PKMT : SI PINTOR TINGKATKAN PENDAPATAN PENGOLAH EMPING DUSUN JAMUS PASAR HINGGA 300%

Si Pintor merupakan mesin pemipih melinjo metode roll karya mahasiswa teknik UNTIDAR yang mampu menghasilkan 36 kg emping dalam kurun waktu 4 jam. Alat ini diperhitungkan dapat meningkatkan produksi emping warga Dusun Jamus Pasar, Desa Jamus Kauman, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang yang pada saat ini hanya mampu menghasilkan 12 kg emping dalam 8 jam dengan metode manual. Melimpahnya pohon melinjo yang di wilayah ini membuat sebagian warganya bermata pencaharian sebagai pengolah melinjo menjadi emping.

“Si Pintor mampu meningkatkan pendapatan warga dari Rp 30.000 – Rp 80.000 menjadi sekitaran Rp 240.000 per harinya berbanding lurus dengan peningkatan hasil emping per harinya,” tutur Hidayatulloh.

Dayat yang juga merupakan ketua PKMT “Si Pintor” Mesin Pemipih Melinjo dengan Metode Roll terus melakukan perbaikan serta peningkatan beberapa komponen agar kedepannya alat ini dapat menjadi solusi peningkatan penghasilan para pengolah emping khususnya di Dusun Jamus Kauman.

Pembuatan emping melinjo secara manual hanya menghasilkan 12 kg emping per hari yang dikerjakan selama 8 jam.

Pembuatan emping melinjo secara manual hanya menghasilkan 12 kg emping per hari yang dikerjakan selama 8 jam.

“Proses pemipihan melinjo secara manual membutuhkan stamina prima karena membutuhkan banyak tenaga jika, warga sakit maka pengolahan emping terhenti begitu juga pendapatan mereka,” kata Dayat.

Bersama ketiga temannya, Aris Priyatmoko, Azwar Anaz Suganda dan Dian Fery Himawan, Dayat terus melakukan perbaikan dan pengembangan Si Pintor. Perbaikan berupa pemberian sekat pengatur pada konveyor sehingga masuknya biji melinjo ke dalam hopper dapat disesuaikan, pemberian cover body agar dalam penggunaannya tidak membahayakan dan pemasangan roda pada kaki rangka mesin agar lebih mudah untik dipindahkan. (Alex-Maulida-Saraya Mg/DN)

PKMT 2016 : SI JAMBRONG, BAKAR JAGUNG & BERONDONG JADI LEBIH MUDAH

Danang Henri Wibowo, Miftahkul Khoir, Ikhwan Widjanarko dan Fitri Alfiana membuat sebuah alat inovasi dimana membakar jagung dan membuat berondong bisa dilakukan dalam waktu dan alat yang sama. Alat ini dinamakan “SI JAMBRONG” yaitu singkatan dari mesin sate jagung dan berondong.

Ide pembuatan Si Jambrong bermula dari survey dan observasi lapangan di wisata alam Ketep Pass. Berwisata di obyek andalan Kabupaten Magelang ini tidak lengkap jika belum mencoba jajanan khasnya yaitu jagung bakar dan berondong. Mayoritas masyarakat sekitar obyek wisata ini bermata pencaharian sebagai penjaja jagung yang tergabung dalam POK DARWIS “Kelompok Sadar Wisata Jelita”. Dalam kesehariannya, para penjaja jagung masih menggunakan sistem manual dalam proses pembakarannya sedangkan berondong mereka hanya menjualkan kembali belum dapat memproduksi sendiri karena keterbatasan alat.

Si Jambrong dilengkapi motor listrik untuk menggerakkan tuas pembakar jagung dan berondong sekalgus dilengkapi kipas untuk menjaga kestabilan panas bara api.

Si Jambrong dilengkapi motor listrik untuk menggerakkan tuas pembakar jagung dan berondong sekalgus dilengkapi kipas untuk menjaga kestabilan panas bara api.

“Si Jambrong diharapkan dapat membantu penjualan jagung bakar dan berondong. Alat ini lebih efisien, higienis dan praktis, tidak perlu berbagai alat yang terpisah seperti tempat bakar sate, kipas dll tapi kini hanya cukup satu alat saja,” tutur Danang.

Prinsip kerja Si Jambrong yaitu dengan cara menancapkan jagung pada tangkai pembakar jagung. Berondong dimasukkan ke bagian tabung yang berkaitan dengan tangkai pembakar jagung. Ketika tuas diputar maka baik jagung maupun berondong ikut berputar. Alat ini dilengkapi juga dengan kipas angin sehingga tetap menjaga panas pembakaran dimana bahan bakar utama tetap menggunakan arang. Si Jambrong dilengkapi dengan motor listrik sebagai penggerak utama. Kecepatan putaran motor listrik (900 rpm) direduksi menjadi 10 rpm atau sesuai dengan kebutuhan proses pembakaran jagung dan pembuatan berondong. Proses reduksi menggunakan steker kontroler.

Si Jambrong adalah salah satu hasil Program Kreatifitas Mahasiswa Penerapan Teknologi (PKMT) mahasiswa UNTIDAR yang berhasil didanai oleh Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (kemristekdikti) Tahun 2016. (Farid-Ninda Mg/DN)

PKMM 2016 : MAHASISWA TEKNIK OLAH KOTORAN SAPI JADI BIOGAS

Inovasi pengolahan kotoran sapi menjadi biogas membantu warga Dusun  Trenten di Kecamatan Candimulyo Kabupaten Magelang dalam menghemat pemakaian bahan bakar terutama gas dalam kehidupan sehari-hari.

Ide ini bermula dari hasil diskusi dengan dosen pembimbing saat mengikuti Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) 2016 lalu. Intan Mustika Gunawan, Muhamad Cahyo Ardi dan Bayu Seto Respati mengikuti PKM di bidang pengabdian masyarakat  dengan memanfaatkan limbah kotoran sapi menjadi biogas sebagai energi baru. Bukan hanya sebagai ajang mengikuti program dari Kemenristekdikti tetapi mereka juga coba memberi solusi untuk kelangkaan gas yang terjadi saat ini dengan  memanfaatkan  limbah kotoran sapi yang belum dipergunakan dengan maksimal.

“Karena semua anggota tim sangat asing dengan pengolahan biogas. Akhirnya, kami pergi  mencari tempat pengolahan biogas ke daerah Gunung Kidul Yogyakarta. Dimana, daerah tersebut merupakan daerah yang pernah mengembangkan hal serupa sebelumnya juga konsultasi dengan ahli biogas asal salatiga bapak Lilik Sudarto,S.P”, jelas Intan selaku ketua kelompok PKM-M itu.

Untuk 1-2 ekor sapi kurang lebih mengeluarkan kotoran sebanyak 10 kg setiap harinya. Dengan jumlah itu sudah cukup untuk menghidupkan kompor yang digunakan di dapur rumah tangga masyarakat. “Satu atau lebih ekor sapi sudah cukup jika digunakan untuk 1 keluarga saja, namun jika lebih dari lima ekor sapi dapat dipararelkan hasil biogasnya dan dapat digunakan lebih dari tiga keluarga”, tambah Bayu Seto selaku anggota PKM-M tersebut.

Biogas dari kotoran sapi tersebut, selain untuk keperluan rumah tangga juga dapat digunakan untuk menjalankan generator listrik. Namun jika untuk menyalakan generator listrik, dibutuhkan gas dari hasil biogas kotoran sapi yang lebih banyak sekitar 5-10 ekor sapi atau dua kali lipat dari yang dipakai untuk keperluan rumah tangga. Semakin banyak kotoran sapi yang dihasilkan, semakin maksimal pula pemanfaatannya menjadi biogas.

Drum bekas tempat pengolahan kotoran sapi.

Drum bekas tempat pengolahan kotoran sapi.

Dalam pengolahan limbah tersebut yang dibutuhkan hanya drum bekas yang sudah dimodifikasi, beberapa ember, pipa, dan tabung untuk menampung hasil biogas. Pertama kotoran sapi dimasukkan dalam drum yang telah dimodifikasi kemudian dibri zat perangsang. Setelah itu pasang pipa, agar gas dapat memisah dan mengalir mellui pipa tersebut. Gas langsung ditampung dalam wadah yang telah ditentukan untuk kembali disalurkan ke pipa gas rumah warga.

Pemilihan Dusun Trenten sendiri dikarenakan dalam dusun tersebut banyak peternak sapi. Dusun yang terletak di Kecamatan Candimulyo itu belum menggunakan limbah kotoran sapi secara maksimal, karenanya Intan dan kawan-kawan bekerja sama dengan warga desa untuk menjalankan programnya. “Kepala desa dari dusun trenten sangat mendukung program kita, selain belum pernah ada sosialisasi seperti ini, program kita dapat sangat membantu kebutuhan warga disana”,kata Intan.

Hasil dari PKM-M tersebut sudah digunakan oleh warga desa trenten dan alat yang dibuat digunakan oleh satu rumah untuk memenuhi kebutuhan gas sehari-hari. “Seusai prosesi pkm , rencananya tim akan meneruskan projek ini agar berkembang pesat dan membantu masalah pemerintah dan masyarakat. Diharapkan trobosan ini dapat meningkatkan pula kualitas tim dalam partisipasinya untuk kepentingan orang banyak”,jelas Intan. (Dinda-Arfifiana Mg/HDN)

PKMK 2016 : SI MUNGIL NANAS MINI

Berawal dari ide dari seorang dosennya, Arif Rifai dan kawan-kawan mengembangkan sebuah penemuan dengan memunculkan nanas dalam bentuk mini. Mengikuti Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM), Arif Rifai dengan dua rekannya Ovi Faelasofa dan Dyah Purbowati lolos  dalam PKM tahun pendanann 2016rygtbvtb lalu.

Memilih nanas menjadi bahan percobaan karena bahannya tidaklah sulit, dengan mengumpulkan sisa limbah bagian ujung atas nanas yang dibuang oleh para penjual buah kemudian kita tanam dan diberikan zat khusus untuk menumbuhkan akar dan buahnya.

“Dengan zat Auksin untuk menumbuhkan akar dan zat Etilen untuk pertumbuhan buah kita memberikan perlakuan khusus seperti memaksa tanaman untuk berbuah sebelum waktunya sehingga buahnya pun akan tumbuh dalam bentuk mini”, jelas Arif Rifai selaku ketua PKM tersebut.

Satu pot Nanas Mini dijual antara Rp 50 - Rp 100 ribu rupiah.

Satu pot Nanas Mini dijual antara Rp 50 – Rp 100 ribu rupiah.

Menjadi menarik kembali karena nanas yang biasanya tumbuh dalam tanah dapat dikembangkan di dalam pot menjadi tanaman hias. Buah nanas mini tersebut akan tumbuh kurang lebih sebesar bola pingpong saja. Perawatannya pun tidaklah sulit karena  dapat menggunakan media tanaman hias lainnya seperti sekam, kompos atau tanah biasa.

“Dengan memanfaatkan limbah, tanaman ini pun belum banyak kompetitornya”, tambahnya.

Tindak lanjut dari arif dan kawan-kawan tidak hanya sebatas mengikuti PKM saja, mereka sudah banyak memproduksi dan menerima pesanan dari luar. Pemasaran terdekat pada toko-toko tanaman hias di magelang juga melalui media online. Media online pun masih dibatasi pemesanannya untuk wilayah Temanggung, Magelang, Purworejo, dan Semarang.

Sempat mendapatkan pesanan dari Universitas Brawijaya Malang tetapi terdapat kendala dalam proses produksinya. Nanas mini tersebut sangat membutuhkan cahaya matahari yang cukup untuk membantu pertumbuhannya tetapi cuaca masih kurang mendukung maka mereka sempat tidak memproduksi dalam beberapa waktu. Para mahasiswa prodi agroteknologi UNTIDAR tersebuat sudah menemukan solusi dengan diawali  memprediksi cuaca dengan sekali tanam langsung memanen 800 tanaman dalam kurun waktu 2-3 bulan dan memenuhi kebutuhan di pasaran

“Untuk menambah daya tarik, kita beli pot hias dan memberikan tambahan hiasan agar lebih menarik karena konsumen sudah pintar dalam melihat estetika dari tanaman nanas mini ini”, tuturnya.

Rata penjualan satu pot nanas mini sebesar  50 ribu rupiah, apabila sudah dihias dapat menacapai 100rb rupiah. Selain menjadi tanaman hias buahnya tetap dapat disantap layaknya buah nanas biasanya. Meskipun ukuran nanasnya mini tetapi rasanya buahnya tetap enak dan manis. (Fatma-Ika Mg/HDN)

DONOR DARAH & KONSULTASI KESEHATAN JADI KEGIATAN RUTIN KSR UNTIDAR

MAGELANG – Korps Sukarelawan (KSR) Palang Merah Indonesia (PMI) unit UNTIDAR menggelar acara donor darah dan konsultasi kesehatan, Rabu (30/11). Kegiatan hasil kerjasama dengan Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Kota Magelang ini berhasil mengumpulkan 47 kantong darah.

“Pendonor harus memenuhi beberapa syarat salah satunya tekanan darah dan hemoglobin yang memenuhi standar,” tutur Lilik Rustiyana, Kabag Pelayanan dan Produksi UTD Kota Magelang.

Persyaratan dasar menjadi pendonor adalah berusia 17-65 tahun, berat badan minimal 50 kg dengan tekanan darah sistole 100-170 dan diastole 70-100 serta memiliki kadar hemoglobin 12,5-17 g/dl. Menurut Lilik, dari 79 pendaftar kegiatan donor darah hanya sebagian kecil yang tidak lolos. Antusias sivitas akademika UNTIDAR cukup tinggi untuk kegiatan sosial ini dan berharap bisa menjadi kegiatan rutin.

Salah satu staff UNTIDAR ikut berpartisipasi dalam acara Donor Darah, Volunteer Week KSR UNTIDAR.

Salah satu staff UNTIDAR ikut berpartisipasi dalam acara Donor Darah, Volunteer Week KSR UNTIDAR.

Sukardi, S.H., Ketua PMI Kota Magelang sekaligus Ketua Yayasan Borobudur Tidar mendukung kegiatan donor darah dijadikan agenda rutin di UNTIDAR. “Dosen dan karyawan UNTIDAR saya harap turut serta dalam kegiatan ini sebagai wujud solidaritas sosial dan kemanusiaan,” tandasnya.

Selain donor darah, Volunteer Week juga menyediakan konsultasi kesehatan gratis bahkan Rektor UNTIDAR, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd. juga turut mengkonsultasikan kesehatannya. Ani Arina, selaku ketua panitia kegiatan menuturkan bahwa kegiatan donor dan konsultasi kesehatan ini akan dijadikan program rutin KSR UNTIDAR tiap satu bulan sekali. “Aksi donor dan konsultasi diharapkan memberikan banyak manfaat dan membantu pihak-pihak yang membutuhkan,” tambahnya.

Sebelumnya, kegiatan Volunteer Week diawali dengan Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di MI Al Islam, Balesari, Windusari, Sabtu (26/11). Kemudian disusuk kegiatan Seminar Donor Darah dan Diseminasi Kepalangmerahan, Senin (28/11) dan Kampus Siaga Bencana yang akan dilaksanakan Sabtu (3/12) mendatang.

Lilik Rustiyana, Kabag Pelayanan dan Produksi UTD Kota Magelang saat memberikan materi dalam Seminar Donor Darah dan Diseminasi Kepalangmerahan, Senin (28/11).

Lilik Rustiyana, Kabag Pelayanan dan Produksi UTD Kota Magelang saat memberikan materi dalam Seminar Donor Darah dan Diseminasi Kepalangmerahan, Senin (28/11).

Pada Seminar Donor Darah dan Diseminasi Kepalangmerahan, Lilik Rustiyana juga berkesempatan memaparkan materi dan penjelasan mengenai proses darah yang didonorkan sampai siap digunakan dan manfaat yang diterima bagi pendonor maupun yang membutuhkan donor darah. “UTD Kota Magelang baru mampu mengumpulkan 40 hingga 50 kantong darah dalam sehari, jumlah ini masih belum ideal jika dibandingkan dengan kebutuhan darah,” katanya. Maka itu, pencanangan kegiatan rutin donor darah dan konsutasi kesehatan di lingkungan UNTIDAR oleh KSR sangat didukung oleh PMI terutama UTD Kota Magelang. (KSR UNTIDAR)

KSR UNTIDAR AJAK SISWA MI AL-ISLAM BALESARI TERAPKAN POLA HIDUP SEHAT

MAGELANG  – Kesehatan merupakan faktor penting dalam mendukung aktifitas manusia sehari-hari. Ketika kesehatan menurun dipastikan seluruh rutinitas akan terganggu. Maka itu, Korps Sukarela (KSR) PMI unit UNTIDAR mengajak siswa MI Al – Islam Balesari mulai menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kegiatan sehari-hari mereka.

Dalam Sosialisasi PHBS, Sabtu (26/11) ini, para siswa mendapatkan penjelasan bagaimana cara menyikat gigi dan mencuci tangan dengan baik dan benar, pentingnya air untuk kesehatan serta standar minimal kebersihan toilet. Tidak hanya sekedar penjelasan, Tim KSR UNTIDAR juga mengajak siswa-siswa untuk mempraktekannya langsung dengan membersihkan lingkungan sekolah dan mencuci tangan sesuai dengan penjelasan yang telah mereka terima.

Dwi Nuryati, S.Pd.I., Kepala Sekolah MI Al-Islam Balesari mengatakan melalui kegiatan tersebut siswa diharapkan mulai menerapkan PHBS dalam kehidupan siswa sehari-harinya. “Kegiatan ini sangat bagus, saya harap kegiatan ini dapat berjalan secara berkelanjutan. Terlihat juga tingkat antusias siswa sangat tinggi,“ ujarnya.

Tim KSR UNTIDAR ajarlan bagaimana mencuci tangan, menyikat gigi sampai membersihkan toilet dan lingkungan sekolah sesuai standar kesehatan kepada para siswa kelas 4 dan 5.

Tim KSR UNTIDAR ajarlan bagaimana mencuci tangan, menyikat gigi sampai membersihkan toilet dan lingkungan sekolah sesuai standar kesehatan kepada para siswa kelas 4 dan 5.

Kegiatan ini diikuti siswa yang duduk di kelas 4 dan 5. Salah satu peserta mengaku senang mendapat kunjungan serta ilmu dari KSR UNTIDAR. “Hari ini aku seneng, kakak kakak KSR main kesini. Bisa diajari cuci tangan yang baik, sikat gigi yang benar. Diajari cara membersihkan kamar mandi. Kak, besok kesini lagi ya,” tuturnya.

”Kesehatan menjadi masalah utama yang selalu diperhatikan dan ditanamkan sejak dini pada diri anak-anak yang belum paham atau bahkan tidak tahu bagaimana cara menjaga kebersihan agar tercapainya hidup sehat dan bersih,” jelas Ani Arina selaku Ketua Panitia Sosialisasi PHBS.

Diharapkan dengan diadakannya kegiatan ini anak-anak MI Al-Islam Balesari dan masyarakat sekitar dapat mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta menularkan ilmu yang diajarkan kepada teman-temanya dan masyarakat sekitar.

Sosialisasi PHBS merupakan rangkaian volunteer week KSR PMI UNTIDAR. Selain sosialisasi terdapat beberapa kegiatan lain seperti seminar “Donor Darah dan Diseminasi Kepalangmerahan, donor darah dan konsultasi kesehatan serta kampus siaga bencana yang direncanakan pada akhir November hingga awal Desember nanti. (KAM-KSR/DN)

SOC VII 2016, ASAH KEMAMPUAN NAVIGASI & ANALISA MEDAN PARA MAPALA

MAGELANG – Mapala “Sulfur” Universitas Tidar sukses menyelenggarakan Sulfur Orienteering Competition VII 2016, Sabtu-Minggu (24-25/09). Event berskala nasional ini diikuti 36 tim yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kegiatan ini dipusatkan di tiga desa di Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang yaitu Desa Wonoroto, Desa Tanjung Sari dan Desa Pasang Sari.

SOC merupakan kompetisi kemampuan membaca peta kompas dan menganalisa medan untuk mencapai sasaran (titik point). “Panitia menempatkan beberapa titik poin antara start dan finish. Peserta lomba bebas menentukan titik poin untuk mencapai titik point akhir yaitu garis finish dalam jangka waktu yang telah ditentukan,” jelas Dwi Andriyanto, Ketua Mapala “Sulfur”.

Penilaian perlombaan menggunakan sistem score orienteering yaitu peserta harus mengumpulkan poin sebanyak mungkin selama waktu yang ditentukan. Poin didapatkan dari seberapa banyak titik poin yang dilalui peserta yang nantinya dikalkulasi dengan lama waktu yang ditempuh peserta.

“Persiapan penyelenggaran SOC ke 7 ini sudah kami persiapkan 10 bulan terakhir ini. Persiapan paling lama adalah menentukan titik poin sekaligus membuat peta area pelaksanaan kegiatan,” tambah Andri.

Salah satu tim peserta SOC VII sampai di salah satu titik poin yang ditentukan panitia.

Salah satu tim peserta SOC VII sampai di salah satu titik poin yang ditentukan panitia.

SOC merupakan kegiatan rutin Sulfur yang diselenggarakan setiap 2 tahun sekali. Selain meningkatkan kemampuan navigasi, membaca peta serta melintasi medan kegiatan ini juga melatih sportifitas dan mempererat tali persaudaraan di kalangan mapala dan orienteer-orienteer di Indonesia.

Juara pertama kompetisi antar tim mahasiswa pecinta alam (mapala) ini diraih oleh Brahmahardika, FKIP Universitas Sebelas Maret, Surakarta baik untuk kategori putra dan putri. Juara kedua kategori putra adalah Mahesapala Sekolah Tinggi Ekonomi AMA, Salatiga; kategori putri Garba Wirabuana, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Juara tiga diraih oleh Mentari, Universitas Muhamadiyah Magelang untuk kategori Putri dan Mapalast, Unisbank, Semarang. Masing-masing juara mendapatkan trofi, sertifikat dan uang pembinaan.

“SOC VII 2016 ini merupakan kompetisi orienteering yang luar biasa. Pesertanya banyak serta medannya menantang. Persiapan panitia juga cukup matang. Alhamdulillah, Brahmahardika UNS bisa mendapatkan gelar juara pertama di kategori putra dan putri,” tutur Arief Budi Cahyono, peserta sekaligus juara pertama SOC 2016 dari Mapala Brahmahardika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNS. (DN)

PKMK 2016 : POTENSI BUDIDAYA JAMUR MERANG PADA LAHAN BERO DENGAN METODE SUNBATHING

Tidak semua lahan pertanian di Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang dapat dimanfaatkan sepanjang tahun. Khususnya di Desa Ngendrokilo, beberapa lahan pertanian tidak mendapat aliran air yang cukup pada musim kemarau sehingga tidak bisa dimanfaatkan dengan maksimal.

“Jika musim kemarau sudah terlalu parah maka lahan pertanian berubah menjadi lahan bero yang kering kerontang. Air hujan menjadi sumber utama untuk mengairi lahan, jadi jika tidak ada air, lahan pun tidak bisa digunakan,” kata Muhammad Cahyo Purnomo.

Cahyo, mahasiswa semester 5, prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UNTIDAR ini bersama kedua temannya Gilar Yuliantoro (FP/Agroteknologi) dan Aryandhini Intan Pradipta (FT/Teknik Sipil) memanfaatkan lahan bero yang terbengkalai ini sebagai tempat budidaya jamur merang hitam yang dapat dijadikan sumber penghasilan alternatif petani di daerah tersebut disaat musim kemarau datang. Ketiga mahasiswa ini tergabung dalam tim PKMK “Budidaya Jamur Merang Metode Sunbathing Bero, Upaya Pemanfaatan Cahaya Matarhari pada Musim Bero” yang merupakan salah satu PKM dari UNIDAR yang lolos pendanaan oleh Kemristekdikti Tahun 2016 ini.

“Jamur mulai dapat dipanen mulai umur 2-5 minggu. Percobaan pertama, kami mendapatkan hasil 2-10kg jamur pada tiap sungkup/kumbung/rumah jamur. Lalu hasilnya meningkat seiring dibuatnya sungkup lainnya,” tambah Cahyo.

Jamur merang hitam masing jarang dibudidayakan terutama di Kecamatan Kaliangkrik. Maka itu harga jual jamur ini juga masing terbilang tinggi yaitu Rp 17.000/kg harga ini masih bisa meningkat di kisaran Rp 20.000 di pasaran. Masa panen yang tidak terlalu lama juga menjadikan budidaya jamur ini menjanjikan sebagai sumber penghasilan alternatif para petani Desa Ngendrokilo.

Proses pemindahan jerami ke dalam sungkup untuk segera ditanami bibit jamur tiram.

Proses pemindahan jerami ke dalam sungkup untuk segera ditanami bibit jamur tiram.

Budidaya jamur merang metode sunbathing gagasan Cahyo dan teman-temannya ini memanfaatkan panas terik matahari di musim kemarau dan jerami sebagai media tanam yang cukup mudah didapatkan disekitar Kecamatan Kaliangkrik. “Jamur merang hitam dapat tumbuh baik dalam suhu 30-38 derajat celsius, kelembapan 80-85% dan pH 5,0 – 8,0. Sehingga metode sunbanthing atau terpaan matahari langsung cocok untuk budidaya jamur ini,” tambahnya.

Tidak seperti budidaya jamur yang pada umumnya yang berada di dalam ruangan, budidaya jamur merang hitam metode sunbathing ini berada diluar ruangan. Budidaya dilakukan di sungkup berukuran 9 x 1,5 m yang dialasi dan ditutupi dengan mulsa plastik. Sebelum dijadikan media tanam, jerami perlu diproses mulai dari pengeringan, perendaman, pengukusan dan pendinginan sebelum siap ditanami bibit jamur.

“Sebagai mahasiswa pertanian, saya dan Gilar bertanggung jawab penuh selama masa persiapan jerami sebagai media tanam. Sedangkan tempat tanam yang kami sebut sungkup, kami serahkan kepada Intan yang notabene mahasiswa teknik sipil lalu sisanya kami lakukan bersama-sama,” tambah Cahyo.

Dalam hal pemasaran hasil panen, Cahyo mengakui tidak menemui kendala bahkan mereka tidak bisa memenuhi permintaan pasar. Sambutan konsumen yang diluar prediksi ini bahkan membuat para petani di Ngendrokilo mulai tertarik dengan budidaya jamur merang ini. (DN)

PESERTA LIVE IN UNTIDAR 2016 ASAH BAKAT SENI DAN KREATIFITAS PENGHUNI PANTI

MAGELANG – Mahasiswa peserta program Live In mempresentasikan beragam kegiatan yang mereka jalani di masing-masing lokasi penugasan, Sabtu (03/09) dalam acara Expose Live In UNTIDAR 2016. Selain tinggal bersama dan mengikuti kegiatan keseharian penghuni panti, peserta Live In juga mengajarkan beberapa kesenian serta pelatihan kreatifitas.

“Kami mengajarkan tari kupu-kupu dan kuda lumping. Walau tidak semua bisa mengikuti dengan baik namun dengan mereka ikut bergerak sebisanya sudah membuat kami senang,” kata Reza Hendrawan, salah satu peserta Live In di Panti Asuhan SLBC Rindang Kasih, Secang.

Bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan RI di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita (BBRSBG) Kartini, para peserta Live In UNTIDAR melatih anak-anak berlenggak-lenggok dan meningkatkan kepercayaan dirinya sebagai persiapan lomba fashion show. “Anak-anak juga kami ajari tari pinguin. Selain sebagai hiburan juga melatih gerak dan motorik mereka,” jelas Destiana Rizqi Fauzia.

Reza Hendrawan, salah atu mahasiswa UNTIDAR peserta Live In di SLBC Rindang Kasih, Secang sedang mengajari beberapa anak menari kuda lumping.

Reza Hendrawan, salah atu mahasiswa UNTIDAR peserta Live In di SLBC Rindang Kasih, Secang sedang mengajari beberapa anak menari kuda lumping.

Berbeda dengan dua lokasi lainnya, peserta Live In di Panti Wreda Pelkrim mengajak oma-oma yang tinggal di panti untuk bermain congklak. Walaupun sudah berumur namun, strategi oma-oma dalam permainan congklak masih sulit untuk dikalahkan. Bahkan belum ada satu pun mahasiswa Live In UNIDAR yang berhasil mengalahkannya. Selain itu mereka juga diajari untuk membuat pigura dari stik es krim.

Tahun kedua program Live In UNTIDAR ini diikuti 17 orang peserta dilaksanakan pada 2 – 29 Agustus 2016 di tiga lokasi yang berbeda yaitu Panti Asuhan SLBC Rindang Kasih Secang, Panti Wreda Pelkrim Magelang dan BBRSBG Kartini Temanggung. Program ini dilaksanakan pada masa liburan mahasiswa jadi tindak mengganggu masa perkuliahan.

Program Pendidikan Karakter dibawah naungan Bidang Kemahasiswaan UNTIDAR ini bertujuan meningkatkan empati serta meningkatkan kecerdasan emosional mahasiswa. “Tinggal bersama dan masuk dalam kehidupan keseharian di dalam sebuah panti itu tidak mudah. Ada suka dukanya namun saya percaya setelah program ini mereka akan mempunyai rasa empati yang lebih dibanding teman-teman lainnya,” tutur Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Bambang Kuncoro, M.Si. (DN)

PKMK 2016 : PENGGEMUKAN KELINCI REX MURAH DENGAN PAKAN FERMENTASI LIMBAH

Hafidha Ade Lutfiana, Heri Susanto dan Achmad Heru Triatmoko berhasil memanfaatkan limbah ampas tahu, batang pohon pisang dan sisa sayur limbah rumah tangga menjadi pakan ternak kelinci. Ketiga mahasiswa Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian ini mengolah limbah tersebut menjadi pakan fermentasi yang terbukti dapat menikkan berat badan/menggemukkan kelinci dari berat 1kg menjadi 3-5 kg dalam waktu 2 bulan.

“Batang pisang dan sisa sayur dipotong kira-kira ukuran 3 cm lalu dicampurkan dengan ampas tahu yang sudah diperas untuk mengurangi kadar air. Kemudian ditambahkan EM4 dan molase. Pakan ini siap digunakan 2 hari setelah pembuatan,” jelas Hafidha.

EM4 atau effective microorganism adalah biakan bakteri yang biasanya digunakan sebagai aktifator kompos. Kandungan beberapa bakteri seperti bakteri fotosintetik, lactobacillus sp, streptomycetes sp, ragi (yeast) dan actinomycetes membantu proses fermentasi pakan ternak. Sedangkan molase atau tetes tebu adalah sisa pengkristalan gula pasir yang mengandung vitamin B kompleks serta karbohidrat tinggi yaitu 48-60% melengkapi proses fermentasi serta menambah nilai gizi pakan ternak.

Ide penggemukan kelinci ini dipilih Hafidha dan kedua teman satu tim PKMKnya karena perawatan kelinci tergolong mudah jika dibandingkan hewan ternak lainnya. Terlebih, penggunakan pakan fermentasi limbah  memangkas sebagian pengeluaran untuk pakannya. Bahan batang pisang, ampas tahu dan sisa sayur rumah tangga dapat ditemukan dengan mudah di daerah Salaman, Kabupaten Magelang, rumah Heru yang juga sekaligus menjadi lokasi penggemukan kelinci. Lokasi ini juga dekat dengan tempat pemasaran kelinci siap jual yaitu disekitaran wilayah Borobudur.

Kelinci Rex yang sudah siap jual berbobot 3-5 kg hasil pemberian makanan fermentasi selama 2 bulan.

Kelinci Rex yang sudah siap jual berbobot 3-5 kg hasil pemberian makanan fermentasi selama 2 bulan.

Pemilihan kelinci jenis Rex dikarenakan harganya yang murah serta tergolong kelinci untuk budidaya pedaging atau dikonsumsi. Budidaya maupun penggemukan kelinci juga tergolong masih sedikit ditemukan di wilayah Kota maupun Kabupaten Magelang sehingga pangsa pasarnya masih luas.

“PKMK penggemukan kelinci ini berpotensi menjadi usaha yang menjanjikan. Kelinci usia 2 bulan seharga Rp 60.000 dengan berat rata-rata 1 kg, setelah dua bulan menjalani program penggemukan akan bertambah berat badannya menjadi 3-5 kg atau seharga Rp 180.000 – Rp 300.000/ekornya,” tambah Hafidha.

Pakan ternak hasil fermentasi terbukti lebih signifikan menaikkan berat badan ternak jika dibandingkan pakan biasa berupa pelet atau sayuran saja. Kombinasi pakan fermentasi, pelet dan sayuran juga diperlukan agar kelinci tidak bosan. Kandungan beberapa bakteri baik dalam pakan fermentasi juga membantu memperbaiki sistem pencernaan dan meningkatkan nafsu makan. Selain itu juga dapat digunakan sebagai pakan alternatif saat harga pelet atau sayur sedang mahal. (DN)