Menuju Rangkaian Abdidaya Ormawa 2025: Merawat Ingat Para Penggerak untuk Berdampak

Lebih dari 2.500 Mahasiswa yang tergabung dalam 295 tim penerima pendanaan PPK Ormawa (Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan)  mengikuti Sosialisasi Abdidaya Ormawa 2025 pada Selasa (30/9). Kegiatan ini bertujuan untuk menyamakan langkah, memperkuat pemahaman mekanisme penilaian, serta mendorong semangat pemberdayaan masyarakat melalui Ormawa.

Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Ditjen. Dikti, Beny Bandanadjaja, mengawali sambutannya dengan menegaskan kembali hakikat kampus berdampak. 

“Paradigma kampus berdampak tidak dimaksudkan untuk mendorong kampus sebagai menara gading akademik, tetapi sebagai lokomotif perubahan sosial ekonomi dan lingkungan,” ujar Beny Bandanadjaja.

Ia melanjutkan Ormawa sebagai subjek utama pemberdayaan, harus fokus pada pemecahan masalah di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan. Sekaligus menciptakan dampak berkelanjutan di desa mitra.

Anugerah Abdidaya Ormawa 2025 hadir sebagai puncak apresiasi bagi pihak yang berpengaruh dalam PPK Ormawa. Abdidaya Ormawa menghargai kinerja terbaik, inovasi dan dampak nyata dari program. Rangkaian pelaksanaan Abdidaya Ormawa yang meliputi pembukaan, expo, semiloka, sarasehan hingga penutupan, akan digelar Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur. 

Mekanisme Anugerah Abdidaya Ormawa 2025 dilakukan melalui penilaian logbook (20%) dan PKP Nasional PPK Ormawa (80%), verifikasi lapangan (luring/daring), serta penilaian poster, video, dan stand expo. Prosesnya melingkupi analisis capaian tim, evaluasi internal, seleksi karya terbaik, hingga visitasi untuk memastikan kelayakan. Rangkaian penilaian ini menghasilkan skor akhir yang nantinya menjadi dasar penetapan peraih penghargaan di setiap kategori. Terdapat 8 kategori dengan total 176 penghargaan yang akan dianugerahkan.

Direktur Belmawa, Beny Bandanadjaja juga membagikan kiat-kiat penting untuk memperoleh Anugerah Abdidaya Ormawa 2025. Pertama, akuntabilitas dan administrasi yang ditandai dengan mengisi logbook secara rutin dan akurat, yang kedua kualitas capaian program terdiri atas kefokusan pada tujuan, luaran program, penggunaan dana yang proporsional dan keberlanjutan program di desa mitra, dan ketiga adalah dukungan perguruan tinggi. 

Dalam Sosialisasi Abdidaya Ormawa 2025, serangkaian materi tentang Urgensi Abdidaya Ormawa 2025 sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Pelaksanaan dan Hasil PPK Ormawa 2025 dibagikan para pemateri sebagai bekal para peserta dalam menjalani program. Dari sisi motivasi, salah satu pemateri, Illah Sailah mengajak para peserta untuk berpegang kepada 3 poin yaitu: “Bangun dampak positif, ukir prestasi, persembahkan untuk negeri,” jelas Illah. 

Dalam materinya dari sisi keberlanjutan, salah satu Tim Pengembang PPK Ormawa 2025, Tipri Rose Kartika turut menambahkan pesan, “Dampak itu tidak hanya diukur dari pada periode program, tapi juga sejauh mana program ini dapat diteruskan masyarakat secara mandiri,” tegasnya. 

Sosialisasi Abdidaya Ormawa melimpahkan pembekalan sekaligus motivasi berkarya bagi para katalisator perubahan. Anugerah Abdidaya Ormawa 2025 dapat menjadi stimulus produktivitas, mendorong mahasiswa menjadi motor penggerak pembangunan desa serta mendukung pemerataan kemajuan bangsa.

 
 
Untidar Canangkan Penerbitan Buku Gunung Tidar sebagai Upaya Pelestarian Budaya dan Lingkungan

Untidar Canangkan Penerbitan Buku Gunung Tidar sebagai Upaya Pelestarian Budaya dan Lingkungan

Untidar Canangkan Penerbitan Buku Gunung Tidar sebagai Upaya Pelestarian Budaya dan Lingkungan

Magelang – Universitas Tidar melalui dukungan pimpinan, dosen, serta kolaborasi lintas lembaga secara resmi mengumumkan rencana penerbitan buku tentang Gunung Tidar. Agenda monumental ini ditandai dengan penanaman ‘Pohon Pancasila’ oleh Rektor Untidar, Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si. di kawasan Gunung Tidar, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila (01/10/2025). Simbol ini dipilih untuk menegaskan komitmen Untidar dalam merawat warisan budaya, spiritual, dan lingkungan hidup Gunung Tidar.

penanaman Pohon pancasila oleh Prof Sugiyarto

Gunung Tidar sejak lama dikenal sebagai ikon Kota Magelang. Bukan hanya landmark geografis yang menjulang di tengah kota, tetapi juga pusat spiritual, kultural, dan simbol kepemimpinan bangsa. Dalam tradisi Jawa, Gunung Tidar disebut sebagai ‘Pakuning Tanah Jawa’, poros penyeimbang tanah Jawa yang menyatukan harmoni alam dan manusia. Menyadari posisi strategis Gunung Tidar, Universitas Tidar merasa memiliki tanggung jawab akademik dan moral untuk mendokumentasikan kekayaan ini dalam bentuk karya ilmiah.

“Beberapa waktu lalu, para dosen Untidar berkumpul dan sepakat untuk menulis serial buku tentang Gunung Tidar. Hal ini berangkat dari kepedulian kami, yang menjadikan Gunung Tidar sebagai objek riset.” Prof. Sugiyarto.

Penerbitan buku tentang Gunung Tidar ini tidak sekadar sebagai proyek akademik, melainkan juga gerakan pelestarian warisan ilmu pengetahuan, budaya, dan nilai-nilai luhur kepemimpinan. Buku ini akan ditulis secara multidisiplin, melibatkan dosen-dosen dari berbagai bidang ilmu. Masih menurut Prof. Sugiyarto, langkah ini sejalan dengan tridharma perguruan tinggi bahkan mencakup misi catur dharma yang dikembangkan Untidar.

“Penerbitan buku Gunung Tidar bukan sekadar dokumentasi, tetapi bagian dari pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Bahkan kami kaitkan dengan pengembangan kewirausahaan berbasis kebudayaan, sesuai dengan visi Untidar yang unggul, inovatif, dan berdaya saing,” tegasnya.

Selain itu, Untidar juga sudah melakukan rapat koordinasi dengan Disporapir Kota Magelang dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk memastikan langkah penerbitan buku ini sejalan dengan agenda pelestarian lingkungan, pengembangan kebudayaan, serta pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

Dari sisi akademik, buku ini diharapkan menjadi referensi utama tentang Gunung Tidar yang dapat digunakan oleh mahasiswa, peneliti, dan masyarakat luas. Dari sisi sosial-budaya, penerbitan buku ini akan mendokumentasikan berbagai nilai luhur, tradisi, dan kisah spiritual yang berkembang di masyarakat Magelang. Dan dari sisi ekonomi, Untidar melihat peluang besar dalam pengembangan kewirausahaan berbasis kebudayaan.

“Gunung Tidar dikenal sebagai ‘Pakuning Tanah Jawa’ sekaligus kawah candradimuka bagi pemimpin. Nilai-nilai seperti ‘Sopo, Salah, Seleh’ mengajarkan integritas, kejujuran, dan kerendahan hati yang wajib dimiliki seorang pemimpin.” tambah Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si.

Dengan kolaborasi yang luas, Gunung Tidar tidak hanya dilihat sebagai objek wisata atau lokasi geografis, melainkan juga sebagai pusat pengetahuan, inspirasi, dan pembangunan berkelanjutan. Buku Gunung Tidar diharapkan dapat menjadi rujukan akademik, warisan budaya, dan inspirasi kepemimpinan yang berkelanjutan.

 

Penulis : Suryanti

Editor: Humas Untidar

Universitas Tidar Kukuhkan 132 Guru Profesional Baru Lewat PPG Gelombang II

Magelang – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tidar menyelenggarakan upacara pengukuhan Guru Profesional Pendidikan Profesi Guru (PPG) Gelombang II bagi 132 mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Selasa (30/9). Kegiatan ini diselenggarakan secara daring dan luring di Gedung Kuliah Umum (GKU) dr. H.R. Suparsono, Kampus Tuguran. Upacara pengukuhan secara luring dihadiri oleh 127 mahasiswa, terdiri atas 19 mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), 22 mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), dan 91 mahasiswa program studi Pendidikan IPA (PIPA). Sedang 5 mahasiswa lainnya melaksanakan pengukuhan via daring.

Prosesi pengukuhan secara simbolis dilakukan oleh Rektor Untidar, prof. Dr. Sugiyarto, M.Si., Dekan FKIP, Dr. Ahmad Muhlisin S.Pd., M.Pd., Wakil Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Dr. Siswanto, S.Pd., M.Pd., dan Koordinator PPG, Prof. Dr. A. Sri Haryati, M.Pd. Mahasiswa terjauh tercatat berasal dari Makassar, yaitu Dyah Sekar Pratiwi, S.Pd., Gr., dari program studi IPA, dan mahasiswa termuda berusia 23 tahun, yaitu Putri Yulianti, S.Pd., Gr., dari program studi IPA.

Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan bahwa pengukuhan guru profesional ini merupakan tonggak penting dalam perjalanan para lulusan PPG. “Guru adalah profesi mulia, tidak boleh merasa rendah diri. Justru dari tangan guru lahir generasi bangsa yang cerdas, berakhlak, dan berdaya saing. Saya berharap para guru yang dikukuhkan hari ini mampu menjaga integritas, terus belajar, dan memberikan teladan terbaik bagi peserta didiknya,” ujarnya.

Sebagai penutup, Prof. Sugiyarto juga menyampaikan pesan inspiratif melalui sebuah tembang Jawa. “Kabeh kang urip iku bakale mati, mulo becik sanyo anggayuh sejati ning pati, nanging kawruh ono yen sejatining pati iku dumunung ono sing sejatining urip. Banjur opo to sejatining urip iku? Urip iku urup. Apa yang sejatinining urip itu? Urip itu guru. Insya Allah sebagai guru akan urip memberikan cahaya, dan memberikan manfaat.

Dengan pengukuhan ini, Universitas Tidar berharap para lulusan PPG dapat menjadi guru profesional yang berkompeten, berintegritas, serta mampu memberi manfaat luas bagi masyarakat dan berkontribusi nyata dalam kemajuan pendidikan Indonesia

Penulis: Aghna Nur Shabrina

Editor: Humas Untidar

Wujudkan Pemerataan Pendidikan, Kemdiktisaintek Dorong Optimalisasi Beasiswa KIP-K

Jakarta–Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Tamsil Linrung menegaskan pentingnya pemerataan akses pendidikan melalui program Beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) dan Program Indonesia Pintar (PIP) sebagai instrumen strategis menuju Indonesia Emas 2045. Pesan ini disampaikan dalam kegiatan Executive Brief bertema “Optimalisasi Pemerataan Pendidikan Beasiswa KIP-K dan PIP Menuju Indonesia Emas 2045” di Ruang Rapat Sriwijaya Lt.2 Gedung B DPD RI, Jakarta, Senin (29/9).

Acara ini menghadirkan tiga narasumber utama yaitu Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sesjen Kemdiktisaintek), Togar M. Simatupang, Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Puslapdik Kemendikdasmen), Sofiana Nurjanah, dan Direktur Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Dwi Larso.

Pendidikan sebagai Investasi Strategis

Dalam sambutannya, Wakil Ketua DPD Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Tamsil Linrung, Tamsil Linrung menekankan bahwa beasiswa bukan sekadar biaya kuliah, melainkan investasi strategis untuk mencetak generasi pemimpin bangsa.

“Beasiswa harus membuka akses seluas-luasnya, memberikan dampak pembangunan, dan menjadi instrumen pengungkit kapasitas generasi muda. Jangan sampai program ini hanya berhenti sebagai ongkos belajar,” ujarnya. Tamsil juga menegaskan komitmen Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dalam mengawal program KIP-K dan PIP agar tetap menjadi jembatan harapan, bukan ladang penyimpangan. “Penyalahgunaan dana beasiswa adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah rakyat,” tegasnya.

Data Capaian dan Tantangan

Sesjen Kemdiktisaintek, Togar Mangihut Simatupang mengatakan hingga September 2025, KIP-K telah menjangkau 861.341 mahasiswa dengan realisasi anggaran sebesar Rp11,8 triliun atau 82,5% dari total alokasi Rp 14,98 triliun.

“Target tahun ini adalah 1,04 juta penerima, termasuk 200 ribu mahasiswa baru. Program ini tidak hanya menanggung biaya kuliah (UKT/SPP), tetapi juga memberikan bantuan biaya hidup antara Rp800.000 hingga Rp1.400.000 per bulan, sesuai dengan indeks wilayah perguruan tinggi masing-masing,” ujar Sesjen Togar.

Dalam paparannya, Sesjen Togar juga menekankan pentingnya integrasi data KIP Kuliah dan PIP agar penerima tepat sasaran.

“Kami telah mengintegrasikan data pemegang KIP SMA, DTKS, dan PPKE dengan sistem PDDikti. Proses verifikasi yang ketat memastikan bantuan benar-benar diterima mahasiswa berpotensi akademik namun terbatas secara ekonomi,” tegasnya.

Sementara itu, Puslapdik Kemendikdasmen, Sofiana Nurjanah menjelaskan PIP telah menyasar 18,5 juta siswa pada 2025 dengan anggaran 13,35 triliun rupiah, meski masih ditemukan tantangan berupa data siswa yang tidak valid, keterlambatan aktivasi rekening, hingga masalah ketepatan sasaran.

Dari sisi pendidikan tinggi, Direktur Beasiswa LPDP, Dwi Larso menyampaikan lebih lanjut bahwa LPDP telah menyalurkan beasiswa kepada lebih dari 92 ribu mahasiswa S1, S2, dan S3, baik di dalam maupun luar negeri. Meski dana abadi pendidikan telah mencapai 154 triliun rupiah, Indonesia masih tertinggal dari negara tetangga dalam jumlah lulusan S2 dan S3 per kapita, sehingga percepatan mutlak diperlukan.

Peran Strategis DPD RI

DPD RI melalui fungsi legislasi dan pengawasan menegaskan komitmen untuk memastikan PIP dan KIP-K berjalan tepat sasaran, termasuk menjangkau siswa miskin di daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan. Hal ini sejalan dengan amanat konstitusi serta visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pembangunan SDM sebagai prioritas menuju Indonesia Emas 2045.

“Dengan optimalisasi PIP, KIP-K, dan LPDP, kita ingin pastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang putus sekolah hanya karena faktor ekonomi. Pendidikan harus jadi hak universal, bukan hak istimewa,” tegas Wakil Ketua DPD Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Tamsil Linrung.

Kegiatan Executive Brief ini dihadiri jajaran pimpinan dan staf DPD RI, tenaga ahli, serta perwakilan penerima manfaat beasiswa. Forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat sinergi lintas lembaga, memastikan keberlanjutan program, dan menjawab tantangan pemerataan pendidikan nasional.

Universitas Tidar Bekali Calon Wisudawan dengan Strategi Meraih Karir di Multinasional Company

Universitas Tidar Bekali Calon Wisudawan dengan Strategi Meraih Karir di Multinasional Company

Universitas Tidar Bekali Calon Wisudawan dengan Strategi Meraih Karir di Multinasional Company

Magelang, 26 September 2025 – Universitas Tidar (Untidar) melalui Unit Penunjang Akademik (UPA) Pengembangan Karir dan Kewirausahaan menyelenggarakan Seminar Pembekalan Calon Wisudawan Periode September 2025 dengan tema ‘Unlocking Global Opportunities: Strategi Meraih Karir Cemerlang di Multinational Company’, bertempat di Gedung Dr. H.R. Suparsono Universitas Tidar.

Acara dibuka oleh Kabag Akademik, Wahyu Andriyanto, S.A.P., yang menekankan pentingnya Tracer Study bagi alumni sebagai bentuk evaluasi dan promosi kampus. “Lulusan UNTIDAR diharapkan dapat segera mengisi Tracer Study karena data ini penting sebagai sarana penilaian dan pengembangan universitas,” ujarnya.

Hadir sebagai pembicara pertama, PIC Tracer Study UPA PKK, Tri Agus Gunawan, M.H., yang menyampaikan bahwa Tracer Study merupakan survei alumni yang penting untuk memantau keberadaan lulusan, menjalin komunikasi berkelanjutan, serta menilai relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja.

Sesi berikutnya diisi oleh Ardhilles Ardhy, Senior Human Resources Teleperformance Indonesia, yang memaparkan strategi sukses berkarir di perusahaan multinasional. Menurutnya, peluang di Multinational Company (MNC) sangat besar, mulai dari exposure internasional, standar profesional tinggi, hingga kompensasi kompetitif. Namun, ada tantangan yang harus dihadapi seperti persaingan global, target tinggi, dan perbedaan budaya kerja.

Ardhilles menekankan pentingnya tiga aspek utama yang harus dipersiapkan lulusan, yakni Clarity, Competitiveness, dan Connections (3C). “ Clarity: mengenali diri, tujuan karir, dan pasar kerja. Competitiveness: membangun daya saing melalui penguasaan hard skills, soft skills, digital literacy, serta personal branding, dan Connections: membangun jejaring profesional, akademik, maupun komunitas yang relevan.” Sebutnya.

Ardhilles menambahkan bahwa keberhasilan dalam rekrutmen ditentukan oleh kombinasi Knowledge, Skills, dan Attitude.

Peserta juga dibekali pengetahuan mengenai pentingnya membuat CV yang ATS Friendly, mengingat mayoritas perusahaan kini menggunakan sistem Applicant Tracking System.

Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif. Peserta menanyakan berbagai hal mulai dari pentingnya pengalaman kerja, cara menilai kesiapan mental kandidat, strategi mengasah soft skill, hingga tips menjawab pertanyaan ekspektasi gaji. Narasumber menekankan bahwa pengalaman dapat diperoleh melalui magang, kesiapan mental diuji melalui wawancara mendalam, soft skill dapat diasah lewat proyek relevan, dan jawaban diplomatis sangat penting ketika membahas gaji.

Seminar ini diikuti oleh 817 calon wisudawan serta jajaran dosen dan pimpinan universitas. Dengan pembekalan ini, diharapkan lulusan Universitas Tidar semakin siap menghadapi dunia kerja global dan mampu bersaing di perusahaan multinasional.

Penulis dan Editor : FK

Editor: Danu Wiratmoko

 

 

Pelaksanaan Wisuda Universitas Tidar Periode ke-71 Tahun 2025

Universitas Tidar menyelenggarakan Wisuda Magister, Sarjana, Sarjana Terapan, dan Ahli Madya Periode ke-71 Tahun 2025, di Gedung dr. H. R. Suparsono, Jalan Kapten Suparman no. 39, Magelang, Sabtu (27/9).

Pada wisuda periode ini, sebanyak 817 lulusan dari jenjang Magister, Sarjana, Sarjana Terapan dan Ahli Madya akan dikukuhkan secara resmi. Wisudawan terdiri dari 20 program studi dan 5 Fakultas yaitu Fakultas Ekonomi, Fakultas Pertanian, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Teknik, dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Dalam sambutannya, Rektor Untidar, Prof. Dr. Sugiarto, M.Si. mengucapkan selamat kepada para wisudawan dan wisudawati yang telah berhasil menyelesaikan pendidikannya dan upgrade diri dari mahasiswa menjadi alumni kebanggaan. “Selamat. Ananda adalah bukti bahwa kerja keras, doa, dan dukungan keluarga bisa mengantarkan kalian ke puncak pertama dalam petualangan hidup,” ungkapnya.

Ia menyampaikan lulusan Untidar haruslah pribadi yang tidak hanya cerdas secara ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki integritas, etika, dan kemampuan menjaga serta mengembangkan budaya bangsa. 

“Jadilah lulusan yang unggul dalam kompetensi, tetapi tetap berbudaya dalam berperilaku.Wisuda bukanlah akhir dari proses belajar, tetapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar: untuk menerapkan ilmu yang telah kalian peroleh demi kemajuan masyarakat, bangsa, dan peradaban,” jelasnya.

Rektor memberikan penghargaan khusus untuk 11 wisudawan berprestasi: 6 Wisudawan Berprestasi Akademik, yaitu wisudawan dengan nilai akademik terbaik di masing-masing Fakultas, dan 5 Wisudawan Berprestasi Non Akademik berdasarkan seleksi dari bagian Kemahasiswaan (BAKK) Untidar atas raihan prestasi lomba dan kejuaraan skala nasional dan internasional.

Wisudawan Terbaik kali ini diraih oleh Inayah Isnaini Faizah, lulusan program studi S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dengan IPK 3.97 dengan lama studi selama 1 Tahun 10 Bulan 13 Hari. 

Selain menyelesaikan studinya, Ibu dua anak ini juga telah bekerja sebagai Guru di SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring, Muntilan. Ia menempuh studi Magister sebagai bekal untuk melanjutkan profesinya sebagai pendidik “Saya kuliah sambil mengurus anak, sambil tetap bekerja. Tapi Alhamdulillah semua bisa dijalani,” tuturnya.

Semua perjuangan itu ia jalani dengan satu tujuan, yaitu keluarga. Inayah ingin membalas kerja keras orang tuanya yang sejak dulu berjuang untuk pendidikan anak-anaknya. “Saya ingin mengangkat derajat orang tua yang telah bekerja keras untuk pendidikan anaknya, sekarang saya buktikan dengan bisa bersekolah hingga jenjang Magister dan memperoleh predikat wisudawan terbaik,” jelasnya.

Anik Sri Yulianti, Orang tua Inayah  menyampaikan rasa bangganya saat mendampingi anaknya selama prosesi Wisuda. Ibunya, mengungkapkan bahwa pencapaiannya saat ini merupakan berkat usahanya sendiri. “Saya bangga dia ada di posisi ini, semua usaha sendiri, cari makanan sendiri, bekerja sambil kuliah.” tuturnya.

Sedangkan Sambutan Wisudawan diwakili oleh Wisudawan Berprestasi Risma Nanda Handayani  dengan IPK 3,95 dari S1 Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), FKIP, Untidar. Risma yang berdomisili di Donorojo, Magelang telah menyelesaikan kuliah Sarjana-nya selama 3 Tahun 10 Bulan 14 Hari. 

Risma menyebutkan bahwa Orang tuanya bukan lulusan sekolah tinggi. Pendidikan bapaknya lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan ibu hanya sampai Sekolah Dasar (SD). “Pekerjaan bapak sebagai buruh lepas harian, sementara ibu membuka warung kelontong seadanya di rumah. Saya menjadi sarjana pertama di keluarga, baik dari pihak bapak maupun ibu,” ungkapnya.

Orang tua risma turut menyampaikan perasaan bahagianya mengetahui anaknya menjadi sarjana pertama di keluarganya sekaligus wisudawan terbaik. “Saya bangga, bangga sekali. saya sekolah nggak terlalu tinggi, Cuma lulusan SMP.” ungkap Ayahnya, Wahib Mudaim.

Ibunya, Nirwati, berharap dan mendoakan anaknya agar keinginannya selalu tercapai, “harapannya yang diinginkan tercapai, terus berguna bagi keluarga, orang tua, nanti apa yang dia inginkan dan yang dia harapkan bisa berhasil sesuai dengan harapan.” tambahnya.

Risma membuktikan meskipun berasal dari keluarga dengan ekonomi sederhana, ia dapat meraih gelar Sarjana dan menjadi Sarjana pertama di keluarga baik pihak Bapak maupun Ibunya. Lulusan dari jalur SNMPTN itu juga mendapatan KIPK dan aktif dalam Unit Kegaiatan Mahasiswa IQSAN Universitas Tidar.

“Keberhasilan ini bukanlah milik kami seorang. Wisuda ini adalah persembahan untuk mereka yang senantiasa hadir di balik perjuangan kami, mereka yang diam-diam menengadahkan doa di setiap malam, mereka yang menghapus lelah tanpa pamrih: ayah dan ibu tercinta,” pungkasnya.

Penulis: Humas Untidar

Untidar Raih Penghargaan Satker dengan Kinerja Sangat Baik IKPA Semester I 2025

Universitas Tidar kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih penghargaan dari Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Jawa Tengah (Kanwil DJPb Jateng). Dalam ajang tersebut, Untidar dinobatkan sebagai Satuan Kerja (Satker) dengan Kinerja Sangat Baik pada capaian Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) Semester I Tahun 2025. Penghargaan diserahkan secara resmi pada pertengahan September 2025 di Semarang.

Penghargaan IKPA diberikan secara berkala dua kali dalam setahun sebagai bentuk apresiasi kepada satuan kerja yang mampu menunjukkan kinerja optimal sekaligus menerapkan prinsip efisiensi dalam pengelolaan anggaran. Penilaian ini mengacu pada Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-5/PB/2024, yang meliputi tiga aspek utama: kualitas perencanaan anggaran (20%), kualitas pelaksanaan anggaran (55%), dan kualitas hasil pelaksanaan anggaran (25%).

Proses penilaian dilakukan melalui sistem Online Monitoring Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (OM-SPAN). Indikator yang dinilai mencakup revisi DIPA, pengelolaan dana persediaan, penyampaian data kontrak, penyelesaian tagihan, penyerapan anggaran, hingga pelaporan capaian output. Hasil penilaian kemudian dikategorikan ke dalam empat tingkatan, yakni Sangat Baik (nilai ≥ 95), Baik (89 ≤ nilai < 95), Cukup (70 ≤ nilai < 89), dan Kurang (nilai < 70).

Pada Semester I tahun 2025, Untidar berhasil meraih nilai 95,45 yang menempatkannya dalam kategori Sangat Baik. Capaian ini menjadi bukti konsistensi Untidar dalam menjaga transparansi, akuntabilitas, serta efisiensi tata kelola anggaran yang berorientasi pada hasil nyata.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum, Dr. Astuty, M.Pd., menyampaikan apresiasi sekaligus pesan motivasi bagi seluruh pihak yang telah berkontribusi. Prestasi ini adalah hasil kerja keras kita semua. Jangan lengah, teruslah berkarya untuk Untidar yang lebih maju,” ungkapnya.

Dengan keberhasilan meraih predikat Satker IKPA Sangat Baik Semester I 2025 ini diharapkan menjadi energi baru bagi sivitas akademika Untidar untuk terus meningkatkan kinerja, mendorong inovasi, serta memperkuat kontribusi dalam pembangunan daerah maupun nasional.

Penulis: Suryanti
Editor: Humas Untidar

Mendiktisaintek: Era University 4.0, Kampus Harus menjadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi

Surabaya-Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto tegaskan bahwa pendidikan tinggi di Indonesia harus adaptif terhadap perkembangan teknologi dan industri global. Hal ini disampaikan Menteri Brian dalam pidatonya di rangkaian kegiatan Temu Nasional Forum Pendidikan Tinggi Teknik Elektro Indonesia (Fortei), Seminar Nasional Teknik Elektro (SNTE), dan International Conference on Vocational Education and Electrical Engineering (ICVEE) 2025, di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kamis (25/9).

Kehadiran Menteri Brian menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap penguatan ekosistem pendidikan tinggi, riset, dan inovasi, khususnya di bidang Sains (Science), Teknologi (Technology), Teknik (Engineering), dan Matematika (Mathematics) arau STEM. Sejalan dengan tema Fortei 2025 “Peran Fortei dalam mewujudkan Pendidikan Teknik Elektro yang berdampak bagi masyarakat”.

“Selain forum akademik, forum ini adalah salah satu indikator bahwa dialektika ilmiah yang berangkat dari hasil riset yang mendalam telah terjadi. saintifik conference sangat penting, wahana  yang dinantikan para dosen dan peneliti, karena disinilah muncul pencerahan, lahir ide besar, yang melahirkan inovasi, terobosan dan temuan baru, “ ungkap Menteri Brian.

Dalam arahannya, Menteri Brian menekankan bahwa pendidikan tinggi di Indonesia harus adaptif terhadap perkembangan teknologi dan industri global. Saat ini misi besar Indonesia adalah memperkuat pertumbuhan ekonomi agar dapat mencapai status negara berpendapatan tinggi, dan dalam era 2012-2045 penduduk Indonesia didominasi oleh generasi produktif. Momentum ini harus dimanfaatkan sebagai kebangkitan baru industri nasional, yang dapat dicapai melalui sinergi erat antara perguruan tinggi, peneliti, dan dunia usaha.

“Pada era university 4.0, perguruan tinggi harus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, karena kampus adalah satu entitas dimana orang-orang pintar dan intelektual berkumpul, riset kita harus intens dengan industri,” tegas Mendiktisaintek.

Penguatan Bidang STEM

Menteri Brian juga menekankan pentingnya penguatan bidang STEM serta kolaborasi riset terapan, khususnya di bidang teknik elektro, sebagai kunci lahirnya terobosan teknologi. Dengan peran aktif kampus sebagai pusat pemikiran dan inovasi, Mendiktisaintek optimistis Indonesia dapat mempercepat transformasi ekonomi sekaligus meningkatkan daya saing bangsa di tingkat global.

“Teknologi yang kuat melahirkan kedaulatan yang tinggi. Pak Presiden berpesan, kita harus bangkit dengan industri-industri yang maju,” tambah Menteri Brian.

Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi Diktisaintek Berdampak, yang memastikan setiap kebijakan di pendidikan tinggi memberi manfaat nyata, baik dalam menghadirkan sumber daya manusia unggul maupun memperkuat fondasi pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, sesuai dengan misi Asta Cita Presiden Prabowo, untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

“Kita harus memproduksi sesuatu, kita harus berkolaborasi bersama. Silakan bapak ibu jika ada ide dan gagasan setelah ini, nanti kita carikan industrinya dan gandeng bersama, untuk nantinya menjadi embrio industri di Indonesia,” tutup Menteri Brian.

Rangkaian acara SNTE, Fortei, dan ICVEE 2025 yang digelar pada 24–26 September 2025 ini menghadirkan akademisi, peneliti, praktisi industri, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat jejaring, berbagi pengetahuan, serta menyusun langkah bersama dalam pengembangan pendidikan teknik elektro.

Ketua Pelaksana Temu Fortei Nasional 2025, Lusia Rakhmawati menjelaskan bahwa pendidikan tinggi Teknik Elektro tidak hanya harus unggul di bidang akademik, tapi harus mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Kehadiran Mendiktisaintek bersama jajaran pimpinan perguruan tinggi, peneliti, dan pemangku kepentingan lainnya menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang unggul, relevan, dan berdampak langsung pada kemajuan bangsa.

Mendiktisaintek Dorong Penguatan Perguruan Tinggi dalam Industrialisasi

Gresik—Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto mendorong kemajuan dan penguatan tata kelola Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di lingkungan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VII. 

Hal ini disampaikannya pada acara Penguatan Tata Kelola PTS se-Jawa Timur bersamaan dengan diresmikannya Universitas Sunan Gresik (USG), Rabu (24/9).

“Tentu, harapan kami adalah PTS-PTS di Jawa Timur bisa terus berkembang dan tumbuh ke depan,” ujar Menteri Brian.

Menteri Brian menyoroti banyaknya tantangan yang dihadapi Indonesia karena berbagai faktor ekonomi dan geopolitik.

“Perguruan tinggi adalah pusat pertumbuhan di Indonesia. Sejatinya, kampus memiliki program-program yang sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi. Ini yang harus sedikit demi sedikit kita ciptakan dan dukung,” tegas Menteri Brian.

Menteri Brian mendorong adanya riset oleh sivitas akademika berdasarkan masalah yang dihadapi oleh industri dan masyarakat. Hal ini dapat memunculkan suatu hubungan saling menguntungkan bagi kedua pihak. Kampus dapat tumbuh sebagai pusat kajian dan pusat solusi, sementara industri dan masyarakat akan mendapatkan jawaban dari masalah yang mereka hadapi.

Dalam semangat memajukan perekonomian negara, Rektor USG, Abdul Muhith menyampaikan dalam laporannya bahwa USG telah mendapatkan 2.873 mahasiswa baru dari 3.616 pendaftar. USG terdiri atas 5 fakultas dan 20 program studi.

“Kami sudah menjalin hubungan dan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan 60 perusahaan besar di Kabupaten Gresik, untuk menampung para lulusan dalam pelatihan selama 6 bulan,” ujar Rektor Muhith.

Menteri Brian mengapresiasi langkah gesit USG dalam mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul demi menyongsong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) berkomitmen untuk terus mendukung penguatan PTS sebagai motor penggerak inovasi dan industrialisasi, demi mewujudkan daya saing bangsa yang berkelanjutan.

Dirjen Dikti: LLDIKTI Pegang Kendali Strategis untuk Menjaga Mutu Pendidikan Tinggi Indonesia

Sebab pengetahuan adalah piranti utama membangun peradaban, maka pendidikan adalah peta jalannya

Semarang — Di tengah derasnya tuntutan global terhadap pendidikan tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama para pimpinan LLDIKTI Wilayah I–XVII mengadakan Diskusi Kelompok Terpumpun Pemutakhiran Organisasi dan Tata Laksana LLDIKTI yang digelar di Semarang pada Jumat (19/9).

Kegiatan ini menjadi forum penting untuk memperkuat sinergi sekaligus menyamakan langkah dalam menjamin mutu pendidikan tinggi di Indonesia. Tak hanya menghadirkan para kepala LLDIKTI, forum ini juga dihadiri oleh Dirjen Dikti Khairul Munadi, dan beberapa pejabat di lingkungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Dalam sambutannya, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Khairul Munadi, menekankan pentingnya pemahaman bersama mengenai regulasi baru, yakni Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi. Peraturan ini ada sebagai penyempurnaan dari Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023.

“Permendiktisaintek ini adalah komitmen kita untuk menghadirkan perguruan tinggi yang kokoh, adaptif, dan berdampak bagi bangsa. Kami bertujuan memastikan bahwa sosialisasi berjalan dengan baik sehingga tidak ada multitafsir di perguruan tinggi,” tutur Dirjen Khairul.

Untuk itu Kemdiktisaintek menyiapkan berbagai materi sosialisasi. Termasuk buku saku Frequently Asked Questions (FAQ), yang dirancang untuk menjawab isu-isu krusial sekaligus menyederhanakan pemahaman di lapangan. Menurutnya, LLDIKTI memiliki peran vital sebagai ujung tombak dalam menjangkau perguruan tinggi agar substansi regulasi benar-benar dipahami secara merata.

Pada saat yang bersamaan, sesi berikutnya diisi oleh Tenaga Ahli Mendiktisaintek Bidang Pendidikan Tinggi T. Basaruddin, yang membedah substansi revisi regulasi penjaminan mutu. Menurutnya, perubahan dari Permen 53/2023 menuju Permen 39/2025 lahir dari banyak masukan sejak peruh  tahun 2024, khususnya terkait penyesuaian untuk program studi baru dan perguruan tinggi yang berkembang pesat.

Prinsip utama dalam peraturan baru ini adalah pergeseran menuju principle-based regulation. Artinya, aturan dibuat lebih bersifat norma umum, memberikan keleluasaan perguruan tinggi untuk mengelola mutu sesuai konteks masing-masing. 

“Misalnya, masa studi yang selama ini identik delapan semester tidak lagi dipatok kaku. Jika mahasiswa mampu menyelesaikan dalam tujuh semester, itu sah dan diperkenankan,” jelas Basaruddin.

Hatta, Basaruddin menambahkan komponen utama penjaminan mutu tetap sama. Meliputi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang dilaksanakan secara otonom oleh perguruan tinggi, serta Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME) yang dilakukan melalui akreditasi BAN-PT atau Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM). Kedua sistem ini saling melengkapi untuk memastikan mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai satu kesatuan Tridharma.

Dalam paparannya, Basaruddin juga menekankan kembali tiga komponen inti Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN Dikti), yaitu standar pendidikan, standar penelitian, dan standar pengabdian masyarakat. Ketiganya tidak bisa dipisahkan dan harus berjalan beriringan.

Khusus untuk standar proses pembelajaran, Permen 39/2025 menegaskan pentingnya fleksibilitas. Perguruan tinggi diberi ruang lebih besar dalam mengatur metode pembelajaran, mulai dari tatap muka, pembelajaran jarak jauh, hingga kombinasi keduanya. Selain itu, pengakuan atas pembelajaran lampau (Recognition of Prior Learning/RPL) juga diperluas untuk memberi kesempatan mahasiswa mempercepat masa studinya.

Poin penting lainnya adalah standar luaran atau capaian lulusan. Perguruan tinggi wajib melakukan evaluasi berkala untuk memastikan capaian benar-benar terukur.

“Atensi pada standar luaran sangat krusial, karena dari sinilah kualitas SDM unggul dihasilkan,” ungkap Basaruddin.

Pertemuan ini kembali menegaskan posisi LLDIKTI sebagai perpanjangan tangan Kementerian dalam urusan penjaminan mutu. LLDIKTI diharapkan mampu memastikan setiap perguruan tinggi memahami regulasi dengan benar, sekaligus mendorong budaya peningkatan mutu berkelanjutan.

“Proses asesmen tidak boleh membebani secara administratif, harus efisien, dan berbasis data yang sudah terkumpul di PDDikti,” tutup Basaruddin, seraya menambahkan bahwa LAM dan BAN-PT juga didorong menjadi fasilitator dalam peningkatan mutu.