UNTIDAR AMBIL BAGIAN DALAM KEPENGURUSAN ADRI JAWA TENGAH

Rektor Universitas Tidar, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd.; Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Bambang Kuncoro, M.Si.; Kepala UPT Pusat Bahasa, Dr. Farikah, M.Pd dan Arnanda Yusliwidaka, S.H., M.H resmi dilantik menjadi pengurus Ahli Dosen Republik Indonesia (ADRI) Jawa Tengah, Selasa (31/01).

ADRI merupakan wadah komunikasi dan informasi antar dosen di Indonesia dalam mendorong pengabdian Tri Dharma Perguruan Tinggi utamanya dalam meningkatkan karya jurnal ilmiah khususnya jurnal yang bertaraf internasional.

“Keterlibatan beberapa perwakilan UNTIDAR menjadi pengurus ADRI diharapkan dapat membantu pengembangan karya jurnal ilmiah khususnya di kampus sendiri,” kata Farikah.

Dalam susunan Dewan Pengurus Daerah (DPD) ADRI Jawa Tengah masa bakti 2017-2021, Rektor UNTIDAR menduduki jabatan sebagai Dewan Pembina, WR III sebagai anggota Divisi Kerjasama & Harlindung, Dr. Farikah sebagai anggota Divisi Pengembangan Karir dan Sertifikasi Dosen dan Arnanda sebagai anggota Divisi Kedharmaan PT.

“Adanya Permenristekdikti No. 20 Tahun 2017 tentang Tunjangan Profesi dan Tunjangan Kehormatan Professor dimana dosen maupun professor dituntut menerbitkan jurnal bertaraf internasional menjadi ‘momok’ tersendiri maka ADRI Jawa Tengah hadir untuk memfasilitasi serta mendampingi dalam pembuatan jurnal serta publikasi,” tambahnya.

Pada acara yang sama, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Bambang Kuncoro, M.Si. mewakili Rektor UNTIDAR bersama 31 perguruan tinggi lainnya di Jawa Tengah menandatangani MoU dengan ADRI dalam hal peningkatan kerjasama dalam bidang pendidikan, penelitian dan pertukaran budaya. Program dan kegiatan yang akan dikembangkan kedepannya meliputi pengembangan bidang akademik, pertukaran staf, pertukaran informasi terkait koleksi maupun informasi ;ainnya terkait perpustakaan, serta kolaborasi daloam bidang riset dan publikasi serta pengadaan seminar dan workshop. (DN)

UNTIDAR-UNNES SIAP SAMBUT MAHASISWA TAYLOR UNIVERSITY MALAYSIA DALAM ACARA BOROBUDUR BALESARI CULTURAL LANGUAGE

MAGELANG – Universitas Tidar bekerjasama dengan Universitas Negeri Semarang akan menyelenggarakan acara Borobudur Balesari Cultural Language pada pertengahan Februari 2017 mendatang. Acara yang akan diikuti oleh puluhan mahasiswa Taylor University Malaysia ini akan menyuguhkan beraneka ragam kekayaan budaya Jawa Tengah yang dikemas dalam sebuah paket perjalanan di Kota Semarang dan Magelang.

“Kuliner Gethuk, Tari Topeng Ireng, dan Borobudur merupakan kekayaan Magelang yang memiliki daya tarik tinggi di mata turis mancanegara. Maka itu, kami harap BCL perdana besok berjalan lancar dan meninggalkan kesan mendalam bagi mereka,” tutur Wati Istanti, S.Pd., M.Pd.

Wati yang juga merupakan Kepala Bidang Pendidikan dan Pelatihan Asosiasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (APPBIPA) Jawa Tengah menjelaskan skema kegiatan BBCL kepada Rektor UNTIDAR, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd., Selasa (16/1) di ruang UPT Bahasa. Bersama Ketua APPBIPA Jateng, Yusro Edy Nugroho, S.S., M.Hum., serta Kepala UPT Bahasa UNTIDAR, Dr. Farikah, M.Pd. memaparkan detail kegiatan BBCL yang direncanakan akan dilaksanakan 19 – 25 Februari 2017 baik di Kota Semarang (sekitaran kota dan UNNES), Kota dan Kabupaten Magelang (UNTIDAR, Desa Balesari, dan Candi Borobudur).“Selain materi seputar Budaya Jawa dan Batu Borobudur para turis juga disuguhkan pertunjukan budaya tari Topeng Ireng, kuliner gethuk serta perjalanan ke Candi Borobudur,” jelas Wati.

Rektor UNTIDAR, Prof. Dr. Cahyo Yususf, M.Pd. (kanan) didampingi Ketua APPBIPA Jateng, Yusro Edy Nugroho, S.S., M.Hum. (kiri) saat berdiskusi dengan panitia BCL 2017.

Rektor UNTIDAR, Prof. Dr. Cahyo Yususf, M.Pd. (kanan) didampingi Ketua APPBIPA Jateng, Yusro Edy Nugroho, S.S., M.Hum. (kiri) saat berdiskusi dengan panitia BCL 2017.

Selain itu, para turis juga akan diajak merasakan hidup sehari di pedesaan. “Rencananya para turis akan kami ajak tinggal sehari di rumah penduduk Desa Balesari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. Kegiatan ini juga sekaligus menjadi ajang promosi Desa Wisata Balesari,” kata Imam Baihaqi, S.Pd., M.A., koordinator kegiatan “sehari menjadi orang desa”, BBCL 2017.

Rektor UNTIDAR pun memberikan respon positif terhadap acara ini. “UNTIDAR akan membantu semaksimal mungkin untuk kelancaran acara dan besar harapan akan berkelanjutan di kemudian hari,” pungkas Prof. Cahyo. (DN)

PKMT 2016 : RAKIT MESIN PENGUPAS KACANG, BAGAS DAN TIMNYA SUKSES REBUT HATI MASYARAKAT TLOGOPUCANG TEMANGGUNG.

Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung khususnya Desa Tlogopucang memiliki ketinggian tanah ± 657,31 m dpl dengan suhu antara 20-30 ℃ dengan rata-rata jumlah hari hujan 64 hari dan banyaknya curah hujan 22 mm/th menjadikan daerah ini sebagai wilayah pengembangan tanaman pangan berupa ketela pohon dan kacang tanah.

Selama ini, petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Putro Makaryo, Desa Tlogopucang mengolah hasil panen kacang tanah di wilayahnya menjadi kacang tanah kupas kering yang bertujuan untuk meningkatkan harga jualnya. “Para petani masih mengupas kulit kacang secara manual dimana membutuhkan tenaga dan waktu yang cukup lama dan hanya menghasilkan kacang tanah kering dalam jumlah yang sedikit,” tutur Bagas Dwi Prakoso.

Menurut Ketua PKMT Aplikasi Mesin Pengupas Kacang Tanah Tipe Ruji sebagai Peningkat Efisiensi Produksi di Kelompok Tani Putro Makaryo, Desa Tlogopucang, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung ini warga menyambut baik program mahasiswa UNTIDAR ini. Mesin ini mampu mengupas 30 kg kacang tanah dalam waktu 1 jam.

“Nantinya Si PK (Mesin Pengupas Kacang) ini diharapkan mampu meningkatkan produksi serta penghasilan petani kacang tanah di desa ini,” tambahnya.

Bagas dan timnya termotivasi tinggi untuk mengembangkan produk mesin pengupas kacang hasil rakitan mereka sendiri. Tim yang seluruh anggotanya berasal dari prodi Teknik Mesin ini diketuai Bagas dan beranggotakan Rachman Satya Pamungkas, Andhi Setyo Pamungkas dan Alfi Diantoro. “Sampai saat MONEV PKM kemarin, mesin pengupas kacang kami sudah siap 100% memenuhi target yang tertulis di proposal. Sekarang kami sedang dalam proses pengembangan produk,” ujar Bagas.

Proses pembuatan mesin pengupas kulit kacang.

Proses pembuatan mesin pengupas kulit kacang.

Pada pemaparan saat MONEV PKM pertengahan April 2016 lalu, Bagas dan timnya optimis mesin pengupas kacang ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat yang bergerak di sektor yang sama. “Mesin ini sudah diminati oleh kepala Desa Tlogopucang untuk selanjutnya dapat digunakan oleh masyarakat,” tambah Bagas.

Pembuatan mesin ini ternyata meningkatkan antusiasme masyarakat. “Pada saat kami berdiskusi dengan masyarakat dan aparat desa, mereka berharap Desa Tlogopucang dapat menjadi desa binaan dari Universitas Tidar,” jelas Bagas. Mendapat sinyal yang baik, tim ini semakin semangat untuk menambah mesin dengan blower yang berfungsi untuk memisahkan kulit kacang dengan isinya. (Latief – Luki Mg/HDN)

JALIN KERJASAMA, LPPM PMP & LP2B SERAHKAN BANTUAN BUKU UNTUK WARGA BALESARI

MAGELANG – Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LPPM PMP) Universitas Tidar bekerjasama dengan Lembaga Pengkajian Pembangunan Bangsa (LP2B) menyerahkan bantuan buku bacaan kepada warga Desa Balesari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Kamis (11/01). “Kurang lebih ada seratusan buku bertema pembangunan pedesaan meliputin pertanian, peternakan, buku bacaan anak-anak serta religius,” ucap Moh. Choirul Anam.

LP2B adalah sebuah lembaga non profit yang bertujuan mendorong percepatan pembangunan melalui berbagai macam kegiatan sosial salah satunya membangun atau meningkatkan komunitas baca. Pada kesempatan ini, LP2B diwakilkan oleh 3 orang anggotanya yaitu Choirul Anam, Muhammad Muhibbudin dan Taufiq Hakim bersama Ir. Usman Siswanto, M.Sc., Ph.D., selaku Kepala LPPM PMP UNTIDAR menyerahkan langsung bantuan buku kepada Kepala Desa Balesari H. Sutiyana.

Ir. Usman Siswanto, M.Sc., Ph.D., Kepala LPPM PMP UNTIDAR saat menunjukkan buku-buku pertanian, peternakan, dan buku tema lain yang diharapkan dapat membantu dalam pengembangan Desa Balesari.

Ir. Usman Siswanto, M.Sc., Ph.D., Kepala LPPM PMP UNTIDAR saat menunjukkan buku-buku pertanian, peternakan, dan buku tema lain yang diharapkan dapat membantu dalam pengembangan Desa Balesari.

“Buku adalah jendela dunia. Lewat buku kita bisa menjelajah dunia, mendapat berbagai ilmu dan pengetahuan. Sedikit bantuan ini diharapkan dapat ikut membantu dalam upaya peningkatan pengelolaan sumberdaya alam serta manusia menuju Desa Wisata Balesari,” tutur Usman.

Sutiyana menyambut baik bantuan ini dan berjanji akan memberikan info dan mendistribusikan bantuan buku-buku tersebut kepada warganya. “Malu bertanya sesat dijalan, maka sebelum tersesat baiknya bertanya pada buku terdahulu semuanya ada didalam sana,” tambahnya.

Sebagian besar buku bacaan adalah karya INDes Publishing, percetakan dan penerbitan buku dibawah pengelolaan LP2B yang mempunyai kantor perwakilan di Yogjakarta. Tak berhenti pada penyerahan buku bacaan, kedepannya LP2B bersama LPPM PMP merencanakan beberapa kegiatan sosial lain utamanya untuk mendukung rencana pengembangan Desa Balesari sebagai desa wisata. (HDN/DN)

PKMM 2016 : SISTEM PENGAIRAN TERPADU PECAHKAN KENDALA AIR BERSIH DI DUSUN SEDONO

Windiya Nur Alita, Ganesha Hendra Saputra, Angga Dwi Saputra, Himmatul Ulya dan Widyo Mangesti melalui Program Kreatifitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKMM) Pengelolaan Sistem Pengairan Terpadu di Dusun Sedono memberikan solusi sulitnya masyarakat dalam memperoleh pasokan air bersih selama ini.

Widyo Mangesti atau yang lebih akrab disapa Esti adalah mahasiswi UNTIDAR yang berasal dari Dusun Sedono. “Untuk mendapat air bersih warga harus mengambil bergantian ke mata air atau sungai terdekat. Jarak mata air ke Dusun Sedono sekitar 1 km,” tuturnya. Permasalahan ini merupakan ide awal Esti bersama 4 teman lainnya dalam menyusun proposal dan pada pertengahan tahun 2016 lalu PKM ini merupakan salah satu yang lolos didanai Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

“Saya yang berasal dari Dusun Sedono, jadi saya berfikir kenapa tidak saya berusaha dengan yang ada di sekitar saya. Beruntung proposal PKM lolos sehingga keinginan untuk membantu dusun saya tercapai,” jelas Esti.

Dusun Sedono terletak di ujung barat Desa Genting, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Lokasi dusun yang melingkar dengan kontur yang berbukit-bukit serta jauh dari mata air menjadi kelemahan Dusun Sedono yang menyebabkan sulitnya warga mendapatkan air bersih. Selama ini warga mengandalkan musim hujan dengan menampung airnya atau memilih membawa air dari sumber mata air sebagai sumber air bersih. Pemandian umum yang terletak dekat mata air menjadi satu-satunya sumber air yang mudah didapatkan. Hanya saja seluruh warga menggunakan, sehingga terkadang warga saling berebut dan tidak efektif. Jaraknya yang jauh juga membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup banyak hanya untuk membawa air bersih ke rumah.

Pembangunan bak penampungan air dikerjakan oleh tim PKMM beserta warga secara gotong royong.

Pembangunan bak penampungan air dikerjakan oleh tim PKMM beserta warga secara gotong royong.

Windiya dan kawan-kawannya dengan bantuan warga sekitar membangun bak penampungan yang dijadikan sumber air utama serta dialirkan ke masing-masing rumah warga. “Dari info yang ada sebelumnya sekitar 10 rumah yang belum mendapat aliran air bersih dan sekarang sudah hampir seluruh warga yang mendapatkan aliran air bersih,” katanya.

Bak penampungan air dibangun beberapa buah. Pada penampungan air pertama diberi arang dan ijuk sebagai cara sederhana untuk menyaring kotoran. Sehingga air yang disalurkan ke rumah-rumah warga menjadi bersih dan bening.

 “Kita membangun bak penampung air di sumber mata air, namanya Ngasinan lalu di bak tersebut diberi lubang untuk mengalirkan air menggunakan peralon lalu sampailah air itu ke rumah warga,” tambah Esti. Dalam hal perawatan, bak penampungan perlu dibersihkan secara rutin sehingga alirannya tetap lancar n kualitas air dapat selalu bersih.

Sebelum dan setelah program berlangsung, tim PKM melakukan rembug warga dan mendapatkan respon positif. “Saya harap program dari mahasiswa ini dapat berlanjut pada program lainnya seperti pertanian maupun peternakan,” ucap Triyono, Kepala Desa Dusun Sedono. (Resti-Rizka Mg/HDN)

PKMT : SI PINTOR TINGKATKAN PENDAPATAN PENGOLAH EMPING DUSUN JAMUS PASAR HINGGA 300%

Si Pintor merupakan mesin pemipih melinjo metode roll karya mahasiswa teknik UNTIDAR yang mampu menghasilkan 36 kg emping dalam kurun waktu 4 jam. Alat ini diperhitungkan dapat meningkatkan produksi emping warga Dusun Jamus Pasar, Desa Jamus Kauman, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang yang pada saat ini hanya mampu menghasilkan 12 kg emping dalam 8 jam dengan metode manual. Melimpahnya pohon melinjo yang di wilayah ini membuat sebagian warganya bermata pencaharian sebagai pengolah melinjo menjadi emping.

“Si Pintor mampu meningkatkan pendapatan warga dari Rp 30.000 – Rp 80.000 menjadi sekitaran Rp 240.000 per harinya berbanding lurus dengan peningkatan hasil emping per harinya,” tutur Hidayatulloh.

Dayat yang juga merupakan ketua PKMT “Si Pintor” Mesin Pemipih Melinjo dengan Metode Roll terus melakukan perbaikan serta peningkatan beberapa komponen agar kedepannya alat ini dapat menjadi solusi peningkatan penghasilan para pengolah emping khususnya di Dusun Jamus Kauman.

Pembuatan emping melinjo secara manual hanya menghasilkan 12 kg emping per hari yang dikerjakan selama 8 jam.

Pembuatan emping melinjo secara manual hanya menghasilkan 12 kg emping per hari yang dikerjakan selama 8 jam.

“Proses pemipihan melinjo secara manual membutuhkan stamina prima karena membutuhkan banyak tenaga jika, warga sakit maka pengolahan emping terhenti begitu juga pendapatan mereka,” kata Dayat.

Bersama ketiga temannya, Aris Priyatmoko, Azwar Anaz Suganda dan Dian Fery Himawan, Dayat terus melakukan perbaikan dan pengembangan Si Pintor. Perbaikan berupa pemberian sekat pengatur pada konveyor sehingga masuknya biji melinjo ke dalam hopper dapat disesuaikan, pemberian cover body agar dalam penggunaannya tidak membahayakan dan pemasangan roda pada kaki rangka mesin agar lebih mudah untik dipindahkan. (Alex-Maulida-Saraya Mg/DN)

PKMT 2016 : SI JAMBRONG, BAKAR JAGUNG & BERONDONG JADI LEBIH MUDAH

Danang Henri Wibowo, Miftahkul Khoir, Ikhwan Widjanarko dan Fitri Alfiana membuat sebuah alat inovasi dimana membakar jagung dan membuat berondong bisa dilakukan dalam waktu dan alat yang sama. Alat ini dinamakan “SI JAMBRONG” yaitu singkatan dari mesin sate jagung dan berondong.

Ide pembuatan Si Jambrong bermula dari survey dan observasi lapangan di wisata alam Ketep Pass. Berwisata di obyek andalan Kabupaten Magelang ini tidak lengkap jika belum mencoba jajanan khasnya yaitu jagung bakar dan berondong. Mayoritas masyarakat sekitar obyek wisata ini bermata pencaharian sebagai penjaja jagung yang tergabung dalam POK DARWIS “Kelompok Sadar Wisata Jelita”. Dalam kesehariannya, para penjaja jagung masih menggunakan sistem manual dalam proses pembakarannya sedangkan berondong mereka hanya menjualkan kembali belum dapat memproduksi sendiri karena keterbatasan alat.

Si Jambrong dilengkapi motor listrik untuk menggerakkan tuas pembakar jagung dan berondong sekalgus dilengkapi kipas untuk menjaga kestabilan panas bara api.

Si Jambrong dilengkapi motor listrik untuk menggerakkan tuas pembakar jagung dan berondong sekalgus dilengkapi kipas untuk menjaga kestabilan panas bara api.

“Si Jambrong diharapkan dapat membantu penjualan jagung bakar dan berondong. Alat ini lebih efisien, higienis dan praktis, tidak perlu berbagai alat yang terpisah seperti tempat bakar sate, kipas dll tapi kini hanya cukup satu alat saja,” tutur Danang.

Prinsip kerja Si Jambrong yaitu dengan cara menancapkan jagung pada tangkai pembakar jagung. Berondong dimasukkan ke bagian tabung yang berkaitan dengan tangkai pembakar jagung. Ketika tuas diputar maka baik jagung maupun berondong ikut berputar. Alat ini dilengkapi juga dengan kipas angin sehingga tetap menjaga panas pembakaran dimana bahan bakar utama tetap menggunakan arang. Si Jambrong dilengkapi dengan motor listrik sebagai penggerak utama. Kecepatan putaran motor listrik (900 rpm) direduksi menjadi 10 rpm atau sesuai dengan kebutuhan proses pembakaran jagung dan pembuatan berondong. Proses reduksi menggunakan steker kontroler.

Si Jambrong adalah salah satu hasil Program Kreatifitas Mahasiswa Penerapan Teknologi (PKMT) mahasiswa UNTIDAR yang berhasil didanai oleh Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (kemristekdikti) Tahun 2016. (Farid-Ninda Mg/DN)

PKMM 2016 : MAHASISWA TEKNIK OLAH KOTORAN SAPI JADI BIOGAS

Inovasi pengolahan kotoran sapi menjadi biogas membantu warga Dusun  Trenten di Kecamatan Candimulyo Kabupaten Magelang dalam menghemat pemakaian bahan bakar terutama gas dalam kehidupan sehari-hari.

Ide ini bermula dari hasil diskusi dengan dosen pembimbing saat mengikuti Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) 2016 lalu. Intan Mustika Gunawan, Muhamad Cahyo Ardi dan Bayu Seto Respati mengikuti PKM di bidang pengabdian masyarakat  dengan memanfaatkan limbah kotoran sapi menjadi biogas sebagai energi baru. Bukan hanya sebagai ajang mengikuti program dari Kemenristekdikti tetapi mereka juga coba memberi solusi untuk kelangkaan gas yang terjadi saat ini dengan  memanfaatkan  limbah kotoran sapi yang belum dipergunakan dengan maksimal.

“Karena semua anggota tim sangat asing dengan pengolahan biogas. Akhirnya, kami pergi  mencari tempat pengolahan biogas ke daerah Gunung Kidul Yogyakarta. Dimana, daerah tersebut merupakan daerah yang pernah mengembangkan hal serupa sebelumnya juga konsultasi dengan ahli biogas asal salatiga bapak Lilik Sudarto,S.P”, jelas Intan selaku ketua kelompok PKM-M itu.

Untuk 1-2 ekor sapi kurang lebih mengeluarkan kotoran sebanyak 10 kg setiap harinya. Dengan jumlah itu sudah cukup untuk menghidupkan kompor yang digunakan di dapur rumah tangga masyarakat. “Satu atau lebih ekor sapi sudah cukup jika digunakan untuk 1 keluarga saja, namun jika lebih dari lima ekor sapi dapat dipararelkan hasil biogasnya dan dapat digunakan lebih dari tiga keluarga”, tambah Bayu Seto selaku anggota PKM-M tersebut.

Biogas dari kotoran sapi tersebut, selain untuk keperluan rumah tangga juga dapat digunakan untuk menjalankan generator listrik. Namun jika untuk menyalakan generator listrik, dibutuhkan gas dari hasil biogas kotoran sapi yang lebih banyak sekitar 5-10 ekor sapi atau dua kali lipat dari yang dipakai untuk keperluan rumah tangga. Semakin banyak kotoran sapi yang dihasilkan, semakin maksimal pula pemanfaatannya menjadi biogas.

Drum bekas tempat pengolahan kotoran sapi.

Drum bekas tempat pengolahan kotoran sapi.

Dalam pengolahan limbah tersebut yang dibutuhkan hanya drum bekas yang sudah dimodifikasi, beberapa ember, pipa, dan tabung untuk menampung hasil biogas. Pertama kotoran sapi dimasukkan dalam drum yang telah dimodifikasi kemudian dibri zat perangsang. Setelah itu pasang pipa, agar gas dapat memisah dan mengalir mellui pipa tersebut. Gas langsung ditampung dalam wadah yang telah ditentukan untuk kembali disalurkan ke pipa gas rumah warga.

Pemilihan Dusun Trenten sendiri dikarenakan dalam dusun tersebut banyak peternak sapi. Dusun yang terletak di Kecamatan Candimulyo itu belum menggunakan limbah kotoran sapi secara maksimal, karenanya Intan dan kawan-kawan bekerja sama dengan warga desa untuk menjalankan programnya. “Kepala desa dari dusun trenten sangat mendukung program kita, selain belum pernah ada sosialisasi seperti ini, program kita dapat sangat membantu kebutuhan warga disana”,kata Intan.

Hasil dari PKM-M tersebut sudah digunakan oleh warga desa trenten dan alat yang dibuat digunakan oleh satu rumah untuk memenuhi kebutuhan gas sehari-hari. “Seusai prosesi pkm , rencananya tim akan meneruskan projek ini agar berkembang pesat dan membantu masalah pemerintah dan masyarakat. Diharapkan trobosan ini dapat meningkatkan pula kualitas tim dalam partisipasinya untuk kepentingan orang banyak”,jelas Intan. (Dinda-Arfifiana Mg/HDN)