Mendiktisaintek Luncurkan Gerakan Nasional Pencegahan Kekerasan di Kampus

Depok — Semangat baru mengalir dari Balairung Universitas Indonesia (UI), ketika ribuan mahasiswa baru menyambut dimulainya Kampanye Nasional Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT), pada Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di lingkungan UI, Depok, (5/8).

Gerakan nasional ini diluncurkan langsung oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan PKKMB 2025.

UI menjadi kampus pertama dari 11 perguruan tinggi di seluruh Indonesia yang akan disambangi dalam kampanye estafet ini. Dalam suasana hangat, Mendiktisaintek bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, Rektor UI, para guru besar, dan Satgas Pencegahan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS), berdialog langsung dengan para mahasiswa baru.

Menteri Brian menegaskan lingkungan kampus harus bersih dari semua bentuk kekerasan, diskriminasi, dan perundungan fisik dan psikis.

“Jangan ada lagi kasus kekerasan di lingkungan kampus. Alangkah sedihnya sebagai orang tua menerima laporan anaknya mengalami kekerasan, mengalami perundungan. Stop semua itu, dan ini the last call untuk kita semua,” tegas Mendiktisaintek. 

Menteri Brian juga meminta Satgas PPKS berperan aktif memroses laporan pengaduan tindak kekerasan, dan menjadi garda terdepan bagi dosen, tenaga pendidik, dan mahasiswa yang akan menangani jika terjadi tindak kekerasan di lingkungan kampus. 

Permendikbud Nomor 55 Tahun 2024 yang memayungi PPKPT juga melarang cat calling, cyber bullying, body shaming, dan post a picture (PaP) yang sering dengan dinamika sosial media kiwari. Informasi lengkap tentang PPKPT dapat diunduh di laman sahabat.kemdiktisaintek.go.id, sedangkan tata cara pelaporan dan formulir pelaporan dapat dilihat di lama aduanitjen.kemdiktisaintek.go.id  

Sementara itu pada acara dialog yang sama, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi menggaris-bawahi pentingnya melawan kekerasan (seksual) di lingkungan kampus secara bersama-sama. Perlawanan secara kolektif disinyalir efektif dan efisien, dalam memupus tindakan kekerasan di lingkungan kampus.

Untidar Sambut 4.138 Mahasiswa Baru 2025, Perdana Terima Penerima Beasiswa ADik

Universitas Tidar resmi membuka rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) 2025, Senin (4/8) di Gedung Kuliah Umum (GKU) dr. H.R. Suparsono, Kampus Tuguran, Untidar.

Dalam sambutannya, Rektor Untidar, Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si., menegaskan pergantian status menjadi mahasiswa bukanlah formalitas belaka. Ada proses yang harus ditempa sehingga mahasiswa dapat terbentuk menjadi pribadi yang mandiri, berintegritas, dan berdaya saing di tengah tantangan zaman.

“Kegiatan PKKMB ini merupakan langkah awal untuk mengenal lebih dekat dunia perguruan tinggi, memahami nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh universitas, serta menyesuaikan diri dengan dinamika kehidupan kampus. Kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk memperkenalkan sistem akademik, organisasi kemahasiswaan, maupun fasilitas kampus, tetapi juga untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap almamater dan semangat kolaborasi antar mahasiswa,” tuturnya.

Oleh karna itu, beliau mengatakan PKKMB bukan hanya sekadar pembekalan, namun dapat menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk mengenal lebih jauh dunia perguruan tinggi sehingga mahasiswa dapat lebih adaptif dengan sistem yang terdapat di dalamnya.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerjasama, Prof. Dr. Suyitno, S.T., M.Sc., IPM. menyampaikan laporannya mengenai Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) 2025 sekaligus menyerahkan secara simbolis mahasiswa baru kepada Rektor Untidar.

Dalam laporannya, Prof. Suyitno memaparkan pada PMB 2025 Untidar menerima sebanyak 4.138 mahasiswa dari 33.684 pendaftar. Dengan demikian, rasio keketatan Untidar saat ini mencapai 1:8. Jumlah mahasiswa baru tersebut diperoleh dari 982 mahasiswa yang diterima melalui jalur SNBP, 1.849 Mahasiswa jalur SNBT, serta 1.307 mahasiswa jalur mandiri. Dari keseluruhan jalur masuk, 33 mahasiswa yang tidak mendaftar ulangkan diri/registrasi.

Beliau juga menambahkan, PMB Untidar kali ini semakin berwarna dengan adanya kehadiran 5 mahasiswa baru asal Papua yang diterima melalui beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik).

“Mahasiswa terjauh yang kami terima saat ini dari Papua, dari Sumatra juga ada. Jadi relatif, hampir semua provinsi itu sudah mulai ada ya,” tuturnya.

Lebih lanjut, beliau mengungkap jika beasiswa ADik ini merupakan bentuk perhatian pemerintah agar seluruh masyarakat di pelosok negeri, khususnya Papua dapat menikmati pendidikan.

“Ya, ini sebuah bentuk perhatian pemerintah yah, agar sampai Papua pun banyak yang menikmati pendidikan ini. Kita kebetulan dapat dua,” ungkapnya.

Dua dari Lima mahasiswa penerima Beasiswa ADik berkesempatan berjumpa langsung dengan Prof. Suyitno yaitu Anderson Rayar dan Elison Gire.

“Pastinya senang ya, bisa diterima di Untidar karena memang ingin belajar dengan baik. Tadinya daftar di 2 Kampus, di Bali dan di sini. Tapi diterimanya di sini. Tetap senang, dua-duanya sama-sama bagus,” tutur Anderson Rayar.

Beasiswa ADik adalah program beasiswa afirmasi pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh pemerintah Indonesia. Program ini bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa dari daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), Orang Asli Papua (OAP), anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI), dan penyandang disabilitas untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Maba Untidar penerima beasiswa ADik terdiri dari 5 orang yaitu Anderson Rayar (S1 Pendidikan Biologi, FKIP), Elison Gire (S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP) dan Herlin Hembo Gloria (S1 Peternakan, Faperta) yaitu kategori Orang Asli Papua (OAP) serta Zalfa Akhmad Zuhdiansyah (S1 Mekatronika, Fakultas Teknik) dan Ayu Septiana (S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi) kategori Anak TKI.

Lebih lanjut, pembukaan rangkaian PKKMB Untidar juga diawali dengan penyematan almamater secara simbolis oleh rektor kepada kedua perwakilan mahasiswa yakni Agung Widyansyah, Prodi Pariwisata, Fakultas Ekonomi dan Kalila Orli, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Adapun pengucapan Janji Mahasiswa dipimpin oleh Ferris Geovanni Wijaya, Prodi Pariwisata, Fakultas Ekonomi.

Penulis : Yasmine

Editor : Humas Untidar

Sinergi Antar JDIH, UNNES Benchmarking ke UNTIDAR Terkait Dokumentasi Hukum

Tim Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) Universitas Negeri Semarang (UNNES) melakukan kunjungan benchmarking ke JDIH Universitas Tidar pada Kamis, 31 Juli 2025. Kunjungan ini bertujuan untuk memperkuat kolaborasi antar JDIH perguruan tinggi serta menggali best practice dalam pengelolaan dokumentasi dan informasi hukum.

Rombongan UNNES dipimpin oleh Sekretaris Universitas, Prof. Dr. Sugianto, M.Si., dan turut didampingi oleh jajaran tim pengelola JDIH UNNES, yaitu:

  1. Cahya Wulandari, S.H., M.Hum. – Kepala Kantor Hukum
  2. Ninik Purwaningsih, S.E., M.Si. – Kepala Administrasi Umum dan Keuangan
  3. Bayangsari Wedhatami, S.H., M.H. – Staf Akademik
  4. Zidney Ilma Fazaada Emha, S.H., M.H. – Staf Akademik
  5. Winarish, S.H., M.H. – Staf Akademik
  6. Siti Aisyah, S.E. – Staf Kantor Hukum

Sementara itu, pertemuan di Untidar disambut langsung oleh Kepala Biro Perencanaan, Keuangan, dan Umum selaku Ketua JDIH Untidar beserta tim pengelola JDIH Untidar.

Dalam sesi diskusi, kedua belah pihak saling berbagi pengalaman dalam pengelolaan JDIH. Tim JDIH UNTIDAR menyampaikan beberapa best practice yang telah diterapkan, mulai dari tata kelola dokumen hukum berbasis digital, penyusunan metadata hukum sesuai standar nasional, hingga strategi peningkatan keterjangkauan informasi hukum bagi sivitas akademika dan masyarakat umum.

“Untidar merasa sangat terhormat mendapatkan kunjungan dari JDIH UNNES. Semoga pertemuan ini bisa memperkuat sinergi dan meningkatkan kualitas layanan JDIH di masing-masing institusi,” ujar Ketua JDIH Untidar dalam sambutannya.

Diharapkan kunjungan ini dapat mempererat jejaring kerja sama antar perguruan tinggi dalam pengembangan JDIH serta memperkuat peran JDIH sebagai pusat informasi hukum yang transparan, akuntabel, dan efektif.

Penulis : Yogi Prayogo, Tim JDIH Untidar

Kemdiktisaintek Pacu Andil Kampus untuk Wujudkan Ketahanan dan Keberlanjutan Lingkungan

Jakarta-Perubahan iklim, urbanisasi tanpa kendali, serta eksploitasi sumber daya alam secara masif terus menekan kualitas lingkungan hidup Indonesia. Di tengah tantangan tersebut, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat inovasi, edukasi, dan pembentukan karakter bangsa dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan nilai moral.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan mendorong perguruan tinggi untuk ikut serta berperan aktif dalam mengatasi persoalan lingkungan di daerah masing-masing. Hal itu disampaikannya dalam Forum Rektor Perguruan Tinggi 2025: Kolaborasi Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pada Senin (28/07). Forum yang diikuti oleh 41 pimpinan perguruan tinggi dari seluruh wilayah Indonesia tersebut bertujuan memperkuat kolaborasi kampus dalam mendukung kebijakan lingkungan nasional.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), emisi gas rumah kaca Indonesia pada tahun 2022 mencapai 1,8 miliar ton CO?e CO?e (karbon dioksida ekuivalen), meningkat dari tahun 2020. Produksi sampah nasional pada tahun 2023 tercatat sebesar 56,63 juta ton, namun hanya 39 persen yang berhasil terkelola. Sementara itu, lebih dari 150 kabupaten/kota masih mencatatkan nilai Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) di bawah angka 65. Ketimpangan ini menandakan lemahnya daya dukung dan daya tampung lingkungan di berbagai daerah.

“Melalui Program Diktisaintek Berdampak yang digagas Pak Menteri Brian Yuliarto, kami berupaya mendorong kampus untuk ikut serta mengonsep dirinya menjadi bagian entitas sosial di mana tingkat kepedulian terhadap lingkungannya tinggi,” tegas Wamen Fauzan.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan hanya mungkin tercapai melalui kontribusi sains yang kuat. Peran kampus sangat krusial dalam validasi dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), pengembangan teknologi pengelolaan sampah, penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), hingga edukasi lintas disiplin tentang keberlanjutan.

Data KLH/BPLH menunjukkan bahwa 12 persen permohonan izin lingkungan pada 2023 ditolak karena tidak memenuhi syarat daya dukung. Di sinilah perguruan tinggi dapat berkontribusi secara konkret melalui pemodelan spesial, pelatihan tenaga teknis daerah, hingga penyusunan dokumen pembangunan berbasis lingkungan.

Upaya ini sejalan dengan arah Presiden Prabowo Subianto melalui visi besar Asta Cita, Program hasil Terbaik Cepat (PHTC), dan Program Prioritas yang menempatkan pembangunan berkelanjutan dan ketahanan lingkungan sebagai pilar penting transformasi bangsa. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto juga telah menekankan pentingnya memperluas kolaborasi ilmiah lintas sektor melalui Diktisaintek Berdampak untuk mempercepat hasil riset yang dapat langsung diterapkan masyarakat dan industri, termasuk dalam isu lingkungan.

Oleh karena itu, Wamen Fauzan mengajak seluruh perguruan tinggi untuk terus membuka diri sebagai entitas sosial yang menjunjung tinggi nilai luhur bangsa dan memperkuat peran sebagai pelindung moralitas publik. Kolaborasi lintas kementerian dan lembaga akan terus diperluas, termasuk dalam rangkaian Hari Teknologi Nasional (Hakteknas) mendatang sebagai bentuk nyata dari komitmen kampus berdampak yang mendorong pembangunan berkelanjutan.

“Mari kita kawal lingkungan hidup dengan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan hanya dari yang kasat mata, tetapi juga dari nilai-nilai moral yang membentuk bangsa,” tutup Wamen Fauzan.

Wisuda Periode Ke-70: Lulusan Untidar Harus Berani Mlaku Sendiri Meskipun Timik-Timik

Universitas Tidar menyelenggarakan Wisuda Magister, Sarjana, Sarjana Terapan dan Ahli Madya Periode ke-70 Tahun 2025, Sabtu (26/7) di Gedung dr. H. R. Suparsono, Jalan Kapten Suparman no. 39, Magelang.

Pada wisuda periode ini, sebanyak 517 lulusan dari jenjang Magister, Sarjana, Sarjana Terapan dan Ahli Madya akan dikukuhkan secara resmi. Wisudawan terdiri dari 20 program studi dan 5 Fakultas yaitu Fakultas Ekonomi, Fakultas Pertanian, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Dalam sambutannya inspiratifnya, Rektor Untidar, Prof. Dr. Sugiarto, M.Si. menyampaikan pesan kepada wisudawan yang diambil dari dari sebuah Tembang Jawa.

Dondong opo salak, duku cilik-cilik. Gendong opo pundak, mlaku timik-timik. Tembang sederhana tapi penuh makna. Mulai kini, jangan bergantung pada pundak orang tua, harus berani melangkah sendiri meskipun pelan. Kemandirian ditekankan dari sekarang.” Ujarnya.

Lebih lanjut, beliau menegaskan pentingnya keberanian dan daya saing:

“Dirubah – Dondong opo salak, aku milih strawberi. Pilih andong opo becak, aku pilih numpak Ferrari. Jangan terus mlaku timik-timik, ada saatnya kita harus berlari. Kita harus berani berlari lebih kencang dari lainnya. Tapi, keberanian itu jangan sampai membuat kita meninggalkan akar budaya. Hormati guru, baktikan diri kepada orang tua,” tambahnya.

Pidato tersebut mendapat sambutan hangat dari seluruh hadirin karena sarat nilai moral, budaya, dan semangat kemandirian.

Rektor memberikan penghargaan khusus untuk 10 wisudawan berprestasi yaitu 5 Wisudawan Berprestasi Akademik yaitu wisudawan dengan nilai akademik terbaik dimasing-masing Fakultas dan 5 Wisudawan Berprestasi Non Akademik berdasarkan seleksi dari bagian Kemahasiswaan (BAKK) Untidar.

Pada wisuda kali ini, terdapat 1 wisudawan yang mendapatkan IPK sempurna 4,00 dan menjadi Wisudawan Terbaik yaitu Amar Ma’ruf dari S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Amar menyelesaikan kuliah Magisternya dalam 1 Tahun 9 Bulan 30 Hari.

Sedangkan Sambutan Wisudawan diwakili oleh Wisudawan Berprestasi Ayu Alifia Widianingrum yang juga meraih IPK nyaris sempurna yaitu 3,99 dari S1 Pendidikan Matematika, FKIP, Untidar. Putra pertama Alm. Bapak Nanang Supriyanto asal Sanggrahan, Wates, Kota Magelang. Ayu menyelesaikan kuliah Sarjana-nya pada 3 Tahun 9 Bulan 27 Hari.

“Menjadi seorang sarjana adalah wujud nyata dari mimpi yang berulang kali diuji oleh waktu, lelah, dan harapan. Lahir dari keluarga yang sederhana, orang tua yang tak pernah merasakan bangku kuliah, diragukan, disepelekan sana-sini, dipertanyakan apakah bisa mengantar anaknya menjadi seorang sarjana?,” tutur Ayu.

Namun, jerih payah orang tuanya terbayar. Khususnya Ibu Santi telah bekerja keras mencari nafkah untuk putrinya setelah Ayah Ayu meninggal di tahun 2017. Selain ibu, adiknya Putri juga menjadi semangat untuk lulus kuliah tepat waktu.

“Terima kasih juga untuk adik saya Putri yang menjadi salah satu semangat saya untuk cepat-cepat lulus agar bisa membiayai pendidikannya,” pungkasnya.

Pada Wisuda Periode ke-70 ini sebanyak 331 dari 517 wisudawan lulus dengan Predikat Cumlaude. Rektor juga menyampaikan kebanggaanya bahwa jumlah wisudawan dari Luar Jawa semakin bertambah yaitu Kalimatan Timur sejumlah 1 wisudawan; Kepulauan Bangka Belitung sejumlah 2 wisudawan; Riau sejumlah 1 wisudawan; Sumatera Selatan sejumlah 2 wisudawan dan Sumatera Utara sejumlah 4 wisudawan. Harapannya jumlah ini bertambah seiring dengan Peminat Penerimaan Mahasiswa baru (PMB) Tahun 2025 juga bertambah.

Penulis dan Editor : Humas Untidar

Jelang Wisuda, 517 Mahasiswa UNTIDAR Dapat Pembekalan Karier

Unit Pelaksana Akademik Pengembangan Karier dan Kewirausahaan (UPA PKK) menyelenggarakan Seminar Pembekalan Calon Wisudawan Universitas Tidar periode ke-70 bertajuk “From Campus to Career: Mengubah Mindset dan Skill untuk Bersaing di Dunia Karier“, Jum’at (25/7) di GKU dr. H. R. Suparsono.

Kepala Bagian Akademik, Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerjasama (BAKK) Wahyu Andrianto, S.A.P. menyampaikan pentingnya kegiatan pembekalan ini sebagai bentuk evaluasi dan refleksi terhadap keberhasilan Untidar dalam mencetak lulusan yang siap bekerja, berwirausaha, dan melanjutkan studi.

“Untidar kini semakin diperhitungkan di tingkat regional hingga nasional. Melalui pembekalan ini, mahasiswa dapat mengetahui arah karier dan terus terhubung dengan universitas melalui tracer study,” ujarnya.

Seminar menghadirkan Ummu Ulfah Hanifah, S.IP., M.A. sebagai narasumber utama. Beliau mengajak peserta untuk mengubah pola pikir dari kehidupan kampus ke dunia profesional serta menyadari pentingnya pengembangan keterampilan secara mandiri.

“Kunci utama memasuki dunia kerja adalah inisiatif. Mahasiswa perlu mengenali potensi diri dan aktif meningkatkan skill melalui pelatihan, sertifikasi, bahkan refleksi diri,” jelas Ummu.

Materi disampaikan dengan pendekatan yang inspiratif dan reflektif, termasuk sesi meditasi membayangkan masa depan, di mana peserta diajak merenungi rencana jangka panjang setelah wisuda.

Salah satu peserta, Dewi, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, mengungkapkan bahwa pembekalan ini membuatnya lebih memahami arah karier dan strategi yang bisa diambil ke depan.

“Saya jadi tahu pentingnya persiapan TOEFL untuk lanjut studi dan bagaimana cara membangun CV berdasarkan skill yang saya miliki,” ujarnya.

Pembekalan ini juga menjadi momen penguatan koneksi alumni dengan almamater. Dosen Ilmu Komunikasi sekaligus tim karier Untidar, Lintang Citra Kristiani, berharap calon wisudawan yang hadir dapat mengisi tracer study secara aktif dan siap menghadapi persaingan dunia kerja yang lebih luas.

“Harapannya setelah lulus nanti, para alumni bisa bersaing secara profesional, tidak hanya di lingkup akademik kampus tapi di dunia nyata yang penuh tantangan,” tuturnya.

 Dalam kesempatan ini,  PIC Tracer Study, Tri Agus Gunawan, S.H., M.H., turut menjelaskan pentingnya tracer study sebagai alat pengumpulan data alumni untuk mengetahui perkembangan karier mahasiswa pascakelulusan. Maka itu diharapkan calon wisudawan mengisi SILUNI sistem yang dibuat khusus sebagai database alumni Untidar.

 

Penulis: Gita Rakhmawati

Editor : Humas Untidar

Delapan Tim PPK Ormawa Untidar Jalankan Misi Pemberdayaan di Kabupaten Magelang

Universitas Tidar melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan desa. Kegiatan dimulai dengan penandatanganan kerjasama serta penyambutan tim PPK Ormawa yang lolos pendanaan.

Penandatanganan kerjasama dilakukan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Parmin, S.Pd., M.Pd.  dengan masing-masing Kepala Desa lokasi pelaksanaan PPK Ormawa Untidar, Rabu (23/7) di Gedung Kuliah Umum dr. HR Suparsono.

“Kegiatan hari ini merupakan kelanjutan dari dua minggu lalu ketika Pak Rektor bersama saya menyerahkan lima titik program ini secara resmi kepada Pak Bupati. Kami berbincang selama hampir satu jam, dan beliau sangat mendukung,” ujar Prof. Parmin dalam sambutannya.

Kegiatan ini akan dilaksanakan selama lebih dari satu tahun, dimulai pada Juli 2025 hingga Oktober 2026. Tahun 2025 ini, delapan tim PPK Ormawa UNTIDAR berhasil lolos pendanaan, terdiri atas enam tim yang didanai oleh Direktorat Belmawa Kemendikbud Ristek dan dua tim dengan dukungan dana internal universitas.

Selain menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat, program ini juga diharapkan juga mendapatkan berbagai penghargaan tingkat nasional. Tahun lalu, salah satu desa binaan Untidar, yakni Desa Gandusari, Kecamatan Bandongan, berhasil mendapatkan berbagai penghargaan tingkat nasional, mulai dari tim mahasiswa terbaik hingga Kepala Desa inspiratif.

“Gandusari itu jadi ikon tahun lalu. Tim PPK Ormawanya juara 1 nasional, dosen pendampingnya juara 2, dan Pak Kadesnya juara 3 nasional,” tambahnya.

Beliau berharap, 8 desa yang terlibat tahun ini bisa mengikuti jejak Gandusari, bahkan melampaui capaian yang sudah diraih. Terlebih, tahun ini Kementerian akan memilih 12 Kepala Desa terbaik se-Indonesia dari ratusan yang tergabung dalam program PPK Ormawa.

“Kami tahu Pak Kades-kades ini tidak mengejar penghargaan. Tapi kalau dukungannya total, memfasilitasi adik-adik mahasiswa secara maksimal, peluang itu pasti terbuka,” katanya optimistis.

Turut hadir dalam kegiatan ini, Kepala Desa Gandusari, Kecamatan Bandongan, Bapak Mustofa Kamal, yang pada tahun 2024 lalu menjadi salah satu pemenang Anugerah Abdidaya, Juara 3 Mitra Paling Partisipatif.

Dalam sesi testimoni, Mustofa membagikan pengalaman positifnya dalam berkolaborasi dengan mahasiswa UNTIDAR serta manfaat nyata yang dirasakan masyarakat dari program pemberdayaan yang dijalankan.

Kepala Desa Gandusari, Pak Mustafa, menyampaikan bahwa sejak hadirnya program PPK Ormawa Pelita, desanya mengalami banyak perubahan positif, khususnya dalam bidang pertanian.

“Alhamdulillah, sejak adanya program PPK Ormawa Pelita di desa kami, Desa Gandusari mengalami banyak perubahan positif. Program ini benar-benar memberi dampak nyata bagi masyarakat, terutama dalam hal pertanian. Sekarang, tanaman kopi yang dulu baru ditanam, alhamdulillah sudah mulai berbuah. Bahkan produk kopinya sudah bisa dibeli! Ini jadi kebanggaan tersendiri bagi warga Gandusari,” ujarnya.

Ia juga berharap kerjasama antara kampus dan desa seperti ini bisa terus berlanjut.

“Karena saya yakin, kalau desa dan kampus berjalan bersama, desa-desa seperti Gandusari bisa makin mandiri dan sejahtera,” tutupnya.

Untidar berharap, melalui program ini, mahasiswa dapat mengembangkan keterampilan kepemimpinan dan kolaborasi lintas sektor, sekaligus memberikan kontribusi langsung bagi kemajuan desa-desa mitra.

Program PPK Ormawa Universitas Tidar (UNTIDAR) tahun 2024 dilaksanakan di delapan desa di Kabupaten Magelang, meliputi Desa Gondangsari di Kecamatan Pakis, Desa Giripurno di Kecamatan Borobudur, Desa Blondo di Kecamatan Mungkid, serta Desa Karangkajen yang berada di Kecamatan Secang. Selain itu, program ini juga menjangkau Desa Sidorejo di Kecamatan Bandongan, Desa Balesari dan Desa Kembangkuning di Kecamatan Windusari, serta Desa Genikan yang terletak di Kecamatan Ngablak.

Setiap desa menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat oleh mahasiswa Untidar yang tergabung dalam tim PPK Ormawa, dengan fokus pada pengembangan potensi lokal, peningkatan kapasitas warga, serta sinergi dengan program pembangunan desa.

 

Penulis: Suryanti

Editor : Humas Untidar

 

CKG Jadi Syarat Registrasi Mahasiswa Baru, Untidar Gandeng Dinas Kesehatan Magelang

Universitas Tidar kembali menyelenggarakan  registrasi secara offline pada Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) pada Selasa-Kamis, 29 – 31 Juli 2025. Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, kali ini ada satu tahapan yang harus dipenuhi mahasiswa baru yaitu Cek Kesehatan Gratis.

Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kesehatan Jiwa (Keswa), Ita Maria dari Dinas Kesehatan Kota Magelang menjelaskan bahwa CKG sendiri merupakan salah satu program prioritas dari Presiden Prabowo Subianto yang bertujuan untuk melakukan deteksi dini terhadap risiko penyakit di berbagai rentang usia, mulai dari bayi hingga lansia, agar dapat ditindaklanjuti secara cepat.

“Kami sangat mengapresiasi pihak UNTIDAR yang sangat kooperatif dan fast response. Bahkan sebelum kami mengajak, mereka sudah menghubungi duluan. Ini kolaborasi yang sangat baik,” ujar Bu Ita Maria.

Cek kesehatan yang diberikan mencakup berbagai skrining seperti tekanan darah, kadar gula darah, HB,  serta screening jiwa melalui kuesioner. Semua layanan diberikan secara gratis.

Target peserta registrasi offline Untidar adalah seluruh mahasiswa baru jalur seleksi SNPB, SNBT, dan Seleksi mandiri (SMJK-MS, SMJP, SMUTBK, SMUT, serta SMODS) dengan jumlah total 4.138 mahasiswa. Sampai pelaksanaan hari terakhir terdata sebanyak 4.050 mahasiswa baru telah mengikuti kegiatan lain sedangkan sisanya akan diarahkan untuk menghubungi Helpdesk Untidar untuk arahan Registrasi offline susulan.

Rangkaian kegiatan Registrasi offline meliputi Kegiatan ini juga meliputi pengecekan oleh petugas Bank dan Asuransi, pengambilan jas almamater, foto untuk pembuatan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM), dan menjalani Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Mahasiswa baru Universitas Tidar juga sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Menurut mereka, kegiatan ini bukan hanya urusan administratif, tetapi juga menjadi ajang perkenalan awal dengan kampus, lingkungan, dan teman-teman baru.

“Kegiatan ini penting banget, soalnya kita juga jadi tahu lokasi kampus, gedung-gedungnya, dan bisa kenalan sama teman-teman sejurusan,” ungkap Nailina, mahasiswa baru dari Prodi Ilmu Komunikasi.

Mereka juga mengungkapkan kesan bahwa kegiatan cukup terkoordinasi dengan baik dan berharap bahwa kegiatan ini tetap harus berlanjut kedepannya.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memulai perjalanan akademiknya, tetapi juga dibekali dengan kesadaran akan pentingnya kesehatan sejak dini. Kegiatan ini diharapkan dapat terus berlanjut sebagai wujud nyata sinergi antara institusi pendidikan tinggi dan pemerintah daerah dalam menciptakan generasi muda yang sehat, dan siap berkontribusi untuk Indonesia.

Penulis : Aghna

Editor : Humas Untidar

Mendiktisaintek Ajak Mahasiswa Berkarakter Sukses dan Budaya Membaca

Kerinci–Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menggugah semangat kepemimpinan, pembelajaran, dan inovasi kepada 290 mahasiswa penerima beasiswa dari Tanoto Foundation yang sedang mengikuti Tanoto Scholars Gathering 2025, di Kerinci. Semangat ini dituangkan Menteri Brian dalam sesi inspirational talks secara Daring didampingi oleh perwakilan Tanoto Foundation dan 10 mahasiswa penerima beasiswa, pada Kamis, (24/07).

“Masa kuliah adalah golden time, manfaatkanlah sebaik mungkin. Disitulah adik-adik akan membangun jejaring, karakter, dan visi hidup. Ketajaman seseorang bergantung pada sebanyak apa kemampuan yang dimiliki, dan kemampuan itu bertumpu pada ketajaman analisis,” ujar Menteri Brian.

Mendiktisaintek juga meminta para mahasiswa untuk menumbuhkan budaya membaca sebagai fondasi kepemimpinan yang kuat. Menteri Brian juga mengungkap 12 Karakter Sukses  yang menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan masa depan.

“Keinginan kuat, keyakinan, sugesti diri, pengetahuan khusus, imajinasi, perencanaan terorganisir, keputusan tegas, kerja keras, tekun, gigih, kekuatan kelompok, pikiran bawah sadar, otak sebagai pemancar dan penerima, dan miliki the sixth sense dalam hal membangun intuisi baik dalam mengantisipasi kesempatan dan tantangan di bidang pendidikan, sains, dan teknologi,” ujar Menteri Brian.

Mendiktisaintek juga menghimbau mahasiswa untuk memiliki talenta yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Menteri Brian meyakini bahwa masa depan Indonesia bertumpu pada sumber daya manusia yang unggul, kolaboratif, dan berintegritas.

“Kita butuh orang-orang pintar, yang menghasilkan terobosan dan berdampak mengubah kualitas hidup masyarakat. Bukan sekadar kompeten, tapi juga relevan dan kontributif,” kata Menteri Brian.

Program beasiswa Tanoto Foundation telah lama menjadi mitra strategis Kemdiktisaintek dalam menyiapkan generasi muda yang unggul. Tidak hanya memberikan dukungan pendidikan, program ini juga membina kepemimpinan, mendorong soft skills, dan memperkuat nilai integritas.

“Kehadiran Pak Menteri memberikan wawasan, penyemangat dan sumber inspirasi bagi adik-adik mahasiswa untuk menjadi sosok yang memiliki ekosistem baik untuk berkembang, karena masa depan tidak ditulis untuk kita, tapi ditulis oleh kita” ujar Member of Board Advisors of Tanoto Foundation, Bernard Riedo.

Kolaborasi antara Kemdiktisaintek dan Tanoto Foundation juga meliputi penguatan literasi sains, dan pengembangan ekosistem kampus yang inovatif dan inklusif. Kemdiktisaintek terus mendorong terbentuknya ekosistem pendidikan tinggi yang berdampak melalui sinergi dengan berbagai mitra pembangunan, termasuk Tanoto Foundation, sebagai bagian dari upaya kolektif membangun Indonesia yang berdaya saing global. Melalui kegiatan ini dibentuk sinergi antara pemerintah dan mitra pembangunan untuk membentuk generasi pembelajar sepanjang hayat yang siap menyongsong Indonesia Emas 2045.

Penguatan Peran Dosen dan BEM dalam Program Pengabdian Masyarakat di Tanah Papua

Jayapura, Papua — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, kembali menyelenggarakan Bimbingan Teknis Peningkatan Kualitas Penulisan Proposal Pengabdian kepada Masyarakat Skema Kewilayahan dan Kewirausahaan, serta Sosialisasi Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat (18/07) di Auditorium H. Daud Syamsudin Ponto, Universitas Yapis Papua, Jayapura.

Kegiatan ini merupakan wujud komitmen Kemdiktisaintek dalam memperkuat peran strategis perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat berbasis riset dan teknologi, sekaligus menjangkau wilayah-wilayah 3T, termasuk Papua, sebagai bagian integral dari pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan.

Komitmen ini ditegaskan lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, dalam sambutannya. Ia menekankan bahwa solusi atas berbagai persoalan sosial semestinya bersumber dari kebutuhan riil masyarakat. Menurutnya, kehadiran sains dan teknologi harus dimaknai sebagai jawaban konkret atas tantangan di lapangan, serta sebagai penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan.

“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi acuan dalam merancang program-program strategis ke depan. Yang terpenting adalah memastikan bahwa ekosistem kampus, seperti dosen, mahasiswa, dan pemangku kepentingan lokal, berperan aktif sebagai aktor utama dalam merumuskan dan menyelesaikan persoalan masyarakat. Melalui penguatan kapasitas, keterampilan, dan kepemimpinan, kita berharap generasi muda mampu menempatkan masyarakat yang paling membutuhkan sebagai prioritas utama dalam pembangunan,” ungkapnya

Dirjen Fauzan juga menegaskan pentingnya membangun Indonesia berbasis sains dan teknologi sebagai fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang merata dan berkelanjutan.

Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, I Ketut Adnyana, menyampaikan bahwa keberhasilan program pengabdian ditentukan oleh kemampuan perguruan tinggi dalam merancang pendekatan yang sesuai dengan karakteristik lokal.

“Dalam pelaksanaan program ini, tantangan khas seperti hambatan geografis dan keterbatasan infrastruktur merupakan realitas yang tak terhindarkan. Karena itu, pendekatan yang digunakan harus kontekstual dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Keterlibatan aktif mahasiswa, khususnya melalui Program Mahasiswa Berdampak, menjadi kunci untuk mendorong perubahan sosial yang inklusif dan berkelanjutan di Tanah Papua,” jelasnya.

Direktur Ketut juga menekankan bahwa pemilihan Kota Jayapura sebagai lokasi kegiatan mencerminkan komitmen afirmatif pemerintah untuk membuka akses yang lebih luas bagi perguruan tinggi di kawasan timur Indonesia. Ia mendorong peningkatan kapasitas dosen dan mahasiswa dalam merancang solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus memperkuat sinergi antara kampus dan komunitas lokal sebagai bagian dari transformasi sosial.

Di tingkat wilayah, Kepala LLDIKTI Wilayah XIV, Suriel Semuel Mofu, turut mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan ini sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas sivitas akademika dalam menghadapi skema kompetitif pengabdian kepada masyarakat. Suriel menekankan bahwa kegiatan ini merupakan wadah penting untuk menumbuhkan pemahaman menyeluruh mengenai penyusunan proposal yang baik, terutama dalam skema kewilayahan dan kewirausahaan.

“Ini menjadi satu kesempatan bagi kita semua untuk belajar dan mendapatkan pencerahan tentang strategi menyusun proposal yang tepat dan memenangkan kompetisi nasional. Mahasiswa juga harus diingatkan bahwa keberadaannya di tengah masyarakat harus membawa dampak dan perubaha. Kita membawa persoalan dari masyarakat ke kampus untuk dikaji, dan hasilnya kita kembalikan ke masyarakat dalam bentuk solusi nyata,” ujarnya.

Dari sisi perguruan tinggi tuan rumah, Rektor Universitas Yapis Papua, Didik Suryamiharja S. Mabui, menekankan pentingnya keterkaitan antara ilmu dan pengabdian. Menurutnya, pengabdian masyarakat merupakan perwujudan langsung dari penerapan ilmu pengetahuan yang tidak hanya bermanfaat secara akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Ilmu tanpa amal kehilangan makna, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan. Hari ini, kita menyatukan keduanya melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Terima kasih kepada Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan atas dukungannya. Mari kita bangkit bersama untuk menjawab kebutuhan nyata dan menghadirkan solusi atas berbagai tantangan di lingkungan kampus kita masing-masing,” tuturnya.

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 150 peserta, terdiri dari dosen dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Papua. Sebanyak 39 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) turut hadir dan aktif berpartisipasi dalam sesi sosialisasi Program Mahasiswa Berdampak.

Partisipasi aktif ini menunjukkan bahwa hadirnya kegiatan di Tanah Papua bukan sekadar simbol keterlibatan, melainkan bukti nyata bahwa akses terhadap ilmu dan pengabdian harus merata hingga ke wilayah terluar Indonesia. Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur, semangat mengabdi tidak boleh padam. Justru dari tempat-tempat seperti inilah kita diingatkan bahwa pengabdian yang menyentuh akar rumput merupakan fondasi penting dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan, menuju Indonesia yang maju melalui sains, teknologi, dan kepedulian sosial.