Kemdiktisaintek Gelontorkan Rp123,9 Miliar untuk Program Riset Konsorsium, Mahasiswa Berdampak, dan Pengabdian kepada Masyarakat

Jakarta—Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) melaksanakan penandatanganan kontrak pelaksanaan Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (RIKUB), Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah dan Kewirausahaan, serta Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Batch III bersama sejumlah perwakilan perguruan tinggi, Rabu (10/9).

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memaksimalkan kualitas riset di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Ditjen Risbang telah merumuskan kebijakan agar pendanaan yang relatif terbatas tetap mampu menghasilkan penelitian yang berdampak luas.

“Ditjen Risbang telah melakukan formulasi agar riset berkualitas tetap dapat dimaksimalkan meski dengan dukungan dana yang terbatas. Saya berharap capaian yang ada dapat terus dirawat, karena saya yakin banyak penelitian unggul yang bisa kita dorong menuju hilirisasi,” tegas Menteri Brian.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai garda terdepan dalam menghadirkan solusi atas persoalan nasional, salah satunya melalui riset pengelolaan sampah.

“Jika hasil riset ini diterapkan di seluruh kampus, perguruan tinggi tidak hanya mampu mengelola sampahnya sendiri, tetapi juga berkontribusi terhadap pengelolaan lingkungan sekitar, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat,” ujar Menteri Brian.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang), Fauzan Adziman, dalam laporannya memaparkan rincian alokasi pendanaan. Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (RIKUB) memperoleh alokasi sebesar Rp45,4 miliar untuk mendanai 82 proposal. Sementara itu, Program Mahasiswa Berdampak mendapatkan dukungan pendanaan sebesar Rp30,1 miliar untuk 263 proposal.

Pada bidang pengabdian kepada masyarakat, Skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah dan Kewirausahaan dialokasikan dana sebesar Rp13,7 miliar untuk 101 judul proposal dari 67 perguruan tinggi. Selain itu,  Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Batch III memperoleh pendanaan sebesar Rp34,7 miliar yang mendukung 948 judul proposal dari 434 perguruan tinggi.

“Melalui program-program ini, kami berharap riset dan inovasi dapat berkembang secara nyata dan langsung menjawab kebutuhan masyarakat,” jelas Dirjen Fauzan.

Program RIKUB merupakan skema riset kolaboratif yang mendorong sinergi antara perguruan tinggi dengan dunia usaha dan industri (DUDI), Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/BUMD), lembaga pemerintah, hingga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Program ini dirancang untuk menjembatani “valley of death”, yaitu fase kritis ketika banyak inovasi potensial gagal mencapai tahap hilirisasi produk.

Sementara itu, Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat oleh BEM dirancang untuk memperkuat peran mahasiswa sebagai pelaku utama pembangunan sosial melalui wadah organisasi mahasiswa. Melalui kepemimpinan dan gerakan BEM, generasi muda diberi ruang strategis untuk merancang program ilmiah, memanfaatkan hasil riset sebagai dasar intervensi, serta berkontribusi langsung dalam memecahkan persoalan riil di masyarakat. Program ini tidak hanya mendorong aksi sosial, tetapi juga menumbuhkan budaya reflektif, berpikir kritis, dan kolaboratif dengan pendekatan partisipatif bersama masyarakat.

Program Pengabdian kepada Masyarakat dirancang Kemdiktisaintek untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat. Melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Batch III, program ini memberi kesempatan tambahan bagi perguruan tinggi untuk berpartisipasi lebih luas dan inklusif. Dosen dan mahasiswa didorong terlibat aktif dalam merancang serta melaksanakan solusi atas persoalan nyata di lapangan, dengan menempatkan masyarakat sebagai mitra utama dalam setiap tahap kegiatan.

Di sisi lain, Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Wilayah dan Kewirausahaan merupakan salah satu inisiatif strategis Kemdiktisaintek yang berfokus pada penguatan kapasitas masyarakat melalui dua pendekatan utama: berbasis potensi wilayah dan pengembangan kewirausahaan. Program ini dirancang untuk mendorong lahirnya solusi nyata atas permasalahan lokal, sekaligus mengoptimalkan keunggulan daerah agar memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Ditjen Risbang, I Ketut Adnyana, menyampaikan ucapan selamat sekaligus apresiasi kepada para penerima bantuan operasional yang hadir dalam acara penandatanganan kontrak. Ia menegaskan bahwa Kemdiktisaintek siap memberikan bimbingan teknis apabila diperlukan guna mendukung kelancaran pelaksanaan program.

“Kami memiliki dua harapan untuk skema-skema ini: pertama, dampak yang nyata bagi penerima bantuan maupun masyarakat sasaran; kedua, terjalinnya kolaborasi yang sehat, bukan kompetisi,” pungkas Direktur Ketut.

Melalui berbagai skema pendanaan tersebut, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem riset dan pengabdian yang berkelanjutan. Sinergi antara perguruan tinggi, mahasiswa, industri, dan masyarakat diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar memberi manfaat nyata bagi pembangunan bangsa.

Ditjen Risbang Selenggarakan Pelatihan Penulisan Paten 2025 untuk Perkuat Inovasi Perguruan Tinggi

Surakarta — Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, menyelenggarakan Pelatihan Penulisan Deskripsi Permohonan Paten (PDPP) Tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung pada 2–4 September 2025 di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan diikuti oleh 50 dosen serta peneliti dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah dan sekitarnya.

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas peneliti dan dosen dalam menyusun dokumen deskripsi permohonan paten sesuai ketentuan yang berlaku. Upaya ini merupakan bagian dari strategi Ditjen Risbang untuk mempercepat hilirisasi hasil riset agar dapat dimanfaatkan secara luas oleh industri dan masyarakat.

Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Ditjen Risbang Yos Sunitiyoso, menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam mendorong pemanfaatan hasil riset.

“Kegiatan ini bisa mempercepat hilirisasi riset, dan kami berharap para peserta dapat segera mengajukan permohonan paten ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta, Harun Joko Prayitno, menyampaikan apresiasinya atas kepercayaan Ditjen Risbang menjadikan UMS sebagai mitra penyelenggara.

“Kegiatan ini tidak hanya berhenti di sini, tetapi kami siap mendampingi dan membimbing para peserta sampai benar-benar mampu mendaftarkan produk kekayaan intelektualnya. UMS berkomitmen mendukung percepatan hilirisasi hasil riset melalui peningkatan kualitas penulisan paten dan pemanfaatannya untuk masyarakat,” ungkapnya.

Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi tentang teknik penulisan dokumen paten, penelusuran kebaruan invensi, dan praktik penyusunan deskripsi permohonan paten. Para narasumber yang dihadirkan merupakan praktisi dan akademisi berpengalaman di bidang kekayaan intelektual.

Salah satu peserta, Tri Hannato Saputra dari Politeknik ATMI Solo, menyampaikan manfaat yang diperoleh dari pelatihan ini.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami, khususnya dosen politeknik, karena kami terbiasa melakukan riset dengan output berupa produk. Melalui pelatihan ini, kami mendapatkan nilai tambah karena kini dapat mendaftarkan paten untuk produk yang telah kami hasilkan,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Ditjen Risbang berharap dapat meningkatkan kualitas penulisan paten di perguruan tinggi, memperkuat hilirisasi hasil riset, dan membangun ekosistem inovasi nasional yang inklusif, kolaboratif, dan berdampak bagi masyarakat.

Mendiktisaintek Dorong Guru Besar Perkuat Inovasi Kampus, Hadirkan Solusi Strategis Nasional

Jakarta-Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menerima audiensi Ketua Dewan Profesor (DP) sejumlah Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN BH) di Indonesia. Audiensi ini dihadiri oleh Marlina (Ketua DP Universitas Andalas),  Arlette Suzy Puspa Pertiwi (Ketua DP Universitas Padjadjaran), Evy Damayanthi (Ketua DP Institut Pertanian Bogor), serta Eko K. Budiardjo (Wakil Ketua DP Universitas Indonesia), Rabu (27/8).

Dalam pertemuan tersebut, Mendiktisaintek menekankan pentingnya menjaga integritas akademik dan mengajak guru besar berperan lebih aktif untuk hadirkan solusi bagi bangsa.

Selain itu, Menteri Brian juga mendorong peningkatan kualitas publikasi ilmiah Indonesia agar sejajar dengan negara lain. Keterlibatan diaspora akademisi Indonesia di luar negeri diharapkan dapat memperkuat peran jurnal nasional melalui kontribusi sebagai editor maupun reviewer.

Menteri Brian menyoroti pentingnya aksi nyata dari perguruan tinggi dalam mendorong solusi strategis nasional, seperti dalam hal pengelolaan sampah di kampus dan kemandirian PTNBH melalui inovasi, paten, serta royalti.

“Kalau teori-teori tentang pengelolaan sampah mungkin sudah banyak, tapi yang kita butuhkan adalah bukti nyata pengelolaan dan solusinya,” tutur Menteri Brian.

Evy menuturkan bahwa perguruan tinggi bukan hanya sebagai pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai benteng nilai-nilai moral dan akademik.

“Itu muruah perguruan tinggi untuk menjaga etika, integritas akademik, dan mencegah plagiarisme,” kata Evy.

Pertemuan ini menjadi langkah awal memperkuat sinergi antara pemerintah dan Dewan Profesor dalam menjaga muruah akademik. Melalui kolaborasi yang erat, diharapkan perguruan tinggi tidak hanya melahirkan karya riset berkualitas dan inovasi nyata, tetapi juga terus menjadi penjaga etika serta integritas akademik bagi pembangunan bangsa.

Penguatan Ekosistem Jurnal Ilmiah: Universitas Tidar Laksanakan Pendampingan bagi Pengelola Jurnal di Kedu Raya

Pengelolaan jurnal ilmiah kini menjadi prioritas utama dalam memperkuat publikasi ilmiah dosen. Perguruan tinggi dengan banyak jurnal terakreditasi nasional dan internasional berpotensi besar dalam mendukung pengembangan karier akademik dosen dan tenaga kependidikan. Namun, masih banyak pengelola jurnal yang menghadapi tantangan dalam menerapkan tata kelola yang berkualitas, di mana jurnal yang baik harus memiliki manajemen yang sehat serta substansi artikel yang sesuai dengan kaidah ilmiah.

 

Universitas Tidar, melalui tim pengabdian masyarakat yang dipimpin oleh Prof. Dr. Parmin, M.Pd., yang juga sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, memberikan dukungan kepada pengelola jurnal ilmiah di perguruan tinggi se-Kedu Raya. Kegiatan pendampingan perdana ini dilaksanakan di Gedung Multimedia Kampus Untidar, Rabu (27/8). Para pengelola jurnal berkumpul untuk mendapatkan informasi penting mengenai kebijakan akreditasi. Rangkaian acara mencakup pembahasan mendalam mengenai instrumen penilaian akreditasi serta pendampingan langsung bagi jurnal yang akan diajukan untuk akreditasi atau akreditasi ulang.

 

Agista Sintia Dewi Adila, M.Pd., Koordinator Prodi Pendidikan IPA FKIP Untidar sekaligus anggota tim pengabdi menjelaskan bahwa dukungan dana dari LPPM Untidar memungkinkan  pelaksanaan program pendampingan ini. “Tentu ini akan berlanjut secara berkesinambungan, dengan monitoring hingga pendampingan terhadap tingkat keberhasilan jurnal dapat terbit di Sinta,” imbuhnya. 

 

Kegiatan ini dihadiri oleh pengelola jurnal dari 16 perguruan tinggi di wilayah Kedu Raya, di antaranya: Universitas Tidar, Akademi Keperawatan Karya Bhakti Nusantara Magelang, Akademi Kesehatan Soedjono Magelang, Akper Alkautsar Temanggung, IAI An-Nawawi Purworejo, IAINU Kebumen, INISNU Temanggung, Institut Teknologi Bisnis dan Kesehatan Bhakti Putra Bangsa Indonesia, Politeknik Muhammadiyah Magelang, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Rajawali Purworejo, STAI Syubbanul Wathon, Stikes Bethesda Yakkum Kampus Temanggung, STMIK Bina Patria, Universitas Muhammadiyah Gombong, Akatirta, dan Universitas Muhammadiyah Magelang.

Prof. Parmin menyebutkan pengabdian ini menjadi wujud nyata dari komitmen Untidar bersama dengan perguruan tinggi se-Kedu Raya dalam mengembangkan kapasitas sumberdaya melalui penguatan ekosistem publikasi ilmiah. “Melalui kegiatan pendampingan tersebut, diharapkan mampu berdampak langsung bagi peserta yang hadir agar mampu mendesiminasikan secara lebih luas di masing-masing perguruan tinggi,” pungkasnya.



Penulis dan Editor: Humas Untidar

Wujudkan Tri Dharma, Dosen Untidar Bersama Disporapar Kota Magelang Gelar Pelatihan Bos Muda

Wujudkan Tri Dharma, Dosen Untidar Bersama Disporapar Kota Magelang Gelar Pelatihan Bos Muda

 

Wujudkan Tri Dharma, Dosen Untidar Bersama Disporapar Kota Magelang Gelar Pelatihan Bos Muda

 

Magelang – Dosen Universitas Tidar menunjukkan peran aktifnya dalam mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kolaborasi dengan Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Magelang, dalam Pelatihan Bos Muda Batch II yang digelar pada Selasa (26/8) di Mangkujo (Magelang Kuda & Joglo), Bandongan.

 

Kegiatan ini melibatkan 35 peserta dengan rentang umur 16 sampai dengan 29 tahun. Kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan, dilanjutkan materi kewirausahaan, pendampingan penyusunan ide bisnis, serta praktik menyusun Business Model Canvas (BMC).

 

Dosen S1 Agribisnis sekaligus Ketua Panitia, Adhi Surya Perdana, S.P., M.Sc., menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. “Sebagai dosen, kami memiliki rutinitas Tri Dharma. Kegiatan ini menjadi wujud pengabdian dengan bersinergi bersama Disporapar dan terjun langsung mendampingi pemuda Kota Magelang,” ungkapnya.

 

Sebagai trainer, Budi Hartono, S.E., M.Sc., dosen Prodi S1 Manajemen menekankan pentingnya proses dalam membangun usaha. “Membuat bisnis tidak hanya membuat bisnis langsung, tapi setidaknya mereka melakukan survei dulu, observasi, membuat ide yang berbeda, menganalisis, barulah akhirnya mendirikan bisnis tersebut,” jelasnya.

 

Dari pihak Disporapar, Yulis Hindarwati, S.Sos., menegaskan bahwa pendampingan dosen Untidar memberi nilai lebih. “Sinergi ini mendorong pemuda tidak hanya mencari kerja, tapi juga mampu menciptakan lapangan kerja,” katanya.

 

Dwi, salah satu peserta, turut menyampaikan kesan dan harapan yang positif terhadap kegiatan ini. “Kesannya seru, dan harapannya semoga tetap konsisten dan acaranya makin seru-seru.” Ungkap Dwi.

 

Melalui kegiatan ini, Untidar berharap kontribusi dosen dalam program-program serupa dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak pemuda Magelang yang tumbuh menjadi wirausahawan muda kreatif dan berdaya saing.

 

Penulis : Aghna Nur Sabrina

Kemdiktisaintek Pacu Kampus Indonesia Jadi World Class University

Jakarta-Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dorong penguatan pendidikan tinggi Indonesia, melalui penandatanganan kontrak Program Equity 2025 World Class University (WCU)/ Times Higher Education (THE) Impact Rankings dengan 23 Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN BH), Selasa (26/8).

Program ini diarahkan untuk memperluas akses pendidikan tinggi secara merata, guna meningkatkan kualitas riset dan reputasi akademik, yang bermitra dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Program ini mencakup kemitraan antara PTN BH, PTN Badan Layanan Umum (BLU), PTN Satker (Satuan Kerja), dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). 

“Kami mengapresiasi LPDP yang terus mendukung kita dengan dana abadi yang kali ini dialokasikan untuk peningkatan riset. Dengan pendanaan yang telah dialokasi untuk program ini, silakan bersinergi antara para dosen di kampus masing-masing, dorong penelitian dari riset fundamental hingga terapan, serta lakukan kolaborasi antarkampus,” ujar Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto.

Menteri Brian menekankan bahwa pemeringkatan perguruan tinggi merupakan dampak dari peningkatan kualitas kampus,serta cerminan kualitas riset Indonesia dibandingkan negara lain. Para rektor yang hadir didorong untuk saling berbagi ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi dengan pihak dalam maupun luar negeri untuk mengetahui praktik baik di bidang masing-masing. 

Program Equity 2025 merupakan tindak lanjut dari amanat Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2021,  tentang Dana Abadi di Bidang Pendidikan dalam rangka memperkuat pendidikan tinggi. Peringkat global merupakan indikator dengan tujuan akhir untuk mewujudkan keunggulan dalam pengajaran, kuat dalam riset, inovatif dalam teknologi, relevan dengan kebutuhan masyarakat, dan dapat memberikan kontribusi nyata untuk bangsa dan dunia sesuai paradigma “Diktisaintek Berdampak”. Hal ini dijelaskan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemdiktisaintek, Khairul Munadi dalam laporannya.

“Kita arahkan dana abadi pendidikan untuk percepatan dan pemerataan transformasi pendidikan tinggi. Program ini didesain agar konsisten dan berkelanjutan,” jelas Dirjen Khairul.

Senada dengan Mendiktisaintek, Dirjen Khairul juga mengapresiasi LPDP yang berkontribusi tidak hanya sebagai pengelola dana, tetapi sebagai mitra strategis Kemdiktisaintek yang memastikan pendanaan akan dikelola dengan akuntabel, transparan, dan berdampak.

Direktur Fasilitasi Riset LPDP, Ayom Widipaminto menekankan bahwa pengelolaan dana abadi perguruan tinggi merupakan instrumen penting untuk mendorong transformasi pendidikan tinggi Indonesia. Harapannya, pendanaan dari program ini bisa langsung memperkuat kapasitas riset, pengajaran, dan daya saing global 23 PTN BH penerima program Equity 2025.

“Hari ini menjadi titik awal perguruan tinggi, sebagai lokomotif perkembangan riset dan teknologi, dapat membawa Indonesia menjadi lebih baik,” ungkap Ayom.

Program Equity 2025 merupakan bentuk komitmen Kemdiktisaintek dalam memperkuat kapasitas riset, inovasi, dan daya saing perguruan tinggi nasional. Melalui program ini, pemerintah memastikan hasil penelitian dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa serta mendukung kebijakan publik secara berkelanjutan.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti, Mukhamad Najib, serta rektor dan perwakilan rektor dari 23 PTN BH yang menerima bantuan dari Program Equity 2025.

Gandeng PERMADANI Kota Magelang, Untidar Gelar Pelatihan Pembawa Acara Berbahasa Jawa Bagi Mahasiswa

Mengejawantahkan visinya sebagai Kampus Wirausaha dan Berbudaya, Untidar menggandeng DPD Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesian (Permadani) Kota Magelang, menggelar Pelatihan Pembawa Acara Berbahasa Jawa bagi Mahasiswa Untidar. Pembukaan pawiyatan (pelatihan) dilakukan di Laboratorium Rekayasa, Kampus Sidotopo, Jumat (22/08).

Hadir dalam pembukaan, Rektor Untidar, Prof. Dr. Sugiyarto, Msi., Ketua Bidang Organisasi DPP Permadani, Antonius Suparyatun, Ketua DPD Permadani Kota Magelang, Susilo Anggoro, SE., Paranpara DPP Pusat Permadani, Ir. H. Wiyoto, dan beberapa pengurus Permadani Kota Magelang.

Dalam sambutannya, Susilo Anggoro menyebutkan kegiatan ini diikuti oleh 50 mahasiswa Untidar yang dijaring melalui pendaftaran secara daring.

“Pawiyatan akan berlangsung sebanyak 11 kali pertemuan. 10 kali berisi materi, dan pertemuan kesebelas nantinya akan menjadi hari untuk menggelar karya,” imbuhnya.

Susilo menambahkan, pawiyatan yang digelar Permadani sebenarnya 46 kali pertemuan, namun untuk kelas mahasiswa dipadatkan menjadi 11 kali pertemuan.

Di kesempatan yang sama, Prof. Sugiyarto menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi manifestasi visi Untidar sekaligus menguatkan karakter lokal yang perlu dijaga kelestariannya.

“Saya berharap kegiatan pelatihan seperti ini akan dapat terus terlaksana. Tidak hanya berhenti pada bergada (angkatan) pertama ini saja. Kelak, setelah mahasiswa diharapkan kelas dosen dan tenaga pendidikan bisa menyusul,” ungkapnya.

Pembukaan pelatihan pembawa acara ini dilaksanakan keseluruhannya dikemas dalam bahasa jawa, Baik dari pembawa acara hingga sambutan-sambutannya. Bahkan seluruh pengurus Permadani hadir dalam busana jawa lengkap. Yang istimewa, dalam acara tersebut, Sus Anggoro berkesempatan menembangkan tembang Mijil Wigaringtyas laras slendro patet 9. Sementara tak kalah serunya, Prof. Sugiyarto pun membalas dengan tembang Pangkur Kala Tidar laras pelog patet 6.

Penulis dan Editor : Humas Untidar

Menuju University 4.0: Peran Dewan Pendidikan Tinggi untuk Akselerasi Diktisaintek Berdampak

Jakarta – Apa yang akan diwariskan pendidikan tinggi Indonesia menjelang usia 100 tahun kemerdekaan? Pertanyaan inilah yang menjadi pijakan utama dalam Peluncuran dan Rapat Kerja Perdana Dewan Pendidikan Tinggi (DPT) periode 2025–2029 pada Rabu (20/8). Acara yang dihadiri oleh Wamendiktisaintek, Dirjen Dikti, para rektor, tokoh pendidikan, praktisi industri, tokoh masyarakat serta para pejabat di lingkungan kementerian/lembaga, menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali arah pendidikan tinggi, sains dan teknologi untuk Asta Cita.

Melalui Keputusan Menteri Nomor 202/M/KEP/2025 dan Nomor 207/M/KEP/2025, DPT hadir sebagai langkah strategis dalam memperkuat transformasi pendidikan tinggi, sains, dan teknologi menuju University 4.0, di mana kampus tidak hanya berfokus pada pendidikan dan riset, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan bangsa.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, menekankan pentingnya pelibatan publik dalam arah kebijakan pendidikan tinggi.

“DPT menjadi wadah partisipatif yang strategis untuk memastikan keterlibatan aktif, inklusif, dan berkelanjutan dari berbagai elemen masyarakat dalam merumuskan kebijakan pendidikan tinggi nasional,” ujar Wamen Fauzan.

Berkenaan dengan hal tersebut, Mohammad Nuh, sebagai Dewan Pengarah DPT mengingatkan bahwa pendidikan tinggi harus mampu menyesuaikan diri dengan dinamika zaman serta mendorong inovasi yang relevan bagi kebutuhan masyarakat. Transformasi ini tercermin dalam evolusi Universitas 4.0 yang menghadirkan transformasi sosial-ekonomi sekaligus menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan. 

Sementara itu, Dirjen Dikti menegaskan peran DPT sebagai mitra strategis kementerian dalam mendorong terwujudnya Diktisaintek Berdampak.

“Visi kami adalah menghadirkan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi yang inklusif, adaptif, dan berdampak menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu, kami menekankan pemerataan akses, riset yang menjawab kebutuhan masyarakat, serta tata kelola yang berintegritas, Kehadiran DPT akan menjadi penguat dalam memastikan transformasi ini berjalan dengan partisipatif dan berkelanjutan,” jelas Dirjen Khairul.

Sebagai advisory board bagi Kemdiktisaintek, DPT akan mengawal peningkatan mutu, akses, relevansi, dan dampak pendidikan tinggi agar benar-benar dirasakan masyarakat. Anggota DPT dibagi ke dalam tiga komisi, yaitu Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, serta Tata Kelola, yang masing-masing berfokus pada pengembangan kebijakan sesuai bidangnya.

Paradigma Transformasi Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menegaskan bahwa perguruan tinggi harus bergerak melampaui fungsi tradisionalnya. Peningkatan akses, mutu, dan relevansi menjadi fondasi utama, sementara dampak hadir sebagai penegas bahwa seluruh upaya tersebut benar-benar dirasakan masyarakat. 

“Dengan dukungan sains dan teknologi sebagai penghasil solusi, lulusan perguruan tinggi diharapkan menjadi agen perubahan yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, pembangunan sosial-ekologis, sekaligus pencapaian SDGs,” ujar Dirjen Dikti.

“Dewan Pendidikan Tinggi, kita berharap arah pendidikan tinggi Indonesia semakin jelas, berdampak, dan mampu menjawab tantangan zaman,” pungkas Muhadjir Effendy, sebagai Dewan Pengarah DPT.

Peluncuran DPT 2025–2029 ini merupakan langkah strategis menyongsong Indonesia Emas 2045. Dari program pendidikan dokter di daerah 3T, kolaborasi kampus dengan industri, hingga kebijakan yang lebih adaptif bagi PTN dan PTS, semua diarahkan agar pendidikan tinggi Indonesia benar-benar berdampak untuk pembangunan bangsa. 

“Semarak Kemerdekaan UNTIDAR 2025” Pererat Kebersamaan Lewat Lomba dan Kreativitas

Kemeriahan peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-80 di Universitas Tidar tidak berhenti pada Upacara Bendera dan Peragaan Busana Adat Nusantara. Tim Protokol kembali melanjutkan rangkaian kegiatan bertajuk “Semarak Kemerdekaan Untidar 2025”, Selasa (19/8) di selasar Gedung Fakultas Teknik 3, Kampus Tuguran.

“Kegiatan ini selain sebagai usaha kita menyemarakkan HUT RI ke-80 sekaligus sebagai upaya kita mengimplementasikan visi dan misi Untidar.  Kegiatan ini juga bertujuan mempererat silaturahmi dan kerja sama antar unit dan Lembaga,” ujar Dr. Astuty, M.Pd., Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan dan Umum dalam Sambutannya.

Kegiatan ini melibatkan perwakilan unit-unit kerja di lingkungan Untidar, dan mencakup berbagai perlombaan yang memadukan unsur kebugaran, kreativitas, dan kekompakan. Acara dimulai dengan lomba senam sehat, dilanjutkan dengan lomba memasak dan menghias nasi goreng, serta pemilihan suporter terbaik dari masing-masing unit.

Ketua Tim Kerja Bidang Hukum, Reformasi Birokrasi, dan Protokol, sekaligus Ketua Panitia kegiatan, Yogi Prayogo, S.H., M.H., menyampaikan apresiasinya terhadap semangat dan partisipasi seluruh peserta.

“Kegiatan ini disiapkan sejak satu bulan sebelumnya, mulai dari konsep, anggaran, hingga peserta. Perlombaan ini bagian dari upaya menyemarakkan HUT RI ke-80, sekaligus mengangkat budaya dan memperkuat kebersamaan di kampus,” ungkap Yogi.

Salah satu momen menarik dalam lomba memasak adalah keberhasilan dari Tim Kerja Bidang Humas dan Kerja Sama, yakni Ginanjar Pramuditya, S.Pd., dan Masngadun Nashih, yang berhasil meraih juara pertama dalam lomba memasak dan menghias nasi goreng. Salah satu yang membuat berbeda dengan tim lain yaitu penyajian disajikan dengan telur gulung serta hiasan angsa dari tomat.

“Rasanya happy sekali, tidak menyangka. Terus berusaha, jangan menyerah, karena sekeras apapun, kita tetap juaranya,” ungkap mereka usai pengumuman pemenang.

Kedua lomba tersebut diikuti oleh 23 kontingen peserta dari berbagai bidang dan unit di Untidar. Masing-masing lomba tersebut diambil 4 juara, yakni Juara 1, Juara 2, Juara 3, dan Juara Favorit dengan Dewan juri dari Persatuan Senam untuk lomba Senam Sehat Untidar, dan Dharmawanita untuk Lomba Nasi Goreng.

Pada perlombaan Senam Sehat Untidar, Juara 1 diraih oleh Fakultas Teknik, Juara 2 oleh Biro Akademik dan Kemahasiswaan (BAKK), Juara 3 oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), serta juara Favorit yang diraih oleh Biro Perencanaan dan Keuangan (BPKU).

Sementara itu, Juara 1 Lomba Memasak dan Menghias Nasi Goreng diraih oleh Tim Humas dan Kerjasama, Juara 2 oleh Tim Unit Pengembangan Akademik (UPA) Perpustakaan, Juara 3 oleh Tim Sekretariat Rektor, serta Juara Harapan oleh Tim Hukum, Reformasi, Birokrasi, dan Protokol.

Antusiasme peserta dan dukungan dari penonton menambah kemeriahan acara. Semangat sportivitas dan kebersamaan terasa kuat, menjadikan kegiatan ini lebih dari sekadar lomba—melainkan ajang silaturahmi antarunit kerja di lingkungan UNTIDAR.

Melalui Semarak Kemerdekaan Untidar 2025, universitas berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi sarana untuk memperkuat solidaritas, menumbuhkan semangat kebangsaan, dan mempererat hubungan antaranggota sivitas akademika dalam suasana penuh kegembiraan dan nasionalisme.

Penulis : Yasmin, Aghna

Editor : Humas Untidar

38 Anggota DWP Untidar Resmi Dilantik: Siap Jalankan Program Pendidikan, Ekonomi, dan Sosial Budaya

Dharma Wanita Persatuan (DWP) Universitas Tidar resmi dilantik oleh Ketua DWP Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui zoom meeting, bertempat di Gedung Kuliah Umum (GKU) dr. H.R. Suparsono, Kampus Tuguran, Rabu (20/08). Pelantikan ini menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya DWP Untidar memiliki kepengurusan resmi di tingkat universitas dengan masa bakti 2024–2029.

Sebanyak 38 pengurus DWP Untidar mengikuti prosesi pelantikan bersama DWP dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Prosesi ini sekaligus menandai legalitas dan pengakuan resmi atas keberadaan organisasi tersebut di lingkungan Untidar.

Ketua DWP Untidar, Ibu Sri Tuwasti, menyampaikan bahwa pelantikan ini menjadi momen awal bagi pengurus untuk lebih terarah dalam menjalankan program.

“Dengan adanya pengukuhan ini, kepengurusan DWP Untidar telah sah dan resmi. Kami siap melaksanakan berbagai program yang sudah direncanakan bersama, meliputi bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial budaya,” ungkapnya.

Program DWP Untidar nantinya mencakup kegiatan di bidang pendidikan seperti bantuan untuk putra-putri yatim/piatu pegawai Untidar serta seminar parenting. Di bidang ekonomi, DWP berencana mengadakan bazar bulanan dengan produk dari anggota. Sementara bidang sosial budaya diisi dengan kegiatan santunan anak yatim, nasi Jumat berkah di Masjid Kampus Sidotopo dan Tuguran, serta kegiatan seni seperti hadroh, paduan suara, dan karawitan.

Ibu Sri Tuwasti menegaskan pentingnya sinergi seluruh pengurus dalam menjalankan program.

“Saya sangat berharap kita semua dapat menjalin kerjasama, saling mendukung, dan melaksanakan program yang telah direncanakan bersama agar DWP Untidar benar-benar mampu memberikan manfaat nyata. Tidak hanya bagi anggota dan keluarganya, tetapi juga bagi masyarakat sekitar serta mendukung tujuan pembangunan bangsa menuju kesejahteraan dan pendidikan yang berkeadilan,” tutupnya.

Penulis : Aghna Nur Shabrina