UNTIDAR BERPARTISIPASI DALAM PKBNMI 2017

Kapal Republik Indonesia (KRI) Banjarmasin resmi berlayar dari Dermaga Ujung, Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Surabaya menuju Komando Utama Pembinaan dan Operasional (Kolinlamil) Kawasan Barat DKI Jakarta dalam rangka Pelayaran Kebangsaan Bela Negara Mahasiswa Indonesia (PKBNMI) 2017.

Pelayaran ini melibatkan 732 peserta dari 24 perguruan tinggi di Indonesia yang terdiri dari 627 mahasiswa dan 105 pendamping. Dalam kesempatan ini, Rektor Universitas Tidar, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd.; Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Bambang Kuncoro, M.Si. bersama 4 pendamping lainnya turut serta dalam pelayaran yang dilaksanakan pada Rabu-Sabtu (20-23/12).

“UNTIDAR mengirimkan 27 mahasiswa yang telah diseleksi dan diberi pembekalan sehingga benar-benar siap mengikuti program pelayaran kebangsaan ini. Harapannya mahasiswa dan mahasiswi UNTIDAR ini dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik dan mampu menjadi pribadi dengan karakter yang lebih baik,” kata Rektor usai upacara pembukaan PKBNMI di Dermaga Ujung Koarmatim, Rabu (20/12).

Kegiatan PKBNMI 2017 ini merupakan tindak lanjut dari Deklarasi 36 Pimpinan Perguruan Tinggi Baru (PTNB) sebagai kampus bela negara pada tanggal 20 Oktober 2016 di kampus Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Surabaya. “Maka itu panitia inti acara ini melibatkan pimpinan-pimpinan PTNB. Tujuannya jelas, membangun karakter bela negara pada mahasiswa-mahasiswi di Indonesia,” tambahnya.

 

Sependapat dengan Rektor, Letkol (Pur) Yasnanto, S.I.P., M.Pd., dosen mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan UNTIDAR yang juga menjadi pendamping menyatakan bahwa PKBNMI merupakan wujud kerjasama perguruan tinggi dan lintas kementrian untuk tujuan bersama meningkatkan kesadaran bela negara bagi kalangan mahasiswa. “Selain fokus pada bela negara kegiatan ini juga membentuk karakter cinta maritime, membangun persatuan dan kesatuan mahasiswa secara professional dan meningkatkan wawasan global kemaritiman,” tuturnya.

Menurut Pembida UKM Resimen Mahasiswa (Menwa) peserta PKBNMI dari UNTIDAR telah menjalani pembekalan lebih kurang 2 minggu. “Setiap sore sampai malam kami memberikan pembekalan latihan baris berbaris (PBB), upacara, parktik memakai Kaporlap (Perlengkapan Perorangan Lapangan) serta pengorganisasian satuan setingkat peleton dan regu,” jelasnya.

Selama berlayar peserta PKBNMI akan menerima materi seperti wawasan kebangsaan, tataran dasar bela negara, Peraturan Urusan Dinas Dalam (PUDD), Sistem Pertahanan Semesta (Sishanta), etiket, sopan santun dan jiwa korsa dan lain-lain. (DN)

GUS WAHID PAPARKAN TANTANGAN DAN PELUANG DI ERA TEKNOLOGI DISRUPTIF

Smartphone merupakan salah satu inovasi teknologi yang membawa banyak perubahan dalam kehidupan kita. Beragam aplikasi memudahkan pengguna smartphone untuk memenuhi kebutuhannya. “Sekarang tinggal ketik di aplikasi, tidak perlu keluar rumah bahkan antri panjang, makanan pesanan kita kan diantar sampai rumah, bukankan ini contoh perubahan yang luar biasa di era ini?” kata KH. Abdul Wahid Maktub.

Staf Khusus Menteri (SKM) Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi ini menekankan kecanggihan internet dan segala macam teknologi baru membuat yang Global menjadi Lokal dan sebaliknya yang Lokal menjadi Global. Fenomena ini disebut Era Teknologi Disruptif dimana teknologi lama mulai digantikan oleh teknologi baru agar lebih efektif dan efisien.

“Siapa yang tidak dapat mengikuti perkembangan ini akan tertinggal. Ini era new rule, new method, new solution dan new responsive. Kita harus siap dengan realitas baru ini, dunia sudah berintegrasi melalui teknologi digital dan online saat ini,” jelasnya.

Gus Wahid panggilan akrabnya, sebelum menjadi staf khusus Menristekdikti pernah menjabat beberapa jabatan penting lain diantaranya menjadi staf Menteri Ketenagakerjaan Indonesia pada 2010-2014 dan Duta Besar Indonesia di Qatar pada 2003-2007. Pada kesempatan Kuliah Umum “Revolusi Perguruan Tinggi di Era Teknologi Disruptif“ pada Senin (18/12) ini Gus Wahid juga menyampaikan Prioritas Sasaran Strategis Dikti.

Peningkatan Mutu Pendidikan Tinggi merupakan prioritas pertama dari Rencana Strategis Dikti 2015 – 2019. Prioritas tersebut antara lain mutu, relevansi, akses, daya saing dan tata kelola. Prioritas ini mengalami perubahan dari sebelumnya yaitu akses, mutu, relevansi, daya saing dan tata kelola untuk prioritas tahun 2010-2014. (DN)

TAK SEKEDAR MENABUNG, PASTIKAN BANK PESERTA PENJAMINAN LPS

Mayoritas masyarakat memanfaatkan jasa perbankan untuk menyimpan uang mereka. Beberapa keuntungan seperti nasabah bisa mengambil uang kapan saja, kemudahan berbagai transaksi dan aman dari resiko keamanan/kejahatan serta tawaran beberapa keuntungan lian seperti bunga bank dan berbagai kesempatan memenangkan undian berhadiah membuat masyarakat tidak segan mempercayakan tabungannya di bank.

“Jangan asal meyimpan uang di bank, pastikan bank tempat anda menabung adalah peserta penjaminan LPS!,” kata Sekretaris Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS), Samsu Nugroho pada Jumat (15/12) di Auditorium Universitas Tidar.

Menurutnya, perlindungan nasabah sangat penting untuk diperhatikan untuk mengantisipasi jika banknya bangkrut atau krisis. “Sesuai UU No 24 Tahun 2004, LPS mempunyai fungsi menjamin simpanan nasabah penyimpan dan turut aktf memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya,” jelasnya.

Program Penjaminan Simpanan adalah suatu program yang memberikan perlindungan kepada nasabah penyimpan suatu bank apabila izin usaha bank tersebut dicabut, dengan cara membayar simpanan nasabah sampai dengan jumlah tertentu dengan catatan harus memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Kriteria Layak Bayar).

Pada kuliah umum bertajuk Peran Lembaga Simpanan dalam Menjaga Stabilitas Sistem Perbankan Indonesia yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi berkerjasama dengan LPS ini diikuti 260 peserta dari mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangun, Manajemen dan Akuntansi.

Sejak LPS beroperasi Tahun 2005 sampai dengan 31 Agustus 2017, LPS telah melakukan penanganan simpanan terhadap 81 bank yang dicabut izin usahanya dan telah dilakukan poses rekonvernya. Total Simpanan: Rp1.524 M Total Rekening: 170.275 sedangkan total Layak Dibayar Rp1.209,43 M (77,67%) dalam 156.142 Rek  (91,73%) dan Tidak Layak Dibayar Rp314,93 M (20,65%) dalam reking 14.072 (8,26%).

“Agar simpanan uang anda tetap aman segera dipastikan kembali apakah bank tempat anda menabung sudah benar-benar AMAN agar tidak terjadi kerugian di masa yang akan datang. Ingat menabung itu menyisihkan bukan menyisakan,” pungkas Samsu. (DN)

21 MAHASISWA FKIP UNTIDAR MAGANG KERJA DI GAMBANG RESORT CITY MALAYSIA

Luaran kegiatan perkuliahan tentunya tidak hanya sebatas pemahaman materi oleh mahasiswa namun juga kemampuan untuk mempraktekkannya di kehidupan sehari-hari. “Magang kerja merupakan salah satu media pembelajaran real bagi mahasiswa. Inilah kesempatan mahasiswa mempraktekkan teori yang sudah mereka dapat di kelas untuk diterapkan di kehidupan nyata,” kata Ali Imron, S.S., M.Hum.

Sebanyak 21 mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tidar mengikuti program magang luar negeri selama kurang lebih 1 bulan yaitu pada 8 November – 13 Desember 2017. Kegiatan ini bekerjasama dengan Bukit Gambang Resort City, Pahang Darul Makmur, Malaysia sebuah kawasan pariwisata, hotel serta universitas seluas 3000 hektare.

“Mereka adalah mahasiswa semester 5 yang mengambil mata kuliah English for Spesific Purpose khususnya lagi English for Tourism (EFT). Tidak hanya lancar berbahasa Inggris mereka juga dituntut untuk berinteraksi dengan para tamu atau wisatawan yang berkunjung di resort tersebut. Tantangan lainnya, wisatawan tidak hanya dari bangsa Melayu/Malaysia namun juga negara lain,” jelas Ali.

Pelaksana harian program magang kerja EFT ini menuturkan bahwa sebelum diputuskan berangkat, mahasiswa telah melalui proses seleksi mulai dari kesehatan, kepercayaan diri, kesiapan dan kemampuan berbahasa Inggris. “Dalam 1 minggu mereka akan bekerja selama 5 hari (Rabu-Minggu) dengan jam kerja 8 jam/hari. Hari Senin merupakan hari libur dan Selasanya mereka akan mendapatkan materi tourism dan event management dari pengelola resort,” tambahnya.

Selain proses seleksi yang ketat, peserta juga harus menyiapkan dana minimal Rp 3,5 juta untuk kebutuhan tempat tinggal dan makan 3x sehari. Kendala biaya ini yang menjadi alasan utama sebagian mahasiswa mengurungkan niatnya untuk mengikuti program magang di Malaysia ini.

Total mahasiswa yang mengambil mata kuliah English for Specific Purpose adalah 120 mahasiswa dimana 60 orang mengambil spesifikasi EFT dan sebagian lainnya mengambil English for Children (EFC). Hanya 21 mahasiswa EFT yang akhirnya berangkat ke Malaysia, sisanya melaksanakan program magangnya di Desa Wisata Candirejo, Borobudur.

“Magang di luar negeri adalah sebuah pengalaman baru dimana melatih kami menjadi lebih mandiri, menghargai pekerjaan dan toleransi antar budaya, ras dan agama. Pertama kali bertemu dengan guest atau tamu dimana kami harus menjelaskan informasi dalam bahasa Inggris this is the real practice,” tutur Wahyuningsih, salah satu peserta EFT di Malaysia.

Pada akhir magang setiap peserta akan mendapatkan uang saku sebesar 600 ringgit atau setara hampir 1 juta rupiah. Jika mereka mengambil jam lembur diluar magang mereka akan dibayar lagi 60 ringit atau 18 ribu per jamnya. Selain itu, semua peserta EFT akan mendapatkan sertifikat magang dari Imperia Academy Tourism Sendirian Beuhad,sebuah akademi/universitas di wilayah Bukit Gambang Resort.

“Semoga magang tahun depan tidak hanya di Malaysia namun juga di negara tetangga lainnya sehingga wawasan lebih luas,” tambah Wahyu.

“Pertama kali dilaksanakan di UNTIDAR, program magang luar negeri ini khususnya bagi mahasiswa FKIP semoga membawa pengalaman yang positif dan kedepannya dapat kita kembangkan lagi,” tutur Prof. Dr. Sukarno, M.Si., Dekan FKIP.

Sesuai dengan Visi dan Misinya, FKIP UNTIDAR menargetkan menjalin kerjasama dengan negara-negara tetangga Indonesia atau di wilayah Asia Tenggara dalam 10 tahun pertama ini. Sebelumnya, FKIP juga pernah mengirimkan mahasiswanya untuk melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di Sekolah Kebangsaan Bandar Sungai Buaya, Sekolah Menengah Kebangsaan Bandar Sungai Buaya dan sekolah lain di Hulu Selangor, Malaysia. (Novitasari-Mg/DN/HDN)

SETELAH TANAM 1000 POHON, REKTOR UNTIDAR GOWES KLEDUNG-MAGELANG

Rektor Universitas Tidar, Prof. Dr. Cahyo Yusuf, M.Pd bersama mahasiswa mengadakan kegiatan penanaman pohon dan kemah bersama di Desa Gunungsari, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung pada Sabtu-Minggu (09-10/12). Pada hari kedua, Rektor mengajak gowes mahasiswa dan staf dari Kledung ke Magelang.

Kegiatan ini merupakan ajang silaturahmi dengan warga sekitar, mengenalkan lokasi kampus Temanggung kepada mahasiswa serta menjaga kelestarian alam sekitarnya. Total pohon yang ditanam sebanyak 1000 pohon terdiri dari Jati, Mahoni dan Trembesi.

“Keenam kalinya, kegiatan penanaman pohon ini dilaksanakan. Sebelumnya dilaksanakan di lahan UNTIDAR yaitu Wonosobo, Grabag, Bandongan, Tempuran dan Sidotopo. Tujuannya selain untuk pelestarian alam juga bersilaturahmi dengan warga sekitar,” kata Rektor.

Rombongan UNTIDAR juga menyelenggarakan sarasehan di rumah Nuryanto Ketua RT 03, RW 03, Desa Gunungsari, Kecamatan Kledung, Temanggung. Dalam kegiatan ini, Rektor menyampaikan rencana kedepan UNTIDAR yang akan membangun lahan seluas 39,632 M² ini untuk Fakultas Perikanan dan Fakultas Hukum.

Warga menyambut rencana ini dengan antusias. “Kami menyambut baik rencana pembangunan kampus UNTIDAR di wilayah ini. Harapannya perekonomian warga sekitar juga bisa meningkat nantinya. Kami juga berharap warga sekitar masih bisa memanfaatkan sumber mata air serta perbaikan akses jalan ke wilayah ini,” tuturnya.

Rektor bersama puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Sulfur, Pramuka dan Resimen Mahasiswa (Menwa) juga menghabiskan 1 malam berkemah di lahan kampus Kledung ini. “Acara ini bermanfaat sekali untuk mengakrabkan dosen, karyawan serta mahasiswa serta kita bersama menjaga lingkungan. Lokasi penanaman sudah ideal karena tidak banyak pohon besar yang tumbuh di lokasi tersebut,” ujar Pertiwi Juli Astuti anggota UKM Mapala Sulfur.

Menurutnya, acara penanaman pohon dan kemah bersama ini tidak monoton karena diisi dengan sharing maupun hiburan dari peserta maupun panitia. Harapannya besok jika ada kegiatan sejenis ini tentunya peserta UKM yang dilibatkan lebih banyak lagi. “Setelah penanaman ini hendaknya pihak kampus juga melakukan peninjauan secara berkala karena penting untuk mengetahui tumbuh atau tidaknya bibit yang sudah ditanam dan kebermanfaatannya bagi warga sekitar,” tambah Tiwi.

Pada hari kedua, Rektor beserta beberapa mahasiswa dan staf UNTIDAR gowes atau bersepeda pulang ke kampus UNTIDAR di Magelang. Perjalanan gowes menempuh jarak 42,5 km dengan waktu tempuh kurang lebih 2,5 jam dengan 2 kali istirahat. “Kontur jalanan menurun tapi tetap perlu stamina prima untuk dapat menyelesaikan rute sampai final yaitu di kampus Tuguran. Kami salut dengan Pak Rektor yang tetap semangat sampai tujuan akhir padahal ada peserta gowes yang akhirnya menyerah di tengah jalan,” jelas Yogi Prayogo, staf yang juga anggota UNTIDAR Gowes Division (UGD) komunitas gowes di kampus UNTIDAR. (DN/HDN)

GUNAWAN PERMADI : JURNALIS WAJIB PAHAM AGENDA SETTING DAN FRAMING

Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, Gunawan Permadi menekankan pentingnya pemahaman tentang agenda setting dan framing bagi semua jurnalis. “Momen atau event menarik tidaklah cukup untuk membuat sebuah berita yang baik tapi juga bagaimana angle atau sudut pandang penulis memberitakannya,” jelasnya.

Agenda setting merupakan proses pemberitaan sehingga media tidak hanya menyalurkan info tentang suatu isu atau peristiwa namun juga membuatnya mempunyai nilai lebih. Sedangkan framing adalah kepanjangan dari teori agenda setting dimana dilakukan pemilihan fakta-fakta, menonjolkan nilai-nilai tertentu dan melemahkan yang lain dan dikemas dalam suatu berita. Framing digunakan untuk melahirkan citra atau kesan tertentu oleh media atau membentu wacana yang ingin ditangkap oleh khalayak luas.

Pada acara Pelatihan Jurnalistik bersama Suara Merdeka, Kamis (07/12) sejumlah 120 peserta mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) mendapatkan materi mengenai jurnalistik di media massa. Tidak hanya materi dari Pemred, peserta pelatihan jurnalistik juga mendapat penjelasan mengenai proses peliputan, pemilihan headline, pencetakan serta distribusi media massa olah Senior Manager Business Development Suara Merdeka, Adi Susanto dan Imam Nuryanto, koordinator Suara Merdeka wilayah Kedu.

Setelah mendapat materi, setiap mahasiswa mempraktekkan langsung materi yang telah didapatkannya dengan menulis berita acara hari itu. “Pada dasarnya kalian sudah memiliki basic utama seorang jurnalis yaitu bahasa. Tapi, perlu dibiasakan lagi bagaimana mem-framing moment sehingga berita jadi lebih menarik,” tambah Gunawan.

Pada akhir acara, terpilihlah 3 berita terbaik yaitu Nirma Melati, Rizka Lumayanti dan Mustika Rosiana yang akhirnya diundang oleh Suara Merdeka untuk mengiktu acara peresmian Suara Merdeka Corner pada Kamis (14/12) di UNISBANK Semarang. (Diah Octavia Puji Astuti-mg/DN/HDN)

PKMP 2017 : LIMBAH BATANG POHON PISANG DAN PARE JADI SPRAY ANTI INFLAMASI

Spray GAPIPA (Getah Pisang – Ekstrak Buah Pare sebagai Anti Inflamasi Herbal) merupakan produk hasil penelitian mahasiswa Universitas Tidar yang digunakan untuk menangani bengkak, luka kecil dan luka akibat gigitan serangga.

Ide produk herbal karya Ismiterra Cahya Pradani, Suwasdi, Sulistyani dan Ahmad Fahrudin ini terinspirasi dari melimpahnya limbah batang pohon pisang dan pare pasca panen raya di wilayah Magelang sekitarnya. “Biasanya batang pohon pisang akan ditinggalkan begitu saja pasca panen serta pare juga terbuang sia-sia ketika pasokan melimpah dan harga jual menurun. Limbah keduanya kan menumpuk dan berpotensi mencemari lingkungan sekitar jika tidak dimanfaatkan,” jelas Ismi panggilan akrab Ketua Tim Program Kreatifitas Mahasiswa Penelitian (PKMP) Spray Gapipa.

Kandungan tanin, alkaloid dan saponin pada pohon pisang berperan sebagai antiseptik dan anti bakteri serta flavonoid berperan sebagai stimulus regenerasi sel kulit sehingga mempercepat proses pembekuan darah dan proses penyembuhan luka. Sementara kandungan pare diantaranya, antrakuinon, kuinon dan lektin berguna sebagai zat anti bakteria dan anti peradangan.

“Spray gapipa dapat mengobati luka luar seperti luka bakar serta luka sayatan benda tajam dalam ringkup luka ringan. Secara fungsi sama dengan obat luka yang sudah ada namun, spray ini bersifat herbal karena bahannya asli dari getah tanaman pisang dan pare yang diekstraksi,” tambahnya.

Produk ini memilikin keunggulan dibandingkan obat luka ringan yang sudah beredar di pasaran. Obat biasanya berupa krim/pasta dan serbuk yang pengaplikasian terkadang lebih sulit, terasa lengket dan meninggalkan bekas luka. Hal ini tentu membuat pemakainya kurang nyaman. Tetapi hal itu tidak akan terjadi jika pengobatan menggunakan produk herbal Spray GAPIPA. Produk tersebut tidak akan meninggalkan bekas luka yang membandel. Keistimewaan lain dari Spray GAPIPA yaitu mudah pengaplikasiannya, lebih praktis serta kemasannya menarik minat masyarakat.

Proses penelitian Spray Gapipa kurang lebih memakan waktu 3 bukan. “Kami menggunakan 18 ekor tikus putih menjadi objek penelitiannya. Tikus putih dipilih karena genetikanya hampir sama dengan manusia. Selain itu, juga mempermudah dalam pengambilan data dan pengamatan,” tutur Suwasdi, anggota tim PKMP Spar Gapipa.

Hasil penelitian tersebut membuahkan hasil luka pada beberapa tikus yang disemprot dengan Spray Gapipa hasilnya luka pada tikus itu sembuh bahkan hilang dan tidak meninggalkan bekas. “Saat ini kita sedang berusaha mengajukan ijin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) agar produk ini bisa segera dipasarkan serta diperjual belikan dan bisa menjadi produk asli karya mahasiswa UNTIDAR,” tambah Suwasdi.

Sementara ini, produk spray  GAPIPA belum bisa diperjual belikan mengingat ini adalah produk herbal dan harus memiliki ijin BPOM untuk mendapatkan lisensi bahwa produk tersebut aman di pergunakan. (Anggun Fitria Anindhi-mg/DN/HDN)

PKMK 2017 : MASUK HOTEL “JAMU” SI “OMPONG”, DOMBA LANGSUNG GEMUK

Fisiela Fikta Arunia (Faperta), Oke Amar Saputa (Faperta), Dewi Setya Lestari (FKIP), Nurul Delphi Anjani (Faperta), dan Selvina Nurafni (FKIP) membuat sebuah inovasi usaha penggemukan domba dengan konsep homestay.

Inovasi penggemukan domba ini mereka tuangkan dalam Program Kreatifitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) HOTEL “JAMU” SI “OMPONG” (Homestay Karantina Sumber Laba Jasa Penggemukan Domba Potong). PKMK ini merupakan salah satu dari 12 PKM Universitas Tidar yang lolos dan didanai Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Domba anakan berusia 7-9 bulan akan dikarantina selama 100 hari (3 bulan). Berat domba anakan rata-rata 12-20 kg per ekornya. Selama karantina, domba diberi pakan fermentasi per hari 10-20 % dari berat tubuhnya. Pakan juga ditambah dengan konsentrat sebesar 1-2% dari bobot domba. Setiap hari perkembangan domba akan diamati dengan seksama dan dilakukan penimbangan 1 minggu sekali.

“Pakan yang kami gunakan terbuat dari jerami, rumput segar, batang pisang, limbah sayur, EM4, Molase garam, dan ampas tahu yang kami fermentasi,” jelas Fisiela, Ketua Tim PKMK HOTEL “JAMU” SI “OMPONG”.

Pakan fermentasi memiliki kelebihan disbanding pakan biasa yaitu rumput segar. “Pakan fermentasi membantu memperbaiki sistem pencernaan hewan, meingkatkan beran badan, menambah nafsu makan, meningkatkan daya tahan tubuh serta menjaga kekebalan tubuh dari penyakit dan kotoran yang dikeluarkan tidak terlalu bau jika dibandingkan dengan rumput segar,” ujarnya.

Domba dikarantina di kandang sebesar 7 x 8 m yang didirikan diatas kolam nila dengan sistem kandang susun berukuran per kandangnya 1,5mx2m. Setiap kandang berkapasitas 4-5 ekor domba. Jumlah keseluruhan kandang yang ada berjumlah 7 kandang. Dibuat juga terminal pakan fermentasi yang terletak sejajar dengan kandang domba disebelah kolam ikan nila. Terminal pakan ini berukuran 3 x 4 m dengan 3 sub ruang. Perawatan dan kebersihan kandang dilakukan setiap minggu sekali dan kotoran domba digunakan sebagai pakan ikan nila.

Jasa homestay penggemukan domba ini terletak di Dusun Beran, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo. Sebagai salah satu sentra produksi sayur dan padi di Jawa Tengah, Kabupaten Wonosobo mendukung untuk tetap tersedianya makanan bagi domba-domba yang dikarantina.

Fisiela mengungkapkan saat ini jasa homestay penggemukan domba sedang mengkarantina domba berjumlah 7 ekor. “Sekarang kami sedang mengkarantina 7 ekor domba, ada yang masuk baru 3 minggu, ada yang sudah bunting, ada juga yang sudah 2 bulan,” ungkapnya.

Keunggulan dari jasa homestay domba potong ini adalah pemilik domba tidak perlu bersusah payah untuk berternak domba, hanya membayar Rp. 6.500,- perharinya untuk satu ekor domba dan 3 bulan setelahnya domba sudah dapat dipanen atau dipotong.

“Harga anakan domba sekitar Rp 1.250.000 setelah 3 bulan dikarantina harga jula domba bisa menjadi Rp 2.200.000. Setelah dipotong biaya karantina, pemilik domba minimal mendapatkan keuntungan Rp 300.000 per dombanya,” ungkap Fisiela.

Jasa homestay ini juga menyerap limbah organik pertanian, sehingga membuka peluang tambahan pendapatan bagi yang ingin menjual limbah organik pertanian. Limbah organik ini digunakan untuk bahan dari pakan fermentasi untuk domba. Dari usaha ini juga membuka wawasan orang-orang untuk mengolah limbah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis dan juga terciptanya lingkungan yang terhindar dari penyakit.

Fisiela juga menuturkan jika pemilik domba ingin menjadikan dombanya sebagai indukan, jasa penggemukan domba  ini bisa menerimanya. “Kalau ada domba yang sudah mau panen tapi mau dijadikan indukan juga bisa kami karantina lagi,” pungkas Fisiela. (Haniatul Isnaeni-mg/DN/HDN)

SEMINAR DAN SOSIALISASI KURIKULUM UNTUK MENUNJANG PENINGKATAN DAN MOTIVASI MAHASISWA PETERNAKAN

Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Tidar mengadakan Kegiatan Seminar dan Sosialisasi Kurikulum untuk Menunjang Peningkatan dan Motivasi Mahasiswa Peternakan (28/11) lalu. Dalam kegiatan ini turut mengundang Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan kota Magelang, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang serta Klinik Hewan dan Lab Keswan Kota Magelang sebagai salah satu langkah untuk mengenalkan Program Studi Peternakan ke dinas-dinas terkait peternakan.

Acara tersebut diisi oleh beberapa pemateri dan dimoderatori oleh dosen di Prodi Peternakan Fakultas Pertanian Untidar, Ayu Rahayu, S.Pt., M.Sc. Sebagai wujud keseriusan Program Studi Peternakan dalam memberikan motivasi ke mahasiswa baru, dalam kegiatan ini turut mengundang pembicara baik dari akademisi maupun pengusaha serta motivator. Pemateri pertama disampaikan oleh Bapak Edwin Indarto, S.Pt., M.P. , dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada yang juga seorang motivator. Dalam materinya disampaikan motivasi kepada seluruh peserta seminar untuk mampu mengenali potensi dalam diri sendiri sehingga mampu menentukan tujuan yang akan diraih.

Dilanjutkan oleh Bapak Ir. Bambang Rijanto Japutra, M.P. dosen Universitas Nahdatul Ulama Purwokerto yang menyampaikan bahwa sarjana peternakan merupakan potensi dalam pengembangan peternakan di Indonesia. Sarjana peternakan sebagai penyalur ilmu dan teknologi peternakan, serta pengembangan sektor-sektor peternakan untuk pemenuh kebutuhan hewani dalam negeri. Seorang sarjana peternakan memiliki peluang yang cukup tinggi sebagai pengusaha, sebagai SDM yang dapat dimanfaatkan oleh perusahan peternakan ataupun sebagai pegawai negeri sipil. Tantangan sarjana peternakan adalah di bidang kompetensi, mental dan pasar global. Peternakan merupakan kegiatan dari hulu sampai hilir, budidaya dan penunjang. “lakukanlah apa yang kamu bisa lakukan untuk Ibu Pertiwi, berikan apa yang kamu bisa berikan untuk Ibu Pertiwi. Lakukanlah dan berikanlah sesuai dengan pekerjaanmu”, katanya.

Akhir acara Widitya Tri Nugraha, S.Pt., M.Sc selaku Plt. Koordinator Program Studi Peternakan memberikan cindera mata kepada para pembicara. Widitya menyampaikan kurikulum yang dilaksanakan oleh Program Studi Peternakan dikembangkan berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang mengacu kepada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dengan memasukkan muatan lokal. Sehingga diharapkan dengan sosialisasi ini dapat memberikan informasi ke khalayak umum bahwa sudah adanya Program Studi Peternakan di Universitas Tidar. “Semoga ke depan Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Tidar ini akan semakin berkembang sebagai prodi baru, dan diharapkan dengan penerapan Kurikulum ini akan menghasilkan lulusan-lulusan yang berkualitas sehingga akan memberikan kontribusi terhadap kemajuandalam bidang peternakan di Indonesia”, jelasnya. (Lastriana Waldi-FP/HDN)