Mendiktisaintek Terbitkan Peraturan yang Menjamin Karier dan Penghasilan Dosen

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menandatangani Peraturan Menteri Nomor 52 Tahun 2025 tentang Profesi, Karier, dan Penghasilan Dosen. Peraturan ini menjadi kado akhir tahun yang telah lama dinantikan oleh para dosen di seluruh Indonesia.

Permen 52 Tahun 2025 merupakan penyempurnaan dan penguatan dari pengaturan sebelumnya terkait dosen. Regulasi ini mengonsolidasikan praktik-praktik baik yang telah berjalan, sekaligus menghadirkan pembaruan untuk menjawab dinamika pendidikan tinggi yang semakin kompleks dan kompetitif. “Peraturan ini menyatukan dan memperkuat kebijakan dosen agar lebih jelas, adil, dan berkelanjutan,” ujar Mendiktisaintek Brian Yuliarto.

Peraturan ini juga memberikan kepastian hukum atas profesi, karier, dan penghasilan dosen dalam satu kerangka kebijakan yang terpadu. Dengan kepastian tersebut, dosen diharapkan dapat lebih fokus menjalankan tridharma perguruan tinggi tanpa terganggu persoalan administratif.

Penguatan Kompetensi dan Kualitas Dosen

Permen 52 Tahun 2025 menegaskan empat kompetensi utama dosen—pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional—sebagai fondasi peningkatan mutu pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. “Peningkatan kesejahteraan dosen harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas dan profesionalismenya,” tegas Brian.

Pengaturan sertifikasi dosen diperjelas dengan kriteria yang lebih terukur dan transparan. Sertifikasi diposisikan sebagai instrumen penjaminan mutu dan pengakuan profesional dosen.

Selain itu, pengembangan dan promosi karier dosen diatur secara lebih sistematis dan berkelanjutan, mencakup dosen PNS maupun dosen Non-ASN, dengan prinsip keadilan dan berbasis kinerja.

Profesor Emeritus, Diaspora, dan Jejaring Global

Permen ini secara eksplisit mengatur peran Profesor Emeritus sebagai aset keilmuan nasional yang tetap dapat berkontribusi pascapurnatugas. Selain itu, regulasi ini membuka ruang yang lebih luas bagi keterlibatan akademisi diaspora dan pengakuan pengalaman internasional dalam pengembangan karier dosen.

Delegasi Kewenangan

Sebagai bagian dari reformasi tata kelola, Permen 52 Tahun 2025 mengatur pendelegasian kewenangan pengangkatan jabatan fungsional dosen kepada LLDIKTI dan PTNBH tertentu yang telah memenuhi persyaratan. Kebijakan ini bertujuan mempercepat layanan, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat otonomi perguruan tinggi.

“Delegasi kewenangan ini mempercepat layanan sekaligus memperkuat tata kelola dan otonomi perguruan tinggi,” ujar Menteri Brian.

Penutup

Permen 52 Tahun 2025 mengatur penghasilan dosen secara lebih jelas dan berkeadilan. Selain gaji pokok dan tunjangan melekat, dosen juga berhak memperoleh tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, tunjangan kehormatan, serta maslahat tambahan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dengan ditandatanganinya Peraturan Menteri ini, pengelolaan profesi, karier, dan penghasilan dosen memasuki fase baru yang lebih tertata, inklusif, dan berkelanjutan. Kebijakan ini diharapkan membawa angin segar bagi dosen, sekaligus mendorong kehidupan kampus yang semakin bermutu dan berdampak.

Dengan ditetapkannya Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 52 Tahun 2025, maka Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 44 Tahun 2024 tentang Profesi, Karier, dan Penghasilan Dosen dinyatakan dicabut dan tidak berlaku.

Untidar Integratif: Perkuat Disiplin ASN dan Digitalisasi Penilaian Kinerja

Magelang – Universitas Tidar (Untidar) melaksanakan sosialisasi disiplin dan pengelolaan aplikasi penilaian kerja dalam rangka penguatan manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Untidar. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Kuliah Umum (GKU) dr. H. R. Suparsono, Kampus Tuguran, pada Senin (23/12).

Kegiatan sosialisasi ini menghadirkan narasumber dari Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia (OSDM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), yakni Adi Sulistyo, S.H., M.H. selaku Ketua Tim Disiplin, Pensiun, dan Penghargaan; Tetya Dwiamaneva Desyamria, S.H. selaku Anggota Tim Disiplin, Pensiun, dan Penghargaan; Fadhly, S.Kom. selaku Ketua Tim Sistem Informasi dan Kinerja; serta Rifky Zulfikar, S.Kom. selaku Anggota Tim Sistem Informasi dan Kinerja.

Dalam laporan kegiatan, Plt. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum, Dr. Astuty, M.Pd., melaporkan bahwa sosialisasi ini diikuti oleh sebanyak ratusan peserta yang terdiri atas pegawai, dosen, tenaga kependidikan, serta ASN di lingkungan UntidarIa menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai bagian dari transformasi tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik di perguruan tinggi.

“Saya melaporkan hal-hal terkait dengan kegiatan ini, dihadiri sebanyak 643 orang terdiri atas pegawai, dosen, tenaga kependidikan, dan tenaga non ASN. Jadi tidak ada pegawai yang ketinggalan untuk ikut serta dalam sosialisasi ini, yang tentu kita perlukan dan sangat penting untuk pendukung pelayanan.” Jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa penerapan sistem penilaian kinerja berbasis digital menjadi langkah strategis untuk meningkatkan efektivitas dan akurasi penilaian kinerja ASN.

“Selama ini e-SKP masih dilakukan secara manual. Mudah-mudahan dengan e-SKP digital ini menjadi lebih mudah, lebih pintar, dan lebih terintegrasi dalam mendukung kinerja dosen dan tenaga kependidikan,” lanjutnya.

Sementara itu, Rektor Untidar, Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan momentum refleksi bersama bagi seluruh ASN Untidar dalam memahami kembali hakikat sebagai abdi negara.

“Ini suatu kesempatan yang baik bagi kita semuanya sebagai seorang abdi negara yang berada di institusi Universitas Tidar. Mungkin memang harus sering-sering diingatkan karena warna manusia memang suka berubah,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa disiplin dan kepatuhan terhadap aturan merupakan bagian penting dalam menjalankan tugas sebagai ASN, sekaligus bentuk tanggung jawab moral kepada institusi dan masyarakat.

“Kalau memang salah jangan diberi pembenaran, kalau yang baik jangan lupa diberi penghargaan. Ada ketentuan jam kerja, ada ketentuan produktivitas, dan semua itu harus kita patuhi,” tegasnya.

Kegiatan sosialisasi dilanjutkan dengan pemaparan materi disiplin ASN (PNS dan PPPK) oleh Tim Disiplin ASN Biro OSDM Kemendiktisaintek, serta sosialisasi DiktiHR dan e-SKP oleh Tim Sistem Informasi dan Kinerja ASN Biro OSDM Kemendiktisaintek. Materi mencakup ketentuan disiplin, mekanisme penilaian kinerja, serta pentingnya integrasi data dalam sistem digital.

Melalui kegiatan ini, Untidar meneguhkan komitmen integratif dalam membangun manajemen ASN yang profesional, taat aturan, dan berbasis sistem digital guna mendukung tata kelola universitas yang akuntabel dan berkelanjutan.

Penulis: Aghna Nur Shabrina

Editor: Danu Wiratmoko

Untidar Aktif Sambut Kunjungan Edukatif SMA Negeri 1 Banguntapan

Magelang – Universitas Tidar (Untidar) menerima kunjungan dari SMA Negeri 1 Banguntapan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Sebanyak 250 siswa dan guru pendamping hadir dalam kunjungan edukatif yang dilaksanakan di Gedung Kuliah Umum dr. H.R. Suparsono, Kampus Tuguran, Senin (22/12).

Hadir mewakili Untidar, Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (BAKK), Drs. Giri Atmoko, M.Si; Kepala Bidang Kemahasiswaan, Wahyu Andriyanto, S.A.P; Ketua Tim Kerja Bidang Humas, Danu Wiratmoko; Ketua Tim Kerja Bidang Kerja Sama, Laila Alfizanna, MCC; dan Staff Humas Untidar.

Dalam sambutannya, Kepala BAKK menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Untidar serta berharap kunjungan tersebut dapat memberikan manfaat bersama.

“Selamat datang, semoga kunjungan hari ini memberikan manfaat bagi kita semua. Kami berterima kasih karena sudah mendapatkan kepercayaan. Dari kunjungan ini tentunya banyak keuntungan dan manfaatnya.” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa meskipun Untidar tergolong sebagai perguruan tinggi yang masih berkembang, capaian prestasi non akademik terus menunjukkan peningkatan.

“Untidar ini masih baru berkembang, tentunya berkembang sangat pesat sekali, walaupun masih tergolong baru, namun prestasi-prestasi dari bidang kemahasiswaan cukup berkembang pesat, dan sudah terakreditasi unggul,” tambahnya.

Plh. Kepala SMA Negeri 1 Banguntapan, Sutrisna, S.Sos., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya kunjungan ke Untidar yang bertepatan dengan momentum istimewa Hari Ibu, seraya berharap kegiatan ini menjadi awal perjalanan baik bagi para siswa dalam mengenal dunia perguruan tinggi.

“Alhamdulillah, hari ini kita dapat melaksanakan kunjungan ke Untidar pada tanggal 22 Desember yang bertepatan dengan Hari Ibu. Semoga kegiatan di hari yang bersejarah ini menjadi momentum yang baik dan membawa manfaat bagi anak-anak kami dalam menyiapkan masa depan pendidikannya,” ungkapnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan plakat oleh masing-masing secara simbolis.

Sesi materi dibawakan oleh Kepala Bagian Akademik, Wahyu Andriyanto, S.A.P., yang memaparkan materi terkait pengenalan Universitas Tidar, mulai dari pilihan program studi, fasilitas kampus, hingga capaian-capaian prestasi Universitas Tidar dan beasiswa untuk menunjang kesempatan siswa untuk melanjutkan studi di Untidar.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif dan antusias, mencerminkan ketertarikan tinggi para siswa terhadap informasi dunia perguruan tinggi dan Untidar.

Salah satu peserta, Rajendra Elnakhlah Ifthah Muhammad memberikan kesan positif setelah mengikuti kegiatan. “Saya jadi lebih mengenal Untidar. Dan untuk universitasnya juga bukan universitas biasa, itu banyak program studi unggulan, banyak peminatnya dan bagus lah.” Pungkasnya.

Penulis: Aghna Nur Shabrina

Editor: Danu Wiratmoko

 

Kemdiktisaintek Tegaskan Komitmen Akuntabilitas melalui Kontrak Kinerja Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama

Jakarta—Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melaksanakan Penandatanganan Kontrak Kinerja untuk Pejabat Pimpinan Tinggi Madya, dan Pratama (Eselon I dan II) di lingkungan Kemdiktisaintek. Penandatanganan ini dilaksanakan di Grha Kemdiktisaintek, Senin (22/12).

Penandatanganan kontrak kinerja ini merupakan instrumen strategis untuk memastikan keterhubungan antara perencanaan, pelaksanaan, dan capaian kinerja dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi, riset, serta sains dan teknologi yang berdampak bagi masyarakat.

Dalam arahannya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menyatakan bahwa kontrak kinerja bukan sekadar dokumen administratif, melainkan pernyataan komitmen kepemimpinan atas amanah yang diberikan negara.

“Penandatanganan kontrak kinerja yang kita lakukan hari ini adalah suatu bentuk pernyataan komitmen kepemimpinan, bahwa setiap target yang kita tetapkan bersama akan kita perjuangkan dengan sungguh-sungguh dan setiap amanah yang diberikan akan dipertanggungjawabkan secara profesional dan berintegritas,” tegas Menteri Brian. 

Mendiktisaintek menekankan, tingginya perhatian publik terhadap kinerja pemerintahan menuntut seluruh jajaran untuk bekerja lebih disiplin, terukur, dan berorientasi pada hasil nyata. Para pejabat diingatkan agar aktivitas, program, dan kebijakan kementerian benar-benar dirasakan manfaatnya oleh para pemangku kepentingan.

“Kinerja bukan soal banyaknya kegiatan, tetapi kualitas hasil dan kebermanfaatannya. Bukan penyerapan anggaran, tetapi seberapa tepat anggaran tersebut digunakan untuk menghasilkan perubahan dan dampak yang dirasakan oleh seluruh insan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi, yakni perguruan tinggi, dosen, mahasiswa, peneliti, hingga masyarakat luas,” ujar Menteri Brian.

Penandatanganan Kontrak Kinerja Eselon I dilakukan langsung oleh Mendiktisaintek. Sementara itu, Penandatanganan Kontrak Kinerja Eselon II dilakukan antara pejabat Eselon II dengan pejabat Eselon I. Penandatanganan dilakukan secara berurutan, dimulai dari seluruh pejabat Eselon II di lingkungan Sekretariat Jenderal dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah I-XVII, Inspektorat Jenderal, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, hingga Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi.

Menteri Brian juga mendorong penguatan tata kelola layanan publik yang transparan dan terukur, termasuk melalui mekanisme umpan balik, agar layanan Kemdiktisaintek semakin responsif terhadap kebutuhan kampus, dosen, peneliti, dan mitra industri.

“Kontrak kinerja ini adalah alat kendali dan alat ukur kepemimpinan. Keberhasilan kita akan dilihat dari seberapa besar proses perbaikan yang benar-benar terjadi di lingkungan kerja kita, serta seberapa baik layanan kita dirasakan oleh para pengguna,” pungkas Menteri Brian.

Melalui penandatanganan kontrak kinerja ini, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya untuk membangun kementerian yang bekerja dengan arah yang jelas, disiplin tinggi, berintegritas, dan memberikan layanan prima sebagai fondasi penguatan ekosistem pendidikan tinggi, sains, dan teknologi nasional.

Tangguh, Untidar Rebut Lagi 1 Penghargaan Anugerah Diktisaintek Untuk Menutup Tahun 2025

Meskipun tidak merajai,Untidar konsisten mendapatkan penghargaan di ajang Anugerah Diktisaintek 5 tahun belakangan. Tim Kerja Bidang Humas kembali mempersembahkan piala Bronze Winner Kategori PTN BLU, subkategori Laman tahun 2025. Acara ini digelar di Gedung D Kemendiktisaintek, Jakarta, Jumat siang (19/12).

Ketua Tim Kerja Bidang Humas, Danu Wiratmoko, menyampaikan Untidar sebagai PTN yang relatif muda dan kecil telah mampu bersaing dengan PTN BLU lain yang secara infrastruktur dan organisasi lebih mapan. “Jika bukan karena kerja keras dan sinergi antar stake holders dan dukungan pimpinan, mustahil capaian ini dapat terwujud,” katanya.

Penghargaan ini bukan tujuan utama. Namun kompetisi ini menjadi tolok ukur standar kualitas pelayanan kehumasan di Untidar. “Kami berkomitmen menyampaikan informasi secara cepat, transparan, dan akuntabel. Tentu dengan menyesuaikan kebutuhan pengguna, termasuk dengan memperhatikan selera dan tren yang ada.” imbuhnya.

Danu menyebut, keseriusan Untidar dalam hal ini ditunjukkan dengan menambah SDM di tiap unit dan lembaga yang bertugas membuat liputan, menulis artikel, hingga mengunggahnya dalam laman masing-masing. Selain itu, mereka diberi insentif sesuai kinerja. “Jangan sampai kami kehilangan momentum untuk informasikan setiap aktivitas yang ada. Ini bentuk pertangungjawaban kami dalam menggunakan anggaran negara,” sebutnya.

Sementara itu, seusai menerima penghargaan, Rektor Untidar, Prof. Dr. Sugiyarto,M.Si. menyampaikan apresiasinya atas capaian ini. Ia berharap tim humas beserta elemennya dapat terus memberikan yang terbaik untuk seluruh sivitas dan masyarakat. “Tunjukkan,bahwa meskipun kita PTN kecil dan baru, kita mampu memberikan hal besar untuk kemajuan bangsa.” terangnya.

Prof. Sugiyarto berharap, capaian ini dapat diikuti pula oleh tim kerja atau bidang lain di Untidar. “Bukan soal menang kalahnya, tetapi semangat untuk siap berkompetisi sehingga memicu pola kerja yang efektif efisien dapat tercapai. Saya percaya, teman-teman bisa. Untidar tangguh.” pungkasnya.

 

Penulis : Danu Wiratmoko

Mendiktisaintek: Sains dan Teknologi Harus Menjawab Persoalan Nyata Masyarakat

Jakarta-Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menegaskan pengembangan sains dan teknologi di Indonesia harus bergeser dari sekadar pencapaian angka-angka menuju kebermanfaatan nyata bagi masyarakat. 

Hal ini disampaikan dalam acara “REPORTOAR 2025: Refleksi dan Arah Pengembangan Sains dan Teknologi” yang diselenggarakan di Graha Kemdiktisaintek, Sabtu (20/12).

Dalam arahannya, Menteri Brian menekankan melalui Program Semesta, kementerian ingin membangun paradigma baru dimana teknologi tidak lagi berjarak dari kehidupan sehari-hari.

“Sains tidak boleh eksklusif, teknologi harus dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan pengetahuan tidak boleh tumbuh meninggalkan masyarakat,” tegas Mendiktisaintek.

Selain itu, Mendiktisaintek juga menyoroti tantangan besar dalam hilirisasi riset, yaitu Death Valley atau “Lembah Kematian” inovasi. Menteri Brian mendorong agar prototipe hasil riset tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi bertransformasi menjadi produk komersial untuk menekan ketergantungan impor. 

Laporan Capaian: 137 Inovasi dan Peluncuran 100 Karya Terbaik

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek), Ahmad Najib Burhani melaporkan bahwa kolaborasi strategis antara Kemdiktisaintek, LPDP, dan Harian Kompas telah membuahkan hasil nyata.

Sebanyak 137 poster dan produk inovasi dari Program Semesta mencakup skema In Saintek, Tera Saintek, Resona Saintek, dan Berdikari dipamerkan sebagai bukti kedaulatan berpikir bangsa. 

Dirjen Najib juga menambahkan 100 karya terbaik dari program berdikari  akan dirangkum dalam sebuah buku yang akan diluncurkan agar lebih mudah diakses publik

“Seratus kisah yang tersaji dalam buku itu memperlihatkan bahwa sains dan teknologi tidak berdiri di luar masyarakat. Di situlah sains dan teknologi menemukan makna sosialnya, bukan sekadar sebagaisimbol kemajuan, tetapi sebagai motor penggerak yang memperkuat daya hidup, produktivitas, dan ketahanan masyarakat,” tutur Dirjen Najib.

Sementara itu, beberapa inovasi unggulan yang disoroti antara lain: 

  • Ecopeat-ATMI: Pemanfaatan sabut kelapa dari Politeknik ATMI Surakarta.
  • Otomatisasi Circular Farming: Inovasi berbasis IoT untuk lahan kering di NTT oleh Politeknik Negeri Kupang.
  • Teknologi Jagung Sen Organik: Solusi kesejahteraan bagi komunitas di Nifuboke oleh Politeknik Pertanian Negeri Kupang.
  • Pengolahan Limbah: Transformasi limbah pasar menjadi pakan ayam oleh Universitas Papua.

Ditjen Saintek juga memperkenalkan Suryakanta yang merupakan sebuah inisiatif baru untuk mengukur dampak perguruan tinggi.

“Melalui Suryakanta, kita ingin menggeser fokus kinerja dari yang tadinya hanya menghitung jumlah riset, menjadi mengukur seberapa besar manfaat riset tersebut bagi masyarakat luas,” jelas Dirjen Najib.

Acara REPORTOAR 2025 juga menghadirkan tokoh inovasi global,  Anil K. Gupta dari Honey Bee Network India, untuk berbagi pengalaman dalam membangun ekosistem teknologi berbasis komunitas.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

UNTIDAR TERIMA WALIKOTA AWARD 2025: MANIFESTASI NILAI-NILAI TIDAR

Untidar Terima Walikota Award 2025: Manifestasi Nilai-Nilai TIDAR

Penghujung tahun 2025 menjadi momen istimewa bagi Universitas Tidar. Perguruan tinggi negeri di Kota Magelang ini menerima Walikota Award 2025 sebagai Mitra Akademisi dalam skema kolaborasi Hexsahelix, sebagai bentuk apresiasi Pemerintah Kota Magelang atas kontribusi aktif Untidar dalam pemajuan pendidikan dan pembangunan daerah. Anugerah Walikota Award 2025 diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Magelang di Gedung Wanita, Kamis malam (18/12), sebagai bentuk pengakuan kepada mitra strategis yang secara konsisten berkolaborasi mendukung kemajuan Kota Magelang.

Rektor Untidar, Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si, menyampaikan apresiasinya atas inisiatif Wali Kota Magelang dalam memberikan penghargaan tersebut. Menurutnya, Walikota Award merupakan bentuk pengakuan Pemerintah Kota kepada seluruh mitra yang telah bersama-sama berkontribusi membangun kota.

“Saya mengapresiasi ide Wali Kota dalam memberikan penghargaan ini. Ini merupakan pengakuan Pemerintah Kota kepada seluruh mitra yang berkolaborasi untuk secara bersama-sama memajukan Kota Magelang,” ungkapnya.

Prof. Sugiyarto juga menyampaikan rasa terima kasih karena Untidar turut mendapatkan apresiasi atas perannya dalam mendukung pemajuan pendidikan di Kota Magelang.

“Kami berterima kasih karena Untidar diberikan apresiasi. Hal ini menunjukkan adanya kolaborasi yang baik dalam pemajuan bidang pendidikan di Kota Magelang,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia berharap penghargaan ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat kedekatan hubungan dan memperluas bentuk kerja sama antara Untidar dan Pemerintah Kota Magelang ke depan.

“Harapannya, setelah penghargaan ini, hubungan semakin erat dan kolaborasi semakin diperkuat. Tidak hanya terbatas pada satu wilayah atau program, tetapi dapat dikembangkan lebih luas, baik dalam skala kebijakan maupun implementasi langsung di lapangan,” jelasnya.

Penghargaan ini menjadi penegas komitmen Untidar, selaras dengan nilai-nilai TIDAR (Tangguh, Integratif, Dedikatif, Aktif, dan Responsif), untuk terus berperan sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam pembangunan sumber daya manusia, khususnya melalui sektor pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.

 

Penulis : Suryanti

Editor : Danu Wiratmoko

Anugerah Diktisaintek 2025: Apresiasi Kemdiktisaintek bagi Kontributor Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

Jakarta—Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) kembali memberikan penghargaan Anugerah Diktisaintek kepada sejumlah pemangku kepentingan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi,  di Graha Diktisaintek, Jumat (19/12)

Anugerah Diktisaintek tahun 2025 merupakan bentuk apresiasi kepada perguruan tinggi, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti), mitra dunia usaha dunia industri, institusi, media dan jurnalis, serta Insan Diktisaintek atas kontribusi nyata dalam peningkatan mutu pendidikan tinggi, riset, inovasi, serta tata kelola sains dan teknologi di Indonesia. 

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menyampaikan apresiasi kepada para penerima penghargaan atas capaian kinerja dan kontribusinya dalam mendukung kebijakan kementerian.

“Anugerah Diktisaintek merupakan suatu bentuk apresiasi pemerintah untuk Bapak/Ibu semua. Terima kasih atas kerja keras para pimpinan perguruan tinggi, LLDikti, dosen, peneliti, tenaga pendidik, mahasiswa, mitra, dan rekan media. Dengan caranya masing-masing, Bapak/Ibu semua berkontribusi signifikan untuk kemajuan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi di Indonesia,” ujar Menteri Brian.

Dalam era informasi yang berkembang pesat, Kemdiktisaintek melalui berbagai programnya terus mendorong kolaborasi yang erat antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri, media, dan masyarakat. 

Di tengah era disrupsi, di mana perubahan terjadi begitu cepat, riset dan inovasi bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan sebuah pilar daya saing bangsa. Mendiktisaintek menekankan pendidikan tinggi harus menjadi pabrik ide, tempat di mana rasa ingin tahu bertemu dengan kebutuhan nyata bangsa.

“Kepada para penerima anugerah hari ini, izinkan saya menitipkan pesan. Jangan pernah merasa selesai, jangan pernah merasa puas, teruslah berkontribusi. Jadikan penghargaan ini sebagai motivasi lebih agar bangsa ini dapat sejajar dengan bangsa-bangsa maju yang ada di dunia,” tegas Menteri Brian.

Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemdiktisaintek, Togar Simatupang menyebutkan pada tahun ini total penghargaan yang diberikan Kemdiktisaintek mencapai 572 penghargaan, dari 15 subkategori terdiri dari Anugerah Mitra Pendukung Diktisaintek; Anugerah Bidang Pengawasan; Anugerah Pendidikan Tinggi; Anugerah Sains dan Teknologi; Anugerah Riset dan Pengembangan; Anugerah Data dan Informasi; Anugerah Pembiayaan Pendidikan Tinggi; Anugerah Protokol; Anugerah Humas; Anugerah Kerja Sama; Anugerah Perencanaan; Anugerah Jurnalis dan Media; Anugerah Mitra Kerja Strategis Bidang Hukum; Anugerah Keuangan dan BMN; dan Pegawai Berprestasi. 

“Seluruh kategori penghargaan dalam Anugerah Diktisaintek 2025 telah melalui tahapan seleksi yang komprehensif, meliputi proses penjurian dan penarikan data untuk menilai kinerja perguruan tinggi, LLDikti, maupun para mitra dari kementerian/lembaga, dunia usaha, dan dunia industri yang memberikan dampak bagi masyarakat,” jelas Sesjen Togar. 

Melalui ajang tahunan ini, diharapkan penghargaan yang diberikan dapat menjadi dorongan dan motivasi untuk terus meningkatkan kinerjanya dalam mendukung pelaksanaan program dan kebijakan Diktisaintek Berdampak. Ke depan, Kemdiktisaintek akan terus memperkuat tata kelola program dan kebijakan melalui peningkatan harmonisasi regulasi, penguatan akuntabilitas, serta optimalisasi koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan. 

“Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat kualitas pelaksanaan program dan kebijakan Kemdiktisaintek secara menyeluruh, sehingga kontribusi seluruh pemangku kepentingan dapat semakin optimal dan berdaya guna dalam meningkatkan mutu ekosistem pendidikan tinggi, sains, dan teknologi di Indonesia,” imbuh Sesjen Togar. 

Penguatan Kontribusi Sivitas 

Para penerima anugerah menyampaikan kegiatan ini sebagai ruang refleksi sekaligus pemacu bagi perguruan tinggi dan pemangku kepentingan untuk terus memperkuat kontribusi nyata pendidikan tinggi bagi masyarakat.

“IPB mendapat 15 anugerah. Hal ini menunjukkan pengakuan terhadap kinerja IPB. Kami harap, kegiatan ini terus disempurnakan sejalan dengan visi Diktisaintek yang ingin seluruh kampus di Indonesia bisa berdampak,” kata Wakil Rektor Bidang Konektivitas Global, Kerja Sama, dan Alumni IPB, Iskandar Siregar.

Apresiasi serupa juga disampaikan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) yang melihat Anugerah Diktisaintek sebagai instrumen penguatan kualitas layanan dan akuntabilitas sistem pendidikan tinggi di daerah.

“Kami sangat bangga atas kerja keras tim kerja kami yang mendapat anugerah di kategori Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan di kategori Pelaporan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti),” jelas Kepala LLDikti Wilayah I Sumatra Utara, Saiful Anwar Matondang.

Sejalan dengan kegiatan ini, Kemdiktisaintek juga menyerahkan donasi untuk masyarakat terdampak bencana Sumatra, yang sebelumnya telah dihimpun melalui penggalangan donasi “Diktisaintek Peduli”. Hasil donasi diserahkan langsung oleh Mendiktisaintek, Brian Yuliarto kepada perwakilan dari Aceh yang diwakili oleh Universitas Syiah Kuala (USK), Sumatra Barat, diwakili oleh LLDikti Wilayah X, dan Sumatra Utara diwakili oleh Universitas Sumatera Utara (USU). Hingga saat ini, donasi melalui Diktisaintek Peduli terus dibuka.

Melalui gerakan ini, Kemdiktisaintek menguatkan komitmen untuk mengawal pemulihan pascabencana di Sumatra dengan pendekatan keilmuan, keahlian, dan kemanusian, kolaborasi dan sinergi antarkampus untuk mempercepat pemulihan dan rekonstruksi di wilayah terdampak.

 

Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

Kemdiktisaintek Luncurkan Cetak biru Inklusi Disabilitas di Perguruan Tinggi

Tangerang – Kampus yang inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas adalah sebuah keniscayaan dalam praktik rutin aktivitas di kampus. Komitmen ini ditegaskan kembali oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Diseminasi Metrik Inklusi Disabilitas, yang diselenggarakan pada Rabu (17/25) di Universitas Pradita, Tangerang. 

Diseminasi Metrik Inklusi Disabilitas adalah proses pemaparan data dan hasil pengukuran yang berkaitan dengan sejauh mana penyandang disabilitas diikut-sertakan dalam berbagai aspek aktivitas masyarakat, organisasi, atau program. Tujuan utamanya adalah mengomunikasikan temuan-temuan dalam metrik tersebut kepada pemangku kepentingan, guna meningkatkan kesadaran, mendorong akuntabilitas, dan menginformasikan tindakan untuk memperbaiki praktik inklusi. 

“Dikti memiliki moto untuk meningkatkan akses, mutu, relevansi, dan berdampak, dimana akses berarti memberikan kesempatan bagi semua pihak, termasuk juga penyandang disabilitas. Jadi kegiatan ini menjadi upaya untuk meningkatkan akses bagi mahasiswa penyandang disabilitas untuk meningkatkan pelayanan mahasiswa.” ujar Direktur Belmawa Beny Bandanadjaja.

Berdasarkan data Susenas (2018) hanya terdapat 2,8% penyandang disabilitas yang menyelesaikan pendidikan tinggi. Tidak dapat dimungkiri bahwa wacana kampus inklusif selama ini sering berhenti pada tataran normatif. Padahal, tantangan nyata di lapangan masih beragam. Mulai dari keterbatasan akses fisik, layanan akademik yang belum adaptif, hingga kebijakan kelembagaan yang belum sepenuhnya berpihak pada kebutuhan penyandang disabilitas. Karena itu diperlukan pendekatan yang lebih sistematis dan terukur.

Salah satu pendekatan tersebut adalah pengembangan Metrik Inklusi Disabilitas oleh Universitas Negeri Surabaya (UDIM). Instrumen ini dirancang sebagai alat ukur yang komprehensif untuk menilai sejauh mana perguruan tinggi telah mengimplementasikan prinsip inklusi disabilitas secara sistematis dan berkelanjutan.

Dalam paparannya, Budiyanto selaku salah satu inisiator UDIM menjelaskan bahwa inisiatif ini sejalan dengan komitmen nasional dan global dalam pelaksanaan UN-CRPD, sekaligus menjadi wujud implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2020 tentang Akomodasi yang Layak.

“UDIM dikembangkan atas kesadaran akan pentingnya aksesibilitas terhadap lingkungan fisik, sosial, ekonomi, dan budaya, serta akses terhadap kesehatan, pendidikan, informasi, dan komunikasi, sebagai prasyarat utama bagi penyandang disabilitas sebagai kebebasan fundamental. Oleh karena itu, diperlukan sebuah instrumen pengukuran yang bersifat universal dan objektif,” jelas Budiyanto.

Metrik Inklusi Disabilitas mencakup berbagai aspek strategis. Mulai dari kebijakan dan tata kelola kelembagaan, ketersediaan serta aksesibilitas sarana dan prasarana, layanan akademik dan nonakademik, kesiapan dan kapasitas sumber daya manusia, hingga pelaksanaan tridarma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, dengan perspektif inklusi.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Khairul Munadi, menegaskan inklusivitas bukan lagi pilihan melainkan keharusan bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

“Kampus adalah rumah bersama yang menjunjung prinsip kesetaraan. Untuk memastikan hal tersebut, mulai tahun 2026 seluruh perguruan tinggi di Indonesia diwajibkan menghadirkan lingkungan belajar yang ramah dan inklusif bagi penyandang disabilitas,” tegas Dirjen Dikti Khairul Munadi.

Ditambahkannya, kehadiran Metrik Inklusi Disabilitas menjadi instrumen penting untuk memastikan komitmen tersebut dapat dijalankan secara nyata dan terukur. Dengan metrik ini, perguruan tinggi diharapkan mampu memetakan kondisi eksisting, mengenali celah layanan, serta menyusun langkah strategis yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa dan sivitas akademika penyandang disabilitas.

Diseminasi ini juga menyajikan pemaparan dari Komisi Nasional Disabilitas (KND), serta tim pengembang Metrik Inklusi Disabilitas dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Keduanya menggaris-bawahi pentingnya cetak biru pemenuhan hak penyandang disabilitas. Termasuk konsep dan indikator metrik inklusi, hingga teknis pengisian dan pemanfaatan instrumen oleh perguruan tinggi. 

Cetak biru kampus inklusif berangkat dari arah kebijakan negara yang menempatkan pemenuhan hak penyandang disabilitas sebagai bagian integral dari sistem pendidikan. Melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, serta penguatan kebijakan melalui Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023 dan Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024. 

Juga selaras dengan komitmen Indonesia terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Tujuan 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan Tujuan 10 tentang Pengurangan Ketimpangan. Pendidikan tinggi yang inklusif diyakini menjadi fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berkeadilan.

Sebagai salah satu peserta, Dante Rigmalia, Ketua Komisi Nasional Disabilitas, memberikan apresiasinya kepada Kemdiktisaintek yang telah memberikan perhatian bagi Insan Dikti penyandang disabilitas.

“Kami sangat senang karena saat ini pemerintah, melalui Kemdiktisaintek, mulai meningkatkan perhatian di dalam peraturannya untuk meningkatkan pelayanan bagi penyandang disabilitas di perguruan tinggi,” ujar Dante Rigmalia.

Kegiatan diseminasi ini diikuti  perwakilan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Swasta (PTS), serta Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah I sampai dengan XVII dari seluruh Indonesia.

Untidar Klarifikasi Terkait Pendampingan Mahasiswa di Polres Magelang Kota

Magelang, 17 Desember 2025 — Pihak Untidar memberikan klarifikasi terkait kehadiran perwakilan kampus di Kepolisian Resor Magelang  Kota dalam rangka mendampingi 2 mahasiswa dan 1 alumni Untidar yang tengah menjalani proses hukum.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Prof . Dr. Parmin S.Pd., M.Pd., Dalam keterangannya menyampaikan bahwa pendampingan tersebut merupakan bentuk responsif tanggung jawabnya sebagai perwakilan Untidar dalam memastikan mahasiswa memperoleh hak-haknya selama proses hukum berlangsung. “Kehadiran kami di Polres semata-mata untuk menyapa, silaturhami, serta motivasi anak anak kami  dan  melakukan pendampingan (kepada mahasiswa yang bersangkutan -red.)” jelasnya.

Ia berpesan kedua mahasiswa  untuk bersabar serta ikuti proses yang ada di kepolisian. “Pihak Kampus tentu menghormati sepenuhnya proses hukum yang sedang berjalan. Akan tetapi kami berusaha penuh untuk mendiskusikan kepada teman-teman kami di bagian hukum beserta para pimpinan kami untuk hasil yang terbaik.” sambungnya. Upaya itu, bahkan tidak menutup kemungkinan jika rektorat bersedia menjadi penjamin atas penangguhan penahanan terhadap kedua mahasiswa.

Pihak kampus menambahkan bahwa pendampingan dilakukan dengan tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah serta akan kooperatif selama proses masih berlangsung. Sedangkan untuk saat ini para tersangka telah mendapat pendampingan yang insentif untuk mendapatkan hak-haknya dari LBH Yogyakarta.

Hingga saat ini, pihak Untidar menyatakan masih memantau perkembangan kasus tersebut dan akan berkoordinasi dengan pihak terkait sesuai kebutuhan, sembari menunggu hasil resmi dari proses hukum yang sedang berlangsung di Polres Magelang Kota.

 

Penulis : Farhan Shulton Yaulhaq

Editor : Humas Untidar