TIM DEBAT UNTIDAR, SIAP MELAJU DI AJANG KDMI TINGKAT NASIONAL 2021

Setelah mengikuti seleksi tingkat wilayah (wilayah VI Jawa Tengah), saat ini Tim KDMI Untidar yaitu Muhammad Khoiruddin, mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Indonesia semester 7 dan Danar Putri Miranda, mahasiswi Program Studi S1 Akuntansi semester 7, bersiap untuk mengikuti seleksi KDMI tingkat nasional.

Sebelum maju ke tingkat wilayah, telah diadakan seleksi KDMI tingkat Universitas.  Perwakilan dari 5 fakultas dengan masing-masing 3 perwakilan harus melalui babak preliminary, semi final, dan grand final untuk menentukan Juara 1, 2, dan 3 tingkat universitas.  Setelah selesai kompetisi tingkat universitas, peserta dari 8 besar tim terbaik mengikuti seleksi individu untuk mendapatkan 2 perwakilan yang akan mewakili UNTIDAR menuju ke tingkat wilayah.

“Sebelum berlaga di tingkat Wilayah VI Jawa Tengah, kami digembleng dengan latihan rutin dan pemantapan selama 12 hari oleh Muhammad Rafy, praktisi debat yang juga salah satu juri seleksi KDMI tingkat UNTIDAR. Beliau ini memiliki banyak pengalaman menjadi mentor untuk mahasiswa peserta KDMI yang akan bertanding di tingkat Nasional. Kami juga didampingi oleh beberapa dosen yaitu Bu Theresia Pinaka Ratna Ning Hapsari, S.S., M.Pd., Bu Firstya Evi Dianastiti, S.Pd., M.Pd., dan Bu Agnira Rekha, M.Pd”, tutur Putri. “Seleksi dan latihan yang kami jalani sangat menguras tenaga, pikiran dan emosi, karena durasi latihan yang padat dan tantangan latihan yang berat. Tapi kegiatan ini sangat menyenangkan karena kampus mendukung penuh, dan alhamdulillah kami bisa meraih rangking 4 dari 31 tim yang berlaga di tingkat wilayah VI Jawa Tengah. Seperti halnya tahun lalu, seleksi KDMI tahun 2021 menggunakan sistem daring. Yang pasti kami akan berjuang semaksimal mungkin di tingkat nasional, dan berharap bisa mempersembahkan kemenangan untuk UNTIDAR”, tambah Putri.

Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia adalah ajang tahunan yang diadakan oleh Pusat Prestasi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai upaya untuk membangun 6 C, yaitu collaboration (kerjasama), creativity (kreatifitas), critical thinking (berfikir kritis), communication (berkomunikasi), citizenship (kewarganegaraan), dan character (karakter) pada generasi muda.  Keleluasaan mahasiswa dalam mengolah informasi dan membuat keputusan yang rasional sangat lekat dengan prinsip kemerdekaan dalam belajar. Aktualisasi mahasiswa dalam kompetisi debat merupakan wujud dari kebijakan Kampus Merdeka. Mahasiswa mendapat kesempatan untuk menunjukkan sekaligus meningkatkan kemampuan akademis mereka melalui wahana kompetisi.

Penulis : Tri Endah Retno Kusumaningrum (Humas UNTIDAR)

MAHASISWA UNTIDAR TEMUKAN SALEP PENJINAK TUMOR DAN KANKER PAYUDARA

Tanaman bambu merupakan sumber flavonoid yang berguna bagi kesehatan tubuh. Berbagai riset menyebutkan bahwa daun bambu adalah sumber flavonoid yang sangat baik. Kandungan ini berfungsi sebagai antioksidan yang dapat membantu tubuh untuk melawan serta mencegah beragam penyakit. Kandungan antibakteri di dalam daun bambu dapat bermanfaat sebagai obat luka pada kulit. Kandungan antibakteri dan antiinflamasi yang ada di dalam daun bambu merupakan sumber penyembuhan yang baik untuk mengobati infeksi dan pendarahan yang menyertainya Teori pengobatan tradisional di Bali, China dan lainnya menyebutkan bahwa daun bambu memiliki potensi dikembangkan menjadi obat antikanker. Berangkat dari latar belakang inilah Silvi Fatika Wulandari (Program Studi S1 Agroteknologi Fakultas Pertanian Untidar), Dessy Syafitri Yani (Program Studi S1 Agroteknologi Fakultas Pertanian UNTIDAR), Hipit Putri Apriasih (Program Studi S1 Akuakultur Fakultas Pertanian UNTIDAR), Faiz Aulia Rizky (Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi UNTIDAR ), dan Wahyudi (Program Studi S1 Teknik Elektro Fakultas Teknik UNTIDAR) berinisiatif untuk membuat salep herbal dari ekstrak daun bambu dengan meminimalisasi penggunaan sediaan kimiawi, sekaligus mencari tahu potensi salep tersebut dalam mengatasi gangguan tumor dan kanker payudara.

Silvi beserta tim kemudian melakukan penelitian menggunakan mix method dengan model sequential exploratory, dengan didahului metode kualitatif untuk kemudian dilanjutkan dengan metode kuantitatif. Tujuan penelitian adalah membuat salep sinergi dari ekstrak daun bambu, meniran dan biji pepaya dengan basis vaseline putih untuk mengatasi tumor dan kanker payudara. Metode pengumpulan data menggunakan eksperimen dengan metode prevalensi berupa responden yang sudah terkena tumor dan kanker payudara. Analisis data menggunakan analisis deskriptif komparatif. Dengan menimbang berbagai jurnal yang menjadi referensinya, Silvi memutuskan membuat salep daun bambu dengan meminimalisasi penggunaan sediaan kimiawi. “Komposisinya adalah 10 % ekstrak daun bambu + 80 % vaseline + 5 % ekstrak meniran + 5 % ekstrak biji pepaya. Proses ekstraksi daun bambu dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 95 %. Salep yang dihasilkan memiliki bentuk krim, warna coklat, beraroma ekstrak daun bambu dengan pH 6,5. Daya sebar salep 3,5 cm dan daya lekat 3,66 detik”, jelas Silvi.

“Hasil uji efficacy menunjukkan bahwa penderita tumor payudara dengan ukuran sebiji salak (3-5 cm) dengan pemakaian salep 3x sehari selama 124 hari mengecil hingga seukuran biji pepaya (0,5-1 cm). Pemakaian salep dinilai lebih efektif daripada menggunakan kubis dan obat-obatan kimiawi dari dokter. Beberapa responden penderita kanker payudara stadium IIA dengan pemakaian salep 3x sehari selama 17 – 37 hari rasa sakit pada benjolan kanker hilang dan tekstur benjolannya melembek (menjadi lunak)”, tambahnya.

Salep Penjinak Tumor dan Kangker Payudara adalah karya inovasi yang belum lama ini memperolah Gold Medal dalam ajang AKIA Global Inventions Leader Award 2021 yang diadakan oleh Yayasan Aku Indonesia. Inovasi yang dihasilkan oleh Silvi dan kawan kawan ini membuktikan bahwa mahasiswa Untidar juga aktif  berkontribusi dalam menghasilkan penemuan yang bisa bermanfaat bagi masyarakat. Tentunya ini merupakan stimulus bagi mahasiswa lainnya agar selalu bergerak maju, mengoptimalkan pengetahuan yang dimiliki untuk memberikan sumbangsih bagi Indonesia.

Penulis : Tri Endah Retno Kusumaningrum (Humas UNTIDAR)

KARSALOKA TINGKATKAN LITERASI PENDIDIKAN DI DUSUN SEKENDI KABUPATEN MAGELANG

Kelas Belajar Anak Desa Berbasis Kearifan Lokal (KARSALOKA) merupakan konsep peningkatan literasi bagi anak-anak di dusun Sekendi, Desa Pogalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Konsep ini dilaksanakan dengan tiga pendekatan. Pendekatan yang pertama adalah pendidikan dan pengajaran melalui kelas mentoring pengetahuan umum, kelas motivasi, dan perpustakaan desa. Pendekatan yang kedua adalah program pertanian melalui kelas menanam dan ruang tanam. Pendekatan yang ketiga adalah pelestarian budaya melalui kelas budaya, dan branding kebudayaan lokal.

KARSALOKA yang digagas oleh Khoirin Aisyah dan tim yang kesemuanya adalah mahasiswa Untidar, berupaya secara aktif dan masif membantu pemerintah untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dengan memberikan motivasi bagi siswa SD dan SMP agar dapat berjuang menggapai cita-citanya ditengah keterbatasan.  Melalui program ini mahasiswa juga bisa mengamalkan Tridharma Perguruan Tinggi poin ketiga yaitu pengabdian kepada masyarakat melalui pendekatan praktik transfer ilmu kepada siswa SD dan SMP di desa dan daerah tertinggal.

Dusun Sekendi Desa Pogalan dipilih karena wilayahnya jauh dari pusat kota, mengakibatkan sulitnya akses internet untuk pembelajaran. Dimasa pandemi ini mereka dipaksa untuk beradaptasi dengan sistem sekolah daring, yang pada realitanya mengakibatkan kesulitan dalam mengikuti pembelajaran. Diharapkan melalui KARSALOKA kendala atau permasalahan yang dihadapi masyarakat di Dusun Sekendi bisa mendapatkan solusi.

“Nantinya kami akan mengadakan Kelas Mentoring Pengetahuan Umum. Kelas Mentoring Pengetahuan Umum ini menjadi program di mana mentor dan juga pemuda-pemudi dusun akan menjadi fasilitator bagi siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Kelas ini akan dilaksanakan pada hari Senin, Selasa, dan Rabu pada pukul 08.00-10.00”, jelas Khoirin selaku ketua pelaksana kegiatan. “Selain itu kami juga akan mengadakan kelas motivasi agar para siswa mendapatkan insight positif dan bersemangat untuk meraih mimpi. Selanjutnya kami juga merencanakan perpustakaan desa sebagai closing event yang diharapkan mampu menjadi sumbangsih para partner strategis serta donatur. Mereka akan menyerahkan buku bacaan, alat tulis, serta logistik lainnya yang bermanfaat bagi pelajar di dusun Sekendi”, tambahnya.

Disamping Program Pendidikan dan Pengajaran, melalui KARSALOKA Khoirin dan kawan-kawan juga mencetuskan Program Pertanian dan Program Pelestarian Budaya. Program Pertanian yang dimaksud mengarah pada pelestarian lingkungan dan juga pengetahuan seputar tanaman. Sementara Program Pelestarian Budaya berupa pengenalan kebudayaan lokal dusun Sekendi kepada generasi mudanya khususnya Seni Jathilan, dan branding kebudayaan dengan pembuatan dan pengelolaan platform media sosial seperti Instagram, Youtube, Facebook dan TikTok.

Ide yang digagas oleh Khoirin Aisyah bersama 12 anggota tim lainnya yaitu Rizki Sariningtias, Adi Ahmad Saputra, Ali Yasfi, Robi Hardika, Nisa Fadilah, Ichsan Nur Muchammad, Mayangsari Prameswari, Al Ihya Sanny, Mariska Naila Zifi An Najmi, Sobri Khausan Al Muis, Wimba Kamaludin, dan Aisyah Fitri Haryani ini, merupakan satu dari 6 proposal mahasiswa Untidar yang berhasil lolos dalam Program Holistik Pembinaan Dan Pemberdayaan Desa (PHP2D) Kemdikbud Tahun 2021. Khoirin dkk. berharap melalui KARSALOKA nantinya akan ada pemuda pemudi desa yang melakukan pendampingan pembelajaran secara berkelanjutan, semakin meningkatnya minat dan keinginan siswa dalam belajar dan mendapatkan pendidikan, meningkatnya literasi anak-anak desa, kebudayaan lokal terus lestari, dan terbentuknya kelembagaan lokal yang dalam jangka panjang akan meneruskan dan mengelola program KARSALOKA.

UNTIDAR JUARA DI PIMNAS DAN PCTA 2019

Universitas Tidar menjuarai Lomba Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) dan Parade Cinta Tanah Air (PCTA) Tahun 2019 yang keduanya berlangsung di Bali. Meraih Juara Presentasi Favorit dalam kategori PKM-PE (Program Kreatifitas Mahasiswa Penelitian Eksakta ) kelas 2 dalam PIMNAS lalu. Tiap kelas dibagi menjadi 20 tim dari 120 tim PKM-PE yang maju. Berbeda dengan PCTA yang lombanya bertingkat dari tingkat provinsi ke tingkat nasional, UNTIDAR lolos hingga tingkat nasional dan meraih Juara Favorit tahun ini.

Lomba Parade Cinta Tanah Air (PCTA) 2019 di Bali pada 09-13 September 2019 lalu, UNTIDAR mengusung inovasi alat Hydroponic Fodder with Temperature Sensor and Automatic Sprayer (Hydertetoyer) sebagai media tanam hidroponik fodder yang merupakan teknologi alternatif untuk memproduksi pakan hijauan tanaman jagung yang dibuat dengan bahan seadanya. Pasangan Sri Widiastuti dan Nur Achmad Purnama Nugraha pada awalnya membuat alat tersebut dengan menggunakan kayu dan triplek dengan dipadukan alat semprot otomatis secara sederhana. Kedua mahasiswa dari program studi peternakan tersebut berangkat mewakili UNTIDAR dalam bimbingan Tri Puji Rahayu, S.Pt., M.P. dan Retno Dewi Pramodia Ahsani, S.I.P., M.P.A.

Menurut Retno lomba PCTA tahun ini lebih ketat bersaing dan beragam inovasi yang dimunculkan oleh masing-masing peserta. Sebanyak 68 peserta yang mengikuti lomba, UNTIDAR meraih Juara Favorit. “Lomba tahun ini persaingannya lebih ketat dan jumlah peserta yang meningkat, UNTIDAR kali ini meraih Juara Favorit”, jelasnya.

Tim PKM-PE yang maju mewakili UNTIDAR di PIMNAS tahun ini beranggotakan Suwasdi (mahasiswa prodi agroteknologi 2016) selaku ketua, Mahdalina Mursilati (mahasiswa prodi agroteknologi 2017) dan Surya Bagus Purnomo (mahasiswa prodi peternakan 2016). PKM-PE ini membuat inovasi mengolah limbah kulit kacang tanah menjadi Extraordinary Peanut Shells Prebiotic (EXOTIC). EXOTIC menggunakan pemanfaatan limbah dalam bidang teknologi pangan yaitu kulit kacang tanah yang dikaji secara optimal untuk menghasilkan makanan bagi bakteri prebiotik.

Suwasdi mengungkapkan keikutsertaanya dalam PIMNAS mewakili UNTIDAR merupakan suatu kebanggaan dan kesedihan bagi dirinya. “Saya bangga mewakili UNTIDAR di lomba PIMNAS itu sekaligus juga merasa sedih karena ini menjadi tahun terakhir mengikuti PKM, giliran Mahda dan Bagus yang nanti merangkul adik angkatannya untuk ikut serta ke PKM selanjutnya” , ungkapnya. Disisi lain Widi mengungkapkan keikutsertaannya dalam lomba PCTA lalu memicu ia untuk ikut serta kembali tahun depan.” Tahun depan ingin coba lagi dengan lebih mempersiapkan ide yang sesuai dan inovatif”, katanya.

Mahasiswi peraih beasiswa bidikmisi tersebut menambahkan persaingan lomba di tingkat nasional merupakan ajang bersaing antar perwakilan provinsi yang lebih sulit dibandingkan saat lomba di tingkat provinsi, mental peserta harus siap dan dukungan dari pendamping sangat berkontribusi. “Bersaing dengan tiap juara di provinsinya selain mental yang harus disipkan, maka kontribusi pendamping sangat diperlukan mengingat dari persiapan hingga ke tahpa ini meraka yang memberikan arahan dan memotivasi kita agar dapat menampilan yang terbaik”, tambahnya. (HDN)

PKM 2019 : KERINCI, KERIPIK SEHAT KHAS DESA SAMBUNGREJO, GRABAG.

Bencana banjir bandang melanda  Desa Sambungrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang pada tanggal 29 April 2017 lalu. Banjir menyebabkan warga kehilangan rumah, pekerjaan, hewan ternak dan lahan pertanian.

Desa Sambungrejo terletak di kaki Gunung Sokorini dengan kondisi geografis berbukit-bukit dengan beberapa sumber mata air disekitarnya. Adanya sumber mata air membuat penduduk berinisiatif untuk menanam tanaman kenci (selada air) yang mudah tumbuh dalam aliran air.

“Kenci awalnya hanya dimanfaatkan untuk dijadikan lauk sehari-hari, tinggal direbus dan dipadukan dengan sambel pecel. Namun, kini kenci dapat dijual sebagai camilan sehat dan bernilai ekonomi tinggi,” ujar Astutik Ningsih.

Astutik (Ilmu Administrasi Negara ’17), Yulfatunisa (Ilmu Administrasi Negara ’17), Rizqiyatu Zuthfiyah (Ilmu Administrasi Negara ’17), Ani  Wulan Rahmawati (Pendidikan Bahasa Inggris ’17) dan Laeli Lafi Khusnatun (Ekonomi Pembangunan ’18) mengusung Program Kreatifitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-P) “KERINCI” Peningkatan Ketrampilan Masyarakat Pasca Bencana dalam Mengolah Potensi Lokal Dusun Sambungrejo.

Kelima mahasiswi Universitas Tidar ini membuat sebuah program pelatihan pengolahan kenci menjadi keripik aneka rasa. “Hasil sharing dengan ibu-ibu PKK Desa Sambungrejo, warga saat ini mengharapkan bantuan berupa program-program yang dapat membantu mereka melakukan perbaikan ekonomi, bukan hanya program yang bersifat sementara, namun juga program yang memiliki keberlanjutan,” tambahnya.

Mereka optimis dengan pelatihan keripik kenci ini dapat menjadi salah satu mata pencaharian warda Desa Sambungrejo.

Cara pengolahannya cukup mudah. Daun kenci dicuci bersih dan ditiriskan. Siapkan adonan keripik yang terdiri dari tepung terigu dan tepung beras serta bumbu. Goreng kering daun kenci yang telah dibalur dengan adonan.

Setelah dingin keripik kenci dibagi ke beberapa wadah untuk dicampur dengan beberapa rasa “kekinian” seperti pedas, balado, dan jagung manis pedas, balado dll.

“Keripik kenci atau kami sebut ‘kerinci’ diberi tambahan beberapa rasa untuk menarik konsumen. Dikemas secara moderen dan dipasarkan di beberapa koperasi dan toko di wilayah Grabag juga melalui media sosial melaui Facebook, Instagram dan Whatshap. Kerinci dijual dalam beberapa ukuran kemasan yaitu 100 gr seharga Rp 8.000, 250 gr seharga Rp 15.000 dan 500 kg seharga Rp 25.000.

“Ibu-ibu PKK Desa Sambungrejo sangat antusias dengan program ini terutama bagi mereka ibu-ibu rumah tangga. Selain menjadi pengisi waktu luang juga menjadi tambahan penghasilan bagi keluarga,” pungkasnya. (Tim PKMP Kerinci/HDN/DN)

PKMT 2017 : PIDADUPING HASILKAN 100 KEPING EMPING PER MENIT

PKM-T (Program Kreatifitas Mahasiswa Teknologi)  berjudul “Mesin Pemipih Adonan pada Proses Produksi Emping Singkong (Pidaduping)” yang di ketuai oleh Ari Aprianto merupakan salah satu yang mengikuti Monev (Monitorong dan Evaluasi) beberapa bulan lalu di Semarang.

Awalnya Ari bersama tim berkunjung di sebuah industri rumahan milik Bapak Slamet di Desa Blongkeng, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang. Keseluruhan proses produksi masih manual, alat yang digunakan pun masih sederhana. Sementara permintaan pasar melebihi jumlah produksinya.

“Proses yang manual itu sangat menguras tenaga, jadi kami berfikir untuk membuat terobosan baru agar produksinya lebih cepat dan permintaan konsumen dapat terpenuhi”, jelasnya.

 Ari Apriyanto beserta Abdullah Labib, Adi Farhan Khamid, Aji Setiyawan, dan Rinaldi Ridho Arrahman mulai menciptakan mesin dengan tenaga listrik 188 watt tersebut. Cara kerjanya Pidaduping cukup sederhana, sebuah motor listrik berputar menggerakkan pulley kecil yang kemudian dihubungkan oleh v-belt untuk menggerakkan pulley besar. Kemudian pulley besar menggerakkan poros. Pada poros tersebut terdapat tiga tuas vertical yang akan menggerakan kayu pemipih bergerak ke atas dan ke bawah sesuai putaran poros. Alat tersebut menghasilkan 100 keping emping per menit.

“Pembuatan Pidaduping itu mengabiskan dana kurang lebih 4 juta rupiah ini mampu memproduksi 100 keping emping singkong per menit”, tambahnya.

Mesin Pemipih Adonan pada Proses Produksi Emping Singkong (Pidaduping) ini dibuat melalui beberapa proses selama 4 bulan. Pertama, tim melakukan identifikasi masalah, perancangan dan pembuatan mesin. Kemudian dilakukan proses pengujian untuk melihat kinerjanya sesuai dengan konsep yang direncanakan atau tidak. Selanjutnya dilakukan analisa dan perbaikan agar mesin dikatakan layak pakai. (Puji Lestari-mg/HDN)

MILAD KE 37, MAPALA SULFUR BERSIHKAN KALI BENING

Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Sulfur Universitas Tidar menggadakan acara Bakti Sosial (baksos) membersihkan dan menebar 200 benih ikan mas di Sungai Kali Bening, Dusun Dumpoh, Potrobangsan, Minggu (15/10). Kegiatan ini merupakan rangkaian Milad ke 37 Mapala Sulfur.

“Harapannya kegiatan baksos ini meningkatkan kesadaran warga kampus dan sekitarnya agar terus menjaga alam ini meskipun dari hal kecil seperti menanam pohon atau tidak membuang sampah di sungai agar ekosistem tetap terjaga,” kata Zaimuddin, Ketua Panitia Milad.

Membuka kegiatan ini, Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan dan Kerjasama (BAKPK), Drs. Giri Atmoko, M.Si. menuturkan bahwa setiap Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) hendaknya meningkatkan kegiatan positif yang bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya. “Kami mendukung kegiatan setiap UKM tentunya yang bersifat positif dan berguna bagi sesama. Selain itu, untuk mendukung kelancaran kegiatan hendaknya perlu diperhatikan alur atau proses perijinan serta pertanggungjawaban kegiatannya juga,” ungkapnya.

Setelah memberikan sambutan, Kabiro BAKPK beserta pendamping Mapala Sulfur, Retno Dewi Pramodia Ahsani, S.IP., M.PA., menanam bibit Adansonia Digitata atau biasa disebut Pohon Botol setinggi 30 cm di komplek taman Gedung Fakultas Teknik. Penanaman ini merupakan simbolisasi kepedulian Mapala Sulfur kepada lingkungan.

“Pohon botol tumbuhnya tidak terlalu memakan tempat dan cocok ditanam ditengah kampus. Kalo sudah tumbuh besar nantinya akan dijadikan tanaman simbolis Mapala Sulfur dan kedepannya bisa kami budidayakan juga dengan stek tanaman,” jelas Pertiwi Juli Astuti, Koordinator Sie Acara Milad Mapala.

Kegiatan baksos dibagi menjadi 2 yaitu baksos internal dan baksos eksternal. Baksos internal meliputi penanaman pohon di dalam kampus yang dilanjutkan pembersihan Sungai Kali bening dan penebaran benih ikan. Sedangkan baksos eksternal dilaksanakan di Dusun Deles, Citrosono, Grabag, Kabupaten Magelang.

Baksos eksternal dilaksanakan 1 hari sebelumnya, Sabtu (14/10) dimana Mapala Sulfur menanam 200 bibit pohon botol di wilayah pasca bencana Dusun Nipis. Bibit pohon yang ditanam meliputi jabon, mahoni, eukaliptus dan asam jawa. (Mapala Sulfur/DN)

PKMT 2017 : SIPEDI GEOGEMPAR, SOLUSI PENGERINGAN PADI HEMAT WAKTU & TENAGA

Pasca panen sebagian besar para petani dari Kelompok Tani Dumpoh, Kelurahan Potrobangsan langsung menjual padi dalam keadaan basah. Kondisi ini menyebabkan penghasilan yang diperoleh tidak maksimal. Cuaca yang kurang menentu dan tenaga yang terbatas memaksa para petani melepas hasil panen padi dlam keadaan basah dengan kisaran harga Rp 4000/kg.

Kondisi ini menginspirasi Suranto Heri Prasetyo, Agus Musafa, Rizal Martovani Vauzi, Miftahul Rhama Yudha mahasiswa Fakultas Teknik, Universitas Tidar menciptakan Mesin Pengering Padi Berbasis Elektrik Otomasi dengan Metode Momen Putar (SIPEDI GEOGEMPAR).

 

SIPEDI GEOGEMPAR merupakan alat pengering padi berdimensi panjang 160 cm, lebar 80 cm dan tinggi 130 cm yang memanfaatkan energi listrik dan kompor sebagai sumber pemanasan. Mesin tersebut juga dilengkapi beberapa komponen yang dapat memberikan berbagai kemudahan pekerjaan, antara lain: pengendalian suhu pengeringan secara otomatis melalui perangkat thermocontrol, pemerataan pengeringan secara kontinu dan otomatis melalui blower dan sistem mekanik serta drum silinder padi sebagai tempat pengeringan padi dengan kapasitas 100 kg.

“Pengeringan padi dengan alat ini mampu meningkatkan penghasilan para petani. Harga padi kering yang dihasilkan bisa dijual seharga Rp 8000/kg, walaupun ada pengurangan berat pada saat proses penggilingan, penghasilan para petani tetap meningkat 35%,” kata Heri.

Proses pengeringan metode konvensional memerlukan waktu 5 hari untuk 10 ton padi sedangkan menggunakan SIPEDI GEOGEMPAR padi 10 ton bisa dikeringkan dalam waktu 1 hari. Penggunaan motor listrik dengan daya rendah, ukuran alat yang tidak terlalu besar, adanya gir pemutar dan pengatur suhu menjadi keunggulan alat ini.

 

“Pengeringan bisa dilakukan sewaktu-waktu. Hasil pengeringannya pun memiliki kualitas yang lebih baik. Kadar air terkontrol dengan baik yaitu 14-15% dengan warna kulit padi yang lebih cerah. Kondisi ini meminimalisir adanya padi yang busuk saat penyimpanan setelah dikeringkan,” tambah Heri.

Mesin Pengering Padi Berbasis Elektrik Otomasi dengan Metode Momen Putar (SIPEDI GEOGEMPAR) merupakan Program Kreatifitas Mahasiswa Teknologi (PKMT) UNTIDAR yang lolos didanai Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) tahun 2017. (DN/HDN)

PKMK 2017 : BIBIT MANGGIS KAKI GANDA, 2 TAHUN LANGSUNG BERBUAH.

PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) dengan judul  Untung Ganda dengan Bibit Manggis Kaki Ganda berlatar belakang adanya pencarian bibit manggis yang meningkat. Ardika dan timnya memiliki tujuan untuk mendukung hal itu dengan pembuatan bibit manggis yang pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan bibit manggis biasa.”Menumbuhkan bibit manggis dari biji umumnya membutuhkan waktu paling tidak 5 hingga 10 tahun baru menghasilkan buah sedangkan bibit hasil sambung pucuk dengan batang bawah berumur 2 tahun sudah bisa berbuah 1 tahun sejak disambung” katanya.

Bibit manggis kaki ganda dibuat menggunakan cara sambung pucuk dengan menggabungkan dua batang bibit manggis untuk menunjang serapan nutrisi dua kali lebih banyak dan pertumbuhannya cepat.  Penggabungan bibit manggis yang digunakan adalah bibit manggis unggul dalam berbuah dengan bibit manggis yang baik dalam beradaptasi dengan tanah dan tahan terhadap penyakit akar.

Bibit manggis unggul yang menghasilkan buah baik dari segi kuantitas maupun kualitas menjadi batang atas,  juga bibit manggis yang mampu beradaptasi dengan berbagai jenis tanah dan penyakit akar menjadi batang bawah. “Batang tanaman manggis yang cenderung berbentuk pipih saat disambung antara batang atas dan batang bawah harus sebidang karenanya dibutuhkan keterampilan”, jelasnya.

Memilih media bibit manggis sebagai media sambung pucuk dikarenakan tingkat kesulitannya tinggi dibandingkan tanaman lainnya. Sebelumnya Ardika dan kawan-kawan telah mencoba pada tanaman durian, kelengkeng, duku maupun sawo.

PKM ini beranggotakan 3 orang yaitu Ardika Ageng Samudra selaku ketua dan dua anggota lainnya yaitu Fisiela Fikta Arunia dan Sri Windiyani. Saat ini bibit sudah dipasarkan di daerah Sumberan, Salaman.

Ardika menambahkan dari hasil perhitungan keuntungan yang didapat mencapai 50% dari harga jualnya. “Bibit biasa itu seharga Rp 5.000,00 saja dan sekarang kami buat agar nilai jual bertambah dengan sambung pucuk bibit manggis sebagai daya tarik tersendiri”, katanya.

PKM ini termasuk dari 12 pkm yang berangkat dalam monev eksternal yang berlangsung di UNNES Semarang bulan lalu. Dalam kesempatanya dalam presentasi PKM ini menarik perhatian kedua pemonev hingga akhirnya 3 bibit yang dibawa sebagai wujud produk dibeli dua bibit oleh pemonev. (HDN/DN)

TANAMKAN BELA NEGARA PADA MAHASISWA, UNTIDAR JALIN KERJASAMA DENGAN AKMIL MAGELANG

Banyaknya isu gerakan radikal yang mulai masuk ke lingkup pendidikan tinggi, Universitas Tidar berencana menjalin kerjasama dengan Akademi Militer (AKMIL) Magelang dalam upaya Pembinaan Kesadaran Bela Negara. Kerjasama ini bertujuan menanamkan sikap cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, setia pada Pancasila serta rela berkorban untuk bangsa dan Negara.

“Pendidikan Bela Negara pada mahasiswa diharapkan melahirkan mahasiswa yang berkualitas dalam segi akademik serta loyal pada negrinya. Minimal mereka menjadi disiplin dengan etos kerja tinggi. Menurut kami, AKMIL adalah pilihan tepat dalam mewujudkan program ini,” kata Dr. Bambang Kuncoro, M.Si., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Rabu (02/07).

Program Bela Negara direncanakan akan dilaksanakan pada akhir Agustus mendatang dimana pesertanya adalah seluruh mahasiswa baru tahun akademik 2017/2018. Untuk menindaklanjuti rencana ini, Rektor beserta jajaran pimpinan UNTIDAR serta pihak AKMIL Magelang akan menggelar pertemuan pada Senin (07/08).

Program Bela Negara ini juga merupakan implementasi dari Surat Nomor 2440/A.A2/TU/2017 dari Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi perihal Pedoman Pembinaan Kesadaran Bela Negara dalam Kegiatan Pengenalan Kampus bagi Mahasiswa Baru.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNTIDAR juga ikut serta dalam acara Deklarasi Bela Negara para pimpinan bidang kemahasiswaan PTN/PTS se-Indonesia di Malang (29/07) lalu dimana perlunya digalakan semangat persatuan dan kesatuan serta visi untuk mengembangkan pendidikan yang berkarakter.

Seluruh calon mahasiswa baru UNTIDAR diwajibkan mengikuti acara Serah Terima Mahasiswa pada 17 Agustus 2017 bersamaan dengan upacara Kemerdekaan Republik Indonesia ke 72. Selanjutnya rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) atau biasa disebut OTADAMA (Orientasi Tidar Muda) akan dimulai seperti pengenalan lingkungan kampus, fakultas serta Malam Inagurasi. Program Bela Negara selanjutkan akan mengikuti setelah rangkaian acara OTADAMA berakhir.