EXPO ABDIDAYA 2025: PANGGUNG UNTIDAR PAMERKAN KARYA INTEGRATIF EKOLOGI, EKONOMI, DAN TEKNOLOGI

Keikutsertaan Universitas Tidar dalam ajang nasional Abdidaya PPK Ormawa 2025 kembali menorehkan prestasi membanggakan setelah tiga kelompok Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dinyatakan lolos nominasi nasional dan dipercaya tampil dalam agenda Expo Abdidaya 2025. Kegiatan expo tersebut berlangsung di Aula Gedung Kuliah Bersama Lantai 9 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Jumat-Sabtu (4-6/12). Kegiatan  ini diselenggarakan sebagai ajang temu karya nasional yang mempertemukan berbagai inovasi pengabdian mahasiswa dari seluruh Indonesia. Keikutsertaan ini jadi wujud komitmen Universitas Tidar dalam mendorong peran aktif mahasiswa dalam menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat melalui pengabdian berbasis teknologi, ekonomi, dan lingkungan berkelanjutan.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dit. Belmawa) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Dikdristek) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikti Saintek) yang bertujuan untuk mengapresiasi kinerja tim pelaksana, organisasi kemahasiswaan, dosen pendamping, perguruan tinggi, dan mitra keberlanjutan dalam melaksanakan kegiatan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa).

Banyak hal menarik yang di tampilan dari kontingen Untidar dalam expo abdidaya 2025 ini. Mulai dari Kelompok pertama yang  berasal dari lokasi pengabdian di Desa Sidorejo, Kecamatan Bandongan yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan program unggulan bertema “Optimalisasi Rumah Sampah Digital sebagai Upaya Berkelanjutan Ekologi melalui RESIK (Recycling Edukasi Sampah Inovatif dan Kreatif)”. Dalam expo, tim ini menampilkan dekorasi stand bernuansa hijau dan ramah lingkungan, lengkap dengan instalasi hasil daur ulang, infografis alur pengelolaan sampah digital, serta simulasi sistem pelaporan sampah berbasis aplikasi sederhana. Saat di temui, Ketua Tim PPK Ormawa Himaprodi PBSI Umi Nur Faizah menyampaikan bahwa, “Melalui stand yang dihadirkan, pengunjung tidak hanya dapat melihat dan membeli produk, tetapi juga memperoleh pengalaman edukatif mengenai pentingnya pengelolaan sampah melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang diperkenalkan secara interaktif.” Dengan adanya program ini diharapkan mampu mengubah pola pikir masyarakat dalam mengelola sampah menjadi lebih kreatif, efisien, serta bernilai ekonomi.

Perwakilan kedua berasal dari Desa Balesari, Kecamatan Windusari yang dijalankan oleh Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan melalui tema “Optimalisasi Komoditas Kopi Desa Balesari melalui Pendekatan Agroindustri dan Smart Society untuk Meningkatkan Profitabilitas Guna Menuju Desa Usaha Berkelanjutan”. Pada expo, kelompok ini menghadirkan dekorasi stand bernuansa perkebunan kopi yang dilengkapi dengan display biji kopi, produk kopi kemasan premium, produk – produk olahan kopi, hingga katalog pemasaran berbasis digital platform. Selaras dengan hal tersebut Ketua Tim PPK Ormawa Himepa Lusiana Rindaryani  menjelaskan bahwa, “PPK Ormawa HIMEPA berfokus pada pengembangan Desa Wirausaha melalui diversifikasi produk kopi dengan pendekatan agroindustri serta strategi pemasaran cerdas (smart society). Melalui pemanfaatan media sosial dan digital marketing, program ini bertujuan memperluas jangkauan pasar sehingga produk kopi Desa Balesari dapat dikenal lebih luas dan memiliki daya saing yang lebih tinggi”. jadi dengan adanya program ini diharapkan akan tidak hanya  meningkatkan kualitas produk kopi, tetapi juga membuka akses pasar yang lebih luas bagi petani lokal.

Sementara itu, kelompok ketiga berasal dari Desa Karangkajen, Kecamatan Secang yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Biologi dengan program “SIPAMA (Sistem Pengendali Hama) berbasis Teknologi Smart Farming dan Energi Surya Terbarukan dalam Meningkatkan Produktivitas Pertanian”. Pada ajang expo, kelompok ini menampilkan miniatur lahan pertanian pintar, panel surya sebagai sumber energi terbarukan, serta prototipe alat pengendali hama otomatis berbasis sensor. Ketua Tim PPK Ormawa Himabio Niswatul Azizah menuturkan, “unggulan SIPAMA ada pada sistem otomatisasi pengendalian hama yang hemat energi dan ramah lingkungan, sehingga petani bisa menekan kerugian akibat hama tanpa bergantung penuh pada pestisida kimia.” Inovasi ini menjadi solusi konkret terhadap persoalan pertanian modern yang menuntut efisiensi, keberlanjutan, dan hasil panen yang optimal.

Dengan tampilnya ketiga kelompok tersebut pada Expo Abdidaya 2025, Universitas Tidar menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam membawa program pengabdian desa ke tingkat nasional melalui implementasi ide-ide inovatif dan solutif. Setiap kelompok menghadirkan produk unggulan dan pendekatan yang berbeda, namun memiliki tujuan sama yaitu memberikan dampak nyata melalui teknologi, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan potensi lokal. 

 

Penulis : Ade Afriansyah
Editor : Humas Untidar

Fisipreneur 2025 Puncak Kreativitas dan Inovasi Kewirausahaan Mahasiswa FISIPOL Untidar

Magelang – Universitas Tidar melalui Gugus Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) menggelar Fisipreneur 2025, sebuah rangkaian kegiatan final showcase mata kuliah kewirausahaan yang menghadirkan karya, inovasi, serta praktik bisnis mahasiswa. Acara ini berlangsung meriah di halaman FISIPOL Untidar, Jumat (5/12), dan menjadi puncak dari pembelajaran teori kewirausahaan pada semester sebelumnya dan praktik kewirausahaan pada semester berjalan.

Sebagai bentuk evaluasi dan apresiasi terhadap hasil pembelajaran, Fisipreneur 2025 memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menjual produk, mempromosikan jasa, serta mempresentasikan model bisnis yang telah mereka kembangkan selama satu semester. Seluruh kegiatan dikoordinasikan oleh panitia dari lingkungan FISIPOL, salah satunya Ibda Fikrina Abda, S.I.P., M.I.Kom., yang bertugas sebagai panitia penyelenggara.

Dalam penyelenggaraannya, Fisipreneur 2025 tidak hanya berfokus pada expo produk mahasiswa, tetapi juga melibatkan rangkaian kompetisi. Terdapat 60 tim peserta yang mengikuti lomba Business Innovation, yaitu pembuatan video kreatif untuk memperkenalkan produk dan jasa. Dari kompetisi ini, dipilih 9 peserta terbaik yang kemudian mengikuti sesi offline pitching di hadapan juri pada hari pelaksanaan.

Selain itu, terdapat pula lomba Creative Booth, di mana setiap kelompok berkompetisi menampilkan kreativitas dalam menata dan mempresentasikan booth mereka. Adapun total booth yang tersedia adalah 30 stand, dengan masing-masing stand ditempati oleh dua kelompok mahasiswa sehingga mencapai sekitar 60 peserta.

Sebagai bentuk penghargaan terhadap capaian mahasiswa, Fisipreneur 2025 juga mengumumkan para pemenang kompetisi, yaitu:

Daftar Pemenang Pitching Business Innovation

Nama Kelompok

Juara

Barkos Magelang

1

Jive Creative

2

Ritoloka

3

Daftar Pemenang Juara Creative Booth

Nama Kelompok

Juara

Cleancling

1

Ritoloka

2

Sway Ra Jamu

3

 

Kegiatan ini bersifat wajib bagi seluruh mahasiswa FISIPOL dari program studi Ilmu Komunikasi, Hukum, dan Ilmu Administrasi Negara. Gugus Kemahasiswaan FISIPOL berperan sebagai fasilitator penuh bagi mahasiswa dalam menampilkan kemampuan kewirausahaan mereka.

Pada kesempatan tersebut, Hanim Rohnulyanti, S.I.Kom., M.A., Plt. Sekretaris Jurusan Ilmu Komunikasi, memberikan sambutan mewakili pimpinan fakultas. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim panitia, beserta mahasiswa yang terlibat aktif dalam penyelenggaraan Fisipreneur 2025.

Beliau juga menyampaikan harapan agar kegiatan ini dapat terus berkembang dan menjadi agenda tahunan FISIPOL. “Semoga Fisipreneur pertama ini dapat menjadi pembuka bagi pelaksanaan berikutnya yang lebih meriah. Kegiatan ini bukan hanya untuk memenuhi nilai, tetapi benar-benar menjadi ruang mahasiswa mempraktikkan bisnis bahkan hingga berlanjut setelah acara,” ujarnya.

Sebagai panitia, Ibda Fikrina Abda, S.I.P., M.I.Kom. menegaskan bahwa Fisipreneur 2025 hadir sebagai wadah praktis dalam menerapkan materi kewirausahaan. Ia berharap kegiatan tahun berikutnya dapat berjalan lebih serius, lebih meriah, dan dapat mendorong mahasiswa untuk mengembangkan bisnis yang berkelanjutan. “Tidak hanya untuk memenuhi tugas mata kuliah dan mendapatkan nilai A, tetapi juga benar-benar mempraktikkannya hingga bisnis mereka berlanjut setelah acara,” ujar Ibda.

Fisipreneur 2025 menjadi bukti komitmen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Untidar dalam menumbuhkan budaya kewirausahaan di lingkungan kampus. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengalami langsung proses bisnis mulai dari perencanaan, pembuatan produk, promosi, hingga interaksi dengan pelanggan.

Dengan antusiasme mahasiswa dan dukungan pimpinan fakultas, Fisipreneur 2025 diharapkan menjadi wadah berkelanjutan untuk melahirkan wirausaha muda yang kreatif, inovatif, dan siap bersaing dalam dunia industri.

Penulis: Suryanti

Editor: Humas Untidar

Ilmu Komunikasi Untidar Gelar Seminar Nasional dan Soft Launching Buku, Soroti Fragmentasi dan Demokrasi Digital

Ilmu Komunikasi Untidar Gelar Seminar Nasional dan Soft Launching Buku Soroti Fragmentasi dan Demokrasi Digital

Magelang – Ilmu Komunikasi Universitas Tidar menggelar Seminar Nasional bertajuk Social Media, Fragmentation, and Democracy: Rethinking Digital Interactions, di Gedung Laboratorium Rekayasa, Kampus Sidotopo, Jumat (05/12). Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan literasi digital akademik bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi sekaligus ajang soft launching book chapter dengan tema serupa.

Seminar yang awalnya dibuka untuk 40 peserta ini justru mendapatkan antusiasme besar dari mahasiswa dan dosen, sehingga lebih dari 90 peserta hadir memenuhi ruangan. Turut hadir Plt. Dekan FISIPOL, Dr. A.P. Dra. Sri Mulyani, M.Si., para pimpinan jurusan, serta dosen Ilmu Komunikasi dan Ilmu Administrasi Negara.

Anita Amaliyah, M.I.Kom., selaku Ketua Pelaksana, dalam laporannya menegaskan pentingnya memahami fenomena fragmentasi dan polarisasi di media sosial dari perspektif akademik, terutama bagi mahasiswa yang tengah dibentuk menjadi generasi kritis dan resiliensi di era digital.

Seminar Nasional ini menghadirkan tiga narasumber terkemuka, yaitu Dr. Fajar Junaedi, S.Sos. dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Dr. Phil. Nuriyatul Lailiyah, S.Sos., M.I.Kom. dari Universitas Diponegoro. Selain itu, dihadirkan juga narasumber internal, Anita Amaliyah, M.I.Kom, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Tidar. Ketiganya membahas dinamika interaksi digital kontemporer, tantangan demokrasi di ruang siber, serta bagaimana media sosial membentuk perilaku, opini publik, hingga segmentasi sosial yang semakin kompleks.

Dalam pemaparannya, Anita menekankan bahwa mahasiswa Ilmu Komunikasi perlu memahami isu media sosial secara komprehensif, tidak hanya dari sisi praktik konten, tetapi juga dari perspektif teori dan riset. “Tidak semua mahasiswa ingin menjadi content creator. Ada yang ingin melanjutkan S2, S3, atau terlibat dalam dunia akademik. Maka seminar ini menjadi ruang untuk tercerahkan, baik secara praktik maupun teoritis,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan urgensi tema ini. “Media sosial saat ini dipenuhi informasi benar maupun disinformasi. Fragmentasi, polarisasi, hingga penyebaran hoaks dapat terjadi karena kita kehilangan kritisisme. Mahasiswa sebagai akademia wajib memiliki daya kritis agar tidak mudah terprovokasi, tidak terpolarisasi, dan mampu bertahan secara mental di tengah derasnya arus digital.”

Sementara itu, Dr. R. Yogie Prawira W., S.I.Kom., Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada panitia dan seluruh peserta. Ia menegaskan pentingnya kegiatan akademik seperti ini sebagai ruang belajar bersama, terutama dalam merespons tantangan demokrasi digital yang terus berkembang.

Lebih lanjut, para narasumber juga memberikan pemahaman tentang bagaimana media sosial membentuk ruang interaksi baru, bagaimana algoritma memengaruhi perilaku politik publik, serta bagaimana generasi muda dapat memperkuat daya kritisnya agar tidak terjebak pada ekstremitas informasi.

Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi dari berbagai angkatan, dosen lintas jurusan, dan tamu akademik lainnya. Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi diskusi, terutama saat membahas strategi menghadapi polarisasi digital dan peran akademisi dalam menjaga kualitas demokrasi melalui literasi informasi.

Melalui seminar ini mahasiswa diharapkan menjadi lebih kritis, tidak mudah terfragmentasi, memiliki resiliensi digital, dan memahami dampak interaksi daring terhadap realitas sosial. “Apa yang terjadi di ranah digital dapat berdampak langsung pada kehidupan nyata. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki nalar kritis dan tidak mudah terprovokasi,” tambah Anita.

Dengan terselenggaranya Seminar Nasional dan Soft Launching Book Chapter ini, FISIPOL Untidar menegaskan komitmennya dalam memperkuat tradisi akademik sekaligus membekali mahasiswa dengan pemahaman mendalam tentang isu media dan demokrasi di era hiperconnectivity.

Penulis: Suryanti

Editor: Danu Wiratmoko

Universitas Tidar Gelar Pembekalan Peningkatan Kinerja bagi Pegawai Unit Kebersihan

MAGELANG – Universitas Tidar (Untidar) kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga citra dan mutu pendidikan melalui peningkatan kualitas layanan pendukung. Hal ini diwujudkan dalam acara “Kegiatan Pembekalan Upaya Peningkatan Kinerja Pegawai Universitas Tidar Pada Unit Kebersihan” yang diselenggarakan di Gedung Laboratorium Rekayasa pada Sabtu, 4 Oktober 2025.

Kegiatan pembekalan yang dihadiri oleh Hisyam Taufik Hidayat sebagai narasumber dari Infomedia Solusi Humanika (ISH) beliau menekankan bahwa “kebersihan kampus adalah cerminan langsung dari mutu dan citra Universitas Tidar secara keseluruhan. Lingkungan yang bersih dan tertata diyakini dapat menciptakan suasana belajar, bekerja, dan berinteraksi yang nyaman bagi seluruh civitas akademika.”

Meskipun memiliki 2 area kampus dengan lokasi yang tidak berdekatan, Untidar mengakui adanya tantangan utama yang harus diatasi, seperti keterbatasan alat, belum optimalnya koordinasi, dan perlunya peningkatan kedisiplinan kerja petugas di lapangan.

Pembinaan ini bertujuan untuk mengatasi beberapa permasalahan umum, antara lain kurangnya disiplin, peralatan kerja yang belum memadai, serta komunikasi dan pembagian wilayah kerja yang belum seimbang.

Ada empat poin utama yang menjadi fokus pembinaan:

  1. Meningkatkan Etos Kerja: Membangun kesadaran akan pentingnya kebersihan sebagai bentuk dedikasi, bukan hanya sekadar tugas.
  2. Menciptakan Tim Solid: Menciptakan tim kerja yang solid, disiplin, bertanggung jawab, dan produktif.
  3. Inovasi dan Efisiensi: Mendorong pemakaian alat modern dan ramah lingkungan, serta mengadopsi sistem pelaporan berbasis digital dan program daur ulang sampah.
  4. Evaluasi dan Penghargaan: Menerapkan penilaian kinerja rutin dan pemberian apresiasi bagi petugas berprestasi untuk mendorong perbaikan berkelanjutan.

“Sebagai petugas kebersihan harus paham pentingnya pengelolaan area spesifik, baik itu area taman (penyiraman, pemangkasan) maupun area gedung (kebersihan ruang, koridor, dan toilet). Pungkasnya.

Melalui kegiatan tersebut seluruh peserta diajak untuk menegaskan kembali bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama seluruh civitas akademika, dengan semangat kebersamaan, Untidar optimis dapat mewujudkan slogan: “Kampus Bersih, Cermin Kinerja Bersih.”

Penulis : M Misbachul Muhaimin

Workshop Pertolongan Pertama pada Kecelakaan di Laboratorium : Lab Terpadu Universitas Tidar Tegaskan Pentingnya Budaya K3

Magelang, 3 Desember 2025 — Universitas Tidar melalui UPA Taman Agroteknologi menyelenggarakan Workshop Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) di Laboratorium yang bertempat di Laboratorium Agronomi dan Fisiolagi Tanaman, Laboratorium Terpadu Untidar. Kegiatan ini diikuti oleh 75 peserta dari berbagai unit, termasuk dosen, tenaga kependidikan, pranata laboratorium pendidikan (PLP), serta mahasiswa aktif pengguna laboratorium.

Acara dibuka oleh Kepala UPA Taman Agroteknologi yang menyampaikan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lingkungan laboratorium. Beliau menegaskan bahwa laboratorium merupakan area berisiko tinggi sehingga seluruh penggunanya wajib memahami prosedur keselamatan, termasuk penanganan P3K yang benar.

Dalam sambutannya, beliau turut meluruskan miskonsepsi yang masih sering terjadi terkait penanganan luka bakar, seperti penggunaan odol atau pasta gigi. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut dapat memperparah kondisi dan meningkatkan risiko infeksi. Beliau kembali menekankan prosedur P3K yang tepat, antara lain mendinginkan luka dengan air mengalir selama 15–20 menit, tidak mengoleskan bahan yang tidak direkomendasikan, serta merujuk korban ke fasilitas kesehatan bila diperlukan.

Workshop ini bertujuan meningkatkan kemampuan peserta dalam merespons insiden darurat di laboratorium, memantapkan pemahaman teknis penanganan berbagai jenis kecelakaan, serta memperkuat safety culture di seluruh unit Universitas Tidar.

Panitia melaporkan bahwa sebanyak 75 peserta dari lintas profesi hadir dalam kegiatan ini. Kolaborasi berbagai unit ini diharapkan mampu memperkuat sinergi dalam pengendalian risiko laboratorium secara menyeluruh.

Pada sesi materi, hadir narasumber Dr. Ir. Widodo Hariyono, M.Kes. dari Cendekia Sains Utama. Beliau menyampaikan pentingnya penerapan K3 laboratorium secara konsisten, termasuk teknik evakuasi korban kecelakaan di laboratorium, persyaratan standar untuk kotak P3K, hingga strategi penanganan berbagai potensi bahaya yang dapat muncul di lingkungan laboratorium. Penjelasan narasumber memperkaya wawasan peserta mengenai praktik keselamatan yang tepat, efektif, dan sesuai standar K3.

Menutup sambutannya, Kepala UPA Taman Agroteknologi berharap seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan serius, mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh, serta menjadi duta keselamatan di lingkungan kerja masing-masing. Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada narasumber, panitia, dan seluruh peserta atas partisipasi aktif dalam upaya penguatan keselamatan laboratorium di Universitas Tidar.

Penulis: Ahmadi, S.P.

 

Teknologi Pangan Untidar Siap Dinilai Asesor, Matangkan Persiapan Menjelang Visitasi

Magelang – Fakultas Pertanian Universitas Tidar tengah mempersiapkan visitasi akreditasi Program Studi Teknologi Pangan yang dijadwalkan berlangsung pada 5-6 Desember 2025. Persiapan tersebut dibahas melalui rapat koordinasi yang dipimpin oleh Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Sutrisno Hadi Purnomo, S.Pt., M.Si., Ph.D., dan dihadiri oleh jajaran dosen, serta tenaga kependidikan, pada Rabu (3/12) di Ruang Trapesium Gedung Faperta, Kampus Sidotopo.

Kegiatan ini merupakan bagian dari persiapan menghadapi visitasi asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) untuk menentukan peringkat akreditasi Program Studi Teknologi Pangan. Visitasi akan menilai kelayakan program studi melalui asesmen lapangan yang mencakup dokumen kurikulum, aktivitas dosen, aktivitas mahasiswa, kelengkapan sarana prasarana laboratorium, hingga mutu tata kelola program studi.

Prof. Sutrisno Hadi Purnomo, S.Pt., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa rapat koordinasi dilakukan untuk menyatukan langkah antara fakultas, program studi, serta unit-unit pendukung di tingkat universitas. “Itu adalah terkait visitasi untuk akreditasi Program Studi Teknologi Pangan. Pada tanggal 5 sampai 6 Desember akan ada visitasi dari asesor, dan nanti mereka akan menilai apakah prodi ini layak mendapat akreditasi baik, baik sekali, atau unggul,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga memaparkan berbagai persiapan yang dilakukan, meliputi penyusunan instrumen akreditasi, penyempurnaan dokumen kurikulum, data dosen, data kegiatan penelitian dan pengabdian, serta dokumentasi prestasi mahasiswa. Selain itu, koordinasi dilakukan dengan unit-unit pendukung seperti kepala laboratorium, Unit Penunjang Akademik seperti UPA TIK, UPA Taman Agroteknologi, UPA Perpustakaan dan Career Center.

Sementara itu, rangkaian kegiatan visitasi pada 5 Desember akan dimulai pukul 08.00 WIB dengan agenda pembukaan bersama asesor, pimpinan universitas, dan pimpinan fakultas. Selanjutnya dilanjutkan dengan sesi konfirmasi program studi, konfirmasi dengan Gugus Jaminan Mutu, wawancara dosen, wawancara mahasiswa per-angkatan, konfirmasi dengan bagian TU, serta kunjungan langsung ke laboratorium terkait.

Terkait tantangan, Prof. Sutrisno menjelaskan bahwa Teknologi Pangan masih merupakan program studi baru sehingga belum memiliki lulusan, yang menjadi salah satu keterbatasan dalam penilaian. “Tantangannya karena Teknologi Pangan ini belum meluluskan alumni. Itu membuat kami belum bisa menunjukkan bukti kualitas lulusan kepada asesor,” jelasnya.

Meski demikian, ia tetap optimistis terhadap hasil yang akan dicapai. “Harapannya tentu bisa mendapatkan akreditasi terbaik. Kalau bisa unggul, tentu sangat kami syukuri. Namun minimal kami berharap mendapat peringkat baik sekali,” pungkasnya.

Dengan persiapan yang melibatkan berbagai pihak, Fakultas Pertanian berharap visitasi berjalan lancar dan menghasilkan penilaian yang dapat memperkuat kualitas Program Studi Teknologi Pangan di Universitas Tidar.

Penulis: Aghna Nur Shabrina

Editor: Humas Untidar

Peringati 16HAKTP 2025, Satgas PPK Untidar Gelar Seminar Kampus Aman Tanpa Kekerasan

Magelang – Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Universitas Tidar (Satgas PPK Untidar) selenggarakan seminar pencegahan kekerasan di lingkungan kampus yang bertajuk ”Kampus Aman Tanpa Kekerasan”, Senin (01/12), bertempat di Gedung Laboratorium Rekayasa, Kampus Untidar Sidotopo. Kegiatan yang sekaligus memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) tahun 2025 ini, menghadirkan dua narasumber yakni aktivis perempuan sekaligus penulis, Kalis Mardiasih dan psikolog dari Soerojo Hospital, Any Reputrawati, S.Psi., Psikolog.

Dalam pemaparannya yang berjudul ”Pencegahan Kekerasan di Lingkungan Kampus”, Kalis Mardiasih menyoroti terjadinya peningkatan kasus kekerasan pada remaja dan mahasiswa tiap tahunnya. Terdapat 310 kasus di perguruan tinggi pada tahun 2021–2024, 1.791 laporan KBGO pada tahun 2024 hingga tingginya angka kekerasan dalam pacaran. Serta yang terbaru adalah 290 kasus femisida dalam satu tahun terakhir. Berikutnya adalah kasus bullying di kampus yang banyak terjadi secara psikis maupun verbal yang dipengaruhi kultur senioritas dan lingkungan kompetitif.

“Pola kekerasan berbasis gender yang berulang menegaskan pentingnya penggunaan metode intervensi BANTU (Berani tegur, Amankan korban, Mengajak orang lain, Tanya kebutuhan, Usahakan dokumentasi) untuk memperkuat respons aman dan menciptakan lingkungan kampus yang bebas kekerasan,” tandasnya.

Sementara itu, Any Reputrawati, S.Psi., Psikolog memaparkan tentang “Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis Akibat Kekerasan.”  Ia menegaskan bahwa dampak kekerasan secara psikologis sangat luas dan berbeda-beda setiap individu sehingga pertolongan pertama pada luka psikologis perlu untuk dipelajari oleh semua pihak yang terlibat dalam penanganan kekerasan di lingkungan kampus.

“Intervensi awal dalam pertolongan pertama seperti P3LP dengan prinsip Look, Listen, dan Link penting untuk memberi keamanan, dukungan emosional, serta menghubungkan korban dengan bantuan profesional. P3LP bukan terapi dan dilakukan oleh penolong terlatih untuk memperkuat korban agar lebih berdaya dan mampu pulih,” terangnya.

Ketua Satgas PPK Untidar, Muhammad Yusuf Rangkuti, S.H., M.H., menyatakan, ”Kegiatan ini merupakan salah satu program edukasi yang diselenggarakan untuk meningkatkan kesadaran seluruh civitas akademika, baik mahasiswa, tenaga kependidikan, dan dosen terkait pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.”

Lebih lanjut, Ia menerangkan bahwa ranah penanganan Satgas saat ini bukan hanya kekerasan seksual saja, tetapi mencakup kekerasan fisik, psikis, perundungan, intoleransi, diskriminasi, hingga kebijakan yang mengandung kekerasan. Disamping itu, Ia berharap dengan adanya seminar ini peserta lebih memahami langkah pencegahan, prosedur pelaporan yang benar,
hingga psychological first aid (pfa) ketika melihat atau mengalami insiden kekerasan.

 

Penulis: Dwi Nur Athifah dan Cinta Annata Nurhan

Editor: Eny Ratnasari

FKIP Untidar Melaksanakan Seminar bertema “Membangun Integritas, Inovasi, dan Kepedulian Sosial Sejak dari Kampus”

Magelang – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan melaksanakan seminar dengan tema “Membangun Integritas, Inovasi, dan Kepedulian Sosial Sejak dari Kampus”, pada Rabu (3/12) di GKU H.R. Suparsono Kampus Tuguran.

Kegiatan seminar dibuka dengan pembacaan doa oleh Muhammad Daniel Fahmi Rizal, M.Hum., dilanjutkan dengan pembacaan laporan pertanggungjawaban oleh ketua panitia pelaksanaan seminar, Dr. Ayu Wulandari, M.Pd.

“Tema seminar kali ini sangat relevan dengan mahasiswa FKIP karena mampu membentuk karakter sosial maju dan peduli lingkungan, serta menyiapkan mahasiswa dalam meningkatkan kapasitas sebagai agen perubahan yang dapat terus ditanamkan secara berkelanjutan melalui akademik maupun non akademik sebagai kontribusi membangun bangsa” jelas Dr. Ayu Wulandari, M.Pd.

Pada kesempatan tersebut hadir Rektor Untidar Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si., yang memberikan sambutan serta membuka pelaksanaan kegiatan seminar.

“Pelaksanaan seminar ini menjadi forum mulia dan sebagai pengingat bagi mahasiswa bahwa dalam membangun integritas, inovasi, dan kepedulian, dapat dimulai dari kampus bertepatan dengan target para calon guru bagi mahasiswa FKIP. Sejalan dengan Jarwo Dosok yang mengungkapkan istilah Guru itu berasal dari kata Digugu Lan Ditiru, sehingga mampu dijadikan teladan dalam seluruh aspek tingkah laku harian. Mahasiswa juga diharap mengimplementasikan serta mampu merealisasikan ilmu yang didapat dalam kehidupan nyata melalui integritas dari proses belajar harian karena ilmu iku kelakone kanthi laku,” tutur Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si.

Beliau menambahkan bahwa mahasiswa harus paham dalam identitas keTIDARan melalui pegangan budaya dan value bernama TIDAR. Makna tersebut diambil dari karakter Tangguh, Integratif, Dedikatif, Aktif dan Responsif agar warga Untidar dan seluruh sivitas akademika memiliki kepribadian mandiri, tidak mudah mengeluh, dan berjiwa kolaboratif sehingga mampu mendarmabaktikan ilmu yang dimiliki agar tidak cepat puas dalam kewajiban mencari ilmu.

Seminar ini mengambil tema “Penguatan Kompetensi dan Inovasi untuk Pengembangan Karir” dengan menghadirkan narasumber Dra. Puji Handayani, M.Pd. yang merupakan Pengawas SMA Cabdin VIII Disdikbud Provinsi Jateng. Melalui materi yang disampaikan, beliau berharap agar mahasiswa FKIP dapat memiliki pandangan dalam mempersiapkan diri untuk mengikuti kegiatan PLP yang akan dilaksakan pada semester 7 mendatang.

Rangkaian kegiatan seminar diikuti oleh mahasiswa semester 5 dari program studi yang berada di FKIP sebanyak 650 mahasiswa beserta dengan 65 tamu undangan yang merupakan dosen dan sivitas akademika FKIP Untidar.

 

Penulis : Maura Deaazaria Firdanisahara

Editor : Humas Untidar

Untidar Bergerak: Salurkan Bantuan untuk Korban Longsor Banjarnegara sebagai Wujud Kepedulian Kampus

Banjarnegara – Untidar menunjukkan kepeduliannya terhadap korban bencana tanah longsor di Banjarnegara dengan menyalurkan hasil donasi yang dikumpulkan dari lingkungan kampus, termasuk dari ORMAWA dan beberapa warga kampus pada Selasa (2/12) di Kantor Kecamatan Banjarnegara.

Penyerahan donasi tersebut diwakili oleh Ketua Tim Bidang Hubungan Masyarakat Danu Wiratmoko dan Ketua BEM KM Untidar, Ahmad Rizky Airlangga, didampingi oleh perwakilan Menwa, Olivia Anggraeni sebagai wujud rasa kemanusiaan serta empati masyarakat Untidar bagi korban yang terdampak bencana.

Bantuan uang donasi senilai Rp6.150.000 diserahkan secara simbolis oleh Ketua BEM KM Untidar kepada perwakilan staf BPBD Posko Komando yang berlokasi di Kantor Kecamatan Banjarnegara yang sekaligus menjadi posko pengungsian. Korban yang terdampak berada pada Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara.

“Kami dari warga Situkung mengucapkan rasa terimakasih kepada Untidar yang telah jauh-jauh datang ke Banjarnegara serta menunjukan rasa keprihatinan atas keadaan yang sedang kami alami, selanjutnya bantuan ini sangat bermanfaatkan dalam menunjang kebutuhan bagi para korban yang sampai saat ini masih berada di pengungsian,” ungkap salah satu Staf BPBD Banjarnegara Posko Komando.

Perwakilan Untidar turut mengunjungi posko pengungsian, dapur umum, serta berinteraksi langsung dengan para korban yang masih memiliki keterbatasan akses dalam beraktivitas.

Sekretaris Kecamatan Pandanarum, Sigit Indra menjelaskan bahwa titik awal bencana longsor terjadi pada daerah lereng di RT 1, RT 3, dan RT 4 di Dusun Situkung hingga berakibat seluruh akses pada desa tersebut sudah dinyatakan sebagai zona merah. Pada hari kejadian terdapat lebih dari 1000 relawan yang ikut mengevakuasi dan mengamankan korban ke posko pengungsian, sehingga seluruh warga dapat berlindung di tempat aman.

“Bencana longsor ini terakhir terjadi pada 2017. Meskipun saat kejadian tidak ada tanda-tanda, namun BNPB telah menghimbau warga agar segera menuju titik lokasi aman. Saat ini aktivitas para korban sudah dapat berjalan normal di pengungsian namun masih terdapat keperluan yang dibutuhkan seperti baju sekolah, alat sekolah, serta keperluan mandi” ujar Sigit Indra lebih lanjut.

Saat dikunjungi, di posko pengungsian masih terdapat penjagaan dari BNPB secara bergilir serta masih terus dilakukan pemantauan perkembangan tanah agar tidak terjadi indikasi longsor susulan. Melalui bantuan ini, Untidar berupaya memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dalam meringankan beban para korban longsor serta membantu proses pemulihan di Banjarnegara terutama dalam situasi sulit seperti ini.

 

Penulis: Maura Deaazaria Firdanisahara

Editor : Humas Untidar

Kupas Isu Disabilitas Tersembunyi, Untidar Gelar Workshop Riset Inklusif Bersama Coventry University

 

Magelang – Universitas Tidar melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menyelenggarakan “International Workshop: Building an Inclusive Research Ecosystem in Higher Education” pada Selasa (2/12) di Kledung Research Park, Kampus Untidar, Temanggung. 

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kolaborasi penelitian internasional bersama Coventry University melalui program inklusif Pathways into Research , yang fokus pada penguatan ekosistem penelitian inklusif di perguruan tinggi. Agenda ini dilaksanakan dengan dukungan Pusat Layanan Disabilitas (PLD), serta tim peneliti Universitas Tidar.

Workshop berlangsung penuh selama satu hari, meliputi sesi pemetaan isu, Focus Group Discussion (FGD), hingga aksi perencanaan. Sebanyak 12 relawan dari Pusat Layanan Disabilitas terlibat aktif dalam menyusun identifikasi masalah, khususnya isu-isu disabilitas yang tidak terlihat (hidden disabilitas) di lingkungan kampus. Peserta juga diajak menyusun peta perjalanan penelitian , gambaran kualifikasi akademik dari mahasiswa sarjana hingga profesor untuk memahami hambatan dan peluang pengembangan karir penelitian bagi kelompok yang membutuhkan dukungan khusus.

Mewakili Pusat Layanan Disabilitas, yang turut serta dihadiri oleh Susanti Malasari, S.Pd., M.Hum, sebagai perwakilan PLD; Kenyo Kharisma Kurniasari, SS, MITM, sebagai penerjemah; serta Dr. Rochmat Aldy Purnomo, SE, sebagai anggota tim peneliti sekaligus fasilitator yang mendampingi workshop.

Turut hadir pula tim peneliti dari Coventry University, Prof. Katherine Wimpenny, dan Prof. Sylvester Arnab; serta Dr. Richard Harisson dari University of Surrey. Selain itu, hadir perwakilan Universitas Negeri Malang, Dr. Muhibuddin Fadhli.

Pada sesi pembukaan, disampaikan oleh Dr. Rochmat Aldy Purnomo, SE, M.Si , yang mengungkapkan harapannya terhadap kebijakan yang mendukung kesejahteraan mental, “harapannya, universitas dapat menjadi lebih inklusif dan menghadirkan kebijakan yang mendukung kesejahteraan mental serta keberhasilan akademik mahasiswa.” Jelasnya.

Dilanjutkan oleh Susanti Malasari, S.Pd., M.Hum., sebagai perwakilan dari Pusat Layanan Disabilitas yang menjelaskan terkait sejumlah kegiatan besar “setelah ini, kami akan memulai penjelasan mengenai metode pemetaan dan memfasilitasi untuk memberikan masukan sebaik mungkin.” katanya.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan metode pemetaan, ideasi , dan perencanaan tindakan , yang memungkinkan peserta mengidentifikasi isu-isu nyata, merumuskan solusi, serta menyusun langkah-langkah tindak lanjut untuk mendorong kampus yang lebih ramah dan inklusif terhadap seluruh sivitas akademika.

Salah satu peserta, Primaayu Nihashafa, menyampaikan kesannya, “Merasa terhormat bisa ikut serta dalam acara ini, saya mendapatkan banyak insight dan wawasan baru mengenai pentingnya inklusivitas dalam penelitian, harapannya seluruh ilmu yang diperoleh dapat implementasikan dengan baik dalam mewujudkan inklusivitas dalam bidang akademik.” Ungkapnya.

Melalui workshop ini, Universitas Tidar berharap dapat memperkuat kapasitas internal dalam membangun budaya riset yang inklusif, mendukung partisipasi mahasiswa penyandang disabilitas, serta memperluas kolaborasi riset internasional yang berdampak bagi pengembangan pendidikan tinggi yang setara dan aksesibel.

Penulis: Aghna Nur Sabrina

Editor: Humas Untidar