Kunjungi Rumah Produksi Pothil dan Gerabah, Mahasiswa PMM3 UNTIDAR Belajar Wirausaha

Mahasiswa Pertukaran Mahasiswa Merdeka 3 (PMM3) Universitas Tidar melakukan kunjungan ke tempat usaha Pothil, Tumbar Unyil di Mertoyudan, Kabupaten Magelang pada Sabtu, 21/10/2023.

Dalam kunjungan tersebut, Mahasiswa PMM3 diajak untuk melihat proses produksi Pothil mulai dari persiapan alat, bahan, sampai dengan proses pembuatannya. Tentu, mereka juga berkesempatan mencicipi Pothil langsung dari pabriknya.

Foto : Haikal UNTIDAR TV

“Kami mengajak Mahasiswa PMM3 ke tempat produksi Pothil yang merupakan makanan khas Magelang dengan tujuan agar mahasiswa mengetahui makanan khas Magelang dan bisa menjadi stimulan ide baru tentang kewirausahaan yang dapat diterapkan mahasiswa di daerah asal mereka,” ujar Ayunda Putri Nilasari, S.Pd., M.Si selaku dosen Modul Nusantara saat ditemui Selasa (24/10).

Usaha rumahan Pothil Tumbar Unyil dirintis sejak tahun 2020 oleh Sulistyo dan istrinya, Ulfa. Usaha ini dimulai karena mereka resign dari pekerjaan sebelumnya akibat Covid-19 melanda. Untuk melanjutkan hidup, Sulistyo bersama keluarga dan beberapa tetangganya memulai usaha produksi Pothil ini. Beliau menjelaskan proses pembuatan Pothil yang diawali dengan mengupas singkong sebagai bahan utama, memarut, memeras, lalu memfermentasikan singkong sekitar 3-4 hari. Setelah itu, tahap terakhirnya adalah penggorengan. Semua proses pembuatan sudah menggunakan mesin. Dalam sehari, usaha rumahan ini memproduksi 200 kg Pothil yang siap dipasarkan.

Mahasiswa PMM3 UNTIDAR mencoba pothil. Foto : Haikal UNTIDAR TV

“Usaha kami sudah berjalan sekitar 3 tahun. Kendalanya ada di pemasaran kerena peminat Pothil sudah berkurang. Saat musim hujan, singkong juga lebih sulit diproduksi karena kandungan airnya lebih banyak. Jadi, lama proses fermentasinya,” jelas Sulistyo.

Selain mengunjungi usaha rumahan Pothil, mahasiswa juga mengunjungi usaha gerabah di Dusun Klipoh, Desa Karanganyar, Kabupaten Magelang. Sebagian besar masyarakat Dusun Klipoh menjadi pengrajin gerabah salah satunya usaha gerabah Arum Art milik Bapak Supoyo yang dikelola oleh anaknya Dwi Arum Sari. Tidak sekedar mengunjungi, mahasiswa juga mendapat kesempatan untuk membuat langsung gerabah dari tanah liat yang dibantu oleh beberapa pekerja di Arum Art. Setelah itu, mahasiswa juga bisa melukis gerabah yang telah disediakan.

Foto : Haikal UNTIDAR TV

Secara terpisah, PIC Program PMM3 Untidar, Ikhwan Taufik juga menambahkan, “Belajar tentang proses pembuatan Pothil dan gerabah adalah sebagian kecil dari sesuatu khasanah yang ada dan bisa dipetik di Magelang. Mahasiswa Inbound PMM3 juga harus lebih aktif dan bersemangat dalam mempelajari keanekaragaman budaya yang ada di Magelang, sebelum pulang kembali ke daerah asal masing-masing,” pungkasnya.

Penulis : Sari Octavia Sagala (Mahasiswa Inbound PMM3 dari Universitas Negeri Medan)

Editor : Humas UNTIDAR

Modul Nusantara Kenalkan Mahasiswa PMM Tentang Budaya di Sekitar UNTIDAR

Setelah berkunjung ke Candi Borobudur dan sekitarnya, 31 peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) di Universitas Tidar melanjutkan kunjungan budaya ke Candi Prambanan, Pasar Beringharjo dan Maliboro, Daerah Istimewa Yogyakarta pada 23 September 2023.

“Salah satu mata kuliah yang harus ditempuh mahasiswa PMM adalah Modul Nusantara (MN). Mahasiswa diajak berkunjung ke berbagai situs budaya di sekitar perguruan tinggi untuk memahami kebhinekaan, inspirasi, refleksi, dan kontribusi sosial,” jelas Ayunda Putri Nilasari, S.Pd., M.Si, Dosen MN PMM UNTIDAR saat ditemui, Senin (25/9).

Tidak hanya mengunjungi situs budaya, mahasiswa juga mencoba kuliner khas, berinteraksi dengan masyarakat sekitar dan juga berdiskusi mengenai pengalaman budaya yang mereka dapatkan.

“Outputnya mahasiswa mengetahui terkait tentang budaya selain itu juga kebhinekaan baik agama, sejarah serta kuliner yang ada di Magelang dan sekitarnya,” tambahnya.

Sinta Ria, mahasiswa asal Universitas Jambi menikmati agenda Modul Nusantara dari UNTIDAR tiap minggunya.

“Pengalaman berkunjung ke Candi Prambanan sangat seru. Berbeda dengan Candi Borobudur kemarin, kunjungan kali ini kita bisa menjelajah sampai ke dalam candi dan melihat detail ukiran dan patung yang ada,” ujarnya.

Senada dengan Sinta, Serli Adra asal Universitas Sembilanbelas November Kolaka, Sulawesi Tenggara mendapatkan jawaban atas mitos Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso yang selama ini berkembang mengenai Candi Prambanan.

Foto : Haikal UNTIDAR TV

Tour guide menjelaskan yaitu candi ini dibuat pada zaman Mataram kuno. Dibangun berpuluh-puluh tahun dan melibatkan banyak pekerja. Hasilnya terciptalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia ini,” tambahnya.

Perjalanan PMM UNTIDAR berlanjut ke area Pasar Beringharjo dan Malioboro. Disinilah peserta melihat dan berinteraksi langsung dengan para pedagang dan masyarakat sekitar. Mencicipi aneka kuliner dan berbelanja merchandise khas Yogyakarta.

Kunjungan selanjutnya diagendakan kembali ke wilayah Borobudur, yaitu di Kampung Dolanan, melihat pembuatan batik dan gerabah. Selain berkunjung peserta PMM UNTIDAR juga diberikan kesempatan untuk berdiskusi mengenai pengalaman yang telah mereka dapatkan.

Foto : Tim PMM UNTIDAR

Pada akhir kegiatan peserta PMM diharuskan membuat modul yang berisi hasil pengamatan dan evaluasi kegiatan yang selama ini dilakukan pada mata kuliah modul nusantara.

 

Penulis :

  1. Uut Sihombing, Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Royal
  2. Sari Octavia Sagala, Universitas Negeri Medan

Editor :

Haikal dan Humas UNTIDAR

Kunjungi Borobudur, Mahasiswa PMM3 Untidar Perdalam Pengetahuan Budaya Nusantara

Mahasiswa Inbound Pertukaran Mahasiswa Merdeka Tahun 2023 (PMM3) Universitas Tidar mengunjungi Candi Borobudur, Minggu (16/9). Kegiatan ini merupakan bagian dari Modul Nusantara PMM di UNTIDAR.

“Kunjungan ini bertujuan memperluas wawasan mahasiswa, khususnya tentang budaya dan sejarah Indonesia khususnya yang ada di Magelang,” jelas Tholibah Mujtahidah, S.Pi., M.P., Pendamping PMM UNTIDAR.

Selain memperoleh wawasan yang mendalam tentang keragaman budaya Indonesia dan pentingnya menjaga warisan budaya bangsa. Mereka juga memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan pengunjung yang lain, menjalani budaya tradisional, serta mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara budaya.

Sejumlah 31 Mahasiswa PMM yang mengikuti tur tersebut didampingi oleh Dua dosen Modul Nusantara yaitu Ibu Tholibah Mujtahidah, S.Pi., M.P. dan Ibu Ayunda Putri Nilasari, S.Pd., M.Si. Tur ini memungkinkan mahasiswa untuk menggali lebih dalam mengenai makna, sejarah, dan arsitektur megah Candi Borobudur.

Kunjungan ini menjadi salah satu momen berharga dalam perkembangan akademis mahasiswa PMM dan menjadi bagian penting dari program Modul Nusantara.

“Semangat dan semakin tingginya rasa cinta mereka terhadap budaya Nusantara diharapkan akan membantu menciptakan pemimpin masa depan yang berkomitmen untuk melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya bangsa,” tambahnya.

Selain Candi Borobudur, mahasiswa PMM juga berkesempatan mengunjungi berbagai tempat menarik di sekitarnya, seperti Museum Candi Borobudur, Pasar UMKM, dan Bukit Rhema.

Kunjungan ke tiga tempat ini bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan mendalam ke budaya dan sejarah Indonesia yang kaya. Mahasiswa PMM membawa pulang tidak hanya pengetahuan baru, tetapi juga pengalaman berharga yang akan membentuk pandangan mereka tentang peran penting pelestarian budaya dalam manajemen masa depan.

Foto : Tim PMM UNTIDAR

Uut Ravita Sihombing, mahasiswa PMM dari Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Royal Kisaran, Sumatera Utara mengungkapkan kunjungan ke daerah Borobudur ini menambah pengalamannya tentang budaya Indonesia.

“Kegiatan ini benar-benar memperkaya pemahaman saya tentang warisan budaya Indonesia. Saya merasa terinspirasi oleh keindahan dan sejarah yang terkandung dalam Candi Borobudur, dan ini membuat saya semakin bertekad untuk turut serta dalam menjaga dan mempromosikan kekayaan budaya kita,” tuturnya.

Secara terpisah, Ikhwan Taufik, S.Pd., M.Eng., Dosen Teknik Mesin sekaligus PIC Program PMM3 UNTIDAR menyampaikan terdapat beberapa kegiatan kunjungan ke lokasi cagar budaya, wisata dan tempat bersejarah lain di wilayah Magelang dan sekitarnya.

“Semoga seluruh mahasiswa Inbound PMM3 Untidar akan bisa lebih memaknai kunjungan demi kunjungan di setiap kegiatan Modul Nusantara yang telah dipersiapkan. Memaknai kunjungan tersebut tentunya bukan sekedar berkunjung dan berwisata budaya saja, akan tetapi lebih dari itu,” jelasnya.

Beliau juga berharap, mahasiswa akan betah dan krasan hidup di Magelang selama 5 bulan kedepan.

Penulis: Uut Ravita Sihombing
Mahasiswa Inbound PMM3 Untidar
dari Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Royal,
Sumatera Utara

Editor : Humas UNTIDAR

UNTIDAR Sambut 31 Peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka 2023

Mendukung Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Universitas Tidar ikut menggelar kegiatan Peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) tahun 2023. Sebanyak 31 mahasiswa dari 16 perguruan tinggi negeri dan swasta wilayah Sumatera, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua akan melaksanakan perkuliahan di UNTIDAR selama satu semester.

Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama UNTIDAR Drs. Giri Atmoko, M.Si. menyambut kehadiran para mahasiswa PMM di Gedung dr. H. R. Suparsono UNTIDAR, (26/8).

“Makna Pertukaran Mahasiswa Merdeka selain pembelajaran di universitas adalah terkait persatuan dan kesatuan di atas keberagaman Indonesia. Keberagaman kita sangat besar potensinya, namun kita juga perlu mengatasi perpecahan. Salah satunya dengan nasionalisme kita dan berpegang pada Pancasila,” tuturnya.

PMM adalah salah satu program andalan MBKM yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berkuliah di kampus luar pulau selama satu semester. Koordinator pelaksana pertukaran mahasiswa Merdeka Ikhwan Taufik, S.Pd., M.Eng. menyampaikan, antusiasme peserta PMM tahun 2023 ini lebih besar daripada dua tahun sebelumnya.

“Hampir dua kali lipat antusiasme mahasiswa dari berbagai mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk kuliah di Universitas Tidar. Tentunya motivasinya macam-macam. Pertahankan motivasi yang baik-baik. Silakan kembangkan potensi yang ada juga di sini. Saya ucapkan selamat datang buat adik-adik mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia,” tuturnya.

Mahasiswa perwakilan PMM tahun ini, Johannes Parsaoran Nainggolan asal Universitas Jambi turut menyampaikan antusiasmenya usai melaksanakan minggu pertama perkuliahan di UNTIDAR pada semester ini.

“Kami merasakan bagaimana antusias dan hangatnya para sambutan dosen dan teman-teman di kampus ini. Saya mengajak teman-teman semuanya untuk menjadikan wadah program pertukaran mahasiswa ini sebagai tempat kita untuk memperluas wawasan serta menambah ilmu pengetahuan tentang budaya di luar daerah kita masing-masing,” katanya.

Penulis : Isaka

Editor : Humas UNTIDAR

Pengalaman Seru Dewi Noor Kholifah Ikuti Program A Better World Academy 3.0

Dewi Noor Kholifah, mahasiswa program studi Pendidikan Matematika FKIP UNTIDAR berkesempatan mengikuti kegiatan kampus merdeka, yaitu studi independen bersertifikat di PT Uni Tokopo Teknologi atau PT Campaign.com, pada program A Better World Academy 3.0.

PT Uni Tokopo Teknologi (Campaign.com) merupakan suatu platform aksi sosial yang berdiri sejak tahun 2015. Campaign.com dibuat langsung oleh anak bangsa yang peduli terhadap isu sosial terutama di Indonesia. Platform ini bertujuan untuk menghubungkan individu, komunitas/organisasi, sponsor, dan seluruh pihak untuk dapat melakukan atau menciptakan suatu perubahan sosial melalui berbagai kampanye sosial dengan fokus isu tertentu.

Studi Independen Bersertifikat pada program A Better World Academy 3.0 (ABWA 3.0) berlangsung selama 5 bulan, terhitung dari tanggal 16 Februari s.d. 30 Juni 2023. Pembelajaran dilaksanakan secara synchronous, melalui zoom meeting dan aplikasi slack, dimana aplikasi slack tersebut sebagai perantara antara mahasiswa dengan mentor untuk mengirimkan materi maupun hanya untuk mengobrol santai terkait materi yang akan dipelajari maupun yang sudah dipelajari pada hari sebelumnya.

Kegiatan Studi Independen bersertifikat (SIB) ini, dikemas menggunakan metode Project-Based Learning yang artinya students didorong untuk mengaplikasikan langsung materi yang telah diberikan dengan kondisi yang ingin dicapai. Setiap students juga diberikan worksheet, template, tugas, dan sesi lainnya yang mendukung peserta dalam mengidentifikasi masalah riil yang ada di lapangan.

A Better World Academy Cycle 3, terdiri dari 8 mata kuliah yang terbagi menjadi 20 topik pembelajaran dengan bentuk pembelajaran sinkronisasi melalui Zoom Meeting bersama mentor yang berpengalaman di bidangnya.

“Salah satu topik yang menarik menurut saya ialah pembuatan mock-up design. Materi tersebut pertama kali saya dapatkan dan ternyata cukup asyik ketika kita harus mengotak-atik desain melalui aplikasi figma yang di sesuaikan dengan UI/UX law,” kata Dewi.

Selama kegiatan studi independen di ABWA 3.0 siswa yang terlibat sebanyak 92 mahasiswa dari 39 universitas di Indonesia. Mahasiswa dikelompokkan sesuai dengan fokus isu yang dipilih. Ada 4 fokus isu pada program ini, yaitu: kesehatan, kesetaraan, pendidikan, dan lingkungan. “Saya memilih fokus isu pendidikan yang sesuai dengan jurusan saya,” tambah Dewi.

Dewi menceritakan selama program berlangsung ia didampingi oleh satu buddy kelompok dan satu mentor dari Tim ABWA 3. Setiap kelompok beranggotakan 5-6 mahasiswa dengan pilihan fokus isu yang sama. Output dari program ini adalah pembuatan dan peluncuran aksi sosial melalui aplikasi Campaign #ForChange dan membuat Mock-Up design.

“Saya dan kelompok telah meluncurkan kampanye sosial pada aplikasi Campaign #ForChange dengan judul “Kabarkan Satu Berita Baik Bersama Mindframe.id” serta proyek dalam bentuk Mock-Up (wireframe) pada fitur profile aplikasi Campaign #ForChange,” ucap Dewi.

Dewi menyampaikan bahwa kampanye sosial tersebut membahas terkait pentingnya literasi digital terutama pada media sosial. “Saya dan kelompok juga telah mengembangkan akun media sosial instagram sebagai sarana kampanye untuk mengingatkan masyarakat umum terkait pentingnya literasi digital agar berdampak positif bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Akun instagram tersebut kami beri nama @Mindframe.id, dimana di dalamnya terdapat konten-konten yang membahas terkait pentingnya literasi digital,” urai Dewi.

“Hal yang paling berkesan menurut saya ialah ketika saya mendaftarkan diri pada program A Better World Academy 3.0, karena memang tidak linear dengan program studi yang sedang saya tempuh, sehingga program MBKM SIB ini tidak dapat dikonversi dengan mata kuliah yang saya tempuh pada semester 6. Sehingga pada semester 6 saya mengikuti 20 SKS dari kampus asal (UNTIDAR) dan 20 SKS dari kampus mitra (PT Uni Tokopo Teknologi). Hal ini yang membuat saya merasa tertantang karena tugas dari kedua kampus memang bertolak belakang. Yang jelas banyak pengalaman, ilmu dan wawasan baru selama mengikuti program MBKM SIB. Terutama terkait kampanye sosial secara mendetail hingga pada tahapan peluncuran dan mencari donasi.” pungkasnya.

Humas UNTIDAR

 

Yogi Indrawan Dukung Pemerintah Wujudkan Net Zero Emission Melalui Program GERILYA

Yogi Indrawan, mahasiswa semester 6 program studi S1 Teknik Elektro Angkatan 2020 Fakultas Teknik Universitas Tidar (UNTIDAR), mengikuti kegiatan MSIB Batch 4, melalui Program GERILYA (Gerakan Inisiatif Listrik Tenaga Surya), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Yogi Indrawan mengikuti GERILYA bersama dengan 2 mahasiswa prodi Teknik Elektro lainnya, yaitu M. Mujib Burrochman dan Dhea Sugiyanti.

Program GERILYA adalah program magang yang menyediakan tempat bagi mahasiswa untuk mendapatkan ilmu, relasi, pengalaman, dan mengetahui tentang dunia kerja pada sektor bidang industri terbarukan. Program GERILYA mendapatkan konversi sebesar 10-20 SKS, dan ditujukan untuk mahasiswa eksakta dari berbagai jurusan, dengan minimal di semester 6.

Program GERILYA yang diikuti oleh Yogi berlangsung selama 5 bulan dimulai dari 16 Februari sampai 30 Juni 2023. Metode pembelajaran terdiri dari : 1 bulan untuk online course, dan 4 bulan melakukan team-based project di perusahaan yang telah bekerja sama. Selama online course mahasiswa akan didampingi oleh pengajar dan mentor yang berpengalaman di bidang PLTS. Selanjutnya mahasiswa menjalani site visit di PPSDM KEBTKE untuk melakukan praktek langsung instalasi pembangkit listrik tenaga surya.

“Tujuan saya mengikuti program ini adalah untuk mendukung upaya pemerintah dalam peningkatan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga EBT (Surya) menuju Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat lagi, percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan sebesar 23% dari bauran energi nasional di tahun 2025, dan program GERILYA yang menargetkan peningkatan pembangkit listrik tenaga surya Atap lebih dari 200 kWp,” jelas Yogi. “Mengingat masih kurangnya sumber daya manusia yang kompeten di bidang energi terbarukan juga kurangnya literasi energi terbarukan kepada masyarakat, melalui program ini saya ingin mengaplikasikan keilmuan yang telah saya pelajari pada bidang ketenagalistrikan khususnya Pembangkit Listrik Tenaga EBT (Surya),” imbuhnya.

Banyak kompetensi yang didapatkan oleh Yogi dengan mengikuti program GERILYA, seperti pemahaman mengenai kebijakan khususnya tentang energi baru terbarukan serta pemanfaataannya, memahami langkah-langkah mendesain PLTS Atap dan mengukur sensivitas desain PLTS Atap, mengetahui aspek keekonomian seperti: tarif listrik penghematan tagihan, investasi dan BEP PLTS Atap.

“Melalui kegiatan team based-project, saya ditempatkan di PT Jarwinn Feliciti Hotapea berlokasi di Tangerang Selatan, merupakan perusahaan yang berfokus pada sumber energi surya atau PLTS. Yogi turut melakukan praktik pemasangan PLTS secara langsung bersama tim engineering ataupun teknisi. Di lapangan saya belajar bagaimana cara proses instalasi PLTS, komisioning, operasi, gangguan, perawatan, analisis permasalahan yang saya temui di lapangan serta survei ketertarikan pasar PLTS untuk mengetahui faktor-faktor yang menghambat perkembangan PLTS Atap di Indonesia. Project terbesar saya adalah pemasangan sistem PLTS On Grid Skala Industrial dengan kapasitas 80 kWp di Jakarta Utara,” urainya.

Pada MISB Batch 4 Program GERILYA, tercatat sebanyak 2.456 pendaftar hingga terpilih 67 mahasiswa, 3 diantaranya adalah mahasiswa program studi S1 Teknik Elektro Fakultas Teknik UNTIDAR.

Humas UNTIDAR

Maulana Yusuf Tekankan Keunikan Diri untuk Raih IISMA 2023

Maulana Yusuf, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UNTIDAR 2020 berhasil mendapatkan beasiswa Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA). Program IISMA merupakan program yang memberikan kesempatan mahasiswa Indonesia untuk kuliah di universitas-universitas terkemuka di seluruh dunia selama satu semester.
Mahasiswa asal Bangka Belitung itu banyak bercerita tentang pengalamannya selama mengikuti seleksi IISMA 2023. Sebelumnya, Yusuf pernah mendaftar IISMA di tahun 2022 saat ia masih semester empat. Namun, ia belum berhasil. Tak patah arang, tahun ini ia mencoba lagi dan berhasil lolos. “Aku tuh pas daftar IISMA udah enggak menaruh high expectation (harapan tinggi) banget. Pasti kayak fifty-fifty gitu. Kalau diterima ya udah, kalau enggak diterima ya udah,” ungkap Yusuf.

Program IISMA mendorong para awardee untuk mengambil mata kuliah di luar jurusan mereka, memberi mereka kesempatan untuk memperluas wawasan dan keterampilan multidisiplin yang penting dalam persiapan karier masa depan. Selain itu, IISMA membuka kesempatan mahasiswa Indonesia untuk merasakan pendidikan internasional dan keragaman budaya. Ini penting untuk meningkatkan nilai diri dan networking para awardee. Semuanya diharapkan dapat menciptakan generasi baru masyarakat global yang siap berkontribusi pada masyarakat dan dunia.

Setiap universitas tuan rumah (host university) menawarkan mata kuliah yang sangat beragam. Yusuf memilih mata kuliah pada program studi Hubungan Internasional di University of Warsaw. Mata kuliah ini tentu sangat berbeda dengan mata kuliah Pendidikan Bahasa Inggris yang dipelajarinya di Universitas Tidar.
“Di sana sebenarnya setiap host university menawarkan mata kuliah yang berbeda-beda. Jadi misalkan satu universitas itu bisa menawarkan mata kuliah bahasa Inggris, bisa matematika, dan segala macam. Awardee boleh ngambil sebanyak mungkin, maksimal empat mata kuliah. Nah, kalau di University of Warsaw sendiri mereka kebetulan tuh cuma ada mata kuliah Hubungan Internasional,” jelas Yusuf.

Meskipun terdapat tantangan dalam adaptasi ke mata kuliah yang berbeda, Yusuf telah merencanakan langkah-langkah untuk belajar dan berintegrasi dengan baik. Ketika ditanya tentang motivasinya memilih Polandia, ia merasa ingin tahu dengan salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia. Ia berharap dapat memanfaatkan pengalaman dan pengetahuannya untuk berkontribusi kembali ke Indonesia setelah kembali dari Polandia.

Menjadi salah satu awardee IISMA, banyak pihak tentu penasaran tentang cara Yusuf dalam mempersiapkan seleksi. Salah satu kiatnya adalah aktif mencari informasi secara mandiri. Informasi bisa didapat dari mana saja, tidak hanya website resmi IISMA maupun media sosial IISMA. Banyak komunitas-komunitas di media sosial seperti Telegram maupun WhatsApp yang bisa membantu persiapan seleksi IISMA. Selain itu, Yusuf terus meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Kemampuan ini penting untuk dapat memahami perkuliahan di universitas serta beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru.

“Untuk belajar TOEFL, IELTS, sama Duolingo itu aku saranin 6 bulan sebelumnya itu sudah belajar intens, ya. Karena itu yang paling dilirik paling pertama sama pihak IISMA, sebagus apapun penghargaan yang kamu punya, achievement (pencapaian) yang kamu punya,” kata Yusuf.

Selain itu, Yusuf memperhatikan betul syarat berkas lain yang diperlukan seperti esai dan wawancara. Menurut Yusuf, salah satu hal terpenting adalah memahami keunikan diri sendiri. Akan selalu ada orang yang lebih baik dalam hal pencapaian maupun prestasi dari diri kita sehingga keunikan diri harus lebih ditunjukkan dalam esai dan wawancara.
“Aku di tahap wawancara ini melakukan suatu hal yang unik, meskipun agak cringe sih itu. ‘Kan ada pertanyaan kayak gini, ‘Apa obstacle atau kendala yang kamu hadapi saat belajar?’ Nah, aku bikin diriku seunik mungkin dengan cara nyanyi gitu. Kan aku orangnya pelupa. Aku mengatasi kendala pelupa tersebut dengan aku nyanyi,” ungkapnya.

Cerita unik Yusuf tentang menggunakan kebiasaannya menyanyi sebagai jembatan keledai untuk memudahkan mengingat sesuatu saat belajar ternyata efektif dan memberikan nilai plus dalam proses wawancara. Dengan semangat dan dedikasinya yang luar biasa, Yusuf telah berhasil mendapatkan beasiswa IISMA. Ia menjadi inspirasi bagi para mahasiswa lainnya dengan menunjukkan bahwa ketekunan, motivasi, dan keunikan diri adalah kunci untuk mencapai keunggulan pendidikan global.

Penulis : Isaka

 

Melalui ‘Kampus Mengajar’ Aflah Amrulloh Rasakan Pengalaman Pertama Mengajar di Sekolah Dasar

Kampus Mengajar merupakan salah satu kegiatan Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memberi sumbangsih langsung dalam bidang pendidikan. Tak hanya mahasiswa dari program studi ‘pendidikan’, mahasiswa dari prodi ‘non pendidikan’ juga bisa mengikuti kegiatan ini. “Saya beruntung mendapatkan kesempatan mengajar di SDN 3 Tanalum Purbalingga. Kegiatan ini merupakan pengalaman pertama bagi saya dalam mengajar di sekolah, berhadapan dengan peserta didik yang memiliki berbagai karakter, harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan berkolaborasi dengan guru serta tim kampus mengajar,” tutur Aflah Amrulloh, mahasiswa prodi Ilmu Administrasi Negara Fisip UNTIDAR.

Ia mengatakan bahwa sebelum mengajar, para mahasiswa peserta Kampus Mengajar melakukan observasi terlebih dahulu di sekolah, setelah itu baru melakukan blended learning metode pembelajaran yang dilakukan oleh pihak sekolah, perkembangan teknologi dan administrasi sekolah. “Saya mengambil beberapa program kerja diantaranya bimbingan belajar calistung (baca, tulis,hitung) dan administrasi sekolah,” jelas Aflah.

Aflah menjelaskan bahwa hasil observasi lapangan menunjukan masih banyak anak Sekolah Dasar yang duduk di kelas 2-5 SD belum bisa membaca, dan masih banyak anak yang kesulitan dalam mempelajari pembelajaran berkaitan dengan numerasi. Untuk itu perlu dilaksanakan kegiatan bimbingan belajar calistung 30 menit setelah sepulang sekolah di ruang perpustakaan.

“Saya mendapatkan pengalaman mengajar dan peningkatan rasa sabar dalam menghadapi beberapa karakter siswa, karena di lapangan masih ada anak yang kadang tidak bersemangat sekolah dan tidak mau membaca hanya diam saja. Disinilah peran saya sebagai pengajar sangat diuji. Saya harus membujuk anak supaya bersemangat dan mau belajar membaca. Dalam hal ini saya juga harus berinovasi dalam mengembangkan strategi pembelajaran diantaranya dengan membaca dengan buku dongeng, flashcard, menggunakan buku digital berbasis android, dan melalui buku tematik siswa. Melalui ragam strategi tersebut, harapannya siswa tidak mudah bosan dan lebih bersemangat dalam belajar membaca,” urai Aflah.

Aflah juga bercerita bahwa di bidang administrasi ia lebih berfokus ke administrasi perpustakaan. “Kegiatan administrasi perpustakaan ini merupakan langkah saya untuk menghidupkan perpustakaan, karena di lapangan perpustakaan sekolah terbengkalai, dan itu menggugah saya dan rekan-rekan kampus mengajar untuk membenahi perpustakaan dimulai dari mengatur tata ruang perpustakaan, pembuatan pojok baca, pelabelan buku hingga menghias perpustakaan. Dari kegiatan ini saya bisa mengaplikasikan beberapa disiplin ilmu yang saya dapatkan di bangku kuliah, yaitu mengenai pelayanan perpustakaan dan pembuatan struktur organisasi perpustakaan,” kisahnya,

“Kampus Mengajar tak hanya memberikan pengalaman yang luar biasa pada diri saya, tetapi juga memberikan dampak secara langsung bagi sekolah sasaran,” tandas Aflah.

Humas UNTIDAR

Menggapai Impian: Kisah Dita Raih Beasiswa IISMA

Dita Ariyantika Ramadhani, mahasiswi UNTIDAR program studi Pendidikan Bahasa Inggris angkatan 2021 berhasil mendapat beasiswa Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA). Program yang diinisiasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Kementerian Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini memobilisasi mahasiswa untuk belajar di universitas-universitas kelas dunia. Lewat beasiswa ini, Dita berkesempatan belajar di Middle East Technology University (METU), Turki selama satu semester.
Dita awalnya tak menyangka dirinya terpilih menjadi salah satu dari 1.692 mahasiswa awardee IISMA. Pasalnya, pendaftar IISMA tahun 2023 ini tercatat mencapai 12.704 mahasiswa dari seluruh Indonesia. Apalagi, antusiasme mahasiswa terhadap program ini semakin meningkat setiap tahunnya.

Seperti beasiswa luar negeri lainnya, pendaftar IISMA perlu mengumpulkan tes profisiensi bahasa Inggris, esai pribadi, dan dokumen-dokumen penunjang lainnya. Salah satu komponen penentu keberhasilan Dita adalah esai pribadi. Dalam esainya, Dita menekankan perjuangan dan prestasinya selama kuliah, kontribusi yang dapat ia lakukan untuk negara tuan rumah dan Indonesia, serta keinginannya untuk berkolaborasi dengan mahasiswa dari berbagai daerah di METU.

“Aku coba nulis tentang kenapa mereka harus pilih aku untuk IISMA. Apa aja sih yang udah aku lakuin selama kuliah, gitu. Nah, kebetulan ‘kan aku prestasinya terbatas. Maksudnya nggak banyak-banyak banget. Jadi aku lebih ceritain ke perjuanganku, how I join any competition or even win that competition. Ya aku lebih kayak tekanin gimana prosesnya dan mungkin itu sih yang mereka lirik dari esaiku,” kata Dita.

Selain itu, mahasiswi asal Malang ini menulis mengenai hal-hal yang ingin dilakukan di Turki selain berkuliah di METU. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, IISMA mengadakan IISMA Challenge yang merupakan ajang promosi budaya di negara masing-masing. Untuk itu, ingin berkolaborasi budaya dengan teman-teman dari Indonesia maupun teman-teman di-universitas tuan rumahnya nanti.

“Kita berasal dari berbagai daerah dan terus aku mikir, masing-masing dari kita bisa bawa satu atau hal yang khas dari daerah kita, misalnya gitu. Enggak melulu tentang promosi kebudayaan, kita juga bisa have fun. Misalnya nyanyi-nyanyi bareng. Aku kepikiran kayak nyanyi lagu daerah kan kebetulan aku dari Jawa Timur nah sedangkan di Jawa Timur ada dangdut. ‘Kan orang Turki atau orang Amerika kan enggak banyak tahu,” jelasnya.

Pertanyaan Mengejutkan
Setelah dinyatakan lolos dalam tahap awal, Dita menghadapi wawancara via Zoom. Seperti wawancara beasiswa luar negeri umumnya, wawancara IISMA menggunakan bahasa Inggris. Beberapa pertanyaan wawancara adalah mengenai kehidupan sehari-hari, esai pribadi yang sudah ia tulis sebelumnya, cara ia bisa mengikuti proses perkuliahan dengan baik, dan cara ia mengatur waktu. Saat itu, Dita sempat menghadapi pertanyaan yang mengejutkan. Pewawancara tiba-tiba bertanya tentang cara Dita mengatur cucian baju.
“Beliau (pewawancara) tanya, ‘Gimana kamu manage laundry-mu?’ Terus aku bilang, ‘Kebetulan saya memprioritaskan waktu belajar, jadi untuk laundry itu saya memakai jasa laundry.’ Aku bilangnya gitu ‘kan, karena that’s the reality. Tapi ternyata bapaknya bilang gini, ‘Oh, kayaknya kamu kurang cocok deh di US karena di US tuh laundry mahal.’ Oh my God! Kayaknya aku salah ngomong deh!” ungkap Dita.

Tanggapan pewawancara sempat membuat Dita merasa bahwa jawabannya kurang tepat. Pengalaman ini menjadi pelajaran baginya untuk lebih hati-hati dalam menjawab pertanyaan. Ia kemudian menyimpulkan, “Andai kata aku enggak dapat tahun ini enggak apa-apa, tahun depan ikut lagi. Tapi aku bilang aku bakalan nyuci baju sendiri.”
Sempat Tak Ingin Kuliah

Ketika SMA, Dita ingin kuliah. Bahkan, ia punya mimpi kuliah di luar negeri. Namun, pada saat itu ia merasa simpatik dengan keadaan keluarga yang belum bisa mendukungnya berkuliah. “Aku mikir, apa aku enggak usah kuliah aja ya karena itu biayanya ‘kan susah ya dari keluarga. Nah terus aku mikir, kayak apa aku ke luar negeri aja, ya. Tapi kuliah di dalam negeri aja enggak bisa banget apalagi kalau ke luar negeri” ungkapnya.

Pikiran itu agak mengganggunya, sampai suatu hari, ia mendapat motivasi dari seseorang yang tak ia kenal. Saat ia sedang berada di sebuah toko fotokopi dan alat tulis, ia bertemu dengan seorang wanita yang tengah menjilid laporan kerja. Tiba-tiba, wanita itu mengajaknya bicara dan bercerita.

“Di tengah-tengah cerita itu kayak dia tiba-tiba kasih sesuatu yang insightful kayak motivasi aku gitu loh. Entah gimana ceritanya dia tiba-tiba bahas tentang kuliah. Dia bilang, ‘Mending kuliah aja mbak, karena kuliah itu investasi terbesar untuk masa depanmu,’ gitu. Terus aku bilang, ‘Kalau kuliah kayaknya susah, Bu. Soalnya orang tua saya kayaknya enggak memungkinkan.’ Terus ibunya bilang, ‘Daftar aja KIP (Kartu Indonesia Pintar), nah terus kalau nanti udah dapat KIP InsyaAllah sama Allah nanti dipermudah semuanya,’ gitu,” terang Dita. Bersyukur, Dita juga mendapat bantuan KIP selama kuliah.

Dita kini memiliki motivasi yang kuat untuk mengejar cita-citanya dalam dunia perkuliahan, bahkan hingga melampaui batas negara. Ia juga sangat berterima kasih kepada kakak tingkat, dosen, dan alumni yang telah memberikan bantuan dan dukungan sepanjang persiapan dan proses seleksi IISMA. Selama perjalanan ini, Dita merasakan adanya timbal balik positif dan merasa bahwa ia tidak berjuang sendirian.

“Aku mau berterima kasih sama beberapa kakak tingkat yang udah bantu aku. Terutama Mbak Jeki atau Mbak Rizki Purwa yang sudah koreksi esai aku, terus bilang, ‘Ini kurang greget,’ atau ‘Ini kayaknya enggak masuk,’ Terima kasih juga untuk Mbak Putri, alumni UNTIDAR yang sekarang lagi di University of Birmingham di United Kingdom yang udah bantu esaiku juga,” kata Dita.

Program IISMA memberikan kesempatan berharga bagi mahasiswa Indonesia seperti Dita untuk belajar di perguruan tinggi internasional dan memperluas wawasan serta keterampilan mereka. Pengalaman Dita dalam IISMA menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk mengikuti jejaknya dan mewujudkan mimpi.

Penulis : Isaka

Kisah Nur Listia dan Alya Berbagi Ilmu di Lereng Gunung Merbabu

Nur Listia dan Alya Putri Ramadhani merupakan mahasiswa semester 4, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNTIDAR. Nur Listia dan Alya berkesempatan mengikuti salah satu program Kampus Merdeka, yaitu Kampus Mengajar Angkatan 5. Bagi Nur Listia dan Alya, Kampus Mengajar merupakan perjuangan pendidikan bagi mereka yang jauh dan kesulitan dalam mendapatkan ilmu pendidikan.

Nur Listia dan Alya bertugas di salah satu sekolah terpencil di kaki Gunung Merbabu, yaitu SD Negeri Soronalan 2 Sawangan. “Melewati jalan menanjak bukanlah sebuah rintangan bagi saya dalam membantu guru dan pemerintah dalam meningkatkan literasi dan numerasi pada siswa. Pengabdian ini merupakan hal yang paling berkesan dalam hidup saya, bertemu dengan para siswa yang memiliki mimpi tinggi tetapi terhalang oleh banyak sebab. Sangat menyenangkan bisa bertemu dengan warga sekitar sekolah yang menerima baik kehadiran saya dan rekan-rekan dalam bertugas. Kehadiran kamipun diterima baik oleh guru SD Negeri Soronalan 2 Sawangan,” urai Alya.

Senada dengan Alya, Nur Listia juga merasakan hal serupa. “Saya begitu senang saat bertemu dengan anak-anak SD Negeri Soronalan 2. Ini merupakan hal baru untuk saya dan rekan lainnya. Disana banyak anak-anak yang masih minim akses pendidikan, disebabkan oleh lingkungan sekitar yang kurang mendukung. Meski demikian, banyak prestasi yang mereka raih, terutama dalam bidang seni dan budaya,” urainya.

Nur Listia menuturkan bahwa SD Negeri 2 Soronalan merupakan sekolah dengan segudang prestasi seni budaya yang membanggakan. Ini karena kesenian di lereng gunung Merbabu masih terjaga dengan baik. “Kesenian memang wajib dilestarikan, namun pendidikan juga merupakan hal penting bagi mereka untuk masa depan yang lebih cerah,” tegas Nur Listia. “Karena itu kami mencoba untuk memberi inspirasi dan motivasi kepada warga sekitar terkait pentingnya pendidikan untuk ditekuni dan mendapatkan perhatian serius,” imbuhnya.

Alya menuturkan bahwa SD Negeri Soronalan 2 tidak memiliki guru Bahasa Inggris, sehingga ia juga ditugaskan untuk mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris. “Saya bertugas mengisi Bahasa Inggris di kelas 6, dan hal yang membuat saya terkejut adalah mereka mengatakan ini adalah pertama kalinya mereka memahami pelajaran bahasa Inggris, karena sebelumnya mereka tidak pernah sekalipun mendapatkan ilmu bahasa Inggris,” kisah Alya.

“Salah satu siswa berkata ‘kalo tidak ada mba, kami tidak bisa belajar bahasa Inggris’, dalam hati saya sangat senang, bahwa kehadiran kami ternyata memberikan dampat positif bagi mereka. Pengalaman ini membuat pemikiran saya lebih terbuka dan sadar bahwa ternyata masih banyak anak-anak di daerah terpencil yang membutuhkan bantuan uluran tangan pemerintah dan kami mahasiswa,” ujar Alya.

Selain mengajar, Nur Listia, Alya, dan 2 rekan mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Magelang, bersama sama membantu guru dalam meningkatan literasi siswa dengan pengoptimalan pojok baca yang berfungsi sebagai tempat membaca para siswa.

Alya dan Nur Listia sepakat sangat mendukung program Kampus Mengajar, karena dengan program ini dapat membantu pemerintah dalam pemerataan pendidikan di Indonesia.
Keduanya berharap program Kampus Mengajar kedepannya dapat menjadi program yang lebih
baik dan berdampak bagi siswa-siswi serta lingkungan sekitarnya.