Mendiktisaintek Buka Peluang bagi UMKM untuk Berkiprah melalui Pendidikan Tinggi

Jakarta-Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek), Satryo Soemantri Brodjonegoro menyambut baik kolaborasi kementerian yang dipimpinnya dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) untuk memajukan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Jumat (31/1).

Hal ini disampaikan saat Menteri Satryo memberikan keynote speech dalam acara ulang tahun APINDO ke-73 dengan tajuk “Tumbuh Bersama Berdaya Bersama.”

APINDO saat ini memiliki program yang disebut APINDO UMKM Merdeka (AUM) dan menjadi payung dari Program APINDO UMKM Akademi.

“Program AUM ini, merupakan wujud kolaborasi antara APINDO dengan Kemdiktisaintek dan bermakna penting untuk mendukung transformasi UMKM,” jelas Menteri Satryo.

Selama ini, AUM menunjukkan bahwa APINDO cukup berkontribusi dalam pembangunan negara dan sumber daya manusia Indonesia yang unggul.

“Kita lihat beberapa bidang di Indonesia saat ini sedang mengalami krisis, UMKM yang berkembang seperti yang kita lihat di negara-negara lain, bisa kita tiru. Bagaimana mereka menuju ke arah semakin baik, maju dan berkembang dari sebelumnya merupakan UMKM,” ungkap Mendiktisaintek.

Menteri Satryo menegaskan perlu dibuka peluang lebih lebar untuk UMKM bisa berkiprah.

“AUM ini bisa menjadi jalan untuk pendidikan tinggi membuka peluang lebih besar lagi untuk masyarakat yang bergelut di bidang UMKM. Silakan dilanjutkan, selama program ini memang bermanfaat. Menurut Saya kampus-kampus yang fokus pada program UMKM, harus memiliki keunikan. Kurikulum silakan disesuaikan dengan kebutuhan, harus memiliki pembeda dengan pendidikan tinggi lainnya,” kata Menteri Satryo.

Ketua Bidang UMKM APINDO, Ronald Wala menyatakan harapannya untuk dapat mengembangkan sebuah ekosistem UKM berdasarkan stakeholders pentaheliks.

“Kita tentunya percaya pada stakeholders, antara lain para pengusaha, pemerintah, dan akademisi. Sumber atau driver dari program pentaheliks ekosistem APINDO yang kami jalankan saat ini adalah para akademisi, jadi kami bekerja sama dengan universitas-universitas yang kurang lebih ada 4.000 di Indonesia,” ungkap Ronald.

Menutup pertemuan, Ketua Umum APINDO, Shinta W. Kamdani menyatakan bahwa pendidikan tinggi sangat erat kaitannya dengan UMKM.

“Pendidikan riset dan teknologi adalah bagian penting dari ekonomi, oleh karena itu kita semua di sini harus bekerja sama,” harap Shinta.

Konsolidasi Program Pegawai Kemdiktisaintek

Jakarta – Jumat (24/1) Kemdiktisaintek Gelar rapat induksi dengan seluruh pegawai Kemdiktisaintek untuk menyampaikan perihal kebijakan dan arah baru bagi Kementerian kedepan melalui penyampaian Peraturan Presiden RI Nomor 189 Tahun 2024, Permendiktisaintek RI Nomor 1 Tahun 2024 tentang OTK Kemdiktisaintek, dan Program 100 Hari Kerja Kemdiktisaintek.

Dalam pertemuan tersebut, Wamendiktisaintek Stella Christie jelaskan bahwa program yang diemban dan diamanahkan kepada Kemdiktisaintek mengedepankan luaran yang terukur dengan baik.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Togar Mangihut Simatupang menyampaikan kepada seluruh pegawai tentang Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2024 yang bertujuan untuk mengatur struktur organisasi, pembagian tugas, dan mekanisme kerja dalam Kementerian.

Sesjen Togar menjelaskan untuk program 100 hari kerja ini meliputi program transisi, evaluasi dan revisi regulasi, penyusunan Renstra Kemdiktisaintek 2025-2029, pengisian SDM dan kebutuhan lainnya. Dalam pertemuan tersebut Togar juga menjelaskan struktur dan tugas masing-masing unit utama.

Selain itu Togar juga menginformasikan bahwa sudah dilakukan penetapan pelaksana tugas (plt) pejabat struktural jabatan pimpinan tinggi pratama, administrator, dan pengawas, serta dilakukan redistribusi pegawai ke seluruh unit terkait.

Dengan adanya kegiatan konsolidasi induksi program tersebut, diharapkan program yang akan dijalankan oleh seluruh pegawai Kemdiktisaintek dapat berjalan dengan baik, lancar, dan tercapai tujuan bersama untuk memajukan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi.

Dukung Peningkatan Kompetensi dan Mutu Pendidikan, Untidar Kukuhkan 750 Lulusan PPG

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tidar telah melaksanakan upacara pengukuhan Guru Profesional Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi 753 mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan. Kegiatan ini diselenggarakan secara daring dan luring di Gedung Kuliah Umum (GKU) dr. H. Suparsono Universitas Tidar pada Kamis (23/1). Upacara pengukuhan secara luring dihariri oleh 95 mahasiswa yang terdiri dari 33 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), 14 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), dan 48 mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA (PIPA) serta 655 mahasiswa lainnya melaksanakan secara daring.

Prosesi serah terima perwakilan PPG secara simboli dilakukan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Parmin, S.Pd., M.Pd., Dekan FKIP Untidar, Dr. Ahmad Muhlisin, M.Pd., dan Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum, Dr. Astuty, M.Pd.

Dalam sambutannya, Prof. Parmin menyampaikan pesan penting mengenai semangat Pancasila dalam menjalankan profesi sebagai seorang guru. Beliau berharap setelah dikukuhan nantinya, para guru dapat menjadi cahaya yang semakin terang di sekolah, menciptakan suasana belajar yang nyaman, dan mendukung proses pendidikan yang efektif dan kreatif. “Sebagai guru, Anda tidak hanya dituntut untuk menguasai materi, tetapi juga harus mengedepankan adab karena guru adalah teladan bagi para murid. Dalam dunia pendidikan yang terus berkembang. Kreativitas menjadi salah satu kunci utama dan para guru harus mampu berkreasi untuk menghadirkan metode pengajaran yang lebih baik kedepannya,” ujar Prof. Parmin.

 

Lebih lanjut, beliau menyoroti pentingnya kualitas dalam dunia akademik. Parmin berharap program PPG ini dapat membawa perubahan positif guna mengatasi kekurangan yang ada dan mendorong para guru untuk selalu meningkatkan kualitas diri dalam pengajaran. Universitas Tidar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tidar terus berkomitmen untuk mencetak lulusan guru yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik yang mumpuni, tetapi juga memiliki adab yang luhur, sesuai dengan tuntutan zaman yang terus berkembang. Dalam setiap langkahnya, guru yang profesional harus mampu menjadi contoh dan memimpin dengan sikap yang baik, sehingga dapat memberi dampak positif bagi generasi Indonesia.

Dengan pengukuhan ini, diharapkan para guru yang baru saja dilantik dapat memberikan kontribusi nyata dalam dunia pendidikan dengan tetap mengedepankan nilai-nilai moral dan etika yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

Penulis: Ruth Erica Margaret 

Editor: Humas Untidar

Dukung Pendidikan Unggul, GenBI Komisariat UNTIDAR Gelar Sosialisasi Beasiswa Bank Indonesia

Komunitas Generasi Baru Indonesia (GenBI) UNTIDAR gelar acara Sosialisasi Beasiswa Bank Indonesia dengan tema “Raih Cita, Asa, dan Karsa Bersama Beasiswa Bank Indonesia Wujudkan Mimpi” di Gedung Dr. H.R. Suparsono Universitas Tidar, Selasa (20/1). 

Melalui kegiatan ini, Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerjasama, Drs. Giri Atmoko, M.Si. Dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih dan harapannya kepada mahasiswa untuk terus mengejar prestasi. “Terima kasih kepada GenBI Komisariat Untidar yang telah menyelenggarakan kegiatan sosialisasi karena seiring dengan pengumuman perolehan beasiswa, mahasiswa calon penerima beasiswa dapat mendengarkan secara langsung informasi lebih jelas mengenai beasiswa Bank Indonesia dari panitia maupun pengurus GenBI. Harapannya mahasiswa mampu berprestasi dalam bidang akademik maupun non-akademik serta aktif dalam kegiatan kemahasiswaan,” ujar Giri.

Ketua GenBI Komisariat Untidar 2024/2025, Muhammad Aji Maulana, menyampaikan rasa antusiasnya dalam kegiatan sosialisasi tahun ini yang menunjukkan peningkatan secara signifikan dari tahun sebelumnya. “Saya sangat antusias pada teman-teman mahasiswa yang telah hadir dalam sosialisasi kali ini. Dibuktikan dengan 700 mahasiswa yang hadir dalam kegiatan ini menandakan antusias mahasiswa pada beasiswa Bank Indonesia cukup tinggi dan tentunya menciptakan persaingan ketat untuk merebut kuota beasiswa yang hanya tersedia 50,” jelas Maulana.

Dalam kesempatan ini, Korkom BI Semarang, Gita Surya Handari, menyampaikan tujuan utama GenBI sebagai salah satu program unggulan dari Bank Indonesia. “Tujuan utama adanya program GenBI, yaitu sebagai Frontliners Bank Indonesia, untuk menciptakan Future Leaders, dan menjadi Change Agents, sehingga  dibutuhkan mahasiswa berprestasi yang kompetitif serta mampu mendukung pengembangan generasi muda masa depan,” terang Gita.

Ketua Genbi Korkom Semarang 2024/2025, Hosea Adrian Haryanto juga ikut meramaikan kegiatan ini dengan membawakan materi diskusi mengenai tips dan trik dari BI dan gambaran mendalam tentang Beasiswa Bank Indonesia, termasuk persyaratan pendaftaran yang terdiri dari syarat umum dan khusus. Selain itu, Ketua GenBI Komsat Untidar 2023/2024, Rizqi Amalia Suwandi juga memberikan informasi terkait KeGenBIan yang membahas sejarah, visi-misi, capaian, kegiatan, kewajiban, sanksi, dan keuntungan di GenBI.

Melalui kegiatan sosialisasi ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi Bank Indonesia guna menyerap sebanyak-banyaknya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dari Universitas Tidar sehingga dapat berkontribusi menjadi agen perubahan melalui Bank Indonesia. 

 

Penulis : Dewi Puji Lestari

Editor : Ruth Erica Margaret

Wujud Nyata Pemberdayaan, KKN-Tematik Universitas Tidar Luncurkan Inovasi bagi Desa Kembangkuning

Mahasiswa KKN Tematik Universitas Tidar (Untidar) Periode 2024/2025 telah memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat Desa Kembangkuning, Kecamatan Windusari, melalui tiga inovasi teknologi yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat dalam kunjungan Universitas Tidar ke Desa Kembangkuning, Selasa (21/1).

Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Tidar Periode 2024/2025, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) melakukan proses kurasi terhadap berbagai teknologi yang menjadi inovasi mahasiswa KKN Tematik. Terdapat 3 inovasi terbaik yang dirancang oleh mahasiswa dan dikelola di Desa Kembangkuning. Inovasi pertama adalah alat irat bambu yang dikembangkan oleh mahasiswa dari program studi Ekonomi Pembangunan yang bertujuan untuk mempermudah proses pengerjaan kerajinan bambu di Dusun Sabrang. Sebelumnya, masyarakat setempat menggunakan alat manual untuk mengirat bambu sehingga memakan waktu dan tenaga. Adanya alat baru ini, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi kerajinan bambu, yang menjadi salah satu sumber pendapatan warga.

Inovasi kedua adalah penyiram otomatis tanaman yang dikembangkan oleh mahasiswa dari program studi Manajemen. Alat ini diperuntukkan bagi petani di Dusun Kembangkuning yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian dengan mengurangi ketergantungan pada penyiraman manual dan memastikan kebutuhan air tanaman dapat dipenuhi secara optimal.

Inovasi ketiga yang terpilih menjadi inovasi terbaik dalam KKN-Tematik adalah inovasi lampu jalan yang dirancang sebagai akses penerangan di Dusun Campurejo. Selain itu, akses penerangan ini bertujuan agar pengunjung yang datang ke wilayah wisata Desa Kembangkuning mendapatkan penerangan yang cukup.

Kepala Desa Kembangkuning, Iwan Amawi, menyampaikan bahwa inovasi-inovasi ini sangat penting bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi serta memberikan kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. “Sesuai dengan kebutuhan masyarakat di Desa Kembangkuning, Kecamatan Windusari yang berkaitan dengan bidang pembangunan, kerajinan, dan pertanian. Diharapkan terus ada inovasi pemberdayaan yang dilakukan oleh Universitas Tidar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Salah satu inovator, Salsabil, mahasiswa yang mengembangkan penyiram otomatis untuk greenhouse anggur menambahkan, “Alat ini diharapkan bisa meningkatkan hasil pertanian di Dusun Kembangkuning karena irigasi yang tepat akan mendukung pertumbuhan tanaman dengan lebih baik.” jelasnya. Hal serupa juga disampaikan, Erika Nisa Adelia, mahasiswa yang terlibat dalam pengembangan alat pengirat bambu, mengungkapkan bahwa alat pengirat bambu ini dapat membantu pengrajin di Dusun Sabrang untuk meningkatkan efisiensi kerajinan bambu dan membuka peluang pasar yang lebih luas.

Kegiatan KKN Tematik Untidar ini menunjukkan komitmen mahasiswa dalam memberikan solusi konkret bagi kebutuhan masyarakat setempat, serta menjadi bagian dari proses pemberdayaan yang berkelanjutan di Desa Kembangkuning dan sekitarnya.

Penulis : Ruth Erica Margaret

Editor : Dewi Puji Lestari

Dorong Ekonomi Berkelanjutan dengan Inovasi dan Kolaborasi, GenBI UNTIDAR Laksanakan Program Desa Binaan di Kembang Kuning

Generasi Baru Indonesia (GenBI) Komisariat Universitas Tidar melaksanakan Program Desa Binaan di Desa Kembang Kuning sebagai upaya untuk memberdayakan masyarakat desa (18/1). Program ini dirancang untuk membangun kapasitas masyarakat, memperkuat ekonomi lokal, dan mendukung keberlanjutan pembangunan berbasis komunitas.

 

Menurut Ketua GenBI Universitas Tidar, Muhammad Aji Maulana, Program Desa Binaan merupakan salah satu inisiatif unggulan yang bertujuan mendorong kemajuan berkelanjutan di tingkat desa. “Kami berharap kolaborasi harmonis antara GenBI dan masyarakat Desa Kembang Kuning mampu menciptakan perubahan nyata, dari pengembangan ekonomi kreatif hingga pelestarian lingkungan,” ungkapnya.

Pembina GenBI Korkom Semarang menyampaikan apresiasi kepada GenBI Komisariat Universitas Tidar atas penyelenggaraan program ini. Beliau menekankan bahwa Program Desa Binaan dirancang untuk membangun potensi, karakter, dan kepemimpinan anggota GenBI agar mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional. “Program ini diharapkan dapat menjadi model pengembangan desa yang inspiratif di Jawa Tengah,” tuturnya.

Sebanyak 23 program kerja dirancang dengan pendekatan menyeluruh untuk memberdayakan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari anak-anak sekolah hingga pelaku UMKM lokal. Desa Kembang Kuning dipilih sebagai mitra program ini karena potensinya yang besar untuk berkembang menjadi model pembangunan desa inspiratif di Jawa Tengah.

 

Kepala Desa Kembang Kuning menyatakan dukungan penuh terhadap program ini, dengan menyoroti pentingnya pendampingan di sektor UMKM dan pariwisata desa. “Kami sangat terbuka terhadap inovasi dan program pemberdayaan yang akan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat kami,” ucapnya.

Kolaborasi ini mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak, termasuk LPPM Universitas Tidar,yang menilai program ini sebagai wujud nyata keterlibatan mahasiswa dalam pembangunan masyarakat. Dengan sinergi yang kuat antara GenBI, universitas, dan masyarakat desa, diharapkan program ini mampu menciptakan dampak positif dan berkelanjutan bagi pengembangan potensi Desa Kembang Kuning.

Program Desa Binaan ini tak hanya menonjolkan keberpihakan kepada masyarakat, tetapi juga menjadi ruang pengembangan bagi generasi muda untuk mempelajari tantangan nyata dalam pengembangan komunitas, sehingga kelak mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

GenBI Universitas Tidar menaruh harapan atas keberhasilan program ini akan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengadopsi model pengembangan berbasis kolaborasi komunitas. Dengan dukungan dari semua pihak, program ini menjadi langkah strategis dalam mewujudkan desa yang mandiri, berdaya, dan berkelanjutan.

Penulis: GenBI Untidar 

Editor: Ruth Erica Margaret 

Kemdiktisaintek Siap Berkontribusi untuk Percepatan Pertumbuhan Ekonomi 8% Bersama Kementerian Transmigrasi Melalui Pendidikan 

Jakarta – Mendiktisaintek menerima audiensi dari Menteri Transmigrasi yang hadir bersama jajaran. Kedatangan Menteri Transmigrasi bermaksud menyinergikan dan mengolaborasikan percepatan pertumbuhan ekonomi mencapai lebih dari 8%, Jumat (17/1).

Menteri transmigrasi Iftitah Sulaiman mengatakan bahwa kekhawatiran bagi Indonesia saat ini adalah banyak sekali daerah di Indonesia yang sangat berpotensi, namun masih banyak pula yang belum kita bisa jangkau maupun ketahui.

“Yang bisa meneropong bahwa disana ada sesuatu hanya orang yang dibekali pendidikan yang cukup. Nah inilah yang yang menjadi dasar bagi kami sebagai satu keharusan untuk kita bersinergi, berkolaborasi dengan pendidikan tinggi mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 8%. Ini menjadi sangat krusial bagi kami,” ujarnya.

Lanjut Menteri Iftitah, hal yang menjadi salah satu sorotan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto adalah bagaimana Indonesia bisa membangun Papua, yang merupakan masa depan Indonesia. Iftitah memaparkan hal-hal yang menjadi fokus dan pokok pikiran Kementerian Transmigrasi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.

“Satu-satunya yang kami pikir akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara signifikan adalah dengan meningkatkan produktivitas. Kita harus memiliki produk-produk unggulan, sehingga semakin besar nanti produktivitasnya dari produk unggulan yang kita hasilkan, itu mudah-mudahan akan menarik investasi lebih banyak,” ungkap Menteri Iftitah.

Saat ini Kementerian Transmigrasi sedang mengupayakan untuk mengubah model transmigrasi menjadi kawasan ekonomi tematik, seperti pendidikan, pariwisata, maritim, energi terbarukan, serta mengembangkan konsep “Transpolitan Global,” termasuk membangun universitas transmigrasi.

Menteri Satryo mengungkapkan bahwa yang sekarang sedang dilakukan Kementerian Transmigrasi dirasa sudah sangat baik dan secara prinsip dirinya siap mendukung untuk berkontribusi dalam upaya pencapaian pertumbuhan ekonomi hingga 8%.

“Untuk itu kami sangat bisa mendukung, tinggal kami memastikan kapan, dimana, dan siapa, serta pola yang nanti akan dilaksanakan,” tegas Menteri Satryo

Mendiktisaintek memperhatikan bahwa, transformasi transmigrasi dari sektor Pendidikan tidaklah kalah penting. “Transmigran yang nantinya kita kirimkan harus dipastikan sarjana terlatih, sehingga kita bisa pastikan nanti para transmigran ini sudah terdidik dan akan memberikan dampak bagi peningkatan ekonomi Indonesia nantinya,” tutur Satryo.

Terkait sinergi antar Universitas, Menteri Satryo mengharapkan ada Universitas yang menjadi hub di Papua. “Salah satu Universitas yang ada di Papua bisa menjadi hub bagi Papua nantinya, kemudian Universitas yang ada di Jakarta, maupun kota dan daerah lain kemudian bisa terhubung ke Universitas-Universitas yang ada di Papua,“ pungkasnya.

Wamendiktisaintek Dorong Mahasiswa Miliki Research Mindset

Jakarta – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menyatakan bahwa research mindset dan memiliki spesialisasi untuk dapat beradaptasi terhadap pembentukan industri, penting dalam meningkatkan sumber daya manusia di Indonesia pada diskusi panel dengan tema “Mempercepat Transformasi Ekonomi Nasional: Strategi Pengembangan Hilirisasi Industri, Ketahanan Padangan, dan SDM Unggul”, Jumat (17/01).

Acara ini digelar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dalam rangkaian pelantikan Pengurus Pusat (PP) ISEI dan Pengurus Istri (PI) ISEI (PIISEI) Periode 2024-2027.

Turut hadir bersama Wamendiktisaintek Stella, antara lain Ketua Bidang IV Perumusan Kebijakan Sektor Riil & Struktural PP ISEI & Guru Besar Universitas IPB, Bayu Krisnamurthi, dan Anggota Dewan Pengawas ISEI, Raden Pardede.

“Saya menyoroti, SDM tidak mungkin sama, jadi SDM itu harus terus berubah, kalau kita mau mencapai perubahan ekonomi,” papar Wamen Stella.

Wamen Stella mengungkapkan dalam upaya meningkatkan research mindset tak cukup hilirisasi, juga butuh “huluisasi” yang berkaitan dengan penyiapan SDM Unggul. Selanjutnya, ia juga menyampaikan bahwa human capital dan research ranking Indonesia berada jauh lebih rendah dibandingkan Malaysia Thailand dan Vietnam.

“Kalau mahasiswa itu punya research mindset, mereka akan menghasilkan penelitian yang berkualitas, jika seorang mahasiswa punya research mindset, dia akan bisa menjadi inovator industri dan menghasilkan industri baru, setelah itu teknologi baru tersebut bisa diterapkan di industri,” ungkap Stella.

Industri prinsipnya membutuhkan tenaga kerja berkualitas tinggi, yang dapat dihasilkan dari kampus. Inilah mengapa kampus dan industri saling membutuhkan. Perlu koordinasi yang baik, agar kerja sama keduanya saling menguntungkan.

“Jadi perguruan tinggi, universitas, dan juga politeknik mendapatkan masukan ekonomi, mendapatkan suntikan ekonomi dari industri. Orang yang di industri, merasa mereka mendapatkan ilmu dari perguruan tinggi,” tegas Stella.

Saat ini, penggerak utama penelitian di Indonesia masih terpusat kepada satu badan. Hal inilah yang diupayakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bahwa riset harus dilakukan oleh dosen, sehingga terjadi trickle down of knowledge.

“Kita bisa menciptakan specialized dan adaptable workforce, Ini adalah bagaimana kita mempunyai SDM yang bisa memenuhi tuntutan pasar yang bergerak yang cepat,” katanya.

Wamendiksaintek berpendapat bahwa hal ini harus difokuskan pada pendidikan vokasi. Harapannya pendidikan vokasi dapat meningkatkan kompetensi dan keterampilan yang relevan, pendidikan yang mengampuni, serta tenaga kerja yang berkualitas.

“Pembelajaran berbasis kerja sangat berhasil mengeluarkan lulusan-lulusan pendidikan yang bisa mengikuti pertukaran industri sehingga kita tune-in dengan industri dan juga mereka menghasilkan, saya rasa ini cukup penting untuk menciptakan middle class yang kuat,” pungkas Stella.

Harapan dari diselenggarakannya acara ini adalah mengembangkan strategi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, melakukan sinergi antara Akademisi, Bisnis, dan Government (ABG) dalam merumuskan tantangan dan dinamika global serta domestik, juga melakukan penyelarasan antara program kerja ISEI dan program prioritas nasional.

Arah Baru Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Menurut Mendiktisaintek

Jakarta – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Satryo Soemantri Brodjonegoro  tampil di acara talkshow yang dilaksanakan oleh IDN Times bersama Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, dan, Co-Founder of ParagonCorp & CEO of NSEI,  Salman Subakat di IDN HQ, Jakarta Pusat, Kamis (16/1) 2025. Pada acara tersebut Mendiktisaintek menyampaikan arah baru pendidikan tinggi sains dan teknologi yang kini diusung Indonesia.

“Kita berharap mempersiapkan untuk Indonesia Emas 2045. Itu grand strategy-nya, dari sekarang hingga 2029,” ujar Satryo.

Mendiktisaintek Satryo menjelaskan bahwa Kemdiktisaintek selalu mengupayakan pendidikan tinggi di Indonesia mampu mempersiapkan sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai target Indonesia Emas 2045 dengan cara menyiapkan talenta-talenta nasional.

“Itu ditempuh dengan memastikan kembali arah kita punya pendidikan tinggi ke depan, supaya betul-betul bisa mencapai target Indonesia emas 2045. Paling tidak yang saya upayakan dari saat ini adalah pastikan tiap perguruan tinggi itu harus mempunyai dampak positif bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” tegas Satryo.

Dirinya, lanjut Satryo, mengamanahkan setiap perguruan tinggi untuk menata kembali program-program yang dilaksanakan masing-masing kampus dan memastikan dampak perguruan tinggi tersebut hadir untuk masyarakat, bangsa, dan negara.

“Paling tidak kita berharap adanya talenta-talenta lulusan perguruan tinggi yang mampu berkarya, berkarya untuk diri sendiri, keluarganya, komunitasnya, dan masyarakat secara umum,” ujar Satryo.

Menurutnya pendidikan terbaik adalah yang dapat mempersiapkan para lulusannya untuk mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu manfaat. Sebelumnya Mendiktisaintek  menyampaikan mengenai 4 kekurangan yang sekarang tidak dimiliki lulusan tanah air seperti membaca, menulis, punya work habit yang tinggi, serta kemampuan berkomunikasi dengan baik dan teamwork.

“Dimanapun bekerja nanti, itu yang dibutuhkan. Bisa membaca, bisa menulis, work habit yang tinggi, teamwork, communication. Itu kuncinya,” tutur Satryo.

Beliau juga menambahkan satu tambahan aspek yang tidak kalah penting, yaitu setiap lulusan harus mampu belajar sepanjang hayat. Satryo menyampaikan bahwa untuk setiap lulusan perguruan tinggi di Indonesia, kedepan tantangan luar biasa banyaknya, dan beberapa pekerjaan bisa diambil alih oleh AI, robot, machine learning, automation.

“Tujuannya adalah menyelesaikan soal yang kompleks, jadi untuk teman-teman dosen, ke depan kita mesti mengajarkan mahasiswa untuk menyelesaikan masalah yang kompleks,” kata Satryo.

Complex thinking menurutnya penting, karena itu akan menuntut kita untuk berpikir kritis. Karena menurutnya jika tidak ada rasa ingin tahu, cenderung tidak akan belajar. Lanjutnya, saat ini Indonesia masih terjebak pada middle income trap. Karena Indonesia belum produktif dan etos kerjanya masih kurang. Harapannya kedepan industri mampu membawa pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

“Untuk membawa maju Indonesia kita harus punya teknologi yang dapat bersaing secara global dan peningkatan produktivitas,” tutup Satryo.

Mendiktisaintek Dorong Pengembangan Semikonduktor dan Artificial Intelligent (AI) sebagai Penggerak Teknologi Masa Depan

Jakarta – Dalam rangka menggali lebih dalam peran semikonduktor dan Artificial Intelligent (AI) sebagai penggerak revolusi teknologi masa depan menuju Indonesia emas, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Satryo Soemantri Brodjonegoro hadir dalam seminar yang di gelar oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Perpustakaan Nasional, DKI Jakarta pada Rabu (15/1).

Sebuah inovasi tercipta sering kali berbasis dari apa yang para peneliti kuasai. Menteri Satryo mengajak para ahli untuk beranjak dari permasalahan yang ada dan mencari solusi untuk permasalahan tersebut, sehingga hasilnya berdampak langsung kepada masyarakat.

“Inovasi harus mengacu pada paradigma transformasi. Jadi, fokus riset berbasis masalah. Kita berangkat dengan masalah dulu,” ujar Satryo.

Indonesia saat ini sedang berupaya keluar dari middle income trap. Dari hasil pengamatan, banyak kalangan di Indonesia yang masih memiliki produktivitas yang rendah.

“Kalau tidak di-handle dengan baik, kita mendapatkan musibahnya daripada manfaatnya. Terkait dengan delapan misi Presiden dan Wakil Presiden, yaitu Asta Cita, Ada tiga misi yang Kemdiktisaintek emban,” ujarnya.

Tiga misi tersebut adalah memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru; memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas; serta melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Menteri Satryo menyampaikan dari RPJMN 2025-2029 dan Asta Cita yang telah digariskan pemerintah, ada pula rumusan dari Kementerian Investasi terkait sembilan sektor investasi prioritas. Semikonduktor termasuk di dalamnya. Semikonduktor di Indonesia berpeluang besar, karena bahan bakunya tersedia di tanah air, seperti silika, lembaga, bauksit, dan emas.

“Kita punya pasir kuarsa SiO2, dan itu ada 27 miliar ton, serta cadangan 330 juta ton yang tersebar di 23 provinsi. Kemudian pasir kuarsa dapat diolah menjadi silikon sebagai bahan utama chip semikonduktor. Semikonduktor, istilahnya merupakan minyak bumi baru dengan nilai pasar USD 592 miliar,” ungkapnya.

Namun, menurutnya terdapat tantangan lain, yaitu SDM yang terbatas, teknologi, dan infrastruktur yang kurang memadai.

“Kita bisa siapkan dengan regulasi. Kita siapkan bina talenta, kita develop talenta untuk AI dan semikonduktor, tambahkan riset dan pengembangan, itu harus. Kita punya industri yang deep tech, high edit value, dan kita juga hilirisasi, itu juga penting,” terang Satryo.

Mendiktisaintek juga menegaskan isu terkait ketahanan pangan, ekonomi hijau, kreatif, digitalisasi, kesehatan, visualisasi bisa diselesaikan dengan memanfaatkan AI dan semikonduktor, serta revolusi teknologi masa depan berbasis riset, sehingga menopang pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.

“Ke depan, sebetulnya perindustrian sudah mengantisipasi dengan diperkenalkannya TKDN bukan hanya hardware. Tidak ada komputer tanpa software and there is no software without computers,” ujar Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartanto.

Menko Airlangga menyampaikan bahwa  Indonesia memiliki target pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Bila dilihat dari kontribusi ekonomi digital, diperkirakan 9% dari PDB Indonesia di tahun 2024. Ia berharap dapat meningkatkan kontribusi ini menjadi 13% di tahun 2030 dan mendekati 20% di 2045.

“Kalau dari pabrik langsung ke konsumen untuk fast moving consumer goods. Dengan adanya digitalisasi, sangat dimungkinkan. Dan ini cost delivery mulai dari pabrik sampai ke consumer akan menjadi dekat,” ungkapnya.

Ketua AIPI, Daniel Murdiyarsopun  berharap seminar semacam ini bisa terus difasilitasi oleh AIPI yang memang menempatkan diri sebagai wadah, di mana semua stakeholder yang terkait dengan ilmu pengetahuan bisa berdialog dan mencari solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat.