PELAKSANAAN WISUDA PROGRAM PASCASARJANA, SARJANA, DAN AHLI MADYA PERIODE KE-58 TAHUN 2021

Sehubungan dengan pelaksanaan Wisuda Program Pascasarjana, Sarjana, dan Ahli Madya Periode ke-58 Tahun 2021, dengan ini kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:

  • Form Deteksi Diri bit.ly/Self_Assessment58
  • Form Wisudawan Berhalangan Hadir bit.ly/WisudawanBerhalanganHadir58
  • Video Simulasi Wisuda KLIK DISINI
  • Denah Tempat Duduk Wisudawan KLIK DISINI
  • Hasil Rapid Antigen Maksimal 2×24 jam menjelang Prosesi Wisuda
  • Bagi yang telah mengisi form Deteksi Diri sebelum hari Rabu, 22 September 2021 diharapkan mengisi ulang form dengan melampirkan Hasil Swab sesuai ketentuan terbaru.
  • Form Deteksi Diri dibuka kembali pada Rabu, 22 September 2021 pukul 15.00 Wib dan maksimal pengisian pada Jumat, 24 September 2021 pukul 15.00 Wib
  • Gladi Bersih Wisuda Program Pascasarjana, Sarjana, dan Ahli Madya Periode ke-58 Tahun 2021 secara Online via Zoom Meeting pada Kamis, 23 September 2021 Pukul 09.00 Wib – selesai. Meeting Id dan Pasword menghubungi TU Fakultas masing-masing atau ke WA Helpdesk UNTIDAR

PENGUMUMAN TENTANG PELAKSANAAN WISUDA PROGRAM PASCASARJANA, SARJANA, DAN AHLI MADYA PERIODE KE-58 TAHUN 2021



Mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP UNTIDAR Kembangkan Ekowisata di Sekitar Candi Selogriyo

Candi Selogriyo terletak di Dusun Campurejo, Desa Kembangkuning, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. Candi ini memiliki keunikan, yaitu terletak di kaki Bukit Giyanti dan Bukit Condong, dengan pemandangan yang sangat indah. View paling ikonik adalah adanya terasering seperti di Ubud Bali. Hal ini menjadi kelebihan dari Candi Selogriyo.

Sudah banyak terobosan dilakukan di sekitar kawasan Candi Selogriyo untuk mengembangkan wisata candi ini. Namun dalam pelaksanaan secara keseluruhan belum berjalan sempurna. Di kawasan luar candi yaitu di sekitaran jalan menuju candi masih banyak hal yang perlu diperbaiki, seperti banyak ditemukan kayu dan sampah organik yang berserakan. Hal ini tentu akan mengurangi keindahan candi. Permasalahan lain adalah sarana dan prasarana ke candi yang kurang memadai dan akses menuju candi yang belum terkondisi.

Banyaknya masalah yang belum teratasi dikarenakan faktor pendanaan dan masyarakat yang belum sadar serta belum mampu mengelola potensi desa dengan baik. Padahal di desa Campurejo terdapat beberapa usaha yang bisa dikembangkan yaitu keset dari kain perca, kopi khas Dusun Campurejo, dan kerajinan anyaman besek. Berdasarkan latar belakang inilah Dian Pangestuti bersama dengan tim yang kesemuanya adalah mahasiswa program studi Pendidikan Biologi yaitu Yuni Anisa Widiyanti, Tri Wahyuningsih, Meyta Adi Triyani, Yuda Fahrurozi, Aulia Salsabilla, Dewi Febriyana, Akhmat Sofiyan, Erik Setiawan dan Ivana Riqoh Aprilia berinisiatif untuk mengembangkan sebuah konsep wisata yang mampu meningkatkan jumlah pengunjung Candi Selogriyo sekaligus memberikan alternatif peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.

Jika melihat dari potensi-potensi yang ada di Desa Kembangkuning maka pengembangan ekowisata sangat cocok untuk dilakukan. “Sasaran program adalah mereka yang  tidak memiliki pekerjaan tetap atau pengangguran, namun dapat berkontribusi dan berkomitmen dalam kegiatan pemberdayaan dari awal hingga akhir program. Diperlukan juga tokoh masyarakat yang bertugas menjadi pengurus, misalnya pemuda karang taruna atau aparat desa untuk  membantu kelancaran pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat ini. Masyarakat disini harus berperan aktif karena hal ini akan membantu pengembangan baik untuk masyarakatnya dan juga untuk desanya, terutama untuk wisata Candi Selogriyo yang bisa semakin dikenal”, jelas Dian.

“Tahap awal adalah perencanaan program, meliputi persiapan alat dan bahan, pembentukan pengurus/kelompok, proses perizinan, dan sosialisasi program kepada masyarakat. Keberlanjutan program akan terlaksana dengan adanya pembentukan satgas atau karang taruna yang sinergis. Setelah persiapan kami mengadakan sosialisasi dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Peserta dalam sosialisasi merupakan masyarakat sasaran yang sudah ditentukan sesuai dengan kriteria dan tokoh-tokoh masyarakat di Dusun Campurejo. Tahap selanjutnya adalah pembinaan dan pelatihan dengan menggunakan metode pendampingan, bekerja sama dengan  pihak terkait. Pelaksanaan program yaitu dengan pengembangan ekowisata yang terdiri atas penambahan rice field tourism, spot selfie, UMKM-Corner dan pementasan kesenian Jathilan. Program ini dilakukan untuk menarik minat pengunjung Candi Selogriyo. Tak lupa kami melakukan kegiatan pemasaran dengan cara promosi melalui sosial media serta menyebarkan brosur di jalan-jalan atau di tempat umum. Dengan promosi ini maka orang-

orang mengetahui bahwa di candi terdapat spot selfie yang indah. Promosi melalui media sosial diharapkan mampu menarik banyak pengunjung terutama kamu millenial. Luaran yang ingin kami capai adalah Candi Selogriyo berkembang menjadi ekowisata, ekonomi warga Dusun Campurejo bisa meningkat dan terjalinnya kemitraan antara desa dan UNTIDAR”, urai Dian.

“Kami senang karena proposal kami lolos seleksi Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa sehingga mendapatkan pendanaan dari Kemendikbudristek. Kami jadi bersemangat turut andil dalam upaya pemberdayaan masyarakat di Dusun Campurejo, Desa Kembangkuning Windusari Magelang”, pungkas Dian.

Penulis : Tri Endah Retno Kusumaningrum

VAKSINASI MASSAL 1500 MAHASISWA UNTIDAR

Universitas Tidar bekerjasama dengan RST dr. Soedjono Magelang menggelar vaksinasi massal kepada 1500 mahasiswa, Kamis (09/09). Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Kuliah Umum dr. H. Suparsono, UNTIDAR dimulai pukul 07.00 – 16.00 Wib.

“Terima kasih kepada pihak RST dr. Soedjono serta BEM KM UNTIDAR yang telah membantu sehingga kegiatan vaksinasi massal bagi mahasiswa UNTIDAR dapat terleselenggara pada hari ini,” tutur Rektor UNTIDAR, Prof. Dr. Mukh Arifin, M.Sc.

Sesuai pengumumuman nomor: B/2297/UN57/PK.01.03/2021 perihal Himbauan Vaksinasi kepada Mahasiswa UNTIDAR dijelaskan bahwa rencana kegiatan perkuliahan dan praktikum mulai dilaksanakan offline/tatap pada Oktober 2021 atau setelah pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) Semester Gasal Tahun Akademik 2020/2021.

“Ada beberapa syarat yang harus kami penuhi untuk pelaksanaan kuliah tatap muka, salah satunya adalah mahasiswa sudah melakukan vaksin. Maka itu, kami himbau untuk seluruh mahasiswa UNTIDAR untuk proaktif mengikuti program vaksinasi di lingkungan masing-masing,” tambah Rektor UNTIDAR.

Ijin dari Satgas Covid Kota Magelang serta kelengkapan standar ruang kuliah dan perlengkapan pendukung lain dalam pelaksanaan kuliah tatap muka dalam masa pandemi Covid-19 tengah dilakukan oleh pihak UNTIDAR.

“Kami mengapresiasi tingginya semangat untuk mengikuti vaksin dari mahasiswa UNTIDAR. BEM KM UNTIDAR juga sangat membantu, mulai dari koordinasi awal hingga pelaksanaan pada hari ini. Bahkan ini pertama kalinya, tenaga pendukung juga menggunakan APD Gow,” tutur Kolonel ckm dr. Dedy Firmansyah, Spot, Kepala RST dr. Soedjono, Magelang.

Pada pelaksanaan kegiatan vaksinasi masal ini, pihak RST mengerahkan 50 tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan ditugaskan untuk melakukan tensi, screening dan pemberian vaksin. Sedangkan untuk bagian pendaftaran dan pengaturan peserta vaksin dibantu oleh 65 tenaga pendukung/panitia dari BEM KM UNTIDAR.

Pengumuman pendaftaran vaksinasi mulai dipublikasikan mulai 6 September 2021 melalui media sosial resmi UNTIDAR maupun BEM KM UNTIDAR. Informasi juga disebar melalui WA Group masing-masing jurusan di lingkungan UNTIDAR.

“Informasi tersebar dengan cepat dan ternyata antusias mahasiswa UNTIDAR cukup tinggi untuk mengikuti kegiatan vaksin. Menurut data yang kami dapat, ada 1800 mahasiswa yang sudah ikut mendaftar namun hanya bisa 1500 mahasiswa yang mengikuti vaksin pada hari ini,” jelas Ketua BEM KM UNTIDAR, Ali Yasfi.

Ada 2 jenis vaksin yang digunakan pada hari ini yaitu yaitu 500 vaksin Sinovac dan 1000 vaksin AstraZeneca. Pada saat pendaftaran online, mahasiswa diberikan kesempatan untuk memilih jenis vaksin yang mereka kehendaki.

Untuk mencegah kerumuman, Panitia Vaksinasi BEM KM UNTIDAR telah membagi peserta menjadi 7 kelompok dengan waktu vaksin yang berbeda.

“Untuk mahasiswa yang akan divaksin Sinovac kami bagi 2 kelompok yaitu kelompok 1 untuk pukul 07.00 – 08.00 Wib dan kelompok 2 untuk pukul 08.00 – 09.00 Wib. Masing-masing kelompok terdiri dari 250 peserta,” tambah Ali.

Pembagian selanjutnya dari pukul 09.00 – 16.00 dibagi menjadi 5 kelompok untuk AstraZeneca. Pembagian jumlah peserta, alur serta teknis pelaksanaan vaksinasi juga telah berkoordinasi dengan pihak RST Soedjono.

Pelaksanaan vaksin akan kembali dilasksanakan 28 hari kedepan untuk Sinovac dan 12 minggu untuk AstraZeneca. Pemberian vaksin lanjutan ini akan diinformasikan kepada peserta vaksinasi via grup telegram yang dikelola oleh BEM KM UNTIDAR.

Penulis : Kusumo Wardani

Mahasiswa Pendidikan Matematika Untidar, Berdayakan Masyarakat Desa Trasan Olah Ampas Tahu Menjadi Produk Berdaya Jual Tinggi

Kabupaten Magelang saat ini sedang gencar melaksanakan berbagai program  untuk mengurangi tingkat kemiskinan. Kabupaten yang memiliki 1.299.859 jiwa ini, memiliki persentase angka rata-rata kemiskinan sebesar 11,27% pada maret 2020, lebih tinggi dibanding maret 2019 yang sebesar 10,67%. Oleh karena itu, diperlukan program pemberdayaan masyarakat guna menurunkan angka kemiskinan daerah Kabupaten Magelang. Berangkat dari latar belakang inilah 15 orang mahasiswa UNTIDAR dari program studi Pendidikan Matematika yaitu Rista Nur Eka Budiyani, Bagas Ardiyanto, Gunawan, Zakkiyatun Nisaa Fadhilatullathifi, Maryam Abdulloh, Isna Chofifah, Lailatul Asria, Hemas Nabila Ardelia Arrofat, Fitriyanti, Tri Astutiningsih, Recka Suci Meliani, Nur Layaliya Buraidah, Fitriani Lestari, Zahro Ulfa Auliya, dan Yulhana Faradilla menggagas LALISTA APIK (Pengolahan Limbah Ampas Tahu Menjadi Kripik), sebuah program pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Magelang, tepatnya di Dusun Sengon Desa Trasan Kecamatan Bandongan.

Berdasarkan identifikasi yang dilakukan oleh Rista dan tim di Desa Trasan Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang, ditemukan Pabrik Tahu dengan pengolahan limbah ampas tahu yang belum maksimal, sehingga bau yang ditimbulkan sering kali menyengat. Hal ini menyebabkan desa dengan penduduk 7.881 jiwa tersebut merasa tidak nyaman.  “Tercetus ide LALISTA APIK (Pengolahan Limbah Ampas Tahu Menjadi Kripik). Selain dapat menjadi solusi dari permasalahan limbah ampas tahu, ampas tahu bisa diolah agar bernilai ekonomis dan menjadi sumber pendapatan di Desa Trasan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang melalui pemberdayaan ibu-ibu PKK”, ujar Rista. “Kami juga membantu cara mempromosikan dan mempublikasikan LALISTA APIK sebagai sebuah industri kreatif baru yang memiliki nilai jual tinggi. Selain itu kami juga berupaya mengembangkan potensi desa binaan berbasis industri kreatif yang dapat meningkatkan penghasilan masyarakat setempat”, tambah Rista.

Berdasarkan hasil survey awal di wilayah Kabupaten Magelang, Kecamatan Bandongan tepatnya di Dusun Sengon Desa Trasan, Rista dan tim menemukan potensi usaha yang dapat dikembangkan secara optimal yakni limbah ampas tahu untuk dijadikan camilan inovatif yaitu menjadi kripik ampas tahu. Meski demikian masyarakat setempat memiliki keterbatasan terkait pendanaan. Masalah lain yang dihadapi adalah kurangnya partisipasi dari masyarakat, minimnya sarana prasarana yang dimiliki, dan kurangnya kemampuan masyarakat dalam mengolah limbah ampas tahu menjadi produk yaang lebih kreatif agar mendapatkan nilai jual yang tinggi. “ Sehingga diperlukan adanya kerjasama antara masyarakat dengan pihak ketiga untuk melakukan sosialisasi, pendampingan dan juga pelatihan guna meningkatkan kemampuan, kualitas dan ketrampilan masyarakat dalam mengembangkan usaha pengolahan limbah ampas tahu”, jelas Rista.

“Setelah melakukan berbagai persiapan dan sosialisasi, kami mengadakan pelatihan dengan menggunakan metode pendampingan rutin bekerjasama dengan fasilitator (pemilik home industry pabrik tahu di Desa Trasan). Kami juga mengadakan pelatihan komunikasi publikasi untuk mengenalkan masyarakat pada platform-platform penunjang publikasi produk dengan memanfaatkan media sosial yang sedang trend di kalangan masyarakat. Selain itu dalam hal publikasi pemasaran akan dibuat website resmi produk serta pemanfaatan akun-akun jual beli online. Pelatihan ini diharapkan mampu membentuk jejaring sosial yang dapat dioperasionalkan oleh lembaga masyarakat lokal terkait”, urai Rista.

LALISTA APIK adalah program pemberdayaan masyarakat yang tahun 2021 ini berhasil lolos seleksi PHP2D (Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa)  Kemendikbudristek. Melalui PHP2D diharapkan bisa menumbuhkan rasa peduli mahasiswa dan berkontribusi kepada masyarakat desa agar terbangun desa binaan yang aktif, mandiri, berwirausaha, dan sejahtera.

Penulis : Tri Endah Retno Kusumaningrum

TANAMAN BAWANG MERAH BEBAS HAMA NGENGET BERKAT GELOMBANG KEJUT DAN SINAR PENJEBAK

Mahasiswa Universitas Tidar berhasil menciptakan Inovasi Pengendalian Hama Serangga pada Tanaman Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.) dengan Metode Ultrasonic Wave end Light Trap Berbasis IoT.

Alat ini diciptakan oleh tim Program Kreativitas Mahasiswa-Penerapan Teknologi (PKM-PI) UNTIDAR yang diketuai oleh Wahyu Fitri Yanto (S1 Teknik Mesin) dengan anggota Teguh Rahayu Widodo (S1 Teknik Elektro), Hamid Afandi (S1 Teknik Mesin), Alfiyah Ibni Aqil (S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) dan Catur Prihatiningrum (S1 Agroteknologi)

“Penyemprotan tanaman bawang merah menggunakan pestisida untuk mengatasi hama ngengat dinilai kurang efektif. Kelompok Tani Dadimulyo, Brebes mengeluhkan telur ngengat yang bersembunyi di daun belum terjangkau semprotan pestisida,” tutur Wahyu.

Selain itu, efek penyemprotan hanya bertahan beberapa bulan saja karena hama serangga menjadi kebal terhadap obat pestisida setelah pemakaian dalam jangka waktu lama. Pengendalian secara manual juga mengakibatkan biaya dan kebutuhan tenaga meningkat sehingga petani merasa kesulitan.

“Alat ini memiliki beberapa keunggulan yaitu dilengkapi dengan teknologi Internet of Thing (IoT), ramah lingkungan, menggunakan renewable energy serta dapat membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia,” tambah Hamid, salah satu anggota tim.

Sistem kerja alat ini memanfaatkan energi dari sinar matahari. Melalui panel surya 20 Wp, sinar matahari dikonversi menjadi energi listrik dan disimpan pada baterai 12 volt. Alat ini juga dapat dioperasikan secara jarak jauh melalui sistem IoT. Inovasi ini diharapkan dapat menekan tenaga dan biaya yang harus petani keluarkan untuk pengendalian hama serangga tanaman bawang sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

Alat ini bekerja dengan dua sistem yaitu sistem gelombang kejut (shock wave) dan sinar penjebak (trap ray). Sistem gelombang kejut bekerja ketika ada hama serangga terbang mendekat dengan radius 4 m dari alat dan cenderung akan terbang ke tanaman. Sensor ultrasonik akan membaca dan mengirimkan sinyal kepada mikrokontroler. Kemudian, mikrokontroler mengirimkan sinyal perintah untuk mengaktifkan speaker yang akan menghasilkan gelombang kejut dengan frekuensi > 20 kHz yang dapat mengusir hama serangga.

Pada malam hari, sensor LDR membaca intensitas cahaya mendekati nol, kemudian mengirimkan sinyal kepada mikrokontroler. Lalu, mikrokontroler akan mengirimkan perintah untuk mengaktifkan LED sehingga akan menyala sepanjang malam yang berfungsi menarik perhatian hama serangga untuk mendekat. Bersama dengan LED, dipasang jebakan berupa cairan beracun yang dapat membunuh kawanan hama serangga. Ketika terdapat hama serangga yang terbang turun ke tanaman pada malam hari, sistem gelombang kejut akan aktif dan mengusir kawanan hama serangga.

Alat ini telah diuji coba di Desa Langgeng, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung pada Rabu, 2 September 2021. Pada ujicoba tersebut, diperoleh hasil bahwa alat ini mampu menggantikan peran pestisida dalam membasmi hama serangga yang menyerang tanaman bawang merah. Penerapan alat ini pada mitra menghasilkan penghematan biaya serta tenaga penyemprotan mencapai 27,93%. Penggunaan alat ini akan membantu meningkatkan potensi panen bawang merah yang tinggi. Hal ini dapat terjadi karena alat ini akan menurunkan tingkat kerusakan umbi bawang merah akibat serangan hama.

“Setelah ujicoba ini, kami akan mengirim alat ini ke mitra kerja di Desa Keboledan, Brebes dan kami juga akan menyerahkan buku panduan alat agar mitra dapat menggunakan, merawat dan memperbaiki alat jika kedepannya perlu dilakukan perbaikan. Kami juga berharap mitra dapat memproduksi alat ini secara mandiri sesuai dengan buku panduan,” tambah Teguh, salah satu anggota tim.

Penulis : Alfiyah Ibni Aqil

PENGUMUMAN HIMBAUAN VAKSINASI MAHASISWA UNTIDAR

Pengumuman tentang Himbauan Vaksinasi kepada Mahasiswa Universitas Tidar



Hallo mahasiswa UNTIDAR!!
Sehubungan dengan belum terpenuhinya kuota vaksinasi Dosis 1 BEM KM Untidar Kami panitia sentra vaksinasi membuka kembali link pendafran :

SINOVAC
(Diprioritaskan Usia 18-19 tahun)
s.id/PendaftaranVaksinasiSinovac2021
ASTRA-ZENECA
(Diprioritaskan usia 20 tahun keatas)
s.id/PendaftaranVaksinasiAstrazeneca2021

PENDAFTARAN VAKSINASI 7 SEPTEMBER 2021

Nb : link akan tertutup otomatis apabila kuota sudah penuh.

Ayo sukseskan vaksinasi nasional!!!

PENAWARAN PROGRAM PUBLIKASI SCOPUS INTERNATIONAL SYMPOSIUM OF FOOD AND AGRO-BIODIVERSITY (ISFA) TAHUN 2021

Yth. Bapak Ibu Peneliti UNDIP-UNTIDAR-UNSOED

Bersama ini kami sampaikan informasi program publikasi Scopus bersama Universitas Diponegoro untuk dosen UNTIDAR dan UNSOED. Program publikasi ini tidak dipungut biaya publikasi (gratis).

Berikut ini caranya:
1. Mendaftar program via link: https://s.id/meluisfa
2. Mendiskusikan abstrak dan langsung submit dengan didampingi oleh tim pakar dari UNTIDAR dan UNSOED.

Program ini bekerjasama dengan International Symposium on Food and Agrobiodiversity (ISFA) dan AIP Conference Proceeding (Scopus indexed).

Narahubung Yosephine Laura Raynardia Esti Nugrahini, M.Sc. (WA 081329301890)

Surat Pemberitahuan Program Publikasi Scopus