FILM “TABU KARYA MAHASISWA UNTIDAR JUARA DI LOMBA FILM PENDEK UGM

Film pendek berjudul “Tabu” karya mahasiswa Universitas Tidar mendapatkan gelar juara 1 kategori pelajar dalam Lomba Film Pendek Inahelath TV, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada. Film yang mengangkat tentang permasalahan gangguan kesehatan mental, depresi.

“Penyakit depresi kadang hanya dianggap masalah yang sepele padahal jika dibiarkan bisa saja berujung pada hilangnya nyawa seseorang,” ungkap Ahmad M. Ghufar, Ketua Tim.

Film pendek “Tabu” berisi kisah hidup Joko yang merupakan seorang pemuda yang tengah dirundung masalah yang menyebabkan kesehatan mentalnya terganggu. Depresi sangat menyakitinya, ia telah mencoba bercerita ke beberapa orang. Akan tetapi, bukannya diberi solusi, Joko justru dicap dan dihakimi.

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) semester 5 ini terinspirasi dari pengalaman pribadinya yang pernah mengalami depresi karena beberapa masalah pribadi.

“Stres dan depresi tentunya semua orang juga pernah mengalami. Tetapi tidak semuanya menemukan jalan keluar bahkan ada yang memilih mengakhirinya dengan cara-cara negatif maka itu kami mengajak semua penonton film ini lebih ‘aware’ kembali dan mencegah hal-hal buruk terjadi,” tambahnya.

Ahmad tidak menyangka bahwa film pendek yang pertama kalinya dibuat bersama 3 orang temannya Yusuf Yulianto (Pendidikan Bahasa Inggris), Ahmad Choirul (teknik Mesin), dan Arif Yusuf (Pendidikan Bahasa Inggris) sesama mahasiswa UNTIDAR ini berhasil menyabet gelar juara. Proses pembuatan film hanya 9 hari, dari mulai proses penulisan alur cerita, produksi hingga editing.

Tidak ada dari keempat mahasiswa ini berasal dari background ilmu cinematografi hanya bermodalkan hobi foto dan video mereka dibantu 2 talent yaitu Kholid Firdausi (Pendidikan Bahasa Inggris) dan Nency Wulan (Administrasi Negara) dalam mengerjakan film pendek ini.

“Komunitas film pendek di UNTIDAR sudah memulai geliatnya. Mereka mulai menunjukkan eksistensinya baik di dalam maupun di luar kampus. Salah satunya film “Tabu” ini, juara 1 yang diraih oleh Ahmad dkk merupakan hasil kerja dan karya nyata. Bukan hanya sekadar wacana dan klaim semata,” jelas Imam Baihaqi, S.Pd., M.A., Dosen PBSI, FKIP, UNTIDAR.

Kedepannya, Ahmad berharap lebih banyak lagi mahasiswa UNTIDAR yang tertarik dengan dunia cinematografi dan bisa bergabung dengannya untuk membuat sebuah komunitas. “Jangan takut tidak bisa, tidak punya alat tetapi ayo bertemu dahulu, sharing dan belajar bersama membentuk sebuah komunitas cinematografi UNTIDAR,” pungkas Ahmad. (DN)

MONEV BIDIKMISI UNTIDAR 2018 KUNJUNGI RUMAH MAHASISWA DIFABEL

Penerima Beasiswa Bidikmisi Universitas Tidar (UNTIDAR) tahun 2018 berjumlah 214 mahasiswa. Plt. Rektor, Prof. Drs. John Hendri, M.Si., Phd. mengadakan kunjungan ke rumah salah satu mahasiswa Universiats Tidar di Desa larangan Lor, Kecamatan Garung , Kabupaten Wonosobo Sabtu (10/11) lalu. Kunjungan ini dalam rangka monitoring dan evaluasi (Monev) mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi tepat guna.

Tri Maya Wahyu merupakan mahasiswi yang mendapat kunjungan tersebut. Mahasiswa penerima bidikmisi itu lolos melalui jalur SBMPTN dan diterima menjadi mahasiswa periode angkatan 2018/2019 di Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan dalam Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Alumni Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Wonosobo tersebut merupakan mahasiswi penyandang keterbatasan fisik dan berasal dari keluarga dengan ekonomi yang kurang. Sebagai penyandang difabel (different ability) Maya merupakan satu-satunya warga Larangan Lor yang melanjutkan kuliah ke tingkat strata satu dan menerima beasiswa bidikmisi. Difabel memiliki pengertian akan keadaan seseorang yang memiliki fisik atau sistem biologisnya berbeda dengan orang lain pada umumnya.

“Kami harap akan ada Maya lainnya untuk meneruskan pendidikan, dengan tekad dan informasi yang ada menjadi pintu seseorang untuk berani melangkah ke jenjang pendidikan tinggi memperbaiki taraf hidupnya”, kata John Hendri.

Beliau menambahkan penerima beasiswa bidikmisi diutamakan bagi pendaftar yang memiliki kemampuan belajar baik namun kekurangan dalam perekonomian juga bagi penyandang disabilitas. Disabilitas yang dapat diterima belum keseluruhan, contohnya untuk penyandang tuna rungu belum tersedia tenaga pengajarnya.

“Untuk penyandang disabilitas yang mendaftar melalui jalur bidikmisi akan diprioritaskan namun juga dilihat pendaftar yang memang memiliki kemampuan belajar baik namun kurang beruntung dalam keadaan ekonomi”, tambahnya.

Kepala desa Larangan Lor, Budi Handoyo juga turut menjelaskan untuk warga desanya saat ini kebanyakan masih berpendidikan di tingkat SMA dan dengan adanya Maya dapat menjadi contoh bagi warga lainnya untuk tutur memperhatikan pentingnya pendidikan.

“Dengan berhasilnya maya masuk ke universitas tidar dapat menjadi inspirator bagi warga lain untuk memperhatikan pendidikan, bukan hanya untuk mencari pekerjaan namun untuk memperbaiki taraf hidup dirinya dan keluarga”, jelasnya.

Dalam kegiatan ini turut ikut serta Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Joko Widodo, M.Pd.; Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan, Drs. Hery Suroso, S.T., M.T; Dekan Fakultas Pertanian, Ir. Gembong Haryono, M.P.; Dekan Fakultas Teknik, Ir. Kun Suharno, M.T.; Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Dr. Samodra Wibawa, M.Sc.; Kepala Biro Umum dan Keuangan, Among Wiwoho, S.E., M.M.; Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan dan Kerjasama, Drs. Giri Atmoko, M.Si. dan Kepala Bagian Akademik dan Kemahasiswaan, David Budhi Hartono, S.E. (HDN)

PENGUMUMAN HASIL LOLOS SELEKSI ADMINISTRASI CPNS KEMRISTEKDIKTI TAHUN 2018 DI LINGKUNGAN UNTIDAR

Pengumuman CPNS Seleksi Administrasi Kemenristekdikti



Daftar CPNS Lolos Seleksi Administrasi di UNTIDAR



Daftar CPNS Lolos Seleksi Adminstrasi (Semua)



SEMINAR TOI KE-55 : MAKSIMALKAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TUMBUHAN INDONESIA MENUJU KEMANDIRIAN BAHAN BAKU OBAT

Universitas Tidar bekerjasama dengan Kelompok Kerja Nasional Tumbuhan Obat Indonesia menyelenggarakan Seminar Tumbuhan Obat Indonesia (TOI) ke-55 pada Rabu-Kamis, 17-18 oktober 2018 di Grand Artos Hotel & Convention, Magelang.

Sebagai negara tropis, Indonesia merupakan negara dengan mega-biodiversitas yang telah diakui dunia. Keragaman hayati, baik tanaman maupun hewan merupakan bahan baku untuk obat tradisional maupun obat modern.

Siswanto, MHP, DTM, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) menuturkan Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional (Balai Litbang TOOT) melalui studi RISTOJA (etnofarmakologi) telah berhasil mengidentifikasi 2.848 spesies tumbuhan obat, dengan klaim secara tradisional yang beragam.

“Tumbuhan tersebut mulai dari obat panas, obat batuk, obat diare, obat malaria, dan lain-lain. Meskipun klaim ini belum tentu tepat secara ilmiah, ini merupakan potensi yang luar biasa untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat tradisional, baik sebagai jamu, obat herbal terstandar, maupun fitofarmaka,” katanya saat membacakan sambutan dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp. M(K).

Di samping sebagai obat tradisional, hasil studi etnofarmakologi tersebut juga bisa dikembangkan menjadi obat modern, baik melalui isolasi bahan aktif maupun melalui teknik biofarming (rekayasa genetik). ”Maka itu penelitian dan pengembangan tumbuhan obat Indonesia berpotensi besar menuju kemandirian bahan obat. Diluar dari semua itu, perlu diperhatikan bahwa hasil produk nantinya dapat dipasarkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia,” tambahnya.

Wakil Walikota, Dra. Windarti Agustina Magelang dan Plt. Rektor Univeritas Tidar, Prof. Drs. John Hendri, M.Si., Ph.D. yang turut hadir dalam pembukaan Seminar TOI ke-55 ini menyatakan dukungannya dalam pengembangan tumbuhan obat Indonesia.

“Pemerintah Kota Magelang mengapresiasi kegiatan ini dan berharap akan muncul gagasan atau pemikiran baru tentang tumbuhan obat yang bisa dimanfaatkan kedepannya,” tutur Ibu Wakil Walikota.

Kurangnya perhatian terhadap tumbuhan obat menyebabkan masih banyak bahan baku obat yang diimpor dari luar negeri. Maka itu, seminar, penelitian dan pengembahan tumbuhan obat harus lebih digalakkan kembali.

“Perbedaan obat herbal dengan obat modern adalah, jika obat modern hanya memiliki zat akfif tunggal. Sedangkan obat herbal berasal dari ekstrak tumbuhan yang terdiri dari beberapa bahan aktif di dalamnya jadi 1 tanaman bisa memiliki beberapa manfaat,” jelas Plt. Rektor UNTIDAR.

Selain itu, pada seminar yang diikuti 300 peserta dari 60 instansi yang berasal dari 20 provinsi di Indonesia ini Dinas Pertanian provinsi jawa Tengah juga turut membuka tangan jika nantinya terwujud program pengembangan tumbuhan obat yang akan dilakukan pasca seminar ini.

Pada seminar ini, tumbuhan obat dibahas dalam berbagai sudut pandang dengan beberapa narasumber/ahli sesuai bidangnya diantaranya : Bidang Kebijakan oleh Deputi Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, BPOM RI, Dra. Rr. Maya Gustina Andarini, Apt., M.Sc.; Bidang Ekonomi oleh Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia (GPI), Dra. Riana Sitorus, Apt.; Bidang Kesehatan oleh Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR dari Fakultas kedokteran, Universitas Gadjah Mada.; Bidang Sosial Budaya oleh Budayawan Sutanto Mendut.; Bidang Teknik Budidaya disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Provinsi Jawa Tengah.

Selain itu, pada seminar ini dikemukaan hasil penelitian tumbuhan Kelembak (rheum officinale Baili) dan Nagasari (Mesua Ferrea L.) serta review Hasil Penelitian tentang Pare (Momordica charantian L.) oleh Prof. Gemini Alam, M.S., Apt.

ROADSHOW ANTIKORUPSI KPK KE UNTIDAR

Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) melakukan roadshow ke kota-kota dalam mengedukasi dan mengkampanyekan gerakan antikorupsi di masyarakat. Kegiatan ini sudah dimulai sejak bulan september dengan mendatangi institusi pendidikan ke daerah-daerah. Universitas Tidar berkesempatan mendapatkan kunjungan itu dan pada Jumat (19\11) lalu di gedung auditorium Untidar digelar Kuliah Umum Antikorupsi dengan tema jelajah negeri bangun antikorupsi.

Roadshow Antikorupsi itu berlangsung di ruangan auditorium Universitas Tidar (Untidar) pada Jumat (19/11) lalu dengan moderator  Sholihul Hakim, S.H., M.H., Dosen Ilmu Hukum Untidar.

Disambut oleh Wakil Rektor Bidang akademik, Prof. Dr. Joko Widodo, M.Pd. mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas kepercayaan KPK melibatkan instansi pendidikan dalam roadshow antikorupsi. “Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan KPK dengan melibatkan mahasiswa untuk ikut berpartisipasi dalam roadshow ini”, katanya.

Dalam sambutannya, Ia juga mengatakan pentingnya untuk membangun mahasiswa. Mahasiswa merupakan generasi muda, karena untuk membangun negeri ini memerlukan seluruh komponen masyarakat bukan pejabatnya saja. Masyarakat juga terdiri dari anak muda yang menjadi pondasi dalam membangun negeri maka butuh kekuatan mental dan komitmen melalui regulasi.

“Saat ini untuk membangun negeri harus menyeluruh dengan melibatkan masyarakat bukan hanya pejabat dan membangun membutuhkan mental dan komitmen melalui adanya regulasi, untuk itu  anak muda bagian dari masyarakat yang menjadi pondasi dalam membangun negeri”, katanya.

Sambutan tersebut juga diperjelas dalam materi roadshow KPK  oleh Saut Situmorang selaku Wakil Ketua KPK. Ia menjelaskan KPK merupakan suatu bagian dari pondasi untuk membangun negeri dari kepentingan mencegah tindakan korupsi, kolusi serta nepotisme dikalangan pejabat pemerintah. “ KPK hanya satu dari tiang pondasi  dari keseluruhan pondasi yang dibangun sama-sama untuk membangun negeri”, jelasnya.

Harapan dengan adanya roadshow ke institusi pendidikan akan menjadi penguat pondasi untuk menanamkan sikap antikorupsi dikalangan masyarakat. Melalui mahasiswa kita dapat memberikan edukasi yang nantinya kampanye antikorupsi lebih mudah tersebar dikalangan masyarakat. “Mahasiswa adalah generasi muda yang menjadi tongkat zaman di era saat ini, melalui eduaksi langsung ini dapat mempermudah kampanye antikorupsi di kalangan masyarakat luas”, tambahnya. (HDN)