PERINGATI NUZULUL QUR’AN, UNTIDAR BERI SANTUNAN KEPADA ANAK YATIM

MAGELANG – Masih dalam rangkaian Gebyar Ramadhan Kampus (Gerak), Takmir Masjid Mambaul Ulum dan UKAI “Ar-Ribath” menggelar pengajian Nuzulul Qur’an sekaligus pemberian santunan kepada anak yatim, Jumat (24/06) di auditorium UNTIDAR.

“Ada 21 anak yatim dari wilayah Tuguran, Dumpoh dan Sanden,” kata Akhmad Zamroni, salah satu panitia pengajian.

Pemberian santunan langsung diberikan oleh Rektor Universitas Tidar, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd dan Dekan Fakultas Teknik Ir. Kun Suharno, M.T. Santunan yang diberikan berupa peralatan sekolah berupa alat tulis dan buku beserta uang tunai. “Rajin sekolah ya, semoga ini bisa sedikit membantu,” kata Prof. Cahyo saat memberikan santunan kepada salah satu anak.

Dalam sambutannya, Rektor UNTIDAR juga berpesan kepada seluruh anak yatim khususnya dan kepada semua para peserta pengajian agar selalu senantiasa “membaca” atau belajar sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT pada nabi kita Muhammad SAW pada saat pertama kalinya diturunkannya Al Qur’an.

Ustad Fauzil Adhim memaparkan bagaimana mendidik anak sesuai dengan Al-Qur'an.

Ustad Fauzil Adhim memaparkan bagaimana mendidik anak sesuai dengan Al-Qur’an.

Pengajian Nuzulul Qur’an kali ini mengangkat tema “Mendidik Anak Sesuai Al Quran” mengundang Fauzil Adhim, ustad sekaligus dosen UII Yogyakarta menjadi pembicara utama. Pengarang novel best seller “Ku Pinang Kau Dengan Hamdalah” dan “Kado Pernikahan untuk Isteriku” ini memaparkan bahwa pedoman terbaik dalam mendidik anak adalah Al Qur’an.

Para orang tuan dituntut untuk menanamkan keyakinan kepada anak-anaknya tentang arti penting Al Qur’an sehingga berpengaruh pada tindak tanduk si anak pada kehidupan sehari-harinya. “Akhir-akhir ini banyak orang tua atau guru mulai takut memerintah atau melarang anak bahkan ketika mereka melakukan perbuatan negatif,” kata ustad Fauzil.

Dalam Al Qur’an, dijelaskan dalam Surah Luqman bahwa Luqman memberikan perintah dan larangan kepada putranya seperti tekunilah kebaikan, hindari kejahatan bahkan larangan bertindak sembarangan di muka bumi secara jelas dan tegas.

“Perintah dan larangan tidak membuat kita dalam kondisi keterbelakangan,” tambahnya.

Negara Singapura yang terkenal memberi banyak perintah dan larangan baik bagi warganya atau warga negara asing yang berkunjung di negaranya dengan perintah yang jelas. Contohnya larangan membawa durian di bandara sampai di larangan bersender pada wilayah-wilayah tertentu dengan denda. Hasilnya, perintah yang jelas tersebut melahirkan keteraturan dan kedisiplinan. Satu hal lagi yang ditekankan yaitu suara yang keras dan membentak itu berbeda. Kondisi ini yang kadang disalah artikan dan menjadi sumber kesalahpahaman.

Pada acara ini juga diumumkan para pemenang beberapa lomba yang diselenggarakan beberapa waktu lalu yaitu lomba Adzan yang dimenangkan oleh Andhi Rispata sebagai juara 1 dan Yudhana Priambodo sebagai juara ke 2. Lomba tilawah, juara 1 adalah Andi RK dan juara 2 adalah Eki. Sedangkan untuk kategori kaligrafi dimenangkan oleh Baehaki Abdullah sebagai juara 1 dan Sahrul Mubarok sebagai juara kedua. Masing-masing juara mendapatkan sertifikat dan tropi kejuaraan. (DN)

BERPETUALANG SELAGI BERBAGI ILMU KE DAERAH PEDALAMAN INDONESIA

Menjadi pengajar di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) bukanlah hal yang mudah. Amar, Umi, Anisa, Joko, dan Rahayu berbekal tekad dan semangat untuk memajukan pendidikan bagi anak-anak Indonesia, rela jauh dari tanah kelahiran mereka untuk menjadi pendidik di beberapa daerah pedalaman Indonesia.

Pada acara Talkshow dan Training Motivation SM3T dan Guru Perintis, Sabtu (18/06), Himpunan Mahasiswa Bidikmisi UNTIDAR (Himadiktar) mengajak mahasiswa terutama penerima bidikmisi untuk mengikuti jejak para seniornya Amar Ma’ruf sebagai pendidik program SM-3T di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara dan Anisatul Fuadiyah sebagai pendidik dalam program Guru Perintis di Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak Papua yang merupakan alumni FKIP UNTIDAR.

“Satu kata bisa mengubah makna, apalagi satu tindakan datang ke 3T berarti perubahan akan bisa dilakukan,” tutur Amar.

Selama 1 tahun menjadi pendidik di Kampung Kulur II, Kecamatan Tabukan Tengah, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Amar dengan rekannya Umi Qodarsasi memaparkan pengalaman mereka di depan mahasiswa semester 2, 4 dan 6 dengan harapan muncul penerus mereka dikemudian hari khususnya mahasiswa UNTIDAR.

Program Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (SM3T) merupakan program Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang mengirimkan guru/pendidik ke berbagai pelosok negeri.

“Ada proses pendaftaran, seleksi, pembekalan serta pelatihan dahulu sebelum diterjunkan ke wilayah yang ditentukan,” tambah Amar.

Program SM-3T tidak hanya fokus pada kegiatan belajar-mengajar, para peserta mengikuti sosialisasi anti narkoba, pelatihan militer dan pelatihan-pelatihan sesuai potensi daerah. “Di Sangihe kami juga memberi pelatihan pembuatan manisan pala, karena banyak yang menamam pohon pala disana,” jelas Amar.

Talkshow dan Training Motivation SM3T dan Guru Perintis, Sabtu (18/06) dihadiri mahasiswa semester 2, 4 dan 6 khususnya penerima Bidikmisi.

Talkshow dan Training Motivation SM3T dan Guru Perintis, Sabtu (18/06) dihadiri mahasiswa semester 2, 4 dan 6 khususnya penerima Bidikmisi.

Guru Perintis dan Indonesia Mengajar

Seperti halnya SM-3T, program Guru Perintis dan Indonesia Mengajar pun menyasar wilayah-wilayah yang belum atau masih tertinggal terutama dalam segi pendidikannya. Guru Perintis adalah program kerjasama Pemerintah Kabupaten Intan Jaya dengan Kelompok Kerja Papua UGM dan Pusat Pengembangan Kapasitas dan Kerjasama (PPKK) FISIPOL UGM.

Anisatul Fuadiyah dan Joko Rianto merupakan angkatan pertama Guru Perintis yang ditempatkan di Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak Papua. Program guru perintis merupakan program 5 tahunan yang dimulai tahun 2013 – 2016.

“Fasilitas pendidikan sangat minimalis. Satu gedung sekolah digunakan untuk SD, SMP, SMA dan SMK. Nanti bergantian waktunya antara jam pagi dan jam siang,” kata Anisa.

Sependapat dengan Anisa, Rahayu Setiyaningrum yang berkesempatan menjadi tenaga pendidik di Kampung Besiq, Kecamatan Damai, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur bahkan harus memakai sampan ketika berangkat menuju sekolah jika musim hujan datang.

“Tidak mudah namun, kami percaya banyak mutiara-mutiara yang terpendam di masing-masing daerah tertinggal ini yang mungkin adalah bibit pemimpin yang unggul dikemudian hari nanti,” tutur Rahayu.

Program gagasan Anis Baswedan ini sudah berjalan mulai dari tahun 2013 lalu, berbeda dengan program SM3T yang harus berasal dari jurusan pendidikan, pengajar muda Indonesia Mengajar diperbolehkan dari semua disiplin ilmu. “Untuk yang berlatar non keguruan, kami diberikan pembekalan seperti pelatihan penyusunan perangkat pembelajaran. Syarat calon peserta yaitu sarjana dengan IPK minimal 3,25, pernah melakukan pelatihan leadership, dan aktif dalam kegiatan sosial.”, ungkap Rahayu

Pendidikan merupakan tolok ukur kemajuan suatu bangsa. Program SM-3T, Guru Perintis maupun Indonesia Mengajar upaya mencerdaskan anak bangsa khususnya di daerah yang belum tersentuh atau minim fasilitas dari Pemerintah. Ribuan pendaftar mengikuti seleksi program-program ini setiap tahunnya membuktikan bahwa generasi muda sudah peduli dan tergerak untuk memajukan bangsa ini lewat pemerataan pendidikan di seluruh penjuru negeri ini. (NV/DN)

REKTOR UNTIDAR TANGGAPI POSITIF KETERBUKAAN ORMAWA

MAGELANG – Sebagai upaya membangun jalinan komunikasi antara ormawa dan jajaran pimpinan Universitas Tidar, Rektor Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd. menggelar acara Sosialisasi Pelaksanaan dan Pelaporan Kegiatan Kemahasiswaan, Selasa (21/06) bertempat di Borobudur International Golf & Country Club Resto, Parama Hall Lantai 2.

Tak hanya mendengarkan penjelasan namun mahasiswa diberi kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya dan mendapatkan tanggapan langsung dari pimpinan atau bagian yang bersangkutan.

“Universitas selalu mendukung kegiatan mahasiswa. Jika ada permasalahan baiknya dikomunikasikan dahulu dengan bagian yang bersangkutan sehingga bisa dicarikan solusinya,” tutur Rektor UNTIDAR.

Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd. saat memberi tanggapan kepada perwakilan BEM KM dan BLM UNTIDAR

Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd. saat memberi tanggapan kepada perwakilan BEM KM dan BLM UNTIDAR

Dalam kesempatan ini, selain perwakilan dari seluruh ormawa juga hadir para pendamping masing-masing. Saat ini terdapat 17 ormawa atau disebut juga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yaitu UKM Penelitian (PHBD), UKM Kreatifitas Mahasiswa, UKM Pers Mahasiswa, UKM Radio, UKM Bahasa Asing, UKM Bengkel Seni dan Tari, UKM Paduan Suara, UKM Olahraga dan Beladiri, UKM Mapala Sulfur, UKM Agama Islam dan MTQ, UKM Kristiani, UKM Koperasi Mahasiswa, UKM Mahasiswa Wirausaha, UKM Resimen Mahasiswa, UKM Pramuka, UKM Korps PMI, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Badan Legislatif Mahasiswa (BLM).

Selain Rektor, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Bambang Kuncoro. M.Si., dan Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan, Drs. Hery Suroso, S.T., M.T juga ikut memberi penjelasan mengenai bebererapa permasalahan kemahasiswaan serta penjelasan alur dana untuk kegiatan organisasi.

“Waktu sudah mepet, tapi mengapa belum ada kejelasan mengenai Masimaru besok? Apakah kepanitiaan akan dijalankan seperti tahun lalu atau berbeda?,” tanya Agus Mukhlis perwakilan BEM KM.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Rektor UNTIDAR memberi kesempatan mahasiswa sebagai panitia pelaksana Masa Orientasi Mahasiswa Baru (Masimaru) 2016/2017 mendatang. Namun, tidak sepenuhnya semua dilaksanakan oleh mahasiswa tetap nantinya ada beberapa dosen atau staf yang dilibatkan untuk mengawasi jalannya acara.

Rama Sudjana, perwakilan BLM memaparkan bagaimana prosedur pembentukan UKM yang baru. Pada pelantikan BEM, BLM dan pendamping Mei lalu tiba-tiba muncul beberapa UKM baru sedangkan yang selama ini mahasiswa ketahui bahwa dalam pembentukan UKM baru perlunya percobaan dahulu selama masa tertentu.

Mahasiswa perwakilan ormawa menikmati menu buka bersama seusai acara.

Mahasiswa perwakilan ormawa menikmati menu buka bersama seusai acara.

Seusai acara ini, seluruh tamu undangan berbuka bersama dengan menu yang sudah disediakan panitia. Mahasiswa dan dosen menikmati menu berbuka sambil bercakap-cakap santai. Acara ini diharapkan membuat mahasiswa, pendamping, dosen maupun jajaran pimpinan UNTIDAR lebih akrab sehingga kedepannya dapat membangun komunikasi yang lebih baik. (DN)

PKMK 2016 : MIMIK BALON PERINTIS SUVENIR RAMAH LINGKUNGAN

Sempat dikunjungi Walikota Magelang, Sigit Widyonindito pada Kedu Expo 2016 lalu, Miniatur Mobil Antik dari Limbah Paralon disingkat menjadi Mimik Balon mendapat apresiasi yang positif. Menurut penuturan Sigit saat itu, sebuah produk harus memiliki nilai seni tinggi, berkualitas dan memiliki ciri khas atau keunggulan dibanding produk lain sehingga mudah dilirik konsumen.

Produk hasil Program Kreatifitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKMK) yang lolos seleksi Dikti Februari 2016 lalu ini cukup mencuri banyak perhatian pengunjung.

“Banyak yang mengira miniatur mobil antik ini dibuat dari kayu padahal sebenarnya dari pralon bekas,” kata Taufik.

PKMK dengan judul Mimik Balon (Miniatur Mobil Antik dari Limbah Pralon) Perintis Suvenir Ramah Lingkungan ini beranggotakan 3 orang yaitu Sita Naili Solihah sebagai Ketua (PBI/FKIP), Taufik Hidayat (Agroteknologi/FP) dan Serli Briliantika (PBI/FKIP). Mengaku terinspirasi dari tayangan televisi tentang pengolahan limbah pralon menjadi vas bunga, Taufik dan teman-teman sekelompoknya mencoba mencari ide lain.

Limbah pralon merupakan jenis limbah non organik yang tidak bisa membusuk ditanah. Pengolahan limbah pralon ini diharapkan mampu mengurangi jumlah limbah serta memanfaatkannya menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi.

“Agar dapat dibentuk bermacam-macam maka pralon dibakar kemudian dijadikan lempengan-lempengan yang bisa dipotong sesuai desain,” jelas Taufik.

Taufik “Aveq” Hidayat saat menjada stand Mimik Balon di Kedu Expo 2016 di samping berbagai produk olahan pralon bekas.

Taufik “Aveq” Hidayat saat menjada stand Mimik Balon di Kedu Expo 2016 di samping berbagai produk olahan pralon bekas.

Menurut satu-satunya mahasiswa semester 2 dalam kelompok PKMK Mimik Balon ini, Taufik menyatakan bahwa ide pembuatan miniatur mobil antik datang setelah produk awal yaitu miniatur mobil masa kini selesai. Warna pralon pasca dibakar menghasilkan warna coklat alami sehingga lebih cocok jika dibuat menjadi mobil antik. Belum banyak penghasil produk miniatur mobil khususnya yang terbuat dari pralon, kesempatan ini dimanfaatkan oleh Taufik dan teman-teman se-timnya.

“Awalnya inginnya hanya spesialisasi mobil kodok saja namun kini berkembang ke model mobil jadul lainnya juga,” kata Taufik.

Pemasaran produk Mimik Balon saat ini masih memanfaatkan media sosial, pameran, dan promosi dari mulut ke mulut. Produk olahan pralon bekas ini pun berkembang ke bentuk lainnya seperti tempat aqua, kapal dan setrika jadul. Produk dijual mulai dari harga Rp 30ribu sampai ratusan ribu tergantung pada ukuran dan kerumitan pembuatan.

TUMBUHKAN JIWA WIRAUSAHA, HIMEPA AJARI ANAK PANTI ASUHAN DAARUS SUNDUS MEMBUAT GELANG BAMBU

MAGELANG – Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan (Himepa) UNTIDAR bekerjasama dengan Ikatan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Indonesia (IMEPI) wilayah Jawa Bagian Tengah dan Kementrian Pengabdian, Pengembangan, dan Pemberdayaan (P3M) IMEPI Nasional menyelenggarakan kegiatan bakti sosial di Panti Daarus Sundus, Dusun Bogowati Lor, Borobudur, Kabupaten Magelang, Sabtu (11/06/2016).

“Ada diskusi, pelatihan membuat gelang bambu, hiburan dan buka bersama,” kata Muhammad Nur Khabib, Ketua HIMEPA.

Ibu dari kelompok PKK Bandongan, Salaman (baju biru) mengajarkan bagaimana membuat gelang dari bambu kepada anak panti (baju hijau) dan para peserta baksos lainnya.

Ibu dari kelompok PKK Bandongan, Salaman (baju biru) mengajarkan bagaimana membuat gelang dari bambu kepada anak panti (baju hijau) dan para peserta baksos lainnya.

Pelatihan pembuatan gelang Bambu ini melibatkan kelompok PKK Desa Bandongan, Salaman. Kedepannya, anak panti diharapkan dapat berwirausaha sendiri secara mandiri tidak hanya bergantung pada donatur semata. Gelang Bambu hasil pelatihan ini dapat dipasarkan disekitar lokasi Candi Borobudur. Hasil penjualan gelang dapat digunakan untuk membantu biaya operasional panti sehari-harinya.

“Tak hanya saat bakti sosial ini, kami sudah merencanakan untuk terus memantau perkembangan wirausaha anak panti dan memberi pendampingan untuk kedepannya,” tambah Khabib.

Fuzna Marzuqoh, dosen UM Magelang yang juga berprofesi sebagai motivator menyampaikan pentingnya sikap positif dalam berwirausaha, yakni adanya rasa khusyuk, ikhlas, pasrah dan syukur. Dosen Fakultas Kesehatan ini juga menyampaikan pentingnya manajemen sebagai awal kesuksesan berwirausaha.

Seusai penyampaian Fuzna, acara dilanjutkan dengan sharing bersama kelompok Ibu-ibu PKK Salaman mengenai usaha mereka membuat kerajinan salah satunya gelang bambu. Permasalahan-permasalahan baik manajemen, proses pembuatan hingga pemasaran dibahas satu persatu. Peserta baksos baik dosen maupun mahasiswa diberi kesempatan untuk menyampaikan pemikirannya sebagai solusi dari permasalahan kelompok PKK tersebut.

Background ilmu kita, Ekonomi Pembangunan, kebetulan erat kaitannya dengan wirausaha dan perkembangan ekonomi diharapkan saran teman-teman dapat membantu,” tutur Khabib.

Bakti sosial kali ini dihadiri para dosen Fakultas Ekonomi Untidar, perwakilan IMEPI Jabagteng yang berasal dari UKSM, UNNES, UMY, UII dan Atmajaya Yogyakarta. Sedangkan Trisakti dan IPB sebagai perwakilan IMEPI Nasional. Program tahunan IMEPI yang sebelumnya diadakan di Semarang (UNNES) kali ini untuk pertama kalinya UNTIDAR berkesempatan menjadi tuan rumah. Selain buka bersama, hasil penggalangan dana selama 1 bulan terakhir diberikan dalam wujud bantuan alat tulis, perlengkapan ibadah serta baju pantas pakai untuk anak-anak dan pengelola panti asuhan.

HASAN SYUKRON DAN TIMNYA SIAP OLAH KALENG BEKAS HARGA RIBUAN JADI RATUSAN RIBU RUPIAH

Proposal Program Hibah Bina Desa (PHBD) tim BEM KM Universitas Tidar dengan judul “Pemberdayaan Kaum Marjinal Berbasis Ekonomi Kreatif dengan Sistem Bank Limbah di Kelurahan Rejowinangun Utara, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang Melalui Daur Ulang Limbah Kaleng Bekas Menjadi Aneka Replika Binatang” berhasil lolos seleksi Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Dari puluhan proposal yang dikirimkan, proposal ini adalah satu-satunya yang lolos untuk didanai.

Tim PHBD UNTIDAR 2016 terdiri dari 6 orang anggota yaitu Hasan Syukron (PBSI/FKIP) sebagai ketua tim, Rachma Listia Hidayat (AN/Fisipol), Rohman Muhammad Pradana (PBSI/FKIP), Hanafi Isnanta Prabawa (Sipil/FT), Ani Arina (EP/FE) dan Mayrida Miratista (PBI/FKIP). Keseluruhan tim adalah mahasiswa angkatan 2015 yang pada saat ini masih duduk di semester 2. “Mahasiswa sekarang itu sangat aktif dan kreatif. Walau terhitung masih baru tapi diluar dugaan proposal merekalah yang berhasil didanai Dikti,” kata Rangga Asmara, S.Pd., M.Pd. selaku dosen pendamping.

PHBD adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa melalui Ikatan Organisasi Mahasiswa Sejenis (IOMS), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan/ BEM. Mahasiswa pelaksana PHBD diharapkan mampu menumbuhkan rasa peduli dan berkontribusi kepada masyarakat di desa agar terbangun desa binaan yang aktif, mandiri, berwirausaha dan sejahtera.

Syukron sempat membuat pengumuman di grup Facebook Mahasiswa UNTIDAR angkatan 2015 untuk mencari mahasiswa lain yang mempunyai ketertarikan yang sama dengannya yaitu dalam penulisan ilmiah. Seiring berjalannya waktu maka terkumpulah 5 anggota lain dari berbagai jurusan yang sepakat membuat proposal PHBD bersama.

“Inspirasi dari sebuah tayangan tentang pengolahan limbah kaleng oleh Bapak Kusnudin dari Borobudur Magelang,”kata Syukron.

3

Proposal Tim PHBD UNTIDAR 2016 Didanai Kemristekdikti, 2

Pengolahan kaleng bekas ini berbeda dengan pengolahan kaleng biasanya. Kaleng bekas bekas akan disulap menjadi berbagai replika binatang. Ada beberapa proses yang harus ditempuh mulai dari pemotongan, pemlintiran dan penempelan potongan kaleng tersebut pada blok kayu yang bentuknya telah disesuaikan. “Walaupun terkesan rumit, tapi dari proses ini kaleng bekas yang hanya dihargai seribuan per buahnya akan meningkat nilainya hingga menjadi ratusan ribu per produknya,” jelas Mayrida.

Satu replika binatang kurang lebih membutuhkan 10 kaleng bekas ukuran sedang, dari modal untuk pembelian kaleng sekitar Rp 20ribu maka jika produk sudah jadi bisa dipasarkan mulai dari Rp 200ribu bahkan lebih.

Rejowinangun Utara

Kelurahan Rejowinangun Utara, Magelang Tengah, Kota Magelang yang memiliki 21 dusun yang terdiri dari 21 Rukun Warga (RW) dan 91 Rukun Tetangga (RT). Kegiatan pelatihan direncanakan akan dipusatkan di Dusun Nambangan karena lokasinya strategis yaitu dekat dengan sumber limbah kaleng dan jalan utama Kecamatan Magelang Tengah.

“Nambangan tidak terlalu jauh dari Pasar Rejowinangun dan lokasi para pengepul kaleng bekas sehingga mempermudah dalam proses kegiatannya nanti,” kata Syukron.

Dalam bidang pendidikan, menurut data dari Kelurahan Rejowinangun Utara, penduduk yang bersekolah berjumlah 571 orang (59,85%) sedangkan penduduk yang tidak bersekolah berjumlah 383 orang (40,14%). Dapat disimpulkan rata-rata tingkat pendidikan pendudukanya rendah. Daerah ini dikenal sebagai daerah dengan masyarakat homogen dan mayoritas berada pada ekonomi menengah ke bawah.

Program PHBD ini akan melibatkan 60 orang terdiri dari 10 orang pelaksana dan 50 orang peserta. Target peserta adalah kalangan anak-anak putus sekolah dan pemuda pengangguran usia produktif di wilayah Kelurahan Rejowinangun Utara. Tujuannya agar terciptanya masyarakat yang mandiri, meningkatkan perekonomian serta memberantas kemiskinan.

Didanai 40 Juta Rupiah

“Jika dana sudah cair, bulan Juni ini segera kami jalankan tahap awal program ini yaitu sosialisai,” tutur Syukron.

Menurut pengumuman Dikti pada Selasa (31/05/2016) lalu, tim PHBD UNTIDAR yang semula mengusulkan dana sejumlah Rp 45 juta akhirnya ditetapkan mendapat pendanaan sebesar Rp 40 juta. Dana ini akan dipergunakan selama kurang lebih 7 bulan mulai dari tahap sosialisasi sampai penyusunan laporan akhir.

Dalam pelaksanaanya, kegiatan ini merangkul beberapa mitra diantaranya Kelurahan Rejowinangun Utara, UPTD Pasar Rejowinangun, LPPM-PMP UNTIDAR serta Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kota Magelang.

“Tidak hanya melatih kami juga akan membantu pemasaran produk bahkan jika dibutuhkan kami akan tetap mendampingi para peserta setelah seluruh rangkaian PHBD berkahir,” tambah Syukron.

Program pengabdian masyarakat seperti ini diharapkan mampu melatih dan menumbuhkan jiwa sosial para mahasiswa. Tidak hanya mampu meraih prestasi akademik namun mahasiswa diharapkan mampu terjun langsung ke masyarakat untuk membantu memecahkan permasalahan yang ada.

NGABUBURIT, MAHASISWA UNTIDAR JUALAN TAKJIL

MAGELANG – Mencari kegiatan positif di sela-sela perkulihan, beberapa mahasiswa UNTIDAR mencoba peruntungan mereka dalam berwirausaha yaitu berjualan takjil atau menu buka puasa di Alun-alun Kota Magelang.

“Tujuannya untuk melatih memasarkan produk dan tentunya mendapat keuntungan,” tutur Khofsoh, salah satu penjual takjil dari kelompok IbK UNTIDAR.

Mahasiswa IbK sedang menjual brownies ke salah satu pengunjung di Alun-alun Magelang.

Mahasiswa IbK sedang menjual brownies ke salah satu pengunjung di Alun-alun Magelang.

Selain IBK, ada juga BEM KM, Himagro, dan Grandio Sonora Tidar yang juga ikut meramaikan pasar takjil dadakan yang ada selama Bulan Ramadhan ini. Mahasiswa sudah memulai berjualan takjil dari hari pertama puasa, Senin (06/06/2016) di sepanjang trotoar dari depan Klenteng sampai Bank Jateng.

“Khusus BEM KM, laba menjual es buah ini kami kumpulkan untuk bakti sosial,” tutur Oke Amar Saputra, Humas BEM KM.

Menu Takjil yang dijual oleh kelompok paduan suara Grandio Sonora Tidar.

Menu Takjil yang dijual oleh kelompok paduan suara Grandio Sonora Tidar.

Menu yang ditawarkan pun beragam mulai dari es dawet, es buah, gorengan, jenang mutiara, kolak, puding, donat, brownies, susu jagung, dan masih banyak lainnya. Beberapa diantaranya mengganti menu julan tiap 2 atau 3 hari sekali. Harga yang ditawarkan pun ramah di kantong mahasiswa berkisar Rp 600 – Rp 4000. Selain berjualan di alun-alun, mahasiswa penjual takjil ini juga kebanjiran order dari sesama UKM yang mengadakan buka bersama.

Persiapan dimulai sekitar pukul 3-4 sore. Setelah persiapan selesai, biasanya ada pembagian tugas untuk berkeliling menjual takjil atau menjaga stand masing-masing. Masing-masing kelompok ormawa UNTIDAR ini memiliki style masing-masing. Kelompok paduan suara, Grandio Sonora Tidar (GST) memilih lokasi di lampu merah depan Masjid Agung Magelang. Ketika lampu bewarna merah, beberapa anggota menjajakan daganganya kepada pengendara yang sedang berhenti sedangkan yang lainnya mengawasi jika waktu lampu merah hampir habis. “Itung-itung cari tambahan buat ke Italia,” kata Ginanjar.

GST mendapat undangan untuk mengikuti kompetisi paduan suara ke Italia pada Juni 2017. Setelah tahun kemarin gagak berangkat karena kurang dana. Maka tahun ini mereka berusaha keras untuk mencari dana salah satunya dengan berjualan takjil ini.

Universitas Tidar mendukung mahasiswa yang berkeinginan berwirausaha. Selain mendapatkan keuntungan, lewat berbagai kegiatan wirausaha seperti berjualan takjil ini mahasiswa berlatih bagaimana berhadapan langsung dengan konsumennya.

PERKUAT UNSUR “WHY” MAKA BERIBADAH AKAN LEBIH MAKSIMAL

MAGELANG – Takmir Masjid Mambaul Ulum UNTIDAR bekerjasama dengan Ikatan Sarjana Wanita Indonesia (ISWI) Kota Magelang menggelar pengajian kemuslimahan, Jumat (10/06/2016) dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramdhan.

Ustadzah Emy Mursyidawati menguraikan pentingnya tauhid sebagai landasan ibadah di depan puluhan dosen, karyawan dan perwakilan ISWI yang hadir di Masjid Mambaul Ulum. Pengajian kali ini mengangkat tema tauhid.

“Kadang kita terlalu fokus pada HOW & WHAT tapi kurang dalam WHY-nya sehingga masih saja meremehkan ibadah sampai solat wajibnya bolong-bolong,” tutur Emy.

Dalam kehidupan sehari-hari terutama pada Bulan Ramadhan, mengapa beberapa diantara kita yang meninggalkan solat karena terlalu sibuk asik mengobrol pada acara buka bersama atau “silau” dengan diskon di pusat perbelanjaan. Hal ini dikarenakan “WHY” atau alasan mengapa kita harus beribadah masih belum kuat.

Dalam QS. Muhammad ayat 19, Allah SWT mengisahkan pada kita bahwa sesungguhnya tidak ada “illah” selain Allah. Dasar inilah yang harusnya mulai kita tanamkan dalam pikiran dan hati. Hakikat manusia diciptakan hanyalah untuk beribadah kepada penciptanya yaitu Allah SWT.

“Kalau akar ibadah kita kuat maka Insya Allah batang, daun dan buahnya akan tumbuh subur. Kalau kita sudah mengerti betul, menanamkannya dengan baik dalam diri kita masing-masing maka ibadah akan terasa ringan,” tambah Emy.

Para muslimah dari dosen, karyawan dan perwakilan ISWI menyimak penjelasan “WHY” kita harus beribadah dari Ustadzah Emy.

Para muslimah dari dosen, karyawan dan perwakilan ISWI menyimak penjelasan “WHY” kita harus beribadah dari Ustadzah Emy.

BUDIONO AJAK MAHASISWA NYENGKUYUNG ACARA PADUSAN WARGA

Sudah menjadi ritual atau kebiasaan umat muslim di Indonesia melakukan padusan (mandi besar) saat menjelang bulan Ramadhan. Padusan yang merupakan peninggalan masa islamisasi walisongo ini bertujuan membersihkan dan mempersiapkan diri dalam menjalankan puasa.

Sehari menjelang Ramadhan, Minggu (05/06/2016) bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup, UNTIDAR bekerjasama dengan warga Potrosaran Magelang menyelenggarakan acara padusan.

“Bukan sekedar padusan biasa, kami mencoba nyengkuyung acara yang diselenggarakan masyarakat sekitar kampus,” kata Drs. Budiono, M.Pd.

Tirta Hayuning Bawono diangkat sebagai tajuk acara ini. Tirta atau air merupakan sumber penghidupan manusia. Tidak hanya digunakan untuk makan atau minum namun air juga digunakan untuk membersihkan diri. Sayangnya, manusia kadang lupa arti penting air tersebut bahkan terkadang sia-sia dalam memanfaatkannya.

Bersama ES Wibowo salah satu seniman Kota Magelang yang merupakan Ketua Padepokan Gunung Tidar, Budiono dan beberapa mahasiswa menyusuri Kali Bening membawa bambu dan kendi. Bambu yang dilobangi dibeberapa sisi akan mengalirkan air ke segala penjuru bermakna bahwa air sebagai sumber penghidupan manusia. Kendi digunakan sebagai media padusan sedangkan Kali Bening sebagai contoh “sumber” air yang perlu dilindungi dari perlakuan yang semena-mena orang-orang sekitar sebagai tempat pembuangan sampah.

“Bertepatan dengan hari lingkungan Hidup, warga seharusnya menjaga kebersihan sungai sehingga seperti namanya Kali Bening, sungai ini bersih dari sampah dan bewarna bening. Kedepannya warga bisa padusan bersama di sungai ini,” kata ES Wibowo.

Harmonisasi Sosial

UNTIDAR sebagai kampus seribu jendela diharapkan dapat menjadi sumber segala ilmu. Tidak hanya akademik namun mampu berkontribusi dalam berbagai kegiatan terutama yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar kampus.

“Tidak hanya numpang manggon tapi kampus harusnya memposisikan diri sebagai tangga teparo yang siap berkontribusi kepada sekitarnya,” tutur Budiono.

Menurutnya, acara seperti ini merupakan upaya ‘memartabatkan’ kampus. Tidak hanya selalu menjadi penonton namun menyentuh langsung kegiatan masyarakat. “Banyak pakar ilmu di UNTIDAR yang bisa diterjunkan langsung untuk mengatasi berbagai masalah masyarakat,” tambah Dosen PBSI FKIP UNTIDAR ini yang juga pernah penjabat sebagai Dewan Kesenian Magelang.

Peserta acara padusan berkumpul di kampus UNTIDAR mengenakan baju kebaya dan lurik lengkap dengan blangkon.

Peserta acara padusan berkumpul di kampus UNTIDAR mengenakan baju kebaya dan lurik lengkap dengan blangkon.

Dalam acara padusan ini, puluhan mahasiswa PBSI dan Administrasi Negara UNTIDAR menggunakan pakaian tradisional Jawa yaitu kebaya untuk perempuan dan kain lurik atau beskap lengkap dengan blangkon untuk laki-laki bersama dengan warga Potrosaran berjalan bersama dari Kampus menuju lokasi Kali bening di Dumpoh.

“Tidak diwajibkan. Cukup banyak teman-teman mahasiswa yang ikut bepartisipasi bahkan sudah mempersiapkan diri dengan kebaya padahal tetap harus berjalan kaki,” kata Sri Kiswo Mukti, salah satu mahasiswa PBSI semester 4.

Baginya kegiatan semacam ini perlu ditingkatkan kembali. Bahkan jika perlu tidak hanya mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Bapak Budiono namun juga mahasiswa lainnya. Pelibatan mahasiswa dipandang mampu menumbuhkan rasa cinta pada seni dan meningkatkan jiwa sosial masing-masing individu. Banyak mahasiswa dewasa ini kurang peduli dengan tradisi asli nenek moyang mereka salah satunya seperti padusan ini dan tentunya menyadarkan mereka untuk lebih bijak memanfaatkan air di kemudian hari.