Dirjen Dikti: Perlu Strategi Nasional untuk Tingkatkan Akses Pendidikan Tinggi

Jakarta- Dalam upaya mewujudkan pemerataan akses pendidikan tinggi yang inklusif, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) mendorong perlunya strategi nasional untuk meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi hingga 38,04% pada 2029, sesuai amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) (7/3).

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia saat ini berada di angka 31,45%. Angka ini menunjukkan masih banyaknya lulusan sekolah menengah yang belum dapat melanjutkan ke jenjang perdidikan tinggi. Hal tersebut disampaikan pada Rapat Koordinasi antara Dirjen Pendidikan Tinggi Khairul Munadi dengan Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kemenko PMK Ojat Darojat, di Gedung Kemenko PMK.

Strategi baru diharapkan dapat menggandeng pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pihak terkait lainnya, merancang skema pembiayaan inovatif, dan mengoptimalkan data. Strategi ini diharapkan dapat menjawab tantangan sistemik yang selama ini menghambat perluasan akses pendidikan tinggi. Dalam pertemuan tersebut, Dirjen Khairul Munadi menekankan bahwa strategi peningkatan APK selama ini masih bergantung pada pemberian beasiswa.

“Usaha menaikkan APK belum terintegrasi secara optimal dan pendekatannya masih parsial. Karena itu kami mendorong agar hal ini menjadi perhatian bersama. Kita perlu menyusun strategi nasional yang tepat dan integratif, karena keberhasilannya memerlukan keterlibatan banyak pihak dan tidak bisa hanya bergantung pada satu sektor saja,” ungkap Dirjen Khairul. 

Strategi Baru

Strategi baru yang lebih komprehensif ini tengah dimatangkan oleh Kemdiktisaintek. Salah satu langkah utamanya adalah memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah. Dengan keterlibatan aktif dalam penyediaan dana pendidikan untuk putera-puteri di daerahnya, terutama di wilayah dengan APK rendah, pemerintah daerah diharapkan dapat membantu menjangkau lebih banyak calon mahasiswa yang selama ini belum tersentuh oleh skema beasiswa nasional.

Selain itu, diversifikasi skema beasiswa juga perlu dilakukan. Misalnya skema beasiswa yang membuka akses pendidikan tinggi bagi putera-puteri daerah 3T atau daerah dengan  APK masih sangat rendah untuk mendorong pembangunan di tingkat lokal. Mahasiswa penerima beasiswa dapat diwajibkan untuk kembali dan mengabdi di desa asal mereka setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Dengan demikian, lulusan tidak hanya memperoleh manfaat akademik, tetapi juga menjadi motor penggerak pembangunan di daerah masing-masing.

Agar strategi berjalan lebih efektif, sinkronisasi data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemdiktisaintek menjadi kunci utama dalam perencanaan yang lebih tepat sasaran. Dengan pengintegrasian data yang lebih akurat, pemerintah dapat memperoleh gambaran komprehensif tentang kondisi APK di berbagai wilayah, sehingga kebijakan yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan tantangan di lapangan.

Atasi Kesenjangan Distribusi

Tak hanya soal akses pendidikan, salah satu permasalahan mendasar yang dihadapi adalah ketergantungan berlebihan pada beasiswa yang hanya mampu menjangkau kelompok tertentu, seperti pria dan sebagian besar siswa yang telah memiliki akses informasi dan jaringan yang memadai. Sehingga, terdapat celah yang signifikan bagi masyarakat di daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar (3T) dan kurang mampu secara ekonomi.

“Dengan mobilisasi sumber daya dosen dan pemberian insentif bagi perguruan tinggi, diharapkan ada perbaikan dalam mekanisme rekrutmen dan penyebaran peluang pendidikan tinggi secara merata,” jelas Dirjen Khairul.

Perubahan ini memerlukan sinergi antara berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, hingga sektor swasta.

“Keberhasilan strategi nasional ini bergantung pada keterlibatan dan komitmen semua pemangku kepentingan. Tanpa dukungan menyeluruh, target mencapai  APK 38,04% pada 2029 akan sulit direalisasikan,” ujar Dirjen Khairul.

Peningkatan Kualitas Dosen

Di sela-sela pembahasan, rapat koordinasi tersebut juga menyinggung topik penting mengenai penguatan program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Program PMDSU, yang diselenggarakan oleh Ditjen Dikti, dirancang untuk mempercepat jalur pendidikan dari S1 langsung ke S2 dan S3. Tujuan utamanya adalah mencetak lulusan doktor muda dari generasi milenial yang siap bersaing dalam dunia akademik global.

Namun, meski memiliki potensi besar dalam peningkatan kualitas dosen, program PMDSU belum terhubung dengan formasi kebutuhan dosen di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan swasta. Banyak lulusan program ini yang belum mendapatkan kepastian dalam meniti karier sebagai dosen, sehingga konektivitas antara program percepatan studi dan kebutuhan dosen di institusi pendidikan tinggi harus segera dibangun.

Dirjen Dikti menegaskan, “Kita perlu membangun konektivitas antara program percepatan gelar akademik dan formasi dosen agar lulusan dapat terserap dengan baik di dunia akademik. Jika kedua hal ini terhubung, secara langsung juga akan mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di kalangan dosen. Karena lulusan PMDSU adalah para sarjana unggul.”

Sementara itu, Deputi Kemenko PMK Ojat Darojat menambahkan, secara simultan pemerintah juga harus berupaya menyiapkan lebih banyak lapangan kerja untuk menampung lulusan perguruan tinggi yang semakin meningkat.

“Peningkatan APK harus diiringi dengan penyediaan lapangan kerja, bukan sekadar angka di statistik, ini harus menjadi kesadaran bersama bahwa angka partisipasi tidak hanya berkaitan dengan kuantitas mahasiswa, melainkan juga kualitas pendidikan dan kesinambungan karir setelah menamatkan studi,” pesan Deputi Kemenko PMK.

Keberhasilan implementasi strategi ini sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat, daerah, perguruan tinggi, serta sektor swasta. Dengan dukungan yang solid dan komitmen bersama, visi “Pendidikan Tinggi untuk Semua” bukan lagi sekadar impian, melainkan langkah nyata menuju transformasi pendidikan nasional demi kesejahteraan dan kemajuan bangsa.

Mendiktisaintek Dorong Kolaborasi Riset untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan Tinggi

Jakarta-Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengungkapkan bahwa salah satu upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas tinggi, kampus harus berkolaborasi. Hal tersebut disampaikan Mendiktisaintek dalam acara Ngopi Bareng dan Iftar Bersama yang diselenggarakan di Graha Dikti, Jakarta, Jumat (7/3). 

Dalam kesempatan ini, Menteri Brian menegaskan pentingnya kolaborasi antara kampus dengan pihak industri untuk mendorong riset yang lebih terfokus.

“Kolaborasi antarkampus harus dilakukan secara mutlak. Kita perlu memfokuskan riset dan inovasi pada produk-produk tertentu, yang bisa langsung menjawab kebutuhan masyarakat dan industri,” ujar Menteri Brian.

Selama ini, meskipun riset telah dilakukan di berbagai bidang, namun kurang fokus pada bidang yang spesifik. Hal ini mengakibatkan banyak temuan penelitian tidak dapat berkembang menjadi produk akhir yang bisa dimanfaatkan oleh industri. Oleh karena itu, Menteri Brian menekankan pentingnya Kemdiktisaintek mengawal riset yang sedang berjalan agar dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang ada.

“Kami akan memastikan bahwa riset-riset ini dapat berjalan dengan baik dan terarah, agar masalah yang ada, bisa terjawab dengan inovasi yang dihasilkan oleh kampus-kampus kita,” tambah Menteri Brian.

Selain itu, Mendiktisaintek juga menyatakan bahwa kolaborasi yang dilakukan berbagai pihak juga penting. Misalnya dengan Kementerian Pertanian. Kolaborasi ini bertujuan untuk merumuskan industri-industri yang dapat mendukung perkembangan sektor pertanian. 

Kolaborasi antara kampus dan industri harus semakin erat. Tantangan terbesar dalam dunia riset adalah bagaimana hasil penelitian bisa diimplementasikan dalam dunia industri. Periset sering kali menjumpai ‘death valley’, yaitu tahap komersialisasi yang sulit dilakukan, meskipun prototipe atau paten sudah ada.

“Pak Presiden juga menekankan pentingnya mandiri dalam pengembangan produk-produk riset. Oleh karena itu, kita harus bekerja lebih keras lagi agar hasil riset dapat menjadi produk yang siap dipasarkan,” kata Menteri Brian.

Selain itu, Mendiktisaintek beranggapan bahwa penting pula menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang dapat memenuhi kebutuhan industri dan menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang berkualitas.

Menurut data, 25 persen dosen di Indonesia memiliki gelar S3. Salah satu upaya pemerintah adalah memberikan dukungan kepada dosen agar mereka dapat meningkatkan kualifikasi dan kompetensinya dalam mengajar.

“Dosen adalah kunci penting dalam pendidikan tinggi, oleh karena itu kita harus memastikan bahwa mereka memiliki kualifikasi yang memadai. Ini juga akan mendukung keberhasilan dalam menghasilkan lulusan-lulusan yang berkualitas,” pungkas Menteri Brian.

Melalui kerja sama yang lebih erat dengan dunia industri dan peningkatan kualitas SDM, pemerintah berharap dapat mewujudkan pendidikan tinggi yang unggul dan berdaya saing global.

Jurnal Langgan Nasional untuk Kesetaraan Akses Jurnal

Jakarta-Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Gandeng Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dalam penyediaaan jurnal langgan nasional, sehingga semua kampus memiliki akses yang setara untuk referensi keilmuan (7/3). 

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto dalam pertemuan dengan Kepala Perpusnas, Aminudin Aziz menyampaikan bahwa referensi keilmuan berupa jurnal, bagi kampus merupakan hal penting.

“Kami ingin melihat budaya ilmiah muncul, orang harus cinta dengan national library, kita jadikan ini ikon pengembangan,” ujar Menteri Brian.

Digagasnya kerja sama dengan Perpusnas, dinilai akan menjawab tantangan yang dihadapi kampus, baik negeri maupun swasta, terkait terbatasnya akses jurnal.

Hal ini menjadi urgensi Kemdiktisaintek merujuk fenomena tingginya pagu anggaran yang dikeluarkan kampus untuk berlangganan jurnal, namun secara penggunaan tidak maksimal. Kampus besar mampu mengakses lebih banyak jurnal, ketimbang yang kecil.

Satu langgan nasional di bawah pilar Perpusnas ini, nantinya juga menjadi solusi bagi optimalisasi anggaran yang sedang dihadapi kampus, sehingga pagu yang biasanya dialokasikan untuk langgan, dapat digunakan untuk kebutuhan pengembangan lainnya.

“Jika semuanya dilanggan Perpusnas, bisa diakses seluruh rakyat indonesia,” ucap Aminudin.

Kemdiktisaintek akan membuat satuan tugas khusus yang melibatkan perguruan tinggi, kementerian dan lembaga terkait lainnya, sehingga nantinya dapat dirumuskan jurnal dengan persentase paling tinggi digunakan di Indonesia untuk kemudian dapat dilanggan oleh Perpusnas, sehingga bisa diakses secara luas. 

Kemdiktisaintek juga menyoroti banyaknya jurnal yang ada di Indonesia, namun hanya 11 jurnal yang terindeks Scopus Q1.

“Jurnal tidak usah banyak-banyak, kita merger saja, tapi semuanya terukur, hingga nanti jurnal nasional publisher-nya bisa di bawah Perpusnas,” kata Menteri Brian.

Wamendiktisaintek Stella Christie menyatakan bahwa jurnal yang berbayarpun pada dasarnya memiliki kualitas yang kurang bagus, namun para peneliti belum sepenuhnya menyadari bahwa banyak jurnal yang diakses secara gratis, namun secara kualitas sangat bagus.

“Optimalkan anggaran, sekaligus juga kita tingkatkan kualitas bacaan,” ungkap Wamen Stella.

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek) Ahmad Najib Burhani juga berharap Perpusnas melakukan pembaharuan sehingga lebih mudah dan menarik untuk diakses. Kerja sama ini ditargetkan akan bisa dilaksanakan di tahun anggaran 2026 nantinya.

Untidar Bersama Polres Magelang Kota Perkuat Sinergi dalam Pendidikan dan Mitigasi Sosial

Universitas Tidar menerima kunjungan dari Kapolres Magelang Kota di Ruang Rapat Rektorat, Rabu (5/3) sore. Kunjungan ini merupakan agenda silaturahmi kedua antara Polres Magelang Kota dan Untidar dengan tujuan untuk memperkuat sinergi dalam berbagai aspek, terutama pendidikan dan mitigasi sosial.

Kapolres Magelang Kota, AKBP Anita Indah Setyaningrum, S.I.K., M.H, menyampaikan harapannya agar kedepan Polres dan Untidar bisa berkolaborasi dalam kegiatan mahasiswa yang bermanfaat.

“Kami mendukung sepenuhnya Untidar dalam menciptakan berbagai kegiatan positif mahasiswa, baik dalam bidang akademik maupun non-akademik. Harapannya mahasiswa dapat menyalurkan segala aspirasi dengan cara positif dan lebih produktif,” ungkapnya.

Kapolres Kota Magelang beserta Tim dan Jajaran pimpinan Universitas Tidar saat kegiatan diskusi.

Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si., mengungkapkan terima kasih atas kunjungan Tim Kapolres Magelang ke Untidar.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran Polres Magelang ke Untidar. Harapan kami kedepannya Kapolres terus membersamai Untidar dan adanya silaturahmi ini dapat membuka peluang kerja sama yang lebih baik antara Polres dan Untidar dalam pengembangan pendidikan,” ujar Rektor.

Pertumbuhan Untidar yang signifikan membutuhkan sinergi dari berbagai pihak, termasuk Polres untuk mendukung lingkungan akademik yang kondusif dan progresif.

Senada dengan hal tersebut, Prof. Dr. Parmin, S.Pd., M.Pd., selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni menekankan pentingnya mitigasi sosial yang melibatkan berbagai perguruan tinggi terutama di wilayah Kedu Raya.

“Mitigasi harus dilakukan secara sinergis. Untidar bersama Polres Magelang Kota dapat menjadi inisiator forum yang melibatkan perguruan tinggi se-Kedu Raya untuk membahas strategi mitigasi yang lebih terstruktur,” tuturnya.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni dan Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama menanggapi diskusi terkait mitigasi perguruan tinggi se-Kedu Raya.

Sebagai langkah konkret, Untidar bersama Polres Magelang Kota berencana untuk menginisiasi forum bersama dengan perguruan tinggi se-Kedu Raya dengan tujuan memperkuat kerja sama dalam berbagai aspek termasuk mitigasi sosial, keamanan kampus, serta pengembangan kegiatan akademik dan non-akademik yang mendukung pertumbuhan mahasiswa.

Adanya silaturahmi ini menjadi bukti nyata sinergi antara instansi pendidikan dan kepolisian dapat menciptakan lingkungan yang baik bagi mahasiswa maupun masyarakat.

Foto Bersama Tim Polres Kota Magelang dan Pimpinan Untidar.

 

Penulis: Dewi Puji Lestari

Editor : Humas Untidar

Menunggu Evaluasi Menyeluruh, Kemdiktisaintek Keluarkan Petunjuk Teknis Layanan Pembinaan dan Pengembangan Profesi dan Karier Dosen yang Adil dan Efektif

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tengah melakukan evaluasi secara mendalam terhadap Permendikbudristek Nomor 44 Tahun 2024 untuk mengakselerasi peningkatan kualitas dosen di Indonesia. Di tengah evaluasi tersebut, Mendiktisaintek mengeluarkan Keputusan Menteri (Kepmen) Nomor 63/M/KEP/2025 tentang Petunjuk Teknis Layanan Pembinaan dan Pengembangan Profesi dan Karier Dosen.

Kepmen ini mendorong keadilan dan efektivitas dalam pengembangan karier dosen dan berlaku setidaknya hingga akhir tahun 2025.

Kepmendiktisaintek yang merupakan revisi dari Kepmendikbudristek nomor 384/P/2024 tersebut disosialisasikan kepada beragam pemangku kepentingan secara daring pada Selasa (4/03/2025). Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh kepada berbagai pemangku kepentingan, terutama para pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), pimpinan Kementerian/Lembaga mitra, serta Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI).

Mendiktisaintek Brian Yuliarto dalam sambutannya menegaskan bahwa Kemdiktisaintek sedang berupaya memberikan kepastian terkait proses kenaikan jabatan dosen di masa depan. “Kami berharap proses ini tidak menghambat, melainkan dapat melayani Bapak/Ibu dosen yang akan naik jabatan dengan baik,” ujarnya.

 

Mendiktisaintek juga menekankan pentingnya peran dosen sebagai aset bangsa dalam menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul, serta luaran penelitian dan inovasi yang berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Sementara itu, dalam paparannya Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Khairul Munadi menyampaikan bahwa Ditjen Dikti terus berupaya mewujudkan proses kenaikan jabatan akademik yang transparan, akuntabel, dan memberikan kemudahan dalam administrasi.

Dirjen Dikti turut menjelaskan isu-isu strategis yang menggemberikan dalam peraturan baru layanan pembinaan dan pengembangan profesi dan karier dosen. Kini, Kemdiktisaintek melayani kenaikan jabatan akademik bagi dosen tetap dan dosen tidak tetap (sebelumnya NIDK) yang memenuhi persyaratan.

Kemudian, batas maksimal pengajuan kenaikan jabatan akademik adalah tiga bulan sebelum Batas Usia Pensiun (BUP). “Nah ini penting sekali, jangan sampai nanti karena keteledoran, misalnya, apakah di sisi personal maupun di sisi lembaga, nanti yang jadi korban adalah dosen-dosen yang akan memasuki usia batas pensiun,” terangnya.

Bertujuan mewujudkan keadilan dalam pengembangan karier, Kepmen ini juga mengatur syarat khusus kenaikan jabatan akademik dari Asisten Ahli (AA) hingga Profesor, yang kini mengakomodir hasil karya seni yang diakui di tingkat perguruan tinggi, nasional, dan internasional.

“Ini akan memudahkan teman-teman yang bidangnya lebih kepada seni, nanti mendapatkan semacam jalur untuk persyaratan kenaikan jabatan akademiknya,” jelas Dirjen Dikti.

Selain itu, untuk kenaikan jabatan ke Lektor Kepala, kualifikasi pendidikan magister disamakan dengan doktor, dengan syarat minimal publikasi di Jurnal Nasional Terakreditasi Peringkat 1 atau 2 sebagai penulis pertama.

Seiring hadirnya Kepmen tersebut, Direktur Sumber Daya Kemdiktisaintek Sri Suning Kusumawardani menyampaikan kabar baik bahwa saat ini sedang berlangsung penilaian jabatan akademik dosen gelombang 0. Ia melanjutkan bahwa pada tahun 2025, akan dibuka tiga periode penilaian, yaitu pada pertengahan Maret, Juni, dan September.

“Melalui sosialisasi ini, diharapkan dapat memberikan kejelasan terkait proses penilaian dan kenaikan jabatan dosen hingga tahun 2025, sambil menunggu evaluasi lebih lanjut terhadap Permendikbudristek Nomor 44 Tahun 2024,” terang Direktur Sumber Daya.

 

Berita Lain Seputar Dikti Saintek

klik disini

Revisi terhadap Permendikbudristek Nomor 44/2024 sendiri ditargetkan rampung pada awal tahun 2026.

Kegiatan sosialisasi ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas dan komprehensif bagi para dosen terkait mekanisme pembinaan, pengembangan profesi, dan karier. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat mendukung terciptanya SDM unggul yang berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara. Kemdiktisaintek terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme dosen sebagai salah satu pilar utama dalam pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia.

Kemdiktisaintek Luncurkan Program Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2025

Jakarta, Kemdiktisaintek – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan secara resmi meluncurkan Program Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2025. Acara peluncuran ini diselenggarakan secara daring melalui kanal YouTube Kemdiktisaintek pada Senin (3/3/2025).

Program pendanaan kompetitif ini akan dibuka mulai 10 Maret hingga 7 April 2025. Pengusulan proposal dilakukan melalui platform Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA). Kemdiktisaintek mengundang para dosen untuk mengajukan proposal berkualitas yang dapat mendorong inovasi berbasis sains dan teknologi serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat di seluruh Indonesia.

Dalam program ini, Kemdiktisaintek menetapkan delapan bidang fokus riset, yaitu: pangan, energi terbarukan, kesehatan (obat), transportasi, rekayasa keteknikan, pertahanan keamanan, kemaritiman, sosial humaniora-pendidikan-seni-budaya, serta bidang riset lainnya. Fokus riset ini diharapkan mampu menghadirkan solusi inovatif guna memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan sosial.

Program ini selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa investasi dalam riset dan inovasi merupakan pilar penting bagi Indonesia untuk mencapai status negara maju dan makmur.

“Mewujudkan negara maju hanya dapat dicapai dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang unggul serta riset dan inovasi yang kuat dalam mendorong pertumbuhan industri di Indonesia,” ujar Menteri Brian Yuliarto dalam sambutannya.

Senada dengan itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menambahkan bahwa riset merupakan faktor kunci dalam pembangunan SDM Indonesia secara keseluruhan dan sumber inovasi untuk pertumbuhan ekonomi.

“Setiap rupiah yang kita investasikan dalam penelitian memiliki dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi. Secara keseluruhan di dunia, peningkatan riset sebesar 10 persen dalam jangka pendek dapat mendorong pertumbuhan GDP (Gross Domestic Product) sebesar 0,2 persen, dan dalam jangka panjang dapat mencapai 0,9 persen,” jelas Wamen Stella Christie.

Peluncuran program ini turut dihadiri oleh Wamendiktisaintek Fauzan, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Fauzan Adziman, serta Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat I Ketut Adnyana. Dalam kesempatan tersebut, Fauzan Adziman memaparkan mengenai program penelitian yang terdiri dari skema penelitian dasar dan skema penelitian terapan, serta program pengabdian kepada masyarakat yang terdiri dari skema pemberdayaan berbasis masyarakat, pemberdayaan berbasis kewirausahaan, dan pemberdayaan berbasis wilayah.

Dengan adanya program ini, Kemdiktisaintek berharap dapat membangun ekosistem riset yang lebih kuat, meningkatkan daya saing nasional, serta menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat dan perekonomian Indonesia.

Rp 2 Triliun untuk Beasiswa! Kemdiktisaintek dan LPDP Komitmen Bangun SDM Unggul

Jakarta- Dalam rangka peningkatan layanan pendidikan tinggi kepada para pemangku kepentingan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memperbaharui Perjanjian Kerja Sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) terkait Program Kolaborasi Pendanaan Beasiswa dan Peningkatan Kompetensi pada Jumat (28/2).

Penandatanganan kesepakatan ini dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, Sekretaris Jenderal Kemditisaintek, Togar Mangihut Simatupang, dan Direktur Utama LPDP, Andin Hadiyanto, beserta jajaran lainnya dari kedua lembaga.

“Hari ini kita akan menandatangani kerja sama program kolaborasi Kemdiktisaintek dengan LPDP menggunakan Dana Abadi Pendidikan (DAP), khususnya beasiswa. Momen ini menjadi salah satu tumpuan atau poros untuk membangun sumber daya manusia di Indonesia,” ujar Wamen Stella.

Wamenpun menyampaikan bahwa program ini hadir untuk memberikan bantuan dana pendidikan kepada mereka yang berprestasi, namun membutuhkan biaya untuk dapat mengemban pendidikan berkualitas dari jenjang S1 hingga S3.  

Menurut Sesjen Kemditisaintek, Togar Mangihut Simatupang, tujuan dari program ini melakukan kerja sama terkait pendanaan program beasiswa baik gelar maupun non gelar, yang dilakukan secara transparan untuk generasi masa depan.

“Kami berharap PKS ini dapat meningkatkan kolaborasi antara LPDP dan Kemdiktisaintek, serta membangun generasi sumber daya manusia yang lebih baik dimasa depan,” ucap Togar.

Pembaharuan kerja sama yang dilakukan mencakup pelaksanaan pendanaan dan pengelolaan program kolaborasi, yang meliputi program beasiswa bergelar/ degree dan program beasiswa tanpa gelar/ non-degree. Hal ini dilakukan untuk memfasilitasi program yang telah berjalan pada tahun sebelumnya dan program baru yang akan berjalan pada tahun 2025. Besaran pendanaan untuk beasiswa pada kerja sama ini kurang lebih sebesar 2 Triliun Rupiah.

Direktur Utama LPDP, Andin Hadiyanto menyampaikan bahwa LPDP berusaha memberikan layanan terbaik, dengan cara memaksimalkan pelayanan dan sportivitas untuk hasil yang optimal, tepat, dan berdampak positif bagi bangsa dan negara.

Kehadiran kerja sama ini diharapkan mendukung penguatan ekosistem pendidikan tinggi, memberikan sinergi pendanaan, meningkatkan sumber daya dan kualitas pendidikan, serta meningkatkan peluang riset sebagaimana yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Pemerintahan Jangka Menengah (RPJMN) Tahun 2025-2029 sebagai pendukung daya saing dan produktivitas sumber daya manusia Indonesia.

Menuju Prestasi Nasional, Untidar Adakan Seleksi Internal Olimpiade Nasional Matematika dan IPA Tingkat Perguruan Tinggi Tahun 2025

Universitas Tidar melaksanakan Seleksi Internal Olimpiade Nasional Matematika dan IPA (ONMIPA-PT) Tingkat Perguruan Tinggi Tahun 2025 pada Rabu (26/2) di Gedung Kuliah Umum (GKU) dr. H.R. Suparsono. Sejumlah 60 mahasiswa mengikuti seleksi ini sebagai bagian dari upaya Untidar dalam menjaring perwakilan terbaik yang akan berkompetisi dalam berbagai bidang sains. Bidang-bidang yang diujikan dalam seleksi olimpiade nasional ini mencakup bidang Biologi, Fisika, dan Kimia serta Matematika dan dilaksanakan selama kurang lebih 120 secata luring dengan metode pengerjaan soal di kertas sesuai dengan bidang keahlian masing-masing mahasiswa. Dari hasil seleksi ini akan menghasilkan 5 mahasiswa terbaik di tingkat Universitas dari masing-masing bidang yang diujikan.

Dalam sambutannya, Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (BAKK) Universitas Tidar, Drs. Giri Atmoko, M.Si., mengapresiasi partisipasi mahasiswa dalam seleksi yang dilaksanakan pada hari ini. “Selamat kepada mahasiswa yang telah menjadi utusan dalam seleksi nasional ini. Kegiatan ini diharapkan dapat memunculkan bibit-bibit yang dapat mewakili di tingkat wilayah maupun nasional dari perwakilan Universitas Tidar melalui penguatan materi dan mental kepada mahasiswa yang terpilih nantinya,” ujarnya.

Kegiatan seleksi ini juga menjadi bagian dari strategi Untidar dalam meningkatkan prestasi akademik mahasiswa dan memperkuat kegiatan di bidang kemahasiswaan. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, diharapkan mahasiswa Universitas Tidar semakin siap bersaing dan meraih prestasi di tingkat nasional.

Salah satu peserta seleksi olimpiade nasional, Dini Indriani, yang berasal dari Fakultas Pertanian, tepatnya dari program studi Agroteknologi menyampaikan perasaan bahagia dan leganya pasca pelaksanaan tes hari ini. Dini berharap dengan adanya program seleksi ini dapat menjadi wadah bagi dirinya dalam mengembangkan ilmu kompetensi yang berkaitan ilmu-ilmu Biologi, sebagai bidang yang diujikan pada tes hari ini.

“Harapan saya, saya dapat berpartisipasi sebagai salah satu mahasiswa yang berkompetisi dalam Olimpiade Nasional IPA dan Matematika di tingkat wilayah maupun nasional,” ujarnya pasca kegiatan seleksi hari ini.

Seleksi ini diharapkan dapat menghasilkan mahasiswa unggulan yang nantinya akan mewakili Universitas Tidar dalam Olimpiade Matematika dan IPA di tingkat wilayah dan berkesempatan berkompetisi hingga di tingkat nasional.


Penulis : Ruth Erica Margaret
Editor : Humas Untidar

Sinergi Tingkatkan Pendidikan Pariwisata, Prodi Pariwisata Untidar Adakan Seminar dan Talkshow Hildiktipari DPW V

Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Tidar menggelar kegiatan Seminar dan Talkshow Hildiktipari DPW V Kick Off 2025 di Gedung Kuliah Umum Dr.H.R. Suparsono, Selasa (25/2), yang diikuti sekitar 250 peserta terdiri anggota Hildiktipari DPW V, dosen, dan mahasiswa Prodi Pariwisata Untidar.

Kegiatan seminar dan talkshow dengan tema “Peran dan Peluang: Kekuatan Pendidikan Pariwisata di Yogyakarta dan Jawa Tengah” ini diinisiasi oleh Prodi Pariwisata Untidar dengan menghadirkan Dr. Ani Wijayanti, M.M., M.Par., CHE dari Universitas Bina Sarana Indonesia, Prof. Dr. Hasan Abdul Rozak, S.H, CN, M.M. dari STIE Totalwin Semarang, Setiawan Priatmoko, MM., PhD dari STIE Pariwisata API Yogyakarta, dan Kenyo K. Kurniasari, S.S., M.I.T.M., CHE dari UNTIDAR sebagai narasumber. 

Dr. Ani Wijayanti, M.M., M.Mpar., CHE menjelaskan bagaimana sinergitas pendidikan dan pariwisata dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM). “Sinergitas pariwisata dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dapat diwujudkan dengan kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah. Hal ini dapat menjadi strategi untuk berinovasi menciptakan sebuah pariwisata yang berkualitas dan berdaya saing,” ujarnya pada sesi penyampaian materi.

Dalam kesempatan ini, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Axel Giovanni, S.E., M.M., menyampaikan dengan adanya kegiatan ini jalinan relasi untuk mempererat kerja sama Hildiktipari. “Meningkatnya industri pariwisata pasca pandemi terutama di wilayah Jateng dan DIY membuktikan bahwa dengan adanya kegiatan ini menjadikan sarana dan strategi dalam meningkatkan pariwisata melalui kolaborasi akademisi dengan industri,” ungkap Axel dalam sambutannya.

Ketua Hildiktipari DPW V Susilo Budi Winarno, S.H., M.H., menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Untidar atas terselenggaranya kegiatan ini. “Perkembangan pariwisata yang pesat memberikan dorongan untuk mengembangkan pariwisata secara adaptif dan inovatif agar tetap kompetitif di nasional maupun internasional, karena itu dibutuhkan kolaborasi antara akademisi, industri, dan pariwisata untuk mengupayakan pariwisata yang berkelanjutan dan melahirkan inovasi SDM unggul di Indonesia,” ujarnya.

Harapannya dengan adanya keterlibatan perguruan tinggi dalam dunia pariwisata menjadi peluang kebangkitan pariwisata Indonesia yang unik, berkualitas, inovatif, dan terciptanya tenaga kerja yang kompeten.

 

Penulis : Dewi Puji Lestari

Bersama 30 Perguruan Tinggi, Mendiktisaintek Dorong Riset untuk Kemandirian Pangan 

Jakarta–Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto mendorong penguatan sinergi antara perguruan tinggi dan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mendukung program swasembada pangan dalam Forum Diskusi Perguruan Tinggi yang bertajuk “Sinergi Mendukung Swasembada Pangan Nasional Berkelanjutan” di Kantor Pusat Kementan, Senin (24/2).

Dalam acara yang turut dihadiri oleh Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman serta sejumlah Rektor dan pemangku kepentingan dari berbagai perguruan tinggi, Menteri Brian menyoroti pentingnya peran strategis kampus dalam keberlanjutan teknologi dan  pangan di Indonesia. 

“Kampus bertanggung jawab melahirkan SDM (Sumber Daya Manusia) yang andal. SDM yang nantinya akan menopang kemajuan teknologi, yang selanjutnya akan menopang lahirnya industri-industri berbasis teknologi pula,” ujar Menteri Brian.

Mendiktisaintekpun menggarisbawahi pentingnya penguatan industri pangan. Menurutnya, industri pangan harus dikuasai, agar indonesia semakin maju. 

Senada dengan pernyataan tersebut, Menteri Andi menegaskan bahwa keterlibatan pendidikan tinggi dan mahasiswa berperan besar dalam mendorong kemajuan bangsa.

“Kita bisa menjadi negara super power di sektor pertanian, itulah keunggulan komparatif kita,” ujarnya.

Sebagai ujung tombak pengembangan kemandirian pangan, kampus harus berfokus pada dua strategi utama, yaitu peningkatan produktivitas dan hilirisasi. Mendiktisaintek Brian Yuliarto menegaskan bahwa pengembangan ini merupakan tantangan besar sekaligus momentum bagi Indonesia untuk menjadi bangsa yang lebih bermakna.

Dalam kesempatan tersebut ditandatangani Kesepahaman Bersama antara Kemdiktisaintek dan Kementan tentang Kesinergisan Program Bidang Pertanian dan Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam Rangka Mendukung Swasembada Pangan Nasional Berkelanjutan.

Komitmen kerja sama tersebut untuk mendukung penelitian berkelanjutan yang akan dilakukan oleh tim khusus dari 30 perguruan tinggi yang memiliki Fakultas Pertanian. Penelitian akan berfokus pada sepuluh komoditas pertanian dengan produktivitas rendah, yaitu padi, jagung, bawang putih, tebu, sapi, kedelai, pupuk, ubi kayu, gandum, dan kentang.

Sebagai penutup dalam kerja sama tersebut, Menteri Brian menyampaikan harapannya agar kolaborasi antara perguruan tinggi dan Kementan ini dapat terus diperkuat. Mendiktisaintek berharap Indonesia dapat berdiri sejajar dengan negara-negara maju lainnya di dunia, terutama dalam bidang teknologi dan ketahanan pangan.