatakan bahwa pemerintah terus berupaya meningkatkan jumlah penerima KIP Kuliah. Tahun ini, anggaran KIP Kuliah mencapai Rp14,983 triliun dengan kenaikan penerimaan jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) sebesar 15 persen dibanding tahun lalu.

“Kami ingin memastikan bantuan ini tepat sasaran dan kualitas penerima tetap terjaga,” tegas Wamen Stella.

Wamen Stella juga menambahkan bahwa Kemdiktisaintek juga memberikan keleluasaan kepada kampus untuk menentukan penerima KIP Kuliah berdasarkan prioritas kriteria yang sudah ditentukan.

“Yang bisa menentukan mahasiswa menerima KIP Kuliah adalah pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki, dan itu merupakan mandat bagi masing-masing universitas,” pungkas Wamen Stella.

Wamen Stella juga menyampaikan harapan kepada generasi muda agar dapat terus berusaha memacu diri serta mengembangkan potensi diri demi meraih kesuksesan. 

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) berkomitmen untuk terus meningkatkan akses KIP Kuliah dan menjadikannya prioritas agar pendidikan tinggi dapat dijangkau oleh mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Dengan terus berupaya meningkatkan kuota penerima, pemerintah optimis program ini mampu membuka lebih banyak kesempatan sekaligus menjaga kualitas lulusan perguruan tinggi di Indonesia.