Peserta Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Ikuti Kelas Inspirasi dan Kunjungan ke Museum Oei Hong Djien (OHD)

36 mahasiswa peserta Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) dari 12 perguruan tinggi yaitu Institut Teknologi Kalimantan, Universitas Cokroaminoto Palopo, Universitas Hasanuddin, Universitas Kristen Indonesia Paulus, Universitas Muhammadiyah Kendari, Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang, Universitas Negeri Makassar, Universitas Borneo Tarakan, Universitas Negeri Manado, Universitas Pattimura, Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, dan Universitas Muhammadiyah Palangka Raya mengikuti kegiatan Kelas Inspirasi, yang dilanjutkan dengan kegiatan Kunjungan ke Museum OHD, Kamis (6/1).

Selama kuliah di UNTIDAR, mahasiswa peserta PMM wajib mengambil 10 sks. 2 sks untuk Modul Nusantara dan 8 sks untuk mengambil mata kuliah sesuai jurusan masing-masing. Modul Nusantara adalah mata kuliah yang wajib diambil oleh peserta PMM. Yang mana dalam Modul Nusantara terbagi menjadi 14 kegiatan Kebhinekaan, 7 kegiatan Refleksi, dan 3 Kelas Inspirasi. Kamis, (6/1) 36 peserta PMM mengikuti 2 kegiatan sekaligus yaitu Kelas Inspirasi ke-3 dan Pengenalan Budaya.

Kelas Inspirasi kali ini menghadirkan pemateri Muhammad Ikhsan Sahal Guntur untuk berbagi kiat bagaimana meraih Beasiswa S2. Muhammad Ikhsan Sahal Guntur adalah penerima Beasiswa LPDP UGM Program PB dan TPA Bapenas di tahun 2017. Mukhamad Ikhsan selama ini juga banyak membimbing mahasiswa agar bisa lolos beasiswa baik dalam maupun luar negeri.

Everyone Can Get Scholarship adalah tema yang diangkat di Kelas Inspirasi 3. Mukhammad Ikhsal menjelaskan banyak hal diantaranya tentang fasilitas yang diperoleh peraih Beasiswa LPDP yaitu Biaya Pendidikan dan Biaya Pendukung. Biaya Pendidikan meliputi Biaya Pendaftaran Biaya SPP/Tuition Fee, Tunjangan Buku, Biaya Penelitian, Tesis/Disertasi, Biaya Seminar Internasional, dan Biaya Publikasi Jurnal Internasional. Sementara Biaya Pendukung meliputi Transportasi, Aplikasi Visa/Residence Permit, Asuransi Kesehatan, Biaya Hidup Bulanan, Biaya Kedatangan, Biaya Keadaaan Darurat dan Biaya Pengayaan (Afirmasi). Muhammad Ikhsan juga menjelaskan tentang jenis-jenis beasiswa, syarat mendapatkan beasiswa, tata cara pendaftaran dan proses seleksi yang harus diikuti. “Tips dari saya jika memang ingin mendapatkan beasiswa diantaranya perbanyak sedekah dan ibadah, luruskan niat, persiapkan Toefl dan TPA jauh-jauh hari dan berkontribusilah,” jelasnya.

Sesuai mengikuti Kelas Inspirasi, peserta PMM mendapatkan kesempatan yang luar biasa yaitu mengunjungi Museum Oei Hong Djien (OHD) yang menjadi kebanggaan Kota Magelang. Kegiatan kunjungan ini sebagai salah satu perwujudan mata kuliah Modul Nusantara yaitu pengenalan budaya. Museum OHD Magelang adalah museum pribadi yang dimiliki kolektor lukisan ternama yang bernama Oei Hang Djien (OHD). Meskipun museum OHD belum setenar Museum Affandi Yogyakarta, tetapi bagi pecinta seni museum ini merupakan tempat yang sangat istimewa. Museum OHD sudah memiliki koleksi lebih dari 2000 karya seni, yang terdiri dari karya anak bangsa. Diantaranya adalah lukisan, pahatan, seni instalasi, patung ataupun new media art. Karya seni ini dibuat oleh seniman-seniman besar Indonesia, seperti Affandi, S.Sudjojono, Hendra Gunawan, Widayat, dan Soedibio. Tidak hanya karya seniman besar,  OHD juga menjadi wadah bagi seniman-seniman baru yang ingin menuangkan kreativitasnya.

Diharapkan dengan kunjungan ke Museum OHD ini, para mahasiswa peserta PMM yang sebagian besar berasal dari luar jawa, bisa lebih mengenal Magelang dengan segala keunikan dan keragaman budayanya.

Penulis : Humas

Mahasiswa Agroteknologi UNTIDAR Teliti Jamur Trichodrema sp. Sebagai Agen Hayati Pengendali Penyakit Tanaman

Serangan hama dan infeksi patogen pada tanaman budidaya menjadi salah satu faktor yang dapat menurunkan produktivitas tanaman. Penggunaan pestisida marak dilakukan oleh sebagian besar petani untuk mengatasi serangan tersebut. Hanya saja penggunaan pestisida dapat meninggalkan residu pada tanah, produk pertanian, serta menyebabkan munculnya hama patogen yang resisten. Oleh karena itu perlu dicari solusi untuk mengatasi serangan hama dengan cepat, tepat dan aman, salah satunya adalah dengan pengendali hayati berupa beneficial fungi.

Beneficial fungi yang sering digunakan adalah Trichoderma sp. karena mampu menekan pertumbuhan patogen. Organisme ini banyak terdapat di tanah, namun belum semuanya tereksplorasi dengan baik terutama untuk yang sifatnya endemik lokal. Untuk itulah 3 mahasiswa program studi S1 Agroteknologi yaitu Nora Aulia, Novi Aulia Nuraini, dan Asri Vidyastuti bersama dosen pendamping Esna Dilli Novianto, M.Biotech., melaksanakan penelitian untuk mengekslorasi beneficial fungi pada tanah lokal di daerah Yogyakarta terutama yang antagonis terhadap patogen Fusarium sp.

Fusarium sp. merupakan jamur penyebab penyakit layu pada tanaman cabai. Penyakit layu pada cabai seringkali menjadi salah satu faktor penyebab kerugian bagi petani cabai. Kerugian akibat penyakit layu Fusarium sp. pada tanaman cabai tergolong cukup besar karena bisa mengakibatkan kerugian dan gagal panen hingga 50 %. Oleh karena itu, dilakukan penelitian terkait eksplorasi dan isolasi jamur Trichoderma sp. pada tanah bawah bambu serta menguji daya antagonisnya dalam menghambat pertumbuhan jamur Fusarium sp. penyebab penyakit layu pada tanaman cabai. Melalui hasil penelitian ini diharapkan isolat beneficial fungi hasil eksplorasi dari tanah bawah bambu dapat diaplikasikan sebagai agensia hayati yang efektif untuk mengendalikan patogen Fusarium sp.

“Penelitian kami laksanakan di Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit Tanaman (LPHPT) Bantul, Yogyakarta. Untuk eksplorasinya dilakukan pada tiga jenis tanah yang berbeda yaitu tanah yang diambil dari Dusun Mangir, Patihan, dan Nanggulan,” kata Nora Aulia selaku ketua tim penelitian. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa isolasi mikrobia dilakukan dengan metode pengenceran bertingkat 100, 10-1, 10-2, 10-3, 10-4, dan 10-5. Kemudian dilanjutkan dengan uji antagonis isolat Trichoderma sp. yang didapatkan terhadap Fusarium sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat mikrobia hasil eksplorasi tanah bawah bambu merupakan isolat jamur Trichoderma sp. Hasil uji antagonis menunjukkan bahwa isolat yang berasal dari tanah Mangir dan Nanggulan memiliki daya hambat terhadap Fusarium sp. lebih dari 60%. Hal ini dikarenakan jamur Trichoderma sp. menghasilkan senyawa antibiotik yang cukup efektif menghambat pertumbuhan Fusarium sp. sehingga dapat digunakan sebagai kandidat agen hayati.

Penelitian jamur Trichodrema sp. sebagai agen hayati pengendali penyakit tanaman adalah artikel ilmiah mahasiswa UNTIDAR, yang tahun 2021 ini mendapatkan pendanaan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Artikel Ilmiah (PKM-AI) dari Kemdikbudristek. PKM-AI diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menuangkan pemikiran hasil dari studi literatur dan hasil-hasil kegiatan ilmiah yang telah dilakukan ke dalam bentuk sebuah artikel ilmiah sesuai kriteria standar penulisan jurnal ilmiah. Dengan demikian, program ini diharapkan mampu mengantarkan mahasiswa kepada keterampilan atau keahlian dalam menulis artikel ilmiah. Melalui keahlian tersebut, mahasiswa secara runtut mampu menguraikan suatu permasalahan, sehingga hasil analisis tersebut mendorong perlu adanya usaha penyelesaian atau pencarian solusi dengan tujuan tertentu, baik untuk permasalahan yang sifatnya masih dasar maupun permasalahan terapan di lapangan.

Penulis : Humas

Mahasiswa Agroteknologi Pelajari Cara Perbanyak Jamur Trichoderma Harzianum Dengan Media Dedak di Lingkungan Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit Tumbuhan (LPHPT) Kabupaten Bantul Yogyakarta

Pengendalian hayati semakin digalakkan untuk mengurangi dampak buruk yang ditimbulkan dari penggunaan pestisida ke lingkungan. Jamur antagonis merupakan organisme yang dapat dimanfaatkan dalam upaya pengendalian hayati. Salah satu agen hayati yang sering digunakan adalah Trichoderma Harzanium. Jamur tersebut bersifat saprofit sehingga dapat digunakan sebagai agen biokontrol yang efektif terhadap sejumlah fungi patogen. Upaya perbanyakan jamur T. harzanium yang selama ini dilakukan adalah dengan menggunakan media beras. Namun demikian, metode ini mengeluarkan biaya mahal dan prosesnya lebih rumit. Solusinya media beras diganti dengan dedak karena biaya lebih murah dan prosesnya lebih sederhana.

Laboratorium Pengendalian Hama Penyakit Tanaman (LPHPT) UPTD Balai Proteksi Tanaman Pertanian Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY di Desa Wirirejo, Pandak, Bantul. (LPHPT) Bantul selama ini telah berhasil menggunakan media dedak dalam perbanyakan T. Harzianum. Oleh karena itu dilakukan kegiatan pembelajaran dalam bentuk Praktek Kerja Lapangan oleh mahasiswa program studi Agroteknologi Fakultas Pertanian UNTIDAR, yang diwakili oleh Sinta Puspita Dewi, Mita Nurjanah, dan Nuzullaela Rahmawati di LPHPT Bantul, dalam rangka melatih kemampuan dan ketrampilan dalam perbanyakan jamur T.Harzianum.

Metode yang akan dilakukan dalam Praktik Kerja Lapangan yakni dengan melakukan wawancara dengan pembimbing yang terlibat secara langsung pada Praktik Kerja Lapangan. Untuk kemudian dilakukan praktik dan pengambilan data tentang perbanyakan jamur T. Harzianum pada media dedak di Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Tumbuhan (LPHPT) Bantul. Selain itu mereka  juga secara aktif mengikuti kegiatan Perbanyakan T. Harzianum yang ada di LPHPT Bantul.

“Teknik perbanyakan Trichoderma Harzianum dimulai dari pembuatan media dedak, sterilisasi media dengan autoklaf, inokulasi starter Trichoderma harzianum ke media LAF, inkubasi selama kurang lebih 2 minggu, pemanenan dan pencampuran dengan zeolite, inkubasi selama 10 hari, dan yang terakhir pengemasan hasil perbanyakan Trichoderma Harzianum untuk siap digunakan. Peremajaan dilakukan 4-6 bulan sekali untuk memastikan persediaan F0 tetap ada, serta pembuatan starter (F1) yang merupakan biang untuk dilakukan lagi perbanyakan,” jelas Sinta Puspitawati selaku ketua tim.

Sinta menambahkan, muara kegiatan ini berupa reportase budidaya T. Harzianum dengan media dedak yang efektif dan efisien sehingga dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi banyak kalangan. Diharapkan hasil kegiatan ini dapat memberikan informasi yang aktual mengenai prosedur baku penggunaan dedak sebagai media pertumbuhan T.Harzanium yang lebih murah, efektif dan efisien.

Penulis : Humas

Pot Kebudayaan, Solusi Kurangi Limbah Sampah Plastik dan Lestarikan Budaya Indonesia

Berawal dari keprihatinan akan sampah limbah plastik yang jumlahnya selalu bertambah dari tahun ke tahun, 4 mahasiswa UNTIDAR menginisiasi sebuah usaha produk pot bunga yang berbahan baku limbah plastik. Mereka adalah Fina Al Fatikhiah (S1 Pendidikan IPA), Feri Irawan (S1 Teknik Mesin), Tri Rohman Sugiyanto (S1 Teknik Mesin), dan Danar Putri Miranda (S1 Akuntansi). “Kami ingin membantu pemerintah dalam mewujudkan pengurangan dan pengelolaan sampah plastik.  Produk ini merupakan terobosan terbaru dan inovatif dalam pengelolaan limbah plastik melalui moulding,” jelas Fina selaku ketua tim. “Pot akan dipercantik dengan hiasan yang mengandung nilai-nilai budaya yang disukai kalangan remaja maupun orang dewasa seperti wayang, batik, dan baju adat. Diharapkan produk ini mampu menjadi salah satu usaha kreatif untuk membantu pemerintah dalam mengurangi limbah, sekaligus melestarikan kebudayaan di Indonesia. Alhamdulillah ide kami ini juga berhasil meraih hibah Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan tahun 2021 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, sehingga kami begitu bersemangat untuk menghasilkan karya yang bermanfaat,” tambahnya.

Usaha pot kebudayaan merupakan media pelestarian lingkungan dan budaya karena dibuat menggunakan sampah plastik dan mengandung nilai-nilai kebudayaan, sehingga turut membantu memberikan solusi kepada masyarakat untuk mengurangi volume sampah plastik yang dari hari ke hari semakin banyak, sekaligus melestarikan kebudayaan khususnya di kalangan muda. Penambahan jumlah penduduk mengakibatkan bertambahnya konsumsi masyarakat, lebih lagi limbah dari kegiatan konsumsi masyarakat tersebut banyak yang terbuat dari plastik, sehingga volume sampah plastik semakin bertambah. “Hal itu menyebabkan permasalahan yang sangat pelik karena sampah plastik susah terurai. Hal ini yang membuat kami berinisiatif untuk membuat produk olahan dari sampah plastik yaitu berupa pot kebudayaan yang bisa menambah inovasi dan daya tarik bagi masyarakat,” ungkap Feri.  “Usaha pengolahan sampah plastik ini memerlukan cetakan pot kebudayaan yang dilengkapi dengan alat-alat untuk mengurai sampah plastik serta dibutuhkan cat untuk menambah daya tarik pada pot,” tambahnya.

Lebih lanjut Fina menjelaskan usaha pot kebudayaan mengalami perkembangan yang cukup baik dimana minat masyarakat terhadap tanaman rumahan untuk mengisi waktu luang saat WFH (Work from Home) selama pandemi sangat tinggi. Selain itu masyarakat tertarik dengan produk ini karena dapat melestarikan lingkungan dengan cara mengurangi limbah plastik di lingkungan masyarakat sekitar.

“Berdasarkan survei pasar tentang pot tanaman rumahan, kebanyakan pot yang dibuat dan digunakan oleh masyarakat hanya pot biasa yang dijual di pasaran. Selain dari segi kegunaan, dari segi estetika kami mengangkat kebudayaan bangsa yang tidak kalah menarik dari gambar-gambar umum yang beredar di pasaran. Sehingga selain terdapat fungsi pelestarian lingkungan, terdapat pula fungsi pelestarian kebudayaan. Sejauh ini, belum ada inovasi tentang pengolahan sampah menjadi pot kebudayaan, sehingga usaha ini dirasa layak untuk dijalankan dan memperoleh peluang yang besar karena pesaing yang masih belum ada,” urai Fina.

“Respon dari para konsumen menunjukkan bahwa mereka mendapatkan kepuasan dari hasil produk yang kami buat. Mereka sangat mengapresiasi bagaimana tim kami berusaha untuk mengurangi limbah plastik di lingkungan sekitar dan pelestarian kebudayaan dengan media pot tanaman. Dengan semakin banyak desain pot yang kami buat dan semakin banyak jenis budaya yang kami tuangkan membantu budaya yang dimiliki Indonesia tetap dikenal di setiap generasinya. Usaha ini memiliki potensi pengembangan dan menjamin keberlanjutan usaha, salah satunya ditandai dengan peningkatan laba mencapai 40%. Menandakan produk potensial pasar. Dengan perkembangan yang baik ini membuat usaha kami memiliki peluang besar untuk lebih dikembangkan. Pengembangan yang bisa dilakukan adalah pengembangan jenis produk seperti variasi ukuran dan desain gambar yang dapat di-custom,” pungkas Fina.

Penulis : Humas

Mesin Perajang Ubi Jalar Karya Mahasiswa Teknik Mesin UNTIDAR Bantu Produktivitas UMKM Berkah Tangkur Desa Menoreh Salaman

Desa Menoreh Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang memiliki banyak UMKM yang memproduksi grubi. Grubi adalah makanan ringan khas Jawa Tengah yang terbuat dari ubi jalar, dibuat seperti bola-bola kemudian digoreng dan dibumbui gula jawa. Bentuknya menyerupai bola tetapi tidak seperti bola sungguhan karena masih terdapat rongga-rongga di dalamnya. Grubi memiliki cita rasa manis khas gula jawa dan bertekstur renyah.

Salah satu UMKM di Desa Menoreh yang memproduksi grubi adalah UMKM Berkah Tangkur. Permintaan grubi dari konsumen selalu meningkat dan memberikan omset yang cukup besar bagi UMKM Berkah Tangkur, namun permintaan konsumen tersebut tidak sebanding dengan jumlah grubi yang dihasilkan. Ini dikarenakan proses pembuatan grubi yang masih dilakukan secara manual dan menggunakan peralatan sederhana, terutama dalam proses perajangan yang membutuhkan waktu lama serta tenaga yang besar. Tak jarang membuat kelelahan, dan tidak sedikit yang merasakan pegal-pegal bahkan membuat tangan sampai terluka.

Tim Program Kreativitas Mahasiswa UNTIDAR yang terdiri dari lima mahasiswa program studi S1 Teknik Mesin Fakultas Teknik yaitu Yuni Nur Diana, Kunti Nafingatul Khusna, Seno Sutrisno, Garin Holiyana dan Masnurojak Bin Khanif bersama dosen pendamping Catur Pramono, S.T., M.Eng. menciptakan sebuah inovasi yaitu Mesin Perajang Ubi Jalar Otomatis menggunakan motor listrik, untuk mengganti proses perajang konvensional menjadi mesin otomatis. Mesin ini dirancang dengan tujuan untuk merajang ubi dengan hasil potongan berupa potongan halus memanjang. Mesin ini memiliki beberapa keunggulan yaitu terjangkau, mudah dalam perawatannya, mampu merajang ubi dengan baik, mampu merajang ubi dengan waktu yang relatif cepat dengan hasil yang maksimum, mudah dan aman dalam pengoperasian, dapat dioperasikan dalam daya listrik rendah, menghasilkan produk yang lebih berkualitas, dan efisien serta ramah lingkungan.

“Mesin yang kami kembangkan, dengan kelebihan dan kesederhanaannya mampu menjawab permasalahan mitra kerja. Mesin yang kami kembangkan memudahkan proses perajangan ubi  dan  dapat menekan tenaga serta waktu yang harus dikeluarkan oleh mitra kerja,” kata Yuni selaku ketua tim. “Perajangan ubi secara konvensional membutuhkan waktu yang lama, sementara hasil perajangan hanya mencapai 10 kg/jam sesuai dengan cepat lambatnya kinerja tangan. Sedangkan jika menggunakan mesin otomatis proses perajangan dapat mencapai 48 kg/jam. Hasil rajangan tidak hanya berbentuk lembaran namun langsung dapat berbentuk potongan halus memanjang,” tambahnya. Dia menjelaskan mesin yang dibuatnya bersama tim juga mudah dalam perbaikan dan perawatan, serta ramah lingkungan karena tidak menghasilkan polusi yang dapat merusak keseimbangan ekosistem.

“Semoga inovasi mesin perajang ubi otomatis mengggunakan motor listrik ini dapat mempermudah dan mempercepat dalam proses perajangan ubi, sehingga produksi grubi yang dihasilkan akan semakin banyak, lebih efektif dan efisien serta dapat menyejahterakan mitra kerja,” pungkasnya.

Penulis : Humas

Pemanfaatan Tepung Taoge Untuk Percepat Kematangan Gonad Ikan Beong Raih Gold Medal AKIA Global Invention Leaders Award

Mahasiswa program studi Akuakultur Universitas Tidar yaitu Wahyu Utami, Tito Kurniawan, Hipit Putri Apriarsih dan Syahrul Ramadhan mencetuskan ide inovatif yaitu pemanfaatan tepung taoge untuk mempercepat kematangan gonad ikan beong. Ide inovatif ini berhasil meraih Gold Medal di ajang AKIA Global Invention Leaders Award 2021.

“Turunnya populasi ikan beong di alam dan proses pembenihan ikan beong yang cukup sulit menjadi dasar pemikiran riset kami ini. Solusinya ialah dengan memanfaatkan tauge yang diubah menjadi tepung guna mempercepat proses kematangan gonad ikan beong,” tutur Wahyu Utami selaku ketua tim. Utami menjelaskan Ikan beong (Mystus nemurus) merupakan ikan air tawar yang menjadi olahan khas Magelang. Olahan tersebut berupa mangut beong yang kini banyak peminatnya. Akan tetapi, bertambahnya peminat ikan beong tidak selaras dengan jumlah produksi. Hal ini dikarenakan masih sedikit yang membudidayakannya. Sejauh ini dalam memenuhi kebutuhan konsumsi maupun penyediaan benih untuk kegiatan pembesaran masih mengandalkan tangkapan dari alam. Dalam pengembangan budidaya ikan beong juga masih banyak terdapat kendala dan permasalahan terutama pada proses pembenihan. Salah satu cara untuk meningkatkan jumlah produksi ikan beong yaitu dengan mempercepat waktu pematangan gonad dan ovulasi melalui aplikasi nutrisi pada pakan induk. Tercetuslah ide untuk memanfaatkan tanaman tauge.

Menurut Utami tauge memiliki kandungan nutrisi yang sangat baik seperti vitamin E, vitamin C, protein, lemak, dan mineral yang dibutuhkan dalam pembentukan vitellogenin. Tauge dapat diolah menjadi tepung sebagai campuran pakan ikan yang berkualitas guna meningkatkan reproduksi ikan. “Ide inovatif pemanfaatan tepung taoge ini tentunya bertujuan agar proses pematangan gonad ikan beong (Mystus nemurus) dapat dipercepat sehingga bisa meningkatkan produksi benih ikan beong terutama di Kota Magelang. Tepung taoge sangat membantu dalam proses pematangan serta meningkatkan kualitas gonad ikan beong, membantu pembudidaya dalam meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan pasar atau konsumen, dan proses produksi ikan beong tidak bergantung pada waktu pemijahannya yang hanya dilakukan pada musim hujan,” urainya.

Untuk menyempurnakan gagasan ini, Utami dan tim harus melakukan pengujian dan pengamatan. “Kami harus melakukan uji proksimat pakan dan pengamatan pertambahan kematangan telur. Uji proksimat pakan terdiri dari uji kadar air, protein, lemak, abu, dan serat kasar. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah kandungan nutrisi dalam pakan ini sesuai dengan kebutuhkan pakan untuk induk ikan beong dalam mempercepat kematangan gonadnya. Selanjutnya untuk pengamatan pertambahan kematangan telur, diawali dengan memasukkan kanula secara hati-hati ke lubang genital induk. Setelah itu telur yang telah diambil diberi larutan transparan yaitu alkohol 95% 8 cc, formal dehid 39% 10 cc, dan asam asetan 100%  5 cc. Setelahnya melakukan pengamatan posisi inti telur dan dihitung persentase kematangan telur tahap akhir yang dapat dilihat dari posisi inti (germinal vesicle) yang berada di tepi telur,” jelas Utami.

“Semoga ide inovasi ini segera bisa diaplikasikan guna meningkatkan produksi ikan beong khususnya dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas benihnya, pungkasnya.

Penulis : Humas

UKM Pelita UNTIDAR Sukses Gelar Pelita Fair 2021 Bertema “Peran Mahasiswa Dalam Manifestasi Era Society 5.0”

Gelaran Pelita Fair 2021 yang diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Penalaran Ilmiah dan Kreativitas Mahasiswa (UKM Pelita) baru saja berakhir. Kegiatan ini terdiri dari Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) dan Lomba Kisah Inspiratif.  LKTIN merupakan lomba karya tulis yang bersifat ilmiah dalam rangka menampung aspirasi para mahasiswa untuk berkarya, dan sebagai media penyaluran inovasi dan kreativitas mahasiswa di seluruh Indonesia. Sedangkan Lomba Kisah Inspiratif merupakan lomba menulis kisah (kisah nyata yang dialami oleh penulis) yang bersifat inspiratif.

“Semoga kegiatan ini dapat menjadi ajang untuk menggali kreativitas dan berkarya. Kesempatan yang sangat baik bagi mahasiswa untuk memperbanyak pengalaman,” kata Tri Puji Rahayu, S.Pt., M.P., selaku Pembina UKM Pelita, saat menutup acara, Jumat (17/12/2021)

Ika Sukmawati salah satu perwakilan dewan juri menyampaikan bahwa kreativitas dan inovasi dari para mahasiswa perlu untuk selalu diasah. “Bagi peserta yang belum juara, jangan kecewa. Evaluasi kekurangan dan terus bergerak maju. Semoga kegiatan ini dapat dilaksanakan secara rutin agar dapat menjadi wahana untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi, serta dapat menjaring ide-ide brilian dari seluruh mahasiswa di Indonesia,” tegasnya.

Pelita Fair 2021 dengan tema “Peran Mahasiswa Dalam Manifestasi Era Society 5.0” bertujuan untuk meningkatkan kreativitas mahasiswa, khususnya di bidang penulisan ilmiah. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam berpikir kritis terhadap lingkungan sekitar.

Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional diikuti oleh 15 tim, sedangkan lomba Kisah Inspiratif diikuti oleh 20 peserta dari berbagai perguruan tinggi. Adapun para pemenang yaitu :

  1. Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional :

Juara 1

Judul : Strategi Adaptasi dan Resiliensi Pariwisata Desa Adat Suku Tengger Sebagai Pengembangan Ekonomi Lokal Pasca Pandemi Covid-19 (Studi Kasus : Kecamatan Tosari, Pasuruan)

Tim :

  1. Ferdian Wibowo
  2. Sukma Dyah Aini
  3. Muhamad Akbar Makhbubi

Asal Universitas : Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya

Juara 2

Judul : DORU “Aplikasi Dongeng Tunarungu Meningkatkan Pemerolehan Bahasa Siswa Tunarungu Guna Menghadapi Era Society 5.0”

Tim :

  1. Muhammad Najmil Yusro
  2. Lif Ahmad Rifai
  3. Sahira Khairunnisa

Asal Universitas : Universitas Negeri Jakarta

Juara 3

Judul : DIGIDRY(Digitizing Laundry) “Platform Digitalisasi UMKM Laundry Sebagai Upaya Optimalisasi Teknologi Dalam Meningkatkan Daya Saing Menuju Era Society 5.0”

Tim :

  1. Lulu Luthfiah
  2. Eka Sulistyawati
  3. Hermalia Putri

Kisah Inspiratif :

  1. Arif Waryanto,

Teknik Elektro Universitas Negeri Semarang.

  1. Yulina Winda Rahma,

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Lampung

  1. Siti Nurnasratina Br

Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

UKM Penalaran Ilmiah dan Kreativitas Mahasiswa (UKM Pelita) merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa di Universitas Tidar yang didirikan pada 20 Desember 2019, melalui keputusan Rektor Untidar 436/UN57/KM/2019. UKM PELITA berkonsentrasi pada bidang peminatan penalaran ilmiah, penelitian, pengabdian, serta pengembangan bakat, minat, dan kreativitas mahasiswa.

Penulis : Humas

Tim Dosen dan Mahasiswa UNTIDAR Ciptakan Permen Ternak Herbal

Tim dosen dan mahasiswa Program Studi (S1) Peternakan Fakultas Pertanian, dan Program Studi (S1) Teknik Mesin Fakultas Teknik, Universitas Tidar, menciptakan Permen Ternak Herbal sekaligus mesin pembuatnya yaitu Mesin Pres Pneumatik, untuk meningkatkan produktivitas ternak. Mereka mengenalkannya kepada komunitas peternak di Desa Wisata Ngargoretno, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang melalui kegiatan penyuluhan dengan tema “Inovasi Pembuatan Permen Ternak Dengan Mesin Pres Otomatis Berbasis Pneumatik”. Kegiatan ini bertujuan sebagai upaya pemberdayaan Pokdarwis Salink (Sadar Lingkungan) Desa.

Kegiatan penyuluhan diketuai oleh Nur Hidayah, S.Pt., M.Si dengan pendanaan dari hibah Program Kemitraan Masyarakat Kemendikbudristek tahun 2021. Kegiatan ini dihadiri sekitar 30 peternak dari gabungan kelompok tani ternak Argo Kencono, penyuluh lapangan setempat, dan perwakilan Dinas Peternakan Perikanan Kabupaten Magelang.

Kegiatan penyuluhan dimulai dengan sosialisasi teknis dan penentuan formula dalam membuat permen ternak, dengan memanfaatkan bahan pakan lokal baik dari limbah pertanian, perkebunan atau hasil-hasil usaha yang ada di lokasi setempat. Selanjutnya dilakukan praktik bersama peternak secara langsung dalam membuat permen dan langsung diuji coba (diaplikasikan) pada ternak kambing perah yang ada disana. Permen Ternak merupakan pakan tambahan (suplemen) untuk ternak ruminansia (sapi, kerbau, domba, dan kambing) yang dibuat dari bahan baku sumber karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral yang diolah sedemikian rupa sehingga berbentuk padat dan keras. Permen ternak merupakan teknologi suplementasi pakan penguat, mineral, dan bisa ditambahkan jamu herbal. Produk permen ternak ini bentuknya praktis dan telah terbukti dapat meningkatkan produktifitas dan status kesehatan ternak (Suharti dan Hidayah, 2015).

“Permen Ternak merupakan teknologi tepat guna yang mudah, murah, dan praktis dalam pembuatan dan penggunaannya. Pembuatannya hanya memerlukan bahan-bahan yang murah dan bisa diinovasikan dengan memanfaatkan potensi lokal untuk dicampur dan dicetak agar didapatkan produk permen ternak yang padat dan keras. Cara pemberiannya mudah dan praktis. Permen ternak dikait dengan kaitan khusus kemudian digantung di depan ternak dengan jarak yang terjangkau oleh mulut ternak, sehingga ternak akan menjilat permen tersebut. Satu blok permen ternak dapat digunakan untuk jangka waktu 0,5-1 bulan, sehingga peternak tidak perlu repot-repot untuk memberikannya setiap hari.” Jelas Nur Hidayah.

Kelompok peternak di Desa Wisata Ngargoretno juga dikenalkan dengan alat pres otomatis dalam pembuatan permen ternak. Alat tersebut dikembangkan oleh tim dosen dan mahasiswa Universitas Tidar yang diketuai oleh Ikhwan Taufik, S.Pd. M.Eng. “Mesin manual yang selama ini digunakan membutuhkan waktu yang lama dan tenaga fisik yang kuat. Sehingga dikembangkan mesin pres otomatis berbasis pneumatik.” kata Ikhwan. Lebih lanjut ia menjelaskan dengan adanya prinsip otomatisasi menggunakan sistem pneumatik di mesin ini, produktivitas dan efektivitas pembuatan permen tersebut diharapkan semakin meningkat. Sementara itu, teknologi pneumatik dipilih untuk diterapkan di mesin press ini dengan pertimbangan lebih banyak keuntungan penggunaan sistem pneumatik jika dibandingkan dengan menggunakan teknologi lain.

Pembuatan produk permen dan aplikasinya pada ternak diharapkan dapat menjadi bagian di dalam paket wisata integrated farming, sehingga produk yang ditawarkan lebih menarik dan bervariasi, serta akan menjadi menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjungg Desa Wisata Ngargoretno, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang.

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UNTIDAR Kembangkan Produk Inovasi Kristik Batik Nusantara

Lima mahasiswa program studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tidar berinovasi untuk memproduksi  Kristikbatikku, yaitu kristik bermotif  batik nusantara, dilengkapi dengan QR code berisi penjelasan dari motif batik tersebut. Tim yang beranggotakan Putri Ariani, Magvani Azzahra Baihaqi, Rezti Dwi Oktaviani, Dianah Nur Afifah, dan Umu Fajriyati ingin turut berperan dalam melestarikan kebudayaan Indonesia, khususnya batik.

“Dengan beragamnya kebudayaan Indonesia, maka kita sebagai masyarakat harus ikut menjaga dan melestarikan kebudayaan tersebut,” ungkap Putri selaku ketua tim. “Upaya yang kami lakukan yaitu dengan membuat kristik menggunakan pola batik nusantara disertai QR code berisi informasi mengenai batik, yang terintegrasi dengan website Kristikbatikku. Tujuannya supaya bisa meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai budaya Indonesia terutama pengetahuan mengenai batik nusantara,” tambahnya.

Lebih lanjut Putri menjelaskan bahwa Usaha Kristikbatikku berupa paket alat bahan (kit) pembuatan kristik berupa kain, pola, jarum jahit, dan benang CMC, dilengkapi dengan QR Code dan dikemas menarik menggunakan custom box. “Keunggulan komoditas produk jika dibandingkan dengan kompetitor diantaranya:

  • Terdapat QR Code yang dapat discan untuk mendapatkan informasi mengenai kebudayaan batik Indonesia yang terintegrasi dengan website www.kristikbatikku.com;
  • Produk kristik batik mengenalkan budaya nusantara khususnya batik yang dikemas dalam bentuk kristik;
  • Pembuatan pola kristik dibuat setelah mempelajari cara pembuatan pola kristik melalui aplikasi cross stich khusus pola kristik, sehingga menambah inovasi dalam pola motif batik dan dapat meminimalisir tingkat kesukaran dalam pengerjaan kristik;
  • Terdapat video tutorial yang disedikan di channel youtube, sehingga para pengguna bisa mengaksesnya dengan mengakses link yang telah tersedia pada website yaitu https://youtu.be/WnJnhR2dum4;
  • Packaging produk lebih menarik dan ramah lingkungan, yaitu dengan menggunakan custom box, berbeda dengan kompetitor pada umumnya yang hanya memakai plastik,” urai Putri.

Kristikbatikku adalah adalah ide kewirausahaan mahasiswa UNTIDAR yang tahun  2021 ini mendapatkan dana hibah PKM-K dari Kemdikbudristek. “Dalam pasar lingkup kampus Universitas Tidar dan sekitar Magelang, serta pemasaran produk yang dilakukan di berbagai akun media sosial, Kristikbatikku sudah berhasil mencapai penjualan 140 kit kristik dalam jangka waktu kurang lebih 3 bulan. Artinya Kristikbatikku ini layak untuk dijadikan usaha,” tutur Putri. Pada periode berikutnya Kristikbatikku akan mengembangkan kegiatan bisnisnya secara kontinu dan menambah berbagai motif batik nusantara serta menambah variasi ukuran kristik. Ini bertujuan agar konsumen memiliki lebih banyak pilihan motif yang disukai sekaligus semakin memperkenalkan berbagai motif batik yang dimiliki Indonesia, agar budaya Indonesia terus lestari. Selain itu, Kristikbatikku juga akan mengembangkan usaha dengan membuat kristik jadi yang sudah diaplikasikan ke berbagai barang. Tidak hanya diaplikasikan di pigura lalu digantung di dinding, tetapi Kristikbatikku akan mengaplikasikannya pada barang lain seperti pembatas buku, baju, sarung bantal, dan tas,” pungkasnya.

Mahasiswa UNTIDAR Cetuskan Mesin Peningkat Produktivitas Sale Pisang Lidah dengan Metode Translation Pressed Screw

Mahasiswa UNTIDAR mencetuskan sebuah inovasi alat baru, yaitu Mesin Peningkat Produktivitas Sale Pisang Lidah dengan Metode Translation Pressed Screw. Mesin ini menggunakan screw yang berfungsi untuk melumat dan menekan pisang supaya keluar melalui lubang yang sudah berbentuk cetakan sale pisang lidah. Ide untuk membuat Mesin Peningkat Produktivitas Sale Pisang Lidah dengan Metode Translation Pressed Screw berawal dari keinginan untuk turut membantu mengatasi permasalahan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Sale Pisang Bunur di Desa Mangli Kecamatan Kuwarasan Kabupaten Kebumen.

(UMKM) Sale Pisang Bunur didirikan oleh Ahmad Muhdor. Menurut Ahmad Mudor masih terdapat beberapa kendala pada proses produksi, yaitu proses pemipihan pisang yang masih menggunakan alat yang masih sederhana dan manual. Dibutuhkan waktu 8 jam kerja hanya untuk proses memipihkan 50 kg pisang. Tingkat produktivitas yang rendah tersebut menjadikan mitra tidak bisa memenuhi permintaan pasar.

Berdasarkan permasalahan tersebut, Rinal Choerul Anam (S1 Teknik Mesin), beserta Wahyucandra Ramadhani (S1 Teknik Mesin), Linda Fauziah (S1 PBSI), Lusida Kiswari (S1 Pendidikan IPA) dan Rusli Kusuma G.A (S1 Teknik Mesin) tergerak untuk memecahkan permasalahan mitra pada proses pemipihan pisang sehingga produktivitas meningkat dan dapat memenuhi permintaan pasar yaitu dengan menerapkan Mesin Peningkat Produktivitas Sale Pisang Lidah Khas Kebumen dengan Metode Translation Pressed Screw.

Penggerak dari mesin ini adalah sebuah motor listrik yang dihubungkan ke gear box untuk menurunkan kecepatan dan selanjutnya dihubungkan poros screw. Mesin ini juga ramah lingkungan dan hemat daya karena menggunakan motor listrik dengan daya rendah. Mesin ini juga lebih produktif karena sistem kerjanya yang kontinyu dan tidak perlu memipihkan satu persatu pisang melainkan cukup memasukan pisang ke mesin untuk diproses dan keluar lembaran panjang sale pisang lidah siap jemur. Hal ini tentu lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan alat manual yang harus satu persatu dalam proses pemipihan. Dengan alat ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, sehingga permintaan pasar dapat terpenuhi dan perekonomian pengusaha sale pisang semakin sejahtera.

“Di tahap awal kami melakukan survei mengenai kondisi dan permasalahan mitra secara daring melalui zoom dan luring dengan menjalankan protokol kesehatan yang ketat. Data hasil survei kami gunakan untuk analisis menggunakan literatur yang relevan dengan permasalahan tersebut,” kata Rinal. Lebih lanjut Rinal menjelaskan setelah melakukan analisa, dilanjutkan dengan pembuatan Buku Pedoman Aplikasi Mesin sebagai media sosialisasi daring dan luring ke mitra.  “Tahap selanjutnya kami memproduksi mesin. Produksi mesin dilakukan menggunakan jasa pihak ketiga dengan desain rancangan mesin dan material dari kami. Mesin ini menggunakan motor listrik sebagai pengerak dan screw sebagai media pelumat dan pendorong pisang ke cetakan pisang, serta meja kerja yang digunakan sebagai penerima sale pisang,” urai Rinal. “Kemudian kami melaksanakan sosialisasi mesin ke mitra secara daring dan luring. Sosialisasi bertujuan untuk memberikan edukasi dan diskusi mengenai spesifikasi mesin, cara kerja mesin, dan cara perbaikan mesin apabila terjadi kerusakan. Setelahnya sampai pada tahap implementasi mesin ke mitra dan tak lupa kami lakukan monitoring dan evaluasi dengan tujuan  untuk mengetahui produktivitas pada sistem baik dari segi kelebihan dan kekurangan untuk selanjutnya dilakukan penyempurnaan sistem Mesin Peningkat Produktivitas Sale Pisang Lidah Khas Kebumen dengan Metode Translation Pressed Screw,” tambahnya.

Mesin Peningkat Produktivitas Sale Pisang Lidah Khas Kebumen dengan Metode Translation Pressed Screw adalah karya mahasiswa UNTIDAR yang lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2021 kategori Penerapan Iptek. Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan IPTEK (PKM-PI) merupakan program yang mempunyai tujuan utama mendorong mahasiswa mau keluar dari kampus guna melihat segala macam bentuk kebutuhan atau permasalahan pada masyarakat produktif dan sekaligus memberikan solusi IPTEK yang dibutuhkan dan dikehendaki oleh mitra. Lingkup bantuan iptek yang disepakati oleh mitra dapat berupa diversifikasi sumber bahan baku, peningkatan mutu produk, perbaikan proses produksi (perbaikan atau penggunaan alat atau mesin baru), perbaikan sanitasi, diversifikasi dari produk atau luaran, upaya peningkatan kapasitas produksi, penanganan dan pengolahan limbah, sistem jaminan mutu (ISO), kemasan, dan lain lain. Iptek yang akan dikerjasamakan dengan mitra adalah iptek yang sudah siap diterapkan, jadi tidak lagi memerlukan penelitian dan pengujian.