Kemdiktisaintek Gelar Uji Publik Rancangan Permen Penerimaan Mahasiswa Baru: Wujudkan Seleksi PTN yang Akuntabel, Inklusif, dan Berdampak

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menggelar Uji Publik Rancangan Peraturan Menteri tentang Penerimaan Mahasiswa Baru untuk program diploma dan sarjana di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Langkah ini menjadi upaya penting untuk memastikan seleksi masuk PTN lebih transparan, adil, inklusif, dan berdampak bagi seluruh daerah di Indonesia. Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid ini diikuti oleh lebih dari 113 pimpinan PTN, Ketua Majelis Rektor PTN Indonesia (MRPTNI), Forum Direktur Politeknik Negeri, serta pejabat tinggi Kemdiktisaintek.

Seleksi Nasional yang Lebih Akuntabel dan Transparan

Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemdiktisaintek, Togar Mangihut Simatupang, menegaskan pentingnya pembaruan aturan untuk menjaga mutu dan keadilan dalam penerimaan mahasiswa baru di Indonesia. Sesjen menyampaikan bahwa “Pembaruan aturan ini dilakukan agar sistem seleksi nasional makin transparan, akuntabel, dan sesuai dengan arah kebijakan pendidikan tinggi saat ini”. Uji publik ini menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk memberi saran dan masukan. Semua tanggapan akan digunakan untuk menyempurnakan rancangan kebijakan sebelum ditetapkan.

Tiga Jalur Masuk Tetap Dipertahankan

Dalam rancangan peraturan yang baru, tiga jalur masuk ke PTN tetap ada, yaitu (1) Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), (2) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), dan (3) Seleksi Mandiri oleh PTN. Pelaksanaan SNBT akan dilakukan satu kali setiap tahun agar lebih efisien dan terkoordinasi dengan baik. PTN juga wajib membuka informasi seleksi secara terbuka – mulai dari kuota, biaya, metode seleksi, jadwal, hingga kriteria penerimaan – serta menyediakan kanal pelaporan publik dan masa sanggah selama lima hari kerja agar masyarakat dapat memberi masukan.

Tes Kemampuan Akademik Bersifat Pilihan

Untuk memberi ruang yang lebih luas bagi potensi calon mahasiswa, Tes Kemampuan Akademik (TKA) bersifat pilihan — boleh ada ataupun tidak dalam proses pendaftaran. Pada Seleksi Mandiri, PTN dapat memanfaatkan TKA bila dianggap perlu, tetapi tidak menjadi syarat wajib bagi seluruh peserta seleksi. Kebijakan ini memberikan fleksibilitas bagi kampus tanpa membatasi kesempatan calon mahasiswa.

Pemerataan Akses dan Dukungan Afirmasi

Kemdiktisaintek menegaskan komitmen untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi semua kalangan. Rapermen ini juga menyajikan ulang amanat UU 12/2012 Pasal 74(1), yakni PTN wajib mencari dan menjaring calon mahasiswa yang memiliki potensi akademik tinggi, tetapi kurang mampu secara ekonomi dan/atau berasal dari daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) untuk diterima paling sedikit 20% dari seluruh mahasiswa baru yang diterima dan tersebar pada semua program studi. 

Pengelolaan yang Transparan dan Terbuka

Dari sisi pengelolaan, pelaksanaan seleksi nasional akan dilaksanakan oleh panitia pelaksana yang terdiri atas unsur Kementerian dan PTN dan di-SK-kan oleh Menteri. Pelaksanaan seleksi nasional difasilitasi oleh unit pelaksana teknis yang membidangi asesmen pendidikan tinggi. Seluruh proses keuangan dan aset seleksi dikelola sesuai aturan, diawasi oleh Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP), dan hasilnya ditetapkan sebagai barang milik negara. Langkah ini untuk memperkuat integritas dan mencegah potensi penyalahgunaan.

 

Kolaborasi Pemerintah dan PTN untuk Kebijakan Lebih Baik

Uji publik ini juga menjadi ajang diskusi terbuka antara Kemdiktisaintek dan seluruh PTN di Indonesia. Berbagai masukan disampaikan, seperti perlunya penyesuaian daya tampung jalur mandiri dan penegasan kriteria afirmasi agar lebih tepat sasaran. Kemdiktisaintek menegaskan bahwa semua masukan dari kampus akan ditampung dan menjadi dasar penyempurnaan kebijakan. Semangat kolaborasi ini menunjukkan komitmen bersama untuk mewujudkan pendidikan tinggi yang berintegritas, berkeadilan, dan berdampak luas bagi masyarakat.

Langkah Menuju Diktisaintek yang Berdampak

Melalui uji publik ini, Kemdiktisaintek menegaskan tekad untuk menghadirkan kebijakan pendidikan tinggi yang efisien, terbuka, dan benar-benar memberi manfaat nyata bagi pemerataan kesempatan belajar di Indonesia.

Kemdiktisaintek berkomitmen menjadikan Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) sebagai sistem seleksi yang adil, objektif, dan berpihak pada peningkatan mutu serta akses pendidikan tinggi untuk semua.

Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak #KampusBerdampak #KampusTransformatif #Pentingsaintek

Wamendiktisaintek Dorong Perempuan untuk Lebih Aktif di bidang STEM

Jakarta–Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menyoroti kesenjangan gender yang masih ada dalam bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) serta pentingnya penghapusan bias dalam lingkungan akademik dan profesional. Hal ini disampaikan dalam acara L’oreal-UNESCO For Women in Science, Selasa (11/11).

Dalam paparannya, Wamen Stella menjelaskan perbandingan sebesar 16.91% antara lulusan STEM laki-laki dan perempuan di Indonesia. Sementara itu, Uni Emirat Arab menjadi negara dengan perbandingan terbesar sebesar 32,14% dan Turki terendah sekitar 0,95%. Wamen Stella juga menekankan pentingnya memahami akar masalah sebelum mengambil tindakan.

“Bukan karena kemampuan ilmiah perempuan lebih rendah dari laki-laki. Masalahnya adalah bias dan stereotip dalam masyarakat,” ujar Wamen Stella di Graha Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Wamen Stella memaparkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa Curriculum Vitae (CV) yang identik akan dinilai berbeda hanya karena nama yang melekat pada CV tersebut. CV dengan nama laki-laki cenderung dianggap lebih produktif dan memiliki pengalaman lebih baik dibanding CV dengan nama perempuan, meskipun memiliki isi yang identik.

“Ini membuktikan adanya bias yang nyata. Oleh karena itu, kami mendorong agar foto tidak dicantumkan dalam CV saat melamar pekerjaan, agar penilaian objektif berdasarkan kompetensi, bukan penampilan atau stereotip,” tambah Wamen Stella.

Lebih lanjut, Wamen Stella menyoroti penelitian yang menunjukkan adanya bias dalam mentoring akademik, gaji awal, dan peluang karier bagi perempuan. Bahkan dalam era kecerdasan buatan (AI), bias gender tetap dapat muncul karena algoritma dilatih menggunakan data yang mencerminkan ketidaksetaraan gender di masyarakat.

“AI bukan solusi otomatis untuk bias gender. Jika data yang digunakan sudah bias, maka AI justru dapat memperkuat bias tersebut,” jelas Wamen Stella.

Wamen Stella menekankan langkah konkret yang bisa dilakukan: menyadari stereotip gender dan hambatan sosial, memahami data dan sains tentang perempuan dalam STEM, serta menghapus diskriminasi dalam sistem pendidikan dan tenaga kerja. Kesadaran ini tidak hanya penting untuk keadilan sosial, tetapi juga untuk efisiensi ekonomi nasional, karena tidak memaksimalkan potensi kompetensi seluruh warga negara berarti membuang-buang talenta yang ada.

Kemdiktisaintek akan terus mendorong kebijakan yang memastikan kesetaraan gender dalam pendidikan, penelitian, dan pengembangan karier di bidang STEM, serta memperkuat kerja sama internasional untuk menutup kesenjangan ini.

Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi 

#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif

Semangat Hari Pahlawan: Pendidikan dan Pengabdian Jadi Kunci Kemajuan Bangsa

Jakarta-Dalam momentum peringatan Hari Pahlawan 2025, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan bahwa pendidikan dan pengabdian merupakan bentuk perjuangan masa kini untuk melanjutkan cita-cita para pahlawan, Senin (10/11).

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, (Wamendiktisaintek) Stella Christie, menyampaikan bahwa perjuangan tidak berhenti setelah kemerdekaan diraih.

“Kita harus bersyukur atas perjuangan para pahlawan yang memberi kita kemerdekaan. Namun perjuangan belum selesai, masih banyak belenggu dalam dunia pendidikan yang harus kita pecahkan bersama,” ujar Wamen Stella.

Menurut Wamen Stella, pendidikan menjadi jalan utama menuju kemajuan bangsa karena melalui ilmu pengetahuan dan inovasi, generasi muda dapat melanjutkan perjuangan para pahlawan dalam bentuk yang relevan dengan zaman. Ia menekankan bahwa setiap langkah kecil dalam dunia pendidikan baik mengajar, meneliti, maupun mengabdi memiliki makna besar bagi kemerdekaan intelektual bangsa.

Sementara itu, Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha mengajak masyarakat untuk memaknai perjuangan para pahlawan sebagai inspirasi untuk berbuat nyata.

Wamen Giring menyoroti tiga nilai utama yang dapat diteladani dari para pahlawan, yakni kesabaran, pengabdian tanpa pamrih, dan pandangan jauh ke depan. Menurut Wamen Giring, perjuangan masa kini tidak lagi dengan bambu runcing, melainkan dengan ilmu, empati, dan pengabdian.. Semangat ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang menekankan pentingnya ketahanan nasional, kemajuan pendidikan, keadilan sosial, serta pembangunan manusia Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya.

Menutup acara, Menteri Sosial Saifullah menyerukan agar seluruh masyarakat menjaga nyala semangat perjuangan tersebut. 

“Kini giliran kita menjaga agar api perjuangan para pahlawan tidak pernah padam dengan bekerja, bergerak, dan berdampak bagi Indonesia,” tutup Menteri Saifullah.

Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi 

#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif

Peran Penting Perguruan Tinggi dalam Kedaulatan Pangan Nasional

Semarang–Pemerintah terus mendorong penguatan sektor pertanian berbasis riset dan inovasi sebagai bagian dari agenda nasional mewujudkan kemandirian pangan dan pembangunan berkelanjutan. Melalui teknologi tepat guna, sektor pertanian diharapkan tidak hanya menjadi penopang ekonomi, tetapi juga ruang lahirnya inovasi yang berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat desa.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, pada tahun 2023 sebanyak 42,01 persen petani Jawa Tengah berusia 43 tahun ke atas. Sementara, petani milenial berjumlah 18,78 persen dan petani generasi Z sebanyak 0,96 persen. Selain itu, pemanfaatan teknologi digital di sektor pertanian masih di bawah 20 persen dari total pelaku usaha tani.

Dalam laporan yang sama, disebut bahwa jumlah usaha pertanian di Jawa Tengah pada 2023 adalah sebanyak 4.366.317 unit, turun sebesar 13,21 persen dibanding 10 tahun yang lalu, dengan jumlah 5.031.033 unit usaha. Kondisi ketimpangan usia, penguasaan teknologi, dan berkurangnya usaha pertanian menimbulkan tantangan regenerasi dan transformasi sistem produksi agar lebih efisien dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mendorong peran perguruan tinggi untuk memberi solusi terhadap tantangan-tantangan yang dialami masyarakat di sekitar mereka. Salah satu cara yang dilakukan oleh Konsorsium Perguruan Tinggi Vokasi (PTV) Jawa Tengah adalah menyelenggarakan Festival Panen Raya Berdikari Jawa Tengah Tahun 2025 bertema “Panggung Inovasi: Teknologi Tepat Guna dan Sinergi Multipihak untuk Masa Depan Berkelanjutan”. Kegiatan ini dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan di Semarang, Kamis (6/11).

“Kawan-kawan yang ada di Jawa Tengah telah mampu membangun sebuah pola pikir baru, di mana perguruan tinggi dapat benar-benar berperan nyata di tengah masyarakat. Saya mengapresiasi konsorsium vokasi di Jawa Tengah ini,” ujar Wamen Fauzan.

Kegiatan ini merupakan wadah kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam mengakselerasi pemanfaatan hasil riset di bidang pertanian, peternakan, serta energi terbarukan. Ketua Konsorsium PTV Jawa Tengah, Kurnianingsih melaporkan bahwa melalui kegiatan ini, dikembangkan program penguatan ekosistem kemitraan untuk pengembangan inovasi berbasis potensi daerah. Luarannya berupa produk hilirisasi riset yang telah diimplementasikan oleh berbagai industri dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Perguruan tinggi vokasi memiliki peran penting dalam memastikan inovasi teknologi tepat guna bisa langsung digunakan masyarakat. Kami tidak hanya berhenti di riset, tetapi juga mendampingi desa agar hasil inovasi itu bisa diterapkan dan dikembangkan secara mandiri,” ujar Kurnianingsih.

Senada dengan hal tersebut, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto sebelumnya juga menegaskan pentingnya hilirisasi riset dan matching fund antara perguruan tinggi dan industri daerah agar hasil penelitian tidak berhenti di jurnal, tetapi hadir dalam bentuk solusi yang bisa diterapkan. Pendekatan ini sejalan dengan visi Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto dalam Asta Cita, yang menempatkan inovasi dan kedaulatan pangan sebagai bagian dari kekuatan ekonomi nasional.

“Ketahanan pangan bukan hanya tentang kemampuan memproduksi, tapi tentang kemampuan berinovasi. Ini menjadi tantangan bersama, karena kolaborasi antara kampus, industri, dan masyarakat adalah kunci menuju kedaulatan pangan nasional,” tegas Wamen Fauzan.

Kemdiktisaintek mengajak seluruh perguruan tinggi untuk memperkuat riset berbasis kebutuhan lokal dan memperluas kemitraan dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat. Dengan kolaborasi dan teknologi yang tepat guna, desa bukan hanya menjadi pusat produksi, tetapi juga sumber inovasi untuk masa depan berkelanjutan.

Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif

Jaring Kolaborasi Internasional: Potensi Kerja Sama Pendidikan Indonesia-Turkmenistan

Jakarta–Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) jajaki kerja sama pendidikan tinggi dalam lingkup mobilitas mahasiswa dan dosen, riset bersama, serta beasiswa. Hal ini merupakan poin-poin pembahasan saat Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemdiktisaintek, Togar Mangihut Simatupang menerima kunjungan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (Dubes) Turkmenistan untuk Malaysia, H.E. Muhammetnyyaz Mashalov, Kamis (6/11).

Dalam kesempatan ini, Sesjen Togar menyatakan keterbukaan Indonesia dalam menjalin kerja sama, terutama potensi kolaborasi pendidikan tinggi di bidang pertanian dan kedokteran, dua hal yang merupakan keunggulan di Turkmenistan. 

“Indonesia memiliki lebih dari 3.500 perguruan tinggi, dan kami sangat terbuka untuk membangun kolaborasi di bidang pendidikan tinggi. Ini termasuk pertukaran mahasiswa, riset bersama, dan beasiswa bagi mahasiswa Turkmenistan,” kata Sesjen Togar.

Dubes Mashalov menyampaikan bahwa kedua negara memiliki kedekatan karena memiliki banyak kesamaan dalam nilai-nilai, budaya, dan agama. Selain itu, turut ditekankan pentingnya pendidikan sebagai bidang strategis dalam memperkuat hubungan bilateral kedua negara yang diharapkan dapat membawa dampak positif secara ekonomi dan sosial. Dubes juga menyampaikan Turkmenistan mendorong agar akademisi dapat turut berperan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang termasuk juga dalam capaian Sustainable Development Goals, seperti pengentasan kemiskinan, kesetaraan gender, dan climate action.

“Kami siap memperluas kerja sama pendidikan dengan Indonesia dan memberikan dukungan langsung di bidang penting ini. Kedua negara juga dapat menyusun nota kesepahaman (MoU),” tutur Dubes Mashalov.

Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Sesjen Togar, yang menyampaikan kesiapan Kemdiktisaintek untuk menindaklanjuti rencana penyusunan konsep MoU. Kedua pihak juga menyoroti pentingnya peningkatan mobilitas mahasiswa dan dosen, program joint supervision untuk studi doktoral, serta pemberian informasi beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dari pemerintah Indonesia kepada mahasiswa Turkmenistan.

Indonesia dan Turkmenistan juga bersepakat meningkatkan jumlah mahasiswa Turkmenistan di Indonesia, serta membuka peluang lebih lebar bagi mahasiswa Indonesia untuk belajar di perguruan tinggi di Turkmenistan. 

Kemdiktisaintek berkomitmen untuk menindaklanjuti hasil pertemuan ini dengan langkah konkret melalui pertemuan daring lanjutan dan penyusunan dokumen kerja sama.  Upaya ini diharapkan dapat membuka peluang lebih luas bagi perguruan tinggi Indonesia untuk berkontribusi dalam penguatan diplomasi pendidikan di Asia Tengah.

Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif

Kemdiktisaintek dan Bappisus Bahas Skema Wujudkan Kampus Mandiri

Jakarta-Dukung kemandirian perguruan tinggi melalui pengelolaan unit-unit usaha strategis, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menerima kunjungan Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus), Aris Marsudiyanto, Kamis (6/11).

Menteri Brian menyambut baik rencana kerja sama ini dan menegaskan bahwa konsep kemandirian kampus telah sejalan dengan arah kebijakan kementerian, termasuk dalam penguatan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH).

“Kami sangat setuju, bahkan sudah membentuk tim. Saya minta beberapa kampus melakukan kajian dan ada empat konsorsium kampus yang menyatakan ketertarikannya dan akan kita awali sebagai pilot project,” ujar Menteri Brian.

Dalam pertemuan tersebut, Aris menyampaikan rencana penyediaan skema pendanaan yang memungkinkan perguruan tinggi mengelola dana secara mandiri, termasuk melalui unit-unit usaha strategis atau bekerja sama dengan pihak ketiga.

“Kampus diberikan kesempatan untuk me-manage potensi yang ada disana untuk bisa mendapatkan penghasilan tambahan,” jelas Aris.

Skema pendanaan tersebut dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kualitas sarana dan sumber daya manusia, tetapi juga memberi ruang bagi perguruan tinggi untuk bertransformasi menjadi institusi yang berdaya secara finansial dan berkelanjutan.

Melalui penguatan regulasi, pendampingan, dan dukungan kebijakan, Kemdiktisaintek berkomitmen memastikan pengelolaan unit-unit usaha oleh perguruan tinggi dapat berjalan secara terukur, akuntabel, dan berkelanjutan.

Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi 

#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif

Festival of Ideas Putrajaya 2025: Bangun Ketahanan dan Kolaborasi Global melalui Pendidikan

Putrajaya-Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus lakukan penguatan sinergi regional dalam bidang pendidikan tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan kehadiran Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto pada Festival of Ideas 2025 di Putrajaya, Malaysia. Salah satu agenda dalam festival ini, Higher Education Ministerial Forum, menjadi wadah dialog transformatif bagi para pemimpin pendidikan tinggi dari kawasan Asia Tenggara, Rabu (5/11).

Sebagai pembicara kunci, Menteri Brian menyoroti pentingnya riset yang berdampak, dan keterlibatan industri sejak tahap awal pelaksanaan riset atau penelitian.

“Kunci keberhasilan riset adalah kolaborasi antara universitas, pemerintah, industri, dan media. Hasil penelitian tidak boleh berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” jelas Menteri Brian.

Mendiktisaintek juga mendorong peningkatan kolaborasi lintas batas di kawasan Association of South East Asian Nations (ASEAN). Menteri Brian menegaskan bahwa sains dan pendidikan merupakan diplomasi terbaik antar-bangsa.

“Ilmu pengetahuan tidak memiliki batas negara. Kolaborasi antar-universitas di ASEAN harus diperkuat melalui program riset bersama, pertukaran mahasiswa, dan joint degree agar manfaat pendidikan semakin luas,” tambah Menteri Brian.

Kolaborasi Riset Regional

Forum ini menghadirkan tiga panelis utama, yaitu Chairperson of the Commission on Higher Education (CHED) Republik Filipina, Shirley Castañeda Agrupis, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Republik Indonesia, Brian Yuliarto, dan Director of Malaysian Inclusive Development and Advancement Institute (MINDA-UKM), Tan Sri Dato’ Seri Noor Azlan bin Ghazali.

Higher Education Ministerial Forum menghadirkan dialog mendalam tentang transformasi pendidikan tinggi dan perannya dalam menghadapi tantangan global.

Melanjutkan pernyataan Mendiktisaintek, Ketua Delegasi dari negara Filipina, Shirley Agrupis menekankan perlunya kebijakan pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan di kawasan. Dia mengusulkan penguatan kemitraan antarpemerintah untuk mewujudkan sistem pendidikan tinggi yang tanpa batas.

“Kita perlu bergerak dari kemitraan universitas ke universitas menuju kerjasama antar pemerintah untuk menciptakan pendidikan tinggi yang benar-benar lintas batas,” ujar Shirley.

Lebih lanjut Menteri Pendidikan Tinggi Malaysia, Datuk Seri Diraja Zambry bin Abdul Kadir dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada para delegasi, serta menekankan pentingnya kolaborasi antar-negara anggota ASEAN.

“Kerajaan masa depan bukan dibangun atas penaklukan, melainkan atas kekuatan pikiran. Sumber daya paling berharga kini bukan di bawah tanah, tetapi di dalam benak manusia,” ungkap Datuk Seri Diraja Zambry.

Datuk Seri Diraja Zambry menegaskan bahwa Festival of Ideas 2025 bukan sekadar acara, melainkan gerakan intelektual lintas generasi untuk membangun “kerajaan pikiran” yang berlandaskan kebijaksanaan, kasih sayang, dan ketahanan.

Diplomasi Pendidikan 

Partisipasi aktif Kemdiktisaintek dalam Festival of Ideas 2025 menjadi komitmen Indonesia, untuk terus memperluas jejaring kerja sama internasional di bidang pendidikan tinggi, riset, dan inovasi.

Para panelis sepakat bahwa pendidikan adalah investasi dalam karakter manusia. Forum ini menegaskan kembali peran pendidikan sebagai diplomasi terbaik di tengah dinamika global yang menghubungkan bangsa melalui ilmu pengetahuan, nilai kemanusiaan, dan kolaborasi.

Sesi dialog tersebut ditutup dengan merangkum lima poin utama, yaitu kolaborasi kampus dengan industri sebagai kunci inovasi berdampak, diplomasi pendidikan ASEAN melalui kemitraan lintas negara, kebijakan publik yang adaptif dan berorientasi keberlanjutan, kepemimpinan akademik yang inklusif dan inovatif, serta penguatan kompetensi global bagi lulusan masa depan.

Melalui semangat transformasi lintas negara ini, Kemdiktisaintek berkomitmen untuk terus memperkuat peran Indonesia dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang terbuka, adaptif, dan berdaya saing global demi mewujudkan masa depan pendidikan yang tangguh, berkeadilan, dan berkelanjutan di kawasan ASEAN dan dunia.

Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak #Kemdiktisaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif

Penguatan Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia

Jakarta–Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Kementerian Luar Negeri (Kemlu) memperkuat kolaborasi diplomasi pendidikan global, melalui forum Ambassador’s Talk yang mempertemukan para duta besar, dan pimpinan perguruan tinggi dari berbagai negara sahabat, Senin (03/11).

Hadir sebagai pembicara, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menegaskan pentingnya peran pendidikan, dan budaya sebagai instrumen diplomasi yang efektif.

“Beasiswa ini bukan hanya kesempatan belajar, tetapi jembatan pemahaman antarbudaya yang mempererat kerja sama antarnegara. Melalui pendidikan, kita menumbuhkan rasa saling percaya dan solidaritas global,” ujar Wamen Stella.

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno, menegaskan bahwa kerja sama antarnegara di bidang pendidikan tinggi merupakan bagian dari kontribusi Indonesia terhadap pembangunan global yang inklusif.

“Diplomasi pendidikan adalah bentuk nyata komitmen Indonesia dalam memperkuat kerja sama selatan-selatan. Melalui pendidikan, kita membangun jejaring masa depan yang saling menguatkan,” kata Wamen Arif.

Penguatan Program Beasiswa

Dalam pertemuan tersebut, para peserta membahas perluasan dan penguatan Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (Indonesian Arts and Culture Scholarship–IACS) yang telah menjadi ikon diplomasi kebudayaan Indonesia sejak 2003. Program ini memberi kesempatan bagi generasi muda berusia 18 hingga 30 tahun dari berbagai belahan dunia untuk mempelajari seni, budaya, dan kehidupan masyarakat Indonesia secara langsung selama periode Juli dan Agustus setiap tahunnya.

Sejak pertama kali diluncurkan, program IACS telah diikuti oleh lebih dari 1.000 alumni dari 85 negara di lima benua, dan telah menjadi sarana penting memperkuat hubungan antarmasyarakat melalui pendekatan budaya. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan penerima beasiswa, termasuk dari kawasan Pasifik, Afrika, Asia Selatan, dan Eropa.

Acara ini dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Stella Christie, Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno, Direktur Kelembagaan Kemdiktisaintek, Mukhamad Najib dan Direktur Kerja Sama Pembangunan Internasional Kemlu, Rina Setyawati, serta sejumlah perwakilan diplomatik dan akademisi dari berbagai negara.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Mukhamad Najib menyampaikan bahwa pemerintah akan terus meningkatkan jumlah penerima beasiswa dan memperluas kerja sama kampus Indonesia dengan kampus luar negeri.

“Tahun depan, jumlah penerima Beasiswa TIA akan ditingkatkan dari 175 menjadi 250 mahasiswa internasional. Kami juga mendorong universitas negeri dan swasta di Indonesia untuk memperluas tawaran beasiswa bagi mahasiswa asing,” jelasnya.

Selain itu, pertemuan ini juga menyoroti pentingnya kemudahan administrasi visa dan peningkatan tunjangan hidup bagi mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di Indonesia. Pemerintah melalui Kemlu dan Kemdiktisaintek akan berkoordinasi untuk menyederhanakan proses tersebut. Para perwakilan juga menekankan pentingnya membangun asosiasi alumni IACS yang solid untuk memperluas jejaring global dan keberlanjutan kolaborasi di masa depan.

Menutup pertemuan, Wamen Stella menegaskan kembali komitmen Indonesia untuk terus membuka ruang belajar bagi dunia.

“Pendidikan adalah diplomasi terbaik kita. Melalui pertukaran ilmu dan budaya, Indonesia ingin membangun masa depan dunia yang saling memahami dan menghargai,” pungkasnya.

Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi 

#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif

Kemdiktisaintek dan Kemensos Jalin Sinergi untuk Perluas Akses Pendidikan melalui Sekolah Rakyat

Jakarta–Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Kementerian Sosial (Kemensos) memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan Sekolah Rakyat dalam upaya memperluas akses pendidikan bagi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Rencana ini dibahas dalam pertemuan antara Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto dan Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf di kantor Kemdiktisaintek, Senin (3/11).

Program Sekolah Rakyat merupakan salah satu Program Prioritas Presiden Prabowo, yang dirancang sebagai jalan bagi generasi muda di wilayah terpencil untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi maupun memasuki dunia kerja. Guna mendukung dan memastikan keberlanjutannya, Kemdiktisaintek akan menggandeng sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sebagai pendamping dan pembina Sekolah Rakyat.

“Di bayangan saya, setiap Sekolah Rakyat bisa dibina oleh satu kampus. Kampus langsung berperan dalam pelatihan, mentoring, dan sebagainya. Kita juga bisa sediakan berbagai fasilitas seperti ruang pembelajaran,” ujar Menteri Brian.

Program Sekolah Rakyat saat ini telah menjangkau 166 titik di Indonesia, terdiri dari jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Dari jumlah tersebut, sekitar 6.700 siswa SMA kini mengikuti pembelajaran dan diproyeksikan akan lulus pada tahun 2028.

“Di bulan Juli itu 63 titik, Agustus 37 titik, dan di bulan September ada 66 titik. Jadi totalnya 166 titik yang sudah beroperasi,” jelas Menteri Saifullah.

Langkah Kolaboratif

Menteri Saifullah menambahkan, para siswa SMA Sekolah Rakyat diberi pilihan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi atau ke dunia kerja. Kurikulum yang mereka laksanakan akan disesuaikan dengan pilihan tersebut, seperti dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI). Namun, jika siswa memilih untuk melanjutkan pendidikan, akan mendapatkan kurikulum yang dirancang oleh guru dan dosen.

Kemdiktisaintek menyambut baik langkah kolaboratif dari Kemensos. Menteri Brian menekankan pentingnya peran kampus dalam memperluas akses dan mendampingi pelajar agar tetap terhubung dengan perguruan tinggi, serta membuka kemungkinan hadirnya beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah untuk para lulusan Sekolah Rakyat.

“Kami akan bicarakan kembali. Kita juga akan bentuk satu tim supaya bisa menyiapkan apa yang diperlukan untuk kolaborasi, seperti kampus-kampus untuk mulai menyusun rujukan,” ujar Menteri Brian.

Langkah selanjutnya yang hendak diambil Kemdiktisaintek dan Kemensos, adalah perancangan dan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang diharapkan dapat dilaksanakan satu pekan ke depan. Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka lebih banyak akses pendidikan bagi masyarakat serta memastikan lulusan Sekolah Rakyat dapat melanjutkan pendidikan atau memasuki dunia kerja dengan kompetensi yang sesuai.

Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif

Belmawa Kemendiktisaintek Jelajah 3 Desa Mitra PPK Ormawa Untidar

Magelang – Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, bersama Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemendiktisaintek melakukan visitasi terhadap pelaksanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Universitas Tidar  di Ruang Rapat Rektorat Kampus Tuguran, dan di tiga desa mitra PPK Ormawa, Sabtu (1/11).

Sebelum tim reviewer melakukan kunjungan lapangan ke tiga lokasi mitra desa PPK Ormawa Untidar, dilakukan pemaparan hasil pelaksanaan program di Ruang Rapat Rektorat. Visitasi ini dihadiri oleh dua reviewer Belmawa, Ery Hidayat, S.T., M.T. dan Intishar, S.T., serta didampingi oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Parmin, S.Pd., M.Pd., Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama, serta staf kemahasiswaan Untidar.

Dalam sambutannya, Prof. Parmin menegaskan posisi Untidar sebagai kampus yang berkomitmen terhadap pemberdayaan mahasiswa dan masyarakat. “Kampus ini punya keyword atau kata kunci, kalau dalam visi, Untidar adalah kampus kewirausahaan dan kampus kebudayaan. Sedangkan tagline bidang kemahasiswaan adalah Untidar Kampus Ormawa Pemberdaya. Jadi memang PPK Ormawa di Untidar ini sudah langganan hasilnya maksimal, banyak yang meraih penghargaan,” ujarnya.

Kunjungan lapangan diawali di Desa Sidorejo, Kecamatan Bandongan, yang merupakan lokasi kegiatan PPK Ormawa oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HIMA PBSI). Program bertema ‘Optimalisasi Rumah Sampah Digital sebagai Upaya Berkelanjutan Ekologi melalui RESIK (Recycling Edukasi Sampah Inovatif dan Kreatif)’ ini mengajak masyarakat untuk mengelola sampah secara lebih kreatif dan efisien melalui pendekatan digital. 

Kunjungan dilanjutkan ke Desa Balesari, Kecamatan Windusari, tempat pelaksanaan Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan (HIMEPA) dengan tema ‘Optimalisasi Komoditas Kopi Desa Balesari melalui Pendekatan Agroindustri dan Smart Society untuk Meningkatkan Profitabilitas Guna Menuju Desa Usaha Berkelanjutan.’ Melalui program ini, mahasiswa berupaya membantu petani kopi lokal untuk meningkatkan nilai tambah produk, mulai dari pelatihan pengolahan hingga pemasaran digital.

Lokasi terakhir yang dikunjungi adalah Desa Karangkajen, Kecamatan Secang, tempat Himpunan Mahasiswa Pendidikan Biologi (HIMAPBIO) mengembangkan inovasi pertanian melalui program ‘SIPAMA (Sistem Pengendali Hama) berbasis Teknologi Smartfarming dan Energi Surya Terbarukan dalam Meningkatkan Produktivitas Pertanian.’ Program ini membantu petani meningkatkan hasil panen dengan efisien sekaligus ramah lingkungan.

Salah satu penerima manfaat, Siswanto, Kepala Desa Balesari, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaannya dinilai berdampak positif bagi masyarakat. “PPK Ormawa ini tentunya sangat membantu kami ya, dan sangat berguna. Lalu tentunya banyak hal positifnya. Rakyat semakin melek teknologi dan bermindset industri, bukan lagi tani tradisional,” sebutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ery Hidayat, S.T., M.T., selaku reviewer juga menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan PPK Ormawa Untidar yang dinilai solid dan berdampak nyata. “PPK Ormawa di Untidar sudah berjalan sangat baik. Dukungan pimpinan kampus, dosen pembimbing, dan mahasiswa terlihat kompak. Ini bisa menjadi contoh ideal bagaimana kampus dan desa bisa tumbuh bersama,” ungkapnya.

Melalui kegiatan visitasi ini, Universitas Tidar menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran mahasiswa dalam pengabdian kepada masyarakat serta memperluas jejaring kolaborasi dengan desa mitra.

Penulis: Aghna Nur Shabrina

Editor: Danu Wiratmoko