PKMK 2016 : BUDIDAYA LELE ORGANIK DENGAN METODE KONSERVASI AIR TANAH

Air merupakan hal paling krusial dalam usaha budidaya ikan. Maka itu, mayoritas pembudidaya ikan hanya muncul di daerah dengan pasokan air melimpah. Bayu Setiaji Muslih (Teknik Sipil/FT), David Pamungkas (Ekonomi Pembangunan/FE) dan Hata Agung Pambudi (Agroteknologi/Faperta) mencoba mematahkan stigma ini dengan memperkenalkan metode konservasi air tanah dimana air limbah kolam dapat diolah dan digunakan kembali. “Air kolam yang bau dan kotor biasanya langsung dialirkan ke selokan atau saluran irigasi. Kebiasaan seperti ini dapat mencemari lingkungan. Maka itu kami memilih untuk mengolahnya dan menjadikannya cadangan air disaat musim kemarau,” kata Bayu.

Bayu, David dan Hata yang tergabung dalam tim PKMK UNTIDAR yang lolos didanai Kemristekdikti tahun 2016 dengan judul “Budidaya Lele Sangkuriang secara Organik dengan Metode Konservasi Air Tanah” memilih lokasi Daerah Sojomerto Kidul, Sidomulyo, Kecamatan Salaman sebagai lokasi pembudidayaan. “Pasokan air di daerah ini cukup melimpah disaat musim hujan tetapi disaat musim kemarau pasokan air berkurang drastis bahkan terjadi kekeringan,” tambahnya.

Menyiasati permasalahan tersebut, Bayu dan teman se-timnya menerapkan metode konservasi air tanah pada air limbah kolam lele mereka. Mulanya mereka membuat sebuah sumur resapan yang difungsikan sebagai filter limbah kolam tersebut. Kotoran pada air akan terfilter ke dalam tanah sehingga air kembali menjadi bersih dan bisa digunakan kembali. Upaya konservasi air tanah ini mampu menjaga stabilitas volume air tanah saat musim kemarau sehingga meminimalisir terjadinya kekeringan.

Bibit lele sangkuriang usia 50 hari yang siap jual.

Bibit lele sangkuriang usia 50 hari yang siap jual.

Berbeda dengan pembudidaya ikan lele pemula lainnya, Bayu memilih budidaya bibit bukannya pembesaran lele. “Berdasarkan hasil observasi, masih sedikit yang mengembangkan usaha pembibitan sehingga kami yakin pangsa pasarnya masih terbuka luas,” tutur Bayu. Selain itu, bibit lele yang dihasilkan tanpa menggunakan bahan kimia yang biasanya digunakan untuk mencegah bibit terserang penyakit. “Kunyit dan bawang putih dijadikan pengganti bahan kimia dan dicampurkan di pelet ikannya,” jelasnya.

Proses pemijahan, penetasan hingga bibit siap jual memakan waktu 50 hari. Dalam sekali panen, 6 kolam Ikan lele yang masing-masing berukuran 2×4 m yang disewa im Bayu ini mampu menghasilkan 40 ribu bibit yang terbagi dalam 3 ukuran yaitu kecil (2-3 cm), sedang (3-4 cm) dan besar (4-6 cm). Bibit lele ukurang kecil dijual Rp 55/ekor, sedang Rp 70/ekor dan besar Rp 120/ekor. Jadi jika dirata-rata, dalam sekali panen Bayu dan teman se-timnya memperoleh penghasilan kotor Rp 2.800.000

Semua hasil pembudidayaan langsung dijual di Pasar Ikan di daerah Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, DIY. “Semua hasil panen selalu habis terjual bahkan kami terkadang keteteran melayani pesanan,” kata Bayu. Menurutnya, pasca program PKM berakhir pun usaha pembibitan ikan lele ini akan terus dilanjutkan dan memiliki prospek yang bagus di masa depan. (NV/DN)

PKMK 2016 : METARIL PLUS, MEDIA TANAM ALTERNATIF TANAMAN HIAS & BUAH DALAM POT

Berlatar belakang pendidikan pertanian, Ummi Farida, mahasiswi prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian semester 6 Universitas Tidar mencoba membuat sebuah inovasi media tanam dengan memanfaatkan arang sekam. Ketersediaan bahan baku yaitu sekam padi yang melimpah di tempat tinggalnya, Dusun Banjarsari, Desa Kebumen, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung menginspirasi Ummi dan kedua temannya, Rois dan Savitri membuat Metaril Plus.

Media tanam steril arang sekam plus PGPR (Plan Grow Promoting Ryzobacteria) merupakan produk hasil Program Kreatifitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) yang lolos didadani dikti pada tahun 2016 ini. “Keunggulan Metaril Plus dibanding media lain adalah sifat fisik, kimia dan biologinya baik untuk tanaman. Media arang sekam plus PGPR belum ada dipasaran sehingga memiliki prospek yang bagus untuk dikembangkan,” kata Ummi.

Bersama Rois Awaludin Septian (FP/Agroteknologi) dan Rumaira Savitri (FP/Agroteknologi), Ummi memanfaatkan keunggulan PGPR untuk meningkatkan kemampuan media tanam (arang sekam) menyediakan unsur hara bagi tanaman. “PGPR atau juga disebut Rhizobacteria pemicu pertumbuhan tanaman adalah kelompok bakteri yang mampu mempercepat penyerapan unsur hara, memacu pertumbuhan tanaman dan melindungi tanaman dari patogen,” tambahnya.

Metaril Plus dikemas per 1 kg dalam kemasan plastik.

Metaril Plus dikemas per 1 kg dalam kemasan plastik.

Penggunaan arang sekam selain efektif dalam menyimpan air juga tergolong lebih bersih dibanding menggunakan media tanah. “Metaril plus cocok untuk masyarakat yang ingin menanam tanaman hias tapi tidak suka kotor,” tutur Ummi. Selain itu, kandungan PGPRnya juga baik untuk tanaman buah dalam pot.

Metaril plus dikemas dalam kemasan 1 kiloan dijual dengan harga Rp 8000/kgnya. Produk ini dipasarkan di toko-toko pertanian dan toko tanaman hias di daerah Temanggung, Magelang dan Purworejo. Toko Tunas Muda di Salaman dan UD Sami Asih di Purworejo merupakan beberapa toko yang sudah menjalin kerjasama dengan Ummi dan kawan-kawannya. Respon masyarakat cukup bangus dengan produk baru ini. “Mulai Februari 2016 sampai sekarang sudah diproduksi sekaligus dipasarkan 1050 kemasan Metaril plus,” pungkas Ummi. (NV/DN)

SAMBUT MARU, HMTS BAGI-BAGI MINUMAN GRATIS

MAGELANG – Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (HMTS) menyambut ratusan calon mahasiswa baru UNTIDAR jalur SNMPTN dan SBMPTN program Bidikmisi yang hadir di auditorium, Senin (25/07) dengan membagi-bagikan minuman dan snack gratis. Calon mahasiswa baru ini melakukan pemberkasan dokumen serta pengambilan foto untuk pembuatan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) sementara.

“Kami ingin menghilangkan paradigma Masimaru itu kental dengan nuansa perploncoan dan kesenioritasan,” kata Anindya Enggar Pardipta, Ketua Umum Masimaru Teknik Sipil.

Selama ini banyak mahasiswa baru yang memandang negatif Masa Orientasi Mahasiswa Baru (Masimaru) yang terkesan menakutkan dengan kakak tingkat yang galak atau tidak ramah. HMTS ingin menghilangkan pandangan negatif ini dan menggantikannya dengan kebiasaan baru seperti pembagian minuman gratis ini serta pendampingan maru mulai dari pengenalan prodi, lingkungan kampus sampai mencari tempat kost. “Pendampingan maru khususnya mahasiswa baru Prodi Teknik Sipil berlaku satu tahun kedepan sampai nanti ada maru selanjutnya, dan mereka menjadi pendamping angkatan selanjutnya,” tambahnya.

1

Pembagian minuman gratis menyambut calon mahasiswa baru oleh HMTS UNTIDAR

Menurut Azirama Al Azar Herlambang Putra, mahasiswa baru prodi Teknik Mesin jalur SNMPTN asal Jambon, Kota Magelang ini merasa senang mendapat sambutan hangat dari para seniornya. “Awalnya tidak menyangka akan disambut seperti ini bahkan kami mendapat banyak informasi untuk persiapan masimaru besok dan perkuliahan nantinya,” kata Azi.

Walaupun baru pertama kali, program yang digagas HMTS ini cukup diapresiasi dan mengundang banyak perhatian mahasiswa baru lainnya. Kegiatan sambut maru ini dilaksanakan selama dua hari, Senin-Selasa, (25-26/07) di depan Auditorium UNTIDAR selama masa Registrasi On Desk dan pembuatan KTN calon mahasiswa baru jalur SNMPTN dan SBMPTN tahun 2016. “Sangat senang dengan sambutan kakak-kakak angkatan kami ini. Mereka juga menawarkan bantuan mencarikan kost-kostan bagi yang belum mendapat kost tetap,” pungkas Azi. (DN)

PKMK 2016 : KHIMAR “NATURE” INOVASI HIJAB SYAR’I & TRENDI

Khimar dikenal sebagai penutup aurat muslimah berupa kain yang menutupi kepala hingga menjulur ke dada kecuali bagian muka dan bersifat tidak transparan. Pengertian ini diambil dari salah satu surat di Al Quran yaitu surat An Nur ayat 31: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.  Dan hendaklah mereka menutupkan khimar (kain kerudung) ke dadanya…”.

Berbeda dengan khimar yang sudah ada sebelumnya, Vivanti Puspitasari (PBI/FKIP) dengan kedua teman satu tim PKMKnya Rizky Kurniawati (PBSI/FKIP) dan Inayatul Fatonah (PBSI/FKIP) sepakat menuangkan idenya dalam mendesain khimar dengan gaya kekinian.

“Biasanya khimar hanya polos dengan potongan lurus tanpa aksen di pinggirannya serta monoton pada warna-warna yang cenderung gelap,” kata Vivanti.

13100948_219145011797832_3207996413526082_n

Jehan Khimar, salah satu kreasi model khimar karya PKMK UNTIDAR 2016, Khimar “Nature” Inovasi HIjab Syar’i dan Trendi.

Mengusung judul Khimar “Nature” Inovasi Hijab Syar’i dan Trendy Bertema Alam dalam pembuatan PKMKnya, Vivanti dan kedua partnernya berhasil menerima dana hibah PKM 2016 dari Kemristekdikti. “Khimar ‘Nature” atau bertema alam di sini ditunjukkan dengan model potongan ujung khimar misalnya model deema atau bermakna awan, potongan ujung khimarnya melengkung seperti bentuk awan. Pilihan warna khimar pun lebih bervariasi,” tuturnya. Konsep alam yang diusung tim PKMK ini mengandung unsur kesederhanaan karena menurut mereka kecantikan yang sesungguhnya berawal dari kesederhanaan.

Selain model deema ada beberapa model khimar lain seperti marwa (nama gunung di Mekah), jehan (bunga), dan rubina (air terjun). Konsep alam yang diimplikasikan pada model dan warna-warna khimar ini diharapkan mampu mengajak para muslimah untuk mengenakan khimar baik dari remaja maupun orang dewasa. Khimar “Nature” atau kini lebih dikenal dengan Salwa Khimar ini tidak hanya memproduksi khimar instan atau langsung pakai tapi juga khimar square yang berupa kain segi empat. Pilihan warnanya pun bervariasi serta harganya terjangkau,

“Produk kami berkisar Rp 85ribu hingga 125ribu. Kami juga menerima custom model serta pemesanan khusus,” tambah Vivanti.

Selain memasarkan produknya lewat toko sebuah toko jilbab di Jalan Sambung Kidul RT 07/RW VIII Magelang, tim PKMK Khimar “Nature” juga memasarkan produk mereka melalui media sosial yaitu Facebook dengan nama Salwa Khimar dan Instagram, Salwa_khimar. Sebagai wujud keseriusannya mengembangkan usaha ini, Khimar “Nature” selalu berusaha mengeluarkan model terbaru setiap bulannya dan yang menjadi prioritas utamanya semua produk terbuat dari kain yang halus, tidak panas dan menerawang. (NV/DN)

PERINGATI NUZULUL QUR’AN, UNTIDAR BERI SANTUNAN KEPADA ANAK YATIM

MAGELANG – Masih dalam rangkaian Gebyar Ramadhan Kampus (Gerak), Takmir Masjid Mambaul Ulum dan UKAI “Ar-Ribath” menggelar pengajian Nuzulul Qur’an sekaligus pemberian santunan kepada anak yatim, Jumat (24/06) di auditorium UNTIDAR.

“Ada 21 anak yatim dari wilayah Tuguran, Dumpoh dan Sanden,” kata Akhmad Zamroni, salah satu panitia pengajian.

Pemberian santunan langsung diberikan oleh Rektor Universitas Tidar, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd dan Dekan Fakultas Teknik Ir. Kun Suharno, M.T. Santunan yang diberikan berupa peralatan sekolah berupa alat tulis dan buku beserta uang tunai. “Rajin sekolah ya, semoga ini bisa sedikit membantu,” kata Prof. Cahyo saat memberikan santunan kepada salah satu anak.

Dalam sambutannya, Rektor UNTIDAR juga berpesan kepada seluruh anak yatim khususnya dan kepada semua para peserta pengajian agar selalu senantiasa “membaca” atau belajar sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT pada nabi kita Muhammad SAW pada saat pertama kalinya diturunkannya Al Qur’an.

Ustad Fauzil Adhim memaparkan bagaimana mendidik anak sesuai dengan Al-Qur'an.

Ustad Fauzil Adhim memaparkan bagaimana mendidik anak sesuai dengan Al-Qur’an.

Pengajian Nuzulul Qur’an kali ini mengangkat tema “Mendidik Anak Sesuai Al Quran” mengundang Fauzil Adhim, ustad sekaligus dosen UII Yogyakarta menjadi pembicara utama. Pengarang novel best seller “Ku Pinang Kau Dengan Hamdalah” dan “Kado Pernikahan untuk Isteriku” ini memaparkan bahwa pedoman terbaik dalam mendidik anak adalah Al Qur’an.

Para orang tuan dituntut untuk menanamkan keyakinan kepada anak-anaknya tentang arti penting Al Qur’an sehingga berpengaruh pada tindak tanduk si anak pada kehidupan sehari-harinya. “Akhir-akhir ini banyak orang tua atau guru mulai takut memerintah atau melarang anak bahkan ketika mereka melakukan perbuatan negatif,” kata ustad Fauzil.

Dalam Al Qur’an, dijelaskan dalam Surah Luqman bahwa Luqman memberikan perintah dan larangan kepada putranya seperti tekunilah kebaikan, hindari kejahatan bahkan larangan bertindak sembarangan di muka bumi secara jelas dan tegas.

“Perintah dan larangan tidak membuat kita dalam kondisi keterbelakangan,” tambahnya.

Negara Singapura yang terkenal memberi banyak perintah dan larangan baik bagi warganya atau warga negara asing yang berkunjung di negaranya dengan perintah yang jelas. Contohnya larangan membawa durian di bandara sampai di larangan bersender pada wilayah-wilayah tertentu dengan denda. Hasilnya, perintah yang jelas tersebut melahirkan keteraturan dan kedisiplinan. Satu hal lagi yang ditekankan yaitu suara yang keras dan membentak itu berbeda. Kondisi ini yang kadang disalah artikan dan menjadi sumber kesalahpahaman.

Pada acara ini juga diumumkan para pemenang beberapa lomba yang diselenggarakan beberapa waktu lalu yaitu lomba Adzan yang dimenangkan oleh Andhi Rispata sebagai juara 1 dan Yudhana Priambodo sebagai juara ke 2. Lomba tilawah, juara 1 adalah Andi RK dan juara 2 adalah Eki. Sedangkan untuk kategori kaligrafi dimenangkan oleh Baehaki Abdullah sebagai juara 1 dan Sahrul Mubarok sebagai juara kedua. Masing-masing juara mendapatkan sertifikat dan tropi kejuaraan. (DN)

PKMK 2016 : LEGITNYA DODOL BATANG KULIT PEPAYA

Selain buah, daun dan bunga, pemanfaatan bagian tumbuhan pepaya lainnya masih jarang kita temukan terlebih batangnya. Batang pepaya yang identik dengan rasa pahit ini dirubah menjadi jenang dodol anti tumor dan kanker.

“Batang pepaya mengandung banyak getah putih seperti susu yang disebut sebagai white milky latex yang kini dikembangkan sebagai anti kanker,” jelas Destiana Rizki Fauzia.

Menurut Bouchut dalam Journal Society of Biology, getah pepaya sudah dibuktikan secara ilmiah memiliki kandungan papain yang bersifat anti tumor dan kanker.

Menurut Desti, idel awal pemanfaatan batang pohon pepaya ini berasal dari sang nenek. Jaman dahulu, batang pohon pepaya sudah dimanfaatkan sebagai campuran makanan karena diyakini memiliki banyak khasiat. Dari sinilah kemudian Desti (PBSI/FKIP) bersama ketiga temannya yaitu Regina Puspa Hapsari (PBSI/FKIP), Juniyanti (Sipil/FT) dan Kintan Niklas Devitalia Salma (Sipil/FT) mencoba membuat inovasi berupa Jenang Dodol Batang Pohon Pepaya atau lebih dikenal dengan Jendol Bang Popeye.

 “Banyak orang yang awalnya penasaran rasa dodolnya, mereka mengira masih pahit tapi tidak sama sekali rasanya mirip dodol kebanyakan tapi lebih banyak manfaatnya,” tambah Desti.

Seperti halnya dodol lainnya, bahan utama Jendol masih menggunakan tepung beras ketan, gula aren dan santan yang membedakan adalah penambahan ekstrak daun pepaya untuk menambah nilai gizinya. Tidak hanya kenyal dan manis namun juga menyehatkan.

Tak perlu merogoh dompet dalam-dalam untuk mendapatkan satu bungkus Jendol Bang Popeye berisi 12 potong dodol. Desti dan kawan-kawannya hanya mematok harga Rp 10ribu per bungkus. Untuk mendapatkan produk ini bisa mengunjungi laman Facebook Jendol Bang Popeye atau Instagram Jendol_bangpopey atau bisa menghungi langsung kontak 08882710615.

Menurut Desti, pengembangan produk dan pemasaran Jendol Bang Popeye terus dilakukan salah taunya dengan pengajuan PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) di Dinas Kesehatan setempat agar kedepannya produk bisa dijual di toko-toko kebanyakan. Sebagai salah satu industri rumahan, ijin PIRT diperlukan sebagai jaminan bahwa usaha makanan atau minuman rumahan yang dijual memenuhi standar keamanan makanan sekaligus menjadi syarat ijin edar makanan tersebut.

“Jendol Bang Popeye” atau Jenang Dodol Batang Pohon Pepaya salah satu produk PKMK UNTIDAR 2016.

“Jendol Bang Popeye” atau Jenang Dodol Batang Pohon Pepaya salah satu produk PKMK UNTIDAR 2016.

Jendol Bang Popeye ini merupakan salah satu dari 15 proposal Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) UNTIDAR yang lolos dan didanai Kementrian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi yang dinyatakan dalam surat Direktoral Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemristekdikti Nomor 117/B3.1/KM/2016 yang diumumkan 22 Februari 2016 lalu.

CINTAI RAMADHAN DENGAN BERIBADAH SEPENUH HATI

MAGELANG –  Setiap bulan Ramadhan tiba, semua umat muslim melaksanakan kewajiban berpuasa dan dianjurkan melengkapinya dengan amalan sunah lainnya. Janji Allah SWT melipatgandakan pahala atas setiap ibadah di bulan suci ini tentunya tidak ingin dilewatkan para umat muslim begitu saja.

“Mengisi Ramadhan dengan amalan-amalan yang disadari penuh saat mengamalkannya, bukan sebatas formalitas saja tapi murni dari hati,” tutur Ali Imron, S.S., M.Hum., Kamis (16/06/2016).

Ali yang juga Dosen Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP UNTIDAR ini berkesempatan menjadi pembicara pada Kajian Rutin Ramadhan minggu ke-2 yang diadakan oleh UKAI “Ar-Ribath” mengangkat tema Cintaku Bersemi di Bulan yang Suci (Allah SWT dan RasulNYA) bertempat di Masjid Mambaul Ulum.

Ali Imron, S.S., M.Hum., (kiri) saat menyampaikan tauziah dengan tema Cintaku Bersemi di Bulan yang Suci (Allah SWT dan RasulNYA) bertempat di Masjid Mambaul Ulum, Kamis (16/06/2016)

Ali Imron, S.S., M.Hum., (kiri) saat menyampaikan tauziah dengan tema Cintaku Bersemi di Bulan yang Suci (Allah SWT dan RasulNYA) bertempat di Masjid Mambaul Ulum, Kamis (16/06/2016)

“Saat Ramadhan berlalu akan ada penyesalan karena tak mampu beribadah sebanyak-banyaknya dan rasa janggal ketika amalan itu tidak dilakukan di kehidupan sehari-harinya,” tambah Ali.

Amalan Ramadhan seperti puasa, tadarus, bangun malam, dan zakat hendaknya bukan semata karena kewajiban atau rutinitas, bukan pula hanya sebuah “hitung-hitungan” pahala tapi dijalankan dengan ikhlas akan membuat kita begitu “kecanduan” beribadah bahkan setelah Ramadhan berlalu. Amalan ini juga merupakan wujud cinta kepada Allah SWT dan RasulNYA.

“Kajian ini merupakan program rutin tiap hari Kamis tapi khusus Ramadhan bagi peserta kami sediakan takjil untuk buka puasa,” kata Slamet Prakoso, anggota UKAI yang sekaligus Ketua Ramadhan di Kampus.

Tidak hanya diperuntukan untuk anggota UKAI saja namun juga terbuka untuk seluruh sivitas akademika UNTIDAR lainnya. Selama bulan Ramadhan ini Unit Kegiatan Agama Islam “Ar-Ribath” telah mempersiapkan berbagai acara salah satunya kajian rutin, buka bersama, Tarawih Keliling (Tarling), Tadarus, Saur On The Road, dan sholat subuh berjamaah. Tarling perdana akan dilaksanakan Sabtu (18/06/2016) di rumah Ibrahim Nawawi, S.T., M.T.

PKMK 2016 : MIMIK BALON PERINTIS SUVENIR RAMAH LINGKUNGAN

Sempat dikunjungi Walikota Magelang, Sigit Widyonindito pada Kedu Expo 2016 lalu, Miniatur Mobil Antik dari Limbah Paralon disingkat menjadi Mimik Balon mendapat apresiasi yang positif. Menurut penuturan Sigit saat itu, sebuah produk harus memiliki nilai seni tinggi, berkualitas dan memiliki ciri khas atau keunggulan dibanding produk lain sehingga mudah dilirik konsumen.

Produk hasil Program Kreatifitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKMK) yang lolos seleksi Dikti Februari 2016 lalu ini cukup mencuri banyak perhatian pengunjung.

“Banyak yang mengira miniatur mobil antik ini dibuat dari kayu padahal sebenarnya dari pralon bekas,” kata Taufik.

PKMK dengan judul Mimik Balon (Miniatur Mobil Antik dari Limbah Pralon) Perintis Suvenir Ramah Lingkungan ini beranggotakan 3 orang yaitu Sita Naili Solihah sebagai Ketua (PBI/FKIP), Taufik Hidayat (Agroteknologi/FP) dan Serli Briliantika (PBI/FKIP). Mengaku terinspirasi dari tayangan televisi tentang pengolahan limbah pralon menjadi vas bunga, Taufik dan teman-teman sekelompoknya mencoba mencari ide lain.

Limbah pralon merupakan jenis limbah non organik yang tidak bisa membusuk ditanah. Pengolahan limbah pralon ini diharapkan mampu mengurangi jumlah limbah serta memanfaatkannya menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi.

“Agar dapat dibentuk bermacam-macam maka pralon dibakar kemudian dijadikan lempengan-lempengan yang bisa dipotong sesuai desain,” jelas Taufik.

Taufik “Aveq” Hidayat saat menjada stand Mimik Balon di Kedu Expo 2016 di samping berbagai produk olahan pralon bekas.

Taufik “Aveq” Hidayat saat menjada stand Mimik Balon di Kedu Expo 2016 di samping berbagai produk olahan pralon bekas.

Menurut satu-satunya mahasiswa semester 2 dalam kelompok PKMK Mimik Balon ini, Taufik menyatakan bahwa ide pembuatan miniatur mobil antik datang setelah produk awal yaitu miniatur mobil masa kini selesai. Warna pralon pasca dibakar menghasilkan warna coklat alami sehingga lebih cocok jika dibuat menjadi mobil antik. Belum banyak penghasil produk miniatur mobil khususnya yang terbuat dari pralon, kesempatan ini dimanfaatkan oleh Taufik dan teman-teman se-timnya.

“Awalnya inginnya hanya spesialisasi mobil kodok saja namun kini berkembang ke model mobil jadul lainnya juga,” kata Taufik.

Pemasaran produk Mimik Balon saat ini masih memanfaatkan media sosial, pameran, dan promosi dari mulut ke mulut. Produk olahan pralon bekas ini pun berkembang ke bentuk lainnya seperti tempat aqua, kapal dan setrika jadul. Produk dijual mulai dari harga Rp 30ribu sampai ratusan ribu tergantung pada ukuran dan kerumitan pembuatan.

LAWAN KANTUK & HAWA DINGIN, UKAI BAGI-BAGI SAHUR DI SEKITAR KAMPUS

MAGELANG – Unit Kegiatan Agama Islam (UKAI) “Ar-Ribath” Universitas Tidar membagikan sahur gratis bagi mahasiswa yang indekos di sekitar kampus, Sabtu (11/06/2016). Malam sebelumnya selepas shalat Tarawih berjamaah, anggota UKAI dan beberapa perwakilan UKM melaksanakan Mabit (Malam Bina Takwa) yang diisi dengan tadarus bersama.

“Dalam semalam kami membaca 5 juz Al Quran. Ada yang satu persatu membaca atau menyimak saja,” kata Eki Dwijayanti, salah satu pengurus UKAI.

Walaupun harus tidur lebih malam lalu bangun lagi pada dini hari untuk pembagian sahur, Eki mengaku tetap bersemangat menjalani kegiatan ini. Pembagian menu sahur kali pertama oleh UKAI ini menyasar 130 mahasiswa UNTIDAR yang indekos di wilayah Tuguran dan Dumpoh.

“Sebelumnya kami menghubungi mahasiswa dan pemilik kost, sehingga sewaktu pembagian mereka sudah siap dikunjungi,” kata Slamet Prakoso, Ketua Panitia Ramadhan di Kampus.

Berbeda dengan Sahur On The Road biasanya, pembagian menu sahur dibagikan langsung ke kos-kosan bukan membaginya di jalan raya. Belum banyak warung makan yang menyediakan menu sahur khususnya disekitar kampus sehingga kegiatan ini diharapkan dapat membantu mahasiswa yang kesulitan mencari makan sahur.

Solat subuh berjamaah usai membagikan sahur.

Solat subuh berjamaah usai membagikan sahur.

Setelah membagikan sahur, kegiatan dilanjutkan dengan sholat subuh berjamaah di Masjid Mambaul Ulum UNTIDAR. Gerakan Subuh Jamaah (GST) yang juga pertama kalinya ini, Ibrahim Nawawi, S.T., M.T., berkesempatan menjadi imam sekaligus pengisi kuliah subuh.

Kegiatan serupa akan dilaksanakan pada Sabtu (18/06/2016) dini hari mendatang. Rangkaian kegiatan Ramadhan di kampus ini diharapkan dapat menyemarakkan bulan penuh berkah ini dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi orang banyak.

SEMINAR DAN WORKSHOP “TEMBUS KONFERENSI DAN JURNAL INTERNASIONAL”

MAGELANG – Apa yang membedakan orang Indonesia dengan orang-orang dari negara lain? Jika memungkinkan, orang Jerman akan berusaha mengerjakan suatu proyek pekerjaan dengan tenaga manusia seminimal mungkin. Orang Jepang memiliki pemahaman bahwa setiap saat manusia harus dalam keadaan “ON” maka itu tidak heran kemanapun mereka pergi selalu membawa headphone atau headset untuk mendengarkan musik. Bagaimana dengan orang Indonesia?

“Dosen itu hanya trigger bukan sumber segala ilmu. Belajar itu bisa dimana saja,” tutur Emmy Yuniarti Rusadi, S.T., M.T.

Founder ASEC (Actual Smile English Club) yang juga kandidat lima besar calon walikota Yogjakarta dari Jogja Independent (Joint) tahun 2016 ini berpendapat bahwa orang Indonesia khususnya mahasiswa masih bergantung pada dosennya. Alumni Universitas Gajah Mada ini mengaku tidak membiasakan diri meminta file materi kepada dosen usai kuliah seperti yang teman-temannya lakukan. Menurutnya, ilmu yang ia cari sendiri baik dari buku, koran dan sumber-sumber lainnya bahkan lebih dari cukup membantu sampai menyelesaikan gelar masternya.

“Kemajuan negara dapat dilihat dari seberapa banyak jurnal yang diterbitkan,” tambah Emmy.

Antusias mahasiswa dalam menulis jurnal sangatlah rendah jika dibandingkan negara lain. Hal ini sangat disayangkan dan perlu ditingkatkan kembali. Prestasi Emmy dan Pebri Nurhayati, S.Pd., kedua pembicara seminar dan workshop “Tembus Konferensi dan Jurnal Internasional” yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik, Sabtu (14/05/2016) diharapkan mampu menggungah semangat menulis artikel ilmiah khususnya jurnal para mahasiswa UNTIDAR.

Emmy dan Pebri memberikan pengarahan step by step dalam menulis jurnal. Tidak hanya masalah teknis namun, kedua pembicara ini juga membagi pengalaman mereka ketika ikut andil dalam konferensi Internasional berkat jurnal yang pernah mereka tulis.

“Selain pembekalan terkait jurnal, seminar ini juga diharapkan dapat membantu teman-teman yang sedang dalam proses pembuatan PKM atau penulisan artikel ilmiah lainnya,” jelas Fajar Aji Pamungkas, ketua panitia seminar. Menurut mahasiswa Teknik Elektro semester 2 ini, jurnal merupakan salah satu poin penting dalam pengajuan beasiswa dan seleksi kegiatan-kegiatan mahasiswa salah satunya Mahasiswa Berprestasi (Mawapres).

SEMINAR DAN WORKSHOP 2