Magelang – Universitas Tidar menggelar prosesi Wisuda untuk jenjang Sarjana dan Ahli Madya Periode ke-72 Tahun 2025 di Gedung Kuliah Umum dr. H. R. Suparsono, Jalan Kapten Suparman No. 39, Magelang, Sabtu (13/12).
Wisuda kali ini diikuti sebanyak 425 lulusan dari 18 program studi dan 5 fakultas yaitu Fakultas Ekonomi, Fakultas Pertanian, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Teknik, dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Rektor Untidar, Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si. melalui sambutannya menyampaikan, semakin banyak mahasiswa berasal dari berbagai penjuru nusantara. “Ini berarti bahwa Universitas Tidar sudah dikenal di penjuru Indonesia dan kita patut bangga. Ananda adalah bukti keberagaman lintas budaya,” tuturnya.
Lebih lanjut, Prof. Dr. Sugiyarto menegaskan bahwa keberagaman tersebut harus dapat dimanfaatkan sebagai jaringan untuk kolaborasi lintas budaya, serta disiplin ilmu.
Selaras dengan visinya sebagai universitas yang unggul berbudaya, Prof. Dr. Sugiyarto mengharapkan para wisudawan dapat terus memegang budaya TIDAR (tangguh, integratif, dedikatif, aktif, dan responsif) yang berlandaskan nilai-nilai budaya luhur.
“Universitas Tidar menapaki langkahnya dengan filosofi kuat: Untidar Unggul Berbudaya, Alumni Kompak Berdampak. Ini berarti, lulusan Untidar haruslah pribadi yang tidak hanya cerdas secara ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki integritas, etika, dan kemampuan menjaga serta mengembangkan budaya bangsa. Jadilah lulusan yang unggul dalam kompetensi, tetapi tetap berbudaya dan berperilaku,” tegasnya.

Dengan bangga, Untidar juga mengukuhkan 22 wisudawan dengan pujian, salah satunya Dias Rizki yang menjadi wisudawan terbaik pada periode ini. Mahasiswa S1 Pendidikan Biologi dengan IPK 3,87 dan lama studi 3 tahun 9 bulan 10 hari itu merupakan putra pertama dari keluarga sederhana di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Dalam kesempatan tersebut, Dias Rizki, menyampaikan sambutan yang sarat rasa syukur dan perjuangan keluarga. Ia mengungkapkan makna wisuda yang tidak hanya menjadi capaian akademik, tetapi juga kemenangan bagi orang tuanya.
“Saya berasal dari keluarga yang sederhana. Meskipun Ayah dan Ibu tidak berkesempatan menempuh pendidikan tinggi, dari merekalah saya belajar tentang arti perjuangan, ketulusan, dan pantang menyerah. Oleh karena itu, saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ayah, Bapak Hanudin, atas kerja keras dan doa yang tulus, serta kepada Ibu Nani Pujiatun, atas kasih sayang dan pengorbanan tiada henti.” Ungkapnya penuh haru.
Perjalanan kuliah Dias ditempuh dengan penuh pengorbanan. Ayahnya bekerja sebagai penjual sate keliling dan tidak menamatkan pendidikan dasar, sementara ibunya, lulusan SMP, bekerja sebagai TKW di Taiwan sejak Dias duduk di bangku kelas 11 SMA. Ibunya bahkan pulang mengambil cuti hanya untuk menghadiri momen wisuda putra sulungnya.
Ketika tidak lolos KIPK, Dias tetap melanjutkan kuliah dengan biaya yang ditanggung ibunya. Untuk meringankan beban keluarga, sejak semester 3, ia bekerja sebagai penjaga warung pecel lele hingga mengajar di beberapa bimbel seperti Savana Course, Bimbel Hilmi, dan Ruangguru Magelang. Ia mengajar biologi untuk SMA dan IPA SMP. “Pernah dalam satu hari saya kuliah, lalu mengajar di dua bimbel sekaligus sampai malam. Cukup capek, tapi senang karena dapat uang dari usaha sendiri,” tuturnya.
Di tengah proses menjelang wisuda, Dias lolos beasiswa wirausaha satu tahun dari TJSL PT. Pegadaian yang bekerja sama dengan Young Entrepreneur Academy (YEA). Beasiswa ini mencakup biaya pendidikan, biaya hidup, serta tempat tinggal selama enam bulan pelatihan di Bandung dan Cimahi. Program tersebut mendorongnya mengembangkan usaha kuliner, hingga kini ia bersama empat rekannya membuka outlet bakso dengan diferensiasi bakso kuah keju, yang baru berjalan sepekan.
“Setelah enam bulan masa pelatihan selesai, saya akan kembali ke kota asal dan membuka outlet baru. Kemungkinan di Yogyakarta, Semarang, atau Magelang,” ujarnya. Rencana ini menjadi langkah besar Dias dalam membangun kemandirian ekonomi pasca lulus.
Meski semakin aktif di dunia bisnis, Dias tetap memiliki ketertarikan pada dunia pendidikan. Ia terlibat dalam penelitian dan pengabdian bersama dosen, menghasilkan beberapa publikasi ilmiah. Ke depan, setelah usaha berjalan stabil, ia berencana melanjutkan pendidikan ke PPG atau S2.
Orang tua Dias berharap putra mereka dapat hidup lebih baik dan menjadi panutan bagi adiknya. “Harapannya bisa mengamalkan semua ilmu yang didapat, menjadi bekal panutan bagi adik saya. Tentunya ingin melihat saya berhasil dan sukses, jangan sama seperti orang tua saya.” Ungkapnya.
Dengan tekad, usaha, dan prestasi yang konsisten, Dias Rizki menjadi inspirasi bagi mahasiswa Untidar bahwa keterbatasan bukan hambatan untuk meraih pendidikan tinggi dan menghadirkan perubahan bagi keluarga.

Sementara itu, pada periode ke-72 ini, Untidar juga mendapatkan mahasiswa dengan masa studi cepat, yakni 3 tahun, 6 bulan, 22 hari. Perolehan masa studi tersebut diraih oleh Asti Giri Anjani, mahasiswi program studi S-1 Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Untidar.
Gadis asal Wonogiri kelahiran 24 Januari 2003 tersebut mengaku sempat terkejut saat mengetahui dirinya merupakan wisudawan tercepat. Meski begitu, ia mengaku jika telah mempersiapkannya sejak lama.
“Saya cukup bersyukur, ya. Tadinya sempat tidak menyangka, tapi kalau dipikir kembali mungkin ini adalah buah dari proses yang sudah saya rencanakan sebelumnya,” tuturnya.
Sebagai mahasiswa yang juga aktif berorganisasi, hal tersebut tidak lantas membuat Asti mengesampingkan perkuliahannya. Bagi Asti, menyelesaikan kuliah merupakan tujuan utamanya untuk meringankan beban orang tua. Begitu pula dengan konsistensi mengerjakan skripsi, Asti mengungkap jika ruang dan waktu bukanlah penghalang dan alasan untuk ia menunda-nunda.
“Hal yang paling berkesan selama penyusunan skripsi yang agak cepat ini, saking saya mengejar tenggat, saya pernah mengerjakan skripsi di tempat-tempat yang tidak terduga seperti ruang tunggu, bahkan di sela-sela perjalanan pulang pun saya sempatkan untuk mengebut skripsi saya,” bebernya pada tim humas Untidar.
Kelulusannya yang selangkah jauh lebih cepat dibandingkan teman-temannya ini pun tidak pantas membuat Asti menjadi tinggi hati. Pemilik skripsi bertajuk “Tinjauan Yuridis Atas Tindak Pidana Pelaku Residivis Sebagai Perantara (Studi Putusan Nomor 2/Pid. Sus- An Skr)” merasa jika salah satu pengaruh positif terbesar yang menjadi sumber semangat dan rasa syukurnya dalam menyelesaikan skripsi adalah kebersamaan dan dukungan dari teman-teman serta dosen-dosen yang mengampunya. Ia juga percaya, bahwa teman-teman seperjuangannya pun dapat meraih hal yang sama.
“Tidak hanya saya, tetapi saya yakin teman-teman juga pasti bisa asalkan teman-teman konsisten, percaya terhadap proses, dan memaknai setiap langkah kecil yang teman-teman tempuh. Saya yakin langkah kecil yang konsisten tersebutlah yang mampu membawa teman-teman selangkah lebih cepat menuju kelulusan,” imbuhnya.
Di sisi lain, Asti mengaku jika ilhamnya dalam menulis skripsi terkait tinjauan yuridis tindak pidana pelaku residivis anak tersebut datang atas simpatinya terhadap ketidakadilan. Melalui skripsinya, Asti menyoroti banyaknya kasus narkotika yang menyeret dan memanfaatkan anak sebagai perantara narkotika sehingga ditetapkan menjadi residivis.
“Sekarang kan banyak, ya, kasus narkotika yang memanfaatkan anak-anak sebagai perantara, karena mereka dilindungi hukum. Mirisnya, mereka juga pada akhirnya ditetapkan sebagai residivis, padahal mereka sebenarnya juga korban dan memiliki hak atas hukum,” pungkasnya.
Penulis: Humas Untidar