Wali Kota Magelang Komitmen Gandeng Kampus, Hadiri Diskusi Mahasiswa Fakultas Teknik Untidar

Magelang – Wali Kota Magelang, H. Damar Prasetyana, hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Training Legislatif Dasar (TLD) yang diselenggarakan oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Teknik Universitas Tidar, Sabtu (18/10/2025), bertempat di Gedung Fakultas Teknik 3.

Kegiatan yang mengusung materi Analisis Kebijakan Publik ini diikuti oleh puluhan mahasiswa perwakilan organisasi kemahasiswaan di lingkungan Fakultas Teknik. Tujuannya untuk menanamkan kemampuan berpikir kritis, analitis, serta memperluas wawasan mahasiswa terhadap proses perumusan kebijakan publik yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Dalam pemaparannya, Wali Kota Magelang menekankan pentingnya penyusunan kebijakan publik yang berbasis data, terhubung dengan konektivitas media publik, serta berlandaskan literasi dan keterlibatan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa kondusivitas kota memiliki pengaruh besar terhadap pembangunan, dan kehadiran investor pun tidak terlepas dari stabilitas sosial dan politik di daerah.

“Kebijakan publik yang baik harus lahir dari keterlibatan masyarakat. Pemerintah perlu membuka ruang dialog, misalnya melalui Focus Group Discussion (FGD), untuk memantau kegiatan masyarakat dan memastikan arah kebijakan sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujar Damar.

Lebih lanjut, Damar mengutip gagasan dari Plato dalam bukunya Republik, bahwa idealnya kebijakan publik adalah untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Ia menegaskan bahwa tugas pemerintah bukan hanya membuat peraturan, tetapi juga memandu masyarakat agar tidak bingung dalam menjalani kehidupan, serta menjamin kesejahteraan bersama.

“Kita adalah bangsa yang kuat, tapi sayangnya masih sering menjadi objek, bukan subjek pembangunan. Pemerintah Kota Magelang berkomitmen untuk terus menggandeng kampus dalam membangun peradaban melalui kolaborasi dan pendidikan,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota juga menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Magelang menyediakan beasiswa bagi 200 anak berprestasi, sebagai bentuk nyata dukungan terhadap peningkatan kualitas SDM daerah. Ia turut menekankan pentingnya etika dan integritas dalam setiap kebijakan publik, karena hal itu menjadi pembeda antara satu pemimpin dengan pemimpin lainnya.

Mengutip Syekh Abdul Qadir Jailani, Damar menegaskan bahwa yang dibutuhkan bukan hanya orang yang pintar, tetapi juga orang yang beradab. Prinsip tersebut menurutnya menjadi fondasi penting dalam membangun pemerintahan yang berkarakter dan berkeadilan.

Selain itu, ia juga mengajak mahasiswa untuk merefleksikan prinsip kepemimpinan melalui empat nilai utama, yaitu humanisme dalam pelayanan, inovasi dan keberlanjutan, kolaborasi dan keterbukaan, serta kemampuan strong listening dalam menjaring aspirasi masyarakat.

Sementara itu, Ketua Kegiatan Training Legislatif Dasar, Ivan Juliadi, menyampaikan bahwa pelatihan ini diharapkan dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kritis di kalangan mahasiswa Fakultas Teknik.

“Saya berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan pola pikir kritis dan analitis, sehingga peserta mampu melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang dan menemukan solusi yang solutif serta berkeadilan. Mahasiswa juga diharapkan mampu bertindak cerdas dalam pengambilan keputusan, baik dalam konteks organisasi maupun kehidupan bermasyarakat, dengan dasar etika, logika, dan data yang kuat,” ujar Ivan.

Kegiatan TLD ini menjadi salah satu agenda tahunan DPM Fakultas Teknik yang berfokus pada pembinaan karakter dan kepemimpinan mahasiswa, sekaligus memperkuat sinergi antara dunia akademik dan pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan berbasis pengetahuan dan nilai kemanusiaan.

 

Penulis : Humas Untidar

Editor : Humas Untidar

Sesjen Kemdiktisaintek Dorong Kolaborasi Pemerintah Daerah dalam Wujudkan Pendidikan Berkualitas

Jakarta-Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam membangun ekosistem pendidikan nasional yang berkeadilan dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemdiktisaintek, Togar Mangihut Simatupang dalam kegiatan Koordinasi Program Kerja Sama Bidang Pendidikan yang digelar di kantor Kemdiktisaintek, Jumat (17/10).

Kegiatan yang diinisiasi oleh Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara (YPAN) ini dihadiri oleh perwakilan dari 200 pemerintah kabupaten di seluruh Indonesia, serta pimpinan dari  Kemdiktisaintek dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

“Kita memahami bahwa peningkatan kualitas pendidikan merupakan fondasi penting. Saya menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia dan Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara atas inisiatif dan konsistensinya dalam memfasilitasi kolaborasi kita ini,” ujar Sesjen Togar.

Sesjen Kemdiktisaintek juga menyampaikan semangat dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, bahwa forum ini sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak yang menggerakan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi harus memberikan manfaat  nyata untuk pembangunan daerah.

Kemdiktisaintek meyakini bahwa peningkatan kualitas pendidikan di daerah merupakan  upaya strategis dalam memperkuat daya saing bangsa. Oleh karena itu, Kemdiktisaintek berkomitmen untuk memperluas akses dan pemerataan layanan pendidikan tinggi di seluruh wilayah Indonesia melalui berbagai program strategis.

Salah satunya, Sesjen Togar mengajak kepala daerah seluruh Indonesia untuk bersama mendukung kehadiran Sekolah Garuda di berbagai daerah, guna penyeimbang kualitas pendidikan di Indonesia, demi menyongsong Indonesia Emas 2045.

Dalam rangka memperkuat sinergi antara pusat dan daerah, Sekjen Kemdiktisaintek Togar Mangihut Simatupang turut menyaksikan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Apkasi dan YPAN.

Penandatanganan ini menjadi tonggak penting dalam kolaborasi program pendidikan lintas daerah, khususnya dalam peningkatan mutu guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan di seluruh kabupaten di Indonesia.

Sinergi Pusat dan Daerah menuju Indonesia Emas 2045

Kegiatan koordinasi ini menjadi wadah penting untuk mempertemukan pemerintah pusat, daerah, dan mitra pendidikan dalam merumuskan kebijakan bersama. Dalam forum tersebut, para peserta berdiskusi mengenai implementasi program peningkatan kompetensi SDM, beasiswa, serta inovasi pembelajaran di daerah.

“Saya sangat senang bekerja dengan bapak/ibu bupati, bapak/ibu sangat antusias dan juga terus mengejar sampai terjadi sesuatu. Mari kita terus bekerjasama, membangun pendidikan di Indonesia, membangun kemitraan di pengembangan ekosistem dan juga aplikasi sains dan teknologi, sehingga kita bisa maju bersama,” ujar Sesjen Togar.

Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat link and match antara pendidikan tinggi, riset, dan dunia kerja melalui berbagai program kolaborasi daerah. Setiap kebijakan yang dilahirkan diharapkan dapat menjawab kebutuhan lokal sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta daya saing global.

Dengan semangat Diktisaintek Berdampak, Kemdiktisaintek memastikan setiap program benar-benar menghadirkan manfaat nyata  bukan hanya bagi dunia pendidikan, tetapi juga bagi pembangunan daerah dan masa depan bangsa.

Direktur Pukat UGM di Fakultas Teknik Untidar: Bongkar Strategi Jitu Perangi Korupsi dalam Seminar Nasional Anti Korupsi

Magelang – Fakultas Teknik Universitas Tidar (Untidar) sukses menyelenggarakan Seminar Nasional Anti Korupsi yang interaktif. Seminar ini menghadirkan Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) UGM, Dr. Totok Dwi Diantoro, S.H., M.A., LL.M., dan perwakilan dari Kejaksaan Negeri Kota Magelang, Wishnu Hayu K, S.H., M.H.Li, sebagai narasumber utama.

Mengusung tema “Penguatan Pemahaman Peran Legislasi, Reformasi Birokrasi, dan Zona Integritas di Fakultas Teknik,” kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu (15/10/2025) bertempat di Gedung dr. H. R. Suparsono Universitas Tidar Kampus Tuguran.

Kejaksaan Tegaskan Peran Masyarakat dan Ancaman Hukuman Bagi Koruptor

Sesi pertama diisi oleh Wishnu Hayu K dari Kejaksaan Negeri Kota Magelang. Beliau memaparkan secara gamblang mengenai alur penindakan jika terjadi indikasi tindak pidana korupsi. Dalam kesempatan tersebut, Kejaksaan menekankan bahwa peran serta dan partisipasi aktif masyarakat sangat krusial dalam upaya penindakan.

Selain itu, narasumber juga mengingatkan para peserta mengenai konsekuensi hukum bagi pelaku korupsi, yang meliputi pidana penjara, pidana denda dan uang pengganti, hingga kemungkinan pidana mati pada kondisi-kondisi tertentu yang diatur oleh undang-undang.

Pukat UGM Soroti Indeks Korupsi dan Strategi Pencegahan Organisasi

Sementara itu, Dr. Totok Dwi Diantoro selaku Direktur Pukat UGM memaparkan data yang cukup mengkhawatirkan. Beliau menegaskan bahwa Indeks Persepsi Korupsi (IPK) di Indonesia Tahun 2024 masih berada di angka 37/100. Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia masih tertinggal di bawah skor rata-rata global (43) dan skor Asia Pasifik (44).

Berdasarkan kajian yang mendalam, Dr. Totok kemudian membeberkan strategi jitu untuk pencegahan korupsi di tingkat organisasi. Beberapa upaya pencegahan yang efektif tersebut meliputi:

  1. Komitmen Pemimpin
  2. Penilaian Resiko Korupsi
  3. Due Diligence/ Uji Kelayakan
  4. Pendidikan dan Pelatihan
  5. Penanganan, Pelaporan, dan Investigasi
  6. Pengawasan, Pemantauan, dan Evaluasi

Dukungan Penuh Fakultas~ Teknik untuk ZI dan WBK

Al Iza Trimulyanta selaku Ketua DPM Fakultas Teknik menjelaskan bahwa seminar ini adalah wujud nyata komitmen kampus. “Kegiatan ini sebagai bentuk kerja sama DPM FT dengan Tim Pembangunan Reformasi Birokrasi dan Zona Integritas Fakultas Teknik dalam mendukung program pemerintah membangun Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM),” ungkap Al Iza Trimulyanta.

 

Penulis : Humas Untidar

Editor : Humas Untidar

Kemdiktisaintek Hadirkan Kebijakan Sertifikasi Dosen yang Lebih Ramah Disabilitas: Meretas Jalan Menuju Kesetaraan

Jakarta, — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Sumber Daya terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan kebijakan pendidikan tinggi yang inklusif dan berdampak.

Melalui kegiatan “Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Sertifikasi Dosen 2025”, Kemdiktisaintek yang diwakili oleh Direktur Sumber Daya, Sri Suning Kusumawardani, menyapa langsung para dosen penerima sertifikasi dosen, terutama para dosen penyandang disabilitas yang baru saja dinyatakan lulus program sertifikasi dosen (Serdos) dengan kebijakan baru tahun 2025.

Kegiatan ini menjadi komitmen Kemdiktisaintek dalam menilai efektivitas pelaksanaan kebijakan baru, sekaligus mendengar pengalaman dan masukan langsung dari para dosen penerima sertifikasi, khususnya para dosen penyandang disabilitas. Turut hadir bersama Direktur Sumber Daya, tenaga ahli dan pakar Serdos, Ivan Hanafi dan M. Fajar Subkhan, sejumlah dosen penyandang disabilitas dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, serta tim Penyelenggara Sertifikasi Dosen Direktorat Sumber Daya.

Perlu dicatat tahun 2025 menjadi tonggak penting bagi kebijakan sertifikasi dosen. Berdasarkan Keputusan Dirjen Dikti Nomor 53/B/KPT/2025, syarat Tes Kemampuan Dasar Akademik (TKDA) dan Tes Kemampuan Bahasa Inggris (TKBI) resmi dihapuskan, digantikan dengan penilaian berbasis portofolio dan unjuk kerja Tridharma. Langkah ini dimaksudkan untuk memperluas akses, memperkuat keadilan, dan memastikan sertifikasi dosen lebih mengakomodir keberagaman, termasuk dosen penyandang disabilitas.

Pada kesempatan tersebut, Direktur Sumber Daya, Sri Suning Kusumawardani, menyampaikan pelaksanaan sertifikasi dosen (Serdos) tahun ini bukan hanya capaian administratif, tetapi refleksi komitmen Kemdiktisaintek terhadap kesejahteraan dan profesionalisme dosen.

“Kami selalu memantau peserta Serdos, termasuk teman-teman disabilitas, hingga proses selesai. Kebijakan ini diharapkan sudah menyentuh aspek inklusif dan sudah tepat, sehingga dengan ini kita dapat memajukan pendidikan Indonesia bersama,” ujarnya.

Hasil monitoring dan evaluasi menunjukkan, seluruh dosen disabilitas peserta Serdos 2025 menyatakan prosesnya lebih mudah, transparan, dan inklusif. Penghapusan tes akademik dinilai memecah hambatan psikologis dan administratif yang selama ini membatasi partisipasi. Akses platform SISTER juga dinilai semakin ramah bagi pengguna disabilitas, dengan dukungan pendampingan teknis dari perguruan tinggi dan tim Kemdiktisaintek.

Dalam pertemuan tersebut, terdapat beberapa dosen disabilitas yang sudah mengikuti proses seleksi sertifikasi dosen beberapa kali tetapi gagal karena tidak dapat memenuhi persyaratan yang ada. Namun dengan adanya kebijakan baru ini, mereka merasa sangat terbantu, seperti yang disampaikan oleh Rachmita Maun Harahap dari Universitas Mercu Buana, berikut:

“Saya mencoba mendaftar dan mengikuti TKDA, ternyata soalnya banyak sekali dan saya untuk melihat dan memahami soalnya saja butuh proses, jadi tidak mungkin hanya mengerjakan dalam waktu singkat, apalagi kalau teman-teman netra ada gambar-gambar. Tahun 2022 dan 2023 saya mencoba lagi dan tidak lulus. Kemudian saya berkirim surat untuk audiensi kepada Bapak Direktur Jenderal Dikti, saya usul untuk dihapus TKDA. Kalau TOEFL dan syarat lainnya alhamdulillah saya lulus. Jadi saya sangat berterimakasih kepada bapak Dirjen Dikti, Khairul Munadi, dan Ibu Direktur Suning, karena sudah berusaha meringankan kriteria untuk dosen disabilitas,” ujarnya.

Beberapa orang dosen, sebut saja Risma Wira Bharata dari Universitas Tidar dan Nindawi dari Politeknik Negeri Madura, juga turut menyampaikan apresiasi atas kebijakan ini.

“Disabilitas itu sangat banyak ragamnya. Mudah-mudahan kebijakan ini dapat mendorong semangat dan memberikan motivasi teman-teman disabilitas untuk mengajak teman-teman disabilitas yang lain untuk mengenyam pendidikan, sehingga perguruan tinggi bisa lebih inklusif,” ungkap Risma Wira Bharata.

Sementara itu Nindawi dari Politeknik Negeri Madura, mengakui dengan kebijakan baru ini mereka merasa disentuh, merasa ada.

“Ini adalah amanah untuk ke depannya kami bisa berjuang demi profesionalisme tendik dan dosen. Semoga amanah dan bantuan yang diberikan ini bisa meningkatkan bakti kami kepada negara”, tambah Nindawi.

Dalam kesempatan yang sama, tenaga ahli Serdos, Fajar Subkhan dan Ivan Hanafi, menambahkan bahwa kebijakan ini merupakan bentuk transformasi menuju kesetaraan di lingkungan perguruan tinggi.

“Kebijakan ini menjadi bagian ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif” ujar Fajar Subkhan.

“Ke depannya, beberapa kebijakan yang bisa dipertimbangkan, di antaranya: perlu penjelasan dari PTU pengusul, perlu ada pemetaan jenis disabilitas, sosialisasi petunjuk operasional yang tidak hanya seperti yang ada sekarang ini tetapi mungkin juga ada yang dengan huruf braille, serta pendampingan ketika teman-teman disabilitas sedang melakukan proses pendidikan dan pengajaran. Sehingga teman-teman disabilitas tidak terlupakan dan kebutuhannya dapat terakomodir dengan baik”, tambah Ivan Hanafi.

Lebih jauh lagi, Direktur Sumber Daya, Sri Suning Kusumawardani, menegaskan  arah kebijakan baru ini sejalan dengan upaya pemerintah menghadirkan ekosistem pendidikan tinggi yang lebih setara dan humanis.

“Kita akan melanjutkan kebijakan yang sudah mengarah ke inklusif meskipun mungkin belum seratus persen. Mudah-mudahan menjadi satu jalan untuk kita bersama membangun pendidikan tinggi Indonesia menjadi lebih baik. Dengan keberadaan teman-teman disabilitas bersama kami, kita  bisa saling menguatkan satu sama lain,” tegas Sri Suning.

Kemdiktisaintek memastikan akan terus memperkuat kebijakan sertifikasi dosen yang lebih adaptif dan berkeadilan. Termasuk dengan melibatkan organisasi disabilitas dalam proses evaluasi ke depan, memperluas fitur aksesibilitas SISTER, serta memberikan pelatihan kesadaran inklusivitas bagi perguruan tinggi.

Sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah nyata menuju sistem pendidikan tinggi yang menghargai keberagaman, memperjuangkan kesetaraan, dan menegakkan profesionalisme dosen Indonesia.

Pelatihan Deskripsi Paten 2025 Tangerang: Perkuat Inovasi Akademik Perguruan Tinggi

Tangerang Selatan — Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) kembali menyelenggarakan Pelatihan Penulisan Deskripsi Permohonan Paten (PDPP) Tahun 2025 di Aula FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kampus B, Cireundeu, Tangerang Selatan, 8-10 Oktober.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Kemdiktisaintek dengan Universitas Muhammadiyah Jakarta untuk memperkuat kapasitas dosen dan peneliti dalam penyusunan dokumen paten yang berkualitas. Sebanyak 51 peserta dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia mengikuti kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini.

Dalam sambutannya, Direktur Hilirisasi dan Kemitraan, Yos Sunitiyoso, menegaskan pentingnya hilirisasi riset sebagai pilar utama yang menghubungkan hasil penelitian dengan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Upaya hilirisasi riset adalah bagian penting dari visi kami untuk meningkatkan nilai tambah, baik secara sosiologis maupun ekonomi. Kami berharap setelah pelatihan ini para peserta dapat segera mendaftarkan hasil inovasinya ke DJKI dan berkontribusi dalam peningkatan jumlah paten nasional,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Jakarta, Muhammad Hadi menyatakan bahwa pada tahun 2045 UMJ menargetkan diri menjadi pusat peradaban, dengan salah satu faktornya adalah melalui peningkatkan paten.

“Visi ini lahir dari masukan berbagai pihak dan menjadi cita-cita besar agar universitas Muhammadiyah di seluruh Indonesia dapat melahirkan peradaban ilmu pengetahuan dan keislaman yang berdampak. Salah satu langkah menuju hal itu adalah melalui peningkatan produk ilmiah, termasuk paten,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pelatihan ini menjadi salah satu indikator dalam mewujudkan integrasi antara iptek dan Islam yang nyata dan berdampak, mengingat masih banyak dosen UMJ yang belum memiliki paten.

Acara berlangsung dengan pemaparan materi melalui tiga narasumber utama, Nanik Astuti dari Institut Teknologi Nasional Malang, Sofyan Arif dari Universitas Muhammadiyah Malang, dan Ria Dewi dari Universitas Brawijaya, serta dilanjutkan dengan praktik penyusunan deskripsi paten melalui Focus Group Discussion (FGD) yang dipandu dan dibimbing oleh tim fasilitator nasional.

Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kemampuan dosen dan peneliti dalam menulis deskripsi paten serta mendorong peningkatan kualitas dan jumlah permohonan paten di perguruan tinggi.

Harapannya, semakin banyak inovasi akademik yang terlindungi secara hukum dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan.

Ratusan Siswa SMA dari Yogyakarta geruduk Universitas Tidar, Ada Apa?

Magelang – Universitas Tidar (Untidar) digeruduk 252 siswa SMA Negeri 2 Banguntapan Bantul dan 59 siswa SMA SahabatQu, Sleman pada Rabu (9/10) di Gedung Kuliah Umum (GKU) dr. H.R. Suparsono, Kampus Tuguran. Bukan untuk tawuran, ternyata mereka melakukan kunjungan studi untuk mengenal dunia kampus lebih jauh. 

Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan lebih dekat lingkungan akademik dan fasilitas yang dimiliki Untidar kepada para siswa, sekaligus memberikan gambaran nyata mengenai kehidupan perkuliahan di perguruan tinggi negeri yang berlokasi di Magelang tersebut.

Kepala Bagian Akademik Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerjasama Universitas Tidar, Wahyu Andriyanto, S.A.P., menyampaikan bahwa kunjungan edukatif ini merupakan salah satu bentuk komitmen Untidar dalam memperluas akses informasi pendidikan tinggi.

“Harapannya, para siswa dapat mengenal lebih jauh seperti apa Universitas Tidar itu, mulai dari fasilitas, prestasi mahasiswa, hingga akreditasi program studi. Kami ingin mereka mendapatkan gambaran utuh agar bisa menjadikan Untidar sebagai pilihan kuliah di masa depan,” jelasnya.

Beliau menambahkan, kegiatan semacam ini juga menjadi media bagi siswa untuk melihat langsung suasana akademik kampus dan memahami potensi Magelang sebagai kota pendidikan dan wisata. “Biasanya, rombongan siswa juga melanjutkan kunjungan ke destinasi wisata edukatif seperti Ketep, Borobudur, atau Museum BPK RI,” imbuhnya.

Salah satu peserta, Levy, dari SMA Negeri 2 Banguntapan, mengungkapkan kesan positifnya terhadap kegiatan ini. “Aulanya keren banget, luas, dingin, dan nyaman. Kegiatannya juga menarik, karena dari awal sampai akhir dijelasin semua tentang kampus, jadi kita gak perlu tanya-tanya lagi,” ujarnya dengan antusias.

Melalui kegiatan kunjungan edukatif ini, Universitas Tidar berharap dapat membuka wawasan para siswa SMA tentang dunia perkuliahan sekaligus menumbuhkan motivasi untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, khususnya di Universitas Tidar.

Penulis: Aghna Nur Shabrina

Editor: Danu Wiratmoko

Untidar Raih Pendanaan Erasmus+, Perkuat Kolaborasi Internasional Lewat Program FIND4S

Magelang –  Universitas Tidar (Untidar) memperluas kiprahnya di kancah internasional melalui program Food Innovation and Education for Sustainable Society (FIND4S, baca: Find Force) yang dihelat Senin (6/10), di Ruang Multimedia, Kampus Tuguran. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari konsorsium internasional yang didanai oleh Erasmus+ Uni Eropa dan melibatkan tujuh universitas di Indonesia serta empat mitra dari Eropa.

FIND4S berfokus pada pengembangan dan peningkatan kurikulum studi Teknologi Pangan agar lebih adaptif terhadap tantangan global, terutama dalam bidang inovasi pangan berkelanjutan. Dalam kesempatan ini hadir perwakilan dari universitas luar negeri di Eropa, yakni Prof. Jan Van Impe, Monika Polanska, Ph.D., dan Satyajeet Bhonsale, Ph.D. (KU Leuven, Belgia), Prof. Jean Titze (Anhalt University of Applied Science, Jerman), Prof. Rui Morais dan Prof. Alcina Morais (Catholic University of Portugal), serta Dr. Rajat Nag (University College Dublin, Irlandia).

Dosen Program Studi Teknologi Pangan Universitas Tidar sekaligus Kepala Laboratorium Gizi, Teknologi Pangan dan Farmasi, Muhammad Iqbal Fanani Gunawan, S.T.P., M.Si. menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara universitas-universitas di Indonesia dengan mitra Eropa dalam rangka penguatan kurikulum.

“FIND4S ini merupakan kegiatan konsorsium yang kami ajukan bersama Undip sebagai koordinator Indonesia ke Erasmus+. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas kurikulum teknologi pangan di Indonesia melalui kolaborasi dengan universitas-universitas Eropa,” jelasnya.

Iqbal menambahkan bahwa program FIND4S akan berjalan hingga tahun 2027 dan menjadi tonggak penting bagi Untidar karena ini merupakan kali pertama Untidar mendapatkan pendanaan dari Erasmus+. Selain sesi diskusi kurikulum, kegiatan di Untidar juga diisi dengan pemaparan kuliah umum dari perwakilan universitas Eropa yang hadir.

“Saya harapkan FIND4S ini bisa memberikan manfaat dan dampak yang baik bagi program Teknologi Pangan. Semoga dosen-dosen Universitas Tidar semakin semangat mencari pendanaan dan memperluas kerjasama, agar bisa memiliki lebih banyak jejaring dengan universitas luar negeri. Sebenarnya, peluang program kolaborasi dan pendanaan internasional itu banyak sekali, tinggal bagaimana kita aktif menjangkau dan memanfaatkannya.” Pungkasnya.

Melalui kolaborasi ini, Universitas Tidar berharap dapat memperkuat jejaring internasional, meningkatkan kapasitas dosen dan mahasiswa, serta memperluas peluang kerja sama global di bidang pendidikan dan penelitian, khususnya dalam pengembangan inovasi pangan berkelanjutan.

Penulis: Aghna 

Editor: Danu 

Universitas Tidar Anugerahkan Penghargaan Pemustaka Teraktif,Apresiasi dan Dorong Semangat Literasi

Magelang – Perpustakaan Universitas Tidar anugerahkan penghargaan kepada 39 pemustaka terpilih yang secara aktif berkunjung dan meminjam buku, baik secara fisik maupun daring melalui iUntidar. Penganugerahan penghargaan tersebut dilaksanakan berdampingan dengan Workshop Akses Jurnal Internasional Wiley di Gedung Kuliah Umum dr. H.R. Suparsono, Kampus Tuguran, Senin (06/10).

Apresiasi tersebut merupakan langkah strategis Perpustakaan Untidar dalam mendorong ekosistem pembelajaran yang berkelanjutan, terlebih dii tengah transformasi perpustakaan sebagai pusat pembelajaran, literasi, dan informasi. “Partisipasi aktif pemustaka menjadi tolak ukur keberhasilan layanan perpustakaan,” sebut Ginanjar Kurniawan, salah  satu pustakawan Perpustakaan Untidar. Ginanjar menambahkan pemustaka yang aktif memanfaatkan fasilitas perpustakaan tidak hanya menunjukkan minat dan semangat belajar yang tinggi, tetapi juga turut mendukung budaya akademik yang berorientasi pada literasi informasi.

Penghargaan Pemustakan Teraktif ini sekaligus menjadi  wujud nyata dari komitmen UPA Perpustakaan Untidar. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya tahun ini sebagai tahun kedua penganugerahan penghargaan  Pemustaka Teraktif. 

Penghargaan ini terbagi dalam tiga kategori, yaitu: mahasiswa, tenaga kependidikan, dan tenaga pendidik. Tahun 2025 ini tterdiri dari 24 mahasiswa, 4 tenaga kependidikan, dan 11 tenaga pendidik.

Berikut daftar penerima penghargaan :

Pemustaka Teraktif Universitas Tidar

  1. Kategori Mahasiswa
  2. Anisa Zulfatul Janah, prodi S1 Agroteknologi
  3. Aulia Salwa Azizah, prodi S1 Teknik Elektro
  4. Ananda Putri Haryanti, prodi S1 Ilmu Administrasi Negara
  5. Niken Puji Rahayu, prodi S1 Akuntansi
  6. Muhammad Bagus Septiawiguna, prodi S1 Agroteknologi
  7. Erie Anggita, prodi S1 Peternakan
  8. Alia Nurul Hidayah, prodi S1 Pendidikan Matematika
  9. Farida Melladewi, prodi S1 Agribisnis
  10. Nasatifah, prodi S1 Agribisnis
  11. Aura Zulia Dwi Rahmawati, prodi S1 Ekonomi Pembangunan
  12. Netti Christina Pardosi, prodi S1 Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia
  13. Vely Kamahayani, prodi S1 Akuntansi
  14. Auliyana Chusna Afida, prodi S1 Ekonomi Pembangunan
  15. Nurul Tri Inayah, prodi S1 Manajemen
  16. Afifah Hanifah, prodi S1 Manajemen
  17. Nur Fitrianingsih, prodi S1 Agroteknologi
  18. Norifah Fuji Lestari, prodi S1 Ilmu Komunikasi
  19. Nurul Atiqa, prodi S1 Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia
  20. Arengga Melati Swandari, prodi S1 Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia
  21. Syabrina Eka Nur Oktafiani, prodi S1 Agribisnis
  22. Nastiti Lestari, prodi S1 Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia
  23. Aditya Arif Pratama, prodi S1 Hukum
  24. Muhamad Arya Brahma Putra, prodi S1 Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia
  25. Dias Lucky Ardiansyah, prodi S1 Teknik Sipil    

Kategori Tenaga Kependidikan

  1. Pipi Garnita, Subbagian Tata Usaha dan Barang Milik Negara, Bagian Umum, BPKU
  2. Agustinus Ambang Purnomo, Bagian Akademik, BAKK
  3. Sarwindyah Dwi Purningsih, Subbagian Tata Usaha dan Barang Milik Negara, Bagian Umum, BPKU
  4. Ayu Nur Annisa Ramadhani, Fakultas Pertanian                                             

Kategori Dosen

  1. Risky Via Yuliantari, dosen S1 Teknik Elektro
  2. Rahayu Wulan, dosen S1 Teknologi Pangan
  3. Sri Wulandari, dosen S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
  4. Agung Purnomo, dosen S1 Teknik Mesin
  5. Fauziah Eka Permadani, dosen S1 Ekonomi Pembangunan
  6. Lina Samhina, dosen S1 Agribisnis
  7. Ratna Suminar, dosen S1 Agroteknologi
  8. Bina Arumbinang Wajdi, dosen S1 Teknik Sipil
  9. Aditya Kumala Dewi, dosen S1 Ekonomi Pembangunan
  10. Ibda Fikrina Abda, dosen S1 Ilmu Komunikasi
  11. Sri Mulyani, dosen S1 Ilmu Administrasi Negara                    

Masing-masing penerima penghargaan mendapatkan lima bentuk apresiasi, yaitu: Plakat ucapan terima kasih, Sertifikat yang memuat data statistik aktivitas pemustaka, Kaos dengan pesan motivasi untuk membudayakan berpikir, Botol tumbler bertuliskan quote kekinian, dan selempang. Berkesempatan dalam acara tersebut, Kepala Perpustakaan Untidar, Dr. Drs. Hari Wahyono, M.Pd.  menyematkan selempang pemustaka teraktif secara langsung.  Penyematan selempang tersebut sekaligus menjadi simbol dukungan dari Perpustakaan Untidar untuk terus berliterasi dan menginspirasi.

Sementara itu, rekor pemustaka teraktif tercatat pada pemustaka yang membaca selama 18,6 jam melalui aplikasi iUntidar, dengan total 166 ebook terbaca, termasuk 23 ebook yang dipinjam. Sementara itu, pemustaka dengan rekor peminjaman terbanyak berhasil meminjam hingga 83 eksemplar buku, serta melakukan 188 kali kunjungan fisik ke gedung perpustakaan selama periode penilaian.

Penulis: Ginanjar Kurniawan

Editor: Yasmin

Workshop Akses Dan Submit Artikel Database Jurnal Internasional WileyMenuju Peningkatan Kualitas Publikasi Ilmiah Dosen

Magelang — Dalam rangka meningkatkan kapasitas  sumber referensi ilmiah bereputasi, sekaligus mendorong peningkatan publikasi pada jurnal internasional, Perpustakaan Untidar selenggarakan kegiatan workshop bertajuk “Akses dan Submit Artikel Database Jurnal Internasional Wiley”. Diselenggarakan di Gedung Kuliah Umum dr. H.R. Suparsono, Senin (06/10), workshop ini menghadirkan 2 narasumber ternama, yakni Dwi Janto Suandaru, Marketing Manager PT. Jasaraya Tama Jaya Buana dan Dr. Evi Widowati, S.KM., M.Kes, Kepala Pusat Pengembangan Jurnal dan Publikasi LPPM Universitas Negeri Semarang.

Dwi Janto merupakan perwakilan dari Wiley yang  membawakan materi mengenai cara efektif mengakses database jurnal Wiley. Sementara itu, Dr. Evi sebagai akademisi profesional membagikan pengalaman serta strateginya dalam menyusun serta mengirim artikel agar lolos terbit di jurnal-jurnal Wiley.

Sebagai moderator yang memandu diskusi dalam acara ini adalah Dr. Phil. Arif Budy Pratama, MPA., dosen Universitas Tidar dan penulis aktif di berbagai jurnal internasional, salah satunya Wiley.

Kepala Perpustakaan Untidar, Dr. Drs. Hari Wahyono, M.Pd. menyebut workshop ini lengkap karena menghadirkan 2 orang yang sama-sama terhubung dengan Wiley. “Tentunya ini penting juga, khususnya untuk memperluas kemudahan akses dan publikasi di Universitas Tidar ini,” lanjutnya.

Melalui workshop ini juga, diharapkan dapat menjadi momentum penting dalam mendukung upaya institusi untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah dosen pada jurnal internasional terindeks, sejalan dengan visi penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Khususnya, apabila ada dosen yang telah aktif menulis di Wiley atau jurnal internasional lainnya,  nantinya para mahasiswa juga akan aktif mencari referensi di jurnal internasional yang telah disediakan oleh UPA Perpustakaan,” imbuh Hari.

Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan dosen dari setiap program studi dengan tujuan memberikan pemahaman praktis mengenai pemanfaatan database jurnal dari penerbit Wiley, serta langkah-langkah strategis dalam proses submission artikel ilmiah ke jurnal-jurnal yang dikelola oleh Wiley. Tak hanya itu, sekelompok mahasiswa Untidar peraih penghargaan duta perpustakaan dan pemustaka teraktif pun turut serta mengikuti workshop ini.

Ibda Fikrina Abda, S.I.P., M.I.Kom., dosen Ilmu Komunikasi yang hadir sebagai peserta mengatakan kegiatan ini sangat bermanfaat bagi dosen yang memang sedang ditugaskan untuk penelitian dan juga bisa terbit artikel di jurnal internasional. “Apalagi pemateri juga memberikan saran, tips supaya artikel penelitian kami bisa tembus di Scopus. Terkait Wiley, kami juga akhirnya mempunyai akses jurnal internasional  yang artinya, baik mahasiswa maupun dosen, bisa memiliki referensi yang bagus, yang baik dan juga terindeks internasional,” ujarnya.

Wiley sendiri merupakan salah satu penerbit akademik terkemuka di dunia yang telah berdiri sejak tahun 1807. Dengan lebih dari 2.000 jurnal ilmiah yang mencakup berbagai disiplin ilmu—mulai dari ilmu kesehatan, sains dan teknologi, hingga ilmu sosial dan humaniora—Wiley menjadi rujukan penting bagi akademisi dan peneliti di seluruh dunia. Selain menyediakan akses ke jurnal-jurnal berkualitas tinggi, Wiley juga dikenal dengan proses editorial yang ketat dan reputasi internasional yang sangat baik.

Keunggulan lain dari Wiley terletak pada komitmennya dalam mendukung peneliti global, termasuk dari negara berkembang, untuk dapat berkontribusi dalam publikasi ilmiah bereputasi. Wiley menyediakan berbagai panduan dan dukungan teknis dalam proses submission, serta membuka peluang publikasi terbuka (open access) guna memperluas dampak penelitian. Dengan demikian, memahami cara mengakses dan memanfaatkan platform Wiley menjadi keterampilan penting bagi dosen dan peneliti.

Penulis: Ginanjar Kurniawan

Editor: Yasmin

MTQMN XVIII Adalah Wahana Pembinaan Karakter dan Spiritual Mahasiswa

Banjarbaru – Musabaqah Tilawatil Quran Mahasiswa Nasional (MTQMN) XVIII Tahun 2025 resmi dibuka oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek di Auditorium Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (6/10) siang.

Acara yang digelar dengan khidmat tersebut menandai dimulainya ajang kompetisi nasional bergengsi yang mempertemukan mahasiswa terbaik dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia dalam semangat Qur’ani dan kebangsaan.

Pembukaan ini dihadiri juga oleh Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, jajaran pimpinan daerah, para rektor, dewan hakim, tokoh masyarakat, serta peserta dari seluruh wilayah Indonesia. 

Acara diawali dengan penampilan defile peserta, di mana perwakilan setiap perguruan tinggi membawa bendera institusinya sebagai simbol persaudaraan dan keberagaman dalam bingkai nilai-nilai Islam dan kebangsaan.

Dalam sambutannya, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi menyampaikan apresiasi tinggi kepada Universitas Lambung Mangkurat selaku tuan rumah, serta seluruh pihak yang telah mendukung suksesnya penyelenggaraan MTQMN XVIII.

“Kami menyampaikan penghargaan kepada Universitas Lambung Mangkurat sebagai tuan rumah, kepada Dewan Hakim, panitia, LLDIKTI, pemerintah daerah, serta seluruh perguruan tinggi peserta yang telah menyiapkan diri dengan semangat luar biasa,” ujar Dirjen Dikti.

Dirjen Khairul menegaskan bahwa MTQMN bukan sekadar ajang perlombaan membaca, menulis, atau menghafal Al-Qur’an, melainkan wahana pembinaan karakter, spiritualitas, integritas, dan jiwa kebangsaan mahasiswa Indonesia.

Tema kegiatan tahun ini, “MTQMN sebagai Penguat Karakter Qurani Mahasiswa yang Berdampak menuju Indonesia Emas,” menggambarkan peran strategis MTQMN dalam menyelaraskan pendidikan tinggi dengan pembangunan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia 2045.

“Mahasiswa yang hadir di Banjarmasin ini merupakan hasil seleksi dari ribuan peserta di seluruh Indonesia. Mereka bukan hanya para penghafal dan pembaca Al-Qur’an terbaik, tetapi juga generasi muda yang membawa misi keilmuan dan moral Qur’ani di lingkungan kampus,” jelas Dirjen Dikti.

Rektor Universitas Lambung Mangkurat, Ahmad Alim Bachri, turut menyampaikan harapannya agar ajang MTQMN XVIII tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang untuk memperkuat nilai kebersamaan.

“Kami percaya, MTQMN adalah wadah untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan persatuan bangsa, sekaligus melahirkan karya serta inovasi mahasiswa yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya menjunjung sportivitas, kejujuran, dan akhlak mulia selama berlangsungnya kompetisi, serta mendorong mahasiswa untuk menginternalisasi nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman hidup di kampus dan masyarakat.

Lebih lanjut, Dirjen Dikti menegaskan komitmen Kemdiktisaintek dalam mendukung program pembentukan karakter berbasis nilai agama di perguruan tinggi. Menurutnya, pendidikan tinggi harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual, etika, dan kepedulian sosial.

“Penguatan sinergi antara pendidikan tinggi, kebijakan nasional, dan nilai-nilai keagamaan adalah kunci untuk melahirkan insan berilmu, beriman, dan berintegritas,” tegasnya.

Dirjen Dikti juga berharap pelaksanaan MTQMN XVIII dapat menjadi momentum untuk menebarkan nilai-nilai Qur’ani ke masyarakat melalui mahasiswa sebagai agen perubahan.

“Kami yakin, MTQMN XVIII akan melahirkan para juara yang tidak hanya unggul dalam bacaan dan hafalan, tetapi juga menjadi agen transformasi karakter Qur’ani di kampus dan masyarakat,” pungkas Dirjen Dikti.

Tahun ini, sebanyak 1.500 mahasiswa dari 194 perguruan tinggi di seluruh Indonesia berpartisipasi dalam 15 cabang musabaqah, di antaranya Tilawatil Quran, Tartil Quran, Hifzhil Quran (10, 20, dan 30 juz), Qiraat Sab’ah, Khathil Quran (kaligrafi) Dekorasi dan Kontemporer, Fahmil Quran, Syarhil Quran, Karya Tulis Ilmiah Kandungan Al Quran, Debat Ilmiah Kandungan Al Quran (Bahasa Arab dan Bahasa Inggris), Desain Aplikasi Komputer Al Quran, serta Pembacaan Kitab Maulid Nabi Muhammad SAW.

Selain perlombaan utama, MTQMN XVIII 2025 juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan pendukung pada 6–9 Oktober 2025, seperti Tabligh Akbar bersama Ustad Das’ad Latif, Sarasehan Pimpinan Kemahasiswaan bertema “Kolaborasi Perguruan Tinggi untuk Penguatan MTQ Mahasiswa Nasional”, serta Seminar Nasional “Generasi Quran, Generasi Emas: Menginspirasi Gen Z Menuju Indonesia 2045.”

Penutupan akan digelar pada Kamis (9/10/2025) di Auditorium ULM Banjarbaru dengan pengumuman pemenang dan penyerahan piala bergilir juara umum.